Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 55 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Hari ini rencananya Allena akan diajak oleh ke-6 temannya untuk berjalan-jalan sepulang sekolah nanti. Sekaligus menyambut kedatangan gadis itu yang sudah kembali.


Mereka sangat senang setelah mengetahui bahwa Allena baik-baik saja dan kembali bersekolah bersama mereka lagi.


Saat ini mereka tengah masih berada didepan kelas, berbincang-bincang. Allena yang posisinya memang berdiri dihadapan kelas dipaksa oleh Manaf untuk menceritakan semua pengalamannya selama gadis itu di Amerika.


Mereka sangat ingin mengetahui mengapa gadis itu bisa tidak ada kabar selama satu bulan lebih bahkan tak bisa dihubungi.


"Ohh.. Jadi gitu ya Len. Pantas aja sih lo sibuk. Soalnyakan kalau bukan lo siapa lagi yang bakalan nerusin bisnis usaha orang tua lo". Ucap Manaf manggut-manggut mendengar cerita Allena.


"Iya bener tuh. Salut sih gue ama lo. Tapi emang lo nggak cape apa, lo kan sekolahnya disini. Pasti capek dong pulang pergi Indo-Amrik". Kali ini Gamma yang ikut berbicara.


"Nggak. Mungkin gua bakal bantu jalanin usaha yang ada disini". Jawab Allena menatap Gamma dan Manaf bergantian.


"Hah? Yang bener lo Len? Bisa colleb dong kita". Timpal Zee antusias memandang Allena.


"Emang lo ada usaha apa coba gue tanya?". Tanya Tessa tak percaya.


"Yee ada dong. Lo kira gue nggak ada ngapa-ngapain cuman sekolah doang? Gue tuh buka usaha bisnis kuliner asal lo tahu aja". Ucap Zee dengan sombong.


"Dih songong. Nggak percaya gue ama lo". Cibir Tessa.


"Yaudah kalau lo nggak percaya, pulang sekolah nanti kita ke restoran gue. Gue bakal tunjukin yang kalau gue itu nggak bohong". Tantang Zee.


"Yaudah kalau gitu. Awas lo bohong ya, gue pites pala lo". Ucap Tessa.


"Orang gue nggak bohong kok. Lihat aja nanti". Balas Zee percaya diri.


Mereka kemudian lanjut mengobrol. Tak henti-hentinya mereka bertanya pada Allena. Tiba-tiba dari arah lain...


"ALLENA!!". Teriak seorang pria yang memanggil nama Allena tak jauh dari tempat gadis itu berdiri.


Allena yang merasa dipanggil seketika menoleh kearah pria tersebut yang saat ini tengah berlari kencang menghampirinya.


Allena sontak membulatkan matanya kaget ketika pria itu berlari kearahnya dan sudah memeluknya dengan sangat erat. Allena bahkan sampai termundur tiga langkah akibat pria itu yang memeluknya.


"Allena, kemana aja lo selama ini? Gue kangen banget sama lo". Cicit pria itu dengan suara beratnya disela-sela pelukannya pada Allena.


Allena yang mendengar itu hanya diam tak bergeming. Gadis itu masih blank dengan apa yang dialaminya.


Murid-murid yang berlalu lalang disana dan lewat seketika histeris melihat kejadian itu. Mereka kaget dengan apa yang mereka lihat saat ini dihadapan mereka. Bak drama-drama korea mereka segera mengabadikan kejadian itu diponsel mereka. Murid-murid disana seketika heboh sendiri.


Bahkan ke-6 teman Allena yang melihat itu seketika menganga melihat adegan pelukan mesra itu jelas didepan mereka saat ini.


Manaf dan Gamma tanpa sadar posisi mereka saling berpelukan satu sama lain dengan mata membulat dan mulut menganga. Diikuti oleh Alvian yang ikut berpelukan dengan sambil menggigit ketiga jarinya melihat adegan itu.


Sementara ketiga gadis itu Airin, Zee dan Tessa hanya memandang tak percaya dengan apa yang kini mereka lihat. Tampak ekspresi Zee memandang mereka dengan wajah berbinar.


Semua yang ada disana seketika fokus dengan apa yang mereka lihat saat ini.


"Kyaa.. Kak Brayen sama Allena sosweet banget sih yaampun.


"Omo omo.. bisa gila gue lihat kemesraan ini.


"Jiwa jombloku meronta-ronta. Tolong siapapun gue nggak sanggup.


"Kak Brayen sama Allena kok cocok ya. Pacaran aja udah.


Begitulah ucapan-ucapan para murid yang melihat adegan pelukan antara Allena dan Brayen. Semua siswi yang ada disana berjingkrak-jingkrak heboh melihatnya.


Benar saja Brayen yang ketika mendapat kabar dari Alvian segera berlari keluar dari kelasnya ketika mengetahui Allena sudah kembali. Dan tanpa sadar pria itu langsung memeluk Allena ketika melihat gadis yang dirindukannya itu. Sehingga membuat heboh satu sekolah seperti sekarang ini.


"Ada apa ini?". Seru seorang pria dengan suara baritonnya memecah kehebohan.


Sontak Brayen yang mendengar itu seketika tersadar dan langsung melepaskan pelukannya pada Allena kemudian berbalik kebelakang. Terlihat Aziel dengan tampang datarnya menghampiri mereka dengan Setya yang berada disamping lelaki itu.


Seketika saja keadaan yang awalnya sangat heboh menjadi hening dan tegang karena kedatangan Aziel. Apalagi tatapan dingin laki-laki itu membuat murid-murid yang ada disana bergidik ngeri.

__ADS_1


Aziel mengarahkan pandangannya pada Allena yang juga kini menatapnya datar tanpa ekspresi.


"Oh Aziel. Ada apa?". Tanya Brayen seketika.


"Apa yang lu lakuin disini?". Tanya balik Aziel sambil menatap datar Brayen.


"Oh itu. Ini gue cuman samperin Allena doang. Kenapa?". Jawab Brayen santai.


Murid-murid yang ada disana seketika menonton percakapan dua orang anggota OSIS itu. Akan tetapi serasa ada hal lain dari pandangan yang dipancarkan oleh Aziel. Murid-murid disana dapat merasakan itu.


Aziel melirik Allena kemudian beralih memandang Brayen dengan ekspresi aneh.


"Samperin cewek ini sampai buat heboh satu sekolah dengan hal yang nggak penting". Tegur Aziel memandang datar Brayen.


"Hehe.. Sorry sory El. Gue reflek tadi nggak sengaja". Cengir Brayen sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Aziel yang mendengar itu seketika menghebuskan nafasnya.


"Ingat, lu itu anggota OSIS. Jadi berbuat hal yang hanya sewajarnya saja. Lu pahamkan maksud gua?". Ucap Aziel. Sedetik kemudian Ketua OSIS itu melangkahkan kakinya dan pergi dari sana.


Setelah itu hawa yang awalnya hening dan meneganggkan seketika normal kembali setelah Aziel pergi. Murid-murid yang ada disana juga sudah mulai membubarkan diri.


Alexa juga yang sedari awal melihat kejadian itu segera melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah tempat Allena dan yang lainnya diikuti Hera dan Chika.


"Kirain juga apa yang ngebuat heboh satu sekolah. Eh ternyata cuman karena cewe sok kecantikan ini". Cibir Alexa yang ditujukannya pada Allena.


"Huh Allena.. ngapain lo balik ke sekolah ini lagi? Lo pikir sekolah ini punya Nenek Moyang lo apa main datang dan pergi gitu aja seenak jidat lo". Sambung Alexa sinis.


"Oyy Mak Lampir. Ngapain lo yang banyak komplein. Suka-suka Allena dong mau datang apa nggak ke sekolah. Lagian Allena juga bayarkan buat sekolah disini, nggak minta bayar sama lo". Bukan Allena yang menjawab melainkan Zee dengan tatapan sinisnya.


"Cewe bar-bar lo nggak usah ikut campur. Lagipula, apa yang diomongin Alexa tuh bener. Temen lo itu terlalu suka-suka datang ke sekolah ini". Balas Hera.


"Yee cewe kecentilan ngapain lo ikut campur. Banyak omong lo. Udah sini ribut aja kita". Tantang Zee.


"Yaudah sini siapa takut. Lo kira gue bakalan takut sama modelan cewe bar-bar kaya lo". Jawab Hera lantang.


"Ayang Zee jangan. Kenapa malah ribut?". Ucap Alvian berusaha menahan Zee yang ingin menghampiri Hera.


Hera yang juga ingin maju segera ditahan oleh Chika dengan sekuat tenaga. Melihat Chika yang agak kesusahan Gamma dengan sigap membantu Chika.


"Udah woy Hera. Ngapa malah pada ribut sih yaelah". Cicit Chika menahan tubuh Hera.


Brayen yang melihat itu seketika stres melihat para wanita itu yang betengkar. Sebagai anggota OSIS dia harus melerai pertengkaran itu.


"Berhenti kalian semua". Tegur Brayen dengan suara keras.


Mereka yang mendengar suara Brayen seketika berhenti dan menoleh kearah Brayen.


"Hadehh.. Kenapa kalian malah pada ribut? Kalian mau semua gue bawa ke ruang OSIS biar dihukum?". Ucap Brayen sambil memperhatikan mereka semua secara bergantian.


"Alexa mending lo bawa temen lo itu biar nggak cekcok". Ucap Brayen beralih kearah Alexa yang hanya diam melihat pertengkaran itu.


"Dih sok lo cowo mesum. Mentang-mentang anggota OSIS. Urusin tuh cewe lo yang sok kecantikan itu". Cibir Alexa pada Brayen kemudian beralih menatap sinis Allena.


"Ayo guyss kita pergi dari sini. Nggak penting kita berurusan sama orang-orang kaya mereka ini". Sinis Alexa kemudian berjalan sambil menyenggol bahu Allena dengan sengaja dan pergi dari sana.


Kedua teman Alexa yang mendengar itu seketika mengikuti Alexa dan ikut pergi dari sana.


"Pergi lo sana. Dasar Mak Lampir". Teriak Zee yang seketika mendapat tatapan tajam dari Hera yang masih terus saja berjalan dengan Chika yang menyeretnya.


"Udah Zee tenang". Ucap Airin kali ini.


Setelah dirasa semua tenang Brayen kemudian berbalik kearah Allena yang masih ditempatnya dan menatap gadis itu. Sementara Allena hanya menatap datar Brayen.


"Duhh gimana ya jelasinnya". Gumam Brayen seakan takut akan tatapan Allena pada dirinya saat ini.


"Allena soal tadi gue minta maaf. Gue bener-bener nggak sengaja. Sorry..!!". Ucap Brayen sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah lalu membentuk huruf V.

__ADS_1


Allena yang mendengar itu hanya menghembuskan nafasnya. Dia kemudian menatap Brayen.


"Hmm". Gumam Allena kemudian berjalan meninggalkan Brayen.


Brayen yang mendapat reaksi seperti itu pada Allena seketika menghembuskan nafas gusar. Brayen benar-benar merutuki dirinya sendiri yang sudah bertingkah bodoh.


"Kak Brayen semangat". Seru Zee tiba-tiba.


Brayen yang mendengar itu hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kalau gitu kita duluan ya Kak". Timpal Tessa.


"Iya". Jawab Brayen dengan senyuman.


Mereka semua kemudian meninggalkan Brayen untuk menyusul Allena.


Sementara Brayen, pria itu segera meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ruang OSIS.


Dilain tempat lebih tepatnya ruang OSIS. Aziel saat ini tengah duduk dikursinya sambil memikirkan kejadian tadi. Tangannya tiba-tiba mengepal kuat bolpoin yang digenggamnya. Mengingat kejadian dimana Brayen memeluk Allena seketika membuat dirinya ingin marah.


Setya yang melihat itu hanya tersenyum menahan tawanya. Setya tahu persis bahwa sepupunya itu sedang menahan amarah. Setya tak habis pikir dengan Aziel yang begitu gengsinya terhadap perasaannya pada Allena.


"Ayolah El gue tau lo lagi marahkan. Udah lo ngaku aja kalau lo itu emang ada rasa sama si cewek datar itu". Seru Setya seraya berjalan kearah Aziel.


Aziel yang mendengar perkataan Setya seketika memandang sepupunya itu.


"Nggak ada. Gua nggak ada perasaan apapun sama cewek itu". Jawab Aziel datar.


Setya yang mendengar jawaban dari Aziel hanya menggelengkan kepalanya. Benar-benar sangat susah membuat Aziel sadar akan perasaannya pada Allena.


"Terserah lo El. Cape gue ngomong ama lo. Ngomong ama lo itu sama kaya ngomong sama batu. Sama-sama keras tau nggak. Tapi nggak tau sih kalau batunya yang keras apa lembek". Ucap Setya dengan nada mengejek.


Aziel yang mendengar itu seketika memandang tajam Setya. Melihat tatapan Aziel padanya, Setya hanya terkekeh.


Tidak berapa lama Brayen datang dan masuk ke ruang OSIS tersebut. Menyadari kedatangan Brayen, seketika Aziel kembali mengingat kejadian tadi dan langsung memberikan tatapan tajam pada Brayen.


"Kenapa El?". Tanya Brayen yang merasa tatapan Aziel seperti tak biasa pada dirinya.


"Ngeliatin gue gitu amat". Sambung Brayen lagi.


"Nggak ada. Anak-anak yang lain mana?". Tanya Aziel kembali datar.


"Sebentar lagi datang kayaknya. Tunggu aja". Ucap Brayen dibalas anggukan oleh Aziel.


Beberapa saat kemudian muncul para anggota OSIS yang lainnya. Disana juga ada Regina yang menjabat sebagai Bendahara OSIS.


Regina yang melihat Aziel seketika tersenyum. Dia cukup senang karena beberapa bulan ini dia akan sangat dekat dengan Aziel. Mengingat gadis itu sangat suka terhadap seorang Aziel(PART 5).


"Baik. Silahkan kalian semua duduk agar kita bisa memulai rapat kita hari ini". Ucap Aziel lantang.


Seperti biasa, Aziel akan selalu serius dalam kegiatan seperti ini. Siapa saja yang melihatnya akan menatap kagum Aziel yang sangat hebat dalam memimpin rapat. Maka dari itu tak salah jika mereka memilih Aziel dalam menjabat sebagai Ketua OSIS.


Rapat hari itu membahas tentang pensi yang akan diadakan setelah ujian sekolah nanti. Dan akan diadakannya juga beberapa lomba cabang olahraga lainnya.


"Saya ingin meminta bantuan Bendahara OSIS untuk membantu saya mencari donatur yang mau membantu kita dalam acara yang akan kita buat ini". Ucap Aziel.


"Setelah Setya membuat proposal acara yang akan kita buat, saya harap selaku Bendahara OSIS segera melapor dan membantu saya. Karena kita pasti membutuhkan waktu yang cukup lama maka dari itu lebih baik kita memulainya dari sekarang". Sambung Aziel lagi.


"Apa kalian setuju?". Tanya Aziel pada mereka semua yang ada disana.


Para anggota OSIS lainnya yang ada disana kemudian saling melirik satu sama lain, mereka semua kemudian mengangguk.


"Setuju sih kalau gue El. Biar nggak mepet waktunya. Jadi kalau udah mau dekat hari H kita nggak susah-susah lagi cari donatur buat acara kita". Seru salah satu anggota OSIS.


"Gue juga setuju. Kalau bisa sih gue ikut bantu. Bisakan Pak Ketua?". Ucap salah satu anggota OSIS yang lain lagi.


Yang lain pun setuju. Aziel yang melihat antuasiasisme anggotanya seketika menaikan sedikit sudut bibirnya. Dia senang karena rapat yang sudah dia susun dengan rapi berjalan dengan lancar bahkan diluar ekspetasinya. Para anggotanya sangat ikut mendukung.

__ADS_1


__ADS_2