
...Bertengkar 2...
Setelah mereka berdua tiba di ujung koridor kantin, Aziel langsung menghepaskan Allena ke tembok dengan kasar hingga membuatnya merasakan sakit pada bagian belakang punggungnya akibat bertabrakan dengan tembok yang ada di belakangnya.
"Aww! Lu apaan sih? Sakit tau, lu gila ya". Allena meringis, dan ingin beranjak dari sana.
Namun baru beberapa langkah, Aziel kembali menarik lengan Allena dan kembali mendorong gadis itu ke tembok. Kemudian langsung mengurung Allena di kungkungannya dengan kedua telapak tangannya yang dia tempelkan di tembok sebelah kiri dan kanan. Aziel menatap Allena dengan tajam.
"Lu apaan sih ha? Minggir nggak". Sentak Allena mencoba mendorong tubuh lelaki tersebut.
Namun tak berhasil, sebab Aziel semakin menahan pergerakan Allena dengan tubuh tingginya di bawah kungkungannya dengan sekuat tenaga agar Allena tak bisa memberontak.
Karena tak berhasil menjauhkan Aziel darinya, Allena berhenti memberontak.
Merasa tak ada pemberontakan dari cewek itu, Aziel perlahan mulai menurunkan kepalanya dan mensejajarkan wajahnya dengan Allena hingga manik mata mereka bertemu dan saling pandang.
"Udah mulai bisa ngomong lu? Berani banget lu ama gua. Lu kira lu siapa hmm?". Desis Aziel tenang namun terdengar menghanyutkan dengan kedua alisnya yang terangkat dan juga begitu serius menatap Allena.
Allena hanya diam tak berkutik di tempatnya dengan tampang datarnya membalas menatap Aziel. Jarak mereka berdua bahkan kini sangat dekat.
"Ooo.. Gua tau! Ini cara lu biar bisa dekat ama gua, atau ini cara lu biar bisa narik perhatian lawan jenis lu? Iya?". Ucap Aziel mencibir Allena seenaknya dan melepaskan kungkungannya, lalu memandangi Allena dengan ekspresi seolah merendahkan.
Allena yang mendengar itu tentu saja tak terima dengan apa yang dikatakan Aziel. Dia mulai emosi dengan Aziel lalu terlihat perlahan mendekati cowok itu dengan tatapan dinginnya.
"Gua? Deket ama lu? Najis tau nggak!". Cicit Allena menghentak dengan mendorong keras Aziel dan langsung berlalu pergi dari sana.
Aziel terus memandangi Allena yang mulai perlahan menjauh dari pandangannya. Tanpa sadar satu tarikan terbit di sudut bibirnya.
Sementara di kantin, Zee yang merasa khawatir pada Allena segera berdiri dari duduknya dan ingin menyusul Allena. Namun tarikan tangan dari belakang berhasil membuatnya berhenti melangkah.
Zee langsung berbalik dan sudah mendapati Setya yang menatapnya tanpa ekspresi dengan menggenggam lengannya.
"Lo mau kemana?". Tanya Setya datar sambil memandangi Zee.
"Eh! Gue mau nyusul Allena. Kenapa?". Jawab Zee memandangi Setya tanpa berkedip. 'Yaampun ni cowo siapa? Ganteng banget oh mai gosh'. Zee membantin histeris dalam hati sambil terus memandangi Setya.
Cowok yang saat ini sedang menggenggamnya sangat tampan untuknya. Entah pikiran seperti apa, Zee langsung kepincut dengan Setya yang baru pertama kali dilihatnya.
Sedang Alvian yang melihat itu langsung beranjak dari tempatnya dan mendekati kedua orang itu.
"Eh eh, nggak usah pegang-pegang juga kali. Lepas!". Alvian langsung melepaskan genggaman Setya dari pergelangan tangan Zee.
Setya hanya berdecak, lalu kembali beralih pada Zee, "Lo nggak usah ikut campur urusan mereka berdua. Itu urusan mereka. Ngerti lo!". Ucap Setya dengan sedikit penekanan, kemudian berlalu pergi begitu saja.
Zee terus memandangi Setya yang mulai perlahan menjauh dari sana. Seketika Zee melangkah mundur dan langsung duduk kembali di kursinya.
"Hah..hah..hati gue hati gue cok". Desis Zee sambil memegangi dadanya merasakan jantungnya yang berdetak kencang, "Oh mai hati gue!
"Ayang Zee! Ayang Zee kenapa? Kenapa dengan hatinya Ayang Zee? Ayang Zee nggak papakan?". Alvian yang khawatir langsung menghampiri Zee dan berjongkok di dekatnya mencoba memeriksa keadaan Zee.
"Hati gue Al, hati gue". Cicit Zee sambil terus memegangi dadanya.
"Iya Ayang Zee, Ayang Zee kenapa? Jangan buat Babang Alvian khawatir dong. Ayang Zee kenapa sih emangnya? Kenapa hatinya?". Alvian masih saja khawatir melihat keadaan Zee saat ini. Cewek itu terus menghela-menghembuskan nafasnya seolah membutuhkan oksigen yang banyak.
Tiga orang yang ada disitu pun mulai ikutan khawatir.
"Eh, lo kenapa Zee? Lo sakit ya?". Manaf yang ikutan khawatir langsung mendekati Zee, "Lo kenapa woyy...
"Hati gue ini hati gue". Cicit Zee.
"Iya kenapa sih emang? Kenapa hati lo? Lo punya penyakit hati ya". Cetus Gamma.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit aja sekarang gimana? Takutnya emang punya penyakit hati nih bocah". Imbuh Manaf.
"JANGAN!!". Sentak Zee seketika.
"Lah terus gimana? Lo kesakitan gini". Ucap Gamma dengan alis yang berkerut.
"Pokoknya jangan. Gue nggak mau ke rumah sakit". Tolak Zee mantap.
"Ayang Zee, kalau Ayang Zee nggak mau ke rumah sakit entar penyakit hatinya Ayang Zee makin parah". Ucap Alvian.
"Pokonya gue nggak mau. Gue nggak mau ke rumah sakit". Tolak Zee kekeh.
"Nggak mau gimana sih Zee, entar lo kenapa-napa gimana. Lo mau meninggoy emang". Ucap Manaf yang mulai gemas dengan Zee. Takutnya tuh bocah emang punya penyakit hati.
Zee sudah tidak mau membalas lagi. Cewek itu beralih meremas kepalanya.
Sedang ketiga cowok itu mulai khawatir melihat Zee saat ini. Begitupun Airin. Tapi dia hanya dim saja sedari tadi, karena tidak tau harus berbuat apa.
Zee menunduk dengan masih terus meremas kepalanya.
Tiba-tiba...
"OMG OMG!! COWO TADI SIAPA WOYY GANTENG BANGET". Teriak Zee memenuhi area kantin. Sehingga membuat yang ada di kantin itu langsung menoleh ke arah tempat mereka berada, "AAAA...OMO OMOOOOOOO GANTENG BANGET YAAMPUN!!
Langsung saja keempat orang yang berada di dekat Zee menutup telinga mereka karena suara Zee yang begitu memekakan telinga.
"Woyy Zee, ngapa lo malah teriak aelahh". Cetus Manaf.
"Lo lihat tadi tuh cowo? Ganteng banget hee bisa pingsan gue lama-lama". Sahut Zee dengan muka berseri-seri seolah dia telah mendapatkan harga yang sangat berharga.
"Siapa? Cowok tadi?". Tanya Manaf.
Zee mengangguk girang. Saat ini dia masih saja mengingat saat Setya menggenggam lengannya dengan erat tadi.
__ADS_1
"Yaelahh gantengan juga gue". Cetus Alvian, "Mending Ayang Zee merhatiin muka Babang Alvian aja, nggak usah mikirin cowok tadi". Sambungnya sambil menaik turunkan alisnya di hadapan Zee.
Zee yang melihat itu langsung mendelik, "Iihh apaan sih lo Al, jauh-jauh sono ah". Dan langsung mendorong wajah Alvian yang begitu dekat dengannya.
"Hedehh Zee kirain tadi lo kenapa, ternyata cuman karena itu. Lebay amat perasaan". Cetus Gamma mencibir.
"Nggak tau nih Ayang Zee. Mendingan Ayang Zee itu sama Babang Alvian aja, kan Babang Alvian nggak kalah hensem". Imbuh Alvian dengan percaya diri.
"Dih.. Apaan dah? Suka-suka gue dong. Lagian kenapa kalau gue puji-puji tuh cowok. Sirik lo pada, nggak mampu nyaingin kegantengannya tuh cowo". Ejek Zee ke arah ketiga cowo itu dengan sensinya.
"Nggak dong, gue mah nggak kalah ganteng kali". Imbuh Manaf.
"Idihh PD aja lo. Lo itu jelek banget tau". Cibir Zee.
"Orang ganteng gini kok dibilangin jelek. Katarak mata lo". Balas Manaf.
"Mata gue masih normal, lo nya aja yang memang jelek". Sahut Zee tak mau kalah.
"Elehh bisa-bisanya lo katain gue jelek. Gini-gini juga gue banyak dibandrongi cewek-cewek kali". Ucap Manaf. Tentu saja dia tak terima dikatai jelek. Yakali oyy orang ganteng kok.
"Lo itu jelek tau pake banget. Jadi nggak usah kepedean lo nya". Pokonya Zee tidak mau mengalah. Dia tetap ingin mengejek Manaf.
Sedang Airin yang sedari tadi diam saja tak bericara sedikit pun hanya bisa memandangi perdebatan keempat remaja di hadapannya itu.
...******...
Bel pelajaran jam keempat sudah berbunyi sedari tadi. Kini semua murid-murid sudah kembali ke kelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran.
KELAS 10 IPA 1
Terlihat Airin yang duduk di belakang Allena mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengan Allena.
"Allena maaf, gue cuman mau nanya, tadi Kak Aziel nggak apa-apain lo kan?". Tanya Airin ragu-ragu.
Allena mendongakkan kepalanya dan memperhatikan Airin dengan ekspresi datarnya. Ssdetik kemudian cewek itu kembali menunduk dan memainkan ponselnya.
"Nggak ada!". Jawab Allena sambil tetap memainkan ponselnya.
"O-o-oh i-iya". Ucap Airin dengan canggungnya. Dia takut Allena marah karena menanyakan hal seperti itu.
Airin kemudian kembali membaca buku yang sempat tadi dibacanya. Tidak ingin melanjutkan obrolan dengan Allena. Bagaimana pun dia masih sangat teramat canggung dan tak berani dengan Allena.
Sedang Allena, mulai terlihat mematikan ponselnya lalu meletakannya di atas meja. Allena kemudian mendekati Airin.
"Airin! Pulang sekolah nanti gua kerumah lu". Ucap Allena.
"Ha? Ke rumah? Emang mau ngapain Len?". Airin sedikit terkejut dengan perkataan Allena.
"Bisa nggak?". Tanya Allena kembali.
"Nggak usah! Nanti kita pulang bareng. Naik mobil gua aja". Sela Allena cepat.
"Tapi-
"Sepulang sekolah". Potong Allena langsung.
Airin pun hanya bisa pasrah dan menyetujui keinginan Allena. Cewek cantik berlesung itu tentu saja tak berani untuk menolak ajakan Allena.
Zee yang tempat duduknya bersebelahan dengan kedua cewek itu tentu saja mendengar pembicaraan Allena dan Airin.
Zee kemudian dengan cepat menghampiri keduanya.
"Loh, gue nggak nih! Masa gue nggak diajak sih. Lo berdua mah jahat nggak setia kawan. Gue sedih nih". Ucap Zee dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Lu kalo mau ikut, ikut aja!". Sahut Allena.
"Ha? Beneran nih? Horee gue ikut gue ikut!". Teriak Zee dengan riangnya berlari memeluk Allena.
Sedang Allena yang dipeluk seperti itu hanya diam sambil membiarkan Zee yang terus memeluk girang dirinya.
Tidak lama guru muncul di ambang pintu kelas. Segera semua murid-murid di kelas itu menghentikan kegiatan mereka, dan mulai duduk di kursi masing-masing bersiap untuk segera memulai pelajaran.
Pelajaran pun dimulai setelah guru mengabseni nama mereka semua satu-persatu.
...******...
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para murid-murid SMAN Nasional mulai berhamburan keluar kelas.
Saat ini Allena, Zee, dan Airin sedang berjalan bersama menuju parkiran.
"Jadikan ya kita ke rumahnya Airin?". Tanya Zee disela-sela mereka sedang berjalan.
"Iya". Jawab Allena datar.
"Yaudah Rin! Kamu sama Allena aja ya". Ucap Zee pada Airin.
"I-i-iya". Jawab Airin canggung.
Setibanya mereka di parkiran...
"Wait wait! Tunggu, ini kalian pada mau kemana? Gue boleh ikut nggak?". Seru Brayen yang tiba-tiba muncul dari arah lain.
"Eh, Kak Brayen kan ya?". Sahut Zee dengan memandangi Brayen dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Iya". Jawab Brayen dengan tersenyum.
Memang Brayen ini sangat humbel orangnya. Dengan siapa pun pasti dia akan secepat itu akrabnya.
"Kak Brayen mau ikut kita ke rumahnya Airin?". Tanya Zee memastikan dengan menunjuk Airin.
"Iya, Boleh kan?". Sahut Brayen antusias.
Zee beralih ke arah Allena, "Gimana Len? Kak Brayen mau ikut katanya". Zee terlebih dahulu menanyakannya pada Allena. Bagaimana pun yang mengajak mereka tadi itu Allena.
Sedang Allena mulai memandang Brayen dengan tampang datarnya. Cewek itu seketika menghela nafas panjang.
"Terserah!". Ucap Allena, kemudian berlalu pergi begitu saja menuju mobilnya.
"Yass! Kalo gitu gue ikut". Ucap Brayen senang dan ikut berlalu untuk mengambil motornya.
Mereka semua pun mengambil kendaraan masing-masing, terkecuali Airin yang mengikuti Allena menuju mobilnya.
Mereka kemudian segera tancap gas meninggalkan sekolah tersebut.
Sepeninggal keempat orang itu, Aziel dan juga Setya yang memang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan mulai beranjak menuju parkiran.
"Kemana tuh mereka? Brayen juga, ngapain pake ikut mereka segala?". Ucap Setya seketika.
"Nggak tau! Ngapain juga ngurusin mereka?". Sahut Aziel santai.
"Tapi ngomong-ngomong kalau gue perhatiin Brayen kayaknya lagi dekat sama cewe yang namanya si Allena itu". Ucap Setya menoleh ke arah Aziel.
"Terus kenapa? Penting emang?". Ucap Aziel. Terdengar ada sedikit nada kesinisan disana.
"Ya nggak kenapa-napa, santai aja kali. Orang gue cuman ngomong doang, gitu banget reaksinya". Ucap Setya mencebik.
"Udalah! Ayo jalan! Ngapain sih urusin meraka? Kayak nggak ada kerjaan lain aja". Ucap Aziel berlalu menuju ke arah mobilnya yang juga terparkir disana.
Sedang Setya hanya bisa menggeleng melihat reaksi Aziel itu. Dia pun ikut untuk mengambil mobilnya juga.
Kedua cowok tampan itu pun ikut pergi meninggalkan sekolah dengan menggunakan kendaraan masing-masing.
...******...
Saat ini keempat orang itu sudah tiba di area pekarangan rumah Airin.
Setelah memarkirkan kendaraan masing-masing, mereka kemudian turun dan mengikuti Airin yang berjalan terlebih dahulu.
Airin membuka pintu rumah lalu mempersilahkan ketiga orang itu masuk ke dalam. Saat ini mereka sudah berada di ruang tamu rumah tersebut.
"Airin! Tante mana?". Tanya Allena mulai berbicara.
"Ibu kayanya di dapur, lagi bikin kue mungkin. Kenapa?". Sahut Airin.
"Bisa panggilin Tante kesini? Ada yang gua mau omongin". Ucap Allena datar.
"Oh iya! Kalo gitu tunggu bentar ya". Setelah itu Airin beranjak dan berlalu menuju dapur.
Beberapa menit kemudian Airin datang bersama Ibunya.
"Eeh ada kalian juga ternyata. Ada apa to rame-rame kesini?". Seru Ibunya Airin dengan senyum yang begitu teduh.
"Hallo Tante!". Segera Zee beranjak dari kursi mendekati Ibunya Airin lalu mencium punggung tangan beliau.
Allena dan Brayen yang juga ada disana kemudian ikut menyalami punggung tangan Ibunya Airin.
"Ini siapa to? Kok Ibu baru lihat". Yang dimaksud Ibunya Airin itu Brayen si kakak kelas.
"Nama saya Brayen Tante". Jawab Brayen dengan ikut tersenyum.
"Ohh Brayen ta. Kasep pisan kamu Nak". Puji Ibunya Airin.
"Hehe Tante bisa aja muji saya". Sahut Brayen yang jadi salah tingkah sendiri karena Ibunya Airin memujinya.
"Beneran atu Nak.
"Iya Tante iya. Tante jangan muji-muji saya dong Tan, saya kan jadi malu". Ucap Brayen dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Beneran malu tau kalau dipuji begini. Apa lagi posisinya hanya dia cowo yang ada disana. Kayanya dia salah sudah datang disana😅😅
Sedang Ibunya Airin mulai berhenti dan hanya tersenyum. Beliau tentu saja tau pasti Brayen sedang merasa tak nyaman saat ini karena hanya dia cowo yang disitu.
Ibunya Airin kemudian memutuskan beralih pada Allena.
"Neng Allena nyariin Ibu? Ada apa to Neng Allena cari Ibu? Memangnya ada yang mau dibicarakan?". Tanya Ibu Airin akhirnya dan sudah duduk di kursi yang ada di ruang tamu itu.
"Iya Tante! Gini, Allena mau minta izin ajak Airin keluar. Boleh nggak Tan?". Tanya Allena to the point.
"Oo.. Begitu! Yowes boleh-boleh, tapi jangan sampai kemalaman sekali atuh ya. Ndak baik!". Ucap Ibu Airin mengizinkan.
"Iya Tante! Makasih ya Tante udah mau ngizinin". Ucap Allena berterima kasih.
"Iya sama-sama Neng gelis! Cantik pisan kamu ini". Ucap Ibu Airin memuji.
"Makasih Bu". Sahut Allena dengan mengangguk. Sudah biasa dia mendengar pujian seperti itu. Dari dulu hingga sekarang selalu saja dia mendengar seperti itu. "Kalau gitu Tan, kita pergi sekarang ya". Sambungnya berpamitan.
"Oh iya! Yaudah sok atu". Sahut Ibu Airin beranjak dari duduknya.
Mereka semua pun ikut berdiri lalu berpamitan pada Ibunya Airin.
__ADS_1
Setelah berpamitan mereka semua keluar dari rumah Airin lalu menuju kendaraan kemudian pergi dari sana.