Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 48 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Meskipun Allena dan Louis adalah sepupu. Tapi bagi Louis Allena adalah orang yang paling disayanginya. Louis tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan Allena.


Louis memang sudah menyukai Allena sedari kecil. Apalagi mereka dulu sering bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama. Dan karena selalu sering bersama tumbuh rasa suka dihati Louis untuk Allena.


Dan untuk sekarang Louis akan jujur pada Allena tentang perasaannya pada Allena. Dia tidak ingin menundanya lagi. Meskipun Allena akan menolaknya, setidaknya Louis sudah berusaha jujur pada Allena. Lelaki itu tidak ingin terus-terusan menyembunyikan perasaannya pada Allena. Dan inilah waktu yang tepat untuk dia mengungkapkan perasaannya pada Allena.


"Allena ada yang pengen gue omongin sama lo". Ucap Louis tiba-tiba pada Allena.


"Gua nggak mau ngomong ama lu. Mending lu pergi sekarang". Ucap Allena datar.


"Pliss... Allena! Gue mohon. Kali ini aja lo dengar gue mau ngomong". Ucap Louis memohon.


"Oke gini aja. Terserah deh setelah ini lo nggak mau ngomong sama gue kek lo nggak mau lihat gue kek apa ajalah pokoknya. Yang penting sekarang ini lo mau dengerin dulu gue ngomong. Lo bisa kan Allena. Plis.. gue mohon banget lo mau. Ya Allena! Mau ya?". Ucap Louis lagi dengan tampang seriusnya.


"Huff... Yaudah lo mau ngomong apa?". Ucap Allena.


Allena tentu saja bukan orang jahat yang jika ada seseorang yang ingin berbicara dengannya dia menolak. Toh hanya ingin berbicarakan bukan mencabut nyawa. Maka dengan terpaksa Allena menerima permintaan Louis, meskipun gadis itu sebenarnya tidak ingin berbicara dengan Louis.


Indonesia Pukul 10.00 WIB


Saat ini Manaf sedang berada dirumah Airin. Sudah beberapa hari ini Manaf membantu Airin untuk membuat kue. Tidak hanya itu, Manaf juga membantu Airin untuk berjualan di pasar.


Dan semenjak Manaf membantu Airin berjualan di pasar, semua kue-kue buatan mereka pasti selalu habis terjual. Ibu-ibu akan selalu datang membeli jika ada Manaf yang membantu. Maklum orang tampan.


Bagaimana tidak? Manaf dengan tubuh tinggi semampainya itu dan juga wajah tampannya khas orang Indonesia serta kulitnya yang bersih mampu menyihir ibu-ibu yang datang berbelanja disana.


Bukan hanya ibu-ibu, namun juga kalangan para remaja sering membeli kue sekaligus ingin berfoto dengan Manaf. Apa lagi ketika mereka tau bahwa Manaf berasal dari kalangan orang terkaya yang ada di Indonesia.


Akan tetapi Manaf sangat merasa risih dengan semua itu. Manaf terlalu lelah jika selalu melayani para pembeli untuk berfoto dengannya satu-persatu.


Airin yang melihat itu juga sebenarnya merasa sangat bersalah pada Manaf. Lelaki itu seharusnya tidak membantunya sampai seperti demikian.


"Manaf.. Lo mending udah nggak usah bantuin gue lagi deh. Kasihan gue lihat lo kecapean kek gitu. Lo kan nggak pernah kerja-kerja kaya gini". Ucap Airin pada Manaf.


Saat ini mereka sedang duduk dikursi panjang didepan meja jualan mereka. Atapnya menggunakan atap payung besar yang memang untuk para penjual gunakan sebagai atap.


"Nggak apa-apa Airin. Lagian gue kan pengen bantuin lo. Gue emang capek sih. Tapi capenya karena tuh itu tuh. Ibu-ibunya nggak abis-abis minta foto mulu. Ditambah lagi sama remaja-remaja yang lain. Bisa setres gue ngeladenin mereka". Ucap Manaf pasrah sambil menunjuk para Ibu-ibu dan para remaja yang tadi habis berfoto dengannya.


"Haduhh.. Rin Rin! Resiko orang ganteng kek gini ya". Sarkas Manaf sambil menengadahkan kepalanya keatas.


Sementara Airin, gadis itu hanya menahan tawanya mendengar perkataan Manaf yang menurutnya terlalu narsis.


Namun tak bisa dipungkiri, Airin juga mengakui ketampanan yang dimiliki oleh Manaf. Laki-laki itu memang terlihat sempurna dengan semua yang dimilikinya.


Sementara tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang memata-matai mereka dari kejauhan.


Ditempat lain, lebih tepatnya disebuah kantor Nugroho Grub. Ayah Manaf saat ini sedang duduk dikursi kebesarannya sambil melihat layar ponselnya. Nampak Ayah Manaf telah menerima pesan dari orang suruhannya yang dia perintahkan untuk mengikuti Manaf beberapa hari belakangan ini.


Pesan tersebut terlihat berisikan foto-foto Manaf sedang bersama Airin disebuah pasar. Terlihat juga foto Manaf sedang dikerumuni para ibu-ibu dan para remaja yang meminta untuk berfoto dengan Manaf.


Ayah Manaf yang melihat semua pesan tersebut langsung saja mengepalkan kedua tangannya.


"Anak itu benar-benar. Dia sudah mulai berani rupanya. Lihat apa yang dia lakukan. Dia malah membuang waktunya hanya untuk membantu gadis miskin itu". Maki Ayah Manaf tiba-tiba sambil meletakan ponselnya dimeja dengan keras.


"Baiklah anak itu sendiri yang memintanya. Dia akan melihat apa yang akan Ayahnya lakukan terhadap gadis miskin itu". Ucap Ayah Manaf.


Ayah Manaf kemudian kembali mengambil ponselnya diatas meja dan terlihat tengah menghubungi seseorang.

__ADS_1


Malam Hari Pukul 20.30 WIB


Saat ini Aziel dan Alexa sedang berada disuatu tempat, lebih tepatnya di restoran milik Brayen. Mereka berdua terlihat sedang membicarakan sesuatu hal.


"El.. Gimana sih dengan hubungan kita sekarang ini? Gue udah berusaha banget biar buat bikin lo jatuh cinta sama gue. Tapi lo nggak ada kasih gue kepastian sedikit pun. Disini cuman gue yang usaha. Sedangkan lo apa? Nggak ada ngehargain sedikit pun usaha gue. Sementara posisinya disini tu lo sendiri yang minta. Mau lo gimana sih Aziel? Gue nggak ngerti. Gue cape tau nggak". Ucap Alexa panjang lebar.


"Kita udahin aja semuanya Lex. Mau lu seusaha gimana pun juga gua nggak bakal jatuh cinta sama lu. Percuma kan. Lu sendiri yang capek. Mending kita udahin aja semuanya sekarang". Ucap Aziel.


"Nggak bisa gitu dong Aziel. Gue udah...". Ucap Alexa terhenti.


"Mau selama apa lagi lu berusaha? Dari dulu sampai sekarang lu usaha terus. Tapi gua tetap nggak ada perasaan sedikit pun sama lu Alexa. Jadi gua mohon stop lu maksain gua biar gua nerima lu. Nggak bakalan bisa Lex. Gua emang nggak punya perasaan apa-apa sama lu. Ngerti kan maksud gua?". Ucap Aziel.


"Karena emang lu sukanya cuman sama si Allena itu kan Aziel? Kenapa El? Apa kelebihan cewek itu dibandingkan gue? Cewek itu aja nggak pernah ngehargain lo kok dari dulu. Tapi kenapa bisa lo lebih milih Allena dibanding gue yang emang jelas-jelas udah berusaha banget buat lo. Kenapa lo nggak milih gue El? Kenapa lo lebih milih Allena?". Tanya Alexa frustasi.


"Ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan Allena. Oke gua akuin gua emang suka sama Allena. Tapi gua masih nggak tau gua emang beneran suka sama Allena atau gimana? Yang jelas permasalahan kita ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan Allena". Ucap Aziel.


"Aziel Aziel! Lo kira gue bodoh. Yang namanya suka ya tetap suka. Mau gimana pun alasannya kalau lo emang suka sama Allena berarti lo emang ada perasaan sama Allena. Nggak usah ngelak". Ucap Alexa dengan ekspresi mencibir.


"Kita nggak usah bahas itu lagi. Yang jelas gua mau kita udahin semuanya. Lu nggak usah ngapa-ngapain lagi". Ucap Aziel sambil berdiri dari duduknya.


Aziel kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Alexa disana sendirian tanpa mempedulikan teriakan gadis itu yang terus memanggilnya.


"Aziel lo mau kemana? Nggak bisa gitu dong El. Lo harusnya ngehargain semua usaha gue". Teriak Alexa.


Sementara Aziel, lelaki itu terus saja berjalan tanpa mempedulikan teriakannya.


Alexa seketika berhenti berteriak memanggil Aziel dan hanya membiarkan Aziel mulai hilang dari pandangannya. Gadis itu seketika langsung saja menunduk dan menangis disana tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang sedang melihatnya.


Alexa mencoba meratapi dirinya. Alexa sudah sangat berusaha agar Aziel bisa mencintai dirinya. Tetapi semua usahanya terasa sia-sia. Gadis itu terus menangis disana.


Tanpa Alexa sadari ada seseorang yang tengah memandangi dirinya dari kejauhan dan langsung berjalan menghampiri dirinya yang sedang menangis.


Alexa yang tentu saja mengetahui orang itu siapa langsung saja mengangkat kepalanya dan memberikan tatapan sinis pada orang tersebut. Akan tetapi orang tersebut justru malah merasa sangat lucu dengan ekspresi Alexa yang seperti itu.


"Ngapain lu ngelihat gue pake ekspresi kaya gitu? Lucu tau nggak". Ucap orang tersebut sambil tetap tertawa.


Saat ini didepan Alexa berdiri seorang laki-laki yang ternyata adalah Brayen. Laki-laki itu sangat tidak tahan akan ekspresi Alexa.


"Ketawa lo ketawa. Orang lagi nangis juga malah diketawain. Emang lucu apa?". Ucap Alexa jutek sambil mengelap air matanya.


"Emang lucu. Lihat tuh ekspresi lo. Kaya anak kecil yang lagi minta makanan tapi nggak dikasih". Ejek Brayen.


"Iihhh.... Ngeselin banget sih lo jadi cowok. Udah minggir sana! Gue mau pulang". Ucap Alexa kesal pada Brayen yang mengejeknya.


Brayen yang melihat Alexa ingin pergi, laki-laki itu langsung menahan Alexa.


"Eh.. Tunggu dulu. Orang gue cuman bercanda juga. Sensi amat jadi orang. Yaelahh..!!". Ucap Brayen menggenggam lengan Alexa.


"Lepasin tangan gue. Siapa suruh lo malah ngejekin gue. Lo nggak lihat apa orang lagi sedih nih nangis?". Ucap Alexa jutek.


"Minta maaf sekarang". Ucap Alexa lagi.


"Iya iya.. Sori! Gue minta maaf. Gue minta maaf ya Alexa si cewek tengil". Ucap Brayen sambil menahan tawanya.


Laki-laki itu benar-benar sangat suka membuat Alexa kesal. Brayen merasa sangat lucu akan reaksi Alexa jika dia membuat gadis itu kesal.


"Iih.. Apaan sih? Yang bener dong minta maafnya. Masa kaya gitu". Ucap Alexa memasang wajah masamnya.

__ADS_1


"Iya.. iya Alexa. Yang bener nih sekarang. Gue minta maaf ya Alexa. Soriii.. Piiiiss..!!". Ucap Brayen sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Nahh.. Gitu dong. Yaudah gue maafin". Ucap Alexa.


"Lo udah maafin kan. Kalau gitu sebagai permintaan maaf gue lagi gue bakalan traktir lo hari ini. Terserah lo pesan apa aja. Lo belum makan kan?". Ucap Brayen.


"Nggak usah. Makasih. Gue mau pulang aja". Ucap Alexa menolak.


"Udah mau aja. Gue tau kok lo belum makan. Nggak usah nolak. Banyak gaya lo". Ucap Brayen sambil menarik lengan Alexa dan mendudukannya kembali ditempatnya.


"Dihh.. Nyuruh orang mau makan kok maksa". Sinis Alexa.


"Udah diem aja. Sebentar". Ucap Brayen membenarkan duduknya.


Tidak berapa lama datang seorang pelayan menghampiri tempat mereka.


"Selamat malam Tuan Muda! Nona! Ada yang bisa saya bantu?". Tanya pelayan tersebut.


"Teman saya mau makan. Tolong kamu bawain makanan yang dia mau. Dan untuk saya kamu samain aja makanannya kaya teman saya ini. Kamu paham kan maksud saya?". Ucap Brayen.


"Baik. Saya mengerti Tuan Muda. Kalau begitu untuk Nona ini mau pesan apa?". Tanya pelayan tersebut pada Alexa.


Alexa kemudian menyebutkan pesanannya dan pelayan restoran tersebut dengan sigap mencatat pesanan Alexa. Setelah selesai pelayan tadi segera pergi dari sana untuk mengambil semua pesanan.


Selama pelayan tadi pergi, Alexa terus saja memberikan tatapan was-was pada Brayen. Seperti ada yang ingin ditanyakan pada lelaki itu.


"Ngapain lo lihat gue kek gitu? Terpesona lo ama gue?". Tanya Brayen pada Alexa.


"Yiihh... PD aja lo. Gue cuman mau nanya kenapa pelayan tadi tuh manggil lo Tuan Muda? Emang lo bos disini?". Tanya Alexa bingung.


"Gue tu bukan hanya Bos disini. Tapi gue Bos sekaligus juga pemilik restoran ini". Ucap Brayen dengan ekspresi songongnya.


"Percaya aja gue sama omong kosong lo itu. Yakali lo pemilik restoran ini". Ucap Alexa tak percaya.


"Yee.. Dibilangin juga. Yaudah kalau lo nggak mau percaya. Terserah lo". Ucap Brayen.


"Emang nggak percaya". Cibir Alexa.


"Terserah". Balas Brayen.


Tidak berapa lama pelayan tadi pun kembali datang bersama 1 pelayan lagi sambil membawa pesanan mereka dan meletakan diatas meja mereka.


"Sudah Tuan Muda. Apa ada lagi yang ingin Tuan Muda inginkan?". Tanya pelayan tadi.


"Tidak ada. Kalian bisa kembali". Jawab Brayen.


"Baik. Kalau begitu kami permisi". Ucap pelayan itu.


"Mbak Mbak tunggu dulu. Ada yang mau saya tanyakan". Panggil Alexa tiba-tiba.


"Iya Kak! Ada yang bisa kami bantu?". Tanya pelayan tersebut.


"Saya cuman mau tanya. Apa benar restoran ini milik cowok dihadapan saya ini?". Tanya Alexa sambil melirik sinis Brayen.


"Iya Mbak benar. Restoran ini milik Tuan Muda kami yang sekarang ada dihadapan Mbaknya". Jawab pelayan tadi.


Alexa yang mendengar jawaban pelayan itu seketika kaget dan hanya memandang Brayen tak percaya. Jadi selama ini dia selalu datang dan selalu mengunjungi restoran milik cowok yang selalu dia juluki "Cowok Mesum".

__ADS_1


Alexa benar-benar merasa malu. Apa lagi ketika dia mengingat kejadian dirinya dan Brayen di toilet restoran waktu itu. Kejadian yang menurutnya sangat membuat dirinya malu saat ini dihadapan Brayen.


__ADS_2