
"Papah mau omongin apa?". Tanya Aziel memandang datar Papahnya.
Papah Rian menghembuskan nafasnya, "Huuff...
"Begini Aziel. Papah akan berangkat keluar negri, kemungkinan besok atau lusa Papah berangkat. Papah ada urusan pekerjaan disana". Ucap Papah Rian kepada anaknya Aziel.
"Hmm. Jadi?". Aziel bertanya.
"Intinya Papah mau kamu kembali tinggal dirumah lagi untuk menjaga Adik kamu selama Papah keluar negri". Jelas Papah Rian.
"Kenapa? Kan ada Mamah". Ucap Aziel sambil menatap Mamah Rani.
"Mamah juga akan ikut Papah keluar negri.
"Kamu tenang saja, Papah akan memerintah anak buah Papah untuk menjaga Azela disini selama kamu sekolah. Azela juga sudah mulai sehat saat ini. Jadi kamu tidak perlu khawatir". Ucap Papah Rian sebisa mungkin mencari kalimat yang bagus untuk berbicara pada Aziel, agar anaknya itu tak marah.
Aziel mendengar perkataan Papahnya hanya memandang datar Papahnya itu, "Hmm.. Terserah kalian".
"Biasanya Papah sama Mamah seperti itu kan. Jadi tidak usah diperjelas lagi, Aziel sudah paham". Jawab Aziel masih dengan sikapnya.
Mamah Rani dan Azela yang ada disana hanya bisa melihat kedua orang kesayangan mereka itu. Tidak ada yang berani ikut campur jika keduanya sudah saling berinteraksi.
Papah Rian memandang Aziel. Beliau sudah merasa sangat jauh pada anak pertamanya itu, "Maafkan Papah El, semua yang Papah lakukan juga demi kamu, demi kit...". Ucap Papah Rian terhenti.
Aziel menyela, "Udah Pah, Papah nggak usah ngejelasin. Aziel udah paham alurnya kaya gimana". Aziel memotong pembicaraan Papahnya.
"Aziel kebawah dulu mau cari makan.
"Azela, kamu mau Kak El beliin apa untuk kamu". Sambung Aziel beralih kearah adik kesayangannya itu.
"Kak El beliin Azela bubur ayam spesial aja ya Kak. Azela lagi pengen makan itu". Jawab Azela tersenyum riang.
"Hmm yaudah, kamu tunggu disini sebentar ya. Kak El cari dulu makanannya". Balas Aziel lalu keluar dari ruangan Adiknya itu. Aziel memang sudah sangat kesal kepada kedua orang tuanya.
Aziel berjalan dikoridor rumah sakit. Saat itu tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang dikenalinya, juga sedang berjalan membelakangi dirinya dikoridor rumah sakit tersebut.
Setelah memastikan bahwa orang itu sesuai apa yang dipikirannya, dengan cepat Aziel berlari menyusul orang itu yang ternyata adalah Allena.
"Allena!!". Tegur Aziel dengan menarik tas belakang yang dikenakan gadis itu, sehingga membuat tas itu terjatuh.
"Aduh ini apa sih?". Desis Allena menoleh kearah belakang dan mendapati Aziel yang berdiri dibelakangnya.
Sementara Aziel terlihat sedang memperhatikan tas Allena yang jatuh. Tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, melainkan sesuatu barang seperti sekantung obat-obatan yang ikut terjatuh dari dalam tas Allena.
Allena yang mengetahui arah mata Aziel dengan cepat mengambil tas tersebut bersama barang yang dilihat oleh Aziel dan kembali memasukannya kedalam tas.
"Itu yang gua lihat apa tadi? Kok kaya semacam obat-obatan gitu". Tunjuk Aziel kearah tas Allena sambil menatap Allena curiga.
"Bukan urusan lu. Nggak usah sotoi". Jawab Allena ketus.
Allena kemudian berbalik ingin meninggalkan Aziel, namun dengan cepat Aziel menarik lengan Allena menahan gadis itu untuk pergi.
"Gua nanya Allena, itu tadi apa? Obat-obatan gitu kan? Lu sakit apa emang?". Tanya Aziel menatap Allena serius.
Allena menepis tangan Aziel, "Ck, gua bilang bukan urusan lu, nggak usah ikut campur". Balas Allena yang semakin ketus.
"Oke, kalau lu nggak mau ngejawab. Tapi lu ikut gua sekarang". Ucap Aziel menarik Allena pergi dari situ.
"Eh eh kita mau kemana sih emang? Gua nggak mau, gua mau pulang". Tolak Allena berusaha melepas genggaman Aziel dilengannya.
"Gua mau nyari makan, dan lu harus temenin gua". Ucap Aziel memaksa dan tetap menarik lengan Allena.
"Yaudah sih, nggak usah pake narik-narik tangan gua segala kan. Sakit nih tangan gua". Desis Allena.
"Kalau nggak kaya gini, pasti lu nggak mau temenin gua. Kalau nggak, ya pasti lu lari. Gua nggak mau itu terjadi". Ucap Aziel sambil membawa Allena keluar dari rumah sakit lalu menuju parkiran.
"Asal lu tau ya Len, kita berdua itu susah buat ketemu berdua kaya gini. Di sekolahan aja susahnya kaya gimana. Jadi kalau ada kesempatan kaya gini, ya gua harus manfaatin lah". Sambung Aziel membukakan pintu mobilnya untuk Allena.
__ADS_1
"Dih apa urusannya ama gua. Emang penting apa?". Ketus Allena berdiri disamping mobil Aziel.
"Ya karena ada hubungannya sama lu lah.
"Udah sana masuk masuk. Mau lu, gua cium disini". Ancam Aziel mendorong Allena agar masuk kedalam mobilnya.
"Ini pemaksaan namanya". Desis Allena ketus yang sudah duduk dikursi samping kemudi.
"Udah diem, pake sabuk pengamannya, atau lu mau gua yang pekein". Ucap Aziel ingin mendekati Allena.
"Udah nggak usah, nggak usah! Biar gua pake sendiri. Emang gua anak kecil". Balas Allena memakai sabuk pengaman.
"Nah.. gitu dong nurut. Kan enak". Ucap Aziel tersenyum senang.
Aziel kemudian memutari mobilnya dan masuk kedalam mobil.
Mereka lalu pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.
"Len, gua mau nanya. Tadi yang ada didalam tas lu itu obat punya lu kan?". Tanya Aziel tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap fokus mengemudi.
"Gua udah bilang, itu bukan urusan lu. Nggak usah ikut campur, nggak usah sotoi. Ngerti nggak lu". Balas Allena.
"Lu tinggal jawab aja apa susahnya sih Allena. Gua kaya gini tu karna gua perhatian ama lu, gua peduli ama lu". Ucap Aziel tak habis pikir akan sikap Allena itu.
"Tapi sayangnya gua nggak butuh perhatian dari lu, gua juga nggak butuh kepedulian dari lu.
"So... ya buat apa gua ngejawab. Iyakan!". Balas Allena santai.
Aziel mengalihkan pandangannya sekilas kearah Allena, lalu kembali fokus mengemudi.
"Lu tuh batu banget ya jadi cewek. Susah banget diajak ngomong baik-baik. Lu emang ngejawab, tapi selalu bikin emosi dengan jawaban lu itu". Ucap Aziel heran akan sikap Allena itu.
"Ya suka-suka gua dong. Emang masalah buat lu". Balas Allena.
"Nah kan, baru juga dibilangin udah kasih contoh lagi aja. Lama-lama gua beneran makan tuh bibir lu sekarang". Ucap Aziel dengan santainya.
Aziel juga menoleh kearah Allena sebentar, "Ya mungkin bisa jadi. Sedikit". Jawab Aziel kemudian kembali beralih menatap jalan.
Allena yang mendengar itu seketika menautkan alisnya. Menatap Aziel bingung. Allena sedikit berdebar mendengar ucapan Aziel.
Allena kemudian mengalihkan pandangannya dari Aziel, "Baguslah kalau gitu. Setidaknya ngurangin orang yang nggak suka sama gua". Balas Allena.
Ada sedikit tarikan disudut bibir Aziel setelah mendengar perkataan Allena, "Lu ngarepnya gua suka beneran ya ama lu?". Ucap Aziel sambil tetap mengemudi.
Allena yang mendengar itu bergelik, "Hah? Gua ngarep disuka ama lu? Yakali. Lu nggak usah kepedean jadi cowok. Banyak kali cowok yang mau ama gua". Ucap Allena dengan sombongnya.
Aziel mencibir, "Oh benarkah itu Allena?
"Tapi first kiss lu, gua yang dapat kan, gimana tu?". Sambung Aziel dengan tampang meremehkan.
Allena yang mendengar itu tak dapat lagi membalas, ya karena itu memang benar. "Ya-yay-ya itu karna.. ka-karna..". Allena terbata membuat Aziel merasa menang.
"Karena apa Allena?". Aziel menyela sambil menoleh kearah Allena.
"Karena.. ya karena... iihh udalah. Jalanin aja mobilnya. Kapan sih kita nyampainya, dari tadi juga. Gua juga udah lapar nih". Allena berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aziel hanya tersenyum senang karena telah berhasil menggoda Allena, "Kita udah nyampe kali dari tadi, lu nya aja yang nggak nyadar". Ucap Aziel sambil terus menatap Allena.
"Ngapa lu nggak ngomong dari tadi. Gua kan udah laper nih". Kesal Allena.
"Yaudah turun. Kita beli makanan yang banyak buat lambung karet lu itu". Ejek Aziel sambil keluar dari dalam mobil lalu mendekat kearah Allena yang juga sudah keluar dengan tampang masamnya.
"Lu ya, beraninya ngatain gua". Ucap Allena masih dengan tampang masamnya.
Aziel mendelik lucu, "Hih.. jelek banget mukanya kek gitu. Udah kita masuk, entar dikiranya kita berdua suami istri yang sedang bertengkar lagi". Ucap Aziel dengan meraih tangan Allena dan menggandengnya masuk kedalam sebuah restoran.
__ADS_1
Sementara Allena hanya mengikuti dan membiarkan Aziel menggandengnya dengan sedikit tersenyum. Mungkin dari jauh orang-orang tidak akan melihat senyuman yang sangat tipis dari bibir Allena itu. Tapi dari dekat sudah pasti tau bahwa Allena saat ini sangat senang.
"Gua nggak tau sampai kapan kita bisa kaya gini lagi. Tapi yang jelas untuk saat ini gua senang bisa berdua kaya gini sama lu". Allena berkata dalam hati sambil terus melihat tangan Aziel yang menggandengnya.
Allena tak menapik sejak kapan dia menyukai Aziel. Tapi untuk beberapa kali waktu dia tak bisa bertemu sekaligus tak dapat melihat Aziel, membuat Allena sangat merindukan Aziel. Sehingga membuat dirinya harus kambuh lagi dan harus berusaha sendiri meredakannya.
Allena selalu berusaha agar bisa bertahan. Allena tak ingin memberitahukan semua yang terjadi pada dirinya kepada kedua orang tuanya dan juga kakaknya. Allena hanya tak ingin membuat keluarganya susah dengan apa yang dialaminya sekarang ini.
Allena memang tak dekat dengan keluarganya. Tapi dia selalu berusaha agar orang tuanya tak terlalu khawatir padanya. Apalagi jika sampai mengetahui dengan apa yang Allena sembunyikan selama ini.
Dan Aziel adalah salah satu orang yang membuat dia ingin bertahan. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain untuk nasibnya. Mengetahui yang dikatakan oleh Dokter Miranda hari ini membuat dirinya merasa jatuh tepuruk. Allena sebenarnya sudah sangat lelah.
Allena selalu ingin dekat dengan Aziel. Saat bersama pria itu membuat dirinya ada rasa semangat untuk selalu hidup dan untuk bertahan. Memang meskipun dia selalu bersikap bertolak belakang dengan perasaan dan juga hatinya, tapi Allena melakukan itu agar dia tak nampak ada rasa pada Aziel.
Selain itu agar dia tak lebih jauh lagi perasaannya pada Aziel. Dia tak ingin agar merasa bersalah jika Tuhan berkehendak tidak lama lagi.
Allena sempat merasa ingin semuanya ini hanyalah mimpi. Tapi jika seperti itu dia tidak mungkin bertemu Aziel, atau mungkin tidak dekat seperti sekarang ini. Mungkin ini adalah jalan satu-satunya agar dia bisa sedekat itu dengan Aziel.
Allena tidak akan menyia-nyiakan waktunya sekarang ini, sampai Tuhan benar-benar memanggil dirinya dalam waktu yang bahkan tidak diketahui oleh dirinya sendiri.
...*****...
Saat ini Aziel dan Allena sudah berada didepan pintu ruangan Azela yang dirawat. Aziel meminta Allena untuk menemani dirinya hari ini, dan Allena tentu saja tidak menolak.
Aziel membuka pintu ruangan tersebut dan mengajak Allena untuk ikut masuk kedalam. Disana ada kedua orang tua Aziel dan juga Azela yang langsung menoleh kearah dua sejoli itu.
Allena berjalan kearah kedua orang tua Aziel lalu mencium punggung tangan keduanya dengan sopan.
"Ini siapa? Kamu cantik sekali Nak. Namanya siapa kalau Tante boleh tau". Ucap Mamah Rani tersenyum kearah Allena.
Allena membalas senyuman Mamah Rani, "Nama saya Allena Tante". Jawab Allena sopan.
"Allena, kamu cantik sekali Nak. Tapi sepertinya kamu ini blasteran ya. Mata kamu juga indah sekali". Puji Mamah Rani.
"Iya Tante. Makasih". Ucap Allena tersenyum canggung. Gadis itu tiba-tiba merasa akhward dengan situasi sekarang ini.
"Oh iya, ini Papahnya Aziel". Ucap Mamah Rani memperkenalkan Papah Rian.
Allena kemudian mendekat kearah Papah Rian dan mencium punggung tangan beliau dengan sopan.
"Nak Allena, Nak Allena ini pacarnya Aziel ya?". Canda Papah Rian yang membuat Allena jadi salah tingkah sendiri.
Allena seketika menoleh kearah Aziel dengan perasaan canggung. Gadis itu tidak tau harus bersikap seperti apa.
Aziel yang sedari tadi melihat hanya berjalan kearah mereka sambil menggeleng.
"Papah sama Mamah makan dulu". Ucap Aziel seraya meletakan makanan dimeja tempat duduk orang tuanya.
Aziel menoleh kearah Allena, "Lu juga makan dulu. Katanya lu udah laper banget kan". Ucap Aziel membuat Allena melototkan matanya kearahnya.
Sementara kedua orang tua Aziel hanya saling melirik satu sama lain melihat interaksi kedua sejoli itu.
Aziel lalu mengajak Allena untuk makan dimeja dekat brankar Azela yang berhadapan langsung dengan jendela.
Sementara Azela akan makan diatas brankarnya dengan meja makan kecil khusus untuk orang-orang dirumah sakit.
"Bentar". Ucap Aziel sambil membukakan sekotak pizza untuk Allena. Gadis itu tanpa malu langsung mengambil sepotong pizza itu dan memakannya dengan lahap.
Setelah 1 potong selesai dihabiskannya, Allena mengambil 1 potong pizza lagi dan kembali memakannya dengan lahap.
Azela yang melihat itu tertawa, "Kakak lapar ya.. Hihi". Ucap Azela tertawa memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
Allena yang ditertawakan seketika berhenti makan, dan baru menyadari ternyata saat ini dia seperti orang yang tak pernah makan selama satu bulan. Belepotan dan keju terlihat berhamburan dipipinya.
Aziel yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya lalu berdiri mengambil kotak tisu dimeja tempat kedua orang tuanya sedari tadi berada.
"Lu laper apa gimana? ampe belepotan gini makannya. Untung cantik". Ucap Aziel sambil mengelap wajah Allena, membersihkannya.
__ADS_1