
Malam hari Zee berada di restoran miliknya.
Gadis itu terlihat di salah satu sudut ruangan dekat pintu masuk sambil dengan mengutak-atik laptopnya mengerjakan ulang karya ilmiahnya yang sempat file nya hilang tadi.
"Eh ada cewek bar-bar ternyata disini.
Suara itu sontak membuat Zee mendongakan kepalanya dan mendapati Hera yang memandanginya dengan tampang sinisnya.
Zee hanya berdecak lalu kembali fokus dengan layar laptop dihadapannya.
"Gue ngomong sama lo btw". Ucap Hera lagi, namun Zee seperti tak mempedulikan gadis itu.
"He cewek bar-bar songong banget sih lo. Gue lagi ngomong juga". Sentak Hera kesal.
Zee menghela nafas lalu kembali mendongak ketas menatap santai Hera, "Lo ngomong sama gue?
"Ya gue ngomong sama lo lah. Emang selain lo yang ditempat itu ada siapa lagi? Emang gue ngomong ama meja apa.
"Lo mau ngomongin apa? Kalau nggak penting, nggak usah. Gue lagi sibuk.
"Yee sok banget sih lo. Sok sibuk.
"Emang gue sibuk". Balas Zee. "Udah sana-sana. Nggak penting lo kalau ngomong". Sambungnya lagi sambil menggerakan tangannya mengusir Hera.
"Dih sok-sokan lo. Dasar cewek bar-bar!". Cibir Hera.
Disaat yang bersamaan datang seorang pelayan terlihat menghampiri tempat mereka.
"Maaf mengganggu waktunya Nona Muda, ada seorang pelanggan yang ingin bertemu dengan Nona Muda". Ucap pelayan wanita tersebut.
"Siapa?
"Seorang pemuda Nona. Tapi saya tidak mengetahui nama pemuda tersebut". Jawabnya.
Zee diam sebentar, kemudian mulai membereskan barang-barangnya yang ada diatas meja, "Yasudah, kamu antar saya ke tempat pemuda itu sekarang". Lalu Zee beranjak dari kursinya.
"Baik Nona Muda. Ikut saya kemari!". Pelayan tadi mempersilahkan Zee jalan terlebih dahulu sambil menuntunnya.
Sedang Hera dengan sifat kepo keingin tahuannya yang melebihi batas maksimum itu segera mengikuti mereka.
Hera juga ingin tau kenapa pelayan tadi memanggil Zee dengan sebutan 'Nona Muda', kaya orang penting saja.
Pelayan wanita tadi kemudian menuntun Zee ke salah satu sisi ruangan yang dimana disana terdapat sekumpulan anak muda, dengan memakai jaket yang sama. Intinya seperti anak geng gitulah.
"Ini dia Nona, pemuda yang ingin bertemu dengan Nona Muda". Ucap pelayan wanita itu saat mereka sudah didekat sekumpulan para anak muda itu.
Zee menyipitkan matanya menerawang serius kearah seorang pria yang dikenalinya. Pria itu tidak menyadari keberadaannya karena terlihat sibuk bermain ponsel.
"Kak Setya!". Itu Setya. Pria itu sontak mengangkat kepalanya mendengar suara Zee yang meneriaki namanya.
"Kak Setya kok ada disini?". Pria itu hanya memasang tampang datarnya melihat Zee yang ada disana.
Ternyata mereka adalah anak geng motor Alcandor yang di ketuai oleh Aziel, dan Aziel juga ada disana terlihat sibuk dengan ponselnya tak peduli dengan keadaan sekitar.
Hera yang sedari tadi disana langsung berlari menghampiri Setya.
"My Baby, kamu disini juga. Kok nggak bilang-bilang". Hera dengan tingkah genitnya mengalungkan tangannya dileher Setya.
Zee yang melihat itu tentu saja tak terima, "Eh eh ngapain lo meluk-meluk Kak Setya. Minggir sana, minggir-minggir! Jauh-jauh lo dari Kak Setya". Zee mendorong Hera hingga kalungannya terlepas dileher Setya.
"Ihh lo ngapain dorong-dorong gue. Lo aja sana yang jauh-jauh. Jauh-jauh lo dari My Baby gue". Hera membalas mendorong Zee.
"Dasar lo cewe kecentilan. Jauh-jauh lo dari Setya gue.
Perdebatan tak bisa terlerai. Hingga kedua gadis itu saling dorong mendorong bertengkar. Keributan terjadi diantara keduanya.
Segera pelayan yang masih ada disana tadi langsung membantu Nona Mudanya memisahkan keduanya dibantu beberapa anak geng motor lainnya.
Setya yang melihat kedua gadis itu bertengkar hanya mampu menghela nafas dan mulai beranjak berdiri dari kursinya.
Segera pria itu melerai Zee dan Hera yang masih terus saja saling dorong tak ada yang mau mengalah.
"Berhenti lo berdua". Setya dengan santainya masuk ke tengah-tengah lalu menggenggam lengan kedua gadis itu dari sisi kiri dan kanan.
Seketika Zee dan Hera berhenti bertengkar karena ada Setya di tengah-tengah mereka berdua.
"Lo berdua bisa berhenti nggak berantemnya". Sambungnya lagi sambil memandang kedua gadis itu secara bergantian.
"Dia duluan yang ngedorong gue". Desis Hera memandang sinis Zee.
__ADS_1
"Eh mending lo pergi dah dari sini!". Usir Zee.
"Lo siapa nyuruh-nyuruh gue pergi. Lo aja sana yang pergi". Balas Hera.
"Ini restoran gue. Mau apa lo?
"Heh lo kira gue percaya sama omongan lo. Ngimpi lo ketinggian.
"Emang benar nih restoran punya gue kok. Pergi sana lo!
"Buktinya apa ini restoran lo? Coba mana, buktiin dong". Tantang Hera. Mana mungkin dia percaya restoran itu milik Zee. Halu kali dia.
"Lo berdua denger nggak sih omongan gue. Berhenti berantemnya". Sentak Setya. Cape banget lihat kedua gadis dihadapannya berdebat terus.
"Dia tuh, halu kali dia punya restoran ini. Mana coba buktinya kalau dia emang pemilik restoran ini". Cibir Hera.
Setya kemudian beralih menoleh kearah Zee sembari menaikan sebelah alisnya.
"Eh, gue nggak bohong kok. Gue nggak bohong kok Kak. Kalau nggak percaya tanya aja sama Mbak pelayannya". Zee kemudian menoleh kearah pelayan wanita tadi supaya menjelaskannya, "Mbak jelasin Mbak, biar mereka semua pada percaya sama saya. Apa lagi yang ini nih, cewe yang ini nih, Si cewek kecentilan.
"Apa yang dikatakan Nona Muda kami benar adanya. Nona Muda kami adalah pemilik dari restoran ini. Nona yang ada dihadapan kalian saat ini". Ucap pelayan wanita itu kemudian.
Mereka yang ada disitu langsung merasa tersanjung sekaligus terperangah mendengar perkataan pelayan tadi. Termasuk Aziel yang mulai penasaran dengan drama dihadapannya saat ini.
Setya langsung memandangi Zee dengan serius sembari terlihat sedikit menautkan alisnya seperti ada yang sedang dipikirkannya.
Tapi tidak dengan Hera. Gadis itu langsung menyemprot Zee dengan kata-katanya.
"Alah lo kira gue bisa percaya aja gitu sama omongan kalian. Siapa taukan kalian udah kerja sama buat kaya ginian. Kalian pasti udah atur dulu, setting dulu, briefing dulu. Iyakan? Ngaku aja lo cewe bar-bar. Nggak usah kebanyakan boong lo. Nggak malu lo kaya gitu". Semprot Hera tak tanggung-tanggung.
"Lo itu kenapa sih? Dikasih tau juga, nggak percayaan banget jadi orang. Makanya nama lo itu si Cewek Kecentilan, taunya cuman bisa centil doang sama cowo, nggak bisa mikir. Mikir dulu sana biar nggak malu. Biar taunya nggak cuma jadi cewe kecentilan doang hih". Balas Zee tak mau kalah.
"Apa lo bilang? Gue bisa mikir ya.
"Mikir apa? Mikir jadi cewek kecentilan doang taunya.
Astagaaa...
Ini kalian berdua mau lanjutin yang tadi lagi bertengkarnya? Udah napa woyy..
"Hii dasar lo cewe bar-bar. Awas lo ya". Segera Hera kembali ingin maju, namun langsung dihadang sama pelayan wanita tadi.
"Loh kenapa saya aja yang dimarahin. Kenapa dia nggak? Dia juga bikin keributan kan disini". Hera tak terima jika dia saja yang dimarahi.
"Sudah saya katakan ke Mbaknya tadi. Nona Muda kami ini adalah pemilik restoran ini. Bagaimana bisa kami mengusir Nona Muda kami? Dan mohon untuk Mbaknya jangan cari masalah atau kami akan benar-benar mengusir Mbaknya dari sini. Mohon kerja samanya ya Mbak". Pelayan wanita itu jadi gregetan sendiri melihat tingkah Hera yang membuat masalah dengan Nona Mudanya.
"Tuh dengerin tuh. Untungnya gue masih baik karena nggak ngusir lo dari sini". Ucap Zee kemudian.
Sementara Hera mulai tak bisa berkutik lagi setelah mengetahui ternyata Zee adalah pemilik restoran yang didatanginya itu. Gadis itu hanya bisa menatap bengis kearah Zee sekaligus merasa kesal dan malu dihadapan Setya juga anak geng motor Alcandor yang seakan menertawakan dirinya dalam diam.
Bisa-bisanya Hera mencari masalah sama pemilik restoran.
"Weishh kalau gitu kita boleh nih pesan apa aja. Iya nggak?". Itu Gabriel. Si anak buah Alcandor yang tingkahnya paling petakilan itu. Tapi kalau soal berantem jangan ditanya. Sekali tonjok lawan langsung koit.
"Pesan aja, pesan aja. Terserah kalian mau pesan apa. Nggak usah bayar, gue yang traktir". Ucap Zee.
"Wehee bener nih? Nggak papa nih?
"Iya pesan aja, terserah. Tapi... ada tapinya nih". Zee kemudian menoleh kearah Setya dengan tatapan anehnya.
"Apa?". Ucap Setya dengan ketusnya karena Zee yang memandanginya seperti itu.
"Tapi.... Kak Setya harus mau jalan sama gue. Gimana?". Ini sih cuman akal-akalannya Zee aja biar bisa dekat sama Setya.
"Gue nggak mau". Tolak Setya cepat.
"Loh kenapa? Kok Kak Setya nggak mau sih?". Zee langsung memelas mendengar penolakan Setya langsung.
"Udalah Ya, biarin aja. Lagian cuman jalan doang masa lo nggak mau. Makan gratis nih kita". Ini Gabriel bisa nggak usah ikut campur nggak sih. Berpihak banget sama Zee.
"Pokoknya gue nggak mau.
"Ya, ayolah Ya. Mau aja napa. Lagian jalan sama pemilik restoran nggak malu-maluin lo juga kok. Dia juga cantik banget. Bisalah sombong dikit nantinya lo nya.
"Ya udah lo aja kalau gitu.
"Nggak bisa dong Ya, diakan maunya sama lo. Udahlah mau aja. Sok nolak lo.
"Iya Ya, mau aje udeh. Susah amat tinggal mau aja". Ini anak buah yang satu ngapa malah pada ikut-ikutan. Yang lainnya pada ikut dukung juga kan. Setuju bae lo pada. Ini sih udah pasti Zee yang senang.
__ADS_1
Setya akhirnya hanya bisa memutar bola mata jengah. Pria itu kemudian menoleh kearah Zee yang terlihat berbinar penuh harap. Akhirnya Setya menghela nafas pasrah.
"Huff.. yaudah kalau gitu. Jalan doang kan". Setya akhirnya mau diajak jalan sama Zee.
Mau bagaimana lagi. Teman-teman se gengnya maksa banget. Ngedukung lagi sama Zee. Emang teman lucknut semua tuh bocah pada.
Zee seketika berjingkrak kesenangan karena akhirnya Setya mau diajak jalan berdua dengannya. Gadis itu kemudian bergelayut manja dilengan kekar Setya dengan wajah berbinar.
Zee kemudian melirik Hera dibelakang Setya lalu menjulurkan lidahnya mengejek Hera. Gadis itu kali ini unggul dari Hera.
Sementara Hera hanya bisa menatap kesal sambil mengepalkan kedua tangannya merasa kalah dari seorang Zee si cewek bar-bar.
Hera kemudian berbalik dan langsung pergi dari restoran itu. Dari pada keselkan lihat kedekatan Zee dengan Setya. Mending pergi aja dari sana.
...*****...
Besoknya di SMAN Nasional sekitar pukul 11 siang terlihat Allena yang sedang berjalan ingin menuju kamar mandi sekolah.
Saat ingin masuk tak sengaja dirinya berpapasan dengan Zee yang habis dari dalam kamar mandi.
Tapi ada yang aneh dengan Zee. Gadis itu terlihat basah dengan rambut dan seragam yang kotor seperti kotoran lumpur dan juga... iyyuhh bau banget dah pokoknya. Mau muntah.
Matanya juga terlihat sembab dan wajah yang memerah. Sepertinya Zee habis menangis.
"Lu kenapa?". Sentak Allena kaget melihat kondisi sahabatnya itu.
"Hiks..hiks..Allena..hiks..g-gue..hiks". Zee terlihat susah untuk berbicara karena menangis sesenggukan.
"Kenapa lu bisa kaya gini? Siapa yang berani lakuin ini ke lu?". Tanya Allena sembari memegang kedua pundak Zee menghadap padanya. Allena sama sekali tak merasa jijik menyentuh Zee dengan kondisi seperti itu.
"Tadi..hiks..pas..gue..lagi..di..toilet..hiks..Hera..dateng..terus..nyiram..gue..hiks..pake..air..bekas..pel..kamar..mandi..itu..hiks..hiks". Zee terbata sesenggukan sembari menunjuk ke dalam kamar mandi.
Disana Allena melirik kedalam kamar mandi dan mendapati ember bekas pel dan juga kain pel yang tergeletak dilantai.
"Terus lu diapain lagi sama dia?
"Dia..ngelapin..kain..pel..itu..hiks..keseragam..gue...makanya..hiks..seragam..gue..kotor". Sambung Zee lagi.
Mendengar pengakuan Zee seketika Allena mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Aura wajahnya langsung berubah dingin namun begitu mencekam.
Dengan segera Allena berbalik pergi dari sana meninggalkan Zee yang memanggil-manggil dirinya namun tak dihiraukannya sama sekali.
"Allena, Len. Lo mau kemana?
Allena terus berjalan tanpa menghiraukan murid-murid yang menyapa dirinya. Air mukanya begitu menyeramkan. Tatapannya begitu nyalang mampu merontokan nyali mereka yang melihatnya menjadi debu.
Hanya satu tujuan gadis itu. Kelas 11 IPA 2.
Allena kini sudah muncul dari balik pintu kelas itu, 'Harusnya dari dulu gua kasih pelajaran', Allena membantin sambil memicingkan matanya mencari.
Netra matanya menemukan target yang dicarinya. Segera Allena menghampiri orang tersebut yang terlihat sedang dikursinya berbincang-bincang dengan dua orang sahabatnya.
BRAKK!!
"He Bajingan!". Allena menggebrak meja dihadapan orang itu sehigga membuat murid-murid yang ada di kelas itu terlonjak kaget sekaligus mengalihkan pandangan mereka kearah Allena dan juga ketiga gadis yang juga kaget akan aksi Allena.
Itu Alexa, Chika, dan Hera. Mereka langsung berdiri mendapati Allena yang ada dihadapan mereka dengan mata yang menatap tajam dan aurah wajah yang ingin membunuh.
"He cewe sok kecantikan ngapain lo kaya gitu!?". Sentak Alexa.
Allena langsung melirik tajam Alexa dan berkata, "Gua nggak ngomong ama lu". Bentak Allena. Kemudian kembali menatap tajam Hera.
Allena kemudian menghampiri Hera dan langsung menarik kerah baju Hera kehadapannya, "Lu apain sahabat gua ha?". Bentak Allena menatap tajam Hera.
"Lo ngomong apaan sih? Gue nggak ngerti". Elak Hera. Gadis itu tentu saja tau apa maksud Allena. Pasti yang dia maksud adalah Zee. Karena dia memang sempat mengerjai Zee saat di kamar madi tadi. Dan Hera berpikir pasti Zee telah mengadu sama Allena makanya Allena datang dan marah-marah padanya.
"Lu pikir gua bodoh kaya lu ha? Lu kan yang udah ngerjain Ziva di kamar mandi tadi? Maksud lu apa?". Allena semakin menarik keras kerah baju Hera dan membentak keras membuat siapapun yang melihat Allena saat ini pasti akan takut melihat aura gadis itu sekarang.
Sedang Hera mulai meneguk salivanya takut akan Allena dalam mode marah saat ini.
"Lepasin sahabat gue! Lo jangan nuduh sembarangan ya". Alexa maju ingin membantu Hera.
Dengan cepat Allena menendang meja yang ada dihadapan Alexa, "Gua nggak ngomong sama lu anji*ng! Lu bisa diem nggak". Bentak Allena sehingga membuat Alexa tergelak dan berhenti ditempatnya.
Sementara diluar yang melewati kelas itu langsung bergegas masuk kedalam ingin mengetahui apa yang terjadi setelah mendegar suara gaduh yang berasal dari bentakan Allena dan juga suara meja yang ditendang oleh Allena.
Murid-murid mulai masuk kedalam kelas dan mengerumuni kelas itu. Mereka ingin tahu apa yang terjadi.
"Lu nggak usah ikut campur! Ini urusan gua sama sahabat brengsek lu ini!!
__ADS_1