Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 101 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Malam hari terlihat Allena sedang belajar dalam kamarnya.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


"Siapa?". Teriak Allena dari meja belajarnya.


Pintu terbuka dan nampak kepala Louis muncul dari balik pintu, "Gue boleh masuk nggak?". Seru Louis.


"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena.


Merasa diizinkan Louis segera masuk kedalam dan menghampiri Allena.


"Ohh lagi belajar ternyata". Ucap Louis basa-basi.


"Ngapain kesini?". Ucap Allena tanpa mengalihkan pandangannya kearah Louis dan masih fokus pada laptopnya. Nadanya terkesan sedikit ketus dipendengaran Louis.


"Tadinya sih gue mau ngajak lo makan di cafe yang lagi ramai itu. Sekalian sebagai permintaan maaf gue ke lo. Tapi gue lihat kayanya lo lagi sibuk, lain kali aja deh kalau gitu". Jelas Louis.


Allena seketika berhenti menekan keyboard laptopnya lalu menoleh kearah Louis.


"Lu ngajak gua makan?". Tanya Allena dengan menaikan kedua alisnya.


Louis bergumam dan mengangguk.


"Yaudah kalau gitu kita pergi sekarang". Allena beranjak dari kursinya dan bergegas mengambil hodiee miliknya dari dalam lemari lalu memakainya dan juga tas punggungnya.


"Yaudah ayo!! Ngapain malah diem.


Louis yang melihat Allena hanya geleng-geleng kepala. Soal makanan aja cepat banget tuh bocah.


Dengan segera Allena dan Louis keluar kamar dan turun kebawah.


"Bi... Bibi.. Bi...". Allena berteriak memanggil Bi Ratih pembantu rumah itu.


"Iya Non sebentar". Terlihat Bi Ratih berjalan cepat menghampiri Allena.


Iya Non ada apa?". Tanya Bi Ratih kemudian.


"Saya sama Louis mau keluar sebentar. Rumah jangan dikunci ya Bi". Ucap Allena tanpa menghentikan langkahnya.


"Iya Non". Jawab Bi Ratih.


"Saya sama Allena keluar dulu Bi, jagain rumah". Timpal Louis.


"Iya Den, hati-hati ya!!


Allena dan Louis kemudian keluar dari dalam rumah menuju parkiran.


"Saya sama Louis keluar bentar Pak. Jangan dikunci gerbangnya". Allena berbicara kepada penjaga rumah yang ada disana.


"Siap Neng!!". Ucap Penjaga itu seraya memberi hormat.


Kedua orang itu kemudian keluar dari pekarangan rumah dengan satu mobil.


Sekitar 20 menit mereka kini telah sampai disalah satu cafe yang lagi ngehits saat ini. Terlihat banyak sekali pengunjung disana yang notabennya para anak-anak muda.


Allena dan Louis kemudian masuk kedalam cafe lalu mengambil tempat disebelah dekat pintu berdinding kaca yang langsung tembus dari luar.


Mereka kemudian memesan makanan terlebih dahulu dan mulai makan setelah pesanan mereka datang.


"Maaf Len soal tadi". Ucap Louis seketika disela-sela dia menyantap makanannya.


"Nggak usah bahas. Makan aja". Jawab Allena. Gadis itu masih terus menyantap makanannya. Dia tidak ingin diganggu.


Tidak berselang lama muncul Tessa dan Gamma yang menghampiri mereka.


"Allena.. besti tersayang, lo disini juga". Seru Tessa.


"Oh hai! Kalian dari kapan disini?".


"Baru aja kita sampai. Iyakan Gamma?". Tessa menoleh kearah Gamma dengan ekspresi anehnya.


"O-o-oh i-i-iya iya.. kita baru aja sampai kok. Kalian berdua udah dari tadi disini". Timpal Gamma yang tiba-tiba gugup.


"Lo berdua kenapa? Kok kaya gugup gitu?". Louis merasakan kegugupan yang terjadi pada kedua orang itu.


"H-hah ng-ng-nggak kok nggak kita nggak kenapa-napa. Perasaan lo aja kali". Jawab Tessa yang makin terlihat gugup.


Tessa dan Gamma terlihat semakin sangat gugup. Kedua orang itu bahkan saling menyenggol satu sama lain dan berbicara sambil berbisik-bisik.


"Lo berdua kenapa sih? Aneh banget tau nggak". Ucap Louis lagi.


"Eh Cowok Nyebelin diem aja napa. Orang kita nggak kenapa-napa, lo itu kali yang aneh". Balas Tessa mencoba menetralkan rasa kegugupannya.


"Udah udah diem, berantem mulu lu pada". Tegur Allena seketika.


Gadis itu kemudian berdiri dari duduknya, "Gua keluar bentar". Allena mulai melangkah.


Namun saat itu juga Tessa menghadang Allena, "Eh eh lo mau kemana, jangan keluar disini aja ya Len, jangan kemana-mana". Ucap Tessa kemudian.

__ADS_1


"Gua mau keluar bentar, emang kenapa nggak boleh". Allena tetap ingin pergi dari sana.


"Eh eh jangan Len, jangan! Jangan ya. Syutt.. Gamma bantuin napa". Segera Gamma ikut menghadang Allena.


"Iya Len, jangan lo disini aja. Lo mau apa biar kita yang bantu ambilin, yang penting lo jangan kemana-mana tetap disini". Gamma ikut-ikutan menghadang Allena.


"Lu berdua kenapa sih dari tadi? Jangan ini jangan itu, orang gua cuman mau keluar bentar.


"Pokoknya Len, lo tetap disini jangan kemana-mana oke. Pokoknya jangan kemana-mana". Tessa terus melarang Allena.


"Iya, jangan kemana-mana ya Allena anak yang cantik anak yang baik, lo disini aja". Gamma juga tetap ikut berusaha menghadang Allena. Bisa gaswat nanti.


"Berisik lu pada. Minggir sana!". Dengan cepat Allena menerobos dan mulai melangkahkan kakinya.


Namun baru beberapa langkah gadis itu berhenti dan terpaku dengan pemandangan yang ada dihadapannya.


"Hai! Kalian disini juga?". Sapa seorang gadis kepada mereka semua. Disamping gadis itu ada Aziel yang digandengnya.


Gamma dan Tessa yang berusaha menahan Allena tadi seketika mengumpat dalam hati.


'Oh My Gosh', Umpat Tessa.


'Nahkan gue bilang juga apa', Umpat Gamma.


Seketika keadaan hening sebentar sebelum gadis tadi kembali bersuara.


"Hai Allena!". Sapa gadis itu lagi yang ternyata Regina. Gayanya sok manis sekali, sok akrab banget.


Gadis itu juga datang ke cafe bersama Aziel.


Aziel yang melihat Allena langsung melepaskan gandengan Regina dilengannya.


"Allena!". Desis Aziel yang tak menyangka akan bertemu dengan Allena seperti ini. Gadis itu pasti akan salah paham.


Allena tak berkutik sama sekali ditempatnya. Gadis itu hanya memberikan tatapan datar kearah Aziel dan juga Regina.


Allena lalu melirik Aziel sebentar. Tatapannya begitu mencekam terhadap Aziel, membuat pria itu seketika akhward sendiri.


"Louis kita pulang sekarang!!". Allena berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dan langsung berjalan melewati kedua yang orang baru datang itu.


Louis yang mendengar itu segera beranjak dan menyusul Allena. Ada sedikit tarikan disudut bibirnya saat dia melewati kedua orang itu.


Aziel yang melihat Allena pergi ingin menyusul gadis itu, "Allena, tunggu! Len, Allena!". Panggil Aziel dan mulai melangkahkan kakinya.


Namun Regina dengan sengaja mencegat Aziel, "El, lo mau kemana?". Ucap Regina dengan sok imutnya.


"Lepasin tangan gua! Gara-gara lu tau nggak". Aziel menepis tangan Regina dengan kasar dan dengan segera keluar dari cafe menyusul Allena. Gadis itu pasti sudah salah paham dengannya.


Itu maksud mereka. Kedua orang itu bermaksud menghadang Allena agar Allena tak melihat Aziel yang datang ke cafe itu bersama Regina.


"Len, tunggu!". Aziel dengan cepat berlari kearah parkiran Cafe. Disana Allena sudah akan masuk kedalam mobil.


"Len, tunggu Len". Aziel dengan segera mencegat Allena.


Gadis itu kemudian berbalik kearah Aziel dan hanya memandang datar pria itu.


"Gua mau ngomong bentar ama lu". Ucap Aziel seketika.


Regina yang tadinya ikut menyusul Aziel berjalan dibelakang pria itu, "Aziel!". Dan kini gadis itu sudah berada disamping Aziel.


Allena yang melihat Regina melirik kearah gadis itu sebentar, lalu kembali melirik Aziel. Tatapannya begitu dingin tak bersahabat.


"Nggak perlu". Ucap Allena seketika.


Gadis itu dengan cepat berbalik dan langsung masuk kedalam mobil.


"Jalan!". Ucap Allena pada Louis yang sudah berada dikursi kemudi.


"Len, tunggu! Gua mau ngomong dulu ama lu. Allena!". Aziel mengetuk-ngetuk kaca mobil sebelah Allena.


"Len, keluar dulu! Allena!". Aziel terus mengetuk kaca mobil agar Allena mau keluar.


Sementara mobil kini mulai berjalan meninggalkan area parkiran.


Aziel kemudian dengan segera berlari kearah motornya, "Minggir lu sana!". Aziel mendorong Regina yang mencoba ingin menghadangnya.


Dengan cepat Aziel menaiki motor sportnya dan mulai menyusul mobil Louis.


Regina yang melihat Aziel pergi hanya tersenyum devil. Setidaknya rencananya berhasil dan juga rencana .......


"Pak tutup pintu gerbangnya, jangan biarin siapapun masuk!". Ucap Allena saat mobil sudah masuk kedalam halaman rumahnya.


"Siap Non!". Dengan segera Penjaga menutup pintu gerbang lalu menguncinya.


Sementara Allena mulai masuk kedalam rumahnya dan langsung menuju ke kamarnya yang ada dilantai dua.


Aziel yang baru saja tiba segera turun dari motornya dan langsung menuju pintu gerbang rumah Allena yang sudah tertutup itu.


"Pak bukain gerbangnya! Saya mau ketemu sama Allena". Teriak Aziel sambil memukul-mukul pintu gerbang.

__ADS_1


"Pak!". Teriak Aziel lagi masih terus memukul pintu gerbang minta dibukakan.


Penjaga yang melihat Aziel mendekat, "Maaf Mas, saya tidak bisa bukain gerbangnya. Non Allena ngelarang saya biarin siapapun masuk". Ucap Penjaga itu.


"Bukainlah Pak saya mau ketemu sama Allena". Paksa Aziel.


"Maaf Mas, saya tidak bisa. Nanti saya yang kena marah". Ucap Penjaga sekali lagi.


"Cih". Decih Aziel kearah Penjaga yang tidak bisa membantunya.


"Allenaaaa...! Allena keluar, gua mau ngomong ama lu. Tolong biarin gua ngomong dulu". Teriak Aziel memanggil Allena. Dia tak peduli dengan suaranya yang mungkin bisa mengundang keributan, yang terpenting adalah dia harus bertemu dengan Allena.


"Allenaaa....!". Aziel terus saja berusaha memanggil Allena. Pria itu semakin memukul-mukul pintu gerbang dengan kuat. Lama-lama rusak juga tuh gerbang.


"Aduh Mas jangan digituin gerbangnya, nanti rusak saya juga yang kena masalah". Ucap Penjaga khawatir dengan Aziel. Tenaga pria itu terlalu kuat. Kalau rusak beneran gimana. Bahaya nanti urusannya.


"Saya nggak peduli. Pokonya saya cuman mau ketemu sama Allena. Bapak lebih baik bukain gerbangnya". Ucap Aziel memaksa.


"Woyy murid baru songong, bukain gerbangnya gua mau masuk!". Teriak Aziel saat melihat Louis yang berjalan kearah mereka.


"Mimpi! Mending lo balik sana! Allena itu nggak mau ketemu sama lo.


"Bukain nggak gerbangnya! Kalau lu nggak bukain gerbangnya, awas aja lu di sekolah besok". Ancam Aziel.


"Oh ya? Lo pikir gue takut sama lo". Ucap Louis meremehkan. Pria itu kemudian beralih ke Penjaga rumah, "Jangan bukain gerbangnya Pak! Biarin aja dia teriak kaya anji*ng menggonggong". Sambung Louis.


Pria itu kemudian berbalik pergi dari sana.


"Apa lu bilang? Woyy murid baru songong, awas lu ya. Abis lu ama gua. Bukain gerbangnya woyy". Teriak Aziel.


"Udah Mas berhenti, jangan teriak-teriak, jangan buat keributan disini! Lebih baik Masnya pergi sekarang juga sebelum saya panggilin orang-orang kompleks sini. Dari pada saya panggilin polisi". Ancam Penjaga itu.


"Cih, Bapak ini sama aja dengan orang sana, sama-sama songong. Dasar!!". Aziel memukul gerbang lalu berbalik menuju motornya.


"Sialan!". Umpat Aziel sambil memukul stang motornya.


Aziel kemudian mengambil ponselnya di saku jaketnya. Mencari nomor Allena disana lalu menelponnya.


Sementara Allena yang sedang berbaring tengkurap di ranjang kamarnya segera meraih ponselnya yang dia letakkan disamping.


Melihat siapa yang menelponnya gadis itu langsung menolak panggilan tersebut lalu meletakannya kembali tak peduli.


"Shi*t nggak diangkat lagi". Umpat Aziel. Pria itu kemudian kembali menelpon Allena lagi, "Ayo dong Allena angkat". Gumam Aziel sambil terus mencoba menelepon Allena.


Tapi Allena sedari tadi tak menerima panggilannya dan bahkan nomornya sudah tak aktif. Mungkin gadis itu telah mematikan ponselnya.


"Anji*ng lah!!". Umpat Aziel kesal. Pria itu kemudian memutuskan untuk pergi dari sana.


Dia berencana akan menemui Allena besok di sekolah dan akan berbicara dengannya.


...*****...


Pagi harinya terlihat Aziel sedang berjalan dengan cepat menuju kelas 11 IPA 2. Pria itu ingin menemui Allena saat itu juga.


"Allena mana?". Aziel bertanya kepada para sahabat-sahabat Allena yang ada didalam kelas itu.


"Allena belum datang Kak". Jawab Zee dari tempat duduknya.


Aziel kemudian berbalik ingin pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah Allena muncul dari balik pintu dan berjalan masuk kedalam kelas dengan tampang datarnya ketika melihat Aziel disana.


"Len, gua mau ngomong bentar ama lu". Ucap Aziel seketika sembari berjalan mendekat kearah Allena.


Allena tak menggubris, gadis itu tetap melanjutkan langkahnya melewati Aziel.


"Biarin gua ngomong bentar aja Len, tolong lu dengerin gua dulu". Aziel menyusul Allena ketempat duduknya.


Namun Allena tetap tak menggubris Aziel seperti tak menganggap pria itu ada disana.


"Len, ayolah! Jangan kaya gini. Gua nggak suka lu diemin gua kaya gini". Aziel terus mencoba membujuk Allena agar gadis itu mau bicara dengannya.


Seketika kelas menjadi hening karena kedua orang itu. Murid-murid yang ada di kelas itu hanya bisa melihat dengan perasaan yang ikut tegang.


Adrian dan Gerald yang awalnya tadi ribut-ribut sambil bernyanyi-nyanyi menggunakan sapu bak seperti sedang konser langsung terdiam ditempat mereka sambil memperhatikan Allena dan juga Aziel.


"Kalau gua salah gua minta maaf, jangan diemin gua kaya gini. Ngomong kesalahan gua apa, biar gua nggak ngulangin lagi. Gua minta maaf Len!". Ucap Aziel lagi.


Seketika Allena memukul meja dengan keras dan berdiri dari duduknya. Gadis itu kemudian menoleh kearah Aziel dengan tatapan dinginnya.


Yang ada disana langsung kaget akan Allena yang memukul meja. Begitupun Aziel. Sahabat-sahabatnya bahkan sampai kicep ditempat mereka. Apakah Allena akan marah? Bahaya sih kalau gitu.


Allena kemudian menggeser mejanya lalu berjalan melewati Aziel tak menggubris sama sekali pria itu.


Aziel tak membiarkan Allena pergi. Dengan segera Aziel berbalik menyusul Allena.


"Len, tunggu! Kita ngomong dulu". Aziel mencegat Allena dengan meraih lengan gadis itu.


"Jangan ikutin gua!". Sentak Allena seketika sembari menepis tangan Aziel dengan kasar.


"Lu jangan ikutin gua!!

__ADS_1



__ADS_2