Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 132 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Hingga akhirnya sampai malam, sekitar pukul 7 malam Aziel masih berada di dalam kamar Allena. Pria itu terlihat tertidur pulas di sofa.


Sementara Allena sejak pulang sekolah, gadis itu belum juga mandi. Allena tidak ingin mandi jika Aziel masih berada dalam kamarnya.


Tau sendiri kan Aziel itu mesumnya kaya apa. Pria itu hampir saja melakukan hal yang tidak-tidak sama Allena siang tadi.


Allena yang duduk di tepi ranjang melirik ke arah Aziel yang masih tertidur di sofa.


Allena seketika menghembuskan nafas berat. Kemudian mulai beranjak dari ranjangnya menuju pintu dan keluar dari sana turun ke lantai bawah.


Setibanya Allena di bawah, cewek itu berteriak memanggil Bi Ratih dari ruang tengah.


"Iya Non, ada apa?". Bi Ratih datang dengan tergopoh-gopoh saat Allena memanggil dirinya.


"Mamah sama Papah udah pulang Bik?". Tanya Allena kemudian.


"Belum Non". Jawab Bi Ratih.


"Kapan pulangnya?


"Mungkin jam 10-nan Non. Soalnya Tuan Besar sama Nyonya lagi ada acara katanya.


Allena hanya mengangguk pelan mendengar jawaban Bi Ratih.


Sudah biasa kedua orang tua Allena pulang sedikit terlambat. Memang urusan pekerjaan keduanya sangat padat dan menyibukan. Jadi jarang sekali Allena ada waktu bersama dengan mereka.


"Terus kalau Louis, Bibi tau dimana dia?". Tanya Allena lagi.


"Sepertinya di kamarnya Non". Jawab Bi Ratih, "Memangnya ada apa Non? Non Lena lagi butuh sesuatu?


"Nggak ada". Jawab Allena. Kemudian berbalik dan ingin kembali ke kamarnya.


Bi Ratih yang melihat Allena pergi hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena kebingungan, "Non Lena kenapa ya?


Sedang Allena sudah berada dalam kamarnya dan melihat Aziel masih berbaring dengan tenang di atas sofa. Cewek itu kemudian mendekati Aziel.


"Bangun!". Allena menggoyang-goyangkan tubuh Aziel agar cowok itu bisa bangun.


"Bangun gila, bangun!". Allena terus menggoyang-goyangkan tubuh Aziel, namun cowok itu masih setia tidur. Sepertinya mimpi Aziel terlalu indah sampai susah sekali Aziel untuk bangun.


"Ck, dasar kebo!". Cibir Allena.


"Bangun! Bangun! Bangun!Bangun! Bangun! Bangun!Bangun!". Allena semakin keras mengguncang tubuh Aziel.


"Bangun woyy bangun!". Allena terus mengguncang tubuh Aziel hingga cowok itu mulai terbangun dari tidurnya.


"Nghhh". Gumam Aziel yang mulai membuka mata.


"Allen!". Desis Aziel dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Apa?". Sentak Allena, "Bangun! Dasar kebo! Susah banget dibanguninnya.


Aziel terlebih dulu meregangkan otot-ototnya, lalu perlahan mulai bangun dan duduk dengan tenang.


"Jam berapa Allen, udah malam ya?". Tanya Aziel dengan suara beratnya.


"Menurut lu?". Sentak Allena mengalihkan pandangannya.


Tak bisa dipungkiri bahwa Aziel dalam keadaan seperti baru bangun tidur pun masih terlihat tetap tampan. Bahkan kadar ketampanannya seperti bertambah saja. Membuat Allena sedikit harus mengontrol diri.


"Pulang sana! Udah malam juga. Betah banget disini". Ucap Allena sinis.


Aziel tak membalas. Cowok itu malah terlihat menyandarkan kepalanya di sofa masih mencoba mengumpulkan nyawa. Kemudian mengusap wajahnya mencoba menyadarkan diri.


Selang beberapa saat, merasa sudah enakan Aziel kembali memandangi Allena, "Udah jam berapa sekarang Allen?". Tanya Aziel kemudian.


"Nggak tau". Jawab Allena ketus, "Udah pulang sana ah! Udah dari siang lu disini, kaya nggak punya tempat tinggal aja.


"Emang nggak papa gua keluar sekarang?". Tanya Aziel dengan menaikan sebelah alisnya.


Allena seketika berdecak kesal, "Ck, makanya berdiri dulu. Cepetan!


"Iya iya sabar napa. Orang baru bangun tidur nih. Nyawa belum kekumpul semua". Aziel berdiri dari sofa.


"Siapa yang suruh lu tidur disini". Ucap Allena bersungut kesal, "Yaudah cepetan ayo! Ikut gua sekarang!". Kemudian menarik lengan Aziel kasar.


"Yaudah pelan-pelan Allen! Sama calon suami sendiri kok kasar banget.


Allena seketika menggeram kesal mendengar perkataan Aziel barusan.


"Berisik lu!". Gertak Allena dengan terus menarik Aziel hingga mereka berdua sampai keluar kamar.


"Sekarang lu ikutin gua dan jangan berisik! Pokonya jangan ampe lu bersuara. Awas aja lu ngeluarin suara, gua cekek leher lu ampe mampus". Ancam Allena mendelik tajam ke arah Aziel.


"Haah yaampun Allena kejam amat ama calon suami sendiri. Nggak boleh gitu dong Allen, sama calon sua...


"Akhh berisik banget sih lu, diam aja napa. Gua cekek beneran lu sekarang". Ucap Allena galak, "Sekarang lu ikutin gua aja, nggak usah banyak bacot". Allena kemudian kembali menarik lengan Aziel untuk ikut bersamanya.


Allena kemudian berjalan bersama Aziel menyusuri lorong kamar yang ada di lantai dua itu. Beberapa kamar disana memang kosong. Hanya ada dua kamar yang ditempati. Satu kamar Allena, dan satu lagi kamar yang ditempati kedua orang tua Allena. Satu lagi harusnya Renold. Tapi karena sekarang Renold sudah berada di Amerika, jadi kamar itu kosong tak ada yang menempatinya.


Mereka berdua terus berjalan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Sedang Aziel terus memperhatikan Allena yang terus menuntunnya sambil menggenggam lengannya. Seulas senyum terbit di bibir Aziel ketika menatap wajah cantik Allena.


Ketika mereka tiba di pertigaan di ujung lorong. Allena langsung belok ke kiri dengan masih menggandeng Aziel bersamanya.


Keduanya kemudian sampai di ujung yang dimana disana ada tangga untuk turun ke bawah. Keduanya kemudian menuruni tangga bersamaan, dan ternyata di bawah itu adalah sebuah ruangan sebagai tempat penyimpanan barang-barang atau perkakas gitu.

__ADS_1


Di sudut sana ada sebuah pintu. Allena kemudian berjalan duluan, "Ikut gua, nggak usah banyak bengong". Tegur Allena ke arah Aziel, menyadarkan cowok itu yang sedari tadi terdiam memandangi ruangan itu.


Aziel menoleh ke arah Allena yang berjalan, kemudian bergegas menyusul gadis itu.


Allena lalu membuka pintu itu, dan tampaklah area taman yang luas di hadapan mereka berdua. Memang saat ini mereka berdua sudah berada di belakang mansion.


"Ikut gua". Allena kemudian berjalan terlebih dahulu dan Aziel mengikutinya.


Allena membawa Aziel menuju pintu belakang taman tersebut yang memang tidak ada penjagaan disana.


"Yaudah pulang sono! Udah nggak ada urusan lagi kan?". Usir Allena pada Aziel kemudian.


"Yaelah Len, pengen banget gua balik sekarang kayanya". Cicit Aziel dengan nada yang dibuat se sad mungkin.


"Terus lu mau ngapain lagi? Gua juga nggak minta lu datang kesini kan? Nyusahin tau nggak". Ucap Allena melotot galak.


"Yaudah yaudah gua balik nih". Aziel mulai melangkahkan kakinya keluar dari pintu taman tersebut.


"Nggak ada niatan lu nganter gua ampe kedepan aja gitu?". Ucap Aziel berbalik ke arah Allena.


"Nggak usah, sampai disini aja". Allena ikut keluar dari pintu taman dan berdiri disana.


"Yaelah tanggung amat Len. Cuman sampai ke depan doang juga.


"Lu mau balik sekarang apa gua masuk duluan nih?". Ancam Allena, "Yaudah gua masuk duluan". Kemudian mulai berbalik ingin meninggalkan Aziel.


"Eh iya iya, tunggu bentar dong". Ucap Aziel yang langsung mencegat Allena dengan menarik lengan cewek itu.


"Yaudah balik sono!". Usir Allena.


"Tunggu dulu, masih ada yang pengen gua omongin ama lu.


"Apa lagi aelah, nggak selesai-selesai dari tadi". Ucap Allena mencebik kesal.


"Gua mau bilang...


"Apa? Cepetan!


"Gua...


Aziel menggantungkan ucapannya sambil memandangi Allena.


"Apa Aziel, lama banget sih cuman mau ngommphhh...


Tanpa basa-basi Aziel sudah menarik Allena ke arahnya dan langsung mencium bibir Allena memberikan beberapa luma*tan di bibir ranum cewek itu. Kemudian melepaskannya dan segera menjauh sebelum mendapat amukan dari Allena.


"Sorry Len, nggak nahan dari tadi". Seru Aziel dengan rasa tak bersalahnya. "Oh iya, gua cuman mau kasih tau ke lu yang tadi siang itu gua cuman bercanda doang tentang mau ngapa-ngapain lu. Soalnya gua kesel lu bilang nggak mau berhubungan lagi ama gua". Seru Aziel lagi kemudian kembali melanjutkan larinya dan segera menghilang dari sana.


Sementara Allena hanya memandangi Aziel yang mulai hilang di kegelapan.


'Tapi sorry, gua harus bener-bener jauhin lu Aziel.



...******...


Pukul 06.55 pagi, Allena sudah berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya.


Dari semalam Allena tak melihat Louis. Dan pagi ini juga dia tak melihat cowok itu, padahal mereka berdua tinggal seatap. Biasanya mereka berdua akan bertemu di meja makan untuk sarapan pagi atau tidak bertemu di parkiran meskipun tak satu kendaraan bersama.


Tapi Allena tak mempedulikan itu dan tetap melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. Kelas 11 IPA 1.


Saat menaiki tangga, tiba-tiba banyak murid-murid yang berlarian juga menaiki tangga melewati Allena. Murid-murid itu juga ada yang berasal dari kelas lain yang berada di lantai bawah.


Allena mengerutkan alisnya melihat para murid-murid yang berlarian ke lantai dua. Dengan segera Allena menaiki tangga ingin mengetahui juga apa sedang yang terjadi.


Allena berhenti dan netra matanya menangkap satu kelas di sebrang sana yang tengah dikerumuni murid-murid yang berlarian tadi.


Seketika Allena membulatkan matanya dan segera berlari menuju kelas yang dikerumuni itu.


Setibanya Allena di depan kelas itu, Allena langsung menerobos masuk ke dalam kerumunan murid-murid itu.


Di sana lebih tepatnya kelas 12 IPA 1, terlihat Louis tersungkur ke bawah lantai bersandar di tembok papan tulis, dengan wajah lebam.


Sementara di hadapan Louis, berdiri Aziel dengan mengepalkan tangan kirinya. Pria itu terlihat tidak apa-apa ataupun ada lebam seperti Louis. Hanya saja seragam yang dikenakan Aziel sudah krasak-krusuk dan dua kancing seragam atasnya terlepas.


Aziel kemudian terlihat menghampiri Louis dan langsung mencengkram kerah seragam yang dikenakan Louis. Sepertinya Aziel akan memberikan Louis bogem mentah lagi.


Melihat hal itu, Allena dengan cepat berlari menghampiri kedua pria yang ternyata habis beradu jotos itu.


"BERHENTI KALIAN!". Teriak Allena.


Dan segera Allena menahan Aziel yang ingin memukul Louis, membuat Aziel menghentikan aksinya dan langsung menoleh ke arah Allena.


"Lepasin Louis!". Gertak Allena ke arah Aziel.


Aziel melirik tajam Louis dan langsung melepaskan cengkramannya di kerah baju Louis.


Sementara semua murid-murid yang ada disana hanya bisa menjadi penonton tak ada yang berani ikut melerai.


Allena menoleh ke arah Louis dan mulai mendekat ingin menolong pria itu. Namun tarikan tangan dari seseorang berhasil menghentikannya.


"Mau ngapain lu?". Ucap Aziel mendelik tajam pada Allena.


"Lepasin!". Dengan sekali sentakan, lengan Allena berhasil terlepas dari genggaman Aziel.


Allena kemudian mendekati Louis, membantu pria itu berdiri.

__ADS_1


"Lu nggak kenapa-napa?". Tanya Allena pada Louis.


Namun tiba-tiba Louis menepis tangan Allena yang membantunya.


Sementara Aziel kembali menarik lengan Allena hingga cewek itu menubruk dadanya.


"Lu ngapain gua tanya?". Desis Aziel penuh penekanan. Bahkan Aziel sudah mengeratkan genggamannya dan semakin menatap tajam Allena.


"Sakit tangan gua. Lepasin! Lu nggak lihat gua mau nolongin Louis?". Sahut Allena berusaha melepas genggaman Aziel, namun tak bisa. Pria itu malah semakin mencengkram keras lengannya.


"Ngapain lu bantuin dia?". Sentak Aziel melirik tajam Louis lalu kembali menatap Allena.


"Emang nggak boleh? Louis itu kan tunang...


"ADA APA INI?". Tiba-tiba Pak Hamzah datang memandangi mereka semua. Di samping Pak Hamzah ada Regina, dan langsung berlari mendekati Aziel, melepas genggaman Aziel di lengan Allena.


"Aziel lo nggak kenapa-napakan? Lo nggak ada yang luka kan? Apa yang sakit? Kasih tau gue!". Cicit Regina memeriksa keadaan Aziel.


Sedang Aziel membiarkan Regina menyentuhnya, namun matanya tak lepas menatap tajam Allena yang terlihat membantu Louis.


"Kalian bertengkar?". Tanya Pak Hamzah seketika sambil memandang Aziel dan Louis bergantian.


"KE RUANGAN KEPALA SEKOLAH SEKARANG! DAN KAMU ALLENA JUGA IKUT!!


...******...


Dan saat ini ketiga orang itu sudah berada di ruangan Kepala Sekolah.


Sedari tadi Kepala Sekolah memberitahu dan menasihati Aziel dan Louis yang sudah duduk di kursi di hadapannya.


Sementara Allena juga duduk di kursi ujung samping Louis, menunggu sesuatu hal yang ingin disampaikan Kepala Sekolah untuknya.


"Kalian berdua ini selalu saja bertengkar". Ucap Kepala Sekolah yang ditujukan untuk Aziel dan Louis.


"Sekarang kalian berdua saling bermaafan satu sama lain!". Perintah Kepala Sekolah kemudian.


Aziel seketika menatap Kepala Sekolah bengis.


"Saya?". Aziel menunjuk dirinya sendiri, "Minta maaf sama dia Pak?". Kemudian menunjuk Louis disampingnya, "Nggak mau saya Pak". Sambungnya sinis.


"Saya juga mana mau minta maaf sama dia Pak. Saya nggak sudi". Sahut Louis tak kalah sinisnya. Wajahnya sudah dipenuhi dengan lebam karena tonjokan yang diberi Aziel tadi.


"Kalian berdua ini keras kepala sekali!". Ucap Kepala Sekolah menggeleng frustasi melihat tingkah dua murid yang ada di hadapannya saat ini.


"Kalau begitu jika kalian tidak mau minta maaf, Bapak akan berikan hukuman untuk kalian berdua". Sambung Kepala Sekolah.


"Saya lebih baik di kasih hukuman Pak, dari pada disuruh minta maaf sama orang kaya dia". Ucap Aziel menyela.


"Saya juga Pak. Saya juga lebih baik dikasih hukuman dari pada harus minta maaf sama dia". Timpal Louis.


Kepala Sekolah semakin pusing melihat kedua murid itu. Beliau pun berkata, "Yasudah kalau begitu sekarang kalian bersihkan toilet siswa yang ada di sekolah ini.


BRAKK


Aziel seketika menggebrak meja Kepala Sekolah dengan keras, membuat yang ada di sana langsung kaget karena ulah Aziel barusan.


Aziel kemudian berbalik mulai melangkahkan kakinya. Sekilas pandangannya bertabrakan dengan Allena, sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan itu.


Sedang Louis juga mulai keluar dari ruangan Kepala Sekolah untuk mengerjakan hukuman yang diberikan Kepala Sekolah.


"Allena kamu tau kenapa Bapak panggil kamu kesini?". Tanya Kepala Sekolah beralih ke arah Allena yang sedari tadi hanya diam di kursinya.


"Emang kenapa Pak? Saya nggak ikut berantem tadi". Ucap Allena dengan ekspresi datarnya.


Kepala Sekolah seketika menghembuskan nafas kasar. "Bukan itu yang ingin Bapak bicarakan sama kamu.


"Terus soal apa Pak?". Tanya Allena kemudian masih dengan nada datarnya.


"Allena kamu pasti taukan OSIS sekarang sudah tidak berjalan dengan baik. Bapak sering mendapatkan laporan dari guru-guru yang mengajar di kelas kamu dan juga anggota OSIS lainnya bahwa kamu sekarang sudah sangat sering suka bolos. Rapat kamu tak pernah jalani atau ikut. Padahal jabatan kamu disini adalah sebagai Ketua OSIS. Ada apa Allena? Kenapa kamu seperti itu? Jika kamu ada masalah tolong beri tahu Bapak. Kalau kamu begini terus, Bapak bisa saja member...


"SAYA BERHENTI!". Sentak Allena tiba-tiba. Membuka tanda kartu keanggotaan OSIS yang dikalungi di lehernya.


"Saya berhenti menjadi Ketua OSIS dan keluar dari OSIS!". Ucap Allena lagi dengan menarik tanda jabatan OSIS di almamaternya lalu meletakan kedua barang itu diatas meja di hadapan Kepala Sekolah.


Kepala Sekolah memandangi dua barang itu, kemudian kembali beralih memandangi Allena.


"Apa kamu serius ingin keluar dan melepas jabatan kamu sebagai Ketua OSIS Allena? Bapak sebenarnya masih bisa mempertimbangkannya kalau kamu mau". Ucap Kepala Sekolah memberi keringanan.


"Tidak. Tidak usah Pak. Saya emang nggak mau jadi anggota OSIS apa lagi Ketua. Sejak awal saya tak berniat untuk masuk dalam organisasi sekolah". Jelas Allena.


"Lalu mengapa kamu ikut mengajukan diri sebagai anggota OSIS jika dari awal kamu tak ada niatan untuk itu Allena?". Tanya Kepala Sekolah merasa bingung dengan apa yang dikatakan Allena.


"Bukan urusan Bapak". Sahut Allena datar, "Yang penting sekarang Bapak tau saya sudah berhenti dari menjadi anggota OSIS dan melepas jabatan saya sebagai Ketua OSIS". Sambungnya menatap dingin Kepala Sekolah.


Kepola Sekolah pun hanya bisa diam mendengar keputusan bulat Allena. Bagaimana pun Kepala Sekolah cukup takut jika berurusan dengan Allena yang memang berasal dari keluarga terpandang. Apalagi keluarga Albern merupakan salah satu yang menjadi distributor terbesar bagi SMA Negeri Nasional.


Kepala Sekolah tidak ingin mengambil resiko jika sampai menyinggung Allena yang memang merupakan anak dari seorang yang berpengaruh dalam dunia kerja. Setidaknya Allena sendiri yang meminta berhenti dan melepas jabatannya sendiri dalam keanggotaan OSIS di sekolah bergengsi itu.


"Yasudah kalau memang begitu keinginan kamu Allena. Bapak juga tidak akan memaksakan kamu jika kamu maunya seperti itu. Tapi lain kali kamu jangan begitu lagi, agar Bapak tidak ikutan pusing memakirkan bagaimana cara mengatasinya. Kalau sudah seperti ini, bagaimana nantinya?". Ucap Kepala Sekolah merasa pusing dengan semua apa yang terjadi.


Memang selama Allena sering bolos, OSIS menjadi sedikit terbengkalai dan jalannya struktur sekolah menjadi terkendala.


Untung saja Alvian masih bisa mengatasinya dibantu dengan anggota OSIS yang lainnya. Sebagai Wakil Ketua OSIS, Alvian memang harus gercep jika terjadi masalah seperti ini. Memang Alvian ini juga terkenal sebagai salah satu murid tercerdas di SMAN Nasional.


"BUKAN URUSAN SAYA!


Setelah berbicara seperti Allena langsung berbalik dan pergi dari ruangan Kepala Sekolah itu.

__ADS_1



__ADS_2