Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 80 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Satu minggu berlalu, dan kini UAS telah selesai. Sekarang saatnya bagi kelas 12 mempersiapkan diri untuk melaksanakan Ujian yang akan dilaksanakan dua minggu lagi setelah UAS selesai.


Sementara bagi kelas 10 dan kelas 11 kembali melanjutkan latihan mereka untuk acara yang akan dilaksanakan di SMA Negeri Nasional nanti.


Akan ada banyak acara yang telah disusun oleh Aziel dan anggota OSIS yang lainnya.


Terlihat hari ini banyak murid-murid SMAN Nasional berdatangan ke sekolah untuk kembali melanjutkan latihan mereka untuk acara kegiatan nanti.


Saat ini Allena dan anggota OSIS SMAN Nasional tengah mengadakan rapat di ruang OSIS.


Allena selaku sebagai donatur acara tersebut harus datang, agar mengetahui apa-apa saja agenda yang telah di susun oleh Aziel selaku Ketua OSIS di sekolah tersebut.


Alexa yang awalnya ingin meminta Papinya menjadi donatur diacara tersebut semakin kesal kepada Allena ketika mengetahui gadis itu yang sudah menjadi donatur tetap.


Niatnya ingin semakin dekat dengan Aziel kini tak tercapai karena adanya Allena.


Alexa semakin kesal pada Allena. Perempuan itu selalu saja menghalangi keinginan Alexa untuk mendapatkan Aziel. Melihat kedekatan Aziel dan Allena membuat Alexa semakin tak suka pada Allena.


Sementara Brayen tak ikut rapat pada hari ini, karena harus belajar untuk Ujian nanti. Dia harus belajar ekstra agar nilainya tak anjlok nanti. Bagaimanapun dia adalah salah satu murid tercerdas ditingkatannya, dan dia harus mempertahankan itu. Yaa.. meskipun dia termasuk orang mesum(Kata Alexa)๐Ÿคญ๐Ÿ˜…


...*****...


Dan kini rapat telah selesai. Terlihat para anggota OSIS mulai keluar dari ruangan, terkecuali Aziel yang saat ini sedang membereskan barang-barangnya diatas meja.


"Allena, tunggu!!". Teriak Aziel pada Allena yang saat itu sudah berada diambang pintu. Gadis itu berada paling belakang saat para anggota OSIS telah pergi.


Allena seketika berhenti lalu menoleh kearah Aziel, "Kenapa?". Tanya Allena yang masih berdiri diambang pintu.


"Tolong lu ambilin gua buku jurnal yang dalam lemari dekat lu itu dong. Gua mau pakai soalnya". Ucap Aziel sedikit keras tanpa menoleh kearah Allena dan masih terlihat membereskan barang-barangnya.


Allena berdecih, "Ck, nyusahin aja sih lu. Tunggu bentar, gua ambilin". Allena kemudian berbalik dan beranjak kearah lemari disisi ruangan yang tak jauh dari pintu masuk.


Aziel yang mendengar jawaban Allena seketika tersenyum miring, 'Yess.. kena lu Allena'. Batin Aziel.


Dengan cepat Aziel melangkah menuju pintu sambil melirik Allena yang terlihat masih tengah sibuk mencari barang suruhan Aziel tadi. Aziel kemudian langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.


"Duhh.. ini yang mana sih bukunya? Banyak bener. Ini bukan? Coba lu lihat sendiri dah". Ucap Allena bingung sambil melihat susunan buku besar yang banyak dalam lemari yang dibukanya.


Tiba-tiba ada lengan tangan terulur disebelah kanan Allena lalu tangan tersebut menggapai satu buku yang ada dalam lemari itu.


"Yang gua cari tuh ini, masa lu nggak tau". Ucap Aziel yang saat ini sudah berdiri dibelakang Allena dan langsung mengambil buku yang diraihnya tadi.


Sontak Allena kaget dan langsung berbalik menghadap Aziel yang saat ini sedang memandanginya sambil memegang buku tersebut.


"Lu kok tiba-tiba ada dibelakang gua? Bikin gua kaget tau nggak". Celoteh Allena sambil menetralkan nafasnya karena kaget.


Aziel tak menjawab. Pria itu hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Allena langsung saja memberikan tatapan kesal pada Aziel, "Rese banget sih lu ah". Kesal Allena beranjak dari hadapan Aziel menuju pintu dan ingin membukanya.


1 detik


2 detik


3 detik


"AZIEEEEELLL.......!!!". Tiba-tiba Allena berteriak sambil berbalik memandang kesal kearah Aziel.


"Why Baby?". Tanya Aziel sambil menaikan sebelah alisnya memandangi Allena.


"Kenapa lu kunci pintunyaaakkhh... Buka nggak pintunya!!". Ucap Allena yang terlihat semakin kesal.


"Kalau gua nggak mau, lu mau apa?". Aziel menunjukan senyum smirk khas dirinya.


Allena berdengus kesal, "Kalau lu nggak mau bukain pintunya, gua bakal teriak". Ancam Allena.


"Yaudah teriak aja, nggak bakal ada yang dengerin juga kok". Ucap Aziel yang terlihat santai.

__ADS_1


"Lu...". Ucap Allena terhenti.


Tanpa pikir panjang Allena berbalik kearah pintu dan langsung menggedor-gedor pintu tersebut dengan kuat.


"Toolongg... siapa pun bukain pintunya!! Gua dikunciin, Toolongg!!!". Teriak Allena yang masih terus memukul pintu dengan kuat.


Aziel yang melihat aksi Allena langsung saja membulatkan matanya kaget. Aziel tak mengira bahwa Allena akan berbuat demikian dengan tenaga yang kuat. Dengan cepat dia menghampiri Allena.


"Toolongg... toolongg... buk...". Teriakan Allena tiba-tiba terhenti karena Aziel yang sudah meraih tubuh Allena dan langsung membekap bibir gadis itu dengan telapak tangannya.


"Lu gila apa ya. Kalau bener ada yang datang gimana?". Ucap Aziel dengan wajah kagetnya akibat ulah Allena.


Allena langsung saja menggigit telapak tangan Aziel dengan kuat membuat pria itu melepaskan tangannya sambil meringis.


"Aw aw aw.. lu apa-apan sih Len, sakit nih tangan gua". Ringis Aziel sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang sakit.


"Makanya, lu jangan macam-macam ama gua. Bukain nggak pintunya sekarang!!". Pinta Allena memaksa dengan wajah galaknya.


"Ck, nggak mau gua". Decih Aziel yang masih menggoyang-goyangkan tangannya.


"Bukain pintunya Azieeell.. gua mau keluar". Ucap Allena lagi yang terlihat tak sabaran ingin segera dibukakan pintu.


"Gua nggak mau Allenaaaa... ngerti nggak". Balas Aziel yang tetap kekeh tak ingin membukakan pintu untuk Allena.


"Iishh... lu maunya apa sih? Dimintain buka pintu doang susah amat". Celoteh Allena yang mulai hilang kesabaran.


Aziel yang mendengar itu langsung menatap Allena serius, "Lu pengen tau gua maunya apa?". Ucap Aziel.


Allena berdengus kesal, "Hah... Yaudah lu maunya apa? Gua mau keluar nih, cepetan. Gerah gua ama lu lama-lama disini". Ucap Allena kesal.


Aziel kemudian mendekat kearah Allena. Terlihat Allena was-was karena Aziel yang mulai berjalan mendekatinya.


"Lu-lu.. mau apa?". Gagap Allena waspada.


Aziel kini sudah berdiri dihadapan Allena, "Lu mau taukan gua maunya apa? Oke gua bakal kasih tau". Ucap Aziel sambil menatap wajah Allena.


"Ssstt... diem". Ucap Aziel perlahan sambil meletakan telunjuknya dibibirnya sebagai pertanda agar Allena berhenti berbicara.


"Hei, natap sini!". Aziel berbicara sambil meraih dagu Allena agar menghadap kepadanya.


Manik mata mereka bertemu, saling pandang. Aziel melihat mata hazel cantik Allena yang begitu indah baginya. Pria itu kemudian beralih kearah bibir ranum Allena, "Uughh". Aziel sedikit bergumam, tak tahan melihat bibir itu lagi. Bibir milik gadis yang sering menghantui pikirannya.


"Gua mau...". Aziel menjeda kalimatnya membuat Allena mengangkat kedua alisnya keatasnya.


"Apa?". Tanya Allena.


"Gua mau...". Aziel menjeda kalimatnya lagi. Pria itu kemudian semakin mendekatkan dirinya kearah Allena, "Sebentar". Sambungnya lagi.


Aziel kemudian mengangkat tangannya lalu meraih pinggang ramping Allena dengan lembut. Satu tangannya lagi dia gunakan untuk meraih tengkuk leher Allena dan membawa wajah gadis itu kearahnya.


Aziel sedikit menunduk dan langsung mendekatkan wajahnya kearah wajah Allena lalu mencium bibir ranum manis Allena. Ditekannya tengkuk Allena untuk memperdalam ciumannya dan melu*mat bibir Allena dengan lembut.


Sementara Allena hanya diam tak membalas, membiarkan Aziel yang terus mencium bibirnya.


Hingga beberapa saat Aziel berhenti mencium bibir Allena lalu menjauhkan wajahnya tanpa melepaskan pelukannya dipinggang Allena.


Ditatapnya Aziel wajah Allena yang juga menatapnya. Tampak Allena hanya diam sambil memperhatikan wajah tampan Aziel.


Selang beberapa saat Aziel mendorong tubuh Allena agar berjalan mundur kebelakang sampai mentok kearah meja yang ada diruangan itu. Aziel kemudian mengangkat tubuh Allena dan mendudukannya di atas meja tersebut.


Lagi, dan lagi Aziel kembali memagut bibir Allena. Pria itu memang tak bisa menahannya jika sudah merasakan bibir Allena. Seperti ada sesuatu yang membuatnya candu dan ingin selalu merasakan bibir itu jika sudah menyentuhnya.


"Balas Len". Pinta Aziel saat dia merasakan Allena hanya diam tak membalas pagutannya.


Pria itu kemudian kembali meraih bibir Allena dan memagutnya kembali. Diraihnya pinggang ramping Allena dan memeluk wanita itu. Terlihat Aziel sangat nafsu akan bibir Allena.


Sementara Allena kemudian, dengan sekuat tenaga gadis itu mendorong Aziel agar melepaskan ciumannya dibibirnya.

__ADS_1


"Jangan lagi El hh...". Terlihat Allena menatap Aziel dengan wajah yang sayu. Gadis itu mulai merasakan hawa panas ditubuhnya akibat ciuman Aziel yang begitu hot dibibirnya.


Aziel membalas menatap wajah Allena, "Nggak bisa Len, gua bener-bener nggak bisa. Gua nggak tahan lihat bibir lu yang... shh... ughh....". Aziel benar-benar tak bisa menahannya. Jarak keduanya begitu dekat, membuat pria itu hampir gila sendiri setiap melihat bibir ranum Allena yang begitu menggoda imannya.


Aziel kemudian menangkup wajah Allena, menatap mata hazel cantik itu, "Gua pastiin lu akan selalu nerima ini dari gua". Aziel kemudian kembali ingin merasakan bibir Allena.


Namun dengan cepat Allena menahan dada bidang Aziel agar tak mendekatinya.


"El...". Allena menggeleng.


Aziel kemudian menatap Allena frustasi, "Gua mohon Len, gua bener-bener nggak tahan, lu tau". Aziel memohon.


Allena menggigit bibir dalamnya sambil menatap Aziel yang tengah memohon. Sebenarnya dia kasihan juga pada Aziel yang memohon seperti ini. Menurutnya ekspresi Aziel sangat lucu saat ini baginya. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu sehinggga menurutnya Aziel sangat lucu. Apa dia telah masuk mengikuti jejak Aziel, menjadi cewek yang mesum dan nafsuan๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Allena terus memandangi wajah tampan Aziel. Gadis itu kemudian mengangguk, "Yaudah, kalau gitu bentar aja ya". Jawab Allena kemudian, membuat pria yang ada dihadapannya saat ini langsung tersenyum senang.


"Oke". Balas Aziel langsung menangkup wajah Allena dan kembali mencium bibir Allena dengan intens.


Sesaat kemudian Aziel melepas ciumannya dan menatap wajah Allena, "Tapi gua nggak janji". Ucap Aziel lagi, kemudian kembali meraih bibir Allena dan memberikan luma*tan-luma*tan lembut disana.


Allena mengalungkan lengannya dileher Aziel. Gadis itu mulai terbelenggu dan kini membalas ciuman Aziel. Mereka saling menyesap satu sama lain. Merasakan bibir keduanya. Saling melu*mat satu sama lain.


Mereka mulai merasakan hawa panas ditubuh mereka masing-masing. Aziel kemudian menjauhkan wajahnya tanpa berbicara. Terlihat pria itu melepaskan hodiee yang dikenakannya dan menampilkan kaos tipis lengan pendek sebagai lapisannya.


Aziel membuang hodiee itu kesembarang arah dan kembali mendekati Allena.


"El..hh...". Lenguh Allena yang mengira itu sudah selesai.


Tapi ternyata tidak, Aziel tidak peduli. Pria itu kembali meraih pinggang Allena mendekatkan tubuh itu kearahnya lalu kembali meraup bibir Allena dan langsung melu*matnya.


Aziel benar-benar diambang nafsu sekarang. Pria itu tergila-gila akan kemolekan wajah Allena dan juga... bibir manis candunya itu. Kali ini dia ingin terus merasakan bibir gadis itu.


Aziel semakin mempererat pelukannya pada Allena dan terus menyesap. Allena bahkan sudah membalas dan juga mulai tak terkontrol. Dia ingin Aziel terus melu*mat bibirnya tak melepaskannya. Mata mereka terpejam mencari rasa dan kenikmatan dari pagutan bibir mereka.


Allena mengalungkan lengannya dileher Aziel dan membalas pelukan pria itu.


Mereka terus saling merasakan bibir sampai wajah mereka miring kekanan dan kekiri menikmati.


Beberapa menit kemudian Aziel melepaskan ciumannya dan membuka matanya menatap wajah Allena. Manik mata mereka bertemu saling pandang dalam diam.


Aziel kemudian meraih tubuh Allena dan memeluk erat Allena, menyembunyikan wajahnya diceruk leher Allena. Semakin erat memeluk pinggang ramping gadis itu. Aroma tubuh Allena yang begitu wangi membuat Aziel nyaman dipelukan gadis itu.


"Maaf Len, gua cuman nggak tahan kalau udah lihat bibir lu. Rasanya gua pengen terus dan terus rasain itu. Maaf kalau kebablasan". Ucap Aziel semakin mengeratkan pelukannya pada Allena.


Allena hanya membalas pelukan Aziel, "Hmm". Hanya itu yang keluar dari bibir Allena.


"Maaf sekali lagi. Sorry!! ". Ucap Aziel.


Allena tak menjawab. Gadis itu hanya membiarkan Aziel yang terus memeluknya dan menyembunyikan wajahnya diceruk lehernya.


"Uhmm..!! Jangan disitu El, geli". Ucap Allena tiba-tiba ketika Aziel terasa menghembuskan nafas diceruk lehernya.


Aziel yang mendengar itu kemudian mengangkat wajahnya tanpa melepaskan pelukannya dan memandang wajah Allena.


"Jangan dileher gua. Lu kira nggak geli apa". Ucap Allena sambil membalas tatapan Aziel padanya.


Aziel hanya berdengus pelan. Pria itu kemudian melirik bibir Allena. Tangannya terangkat lalu membelai bibir yang menjadi candunya itu.


"Bibir lu jadi bengkak kaya gini". Ucap Aziel pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari bibir Allena.


Allena yang mendengar itu langsung membulatkan matanya kaget, "Hah, yang bener lu? Coba mana gua mau lihat". Allena kemudian beranjak dari atas meja menuju lemari yang terdapat kaca besar disana.


"Hah, beneran bengkak!! Duhh.. terus ini gimana? Kalau sahabat-sahabat gua lihat gimana?". Desis Allena sambil melihat pantulan dirinya dikaca besar tersebut.


"Gara-gara lu sih, nafsuan. Jadinya gini kan". Sambung Allena yang masih berdiri disana.


Aziel yang mendengar itu hanya berdengus lucu sambil berjalan kearah Allena.

__ADS_1


"Itu lu tau gua nafsuan. Makanya jangan enak-enak banget tuh mulut. Kebablasan kan gua". Ucap Aziel dengan santainya tanpa memikirkan Allena yang terlihat kebingungan harus bagaimana.


__ADS_2