
Dua minggu berlalu. Semenjak kejadian di parkiran itu, Allena tak lagi dekat dengan Brayen. Allena pasti akan selalu menolak jika lelaki itu mengajaknya ke kantin atau ke restoran miliknya. Allena pasti akan selalu memasang tampang tak bersahabat pada Brayen, dan itu membuat Brayen kebingungan sendiri.
Selama dua minggu itu pula Airin tak masuk masuk sekolah, dan Manaf pria itu juga ikut-ikutan tak masuk sekolah. Membuat teman-temannya kebingungan dan heran. Pasalnya Airin merupakan murid yang sangat disiplin. Dia juga cerdas dan diusulkan untuk mengikuti lomba cerdas cermat bulan depan.
"Wahh.. parah sih ini fix, parah parah, nggak bisa dibiarin nih.
"Dua minggu loh, dua minggu Airin sama Manaf nggak masuk. Ini mereka janjian apa gimana ya". Ucap Tessa membuka obrolan.
Saat ini Tessa dan ke-4 temannya sedang berada dalam kelas menunggu guru masuk. Mereka membicarakan Airin dan Manaf yang sudah 2 minggu ini tak datang ke sekolah.
"Iya woyy.. Gam, Manaf kan sahabat lo. Masa lo nggak tau dua minggu ini dia kemana sampai nggak masuk sekolah". Timpal Zee.
"Biar dikata Manaf sahabat gue, nggak mungkin kan gue tau apa aja yang Manaf lakuin. Emang gue Bokapnya Manaf". Jawab Gamma sekenanya.
"Iih.. lo tuh ya. Setidaknya kan lo tau gitu kenapa dia ampe nggak masuk. Dua minggu loh ini". Ucap Zee gemas akan Gamma.
"Ya mana gue tau. Pacaran kali sama Airin. Mereka kan sama-sama nggak masuk. Siapa tau pengen ngabisin waktu berdua buat...". Ucap Gamma menjeda ucapannya dengan ekspresi anehnya.
"Buat apa? Lo jangan ngada-ngada ya Gam, gue tau arah pembicaraan lo kemana. Otak mesum lo emang". Ucap Alvian menjitak kepala Gamma.
"Duhh lo apaan sih? Orang maksud gue nggak gitu. Siapa tau kan Airin sama Manaf ngabisin waktu pacaran mereka dengan buat bisnis makanan gitu. Neting aja lo ama gue". Ringis Gamma sambil mengusap-usap kepalanya akibat jitakan Alvian.
"Alahh alasan. Lo kira gue bodoh, gue tau kali arah pembicaraan lo kemana". Cibir Alvian.
"Lo kali yang mesum. Pikiran lo udah membludak kemana-mana gitu". Balas Gamma tak terima.
"Alahh..". Cebik Alvian dengan tampang mengejeknya.
Allena yang mendengar perdebatan mereka hanya mendengarkan saja tanpa berniat menimbrung.
Tidak lama guru masuk ke kelas mereka.
"Udah woi berantemnya, Guru udah datang tuh. Kalian berdua itu sama aja, sama-sama mesum nggak usah saling ngomongin". Timpal Tessa mengejek ke-2 pria itu.
Gamma yang mendengar itu langsung saja menghampiri Tessa dan menjitak kepalanya lalu segera menuju kearah tempat duduknya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Aduhh awas lo ya". Tessa yang ingin membalas segera diurungkannya karena guru sudah masuk ke kelas.
Pelajaran pertama pun dimulai. Anak-anak mulai mengikuti pelajaran dengan tenang dan serius.
...*****...
Saat ini Allena dan ke-4 temannya(tanpa Airin dan Manaf) sedang berjalan ke arah kantin.
Tiba-tiba dari arah lain muncul Brayen dan langsung mengambil tempat disamping Allena dan ikut berjalan bersama.
"Hai Len, lo mau ke kantin kan?". Sapa Brayen dengan senyumnya.
Allena menoleh sekilas kearah Brayen, lalu kembali mengalihkan pandangannya kedepan dan tetap berjalan tak mempedulikan sapaan Brayen padanya.
"Len, tunggu! Lo kenap...". Ucap Brayen terputus.
"Bisa nggak lu nggak deket-deket gua lagi. Risih gua". Ucap Allena seketika berhenti melangkah dan berbalik menatap Brayen tanpa ekspresi.
Teman-teman Allena yang ada disitu seketika ikut berhenti dan saling menatap satu sama lain.
"Beberapa hari ini gua jauhin lu, tapi masih aja lu deketin gua. Lu nggak ngerti maksud gua apa dengan gua jauhin lu? Apa perlu gua ajarin lu bahasa tubuh?". Ucap Allena yang sontak membuat Brayen dan teman-temannya menatap kaget.
"Itu Allena kenapa tiba-tiba kaya gitu?". Bisik Zee pada Tessa.
"Waduh nggak tau juga tuh bocah. Kak Brayen jadinya bingung kan sekarang". Balas Tessa berbisik.
Setelah berbicara seperti itu Allena kembali melangkahkan kakinya diikuti oleh teman-temannya yang merasa bingung dengan sikap Allena hari ini.
"Tenang Kak, biar gue bantu ngomongin sama Allena". Ucap Alvian diangguki oleh Brayen yang masih berdiri ditempatnya dengan perasaan tak menentu.
Brayen benar-benar bingung akan sikap Allena padanya hari ini. Dan apa itu? Kenapa Allena tiba-tiba meminta dirinya untuk menjauhinya. Apa Brayen telah berbuat salah kepadanya?
"Eh cowo mesum! Hahaha.. Kasihan banget lo yah dicuekin. Gimana rasanya? Enak? Haha!". Ejek seseorang tiba-tiba yang langsung saja membuyarkan lamunan Brayen.
Brayen seketika menoleh dan mendapati Alexa yang sedang berdiri dihadapannya dengan senyuman mengejek. Disana juga ada Chika dan Hera yang berdiri dibelakang Alexa.
__ADS_1
"Gimana rasanya nggak dipeduliin? Enak? Duhh kasian banget sih loh cowo mesum". Ejek Alexa lagi.
"Lo...". Ucap Brayen menunjuk Alexa dan mendekati gadis itu dengan tatapan tajam.
"Apa?". Tantang Alexa dengan beraninya.
"Lo... Aghh...". Desis Brayen menunjuk Alexa yang benar-benar merasa gemas pada gadis itu saat ini.
"Sekali lagi gue denger lo ngatain gue cowo mesum". Ucap Brayen dengan menunjuk-nunjuk Alexa. "Gue makan lo sekarang. Awas aja lo. Ughh..". Sambung Brayen menahan emosinya akan gadis dihadapannya saat ini.
Brayen kemudian berbalik kebelakang ingin meninggalkan Alexa. Pria itu benar-benar tak tahan akan Alexa yang terus saja mengatainya.
"Dih sok banget sih lo. Dasar cowo mesum nggak ada akhlak. Lo kira gue takut sama lo ha? Nggak". Umpat Alexa meneriaki Brayen.
Brayen yang benar-benar diujung tanduk sudah sangat emosi sekarang. Pria itu menoleh kebelakang dan menatap tajam Alexa yang berdiri seakan menantangnya.
"Apa? Lo kira gue takut sama lo?". Tantang Alexa dengan berani.
Brayen yang sudah emosi seketika berlari ingin menghampiri Alexa.
Melihat tatapan Brayen yang begitu tajam dan memandanginya horor seketika Alexa menelan salivanya.
Tanpa aba-aba Alexa langsung berbalik dan berlari dengan sekencangnya ingin kabur dari Brayen. Melihat tatapan Brayen, membuat nyalinya juga menciut.
"Kyaaa.... awas kalian. Gue dikejer sama cowo mesum. Minggir". Teriak Alexa disela-sela dia berlari.
Brayen terus mengejarnya tak berhenti. Sepertinya Brayen sudah merasa sangat gemas pada Alexa. Pria itu ingin segera menangkap gadis itu dan ingin memberinya pelajaran.
Alexa terus berlari tanpa mempedulikan murid-murid yang ditabraknya. Sesekali dia menoleh kebelakang dengan Brayen yang terus tak berhenti mengejarnya. Gadis itu benar-benar takut sekarang jika Brayen berhasil mengejarnya.
"Duhh tuh cowo kenapa nggak berhenti kejar gue sih? Gue udah cape banget nih. Mana mukanya serem amat". Ringis Alexa dengan tetap terus berlari.
"Awas lo Lex, gua dapet abis lo ama gue". Teriak Brayen tetap mengejar Alexa. Dia berniat memberi pelajaran pada Alexa.
"Kyaaa..... Gue minta maaf. Nggak lagi kok". Teriak Alexa yang tetap berlari. Gadis itu mulai menyerah.
Alexa terus berlari hingga sampai ke gudang sekolah. Hampir satu sekolah dia berlari untuk menghindar dari Brayen yang tak berhenti mengejarnya.
"Alexa.. Awas aja lo". Teriak Brayen dari luar.
Alexa seketika kaget dan langsung berlari kearah sudut ruangan dan bersembunyi disamping lemari.
"Tuh cowo mesum ngapain sih ampe ngejar ikutin gue kesini. Niat banget mau kasih gue pelajaran". Gumam Alexa disela-sela persembunyiannya.
"Alexa keluar lo! Gue tau lo sembunyi. Jangan sampai gue dapet abis lo ama gue. Keluar sekarang". Teriak Brayen yang saat ini sudah berada dalam gudang.
"Mampus nih gue. Tuh cowo mesum kayanya marah beneran deh". Gumam Alexa yang sudah mulai takut.
"Keluar lo sekarang. Gue itung ampe 3 ya. Lo nggak keluar juga, abis beneran lo ama gue". Teriak Brayen lagi.
Brayen tentu saja tahu Alexa sedang bersembunyi. Tapi pria itu seketika berpikir merencanakan sesuatu. Brayen akan membuat Alexa tak mengatai dirinya lagi.
"Keluar lo sekarang.
"Satu.. Dua.. Tii...". Ucap Brayen terjeda.
Brayen seketika memandangi Alexa yang sudah keluar dari persembunyiannya. Gadis itu perlahan berjalan kearahnya dengan ekspresi ketakutan, tapi mencoba menahannya. Alexa tidak ingin menunjukan rasa takutnya pada Brayen. Gengsi dong kalau gitu.
"Apa?". Sinis Alexa menahan rasa gugupnya.
"Cih, masih berani lo ama gue? Sini cepetan! atau lo mau gue yang datang nyamperin lo". Angkuh Brayen tetap berdiri ditempatnya.
Alexa dengan perasaan gugup karena takut akan ekspresi Brayen melangkahkan kakinya perlahan mendekati Brayen.
"Apa? Lo mau apa dari gue? Ucap Alexa seketika menatap ketus Brayen.
...*****...
Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Saat ini Allena dan ke-4 temannya sedang berjalan kearah parkiran. Hari ini mereka berencana akan menjenguk Airin.
"Allena". Seru seseorang memanggil Allena.
__ADS_1
Allena yang namanya dipanggil seketika menoleh kesumber suara dan menatap orang tersebut dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Saat ini Allena berhadapan dengan dua orang yang tak jauh dari tempat dia berdiri. Regina yang sempat memanggilnya sedang berdiri dengan Aziel disampingnya. Kedua orang itu menghampiri Allena yang saat ini sedang bersama teman-temannya.
Allena menaikan sebelah alisnya sebagai tanda "APA?".
"Kita berdua mau ngomong sama lo soal acara nanti". Ucap Regina to the point.
"Nggak bisa. Gua mau pergi". Jawab Allena seketika.
"Loh nggak bisa gitu dong Len, kita harus diskusiin itu sekarang, nggak bisa ditunda". Ucap Regina kesal akan sikap Allena.
"Gua bilang gua nggak bisa. Gua ada urusan". Balas Allena datar.
"Sepenting apa sih urusan lo? Urusan yang ini tuh lebih penting sekarang". Ucap Regina yang mulai kesal.
Regina saat ini terlihat kesal akan sikap Allena. Apa lagi tampang Allena yang terlihat datar dan santai membuat Regina sedikit tak menyukai gadis itu.
"He Regina, Allena bilang nggak bisa, ya nggak bisa. Maksa amat sih lo. Nggak paham bahasa Indo lo?". Timpal Zee.
"Gue nggak ngomong ama lo ya cewe caper, gue ngomong sama Allena. Kenapa lo yang ikut campur?". Kesal Regina menatap Zee yang ikut campur.
"Apa lo bilang?". Teriak Zee tak terima.
"Kenapa? Emang salah apa yang gue omongin? Lo suka sering caperkan sama Setya. Tapi sayangnya Setya itu nggak nganggep lo. Kasihan banget sih lo". Cibir Regina.
"Apa lo bilang? Lo kira gue takut sama lo? Mentang-mentang lo anggota OSIS, jadi lo pikir gue takut gitu sama lo. Sini lo gue hajar". Balas Zee ingin maju menghampiri Regina.
"Sini. Siapa takut? Junior belagu lo". Balas Regina yang juga ingin maju.
Dua orang itu seketika ingin adu cekcok. Tiba-tiba Allena dengan cepat menahan Zee dan maju kehadapan Regina dan menatap datar gadis itu.
Regina seketika berhenti ketika Allena sudah berada dihadapannya, dan membalas tatapan Allena dengan tatapan kesal.
"Urusan lu ama gua, bukan ama Ziva". Ucap Allena seketika sambil menatap Regina yang sudah ada dihadapannya.
"Lo...". Ucap Regina menunjuk Allena dihadapan gadis itu.
Allena langsung saja menepis tangan Regina dengan kuat. "Jangan beraninya lu nunjuk-nunjuk gua, kalau nggak gua patahin tangan lu sekarang". Desis Allena dengan tatapan dingin yang ditujukannya.
Regina seketika menurunkan telunjuknya dan menatap kesal pada Allena. Sungguh gadis itu makin membuat Regina tak suka padanya. Apa lagi dengan gayanya yang sok itu.
"Gue...". Ucap Regina terhenti akibat Aziel yang tiba-tiba menarik lengannya untuk mundur kebelakang.
Aziel sontak saja maju kedepan, dan kini laki-laki itu yang sudah berhadapan dengan Allena.
Aziel menghembuskan nafasnya sebentar, lalu menatap Allena yang juga menatapnya.
"Apa?". Tanya Allena seketika.
Aziel yang mendengar itu kembali maju kedepan dan semakin mendekati Allena sampai ujung sepatu mereka bersentuhan. Jarak yang lumayan dekat.
Mereka yang ada disana seketika merasakan hawa ketegangan diantara kedua orang itu. Apa lagi mereka berdua sama-sama saling memberikan tatapan datar namun seakan mencekam bagi yang ada disana.
"Gua ngehargain lu, karna lu anak dari donatur acara yang udah gua buat.
"Tapi kalau sampai sekali lagi lu nolak disaat kita butuhin lu, jangan salahin gua berbuat sesuatu yang buat lu nggak bakalan pernah lupa dengan hal itu. Lu pahamkan maksud gua, Allena". Ucap Aziel tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari Allena.
Orang-orang yang melihat dan melintas disana seketika tahan nafas sendiri melihat Ketua OSIS mereka berinteraksi dengan Allena. Sama-sama saling mendominasi satu sama lain. Mereka yang melihat saja tegang dan heboh sendiri.
Teman-teman Allena saja hanya diam tak berani ikut campur.
Sesaat kemudian Aziel berbalik dan langsung menarik lengan Regina membawa gadis itu pergi dari sana.
Allena yang melihat itu hanya menatap datar kepergian Aziel dan Regina. Gadis itu terus saja memandang tangan Aziel yang menggandeng tangan Regina.
Allena seketika menghembuskan nafasnya sebentar. Sedetik kemudian Allena berbalik dan melangkahkan kakinya.
"Kita pergi sekarang". Ucap Allena berbicara kepada ke-4 temannya.
Mereka yang mendengar itu saling melirik satu sama lain dan langsung mengikuti Allena.
__ADS_1