Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 87 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Kini Aziel sudah dibawah ke rumah sakit. Pria itu sedang ditangani dokter saat ini. Luka dipunggungnya cukup parah karena terkena besi pengait yang ada dilampu panggung, sehinggga ada sedikit robekan cukup panjang dipunggung Aziel.


Kini Allena dan yang lainnya sedang menunggu diluar ruangan. Terlihat ekspresi kekhawatiran diwajah mereka. Apa lagi Allena, gadis itu terlihat berdiam diri sedari tadi. Kepala Sekolah SMAN Nasional juga ada disana.


Tidak lama datang kedua orang tua Aziel dan juga Azela. Orang tua Aziel memang sudah pulang dari luar negri satu minggu yang lalu. Sepertinya pekerjaan mereka sudah selesai.


"Aziel dimana Aziel? Dimana anak saya?". Seru Mamah Rani saat sudah didepan ruangan Aziel.


Allena melihat kedatangan kedua orang tua Aziel dan juga Azela, "Tante!". Seru Allena kepada Mamah Rani.


"Allena, anak cantik. Gimana keadaan Aziel, Nak?". Tanya Mamah Rani seraya menghampiri Allena.


"Aziel masih didalam Tante. Maafin Allena ya Om, Tante! Gara-gara Aziel nolongin Allena, Aziel harus masuk rumah sakit sekarang". Ucap Allena merasa bersalah dengan apa yang terjadi kepada Aziel. Wajahnya sendu saat berbicara dengan kedua orang tua Aziel.


Mamah Rani menggeleng, lalu merangkul Allena mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


"Tidak apa-apa Allena. Om sama Tante juga nggak nyalahin kamu, jadi kamu tidak perlu nyalahin diri kamu sendiri. Ini semua terjadi karena kecelakaan. Aziel juga hanya ingin menolong kamu. Doakan saja semoga Aziel tidak terlalu parah". Ucap Mamah Rani dengan tersenyum.


"Kak Len, jangan sedih. Kak El pasti nggak kenapa-napa kok. Kak El itu Kakaknya Azela yang paling kuat. Jadi Kak Len, tenang aja nggak usah khawatir". Timpal Azela yang menghampiri Allena dan memeluk gadis itu.


Sementara ke-5 sahabat Allena hanya saling melirik satu sama lain dengan perasaan bertanya-tanya. Pasalnya Allena terlihat begitu dekat dengan keluarga Aziel.


Setya dan juga Brayen sama penasarannya. Kenapa Allena terlihat begitu dekat dengan kedua orang tua Allena dan juga Azela adik Aziel yang mereka ketahui bahwa Azela itu adalah anak yang susah akrab dengan orang lain.


Alvian terlihat berjalan menghampiri kedua orang tua Aziel, "Sorry Om, Tante!". Sapa Alvian dengan sopan.


Kedua orang tua Aziel berbalik kearah Alvian yang terlihat begitu gugup, "Ya, ada apa Nak?". Jawab Mamah Rani.


"Begini Om, Tante, sebelumnya saya hanya ingin meminta maaf soal kejadian yang menimpa Aziel. Saya merasa bersalah karena Aziel sudah menolong saya tadi bersama Allena. Sehingga Aziel harus berakhir di rumah sakit sekarang ini.


"Akan tetapi saya juga sangat berterima kasih kepada Aziel karena sudah menyelamatkan nyawa saya. Saya benar-benar meminta maaf atas kejadian tadi Om, Tante". Ucap Alvian panjang lebar.


Pria itu memang sangat merasa bersalah kepada Aziel, karena menolong dirinya Aziel harus sampai masuk rumah sakit dan mengalami luka yang lumayan parah.


"Tidak apa Nak, ini semua juga terjadi karena kecelakaan, yang penting kalian berdua masih bisa selamat. Doakan saja semoga Aziel baik-baik saja.


"Sekali lagi saya minta maaf ya Om, Tante". Ucap Alvian. Pria itu sebenarnya masih merasa bersalah.


Tapi apa yang dikatakan Mamah Rani memang benar. Allena dan Alvian itu tidak bersalah dengan apa yang terjadi kepada Aziel.


Itu juga terjadi karena Aziel yang berusaha menolong mereka berdua. Hingga akhirnya Aziel sendiri yang terkena lampu panggung yang menyebabkan dirinya berakhir di rumah sakit. Oh malang sekali nasibmu Aziel😅


Tidak berapa lama seorang Suster keluar dari dalam ruangan Aziel.


"Suster bagaimana dengan keadaan anak saya sekarang? Anak saya baik-baik saja kan?". Tanya Papah Rian seraya menghampiri Suster tersebut.


"Bapak tenang saja, anak Bapak baik-baik saja saat ini. Tapi nanti Dokter sendiri yang jelaskan ya Pak. Silahkan Bapak masuk kedalam, Dokter menunggu didalam". Jawab Suster.


Mereka yang mendengar itu langsung bernafas lega. Setidaknya Aziel baik-baik saja sekarang.


"Ah syukurlah kalau begitu". Ucap Papah Rian lega, "Kalau begitu Mamah sama Azela kedalam duluan ya. Papah mau bicara dulu sama Kepala Sekolah". Sambung Papah Rian lagi.


"Iya Pah". Jawab Mamah Rani.


Mamah Rani dan Azela kemudian masuk kedalam ruangan Aziel. Sementara Papah Rian sedang berbicara dengan Kepala Sekolah disisi lain.


"Nggak ikut masuk kedalam Len?". Tanya Airin kepada Allena tiba-tiba.


Allena menggeleng, "Nggak usah". Jawab Allena seadanya.


Airin yang mengerti perasaan Allena menghela nafas, "Jangan merasa bersalah Len, ini semua terjadi karena kecelakaan. Orang tua Kak El juga nggak nyalahin lo kan". Ucap Airin sambil mengusap-usap punggung belakang Allena.


Allena mengangguk, "Iya". Balas Allena.


Tidak lama pintu ruangan terbuka dengan Azela yang keluar.


"Kak Len, masuk kedalam ya. Kak El nyariin Kak Len, suruh ikut masuk". Ucap Azela seketika.

__ADS_1


Allena yang mendengar itu langsung melirik sahabat-sahabatnya. Mereka kemudian hanya mengangguk kearah Allena.


"Yuk Kak Len!". Azela kemudian meraih lengan Allena membawa gadis itu masuk kedalam ruangan Aziel.


Saat Allena sudah didalam, gadis itu melihat Aziel yang sedang berbaring miring diatas brankarnya sambil menatapnya. Tatapan Aziel begitu intens pada Allena. Sementara Allena terlihat berjalan dengan tenang kearah Aziel.


"Kalau begitu saya keluar dulu ya, dan jangan lupa diminum obatnya". Ucap Dokter yang menangani Aziel.


"Baik Dok, terima kasih sudah menangani anak saya". Jawab Mamah Rani.


"Iya sama-sama". Balas Dokter itu kemudian berbalik berjalan keluar dari dalam ruangan.


"Kita kesana dulu ya Zela. Biar Kak El sama Kak Allena bicara berdua dulu". Ucap Mamah Rani membawa Azela, lalu kedua orang itu berjalan kearah sofa yang berada disudut ruangan. Mamah Rani ingin membiarkan Aziel dan Allena berbicara berdua.


Sementara Allena mulai duduk dikursi dekat brankar yang langsung berhadapan dengan Aziel.


"Gimana?". Tanya Allena sambil memandang wajah Aziel yang juga memandanginya.


"Gimana apanya Baby?". Aziel malah balik bertanya.


Allena menghela nafas melihat tingkah Aziel itu , "Gimana keadaan luu...?". Ucap Allena dengan tampang malasnya.


Aziel mendelik lucu melihat reaksi Allena, "Gua nggak kenapa-napa kok. Gua kan kuat, tenang aja". Ucap Aziel sambil menempelkan kedua tangannya lalu meletakannya dibawah pipinya.


"Dih". Allena berdecih, "Iya.. lu kuat, kuat banget". Allena memasang wajah sensinya.


Aziel yang melihat reaksi Allena semakin berdengus lucu. Allena ini ternyata sensi banget ya orangnya.


Sementara Mamah Rani hanya melihat interaksi kedua orang itu dari tempatnya. Aziel seperti tidak menganggap adanya dirinya dan Azela. Lebih fokus berbicara dengan Allena.


Tapi tidak apa bagi Mamah Rani. Setidaknya dengan Allena, anaknya itu terlihat lebih bahagia dan bersemangat.


"Tadi kenapa nangis?". Ucap Aziel tiba-tiba kepada Allena.


"Hm? Kapan?". Tanya Allena pura-pura tidak mengerti.


"Dih, sok lupa ingatan". Aziel berdecih, "Tadi.. pas gua kena timpa lampu sialan itu". Sambung Aziel lagi.


"Cuma apa, hmm?". Aziel memandang serius Allena, "Lu khawatir yaa ama gua. Takut gua kenapa-napa kan". Sambung Aziel sambil menaik turunkan alisnya menggoda Allena.


"Anda terlalu percaya diri Borr!". Elak Allena.


"Terus apa kalau nggak khawatir. Buktinya tadi lu nangis, iya kan. Kaya gini nih tadi, kita kerumah sakit ya El.. huhuhu...". Ejek Aziel dengan ekspresi menangis yang dibuat-buat membuat Allena kesal.


"iih lu tuh ya ngeselin banget sih". Kesal Allena yang reflek mendorong lengan Aziel.


Aziel langsung saja meringis, "Aw aw aw.. Allena.. punggung gua jadi sakit aduhh". Ringis Aziel.


Allena yang kaget langsung saja berdiri dari kursinya, "Eh eh sorry sorry gua nggak sengaja. Maaf maaf! Lu sih ngeselin, lagi kaya gini juga. Aduhh.. sorry gua minta maaf". Ucap Allena mendekat sambil memeriksa keadaan Aziel.


"Duhh...". Aziel terus meringis membuat Allena kelagapan sendiri.


Tiba-tiba Aziel menarik lengan Allena mendudukannya diatas brankar dan lengannya yang kekar langsung meraih pinggang Allena memeluknya.


"Eh..". Allena kebingungan sendiri dengan Aziel yang sudah berbaring diatas pangkuannya dan memeluk pinggangnya dengan erat.


Sementara Mamah Rani yang melihat tingkah modus anaknya hanya senyum-senyum sendiri. Sementara Azela terlihat tidak peduli menyibukan diri dengan memainkan ponselnya.


"Jangan pergi ya Len, temenin gua disini. Bisa kan?". Ucap Aziel disela-sela dia berbaring dipangkuan Allena tanpa melepaskan pelukannya.


"Allena harus pulang Aziel". Tiba-tiba terdengar suara Papah Rian yang sudah masuk kedalam ruangan bersama ke-5 sahabatnya Allena juga Brayen dan Setya.


"Allena harus pulang Nak, ini sudah malam. Allena tidak mungkin harus menginap disini jagain kamu. Orang tua Allena pasti nyariin Allena". Ucap Papah Rian lagi.


Aziel yang mendengar itu semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Allena dan menyembunyikan wajahnya disana.


"Nggak mau". Aziel menggeleng melarang Allena meninggalkannya.

__ADS_1


Setya yang melihat tingkah sepupunya itu hanya menggeleng heran, "Mana bisa gitu El. Masa lo nyuruh si cewek datar ini nemenin lo semaleman. Ada ada aja lo". Timpal Setya. "Lagian ngapain sih lo jadi kaya anak kecil gini. Manja banget perasaan". Sambungnya lagi.


Aziel mendongak menatap kesal kearah Setya, "Diem lu, nggak usah banyak omong". Gertak Aziel membuat Setya langsung berhenti berbicara.


Aziel kemudian beralih memandang Allena, "Bisa temenin gua disini kan Len, jangan pergi!". Ucap Aziel memaksa.


Allena menggeleng, "Nggak bisa, gua harus pulang". Jawab Allena membiarkan Aziel yang tak melepaskan pelukannya.


"Yaudah kalau gitu gua mau pulang juga. Gua nggak mau disini". Balas Aziel.


Papah Rian menyela, "Tapi El, kamu masih harus...". Ucap Papah Rian terhenti.


"Aziel nggak mau disini Pah". Ucap Aziel cepat.


Mamah Rani mendekat kearah suaminya, "Udah Pah biarin Aziel pulang. Lagi pula Aziel sepertinya tidak harus dirawat di rumah sakit". Timpal Mamah Rani.


Papah Rian kemudian hanya menghela nafas, "Baiklah kalau begitu. Kita pulang ke rumah sekarang". Ucap Papah Rian kemudian.


Aziel langsung menoleh kearah Papah Rian, "Nggak mau Pah. Aziel mau pulang ke apartemen Aziel aja". Balas Aziel cepat.


"Kenapa kamu begitu keras kepala Aziel. Kalau kamu pulang ke apartemen kamu, siapa yang akan membantu mengobati luka dipunggung kamu itu". Ucap Papah Rian yang mulai frustasi akan sikap anaknya itu.


"Biar Setya yang bantu Aziel. Aziel nggak mau pulang ke rumah". Aziel tetap bersikukuh tak ingin pulang ke rumah dan tetap ingin pulang ke apartemennya.


Sementara Setya hanya memutar bola matanya jengah. Dia lagi yang kena semprot, harus repot-repot membantu Aziel. Untung keluarga kalau bukan, ngapain.


"Terserah kamu saja. Kamu itu memang dari dulu sangat keras kepala". Celoteh Papah Rian tak mengerti akan jalan pikiran anaknya yang sangat keras kepala itu.


"Yasudah kita pulang sekarang, sebentar lagi akan larut. Takutnya kalian semua juga dicariin sama orang tua kalian.


"Tante sangat berterima kasih kepada kalian semua karena sudah mau menjenguk Aziel dan membawanya kemari. Sekali lagi Tante sangat berterima kasih kepada kalian semua". Ucap Mamah Rani kepada mereka semua dengan tersenyum.


Mereka semua kemudian mengucapkan sama-sama kepada Mamah Rani.


Setelah semua merasa sudah selesai dan beres. Mereka semua kemudian pergi dari sana meninggalkan rumah sakit tersebut bersama-sama.


...*****...


Sementara ditempat lain, terlihat Regina yang sedang bersama dengan teman-temannya.


"Gimana nih Re? Kalau sampai kita ketahuan gimana? Bisa bahaya nih buat kita-kita". Ucap salah satu teman Regina.


"Iya Re, gimana nih? Harusnya kan Allena sasarannya, ini malah Aziel yang kena. Kalau sampai kita ketahuan wahh... bisa-bisa kita semua dilaporin kepolisi. Gamau gue tuh masuk penjara". Ucap satu teman Regina lagi. Terlihat ekspresi ketakutan diwajah mereka.


"Lo sendiri taukan Re, gimana keluarga Rajasa itu. Mereka itu keluarga terkenal, gampang buat mereka cari siapa yang jadi dalang kejadian hari ini, dan itu kita-kita sendiri pelakunya. Kalau ketahuan gimana?". Sambungnya lagi.


Sementara kedua teman Regina yang lainnya ikutan panik.


Regina yang melihat kepanikan teman-temannya hanya menggeleng sambil berdengus lucu.


"Ko lo mala ketawa sih Re? Lo nggak takut apa kalau sampai kita ketahuan? Bisa-bisanya lo santai dan ketawa disaat keadaan kaya gini". Ucap salah satu temannya Regina ketika melihat Regina yang terlihat begitu santai dan malah tertawa seperti tidak terjadi apa-apa.


Regina memandang teman-temannya bergantian. Gadis itu kembali berdengus lucu.


"Kalian tenang aja, nggak bakalan terjadi sesuatu kok sama kita semua. Hal yang kalian pikirkan nggak akan pernah terjadi ke kita-kita". Ucap Regina yang terlihat santai.


Mereka yang mendengar perkataan Regina langsung melirik satu sama lain.


"Hah? Maksud lo gimana? Coba lo jelasin ke kita-kita. Udah jelas-jelas kita yang lakuin hal itu. Udah pasti dong kita yang ketahuan". Ucap salah satunya.


"Kalian lupa gue siapa? Gue Regina, mudah buat gue menyabotase kejadian hari ini, dan yang pasti kalian tenang aja. Kalaupun bakalan ketahuan, bukan kita yang bakal jadi tersangkanya, tapi orang lain.


"Sebelum kejadian hari ini terjadi, gue udah nyusun rencananya dengan sebaik dan sematang mungkin". Ucap Regina dengan senyum devilnya.


"Gue masih belum ngerti Re, maksud lo apa dengan bukan kita yang bakalan jadi tersangkanya tapi malah orang lain. Orang lain siapa maksud lo?". Ucap salah satu teman Regina dengan tampang kebingungan.


Yang lainnya tak ikut mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Regina. Apa yang sudah gadis itu rencanakan sebenarnya?

__ADS_1


"Kalian bakalan lihat sendiri nanti". Ucap Regina masih dengan senyum jahatnya.



__ADS_2