
Saat ini terlihat Mommy Tiara yang melangkah menuruni tangga. Mommy Tiara ternyata pulang hari ini setelah dari Negara Amerika.
"Tante?". Terlihat wajah antusias dari Zee. Gadis itu kemudian menghampiri Mommy Tiara yang sedang berjalan kearah mereka.
"Tante kapan tibanya? Kok nggak ada ngabarin Tan?". Ucap Zee sambil menyalami Mommy Tiara.
Mommy Tiara tersenyum, "Tante udah tiba sejam yang lalu". Jawab Mommy Tiara.
Kemudian Tessa juga Airin ikut menghampiri Mommy Tiara dan mencium punggung tangan beliau disusul Louis. Sementara Allena hanya diam ditempatnya melihat pemandangan itu.
Mereka kemudian duduk kembali dikursi sofa di ruangan itu.
"Jadi mobil yang didepan itu mobil Tante? Kok Tante nggak kasih tau ke kita pulangnya hari ini? Biar nanti harusnya kita jemput Tante di bandara". Ucap Tessa.
"Tidak perlu. Tante juga nggak bakalan lama disini. Minggu depan Tante akan balik lagi ke Amerika. Tante disini cuman mau nyelesaiin masalah pekerjaan Tante saja. Makanya Tante bawa mobil sendiri". Jawab Mommy Tiara.
"Jadi Tante cuman seminggu doang disini? Yaahh.. cepat banget Tante baliknya". Ucap Zee dengan tampang memelas.
"Iya nggak papa". Jawab Mommy Tiara sambil tersenyum. "Makasih juga ya untuk kalian semua karena sudah mau nemenin Allena selama Tante ke luar negri". Sambung Mommy Tiara.
"Iya sama-sama Tante. Kita-kita juga senang kok bisa temenin Allena". Timpal Airin tersenyum.
Allena yang sedari tadi hanya diam melihat dan mendengar lengsung berdiri dari duduknya. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya menuju tangga.
"Allena sayang! Kamu mau kemana Nak? Ada Mommy loh disini. Kamu nggak mau menyambut kedatangan Mommy kamu?". Seru Mommy Tiara saat melihat Allena yang ingin pergi.
Allena sontak menghentikan langkahnya dan berbalik dengan ekspresi datarnya, "Emang harus? Nggak kan". Jawab Allena dingin.
Allena kemudian kembali melangkahkan kakinya tak peduli dan pergi dari sana menuju kamarnya yang ada dilantai dua.
Ketiga sahabat Allena yang melihat itu hanya saling melirik satu sama lain karena sikap Allena kepada Mommynya.
Sementara Louis, pria itu benar-benar tak habis pikir dengan sifat Allena itu. Sama sekali tak ada perubahan kepada orang tuanya. Selalu bersikap dingin dan datar tak bersahabat.
Sedang Mommy Tiara yang melihat Allena anaknya bereaksi seperti itu, hanya mampu menghela nafas. Anaknya itu sepertinya akan selalu seperti itu kepadanya. Seperti orang asing, bukan seperti antara seorang Ibu dengan anak.
...*****...
Malam harinya Allena akan menonton pertandingan sahabatnya Tessa. Gadis itu akan bertanding bola takraw melawan dari sekolahan lain.
Memang dalam acara kegiatan yang dibuat oleh Aziel ini ada sebanyak lima sekolah yang ikut terlibat. Termasuk SMKN Putra Bangsa.
Allena berangkat bersama Louis. Pria itu memang memaksa Allena untuk ikut dengannya.
Ketiga sahabat wanita Allena, mereka memang sudah balik sore tadi. Mereka datang hanya untuk mengambil beberapa barang yang mereka simpan di rumah Allena saat mereka menemani Allena untuk tinggal disana.
Dan kini terlihat mereka ikut menonton pertandingan tersebut dan sudah berada dalam kumpulan suporter pendukung yang ikut menonton pertandingan.
Terdengar suara teriakan dari berbagai suporter yang mendukung jagoan mereka. Bahkan tidak sedikit dari sekolahan lain yang datang untuk ikut mendukung Tessa. Gadis itu memang terkenal kelihaiannya dalam olahraga atletik itu.
Disana juga ada Alvian dan Gamma serta Zee dan Airin.
"Allena...!!". Teriak Zee melambai-lambaikan tangannya kearah Allena dari sisi lain tempat suporter tak jauh dari tempat dia berdiri.
"Sini!!". Panggil Zee lagi saat Allena sudah menoleh kearahnya.
Allena yang dipanggil segera beranjak dari tempatnya menghampiri Zee dan juga Airin disisi lain lapangan. Louis yang melihat Allena pergi segera menyusul gadis itu ikut bergabung bersama mereka.
"Datang sama calon suami Len? Ciee.. Allena". Goda Alvian yang juga ada disana.
"Harus dong. Sebagai calon suami yang baik, kita harus menemani calon istri kita kemanapun dia pergi, agar kita bisa selalu memastikan aman atau tidaknya calon bini kita. Iya nggak Len?". Balas Louis menoleh kearah Allena sambil menaik turunkan alisnya dihadapan gadis itu.
"Jiakhh.. bisa aja lo. Tapi kok tadi kalah pas tanding basket ama kita. Gimana tuh?". Timpal Gamma.
__ADS_1
Louis menoleh kearah dua pria itu, "Tenang aja, itu baru permulaan kok. Lain kali gue pastiin, gue sama tim gue bakalan menang, dan lo lo pada bakal kalah. Lihat aja nanti". Ucap Louis dengan sombongnya.
Gamma dan Alvian saling melirik satu sama lain dengan ekspresi menahan tawa, "Iyakhaa Maniess!!". Ejek Alvian dan Gamma bersamaan dengan tertawa melihat Louis.
Louis yang merasa diremehkan tentu saja tak terima, "Awas ya lo lo pada. Gue tampol juga lo bedua". Ucap Louis dengan mengangkat tangannya ingin menampol.
Allena yang merasa terganggu dengan keributan ketiga pria itu mulai kesal, "Lu bertiga bisa diem nggak". Ucap Allena seketika sambil menatap datar ketiga pria itu secara bergantian. Tatapan yang begitu menohok.
"Kalian kalau mau adu bacot jangan disini. Ngerocos mulu kaya cewek. Kalian mau jadi banci". Sambung Allena yang membuat ketiga pria tadi langsung terdiam.
"Nonton aja pertandingannya, kalian nggak usah banyak omong. Berisik banget". Sinis Allena lagi.
Allena kemudian kembali beralih menoleh kearah lapangan yang saat ini tengah berlangsungnya pertandingan.
Sementara ketiga pria tadi hanya saling melototkan mata satu sama lain tanpa berbicara sedikitpun. Takut Allena akan marah lagi dan benar-benar akan mengeluarkan kata-kata yang menohok hati.
Sementara saat ini, terlihat Tessa yang sedang bertanding melawan tim sekolahan lain.
Tiba-tiba terlihat pertandingan diberhentikan karena terjadi insiden dimana Tessa terjatuh dengan tangannya yang tak bisa menopang tubuhnya sehingga membuat tangannya itu cedera.
Tessa kemudian dibawah kesisi lain lapangan, tempat untuk beristirahat.
Allena dan yang lainnya melihat itu segera berlari kearah tempat beristirahat tersebut untuk melihat keadaan sahabat mereka itu.
Terlihat Tessa yang sedang ditangani oleh petugas kesehatan.
"Aduhh.. Yaampun Sa, kok bisa jadi kaya gini". Desis Gamma tiba-tiba yang terlihat khawatir + resah. "Kalau Bokap lo tau gimana? Waduh berabe nanti urusannya. Gue yang dimarahin nih pasti, pasti dah gue yakin. Aduhh!!". Sambung Gamma yang terlihat resah sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya mondar-mandir.
"Ya mana gue tau Gam, bakal kaya gini. Gue jugakan nggak tau". Balas Tessa, "Lagian, lo bisa diem nggak sih, sakit nih tangan gue". Sambung Tessa menatap kesal kearah Gamma yang malah memarahinya.
Louis tiba-tiba bersuara, "Nah kan, lihat. Apa gue bilang. Lo itu nggak bisa main, pasti bakalan kaya gini akhirnya. Nah, terjadi juga kan". Ucap Louis sambil berjalan kearah Tessa yang sedang duduk.
Louis kemudian duduk disamping Tessa, "Mana coba, gue lihat tangan lo". Ucap Louis menengadahkan tangannya.
"Udah sini mana tangan lo, gue mau lihat. Bawel banget jadi orang. Mau ditolongin juga". Louis menarik lengan Tessa yang cedera.
"Eh.. nggak usah-nggak usah. Nggak yakin gue sama lo. Lagian kan ada petugasnya disini, nggak usah sok mau nolongin gue lo. Palingan juga lo ngarang". Tolak Tessa.
"Nih cewek ya, ditolongin juga. Gue tuh ahlinya. Percaya aja napa, susah banget dibilangin. Mana coba sini tangan lo". Louis kembali menarik tangan Tessa dan memperhatikannya dengan serius.
"Yaudah pelan-pelan napa. Ikhlas nggak sih nolonginnya. Kasar banget perasaan". Ringis Tessa.
"Udah diem, gue lihat dulu". Ucap Louis sambil terus memperhatikan tangan Tessa yang cedera dengan teliti. Seperti dokter saja😅
Sementara itu Allena yang sedang memperhatikan, tiba-tiba saja lengannya ditarik kasar oleh seseorang dari belakang.
Orang itu terus menarik Allena dengan kuat hingga keluar dari lapangan dan membawa Allena kedalam ruangan musik yang ada didalam aula itu. Allena dihempaskan dengan kasar hingga kedalam ruangan, sementara orang tersebut terlihat menutup pintu. Disana sangat sepi tak ada yang latihan. Lampu-lampu didalam ruangan itu dimatikan.
Orang itu yang ternyata adalah Aziel, kemudian melangkahkan kakinya mendekat kearah Allena dan mencengkram lengan gadis itu dengan kuat.
"Lu gila ya! Lepasin tangan gua, gua mau keluar. Ngapain lu bawa gua kesini?". Allena menatap tajam kearah Aziel.
Meskipun disana gelap namun masih ada sinar cahaya rembulan yang masuk dari lubang ventilasi ruangan musik itu. Sehingga Aziel dapat melihat sorot mata Allena yang menatapnya dengan tajam.
Allena menepis tangan Aziel berlari ingin kearah pintu. Namun Aziel dengan cepat menyusul Allena dan kembali meraih lengan Allena menahan gadis itu.
"Mau kemana Baby?". Ucap Aziel kemudian.
"Lepasin! Gua mau keluar. Lepasin!". Allena memberontak minta dilepaskan.
"Nggak. Gua nggak akan lepasin lu". Balas Aziel tegas.
__ADS_1
Allena menatap kesal kearah Aziel, "Mau lu apa sebenarnya ama gua? Jangan buat gua bingung". Desis Allena tak mengerti dengan sikap Aziel padanya.
"Gua cuman mau lu nggak dekat-dekat sama cowok itu. Lu tadi datang kesini sama cowo tadi itukan?". Aziel terlihat marah.
"Hah? Lu gila apa gimana? Gua udah bilang ama lu, lu nggak ada hak apapun buat ngelarang gua dekat sama cowok siapapun itu". Ucap Allena menegaskan kata-katanya.
Aziel semakin mencengkram lengan Allena, "Dan gua udah pernah bilang, lu itu cuman milik gua, ngerti nggak! Gua nggak suka milik gua disentuh sama orang lain". Tegas Aziel berbicara dihadapan Allena.
Allena menggeleng, "Dasar sinting!". Umpat Allena melangkahkan kakinya agar Aziel melepaskan cengkramannya, namun pria itu tak berniat sedikitpun untuk melepaskan Allena.
Aziel bahkan menarik lengan Allena dan langsung meraup bibir Allena mencium bibir gadis itu.
Allena sontak saja kaget membulatkan matanya. Allena kemudian berusaha mendorong Aziel, tetapi pria itu langsung saja menahan pergerakan Allena dengan meraih pinggang Allena kearahnya dan menahan tengkuk gadis itu dengan kuat. Dilu*matnya Aziel bibir Allena dengan kasar.
Allena terus berusaha mendorong Aziel, dia hampir kehabisan nafas karena Aziel tak kunjung melepaskan pagutannya.
Akhirnya setelah beberapa detik Aziel melepaskan ciumannya tanpa melepas pelukannya dipinggang Allena. Pria itu menatap wajah Allena dengan tersenyum miring.
Sementara Allena terlihat menatap kesal kearah Aziel, "Lu gila, lu sinting". Umpat Allena.
"Why Baby ? Keberatan, hmm?". Desis Aziel sambil menaikan alisnya keatas.
"Lu pikir sendiri". Ucap Allena kesal.
Aziel menunjukan senyum smirk khas dirinya, "Loh, kenapa Allena? Bukannya lu sendiri yang bilang, kalau cowo sama cewe saling berciuman tanpa hubungan apapun sudah menjadi hal yang biasa. Begitupun lu ama gua. Iya kan?". Ucap Aziel tenang sambil terus menatap Allena tak melepaskan pelukannya.
"Jadi kalau gua lakuin itu ke lu, mau berapa kalipun gua cium lu, mau sampai bibir lu ini habis ama gua, sah-sah aja kan Allena". Sambung Aziel. Pria itu kemudian kembali mendekatkan wajahnya ingin kembali merasakan bibir ranum Allena.
Namun dengan cepat Allena mendorong Aziel melepaskan dirinya dari pelukan pria itu.
"Lu emang gila". Umpat Allena. "Mau lu apa sebenarnya ama gua? Jangan buat gua bingung kaya gini". Desis Allena. Gadis itu tak suka dengan cara Aziel yang memperlakukannya. Pria itu seperti mempermainkan perasaan Allena.
"Gua emang bilang lu cuman milik gua. Tapi lu nganggepnya hanya karena gua nafsu doangkan ama lu. So, kalau lu emang pikirnya kaya gitu, yaudah anggep aja kaya gitu. Selesaikan!". Jawab Aziel santai.
Allena yang mendengar jawaban Aziel hanya memandang Aziel bingung. Pria itu benar-benar tak mengerti akan perasaannya. Allena mengepalkan kedua tangannya dengan kuat sambil terus menatap Aziel.
"Lu...". Ucap Allena terhenti. Gadis itu tak ingin melanjutkan kata-katanya.
Allena kemudian beralih menatap pintu yang masih dalam keadaan tertutup, "Bukain nggak pintunya! Gua mau keluar". Ucap Allena kemudian.
"Nggak bakalan gua bukain". Balas Aziel.
"Hah? Terus lu mau apa lagi? Udah selesai juga kan. Apalagi yang lo lama-lamain? Gua mau keluar". Ucap Allena yang semakin kesal.
"Gua masih mau ngerasain bibir lu". Jawab Aziel cepat.
"Nggak, gua nggak mau". Tolak Allena langsung. "Sekarang lu bukain pintunya, gua mau keluar sekarang juga. Bukain pintunya!". Paksa Allena masih dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Kenapa Allena? Kita udah beberapa kali juga kan ngelakuin hal yang biasa disebut dengan ciuman bibir itu. Bahkan kita berdua saling menikmatinya juga. Kenapa sekarang nggak bisa, lo nggak mau?". Ucap Aziel dengan nada mengejek.
"Gua nggak mau. Dan gua pastiin hal yang kaya gitu nggak bakalan pernah terjadi lagi. Mulai hari ini bahkan seterusnya". Balas Allena dengan mantap.
Aziel yang mendengar perkataan Allena hanya tersenyum meremehkan, "Oh ya? Benarkah itu Baby ?". Aziel mendekati Allena.
"Kalau begitu coba lu mulai dari yang ini. Lu bisa keluar dari ruangan ini?". Ucap Aziel yang saat ini sudah dihadapan Allena.
Sementara Allena, gadis itu hanya bisa menatap pintu yang masi tertutup lalu berbalik mendongakan kepalanya keatas menatap Aziel yang juga sedang menatapnya dengan senyum smirk khas cowok itu. Cahaya rembulan bahkan bisa memperlihatkan wajah Aziel yang lebih mendominasi.
Allena semakin mengepal kuat sambil terus menatap Aziel.
Sedang Aziel kemudian mulai mengangkat kedua tangannya, meraih pinggang ramping Allena, mendekatkan tubuh gadis itu kearahnya lalu berbisik ketelinganya.
__ADS_1
"Lu nggak akan pernah bisa lepas dari gua.