
Beberapa menit kemudian Brayen si pemilik restoran telah tiba. Brayen kemudian masuk dan langsung menuju ke meja resepsionis.
"Selamat datang Tuan Muda!". Sambut resepsionis wanita itu dengan sopan.
"Dimana orang yang ingin bertemu dengan saya?". Tanya Brayen.
"Disebelah sana Tuan. Mari saya antar! Nona itu sedang menunggu". Ucap resepsionis itu berjalan duluan menunjukan tempat dimana Allena menunggu.
Brayen kemudian mengikuti resepsionis wanita itu dari belakang. Tampak dari belakang Brayen merasa tak asing dengan perempuan yang dipandanginya dari arah belakang.
"Mohon maaf menganggu Kak. Tuan Muda kami sudah sampai". Seru resepsionis itu dihadapan Allena.
"Oh iya. Dimana dia?". Ucap Allena mendongakan kepalanya ke atas pada resepsionis wanita tersebut.
"Allena!". Seru Brayen mendekat pada Allena dan berdiri dihadapannya.
"Lu udah sampai? Dari kapan?". Tanya Allena pada Brayen.
"Tadi.. Barusan. Kenapa lo nyari gue? Kangen lo ya ama gue?". Sarkas Brayen sambil duduk dikursi depan Allena.
"Dihh.. Ngapain? Gua cuman mau datang makan kesini". Ucap Allena.
"Oohh.. Kirain kangen ama gue". Ucap Brayen sambil tersenyum.
"Cihh..!". Decak Allena.
"Ehem Ehem...!". Louis berdeham. Lelaki itu merasa tak dipedulikan sejak tadi.
"Oh iya kenalin Louis". Ucap Allena memperkenalkan Louis pada Brayen.
"Louis". Ucap Louis menyodorkan tangannya dihadapan Brayen.
"Brayen". Balas Brayen menjaba tangan Louis.
"Kaya nggak asing muka lo. Gue pernah lihat. Tapi dimana ya?". Tanya Brayen sambil memperhatikan wajah Louis.
"Aaa.. Gue ingat. Lo yang pernah tanding basket lawan sekolah kita sama yang pernah datang ke pesta ultahnya Alexa itu kan. Yang pas lo datang sama Allena". Ucap Brayen mengingat.
"Iya bener. Tajam juga ingatan lo Bro". Ucap Louis.
"Jadi nama lo Louis. Asli mana nih?". Tanya Brayen.
"Emang gue bukan orang asli sini. Gue lahirnya di Amerika". Jawab Louis.
"Kesini ngapain? Bukannya lebih bagus disana ya?". Tanya Brayen lagi.
"Gue kesini soalnya ada masalah sama seseorang yang mau gue urusin". Jawab Louis sambil melirik Allena.
"Udah ngobrolnya. Gua datang kesini buat makan bukan buat dengerin kalian cerita. Kapan gue makannya nih? Ngobrol mulu dari tadi". Celoteh Allena tiba-tiba.
"Eh.. Iya iya lupa. Sori sori Allena. Galak amat dah". Ucap Brayen.
"Yaudah.. Kalian mau makan apa? Pesan aja". Ucap Brayen lagi.
"Gua samain aja yang kayak yang waktu itu. Minumannya juga". Ucap Allena.
"Louis lu apa?". Tanya Allena pada Louis.
"Samain aja kaya lo". Jawab Louis.
"Yaudah.. Mbak 2 Lumpang Emas, Orange Juicenya juga 2, sama air putihnya juga". Ucap Brayen.
"Baik Tuan. Mohon ditunggu". Ucap resepsionis yang sedari tadi berdiri disitu. Resepsionis itu pun pergi dari sana melaksanakan perintah dari Tuan Mudanya.
"Lo nggak makan?". Tanya Louis pada Brayen
"Nggak dulu gue". Jawab Brayen.
Mereka berdua kemudian lanjut mengobrol dengan Allena yang hanya menjadi pendengar diantara obrolan mereka. Allena tak berniat sama sekali untuk ikut nimbrung.
Tidak berapa lama pesanan mereka pun datang. Para pelayan kemudian meletakan pesanan tersebut diatas meja.
"Kalau gitu kalian makan dulu, gue ke dalam sebentar. Nanti gue kesini lagi". Ucap Brayen berdiri dari duduknya.
"Lo mau kemana?". Tanya Louis.
"Ada urusan sebentar. Kalau gitu gue pergi dulu". Ucap Brayen berlalu dari sana menuju keruangannya yang ada di restoran tersebut.
Sementara Allena dan Louis mereka lalu segera menyantap makanan mereka dalam keadaan tenang dan hikmat.
Setelah beberapa menit mereka selesai makan. Tidak lama Brayen kembali datang dan menghampiri mereka.
"Kalian udah selesai?". Tanya Brayen.
"Udah. Lo udah selesai urusannya? Cepat banget". Ucap Louis.
"Cuma urusin ini aja kok. Dikit. Makanya cepat selesai". Ucap Brayen.
__ADS_1
"Oohh.. Hebat juga lo udah punya usaha kek gini. Dilihat-lihat lancar juga. Gue akuin sih". Puji Louis.
"Yaa.. Begitulah. Mau gimana lagi".Ucap Brayen santai.
"Huff.. Kalau gitu kalian gimana? Mau pulang sekarang atau gimana nih?". Tanya Brayen pada Allena dan Louis.
"Gua mau naik ke atas. Boleh nggak?". Tanya Allena tiba-tiba.
"Keatas? Yaudah ayo!". Ucap Brayen.
Lelaki itu kemudian berjalan duluan diikuti Allena dan Louis dari belakang .
"Keatas? Ngapain ke atas? Emang ada apa Len?". Tanya Louis berjalan berdampingan dengan Allena.
"Lu ikut aja. Nggak usah banyak tanya". Ucap Allena.
Mereka bertiga kemudian lanjut berjalan dan naik ke rooftop. Setibanya disana mereka bertiga langsung menikmati pemandangan beserta terpaan angin yang terasa sejuk. Membuat mereka merasa sangat damai dan tentram dihati mereka.
"Widihh.. Ada lapangan basket juga? Mantap juga lo". Puji Louis.
"Iya. Biasa gue main disini". Balas Brayen.
"Bisa dong ini kalau gue datang main kesini?". Tanya Louis.
"Datang aja. Tapi kalau buat lo harus bayar". Sarkas Brayen.
"Lahh.. Perhitungan banget lo ama gue.
Brayen tidak menggubris. Lelaki itu hanya tersenyum menahan tawanya.
Sementara Aziel saat ini dia sedang memasuki restoran Brayen bersama Alexa. Aziel kemudian menuju ke meja resepsionis.
"Selamat datang Kak! Ada yang bisa kami bantu?". Tanya resepsionis dengan sopan.
"Brayen dimana?". Tanya Aziel datar.
"Mohon ditunggu ya Kak. Saya akan menelfon Tuan Muda terlebih dahulu". Ucap resepsionis itu.
Alexa yang mendengar itu langsung saja membulatkan matanya kaget, 'Tuan Muda?'. Alexa berkata dalam hatinya.
"Mohon maaf Kak. Tuan Muda sekarang sedang berada di rooftop. Anda bisa saja langsung naik ke atas". Ucap resepsionis itu lagi.
Tanpa membuang waktu, Aziel langsung saja beranjak pergi dari sana. Alexa yang melihat Aziel pergi, segera menyusulnya.
Aziel langsung saja naik ke rooftop. Sebab lelaki tersebut tau dimana tempat itu karena Aziel sudah sangat sering kesana bersama dengan Setya. Mereka ber-3 kadang menghabiskan waktu bersama ditempat itu.
Brayen yang menyadari ada kehadiran orang segera menoleh ke arah pintu masuk.
"El? Lo kapan datangnya Bro? Lo datang sama siapa?". Seru Brayen pada Aziel.
Brayen kemudian menghampiri Aziel dan melihat siapa yang datang bersama Aziel.
"Lahh.. Nih cewek tengil satu ngapain disini? Lo datang sama dia El?". Tanya Brayen menunjuk Alexa.
"Eh eh.. Maksud lo apaan nyebut gue cewe tengil? Gue tabok juga lo. Dasar cowo mesum!". Cibir Alexa tak terima.
"Apa? Cowo mesum? Lo nyebut gue cowo mesum? Dih dih dih... Ni cewek. Berani banget lo nyebut gue kek gitu". Celoteh Brayen sambil mendekat pada Alexa dan menjitak kepala gadis tersebut.
"Aduhh..! Sakit tau. Sshh...!". Ringis Alexa sambil mengelus dahinya.
"Kenapa? Lo emang cowo mesum kan? Jangan pura-pura lupa lo?". Celoteh Alexa melototkan matanya kearah Brayen.
Flashback On
"Allena mana dah? Kok nggak kelihatan dari tadi. Masa dia nggak datang?". Ucap Brayen gelisah.
Saat ini Brayen tengah menunggu Allena. Mereka berdua sudah berjanji akan kencan karena Allena kalah taruhan. Maka gadis itu harus menerima permintaan Brayen yang harus ngedate dengannya(PART 18). Akan tetapi Allena tak kunjung datang sedari tadi.
"Fiks dah nih cewek nggak bakalan datang. Gue udah nunggu hampir sejam. Tapi Allena nggak datang-datang dari tadi". Ucap Brayen berbicara sendiri sambil melihat jam diponselnya.
"Huff... Udahlah". Ucap Brayen memelas.
Brayen kemudian berdiri dari duduknya dan beranjak pergi dari sana. Brayen lalu menuju kamar mandi dan melakukan kegiatannya.
Setelah selesai Brayen kemudian keluar dari kamar mandi. Saat Brayen sedang berjalan keluar tak sengaja ponselnya terjatuh saat dia tengah memperbaiki celananya. Dan ponselnya jatuh tepat di depan pintu toilet lain.
Saat Brayen berjongkok dan mengambil ponselnya. Seseorang yang ada didalam toilet tersebut membuka pintu ingin keluar.
"Waaaa.....!! Pengintip! Ada pengintip! Woyy.. Lo mau ngintip gue ya?". Teriak seseorang yang keluar dari dalam toilet tersebut yang ternyata adalah Alexa.
Brayen yang kaget akan teriakan Alexa segera menarik Alexa dan menyumpal bibir gadis tersebut dengan tangannya.
"Lo apa-apaan sih? Lo gila ampe teriak kek gitu? Kalau di dengar orang gimana?". Celoteh Brayen sambil tetap menutup bibir Alexa.
"Um.. umm.. umm..!". Alexa berusaha mencoba melepaskan sumpalan Brayen dibibirnya.
"Haahh...! Kenapa? Lo mau ngintip gue kan. Dasar cowo mesum! Tolong ada pengin...". Teriak Alexa terputus.
__ADS_1
"Duhh.. Lo gila ya? Siapa juga yang ngintipin lo? Gue tadi cuman mau ngambil ponsel gue yang nggak sengaja jatoh". Ucap Brayen sambil kembali menutup bibir Alexa dengan tangannya.
"Malah lo bilang gue mau ngintip. PD banget gue mau ngintip lo. Ngapain?". Celoteh Brayen tak terima.
"Umm...! Alesan! Lo emang mau ngintipin gue kan, iya kan? Ngaku lo". Ucap Alexa berkata dengan keras dihadapan Brayen.
"Uughh... Berapa kali sih gue bilang, gue nggak ngintipin lo. Cewek stres emang lo". Umpat Brayen.
"Yaelah.. Ngaku aja lah. Lo emang mau ngintip gue kan? Gue bakalan lapor ke polisi. Awas aja lo!". Ancam Alexa sambil mengambil ponselnya di dalam tas kecilnya.
Alexa lalu mencoba menelpon polisi. Namun baru menekan nomor, Brayen langsung menarik ponsel Alexa ditangannya.
"Lo telpon polisi? Setres lo ya? Gue udah bilang gue nggak ngintipin lo yaampun. Gila aja lo telpon polisi". Celoteh Brayen menarik ponsel Alexa.
"HP gue balikin! HP gue Brayen balikin sini ah!". Ucap Alexa sambil mencoba mengambil ponselnya ditangan Brayen.
"Nggak akan. Nanti lo telpon polisi lagi. Yakali, orang gue nggak ngintipin lo. Bisa-bisanya lo nuduh-nuduh gue kayak gitu". Ucap Brayen tak terima.
"Tapi emang bener kan lo mau ngintip". Tuduh Alexa sambil melototkan matanya dihadapan Brayen.
"Nih cewe susah banget ya dibilangin. Gue bilang nggak ngintip ya nggak ngintip". Celoteh Brayen.
"Udah ngaku aja lah. Sebelum gue teriak dan orang-orang dengar dan kesini. Mending lo ngaku dah". Ucap Alexa.
"Lo tu susah banget ya dikasih tau. Lo ikut gue sekarang". Ucap Brayen sambil menarik lengan Alexa.
Mereka berdua kemudian keluar dari dalam kamar mandi tersebut.
Flashback Off
"Apa? Emang bener kan yang gue omongin?". Tanya Alexa dihadapan Brayen.
"Dihh.. Lo tu ya cewe...". Ucap Brayen terhenti.
"Kalian ngapain disini?". Tanya Aziel tiba-tiba membuka suara.
"Lo nggak lihat kita lagi ngapain?". Ucap Louis sambil menatap sengit Aziel.
"Cihh...!". Decak Aziel.
Aziel kemudian berjalan mendekati Allena dan juga Louis. Setibanya didekat mereka Aziel lalu menatap datar Louis dan Allena bergantian.
"Apa? Mau lawan basket?". Tanya Louis sambil memegang bola basket.
Mendengar hal itu Aziel langsung menatap datar Louis dengan smirk khas dirinya.
"Lawan? Lu nggak ingat lu kalah dipertandingan waktu itu?". Ucap Aziel mengingatkan.
"Lu tu nggak ada apa-apanya ama gua. Cupu! Ngerti lu". Ucap Aziel santai menatap datar Louis.
"Wahh... Songong nih bocah. Kita tanding ayo 1 vs 1. Lo ama gue". Tantang Louis.
Aziel tidak menjawab. Lelaki itu hanya menatap datar Louis. Dia tidak berniat bertanding dengan Louis.
Aziel kemudian mengalihkan pandangannya pada Allena. Ditatapnya Allena datar beberapa detik. Sementara Allena, gadis itu hanya membalas menatap datar Aziel.
Aziel kemudian kembali mengalihkan pandangannya dan berbalik ke belakang. Aziel lalu berjalan kembali ingin pergi dari sana. Setibanya didekat Alexa, lelaki itu lalu menarik lengan Alexa. Mereka berdua lalu kembali berjalan beranjak pergi dari sana.
Allena yang melihat itu hanya menatap datar Aziel dan juga Alexa yang saling bergandengan tangan. Gadis itu kemudian menarik nafasnya sambil terus melihat Aziel dan Alexa yang pergi dari sana.
"Songong banget tu bocah satu. Dia kira dia siapa?". Teriak Louis tiba-tiba.
"Lo kok bisa temenan sama orang kaya dia? Belagu banget gayanya". Cibir Louis berbicara pada Brayen.
"Dia orangnya emang kaya gitu. Belagu anaknya. Maklum orang terkaya. Nggak ada yang berani ngelawan ama tu bocah. Gue aja nggak berani". Ucap Brayen.
"Kenapa? Gue kalau jadi lo udah gue pites tuh pala songongnya". Celoteh Louis.
"Nggak berani gue. Bisa-bisa bangkrut usaha Bokap gue. Bokap gue kan kerjasama ama bisnis Bokapnya Aziel. Malahan tu bocah bisa beli kali bisnis Bokap gue. Kalau kek gitu kan bisa gaswat! Bokap gue juga yang susah". Ucap Brayen menjelaskan.
"Jadi gue baik-baikin aja dah tu anak. Lagian gue ama dia juga kan nggak ada masalah". Ucap Brayen lagi.
"Jadi gitu. Pantas si. Tapi kan gimanapun lo itu harus...". Ucap Louis terhenti.
"Udah bahasnya. Kalian nggak usah omongin orang tadi. Nggak penting". Ucap Allena tiba-tiba.
"Wishh... Nona Muda udah marah nih. Galak amat. Ada apa sih Allena?". Ucap Louis.
"Kalian nggak usah bahas orang tadi. Bisakan?". Tanya Allena datar sambil memandangi Louis dan Brayen bergantian.
"Yaudah yaudah..! Gimana nih. Kita lanjut basketnya atau kita pulang sekarang?". Tanya Louis.
"Lanjut aja. Sebentar baru balik". Jawab Allena.
"Okee.. Kalau gitu kita lanjut". Timpal Brayen.
Mereka ber-3 kemudian lanjut bermain basket dan nongkrong hingga sore hari. Menjelang malam Allena dan Louis baru akan pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1