Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 79 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Sore hari Allena dan ketiga sahabat wanitanya telah pulang ke rumah, dan saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga beristirahat sebentar.


"Gimana Rin, lo nggak ke rumah sakit dulu?". Tanya Zee pada Airin.


"Nggak dulu". Airin menggeleng, "Nyokap gue nyuruh temenin Allena dulu sampai UAS selesai. Selain itu biar gue fokus belajar dulu beberapa hari ini". Jawab Airin lagi.


"Kalau gitu gue ikutan belajar ya Rin. Ada yang mau gue tanyain soalnya tentang Matematika. Mana mapelnya besok lagi, gue nggak ngerti.


"Yaampun otak gue bener-bener ngeblank tau nggak sama mapel yang satu itu. Kayanya gue emang salah pilih ambil jurusan deh ini". Timpal Tessa sambil berbaring lesuh disofa.


"Itu mah lo nya aja kali yang gob*lok Sa. Sok-sokan bilang salah jurusan. Gob*lok mah gob*lok aja kali nggak usah banyak alesan". Cibir Zee.


Tessa langsung mengangkat kepalanya dan memandang tajam Zee, "Yee.. gue nggak gob*lok ya. Gua cuma... gue cuma...y-y-yaa gu-e cuma...". Tessa bingung melanjutkan kata-katanya.


"Cuma emang bodoh dari lahir". Sambung seseorang yang terdengar mendekat kearah mereka semua.


Keempat gadis itu langsung menoleh kesumber suara dan mendapati Louis yang berjalan mendekat.


"Gue nggak bodoh ya". Tessa tak terima dengan perkataan Louis yang mengatainya bodoh dari lahir.


"Terus apa kalau nggak bodoh". Louis berkata sambil menaikan alisnya keatas.


Tessa nampak bingung harus menjawab apa, "Y-y-yaa.. gu-gue.. gue..". Tessa terbata-bata, "Ya gue cuman nggak tau aja". Jawab Tessa cepat.


Louis mendengus lucu, "Heh.. Heh.. helehh..". Louis mendekat kearah Tessa, "Itu namanya sama aja bodok". Sambung Louis kemudian, sambil menyentil dahi Tessa.


Tessa memegang dahinya yang kena sentil, "Aww.. sakit cowo nyebelin. Kurang aja lo". Ringis Tessa memandang kesal Louis.


"Dih lebay". Cibir Louis. Pria itu kemudian menoleh kearah Allena yang sedang duduk disofa lain.


"Len, tadi Tante Tiara nelpon. Tapi lo belum pulang. Dari mana aja sih lo, kok baru pulang?". Tanya Louis kemudian.


"Hmm". Allena hanya bergumam. Gadis itu malas jika harus menjelaskan kepada Louis.


Sesaat kemudian gadis itu menatap serius kearah Louis.


"Kenapa Len?". Tanya Louis yang merasa aneh dengan tatapan Allena padanya. Terlalu serius. Serius serius yang menyeramkan🤣


"Lu ada ngomong tentang kejadian yang gua alamin?". Tanya Allena tanpa mengalihkan pandangannya.


Louis menggeleng, "Nggak. Tapi awalnya sih gue pengen kasih tau ke Tante Tiara". Ucapan Louis berhasil membuat dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Allena.


"Eh eh, tapi lo tenang aja Len. Gue nggak jadi kasih tau Tante Tiara ko. Jadi lo nggak usah khawatir, Hehe!!". Louis menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil cengir-cengir.


Pria itu tentu saja tau jika dia memberi tahu kepada kedua orang tua Allena tentang apa yang dialami Allena beberapa minggu yang lalu, dia pasti sudah dicerca habis-habisan sama Allena. Gadis itu memang sangat seram jika sudah marah. Louis yang pernah dimarahi saja jadi takut jika membuat gadis itu murka.


Allena yang mendengar pernyataan Louis kembali biasa seperti semula. Gadis itu terlihat menghembuskan nafasnya berat.


Sedetik kemudian Allena melangkahkan kakinya pergi dari sana menuju tangga.


Ketiga sahabat Allena yang melihat Allena pergi kemudian menyusul gadis itu.


"Tunggu Len". Seru Tessa.


Gadis itu kemudian melirik kaki Louis dan langsung menginjaknya dengan kuat membuat pria itu kaget dan merasakan sakit dikakinya. Tessa kemudian dengan cepat berlari dari sana meninggalkan Louis.


"Cewe stres!! Awas lo ya". Ringis Louis berteriak sambil memandang Tessa yang masih berlari menaiki tangga.


Setibanya diatas Tessa berhenti dan berbalik kearah Louis yang ada dibawah, "Rasain, macam-macam sih lo ama gue. Makan tuh kaki". Teriak Tessa dari atas mengejek Louis.


Tessa kemudian melanjutkan langkahnya dengan perasaan puas setelah menginjak kaki Louis.


...*****...


Malam harinya, terlihat keempat gadis itu sedang belajar dalam kamar.


Louis yang juga saat ini sedang berada dalam kamarnya yang ada dibawah terlihat tengah belajar juga untuk UAS besok.

__ADS_1


"Aaakkhh... Tolonglah, gue nggak ngerti astaga. Ini apa sih? gue benar-benar nggak ngerti sama sekali.


"Ini apa sih Airin? Kok susah gini ngerjainnya, otak gue buntu tau nggak". Ucap Tessa yang terlihat frustasi dengan soal yang diberikan oleh Airin.


Airin menoleh kearah Tessa yang ada disampingnya dan hanya menggelengkan kepalanya. Airin kemudian mendekati Tessa, "Gini ya Sa, lo tenang dulu sebelum lo kerjain soal-soal ini. Setelah lo tenang, lo fokus sama soal yang ada didepan lo. Perhatiin baik-baik soalnya.


"Setelah itu, lo lihat permintaan soalnya kaya gimana. Gini, ya gini. Gue kasih contoh soal yang ini". Airin menunjuk salah satu soal lalu mulai menjelaskannya kepada Tessa secara perlahan.


Sementara Allena terlihat tengkurap dilantai sambil membaca buku paket dengan serius. Alisnya saja bahkan sampai mengkrut-mengkrut saking seriusnya.


Saat sedang serius-seriusnya, Allena tiba-tiba dikagetkan dengan suara ponselnya yang berdering. Dengan segera Allena bangun lalu beranjak mengambil ponselnya diatas nakas samping ranjangnya.


Melihat siapa yang menelponnya sontak membuat Allena membulatkan matanya sambil terus memandangi layar ponselnya melihat nama yang tertera : Cowok Rese😂


Allena kemudian menerima panggilan tersebut sambil berjalan kembali kearah tempat dia belajar tadi.


"Apa?". Tanya Allena berbicara dengan orang dari sebrang sana yang ternyata adalah Aziel alias si Cowok Rese.


".........."


"Hah, ngapain? Gua lagi belajar". Ucap Allena lagi yang sontak membuat ketiga sahabat Allena mendekat kearah Allena karena mulai kepo dengan siapa Allena berbicara ditelepon.


".........."


"Umm yaudah matiin!! Lu telpon balik". Ucap Allena lagi. Gadis itu kemudian memutuskan panggilan.


"Siapa Len?". Tanya Zee tiba-tiba.


Allena kemudian menoleh kearah Zee lalu menunjukan layar ponselnya dihadapan Zee.


"Co-wo Re-se". Zee mengeja nama yang terpampang dilayar ponsel itu.


"Hah, cowo rese? Siapa tuh?". Zee memandang Allena dengan ekspresi kebingungan.


Tidak lama ponsel Allena kembali berdering lewat videocall via WhatsApp. Allena kemudian menerima panggilan tersebut.


"Apa?". Allena langsung membuka obrolan.


"Nggak, gua cuman pengen ngetes aja. Kali-kali lu salah kasi nomor ke gua".


"Dih.. nggak penting. Ganggu gua lagi belajar aja lu". Ucap Allena.


"Oh lagi belajar juga. Kirain lagi mikirin gua".


Ketiga sahabat yang mendengar itu langsung saja saling melirik satu sama lain.


"Dih, lu kenapa sih? Gua matiin ya kalau nggak ada yang penting. Ganggu aja lu". Ucap Allena yang terlihat kesal karena sudah diganggu waktu belajarnya.


"Jangan, gua masih...".


"El, bantuin gue dong. Pacaran mulu lo, satu sekolah juga. Masih bisa kali lo ketemu sama si cewek datar itu".


Seseorang tiba-tiba memotong pembicaraan Aziel yang ternyata itu adalah Setya yang sedang menginap di apartemen Aziel.


"Tunggu tunggu! itu Kak Setya? Mana-mana coba gue mau lihat". Zee langsung saja menarik ponsel Allena ditangannya dan memperhatikan layar ponsel itu.


"Kak El, disitu ada Kak Setya? Coba Kak El tunjukin". Pinta Zee.


Aziel kemudian dengan malas memberikan ponsel pada Setya. Ya iyalah, dia kan niatnya pengen ngomong sama Allena bukan Zee. Ganggu aja nih cewe bar-bar.


Akhirnya sesi telfon-telfonan itu berakhir dengan pemutusan sepihak oleh Allena. Bagaimana tidak, gadis itu tidak suka diganggu apa lagi sedang seriusnya belajar seperti saat ini.


Apalagi Setya yang terlihat tidak ingin berbicara dengan Zee yang hampir setiap hari ditemuinya. Bikin badmood aja.


"Loh, Allena kok dimatiin telponnya. Kan gue masih pengen ngomong sama Kak Setya". Ucap Zee dengan tampang memelasnya.


Allena langsung saja memberikan tatapan horor pada Zee, "Kalau lu masih pengen ngomong sama kakak kelas itu, lu keluar dari kamar gua sekarang, ngomong di luar, jangan disini". Ucap Allena menegaskan kata-katanya.

__ADS_1


"Tapi Len...". Ucap Zee terhenti.


"Udah sih Zee, lo nggak lihat tuh Bu Ketua mulai marah. Lagian ngapain sih? Tiap hari lo ketemu juga sama Kak Setya. Masih nggak puas lo lihat mukanya Kak Setya hampir tiap hari". Timpal Tessa.


"Yaudah iya iya. Galak amat sih lo Len". Zee kemudian berhenti. Allena memang sangat menyeramkan jika sudah marah. Kata-katanya itu loh, menusuk sampai ke uluh hati.


Allena lalu mematikan ponselnya dan kembali meraih buku paketnya.


"Kita lanjut belajarnya sekarang! Sa, lu ke Airin belajar yang bener. Jangan banyak ngeluh kalau nggak mau nilai lu jelek". Setelah berbicara seperti itu Allena kembali tengkurap dan membaca bukunya.


Sementara Tessa yang mendengar itu hanya memandang Allena sambil mengedip-ngedipkan matanya lalu menoleh kearah Zee yang terlihat menertawakannya.


"Apa lo ketawa-ketawa? Gara-gara lo sih, kena juga kan gue. Wuu..!!". Tessa kemudian beranjak lalu mendekati Airin dan kembali melanjutkan belajar.


"Ziva.. lu juga belajar. Ngapain malah bengong disitu?". Ucap Allena tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya saat ini.


Zee yang mendengar itu bergegas kembali ketempat dia belajar tadi, "Iya.. iya Allena, Bu Ketua". Sambil Zee berbicara.


Mereka semua kemudian lanjut belajar untuk UAS besok.


Hingga jam 11 malam, mereka masih tengah terlihat belajar tak berpindah dari tempat mereka. Bahkan kertas cakaran yang digunakan oleh Tessa terlihat berserakan dilantai.


Tok


Tok


Tok


Nampak Louis mengetuk pintu kamar Allena yang sedikit terbuka. Mereka semua kemudian menoleh kearah pintu.


"Gue masuk ya". Terlihat Louis masuk kedalam kamar Allena sambil membawa tiga kantong kresek berisi martabak dan pizza.


"Ngapain lo?". Tanya Tessa yang terlihat tak suka dengan kedatangan Louis. Apa lagi saat ini dia sangat lelah dengan soal-soal yang coba dikerjakannya.


Louis mendelik heran, "Marah-marah mulu lo, keriput tuh kulit".


"Gue cuman bawain kalian ini. Soalnya tadi kalian belum makan kan, takutnya kalian pada sakit.


"Apa lagi Allena, dia kan calon bini gue. Masa gue biarin dia sakit". Sambung Louis sambil meletakan kantong kresek itu didekat Allena.


"Makan Len! Nanti kalau lo sakit, Om sama Tante marah sama gue. Berabe kan nanti urusannya. Gagal dong gue jadi calon suami lo". Ucap Louis lagi.


"Banyak omong lo, ketimbang kasih makanan doang". Bukan Allena yang menjawab melainkan Tessa.


"Kenapa jadi lo yang ngejawab. Nyolot lagi. Gue ngomong sama Allena bukan sama lo.


"Lo kalau nggak mau, nggak usah makan. Gue juga beli ini bukan buat lo, Cewe Stres". Cibir Louis kearah Tessa.


"Nyebelin banget sih lo. Lo tuh cowo paling nyebelin di dunia tau nggak". Balas Tessa kesal pada Louis.


"Lo paling cewe stres di dunia. Bodoh lagi". Ejek Louis semakin membuat kesal Tessa.


Sementara Allena, Zee dan Airin hanya memandang pasrah pertengkaran kedua orang yang tidak mau mengalah itu.


Zee sampai memijit pelipisnya tak kuat mendengar ucapan-ucapan yang membuat sesisi kamar menjadi ribut seketika.


Allena yang sudah tak kuat menahan segera berdiri dari tempatnya menghampiri Louis.


"Keluar sekarang!! Sakit kuping gua denger kalian ribut terus". Ucap Allena mendorong Louis dan membawa pria itu keluar dari kamarnya.


Mereka berdua kemudian berdiri didepan pintu kamar, "Lu mending sekarang ke kamar lu, belajar! Makasih atas makanannya". Ucap Allena kemudian. Gadis itu lalu berbalik ingin kembali kedalam kamarnya.


Namun dengan cepat Louis menarik lengan Allena agar berbalik kehadapannya. Sedetik kemudian Louis mencium lembut puncak kepala Allena, membuat gadis itu langsung terdiam ditempatnya.


"Sama-sama Allena". Ucap Louis, kemudian dengan cepat pria itu berlari dari sana takut Allena jika akan marah padanya dengan apa yang dilakukannya.


Sementara Allena, gadis itu hanya memandang Louis yang mulai hilang dari pandangannya. Sesaat kemudian Allena menghela nafas perlahan. Gadis itu lalu berbalik dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya kembali.

__ADS_1



__ADS_2