Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 119 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Sementara itu di kantin sekolah...


Zee terlihat tengah membawa dua piring bakso.


BRUK!


PRANGG!!


Dua piring bakso yang dibawa Zee jatuh dan pecah karena menabrak seseorang.


"Woyy lo buta apa gimana! Nggak punya mata lo!? Jadi kotorkan seragam gue, mana panas banget lagi. Sialan lo!". Umpat orang itu.


Zee mendongak dan mendapati Setya di hadapannya terlihat membersihkan seragamnya.


Tidak lama Hera muncul, "Astagaa baju kamu kotor My Huny! Pasti gara-gara cewek bar-bar ini kan yang numpahin". Dengan gaya centilnya Hera membantu membersihkan baju seragam Setya.


"Hmm nggak tau dah, punya dua mata nggak digunain kali nih cewek ah". Cetus Setya yang kesal.


"Duhh sabar ya My Huny". Kemudian memandang jengkel Zee, "He cewek bar-bar, lo lihatkan seragam My Huny gue kotor kaya gini. Nggak punya mata lo!?". Sentak Hera.


"Udah-udah! Gue bersihin sendiri aja". Setya menjauh kemudian pergi dari sana sambil menahan kesal.


Sedang Hera kembali memandang jengkel Zee, "He cewek bar-bar, jangan lo kira karena ada Allena yang lindungin lo, jadi gue takut sama lo, nggak ya. Kalau sama Allena mungkin iya gue takut, tapi kalau sama cewek bar-bar kaya lo nggak akan pernah. Jadi jangan harap gue biarin lo bisa deket-deket sama Setya. Ngimpi aja lo! Huh!". Setelah berbicara seperti itu Hera melangkahkan kakinya sambil menubrukan bahunya dengan bahu Zee dan kembali melanjutkan langkahnya.


Sementara Zee, "Huff.. sabar Zee sabar jangan marah-marah. Lo udah janji buat nggak bikin masalah lagi. Lo udah janji nggak akan bikin masalah yang buat Allena terseret lagi. Tenang tenang, oke! Huff!!". Zee seberusaha mungkin untuk tetap sabar.


Tapi mengingat Setya membentaknya tadi membuat hati Zee terkikis.


Selama ini Setya selalu bersikap seperti itu padanya, dan selama itu pula Zee tak mempermasalahkannya.


Tapi kali ini dia sadar bahwa Setya memang sangat tidak menyukai dirinya dan keberadaannya.


Mungkin memang dia harus melupakan semua perjuangannya untuk mendapatkan Setya. Meskipun sulit tapi dia akan mencoba seberusaha mungkin.


Dia tak ingin terus berlarut-larut dalam permasalahan cintanya. Masih banyak hal yang harus dia lakukan selain masalah percintaan.


...*****...


Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Semua murid-murid berhamburan keluar kelas. Terlihat Allena keluar paling akhir.


Saat tiba di lantai bawah dan berjalan sendirian di koridor kelas, tiba-tiba dari arah lain ada yang menarik lengannya membawanya masuk ke kelas yang sudah kosong.


"Duhh lepasin, sakit!". Allena menarik lengannya yang ditarik.


"Eh sorry Baby! Sakit ya?". Itu Aziel. Kembali meraih lengan Allena dan mengelusnya lembut.


"Ya sakitlah, pake nanya lagi lu. Lu nariknya kekencangan tau". Cetus Allena jengkel.


"Iya sorry sorry, gua kan nggak sengaja.


"Lagian lu ngapain sih bawa gua kesini. Ada urusan lu ama gua?". Tanya Allena.


"Urusan ama lu mah banyak Allen. Bejibun kalau ama lu mah.


"Ya apa bego?


"Ikut gua ke apartemen yokk!". Ajak Aziel.


"Nggak mau gua". Tolak Allena cepat.


"Harus maulah.


"Duhh nggak mau gua, maksa amat sih.


"Ya makanya lu harus mau, biar gua nggak maksa.


"Ck, lu kenapa nggak urusin adik kelas kesayangan lu itu aja sih". Ucap Allena sengaja menyinggung.


"Zoya maksud lu?". Tanya Aziel mengerti akan maksud Allena.


"Nggak tau dah gua namanya". Sahut Allena jengah.


"Kenapa? Lu cemburu yaa". Goda Aziel sambil mencolek dagu Allena.


"Dihh apaan sih? Ngapain juga gua cemburu? Orang gua udah punya tun...". Allena langsung merapatkan mulutnya tak melanjutkan ucapannya.


"Apa? Lu mau ngomong apa tadi?". Aziel langsung memberikan tatapan mengancam untuk Allena.


Kemudian mendekati Allena lalu mengangkat tubuhnya, menundukan gadis itu di atas meja guru, memeluk Allena posesif.


"Ayolah Allen, lu jangan suka ngomong kaya gitu ama gua. Gua kan udah bilang gua nggak suka Allena". Desis Aziel yang sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allena.


Sepertinya Aziel ini memang sangat suka posisi seperti itu. Dia merasa nyaman karena bisa memeluk sekaligus menghirup wangi aroma tubuh Allena yang disukainya itu. Apalagi aroma rambut Allena. Benar-benar membuatnya betah berlama-lama dalam posisi seperti itu.


"Emang kaya gitu kan kenyataannya!?". Ucap Allena, namun membiarkan Aziel yang memeluk dirinya.


"Ya udah kalau gitu kalian putusin aja pertunangan kalian". Cetus Aziel sekenanya masih dengan posisinya.


"Dih gila aja lu". Cicit Allena memukul bahu Aziel.


"Kenapa? Biar gua aja yang jadi tunangan lu.


"Cih". Allena berdecih lucu sambil menggeleng.


"Gua serius Allen, kalau perlu kita nikah aja langsung". Desis Aziel semakin mengeratkan pelukannya, menarik pinggang ramping Allena ke arahnya membuat Allena terkesiap.


Allena kemudian hanya menghela nafas mendengar perkataan Aziel.


"Yaudah, jadi nggak nih ke apartemennya?". Tanya Allena mengalihkan pembicaraan.


"Emang lu mau?". Tanya Aziel memastikan.


"Kalau gua nggak mau gua nggak nanya. Lu juga yang ajak kan!?

__ADS_1


Aziel mengangkat kepalanya tanpa melepaskan pelukannya lalu menatap lekat gadis yang ada di hadapannya saat ini, "Lu nggak takut gitu?


Allena mengangkat sebelah alisnya, "Takut apa?


"Ya lu nggak takut gitu atau kepikiran kenapa gua ngajak lu ke apartemen gua? Luu nggak kepikiran kaya gua ada niatan buat apa-apain lu gitu atau apalah?". Pancing Aziel.


"Gua ngerti maksud lu. Tapi selama ini emang lu pernah gitu berbuat sesuatu yang nggak-nggak ama gua? Selain...". Allena menggantungkan kalimatnya.


"Selain apa?". Tanya Aziel penasaran.


Allena melirik bibir Aziel, "Selain lu meluk sama cium bibir gua doang". Kemudian kembali beralih menatap datar wajah Aziel.


Aziel hanya tersenyum mendengar perkataan Allena yang sedikit sensitif ini, "Kenapa? Lu maunya gua ngelakuin yang lebih dari meluk sama ciuman?". Goda Aziel.


"Dih..


Aziel berdengus lucu, "Gua bercanda kali Allen. Gua bakal lakuin yang lebih dari itu. Tapi nanti, setelah kita udah nikah.


Allena terdiam mendengar perkataan Aziel. Mata hazel cantiknya menangkap keseriusan yang terpancar di wajah pria di hadapannya itu.


CUP


Aziel seketika mencium bibir Allena sekilas.


"Yaudah kita pergi sekarang!". Aziel melepaskan pelukannya lalu menarik lengan Allena, kemudian mereka berdua keluar dari kelas itu.


Sementara itu di parkiran sekolah...


"Oyy Cowok Rese! Nungguin siapa lo?


Louis seketika memutar bola matanya jengah mendengar suara yang beberapa hari ini membuat pikirannya mumpet. Siapa lagi kalau bukan Tessa. Gadis itu selalu saja mencari gara-gara dengannya.


"Nungguin siapa lo? Allena ya?". Tessa dengan gaya tomboinya bercakak pinggang di hadapan Louis.


"Ngapain lo nanya-nanya? Urusannya sama lo apa emang?". Ketus Louis.


"Yeee ditanyain baik-baik juga malah nyolot. Santai aja dong". Balas Tessa.


"Lo kali yang nyolot! Emang ada ya yang nanya orang kaya ngajak baku hantam? Cuman lo doang perasaan.


"Yang ada lo itu yang nyolot. Dasar cowok rese!


"Eh eh eeeh cewek stres lo emang! Miring otak lo!". Cibir Louis tak mau kalah.


"Apa lo bilang? Gue haj...


Ucapan Tessa seketika terhenti karena kedatangan Aziel dan Allena.


"Allena!". Louis sontak beranjak menghampiri kedua orang itu, "Eh eh jauh-jauh kalian berdua, jangan saling dekat-dekat!", lalu berdiri di tengah-tengah memberi jarak antara Allena dengan Aziel, "Jauh-jauh lo sama Allena!". Louis mendorong Aziel menjauh.


"Louis udah!". Sentak Allena kearah Louis, "Lu apa-apaan sih?


"Lo yang apa-apaan Len?". Balas Louis, "Kenapa lo bisa jalan berdua sama nih cowo". Sambungnya sambil memandang sinis Aziel.


Louis yang melihat itu segera menyusul, lalu mencegat Allena.


"Lo mau kemana? Gue nggak ngizinin kalau lo pergi sama dia". Ucapnya sudah menggenggam lengan Allena.


"Lu nggak usah ikut campur. Lu nggak ada hak ngelarang gua pergi sama siapa pun, termasuk Aziel". Sahut Allena sembari menepis keras tangan Louis.


"Gue tunangan lo Allena. Harusnya lo ngehargain gue sebagai tunangan lo disini". Sentak Louis yang membuat Tessa berdiri tak jauh dari mereka mendengar perkataan Louis, dan langsung membuat dirinya memandang mereka dengan mulut menganga.


'Hah? Nggak salah denger nih gue? Louis sama Allena udah tunangan ternyata'. Tessa membantin melihat mereka secara bergantian.


"Terus kenapa kalau lu tunangan gua? Kita cuman tunangan belum nikah. Jadi lu masih belum ada hak buat ngatur-ngatur gua. Gua aja nggak pernah ngatur lu kok". Balas Allena tak peduli dengan status pertunangan itu.


"Mending lu urusin aja hidup lu sendiri". Setelah berbicara seperti itu Allena kembali menarik lengan Aziel menuju mobil Aziel lalu mereka berdua pergi dari sana meninggalkan Louis yang hanya bisa berdiri mematung melihat kepergian mereka.


Louis dengan wajah yang memelas seketika menunduk lesuh meratapi nasib pertunangannya dengan Allena.


Tessa yang melihat Louis menjadi merasa prihatin sekaligus kasihan. Tessa kemudian berjalan perlahan mendekati Louis.


"Cowok rese, lo yang sabar ya. Gue baru tau loh ternyata lo sama Allena udah tunangan". Ucap Tessa sambil mengelus-elus belakang punggung Louis.


Louis seketika menghadap kearah Tessa sambil terus menunduk lesuh.


"Gue boleh meluk lo nggak sih?". Tanya Louis yang langsung membuat Tessa terkesiap.


"Hah?


"Bentar doang kok". Cicit Louis.


"O-oh, o-oke oke! Bentar aja kan". Balas Tessa sedikit canggung.


Tanpa basa-basi, Louis langsung menarik tubuh Tessa ke arahnya, memeluk cewek itu dan menjatuhkan kepalanya di bahu kanan Tessa.


Terdengar suara hembusan nafas disana yang berasal dari Louis.


Tesaa yang awalnya sedikit canggung mulai menormalkan diri lalu mengangkat tangan kirinya menepuk-nepuk pelan punggung pria yang memeluknya saat ini.


Sementara itu setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, kini Aziel dan Allena sudah berada di apartemen Aziel.


"Gua baru nyadar teryata lu pindah apartemen". Ucap Allena yang kini sudah duduk di sofa ruang depan.


"Emang iya gua pindah". Balas Aziel sambil menuangkan air di gelas lalu meminumnya hingga tandas.


"Kenapa?". Tanya Allena masih mengedarkan pandangannya.


Aziel kembali menuangkan air di gelas kaca itu, "Gua udah nggak nyaman aja". Jawab Aziel. Kemudian mendekati Allena sambil membawa gelas berisikan air tadi, lalu memberikannya pada Allena.


Allena menerimanya dan langsung meminumnya juga hingga tandas. Lalu kembali memberikan gelas kaca yang kosong itu pada Aziel.


"Ngapain lu lihatin gua kaya gitu?". Cetus Allena kemudian. Sedari tadi Aziel tak mengalihkan pandangannya dari Allena.

__ADS_1


Aziel berdengus, "Nggak, gua cuman nggak nyangka aja. Kenapa bisa lu secantik ini?". Ucap Aziel sambil meletakan kembali gelas kaca tadi di atas meja.


"Cih, emang gua cantik dari orok". Sahut Allena sinis.


"Ya emang, makanya gua bilang lu cantik. Cantik banget malah". Ucap Aziel lagi.


"Iya, cantik, tapi masih juga bisa buat lu berpaling". Gumam Allena dengan sedikit mengecilkan suaranya namun masih bisa didengar Aziel, namun samar-samar.


"Lu ngomong apa tadi? Sorry gua nggak denger, agak kekecilan". Tanya Aziel kemudian.


"Nggak. Gua nggak ngomong apa-apa". Allena menggeleng.


"Umm yaudah. Kalau gitu gua ke kamar bentar, lu tunggu disini jangan kemana-mana!". Peringat Aziel.


"Hmm". Balas Allena.


Segera Aziel menuju kamarnya.


"ALLEN! AMBILIN KUNCI SAMA ALMAMATER GUA DONG, BAWAIN KESINI!". Seru Aziel yang muncul dari balik pintu kamarnya.


"CK, NYUSAHIN GUA LU!". Balas Allena. Namun tetap mengambilkan barang suruhan Aziel tadi.


Kemudian bergegas menghampiri Aziel.


"Nih!". Allena menyodorkan kedua barang tersebut.


"Bawa ke dalam aja". Ucap Aziel, kemudian kembali menuju ke arah wardrobe di sudut kamarnya untuk mengambil baju. Saat ini Aziel memang hanya memakai celana training abu-abu tanpa atasan, memamerkan otot kekar dan juga perut sixspaknya.


Sedang Allena hanya menghembuskan nafas kemudian mulai berjalan masuk ke dalam kamar Aziel.


Baru beberapa melangkah Allena seketika berhenti lalu diam di tempatnya beberapa detik. Allena kemudian secara perlahan menoleh ke arah Aziel yang terlihat sedang mencari baju santai yang ingin dikenakannya.


Allena mulai berjalan mendekati Aziel dengan tampang wajah tanpa ekspresi. Kemudian berdiri tepat di belakang cowok itu, lalu perlahan mengangkat tangan kanannya. Sedang Aziel sama sekali tak menyadari Allena yang berdiri di belakangnya, karena sibuk memilih baju.


Aziel lalu menutup pintu lemari setelah mendapatkan baju yang dicarinya, "Allena!". Desis Aziel sedikit terkejut melihat Allena yang sudah berdiri di belakangnya, dari kaca besar yang tertempel di pintu lemari.


Tiba-tiba Aziel mulai merasakan tangan Allena yang menyentuh belakang punggungnya.


"Ini... bekas luka yang waktu itu?". Desis Allena sambil membelai perlahan bekas luka di punggung Aziel. Mata hazelnya tak lepas dari goresan yang terdapat di punggung cowok berjakun itu.


"Hmm". Gumam Aziel. Kemudian berbalik menghadap Allena. Sontak jari lentik Allena menyentuh perut sixspak Aziel.


Sedang Allena terlihat tak mengalihkan pandangannya dari perut Aziel. Namun wajah Allena terlihat datar tanpa ekspresi.


Perlahan Allena mulai mengangkat pandangannya, hingga kepalanya mendongak ke atas sampai mata hazelnya bertemu pandang dengan Aziel. Pemilik mata hitam pekat penuh ketegasan itu terlihat memandanginya dengan intens.


Keduanya saling memandang dalam diam. Tak ada yang berniat untuk berbicara satu sama lain.


Aziel mengalihkan pandangannya menyusuri wajah cantik blasteran yang ada di hadapannya saat ini. Jarak keduanya begitu dekat. Hingga hembusan nafas yang keluar dapat mereka dengar satu sama lain.


Tanpa kata-kata Aziel langsung menarik tengkuk Allena ke arahnya, menyambar bibir ranum yang selalu membuatnya tergoda.


Sedang Allena membiarkan Aziel lalu terlihat membalas luma*tan Aziel di bibirnya. Almamater dan kunci di tangan kirinya tadi pun kini sudah jatuh ke lantai.


Aziel kemudian membalikan badan Allena membelakangi lemari tadi, lalu mendorong tubuh Allena hingga mentok ke lemari tanpa melepaskan pagutannya di bibir ranum Allena.


Aziel menarik pinggang ramping Allena ke arahnya lalu memeluk erat gadis itu. Sedang Allena mulai berjinjit untuk mengalungkan lengannya di leher Aziel, dan mereka terus saling menyesap bibir satu sama lain.


Diantara keduanya tak ada yang ingin mengakhiri pergulatan bibir itu. Keduanya saling menikmati bibir bersama. Keduanya saling memagut, melu*mat, menyesap, bahkan saling membelitkan lidah menyusuri bibir satu sama lain.


Setiap kali Allena ingin menjauhkan wajahnya, Aziel pasti selalu kembali menarik tengkuk leher Allena dan kembali memagutnya seolah tak ingin membiarkannya berakhir, dan Allena juga tak menolaknya membiarkan semuanya terjadi.


Setelah beberapa menit, Aziel mulai melepaskan pagutannya di bibir Allena dan langsung memeluk erat gadis itu. Sedang Allena terlihat membalas pelukan Aziel sembari menghirup oksigen yang paling dibutuhkannya.


Aziel menurunkan kepalanya diceruk leher Allena, "Ngghhh, udahh ELhh!!". Allena melenguh sembari mencengkram punggung Aziel saat Aziel memberikan kecupan-kecupan lembut disana.


Aziel berdengus lucu mendengar lenguhan Allena. Pria itu kemudian menghisap, memberikan satu tanda bulatan merah di leher Allena.


"Mmhhhh, ELhh.. lu nggak denger yang gua omongin. Udah, gua bilang!". Allena ingin menjauhkan dirinya, namun Aziel menahan pergerakan Allena dengan kembali memeluk Allena.


"Allen, kita nikah yukk!!". Desis Aziel seketika masih dengan posisinya.


Namun Aziel tak mendengar jawaban apapun. Allena diam membiarkan Aziel memeluknya.


"Lu mau kan Allen, nikah ama gua?". Tanya Aziel lagi.


Sekali lagi Aziel tak mendengar jawaban apapun ataupun perkataan apapun dari Allena.


"Allena! Lu denger nggak sih!?". Ucap Aziel dengan nada merengek sembari menggeliat di pelukan Allena.


Terdengar helaan nafas dari Allena, kemudian...


"Hmm!". Hanya itu yang keluar dari mulut Allena.


"Lu mau?". Tanya Aziel memastikan.


"Nggak tau". Jawab Allena.


Aziel langsung mengangkat kepalanya menatap Allena, "Loh, kok nggak tau. Tadi iya, sekarang nggak tau. Yang jelas dong Allen". Cicit Aziel jengkel.


"Ya nggak tau Aziel. Lu kan tau gua udah punya...". Allena mengehentikan ucapannya, kemudian menghembuskan nafas bimbang, menatap serius Aziel, "Yaaa pokoknya itulah. Lu ngerti kan maksud gua?


"Yaudah kalian tinggal putusin aja pertunangan kalian, gampang kan. Itu aja kok repot". Sahut Aziel.


"Lu gob*lok ya!? Lu kira tali main putusin aja. Nggak gampang EL, buat gua langsung minta putusin gitu aja pertunangan gua sama Louis". Cetus Allena frustasi dengan jalan pikiran Aziel.


"Kenapa? Emang apa alasannya Allen?


"Pokoknya ada lah, lu nggak akan ngerti. Susah buat gua ngejelasinnya.


Raut wajah Aziel langsung berubah memelas. Pria itu kembali memeluk Allena posesif, "Nggak mau gua Allen kalau sampai lu nikah sama Louis. Bisa gila gua nanti!". Desis Aziel yang sudah kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Allena.


Sedang Allena hanya diam sembari membalas pelukan Aziel dengan nyaman. Namun pandangannya tertuju ke depan seperti menyiratkan sesuatu.

__ADS_1



__ADS_2