
Jam sudah menunjukan waktu pulang sekolah. Semua murid SMAN Nasional terlihat berhamburan keluar kelas.
Saat ini Allena dan juga Louis sedang berjalan menuju parkiran sekolah. Tiba-tiba saja dari arah belakang ada yang menarik lengan Allena, dan sontak membuat cewek itu berbalik.
"Ikut gua!". Ternyata itu Aziel. Cowok itu langsung menarik lengan Allena untuk ikut dengannya.
"Lepasin!". Dengan cepat Allena langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Aziel.
"Ikut gua Allena!". Aziel kembali menarik lengan Allena, namun langsung ditepis oleh cewek itu.
"Lu apaan sih? Gua nggak mau". Sentak Allena.
Sementara Louis di belakang sana hanya mengikuti mereka berdua tanpa berniat mencegah.
"Masih marah lu ama gua?". Tanya Aziel kemudian.
Allena seketika memberikan tatapan jengkel, "Ck, nggak penting". Lalu mulai melangkahkan kakinya.
Namun Aziel kembali menarik lengan Allena lagi hingga tubuh Allena menabrak dada bidangnya.
"Masih marah lu ama gua?". Kali ini Aziel dengan sedikit penekanan sembari mencengkram keras lengan Allena.
"Aww shh.. sakit tangan gua sialan!". Ringis Allena yang berusaha melepas cengkraman Aziel di lengannya, namun tak bisa. Cowok itu malah semakin mengeratkan cengkramannya.
"Ikut gua sekarang atau...
"Atau apa?". Bentak Allena seketika, "Atau apa gua tanya ha? Lu mau ngapain gua emang?
"Allen, lu...
Tiba-tiba dari arah lain Regina datang dan langsung melepaskan cekalan Aziel di lengan Allena.
"EL, temenin gue ke cafe yuk!". Ajak Regina yang langsung menggandeng Aziel.
"Ini apa lagi sih? Lepasin ah!". Cicit Aziel mendorong Regina menjauh.
Namun Regina tak menyerah begitu saja. Cewek itu kembali mendekati Aziel.
"Aaahh Aziel temenin gue ke cafe lahh, lo kan udah janji EL ama gue". Dengan tingkah centil yang dibuat-buat Regina menempelkan tubuhnya ke tubuh Aziel juga nada yang terkesan di manja-manja.
"Lu ngomong apaan sih? Lepasin gua bilang!". Aziel berusaha mendorong Regina yang terus saja menempel padanya. Namun tetap saja, Regina tak melepaskan Aziel dan malah makin bertingkah secentil mungkin.
Sedang Allena yang melihat itu hanya menatap datar keduanya secara bergantian.
"Cih!". Seketika Allena berdecak sambil berlalu dari sana.
Aziel yang melihat Allena pergi berniat menyusul.
"Allena tunggu!". Aziel mendorong Regina sehigga gandengan gadis itu terlepas, lalu mulai ingin meyusul Allena.
Regina yang tentu saja tak membiarkan Aziel untuk menyusul Allena dengan cepat mencegat Aziel.
"Aaah Aziel lo mau kemana sih? Gue kan disini". Regina mencegat dengan menahan lengan Aziel.
"Lepasin sialan!". Aziel berusaha berontak.
"Nggak usah lo nyusulin tu cewek! Ngapain sih lo nyusulin dia? Nggak penting banget". Regina terus saja menahan lengan Aziel.
Aziel langsung saja menatap tajam Regina, "Yang nggak penting itu urusin CEWEK SINTING KAYA LU. LEPASIN GUA GILA!". Bentak Aziel seketika yang langsung mendorong keras Regina sampai cewek itu jatuh ke tanah.
Murid-murid yang melintas disitu tentu saja melihat kejadian itu. Mereka saling berbisik-bisik dan ada juga yang tertawa melihat apa yang terjadi dengan Regina. Sedang Aziel sudah pergi meninggalkan Regina disitu.
"APA LIHAT-LIHAT GUE KAYA GITU? MINTA GUE COLOKIN SATU-SATU MATA KALIAN HA!!". Bentak Regina ke arah murid-murid yang melintas disitu.
"Woy Regina ngapain lo dudukan disitu? Minta sumbangan lo? pffftt....wahahaha!!". Adrian dan Gerald yang juga melintas disitu seketika menertawai Regina bersama.
"Minta sumbangan kali buat korban bencana dadakan". Timpal Gerald diikuti tawa cekikikan Adrian.
"Iya korban bencana dadakan kerena dibuang ke tanah. Kan sampah, wkwkwk". Ejek Adrian juga diikuti tawa keduanya.
Murid-murid yang mendengar juga ikut tertawa mendengar cibiran Duo Pembuat Onar( Adrian and Gerald).
"Makanya Re, Re, sadar diri napa. Kak Aziel itu nggak suka ama lo, tapi masih aja keganjenan. Nggak malu apa". Cibir Adrian.
"Iya tuh bener. Kak Aziel juga ada selera kali. Bukan kaya cewek bermuka dua seperti lo itu. Saingan sama Allena lagi, beda jauh bor nggak selevel. Iya nggak Dri?". Gerald malah ikut-ikutan mencibir.
"Bener bat, seratus ribu persen gue kasih buat lo Rald". Sahut Adrian dengan mengacungkan kedua jempol tangannya ke atas.
Kedua manusia itu seketika tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengejek Regina, sehingga membuat gadis itu emosi sekaligus malu bercampur satu.
Regina mulai berusaha berdiri, "Awas lo berdua! Berani-beraninya lo berdua ngejekin gue". Dan mulai menghampiri Duo Pembuat Onar dengan tatapan tajam mengeram kesal.
"Cabut Rald cabut cabut! Si Nek Lampir mulai marah tu wkwkwk....
Kedua Pembuat Onar segera melarikan diri sebelum mereka benar-benar dijadikan ayam penyet oleh Regina.
Sementara itu Allena dan Louis sudah berada dalam mobil menuju rumah sakit tempat dimana Zee dirawat. Sedang Aziel mengikuti mereka dari belakang dengan motor sportnya.
Setibanya di parkiran rumah sakit, segera Allena keluar dari dalam mobil dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah sakit diikuti Louis.
Tidak berapa lama Aziel juga tiba dan langsung ikut menyusul masuk ke dalam rumah sakit.
Saat Allena membuka pintu ruangan, disana sudah ada Tante Yuna juga dua bodigoard yang biasa menjaga Zee di sudut ruangan.
Terlihat juga Zee yang duduk bersandar
"Tante!". Seru Allena berjalan menghampiri Tante Yuna lalu mencium punggung tangan beliau. Kemudian diikuti Louis juga Aziel.
"Allena kamu datang Nak". Sahut Tante Yuna, "Kamu datang bareng siapa Nak?
Louis langsung menyambar, "Halo Tante saya tun...
"Mereka berdua teman sekolah saya Tan, teman sekolah Zee juga". Dengan cepat Allena memotong ucapan Louis. Lalu memberikan tatapan tajam ke arah Louis. Sementara Louis langsung menampilkan cengirannya.
__ADS_1
"Ohh begitu ya". Ucap Tante Yuna manggut-manggut.
"Iya Tante". Sahut Allena.
"Gimana keadaan Zee sekarang Tan?". Allena langsung mengalihkan pembicaraan.
"Tadi pagi dia sadarnya. Dan kata Dokter Zeze sudah dalam kondisi membaik". Jawab Tante Yuna sembari memandangi Zee yang duduk di atas brankar.
"Ah syukurlah kalau begitu Tan". Allena tentu saja senang melihat sahabatnya itu sudah dalam kondisi membaik.
Tapi ada yang menjanggal dipikirannya. Zee dari tadi hanya diam tidak berucap apapun. Gadis itu hanya terlihat memandangi mereka dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Tapi ada satu hal yang membuat Tante sedih Nak". Ucapan Tante Yuna berhasil membuat ketiga orang itu menatap serius Tante Yuna.
"Kenapa Tante? Ada apa memangnya?". Tanya Allena penasaran.
"Kata Dokter anak Tante hilang ingatan!
Deg!
Perkataan Tante Yuna berhasil membuat ketiga orang itu terkejut. Terutama Allena.
Pantas saja tadi Zee hanya diam melihat kedatangan mereka dengan ekspresi seperti orang kebingungan.
"Jadi Zee hilang ingatan!". Desis Allena seketika dengan tangan kanan yang mengepal kuat.
"Iya Nak, tadi Dokternya bilang begitu". Sahut Tante Yuna.
"Jadi Tan, selamanya Zee bakalan hilang ingatan?". Kali ini Aziel yang bertanya.
"Kata Dokternya belum bisa dipastikan Nak. Anak Tante masih harus dalam penanganan". Jawab Tante Yuna dengan nada sendu.
Bagaimana tidak?
Melihat anaknya dalam kondisi yang seperti sekarang ini membuat hatinya sedih. Anaknya mengalami hilang ingatan yang bahkan belum bisa dipastikan seperti apa kondisi hilang ingatan seperti apa. Apakah anaknya hanya hilang ingatan untuk sementara waktu atau untuk selamanya.
Mengingat hal itu membuat Tante Yuna kembali menangis seperti tadi pagi. Saat mendengarkan penjelasan Dokter membuat Tante Yuna tak menyangka dengan apa yang terjadi pada anaknya. Kecelakaan yang terjadi membuat ingatan Zee lumpuh sehingga berhasil membuatnya hilang ingatan.
"Tante yang sabar ya". Allena berusaha menenangkan Tante Yuna yang menangis.
Tidak lama terdengar suara pintu terbuka, dan tampaklah keempat bersahabat Airin, Tessa, Gamma, dan Alvian. Mereka semua ternyata juga datang kesana untuk menjenguk Zee.
"Zee!". Seru Airin langsung berlari menghampiri Zee dan memeluk gadis itu, " Syukur deh lo udah sadar sekarang. Gue seneng banget lo udah sadar Zee". Cicit Airin memeluk Zee.
Airin kemudian melepaskan pelukannya, "Gimana perasaan lo sekarang? Apa ada yang sakit?". Tanyanya kemudian.
Sementara Zee hanya diam sembari menautkan alisnya memandangi Airin juga beralih ke arah yang lainnya memandangi mereka bergantian.
"Zee, kok lo diam aja?". Tegur Airin seketika.
Zee kembali memandangi Airin dengan menggeleng bingung, "Kamu, kamu siapa? Kalian semua siapa? Saya bingung, saya nggak tau sama sekali siapa kalian. Dan juga Zee? Zee itu siapa? Kenapa dari tadi kalian manggil saya dengan sebutan Zee terus?". Cicit Zee dengan terus menggeleng. Gadis itu mulai memegangi kedua sisi kepalanya.
"Tante?". Tegur Tessa ke arah Tante Yuna yang masih menangis. Tessa seolah bertanya apa yang terjadi sama Zee.
Segera Tante Yuna menghampiri Zee, "Sayang kamu kenapa Nak?". Tante Yuna sangat khawatir melihat Zee saat ini.
Sementara Zee terus mengerang menahan sakit yang tiba-tiba mendera di kepalanya.
Semua yang ada disana tentu saja ikut khawatir melihat keadaan Zee.
Segera kedua bodigoard yang berjaga disana keluar ruangan untuk memangil Dokter.
...******...
Sudah hampir 15 menit Zee tertidur. Tadi setelah Dokter datang, Zee langsung diberi suntikan obat tidur. Dan gadis itu terlihat sudah tidur dengan tenang saat ini.
Mereka semua juga masih ada di ruangan itu.
"Kalau gitu saya balik duluan ya Tan! Ada urusan soalnya". Seru Aziel seketika sambil berjalan menghampiri Tante Yuna lalu mencium punggung tangan beliau.
"Iya Nak, hati-hati ya. Makasih juga kamu sudah datang kesini untuk jenguk anak Tante". Sahut Tante Yuna dengan tersenyum.
"Iya Tan, sama-sama. Saya balik dulu". Aziel kemudian berbalik, segera berjalan menuju pintu dan keluar dari sana.
Aziel kemudian berjalan menjauh dari ruangan sambil terlihat memainkan ponselnya mengetik pesan untuk seseorang.
"AZIEL!!". Tiba-tiba dari arah belakang ada yang memanggil Aziel.
Sontak Aziel berbalik dan mendapati Allena berlari ke arahnya.
"Ada apa?". Tanya Aziel saat Allena sudah berdiri di hadapannya.
"Lu mau kemana?". Tanya balik Allena dengan tanpa ekspresi.
Aziel seketika tersenyum tipis, "Gua ada urusan, jadi nggak bisa lama disini. Kenapa emangnya?
Allena hanya menggeleng.
Aziel berdengus lucu, "Yaudah kalau gitu gua balik duluan". Aziel mengacak rambut Allena sebentar lalu mulai melangkahkan kakinya.
Namun seketika Allena menarik lengan Aziel mencegat pria itu agar berhenti berjalan.
"Kenapa?". Tanya Aziel saat sudah berdiri kembali di hadapan Allena.
Allena hanya menggeleng dengan ekspresi datarnya menatap Aziel.
Aziel membalas tatapan Allena yang memandanginya. Sedetik kemudian Aziel menghembuskan nafasnya, lalu langsung merengkuh Allena ke dalam pelukannya.
"Gua ada urusan. Sorry nggak bisa lama disini, dan sorry juga dengan semua yang terjadi". Ucap Aziel dengan tangan yang mengelus lembut puncak kepala Allena.
"Terus kenapa lu pergi?". Cicit Allena yang sudah menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aziel.
__ADS_1
"Gua ada urusan Allena". Sahut Aziel dengan tenang.
"Hmm". Gumam Allena kemudian.
Aziel lalu mulai beralih mengecup lembut kepala Allena dengan masih memeluk gadis itu.
"Kalau gitu gua balik duluan ya. Lu juga jangan lupa istirahat. Dari kemaren gua lihat lu terlalu sibuk sama sahabat lu itu". Ucap Aziel yang sudah melepaskan pelukannya.
"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena.
Aziel kemudian kembali mengecup kening Allena sekilas, "Kalau gitu gua duluan ya Baby!". Lalu mulai melangkahkan kakinya, "Dahh jangan lupa istirahat ya". Seru Aziel lagi dan benar-benar mulai menghilang dari pandangan Allena.
Sedang Allena yang sudah tak melihat Aziel mulai berbalik dan berjalan perlahan untuk kembali ke ruangan Zee.
Terlihat gadis itu menunduk sembari mengusap kelopak matanya dengan terus berjalan perlahan.
Sementara itu Aziel yang sudah tiba di parkiran segera menaiki motor sportnya lalu melajukannya pergi dari rumah sakit tersebut.
Aziel akan bertemu dengan seseorang yang dikiriminya pesan tadi. Lebih tepatnya bertemu dengan Setya. Saat ini Setya memang sedang berada di markas Alcandor.
Setibanya Aziel di markas, pria itu langsung turun setelah memarkirkan motornya. Lalu segera berjalan masuk kedalam rumah minimalis berlantai dua yang dijadikan markas tersebut.
"Eh Pak Bos ternyata. Kirain siapa tadi?". Seru Gabriel dengan gaya petakilannya menyambut Aziel.
"Setya mana?". Tanya Aziel berjalan masuk ke dalam.
"Setya lagi diatas Bos, tidur kayanya". Jawab Gabriel sambil menutup pintu.
"Ky, panggilin Setya!". Seru Aziel ke arah anak buahnya itu yang terlihat makan bakso sambil menonton televisi.
"Siwap Bwos!". Sahut Dicky dengan mulut yang masih mengunyah dan tangan yang memberi hormat.
Segera pria itu berlari menuju tangga untuk memanggil Setya yang berada di lantai dua.
Sedang Aziel mulai berjalan menuju sofa lalu duduk disana dengan meletakan kedua kakinya di atas meja di depannya.
"Gabriel!". Seru Aziel seketika.
Gabriel yang tentu saja mengerti akan maksud Bosnya segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Bosnya itu.
Gabriel kemudian kembali menghampiri Aziel dengan membawa sebungkus rokok yang diambilnya tadi dari dalam lemari, lalu mengeluarkan satu batang rokok, membakarnya, kemudian memberikannya pada Aziel.
Aziel menerimanya dari tangan Gabriel lalu menyesap rokok tersebut dengan menikmatinya, kemudian mengeluarkan asapnya dengan menengadahkan kepalanya ke atas.
FYUHHH!!
"Terus gimana Gab? Udah beres?". Tanya Aziel dengan kembali menyesap rokoknya.
"Beres dong Bos! Mereka semua koit ekhh". Jawab Gabriel dengan gaya tangan yang seperti menebas leher.
"Bagus!". Desis Aziel, "Terus dari kalian ada yang parah?
"Nggak ada Bos. Cuman luka-luka kecil doang, lecet dikit gitu maksudnya Bos". Jawab Gabriel.
Aziel seketika berdengus dengan menunjukan senyum smirk khas dirinya.
"Emang kalian semua bisa gua andelin". Pujinya.
"Hehe iya dong Bos.
"Kalau gitu jangan biarin mereka cari masalah lagi sama kita. Kalau sampai mereka cari masalah lagi, laporin ke gua langsung". Ucap Aziel.
"Siap Bos!". Sahut Gabriel dengan memberi hormat.
"Yaudah sana!
"Nggak ada tugas lagi Bos?
"Nggak ada.
"Oke Bos!
Gabriel kemudian kembali ke tempatnya dan menyantap baksonya kembali.
"Lo nyariin gue EL?". Setya datang dan langsung duduk di sofa di depan Aziel.
Meskipun baru bangun tidur Setya tetap terlihat tampan dengan pakaian santainya.
"Hmm". Gumam Aziel sembari menyesap rokoknya.
"Emang kenapa?
"Cewek lu hilang ingatan!". Jawab Aziel to the point.
"Hah? Maksud lo?". Setya masih belum mengerti dengan ucapan sepupunya itu. Perasaan dia tak memiliki pacar.
"Itu Zee, tu cewek hilang ingatan ternyata". Ucap Aziel menjelaskan.
Perkataan Aziel berhasil membuat Setya menautkan alisnya. Masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Aziel.
"Kenapa diem? Kaget lu denger cewek lu hilang ingatan?
Setya memandangi Aziel dengan masih menautkan alisnya, "Dia bukan cewek gue". Tepis Setya.
Aziel berdecih, "Cih, Setya Setya!". Kemudian menggeleng heran, "Terus gimana?Tu cewek udah hilang ingatan Ya.
Sementara Setya hanya memandangi Aziel dengan tatapan yang sulit diartikan seperti tengah memikirkan sesuatu.
Sedetik kemudian Setya beranjak dari sofa sembari berkata...
"Gue pergi dulu!
__ADS_1