Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 46 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

New York, Amerika Serikat pukul 23.30


Allena sedang berjalan masuk mansion. Saat Allena ingin menuju tangga, dia tiba-tiba dikagetkan dengan suara seorang pria yang berbicara dari arah belakang namun terdengar mengintimidasi.


"Dari mana saja kamu Allena? Sudah jam berapa ini? Apa kamu tidak tau ini sudah larut malam?". Seru pria tersebut yang ternyata adalah Papah Robert.


Allena yang mendengar itu seketika berbalik ke belakang. Terlihat Papa Robert yang sedang berdiri dengan ekspresi ingin marah. Dsamping Papa Robert ada Mommy Tiara yang sedang menenangkan Papa Robert agar tidak marah.


"Ada apa Pa?". Tanya Allena datar.


"Kamu tanya ada apa? Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang?". Bentak Papa Robert.


Teriakan Papa Robert itu ternyata didengar oleh Renold yang saat ini sedang berada di ruang kerja lantai bawah. Renold kemudian keluar dan menghampiri mereka semua yang ada di ruang tamu.


"Udah Pah jangan marah-marah? Jangan teriak-teriak begitu. Nggak enak didengarnya Pah". Ucap Mommy Tiara menenangkan Papa Robert sambil mengelus-elus punggung dan dada suaminya itu.


"Gimana Papah nggak marah Ma? Anak kita yang satu ini, dia baru pulang. Coba lihat sudah jam berapa ini. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Allena bagaimana? Apa Mamah nggak khawatir?". Ucap Papah Robert.


"Iya Pah Mamah tau. Tapi bisa kan Papah nggak usah teriak-teriak begitu". Ucap Mommy Tiara menasihati.


Allena tak menggubris. Gadis itu langsung saja ingin kembali melangkahkan kakinya.


"Allena mau kemana kamu? Orang tua masih bicara kamu main pergi saja. Hargai Papah dan Mamah". Tegur Kak Renold.


"Allena! Papah masih ingin bicara sama kamu". Teriak Papah Robert tiba-tiba.


"Huff...! Apa lagi sih? Allena ngantuk mau ke kamar. Lagian Papah juga udah lihatkan Allena nggak kenapa-napa. Papah mau ngomong apa lagi sama Allena?". Ucap Allena dengan ekspresi malasnya.


"Kamu makin hari makin kurang ajar ya Allena. Berani sekali kamu berbicara dengan nada seperti itu pada orang tua. Diajarin siapa kamu? Diajarin sama pacar kamu yang dari Indonesia itu". Ucap Kak Renold dengan sedikit meninggikan suaranya.


Allena yang mendengar itu seketika merasa marah. Dihampirinya kakaknya itu.


"Kak Renold ngomong apa tadi? Kak Renold jangan pernah ngomong sembarangan tentang orang itu. Ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan orang yang Allena suka. Kak Renold jangan pernah bawa-bawa orang itu". Ucap Allena sambil menunjuk Kak Renold.


"Kak Renold urus saja urusan pekerjaan Kak Renold itu. Dan tetaplah menjadi mesin pekerja untuk Papah". Lanjut Allena dengan nada mencibir.


"ALLENA!!". Bentak Papah Robert tiba-tiba.


Papah Robert langsung saja melangkahkan kakinya menghampiri kedua anaknya yang sedang berseteru itu.


"Papah sudah pernah bilang sama kamu Papah akan menjodohkan kamu dengan laki-laki lain. Kamu jangan pernah berharap bisa bersama dengan laki-laki yang berasal dari Indonesia itu. Papah tidak akan pernah menyetujuinya". Ucap Papah Robert memperingati.


"Tapi Pah kenapa? Mamah juga asalnya dari Indonesia kan. Kenapa Allena nggak bisa?". Tanya Allena.


"Disini keadaannya berbeda Allena". Jawab Papah Robert.


"Berbeda? Berbeda apanya Pah? Apanya yang berbeda. Coba Papah jelasin biar Allena nggak bingung dengan maksud Papah". Ucap Allena.


"Pokoknya kamu tidak boleh berhubungan dengan laki-laki itu. Kalau sampai Papah tau kamu masih berhubungan, kamu akan lihat apa yang akan Papah lakukan pada laki-laki itu". Ancam Papah Robert.


"Pah! Papah kok tega sama Allena seperti itu. Papah tau Papah udah ngancurin semua impian Allena. Papah ngerusak semuanya". Ucap Allena.


"Papah jahat tau nggak". Ucap Allena lagi.


Allena kemudian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Papahnya dan pergi dari tempat itu menuju tangga.


"Allena mau kemana kamu? Papah masih belum selesai bicara". Teriak Papah Robert.


"Asal kamu tau Papah akan tetap menjodohkan kamu dengan laki-laki pilihan Papah". Teriak Papah Robert lagi.


Sementara Allena, gadis itu tidak peduli dengan teriakan Papahnya dan tetap melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setibanya dalam kamar, Allena langsung saja menuju ke arah meja riasnya dan duduk dikursi yang ada didepan meja rias tersebut.


Allena kemudian duduk disana sambil menenangkan dirinya. Dipandanginya bayangan dirinya dari pantulan cermin besar dihadapannya.


Tiba-tiba Allena menunduk sambil memijit pelipisnya. Terdengar suara isakan yang keluar dari bibirnya. Ternyata Allena sedang menangis.


Sudah lama sekali Allena menangis. Dan itu untuk pertama kalinya lagi dia menangis. Tapi yang dirasakannya saat ini benar-benar membuat dadanya sesak dan hatinya sakit.

__ADS_1


"H..hhikss.. hhikss..!! Hikkss!!". Isak Allena dengan sambil menunduk memijit pelipisnya dan sesekali menyeka air matanya.


"Sakit banget yaampun... Hikss! ". Ucap Allena menangis dengan meremas dada bagian kirinya.


"Gua kangen banget sama lu El.. Gua kangeeenn banget. Hiks!". Ucap Allena seketika.


Allena tiba-tiba merasa sangat merindukan Aziel. Gadis itu tidak tahu sejak kapan dia menyukai Aziel. Tapi yang jelas dia benar-benar sangat rindu akan Aziel.


"Maaf ya Tuhan! Tapi saya benar-benar sangat merindukan laki-laki itu. Saya benar-benar merindukan Aziel". Ucap Allena disela-sela tangisannya.


Allena seharusnya mengakui bahwa dia mulai menyukai Aziel. Setiap kali Allena melihat Aziel bersama Alexa hatinya selalu merasa sesak. Akan tetapi Allena selalu mencoba untuk menahannya dan selalu bersikap sok tidak peduli.


Allena kemudian mengangkat kepalanya ke atas mencoba berhenti untuk menangis. Dihebuskannya nafasnya untuk menenangkan dirinya.


Akan tetapi Allena kembali menangis. Gadis itu benar-benar tidak bisa untuk tidak menangis. Dadanya terasa sesak. Dan itu membuatnya sangat merasakan sakit dihatinya.


"Hiks.. Hikhss..!". Isak Allena menangis sambil menutup matanya menggunakan telapak tangannya.


Indonesia Pukul 10.30 WIB


Dilain tempat tepatnya di Indonesia, saat ini Aziel sedang berada di apartemennya. Terlihat Aziel tengah mengutak-atik laptopnya.


Saat sedang melakukan aktivitasnya, Aziel tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Aziel langsung mencengkram dada kirinya mencoba merasakan debaran jantungnya.


"Kok tiba-tiba jantung gua berdetak kencang gini ya? Hah.. hah!!". Desis Aziel sambil menghebuskan nafasnya perlahan.


"Gua juga tiba-tiba kepikiran sama Allena. Dia kenapa ya? Keadaan dia lagi gimana? Gua kepikiran dia banget nih sekarang". Ucap Aziel masih merasakan jantungnya berdetak.


"Huff...! Tenang Aziel tenang! Allena nggak kenapa-napa kok". Ucap Aziel menetralkan dirinya dan pikirannya.


Aziel kemudian melirik ke arah akuarium ikan yang pernah dibawah oleh Allena waktu dulu. Sedetik kemudian Aziel langsung saja berdiri mengambil jaketnya disofa dan mengambil kunci motornya.


"Tapi gua nggak bisa nggak mikirin Allena terus". Desis Aziel langsung berjalan keluar apartemennya.


Aziel kemudian berlari ke arah motornya yang ada di parkiran dan langsung menyalakan motornya lalu pergi dari sana.


Saat ini Aziel sedang berencana menuju ke rumah Allena. Laki-laki itu tentu saja mengetahui dimana rumah Allena, karena Aziel pernah mengantar Allena pulang. Aziel sedikit mempercepat laju motornya.


Tidak berapa lama keluar seorang Satpam yang bekerja disana. Satpam tersebut pun langsung menghampiri Aziel.


"Ada apa Mas pagi-pagi datang kesini? Masnya ada keperluan apa ya kalau boleh tau?". Tanya Satpam tersebut.


"Begini Pak, saya datang kesini mau ketemu sama Allena. Allenanya ada nggak Pak?". Ucap Aziel menyampaikan kedatangannya untuk apa.


"Oohh.. Non Allena! Begini Mas, Non Allenanya sedang tidak ada. Non Allenanya lagi pergi". Ucap Satpam tersebut memberi tau.


"Kalau boleh tau Allena kemana ya? Allena juga perginya sama siapa?". Tanya Aziel lagi.


"Maaf Mas. Kalau boleh tau Mas ganteng ini siapanya Non Allena?". Tanya Satpam itu.


"Saya teman sekolahnya Allena. Saya kesini soalnya ada urusan sama Allena". Ucap Aziel.


"Owalahh.. Begitu to! Maaf Mas begini. Non Allena pergi sama Ibunya. Mereka sedang keluar negeri. Saya juga kurang tau mereka pulangnya kapan". Jelas Satpam tersebut.


"Kalau boleh tau keluar negrinya itu dimana ya Pak?". Tanya Aziel.


"Waduhh..! Itu juga saya nggak tau Mas. Maaf!". Ucap Satpam itu.


"Yasudah.. Kalau begitu saya pulang dulu ya Pak. Makasih sudah mau kasih tau sama saya". Ucap Aziel.


"Iya Mas sama-sama. Saya minta maaf karena saya juga kurang tau Non Allena sama Ibunya keluar negerinya kemana". Ucap Satpam tersebut.


"Iya Pak nggak apa-apa. Kalau begitu sekali lagi terima kasih. Saya pulang dulu ya Pak". Ucap Aziel seraya berjalan ke arah motornya.


"Iya Mas sama-sama". Ucap Satpam itu lagi.


Aziel kemudian menaiki motornya dan menyalakannya, lalu pergi dari sana.


Malam Hari Pukul 19.45 WIB

__ADS_1


Saat ini Alexa sedang berada dipinggir jalan dengan keadaan mobilnya yang sedang mogok.


"Duhh... nih mobil ngapain pake mogok segala sih? Mana mogoknya ditempat kek gini lagi. Serem banget yaampun". Desis Alexa pasrah sambil melihat sekelilingnya.


Saat ini Alexa sedang berada disamping jalan yang sangat sepi. Sekelilingnya dipenuhi dengan pohon-pohon bambu dan pohon besar yang ada disamping kiri kanan jalan.


Alexa sebenarnya ingin menemui ke-2 sahabatnya Chika dan Hera. Tapi saat ditengah jalan mobilnya tiba-tiba mati dan berhenti. Berakhirlah Alexa ditempat seram tersebut.


"Ngapa lo mogok disini yaelahh..! Terus gue pulangnya pake apa dong? Huwaaa....!yaampun serem banget. Takut gue ya Tuhan". Cicit Alexa ketakutan.


Saat Alexa sedang bergumul dengan mobilnya, tiba-tiba dari jarak jauh muncul cahaya yang berasal dari motor seseorang.


Orang tersebut langsung berhenti tepat disamping mobil Alexa.


"Woyy...! Ngapain lo disini? Mobil lo mogok?". Teriak orang tersebut yang ternyata adalah Brayen.


Alexa yang mengetahui suara orang tersebut langsung saja berbalik ke arah Brayen.


"Dih.. Buta mata lo? Ya mogok lah mobil gue. Pake nanya lagi lo. Bikin tambah emosi aja. Orang udah emosi, tambah emosikan gue". Ketus Alexa sambil beralih ke arah mobilnya kembali.


"Dih dih dih.. Emosian banget sih lo jadi cewe. Galak bener". Ucap Brayen heran akan sikap Alexa.


"Ya ngapain pake nanya? Udah tau mobil gue mogok. Nanya lagi lo". Celoteh Alexa.


"Eh.. Kalau lo nggak mau bantuin mending pergi deh lo sana. Ganggu aja". Sinis Alexa.


"Yaudah kalau gitu gue pergi. Karena gue nggak mau bantuin lo". Ucap Brayen.


"Dihh.. Pergi sana. Gue juga nggak butuh bantuan lo kali. Sana sana pergi!". Celoteh Alexa sambil mengayunkan tangannya seperti gaya menyuruh orang pergi.


Brayen kemudian menyalakan mesin motornya. Sementara Alexa, gadis itu sebenarnya takut jika Brayen akan meninggalkannya sendirian ditempat seperti itu. Tetapi Alexa mencoba untuk menahan rasa takutnya. Kegengsiannya terhadap Brayen sangat besar.


Tidak berapa lama Brayen mematikan mesin motornya. Lelaki itu ternyata tidak beranjak pergi dari sana. Brayen malah turun dari motornya dan beranjak menghampiri Alexa.


"Gue nggak mungkin kali Lex ninggalin lo sendirian disini. Kalau sampai lo kenapa-napa gimana? Entar gue lagi yang disalahin, karena orang terakhir yang lagi sama lo kan gue. Bisa berabe nanti jadinya. Gue juga nggak sejahat itu kali ninggalin cewe tengil kaya lo". Ucap Brayen sambil sedikit menggeser Alexa.


"Yee...! Lo mau bantuin gue apa mau nyari ribut sih ama gue?". Desis Alexa sambil mendorong Brayen yang membuat laki-laki itu kaget.


"Lo mau gue bantuin apa nggak sih? Gue tinggal beneran tau rasa lo". Celoteh Brayen sambil kembali berjalan ke arah Alexa.


"Eh.. eh.. eh..! Kalau nggak niat tolong nggak usah tolongin. Nggak ikhlas lo nolongin gue?". Celoteh Alexa.


"Dih.. Ni cewek ya, mau ditolongin juga malah marah-marah terus. Udah sono-sono gue lihat dulu nih mobil". Ucap Brayen sambil melihat keadaan mobil Alexa.


Setelah beberapa menit mengecek, Brayen kemudian menutup cap mobil Alexa.


"Lex, mobil lo ini harus dibawah kebengkel. Nggak bisa gue benerinnya". Jelas Brayen tiba-tiba.


"Mm.. Bilang aja lo nggak bisa benerin nih mobil. Sok bisa sih lo". Cibir Alexa.


"Yaelahh.. Dibilangin juga nih cewek. Gue bilang mobil lo itu harus dibawa ke bengkel. Ngerti nggak?". Ucap Brayen.


"Beneran? Aduhh...! Terus gue pulangnya gimana dong? Masa gue jalan kaki. Bisa-bisa patah nih kaki gue". Ucap Alexa memelas.


Brayen yang sedari tadi berdiri langsung saja menarik lengan Alexa menuju motornya.


"Udah.. Lo ikut gue aja. Gue bakalan antarin lo sampai rumah lo. Baik kan gue sama cewek tengil kaya lo". Ucap Brayen.


"Ih ih... Lepasin! Nggak mau gue. Pasti lo mau moduskan biar gue ngerasa utang budi sama lo. Udah nggak usah". Ucap Alexa sambil menepis tangan Brayen yang menggandengnya.


"Oohh.. Jadi lo nggak mau? Yaudah kalau gitu gue tinggalin aja lo disini". Ucap Brayen seraya meninggalkan Alexa.


Saat berjalan Brayen kepikiran sesuatu. Brayen ingin mengerjai Alexa. Laki-laki itu tiba-tiba mengeluarkan suara seperti suara kuntilanak.


"Hi.. hihihihi...!". Desis Brayen yang membuat Alexa kaget.


"Waaa.....! Suara apa itu? Brayen tungguin gue. Suara apa itu? Waaa...!". Teriak Alexa ketakutan sambil berlari ke arah Brayen.


Gadis itu langsung saja melompat kearah Brayen dan Brayen langsung saja menangkap Alexa menggendong gadis itu ala bride style.

__ADS_1


"Waaa....! Brayen tolongin gue suara apaan itu?". Teriak Alexa disela-sela gendongan Brayen.


Sementara Brayen, lelaki itu hanya tertawa melihat tingkah dan ekspresi Alexa yang menurutnya sangat lucu.


__ADS_2