Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 67 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Aziel membuka pintu ruang OSIS. Dihadapannya sudah berdiri Setya dan juga anggota OSIS lainnya.


"Ngapain sih El lo didalam? Lama amat buka pintunya". Celoteh Setya pada Aziel.


Semua anggota OSIS yang ada disana memandangi Aziel dengan tatapan aneh. Pasalnya hampir 15 menit mereka menunggu, apa lagi dengan pintu ruangan yang dikunci.


Sementara Aziel tak menjawab. Pria itu hanya memasang tampang dinginnya seperti biasa. Aziel kemudian berjalan masuk kearah mejanya tanpa mempedulikan mereka.


"Oy El, ditanyain juga lo". Timpal Brayen melangkah masuk kedalam ruangan.


Aziel mendongakan kepalanya kearah Brayen. "Nggak usah bahas yang lain. Kita mulai rapatnya sekarang". Ucap Aziel dingin lalu beralih mengambil laptop miliknya.


"Mulai gimana El? Orang Allena aja nggak datang.


"Tuh cewek maunya gimana sih? Kalau gini terus kan bisa-bisa acara yang udah kita buat jadi kacau, cuman karena dia. Mentang-mentang jadi donatur, semaunya aja tuh cewek". Cibir Regina yang juga ada disana.


Tidak lama pintu kamar mandi yang terdapat di ruangan itu terbuka. Nampak Allena keluar dari dalam kamar mandi tersebut.


Mereka yang semua yang ada disana seketika menoleh dan memandangi Allena dengan tatapan kaget.


"Widih!! si cewek datar ada disini juga, kok bisa?". Seru Setya dengan ekspresi tak percaya.


Semua yang ada disana menatap Aziel dan Allena secara bergantian. Sementara yang ditatap, keduanya hanya bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kalian dari tadi berdua didalam sini? Ngapain?". Tanya Brayen seketika sambil memandangi Aziel dan Allena bergantian.


"El, kalian ngapain disini berduaan? Pintunya kalian kunci lagi". Sambung Brayen mengalihkan pandangannya kearah Aziel. Tiba-tiba Brayen merasa sedikit emosi melihat wanita yang disukainya berduaan dengan pria lain didalam ruangan, yang apa lagi pintunya sengaja dikunci.


Setya menyela. Pria itu memandang curiga Allena dan Aziel "Aaa.. gue curiga nih, jangan-jangan kalian habis ber...". Ucap Setya terhenti.


"Kita nggak ngapa-ngapain. Kalian nggak usah berpikir negatif". Potong Aziel dengan cepat. Pria itu masih sibuk mengutak-atik laptopnya dengan santai.


Brayen tak puas, pria itu ingin tahu yang sebenarnya "Nggak ngapa-ngapain gimana El? Jelas-jelas kalian cuman berdua disini tadi". Ucap Brayen dengan perasaan tak menentu. Dia mulai sedikit naik pitam.


Aziel menoleh kearah Brayen dan menatap pria itu dengan datar. Aziel tau Brayen saat ini pasti sedang menahan marah. Melihat Brayen dengan aura seperti itu Aziel tentu saja tau.


"Lu kalau nggak percaya, tanya aja sama Allena". Ucap Aziel sambil beralih menatap Allena yang masi diam ditempatnya. Tatapan pria itu seperti mengisyaratkan sesuatu.


Brayen menatap Allena meminta penjelasan, "Len!". Seru Brayen.


"Gua datang kesini cuman untuk rapat, bukan untuk sesuatu hal dan juga bukan untuk ngomongin hal yang nggak penting". Jawab Allena tenang.


"So, kita mulai aja rapatnya sekarang. Nggak usah basa-basi". Sambung Allena lagi, lalu berjalan menuju kursi yang ada disana dan duduk dengan tenang.


Regina yang sedari tadi sudah kesal menyela, "Kalau lo mau tau, disini tuh yang basa-basi kan lo bukan kita. Udah 3x kita adain rapat, tapi lo dengan seenak jidat nggak pernah datang. Difikir kita ini pembantunya kali". Cibir Regina tak suka.


Allena seketika menatap Regina tanpa ekspresi namun seakan mencekam, "Kalau gua mau, gua bisa batalin buat jadi donatur diacara kalian". Ucap Allena.


Anggota OSIS lainnya yang sedari tadi ada disana seketika menjadi pias. Mereka tak mengira bagaimana jika Allena membatalkan jadi donatur diacara mereka yang sudah direncanakan sebaik mungkin.


Sementara Regina yang mendengar itu semakin kesal, "Nggak usah sok lo. Kalau gue mau gue bisa aja min...". Ucap Regina terhenti.


"DIAM!!". Aziel yang sedari tadi melihat perseteruan kedua wanita itu menjadi sangat kesal.


"Kita mulai rapatnya sekarang. Tidak usah membahas hal yang lain lagi. Sakit kuping saya mendengar kalian tak henti-hentinya berbicara". Sambung Aziel dengan nada membentak membuat yang ada disana diam tak bersuara. Suasananya menjadi tegang.


"Sekarang kalian ke tempat kalian masing-masing, duduk, dan kita mulai rapatnya". Ucap Aziel tegas.


Mereka semua kemudian bergegas ketempat masing-masing. Regina terlebih dahulu memandang sinis Allena dan pergi ketempat duduknya dengan menahan kesal.


Rapat pun dimulai.


...*****...


Kini rapat telah selesai. Terlihat Allena dan juga anggota OSIS telah keluar dari ruangan OSIS. Mereka sedang berjalan menuju kelas mereka.


"Len, tunggu!". Aziel mencegat Allena.

__ADS_1


"Ngapain aja lu tadi di kamar mandi? Lama". Ucap Aziel yang saat ini sudah berhadapan dengan Allena.


Ya memang benar. Saat tadi mereka berdua masih asik saling merasakan bibir, tiba-tiba Allena melepaskan ciumannya dengan mendorong Aziel kuat lalu berjalan cepat kearah kamar mandi, dan itu membuat Aziel bingung dan bertanya-tanya.


"Bukan urusan lu". Jawab Allena cepat dan melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.


Namun Aziel kembali mencegat Allena dengan meraih lengan gadis itu, "Maksud lu apa? Lu jang...". Ucap Aziel terhenti.


"Lepas!!". Desis Allena mencoba menepis tangan Aziel.


"Nggak! Lu jangan ....". Ucap Aziel kembali terhenti ucapannya.


Brayen tiba-tiba datang dan langsung melepas cegatan Aziel pada Allena.


"Lepasin El! Allena nggak mau". Ucap Brayen.


Aziel seketika menatap dingin Brayen, "Lu nggak usah ikut campur. Ngapain lu disini?". Ucap Aziel pada Brayen.


"Jangan kasar lo sama Allena. Dia nggak mau ngomong sama lo". Ucap Brayen membalas tatapan Aziel.


Aziel berdengus meremehkan, "Mulai berani lu ama gua? Mending lu pergi dari sini sekarang". Ucap Aziel.


"Nggak gitu El, gua cuman mau lo jangan kasar sama Allena". Ucap Brayen yang masih tenang.


Sementara Allena gadis itu sedari tadi hanya memandangi kedua pria dihadapannya yang sedang berseteru.


Tak jauh dari tempat mereka bertiga, saat ini berdiri seorang perempuan yang tengah memperhatikan mereka dengan serius. Ada tatapan tak suka yang ditujukan orang tersebut untuk Allena.


"Cih sok kecantikan emang tu cewe". Cibir orang tersebut yang ternyata adalah Alexa.


Tatapannya begitu sinis yang ditujukannya. Alexa mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan amarah. Dipandanginya terus ketiga orang itu dari tempatnya berdiri.


"Gua bilang lu nggak usah ikut campur.


"Emang urusannya ama lu apa kalau gua kasar ha? Allenanya aja biasa aja, ko jadi lu yang ribet? Pergi sana!". Ucap Aziel yang mulai emosi.


"Apa ha?". Bentak Aziel, "Mulai berani lu ama gua? Gua bilang pergi ya pergi. Nggak usah lu ikut campur". Sambung Aziel menatap tajam Brayen.


"Asal lo tau Aziel, gue juga bisa marah bukan cuman lo". Brayen berkata masih dalam keadaan tenang.


Aziel yang mendengar itu seketika maju menghampiri Brayen dan langsung menarik kerah baju pria itu.


"Jadi lu berani ama gua ha? Lu mau ngelawan, iya?". Desis Aziel dengan bengisnya menatap Brayen yang masih sangat sabar.



Allena yang melihat itu seketika kesal, "Kalian berdua kenapa malah pada ribut? Kaya anak kecil tau nggak". Ucap Allena menatap kesal kepada kedua pria itu yang seketika menoleh kearahnya.


"Kalian berdua itu anggota OSIS, harusnya kalian menunjukan sikap yang baik sebagai OSIS. Ini malah pada mau berantem, gimana sih.


Allena lalu beralih menatap Aziel, "Lu juga, sebagai Ketua OSIS nggak guna tau nggak". Sambung Allena dengan kesal, lalu berbalik pergi dari sana.


Aziel yang melihat Allena pergi, langsung saja mendorong Brayen, "Ikut campur aja lu". Ucap Aziel kesal lalu bergegas menyusul Allena.


Sementara Brayen hanya diam ditempatnya berdiri melihat Allena dan Aziel yang pergi. Brayen lalu berbalik kearah samping sambil menghembuskan nafas berat menetralkan dirinya.


Brayen tiba-tiba menyipitkan matanya fokus kepada wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Alexa". Gumam Brayen ketika wanita itu sudah mulai melangkahkan kakinya ingin pergi dari tempat dia berdiri.


Brayen yang melihat itu seketika tersenyum miring. Dia segera berlari menyusul Alexa, berniat melakukan sesuatu untuk sekedar menghibur dirinya yang sedang galau.


"Woyy Lex! Alexa!". Teriak Brayen berlari cepat menghampiri Alexa yang sedang berjalan di koridor sekolah.


"Eh cewe tengil, nggak denger gue panggil apa?". Ucap Brayen saat sudah berjalan disamping Alexa.


Alexa yang kaget seketika menatap Brayen dengan galak.

__ADS_1


"Hai cewek tengil". Sapa Brayen dengan tampang menggoda sambil menaik turunkan alisnya dihadapan Alexa.


"Idih apaan sih lo? Jauh-jauh sono ah. Ji*jik gue lihat tingkah lo kaya gitu". Alexa tak suka dengan Brayen yang mengganggunya seperti itu. Menurutnya tampang Brayen terlihat seperti pria hidung belang.


"Yaelah sok ji*jik lo. Padahal aslinya mah ketagihan ini". Cibir Brayen masih dengan tampang menggodanya yang membuat Alexa semakin kesal.


"Mau lagi nggak Lex? Gue lagi pengen nih. Entar gue ajarin lo biar nggak kaku". Goda Brayen dengan menggigit bibir bawahnya sambil menaik turunkan alisnya menatap Alexa yang sudah terlihat kesal. Pria itu mulai suka menggoda Alexa.


Alexa membulatkan matanya, "Lo-". Alexa menujuk Brayen, "Lo tuh emang cowo mesum ya, gila lo emang. Gila gila gila!". Sambung Alexa tak habis pikir sambil terus menunjuk-nunjuk Brayen. Sementara yang menggoda hanya tersenyum puas.


Tiba-tiba muncul sekumpulan murid-murid yang lewat disana, "Ciee.. Alexa sama Brayen. Lagi pacaran ya? Hiyaa cuit cuit!!". Ucap salah satu murid dalam sekumpulan tersebut.


Brayen mendekati Alexa dan merangkul gadis itu, "Iya, lagi pacaran kita. Do'a in ya biar kita sampai nikah". Sarkas Brayen sambil tersenyum membuat Alexa menatap galak sekumpulan murid-murid itu dan Brayen secara bergantian.


"Ciee Alexa. Semoga langgeng ya sama Brayen sampai kepelaminan". Balas salah satu murid.


Sekumpulan murid-murid itu pun melanjutkan langkah mereka tapi masih dengan terus mengejek Alexa semakin membuat dia semakin kesal.


"Oyy apa lo bilang ha? Gue nggak pacaran ya sama cowok mesum ini. Gila aja lo". Teriak Alexa tak terima.


Salah satu murid berbalik, "Yaelah Lex, santai aja kali. Nggak usah malu-malu gitu. Cocok kok kalian berdua". Balas murid itu dan kembali melanjutkan langkahnya mengikuti teman-temannya.


Alexa kembali berteriak membalas, "Nggak ya. Gue bilangin sekali lagi, gue nggak pacaran sama nih cowok mesum. Awas aja lo ngomong kaya gitu lagi. Gue bakal mmhhh". Ucap Alexa terhenti karena ulah Brayen yang membekap mulut Alexa dengan telapak tangannya.


"Diem nggak lo diem. Ngerocos mulu lo dari tadi. Gue cium lagi, baru tau rasa lo". Ancam Brayen masih membekap bibir Alexa.


Tanpa berpikir panjang, Alexa langsung menggigit telapak tangan Brayen dengan kuat, yang membuat pria itu langsung menjerit menjauhkan tangannya dari bibir Alexa.


"Aduh, aduh aduh aduh! Sakit banget sakit sakit sakit. Adoohh..!.


Brayen menatap Alexa sambil terus menjerit, "Gila lo ya. Sakit nih tangan gue, Adohh..!". Desis Brayen kesakitan.


"Sukurin. Makanya, lo jangan main-main sama gue. Kena imbas kan lo". Ejek Alexa.


"Hum!". Alexa mengibaskan sebelah rambutnya kebelakang lalu berbalik melenggang meniggalkan Brayen yang masih terus memegang tangannya yang sakit akibat gigitan Alexa.


"Alexaaa.....!!". Teriak Brayen menahan marah akan gadis itu.


Alexa seketika berbalik dan menatap Brayen sengit dengan menaikan dagunya menantang.


Alexa kemudian mengangkat lalu mengacungkan kedua jari tengahnya keatas kearah Brayen. Gadis itu mengejek Brayen.


"****!!". Ucap Alexa tak bersuara menatap bengis Brayen yang juga menatapnya dengan kesal.


Alexa lalu kembali berbalik dan dengan santainya pergi dari sana, tak peduli akan tatapan Brayen yang terlihat kesal padanya.


"Duhh emang stres tuh cewek. Mana sakit banget lagi dia ngegigitnya. Taring apa gimana tuh giginya si Alexa". Celoteh Brayen pada dirinya sendiri.


"Tapi.. kalau gue ingat-ingat, enak juga bibirnya si cewek gesrek itu". Ucap Brayen mengingat kejadian yang pernah dia lakukan kepada Alexa sewaktu di gudang sekolah(Part 60🤭).


"Duhh jadi mau lagi kan gue". Sambungnya lagi dengan mengacak-acak rambutnya frustasi lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Sementara ditempat lain Allena saat ini sudah berada didalam kelasnya.


"Nggak ada tugas sih Len, soalnya pas lo lagi rapat, jam kosong aja tuh dari tadi sampai sekarang. Nggak tau guru-guru pada kemana. Ada urusan kali". Jawab Zee pada Allena yang menanyakan apakah ada tugas sewaktu dia mengikuti rapat.


Allena mengangguk lalu beralih ingin mengambil ponselnya di tas. Namun tanpa sengaja barang yang sering dia bawa terjatuh dari dalam tasnya. Allena dengan cepat-cepat mengambil barang tersebut dan memasukannya kembali kedalam tasnya.


Zee yang melihat itu langsung bertanya, "Apa itu tadi Len? Kok kaya...". Zee menjeda kalimatnya sambil menatap Allena dengan membulatkan matanya.


"Hah? Len, lo nggak pake barang terlarang itu kan? Lo nggak narkoba kan Allena?.


"Bilang sama gue, lo nggak mungkin ngelakuin hal seperti itu? Lo nggak mungkin gitu kan Len". Ucap Zee yang tak percaya.


Allena yang mendengar pertanyaan sahabatnya itu seketika merasa pusing. Tidak mau jika harus dia jujur. Allena akan mencoba berbohong yang sedikit masuk akal.


Allena menjawab dengan tenang, "Bukan. Itu hanya vitamin". Bohong Allena.

__ADS_1


__ADS_2