Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 122 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Pulang sekolah kini kelima bersahabat itu(tanpa Allena) sudah berkumpul di restoran milik Zee.


Mereka ingin mendiskusikan tentang rencana perayaan ulang tahun Allena.


Mereka sudah berada di ruangan khusus biasa tempat mereka berkumpul.


"Jadi gimana menurut kalian? Kita rayainnya kaya gimana untuk ulang tahunnya Allena?". Tanya Airin langsung kepada mereka semua.


"Kalau menurut gue sih rayain disini juga aja udah bagus. Entar pas hari H kita bawa paksa Allena kalau dia nggak mau". Usul Gamma sambil memandangi mereka bergantian.


"Astaga brutal banget sih lo Gam". Timpal Zee menyikut lengan Gamma.


"Ya mau gimana lagi. Tau sendirikan kita lagi nggak akrab-akrabnya sama Allena. Jadi kalau dia nolak pas kita bawa dia kesini kita paksa aja langsung. Allena itu keras kepala, kekeh banget sama pendiriannya. Kalau sampai rencana kita gagal gimana? Itu juga salah satu cara biar kita bisa deket lagi sama Allena". Jelas Gamma.


"Umm.. kalau itu gue setuju deh! Ada benarnya juga apa yang diomongin Gamma". Ucap Airin setuju, "Terus kalian gimana?". Tanya Airin kemudian ke arah yang lainnya.


"Kalau gue setuju-setuju aja sih. Nggak buruk juga". Timpal Alvian manggut-manggut tanda setuju.


Mereka kemudian langsung setuju dengan usulan Gamma.


"Yaudah kalau gitu di restoran gue aja kan ya? Terus kita nggak ada nyiapin apa gitu? Semacam dekorasi, hiasan atau apa ?". Tanya Zee ikut menimpali.


"Itumah nggak penting. Yang penting itu kita udah ngerayain ultah Allena. Juga sekaligus memberbaiki hubungan kita sama Allena". Ucap Tessa. "Kita cukup beliin kue aja sama kado ultah sendiri-sendiri buat Allena". Sambungnya lagi.


"Kalau untuk hadiah sebenarnya nggak usah ya nggak sih? Secara Allena itukan kaya pake banget. Apa aja yang dia mau dia bisa dapetin itu. Iya nggak?". Ucap Gamma.


"Yaelahh ketimbang hadiah doang pelit amat lo ama sahabat sendiri Gam. Lagian duit lo juga nggak bakalan habis disitu kali". Semprot Zee.


"Yakan gue cuman kasih tau aja. Nggak salah kan?


"Kasih tau sih kasih tau! Tapikan lo juga nggak harus kaya per...


"Udah-udah!". Airin cepat memberhentikan perdebatan kedua manusia itu, "Kok kalian malah pada debat. Udah berhenti! Yang intinya udah fiks ulang tahun Allena kita rayainnya disini. Terserah kalian mau bawa hadiah apa nggak". Sambung Airin.


"Yaudah kalau gitu udah fiks kan". Sahut Alvian seketika, "Gue juga ada yang mau tunjukin ke kalian semua". Sambungnya lagi.


"Apaan tuchh?". Sahut Tessa.


"Bentar-bentar!". Alvian kemudian terlihat membuka resleting tas yang dibawanya, lalu mengambil laptop yang ada di dalam tas itu.


Setelah itu Alvian menyalakan laptop miliknya itu, terlihat mengutak-atik dengan serius, lalu menunjukan sebuah video rekaman yang terpampang jelas di layar laptop itu.


Mereka semua kemudian terlihat menonton video rekaman itu dengan serius. Terlihat dari alis mereka yang mengkerut.


Zee seketika menoleh ke arah Alvian, "Lo dapat dari mana video ini Al?". Tanya Zee.


"Dari Allena. Dia yang pertama kali nunjukin video itu ke gue". Jawab Alvian.


"Allena?". Kali ini Tessa yang berbicara, "Terus Allena dapat dari mana video ini Al?". Tanya Tessa.


"Nggak tau juga sih. Soalnya pas gue tanya Allena nggak kasih tau". Jawab Alvian.


Mereka semua kemudian diam sebentar. Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja, "Jadi Hera yang udah hilangin filenya Zee. Wahh cari masalah tuh cewek satu! Kok bisa-bisanya dia ngelakuin hal itu". Celoteh Tessa.


"Tuh lihat tuh! Tu tu.. mukanya aja kentara kaya gini". Tessa menunjuk layar laptop masih dengan celotehannya, "Emang bener-bener kurang ajar tuh cewek sialan satu. Minta gue labrak tuh dia". Tessa terus saja mengeluarkan umpatan-umpatannya untuk Hera.


Memang benar. Saat ini mereka tengah menonton video rekaman yang diberikan oleh Allena pada Alvian. Video rekaman yang menunjukan Hera ternyata adalah orang yang telah menghilangkan file karya ilmiah yang telah dibuat Zee dengan susah payah.


"Besok gue bakalan labrak tuh cewe gila. Cari masalah dia". Sahut Tessa dengan amarah yang berapi-api. Tessa beranggapan bisa-bisanya Hera berani berbuat hal itu kepada sahabatnya Zee. Itu namanya Hera mengundang keributan.


"Udah nggak usah Sa, nggak usah. Lagian itu juga udah berlalu". Ucap Zee pada Tessa.


"Lah, terus lo mau biarin aja gitu Zee. Lo mau biarin si Hera nindas lo gitu. Lo mulai lemah, iya?". Celoteh Tessa.


"Bukan gitu Sa. Gue cuman nggak mau buat masalah lagi. Gue nggak mau apa yang pernah terjadi sama Allena, terjadi ke lo juga. Gue bakalan merasa bersalah banget kalau lo kena masalah juga Sa". Sahut Zee.


"Terus lo biarin aja gitu?

__ADS_1


"Udah Sa, nggak papa. Lagian ini juga nggak akan terjadi lagi kok.


"Lo yakin Zee? Setelah semua yang terjadi? Selama ini kan si cewe kecentilan itu selalu nyari-nyari masalah ama lo. Apalagi kalau udah menyangkut sama Setya. Tuh cewek selalu berusaha nyakitin lo". Tessa terus saja mengeluarkan unek-uneknya dengan perasaan kesal.


"Ya justru itu, gue nggak bakalan pernah lagi mau berusaha ngejer-ngejer Setya. Dan gue nggak akan pernah punya masalah lagi sama tuh cewek. Jadi lo tenang aja. Nggak usah berbuat yang bisa terjadi masalah lagi. Cukup kita udah tau siapa pelaku yang udah hilangin file punya gue". Ucap Zee.


"Bagus deh kalau gitu. Gue harap lo tetap sama pendirian lo itu buat ngejauhin Setya. Toh selama ini juga kita tau gimana sikap Setya ke lo. Nggak pernah tuh dia ngehargain lo". Sahut Tessa.


"Astaga Sa, udah Sa, udah! Ngomong mulu tuh monyong dari tadi". Gamma yang mulai gemas sama Tessa langsung membekap mulut sepupu lucknutnya itu, "Udah ngebacotnya napa!". Omel Gamma lagi.


Sedang Zee hanya menghembuskan nafasnya lalu kembali beralih menatap layar laptop yang ada di hadapannya itu.


Alvian yang sedari tadi memandangi Zee hanya bisa membatin, 'Gue harap lo bener-bener bisa lupain dia Zee. Karena gue akan selalu ada buat lo. Gue sayang banget sama lo'. Kemudian Alvian juga kembali beralih ke arah laptopnya.


Sementara itu Tessa, "Lepasin Gamma ikhh!". Tessa mendorong keras Gamma menjauh darinya, "Tangan lo asin banget sih". Tessa menggerutu tak suka.


"Oh iya kah? Sorry, abis gue pakai ngupil tadi tangan gue". Gamma tertawa cekikikan menggoda Tessa.


"Iyuhh jorok banget sih lo anying". Maki Tessa sambil mengelap-ngelap kasar mulutnya.


Sementara ketiga orang itu hanya bisa menggeleng melihat tingkah Gamma dan Tessa. Mereka sepupu tapi terus saja bertengkar dan terus berdebat.


Namun meski begitu, yang kalian harus ketahui Gamma selalu seberusaha mungkin untuk menjaga dan melindungi Tessa. Sekeras-keras kepalanya Tessa, Gamma tak akan pernah membiarkan sepupunya itu diganggui oleh siapapun. Hanya dia sendiri yang berhak mengganggu Tessa apalagi mengerjainya. Dan karena Gamma juga sudah diberikan tanggung jawab oleh kedua orang tua Tessa untuk menjaga cewek itu selama kedua orang tua Tessa pergi keluar negeri.


"Oh iya gue juga ada yang pengen gue kasih tau nih ke kalian". Ucap Tessa kemudian, sembari mengambil tissu yang tersedia diatas meja, lalu kembali mengelap mulutnya dengan tissu itu, "Kalian mau tau nggak, ternyata Allena sama Louis tuh udah tunangan woyy". Lanjutnya lagi.


"APAA!!


Seketika mereka semua berteriak tak percaya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tessa. Mereka semua langsung menatap gadis itu ingin meminta penjelasan.


Sementara itu Allena yang pulang bersama Louis langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar dari sana saat mobil sudah terpakir dengan benar di garasi rumah.


"Allena tunggu!". Seru Louis membuat Allena menghentikan langkahnya, lalu berbalik padanya.


Setelah menutup pintu mobil, Louis kemudian berjalan menghampiri Allena, "Gue mau lo jauhin Aziel". Ucap Louis tepat berdiri di hadapan Allena.


"Ya gue mau lo jauhin Aziel. Dia itu cowok yang nggak baik buat lo deketin. Lagian lo udah punya tunangan, dan tunangan lo itu gue sendiri. Harusnya lo ngehargain gue dong, bukan malah nempel-nempel sama cowok lain". Louis dengan segala umpatan kesalnya.


"Siapa lu nyuruh-nyuruh gua? Lagian gua udah kasih tau ke lu, gua ama lu itu baru tunangan belum nikah. Jadi lu nggak punya hak apapun buat ngatur-ngatur gua. Masih nggak ngerti juga lu". Sentak Allena menatap jengkel Louis.


"Tapi Len, gue...


"Dan juga berani amat lu ngatain Aziel cowok yang nggak baik. Emang lu tau apa soal dia sampai bisa lu ngomong kaya gitu". Dengan cepat Allena memotong perkataan Louis, "Terus lu pikir lu udah lebih baik gitu dari Aziel? Iya?". Sentak Allena lebih keras lagi dan menatap tajam Louis.


"Sekali lagi lu ngomong kaya gitu, gua bakalan putusin pertunangan kita. Ngerti lu!". Ancam Allena dengan tatapan bengisnya. Kemudian berbalik dengan cepat dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana dengan tangan yang mengepal kuat.


Sedang Louis hanya bisa menggeram dengan kesal penuh emosi ketika mendengar ancaman Allena tadi. Sungguh itu membuatnya marah.


Sampai kapanpun Louis tak akan pernah membiarkan Allena pergi darinya apalagi sampai memutuskan pertunangannya dengan Allena.


Louis tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Karena Louis merasa Allena hanyalah miliknya dan untuk dirinya.


...******...


Keesokan harinya di sekolah terlihat Gamma yang menerima pesan dari seseorang. Segera Gamma melihat siapa yang telah mengirimi pesan tersebut.


Gamma membaca isi pesan itu dan berhasil menciptakan kerutan di alisnya.


"Oyy guys". Seru Gamma kearah Airin, Zee, dan Tessa. Saat ini mereka sudah berada dalam kelas.


Sedang Allena dan Alvian tidak ada disana karena tengah berada di ruang Kepala Sekolah.


Ketiga gadis itu menoleh pada Gamma, "Kak Setya nge-dm gue katanya nyuruh kita buat ngumpul di aula jam istirahat nanti". Ucap Gamma lagi.


"Lah ngapain? Kok tiba-tiba". Sahut Tessa.


Gamma mengangkat kedua bahunya, "Hum, nggak tau juga". Kemudian geleng-geleng tak pasti.

__ADS_1


"Kok tiba-tiba ya, nggak biasanya Kak Setya nyuruh kita buat ngumpul". Desis Airin, "Terus murid-murid yang lain disuruh buat ngumpul juga?". Timpal Airin bertanya pada Gamma.


"Nggak tau sih! Tapi katanya kita berlima doang disuruh ngumpul, sama Alvian. Kalau Allena nggak usah ikut katanya". Jelas Gamma.


"Loh kok gitu". Airin menautkan alisnya bingung.


Mereka kemudian ikut kebingungan. Emang ada apa ya sampai-sampai Setya nyuruh mereka berlima buat ngumpul di aula. Tapi tanpa Allena lagi.


"Yaudah sih kita pergi aja. Siapa taukan ada yang pengen di omongin sama Setya". Seru Gamma kemudian.


Ketiga gadis itu menoleh kearah Gamma, kemudian mengangguk.


"Yaudah kita ngumpul aja". Sahut Zee kemudian. Meskipun ada rasa penasaran dihatinya. Tapi setidaknya dia akan mengetahuinya sebentar lagi.


...******...


Dan sesuai perintah dari Setya, tepat beberapa menit jam istirahat berbunyi, saat ini kelima orang itu sudah berada di aula sekolah.


Gamma awalnya terlebih dahulu memberi tahu Alvian lewat chat pribadi, agar Allena tak mengetahui. Dan sesuai pemberitahuan Allena tak ikut bersama mereka.


"Ada apa ya Kak? Kok nyuruh kita-kita ngumpul disini". Tanya Zee to the point ke arah Aziel.


Aziel berjalan ke arah mereka berlima dengan sambil memegang bola basket di tangannya.


Tampilan macho pria itu benar-benar membuat siapa saja melihatnya pasti akan memuja ketampanan yang dimilikinya.


"Kalian semua tau, nggak lama lagi Allena bakal ulang tahun?". Tanya Aziel dengan ekspresi datar menatap mereka semua.


"Iya tau. Emangnya kenapa ya Kak?". Tanya Zee lagi.


"Kalian ada rencana buat ulang tahun Allena?


"Umm.. udah sih Kak. Rencananya kita bakal ngerayain ultahnya Allena di restoran Zee nantinya". Jawab Zee.


"Cih, sombong!". Desis Setya seketika dengan wajah sinis menatap Zee.


Sedang Zee hanya mengkerutkan alisnya ke arah Setya yang mengatainya.


Setya kemudian mengambil bola basket di genggaman Aziel lalu berjalan memasuki lapangan, bermain basket sendirian disana.


"Oke kalau gitu. Gua juga pengen ikut andil soal perayaan ulang tahun Allena". Seru Aziel kemudian.


"Bisa aja. Kak Aziel punya rencana juga nggak kalau gitu?". Tanya Airin.


"Ada". Jawab Aziel.


Mereka kemudian mulai mendiskusikan rencana tentang perayaan ulang tahun Allena bersama Aziel.


Sedang Setya tetap sibuk bermain basket sendirian di aula itu tanpa berniat untuk ikut bergabung bersama mereka. Toh nanti juga dia pasti tau dari Aziel sendiri.


...******...


Saat ini pulang sekolah dan Zee sudah berada dalam mobil sport miliknya menuju restoran yang dia kelolah sendiri.


Selama di perjalanan Zee terus memikirkan perkataan Aziel sewaktu di aula sekolah tadi.


"Nanti lu ama Setya berdua ngambil kue ultahnya barengan, juga entar nanti gua sendiri yang alihin perhatian Allena. Biar Allena nggak curiga.


Sebenarnya tak ada yang salah dengan rencana Aziel. Hanya saja bagi Zee hal itu menjadi beban di pikirannya. Rencananya untuk tidak berhubungan lagi dengan Setya akan terkendala sedikit.


Saat perayaan ulang tahun Allena nanti, Zee harus mengambil pesanan kue ulang tahun bersama Setya. Dan itu mereka hanya berdua. Otomatis dia pasti akan berdekatan lagi dengan Setya.


Memikirkan hal itu Zee hanya bisa menghebuskan nafasnya pasrah.


"Hedehh udalah nggak papa, toh hanya hari itu juga. Santai aja Zee, nggak papa". Desis Zee dengan sambil terus mengemudikan mobilnya membela jalanan yang terlihat sangat padat hari itu.


__ADS_1


__ADS_2