Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 65 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Tidak lama datang Allena bersama dengan yang lainnya segera menghampiri kedua sejoli yang masih sedang berseteru itu.


"Gue mohon Rin, jangan kaya gini. Kasih gue waktu buat ngejelasin semuanya. Gue bener-bener minta maaf sama lo". Desis Manaf yang masih saja mencoba ingin menjelaskan pada Airin.


"Gue nggak mau. Lo nggak usah ngejelasin apapun lagi. Gue nggak mau karna gue deket sama lo, Bokap lo berbuat yang lebih lagi daripada ini.


"Sekarang Ayah gue yang jadi korban, setelah ini apalagi? Ibu gue? Kenapa Ayah lo jahat banget sama gue dan keluarga gue Manaf. Apa yang udah kita perbuat sampai Ayah lo berbuat sekeji ini sama keluarga gue". Ringis Airin yang menangis.


Manaf tak ingin menyerah, pria itu mencoba mendekati Airin. "Rin gue...". Ucap Manaf terhenti akibat Gamma yang menahannya.


"Udah Naf, biarin Airin tenangin diri dulu. Apa yang Om Irfan lakuin emang jahat banget. Kita-kita udah tau semuanya". Ucap Gamma menahan sahabatnya itu agar tak mendekati Airin.


Terlihat Airin yang sedang ditenangkan oleh Zee dan juga Tessa. Mereka memeluk gadis itu sambil mengusap-usap punggungnya agar Airin lebih tenang. Pasalnya gadis itu terus menangis tak berhenti.


"Tapi gue cuman mau ngejelasin semuanya sama Airin. Lo taukan Gam, gue suka sama Airin. Gue nggak mau dia ngejauhin gue kaya gini. Gue nggak mau dia jadi benci sama gue.


"Dan gue harus ngejelasin semuanya biar itu nggak terjadi". Cicit Manaf kacau. Dia tak bisa membayangkan jika Airin wanita yang disukainya membenci dirinya.


"Kita semua tau itu Manaf. Tapi bener apa kata Gamma. Lo harus biarin Airin tenangin dirinya dulu. Pasti berat buat Airin nerima perbuatan Bokap lo ke keluarganya. Ayah Airin bahkan sampai masuk rumah sakit dan nggak sadarkan diri sekarang". Timpal Alvian mencoba memberi pengertian pada Manaf sahabatnya itu.


"Nggak bisa. Gue harus tetep ngomong sama Airin". Berontak Manaf ingin kembali mendekati Airin.


Tetapi dengan cepat Allena yang sedari tadi disana segera menghadang Manaf, membuat pria itu seketika berhenti dihadapan Allena.


"Lu mau apa?". Tanya Allena datar dengan melipat kedua tangannya.


"Biarin gue ngomong sama Airin, Len. Gue mau ngejelasin semuanya". Ucap Manaf yang kembali melanjutkan langkahnya, tetapi kembali dihadang Allena.


"Dia nggak mau ngomong ama lu.


"Untuk sekarang ini biarin kalian nggak saling deket atau ngomong dulu. Bagaimanapun semua ini terjadi karena Bokap lu Manaf, dan lu tau penyebabnya apa". Ucap Allena tenang dengan tatapan datarnya pada Manaf.


"Tapi gue minta tolong Allena, biarin gue ngomong sama Airin. Gue sayang sama dia, gue.. gu-gue.. hah...". Jeda Manaf menarik nafasnya. Laki-laki itu sangat kalut sekarang.


"Gue cinta sama Arin, gue nggak mau kalau sampai dia ngejauhin gue kaya gini Len. Lo pasti ngerti kan perasaan gue gimana. Gue minta tolong sama lo Len, bantu gue buat ngomong sama Airin kali ini". Ucap Manaf memohon.


Allena mendekati Manaf dan menatap datar pria dihadapannya yang kini dalam keadaan dilemah.


"Gua bakal bantu. Tapi untuk sekarang ini, lebih baik lu selesaiin masalah lu ama Bokap lu sendiri dulu. Sebelum Bokap lu benar-benar ngelakuin sesuatu hal yang lebih buruk lagi.


"Lu dengar, Airin sahabat gua. Kalau sampai Bokap lu nggak berhenti ngejahatin Airin apalagi keluarganya, gua sendiri yang bakal bikin perhitungan ke Bokap lu sendiri.


"Gua masih nahan itu karena gua juga nganggap lu sahabat gua". Peringat Allena.


Manaf yang mendengar itu seketika diam ditempatnya. Lelaki itu memang tak berani jika Allena sudah seperti sekarang ini sikapnya. Apalagi apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Semua kejadian yang menimpah Airin semua berawal dari dirinya.


Manaf lalu beralih menatap Airin yang tengah masih ditenangkan oleh Zee dan Tessa. Melihat Airin menangis karena dirinya membuat Manaf sangat merasa bersalah pada gadis yang dicintainya itu. Ya memang benar, Manaf sudah mencintai Airin sejak lama.


"Oke gue pergi sekarang, tapi sebelum itu...". Ucap Manaf menjeda kalimatnya. Terlihat pria itu menarik nafasnya pelan.


"Gue cuman mau bilang sama lo Airin, kalau gue tuh sayang sama lo. Gue bakal ngelakuin hal apapun biar lo bisa maafin gue. Karena lo harus tau gue juga nggak pernah mau hal ini terjadi". Ucap Manaf dibalik badan Allena.


Setelah berbicara seperti itu Manaf langsung pergi dari sana dalam keadaan pasrah.


Sementara Airin, gadis itu masih terlihat menangis dipelukan Zee tak berniat untuk berbicara pada Manaf sedikitpun. Gadis itu masih sangat tak terima akan perbuatan yang telah dilakukan oleh Ayahnya Manaf pada keluarganya.


----------------


Saat ini Allena dan ke-5 temannya(tanpa Manaf) sedang dalam perjalanan menuju kelas. Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Brayen yang entah muncul dari mana dan langsung mengambil tempat disamping Allena.

__ADS_1


"Hai Len, apa kabar! Udah lama nih kita nggak saling sapa". Tegur Brayen dengan senyumnya.


Allena seketika menghentikan langkahnya dan berbalik menatap datar Brayen.


"Lu...". Ucap Allena terhenti. Baru kali ini ada yang berani memotong pembicaraanya. Biasanya dia yang akan melakukan hal seperti itu.


"Et et et.. tunggu-tunggu. Sebelum lo yang ngomong, gue bakal ngomong duluan". Potong Brayen yang membuat Allena menaikan sebelah alisnya.


"Pulang sekolah nanti lo ke ruangan OSIS dulu. Aziel sendiri yang nyuruh gue buat kasih tau lo". Sambung Brayen memberitahu.


"Oh". Jawab Allena dengan anggukan. Sedetik kemudian berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.


Brayen yang melihat sikap Allena padanya hanya dapat menghembuskan nafasnya pelan. Gadis itu benar-benar menjauhinya sekarang, dan Allena tak memberi tahu sama sekali alasan mengapa dia menjauhi Brayen. Membuat Brayen sangat putus asa akan sikap gadis itu padanya.


"Kak Brayen tetap semangat. Jangan putus asa kalau emang Kak Brayen benar-benar suka sama Allena". Ucap Zee pada Brayen diangguki pria tersebut.


"Iya". Jawab Brayen dengan senyum tipisnya.


"Kalau gitu kita duluan ya Kak". Sambung Zee seraya menyusul Allena diikuti teman-temannya.


...*****...


Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi. Kini Allena dan ke-5 temannya sedang berjalan menuju parkiran. Tadi di kelas juga ada Manaf, namun laki-laki itu hanya diam tak bersikap petakilan seperti biasanya. Dan laki-laki itu tak ikut bergabung seperti biasanya.


Sebenarnya Gamma dan Alvian ingin menemani Manaf. Akan tetapi pria itu meminta mereka untuk tak ikut bersamanya, karena ingin menyelesaikan masalahnya dengan Ayahnya untuk sekarang ini.


"Len, lo beneran nggak ke ruang OSIS dulu? Takutnya si Ketua OSIS itu marah sama lo. Kak El kalau marah 11/12 sama lo. Sama-sama nyeremin tau nggak". Ucap Zee.


"Nggak. Nggak usah. Gua ikut Airin ke rumah sakit". Balas Allena datar.


"Hah.. Terserah lo lah Len, susah emang kalau ngomong sama lo. Nggak bakal didengerin". Cibir Zee heran akan sikap Allena yang batu.


"Udah. Kita pergi sekarang, nggak penting juga kan". Ucap Allena tak peduli.


Mereka pun pergi dari sana menuju rumah sakit dengan kendaraan masing-masing.


...*****...


Sekitar pukul 19.30 WIB Allena pulang ke rumahnya. Malam ini Airin tak menginap karena akan menjaga Ayahnya. Ke-2 sahabat wanitanya yang lain itu juga lagi ada urusan, makanya tidak bisa menemani dirinya.


Allena sedang berjalan masuk kedalam rumahnya. Terlihat keadaan rumah yang begitu sepi, hanya beberapa lampu yang dinyalakan.


Allena kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Saat ingin membuka pintu tiba-tiba dia dikagetkan dengan tangan kekar yang menahannya dari belakang.


Allena sontak berbalik kebelakang dan mendapati Louis yang sedang berdiri dihadapannya dengan ekspresi yang tak dapat dimengerti.


"Ngapain lu disini?". Tanya Allena seketika dengan ekspresi was-was.


"Om sama Tante udah berangkat hari ini ke Amerika". Ucap Louis sambil memandangi wajah Allena.


"Oh yaudah". Jawab Allena kemudian berbalik, namun Louis menarik lengan Allena agar kembali menghadap padanya.


Allena yang kaget seketika langsung menepis tangan Louis dengan keras.


"Lu apa-apaan sih?". Desis Allena tak suka.


"Len". Panggil Louis dengan lembut menatap Allena.


Allena yang merasa ada yang tak beres dengan Louis seketika waspada. Takut-takut pria itu melakukan sesuatu padanya. Apa lagi sekarang ini orang tua Allena sudah pergi ke Amerika.

__ADS_1


"Apaan lu liatin gua kaya gitu?". Ucap Allena was-was.


Louis tak menjawab. Pria itu malah mendekat kearah Allena dengan tatapan aneh.


"Louis lu jangan macam-macam ya ama gua. Gua hajar lu sekarang kalau sampai berani macam-macam". Ancam Allena yang mulai tak enak dengan Louis yang terus mendekatinya.


Louis tak peduli. Dia semakin dekat pada Allena. Gadis itu bahkan sudah mulai khawatir saat ini.


Tiba-tiba Louis memeluk pinggang Allena dan menjatuhkan kepalanya dibahu Allena.


Allena yang kaget sontak ingin melepaskan diri, namun Louis semakin mengeratkan pelukannya.


"Gue minta maaf Len. Gue masih bisa tahan untuk nggak berbuat sesuatu sama lo. Gue sadar gue cuman orang yang dijodohin sama lo, dan gue tau gue nggak punya hak untuk itu.


"Tapi gue mohon Len sama lo, hargain gue sebagai jodoh lo disini. Gue sayang sama lo Allena". Desis Louis disela-sela memeluk Allena.


Allena yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Bagaimanapun dia tak mempunyai perasaan apapun pada Louis sepupunya itu. Allena tak menyangka Louis begitu sangat menyukai dirinya.


Tetapi Allena tak bisa membalas perasaan Louis. Tak bisa Allena bayangkan jika dia harus hidup bersama dengan orang yang dia tidak punya perasaan apa-apa sama sekali. Allena hanya menganggap Louis sebagai keluarga baginya.


"Louis, gua minta maaf, tapi gua bener-bener nggak punya perasaan apa-apa ama lu.


"Dan lu tau itu kan". Ucap Allena yang mulai merasa tak enak akan situasi saat ini.


"Tapi Len kenapa? Kenapa lo nggak suka sama gue?


"Apa karna cowo itu? Apa karna Aziel?". Tanya Louis mengangkat kepalanya dan menatap Allena frustasi.


Allena yang mendengar itu seketika menggeleng pelan. Gadis itu tak ingin membahas Aziel.


"Lo bohong. Lo sukakan sama Aziel, lo ada rasakan sama dia". Desis Louis tak terima dengan kenyataan bahwa Allena lebih menyukai Aziel dari pada dirinya.


Allena menggeleng. "Nggak, nggak ada sama sekali".


"Tolong jangan bahas cowo itu. Ini hanya diantara kita berdua. Nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dia.


"Lu harus paham Louis, kalau gua itu emang nggak ada perasaan apapun sama lu. Nggak ada sama sekali". Ucap Allena.


"Lu sendiri juga taukan kenapa gua mau nerima perjodohan ini". Sambung Allena.


"Lo jahat Len sama gue. Lo biarin gue sakit sendiri. Padahal gue bener-bener sayang dan cinta sama lo. Tapi kenapa lo nggak ngerti sama perasaan gue". Ucap Louis kecewa.


"Gua minta maaf Louis. Udah yah, kita nggak usah bahas ini lagi.


"Gua cape, gua mau tidur. Mending lu balik sekarang ke kamar. Istirahat". Ucap Allena seraya berbalik dan masuk kedalam kamar, lalu mengunci pintu rapat-rapat.


Gadis itu bersandar dipintu sambil memejamkan matanya. Tak menyangka sepupunya itu akan begitu menyukai dirinya.


Allena tiba-tiba mengingat perkataan Louis tentang Aziel. Gadis itu langsung saja kembali kambuh.


"Hah.. hah.. hah...". Allena menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya kuat.


"Gara-gara Louis nih emang. Dasar!!". Decih Allena sambil memegangi dadanya dan sesekali mengehembuskan nafasnya.


Allena kemudian membuka tasnya yang sedari tadi dia bawah. Allena lalu mengambil sesuatu barang yang dia letakan disebuah toples berukuran mini, mengambil sekitar 4 barang dan meminumnya kembali dengan satu gelas diatas meja berisi air. Allena lalu membaringkan dirinya beristirahat diranjangnya.


Memikirkan hal tadi membuat Allena kesal sendiri pada dirinya. Harus kembali bereaksi seperti itu lagi, terus, lagi dan lagi.


Entah sampai kapan Allena akan bersembunyi dari itu semua dan menyimpannnya sendiri. Allena bahkan tak berniat untuk memberi tahu keluarganya sama sekali.

__ADS_1


Berlarut-larut dalam pikiran membuat Allena pusing sendiri. Gadis itu kemudian tertidur tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Allena sudah sangat lelah jika harus melakukan itu.


__ADS_2