Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 49 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Siang ini Manaf sedang dalam perjalanan menuju pasar. Sesampainya disana, Manaf langsung menuju ke tempat dimana Airin biasa berjualan.


Saat tiba disana Manaf dikagetkan dengan keadaan tempat dagangan milik Airin yang terlihat sudah dirusak dan sangat berantakan. Manaf kemudian segera menghampiri Airin yang sedang mencoba membereskan kue dagangannya yang hancur.


"Airin.. Ada apa? Kok bisa hancur gini semuanya? Siapa yang lakuin?". Tanya Manaf tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Airin seketika menoleh kearah Manaf. Terlihat mata Airin sembab dan kemerahan. Sepertinya gadis itu habis menangis.


"Manaf... Hiks hiks hiks...!". Isak Airin sambil berjalan kearah Manaf.


"Kenapa bisa gini Airin? Siapa yang lakuin?". Tanya Manaf sambil memegang kedua pundak Airin dan menatap gadis itu dihadapannya.


"Nggak tau.. Hiks! Tadi ada segerombolan orang datang kaya geng gitu. Terus tiba-tiba mereka ancurin semua ini. Gue nggak tau kenapa tiba-tiba orang-orang itu berbuat kaya gini?". Jelas Airin sambil terisak.


"Emang lo atau keluarga lo ada masalah sama orang lain? Atau kalian ada utang gitu ke rentenir atau semacamnya?". Tanya Manaf.


"Nggak ada. Keluarga gue tuh nggak pernah ada utang atau minjam ke siapa pun itu". Jawab Airin.


"Hmm... Yaudah! Kalau gitu lo tenang. Kita beresin dulu ini semua. Gue bantuin. Oke!". Ucap Manaf menenangkan Airin.


"Iya. Makasih ya Manaf lo mau bantuin". Ucap Airin.


"Iya sama-sama". Ucap Manaf sambil tersenyum.


Mereka berdua kemudian mencoba membereskan semua kerusakan yang terjadi dibantu beberapa orang pasar yang ada disana.


Disela-sela membereskan semua kekacauan. Manaf mencoba menebak siapa dalang dibalik semua kekacauan tersebut. Manaf tentu saja tau siapa yang berani melakukannya jika bukan Ayahnya sendiri.


Manaf mengingat ancaman yang diberikan oleh Ayahnya. Tentu saja sudah pasti Ayahnya lah yang melakukan semuanya. Manaf berencana akan menemui Ayahnya dan ingin menanyakannya. Dan jika benar Ayahnya sendiri yang melakukannya, Manaf akan sangat marah pada Ayahnya karena telah melakukan perbuatan seperti ini pada Airin, gadis yang disayanginya.


Manaf kemudian melanjutkan kegiatannya membantu Airin membereskan semua kekacauan tersebut.


Setelah selesai Airin dan Manaf kemudian berlalu pergi dari pasar tersebut. Airin berencana akan pulang ke rumahnya dan ingin memberitahukan kejadian yang dialaminya tadi kepada orang tuanya. Manaf kemudian menghantar gadis itu untuk pulang terlebih dahulu.


Sesampainya dihalaman rumah, Airin dan Manaf segera keluar dari dalam mobil. Disana terlihat ada beberapa warga yang tengah berkumpul dihalaman rumah Airin. Manaf dan Airin kemudian berlari ingin melihat apa yang telah terjadi.


Mereka berdua tiba-tiba dikagetkan dengan keadaan kios milik keluarga Airin yang terlihat seperti telah dirusak dan semua jualan yang terdapat didalam kios sudah berantakan dan acak-acakan. Sebagian dinding kios terlihat seperti telah dirusak dan terbuka.


Airin kemudian mengalihkan pandangannya ke arah teras rumahnya. Disana juga terdapat beberapa warga yang tengah berkumpul. Airin dengan segera berlari ke arah teras rumahnya. Melihat itu, Manaf dengan segera menyusul Airin.


"Bu.. Ibu kenapa? Apa yang terjadi? Kok Ibu nangis? Ada apa Bu?". Tanya Airin sembari menghampiri Ibunya yang tengah menangis.


Terlihat Ibu Airin yang sedang duduk sambil menangis ditenangkan oleh beberapa ibu-ibu yang ada disana.


"Airin.. Nduk!! Kamu sudah pulang?". Tanya Ibu Airin mengalihkan pandangannya ke arah putrinya itu.


"Kak Airin!!". Teriak Rendi tiba-tiba yang muncul sambil berlari kearah Airin dan memeluk kakaknya itu.


Airin langsung saja menangkap adiknya itu dan membalas pelukan Rendi.


"Iya Bu.. Airin sudah pulang. Ada apa Bu? Kok banyak warga berkumpul disini? Terus tadi Airin lihat kios didepan berantakan. Apa yang terjadi Bu? Kenapa bisa rusak begitu kios kita?". Tanya Airin bertubi-tubi pada Ibunya dengan tetap sambil memeluk Rendi.


"Tadi ada sekelompok preman Nak Airin. Mereka rusakin kios milik kalian dan juga berantakin semua jualan yang ada didalam. Ibu kamu nangis karena perbuatan preman-preman itu. Mereka juga sempat mendorong Ibu kamu sampai terjatuh Nak". Jelas salah satu warga yang ada disana.


"Apa? Kok bisa ada orang-orang yang berbuat jahat sama keluarga kita? Terus keadaan Ibu bagaimana? Rendi kamu gimana? Kamu nggak apa-apa kan? Apa ada yang luka?". Tanya Airin beralih ke arah adiknya Rendi.


Rendi langsung saja mengangkat kepalanya dan menatap Airin.


"Rendi nggak apa-apa Kak? Tapi tadi Rendi coba lawan preman-preman galak itu. Tapi Rendi nggak bisa. Rendi kalah. Jumlah mereka banyak sekali". Jawab Rendi dengan polosnya.


"Rendi! Yaampun Dek! Lain kali kamu jangan gitu lagi. Kalau kamu nanti kenapa-napa gimana?". Ucap Airin menatap adiknya itu.

__ADS_1


"Iya Kak. Rendi minta maaf!". Balas Rendi.


Manaf yang sedari tadi disana hanya melihat semua keadaan sekitar sambil seperti tengah memikirkan sesuatu. Wajah lelaki itu terlihat sangat serius.


"Ibu.. Airin juga ada sesuatu yang ingin Airin beritahukan. Tapi Ibu tetap tenang ya". Ucap Airin pada Ibunya.


"Ada apa Nduk? Sepertinya kamu terlihat serius sekali". Ucap Ibu Airin tak sabar.


Airin kemudian langsung saja menceritakan semua kejadian di pasar tadi. Ibu Airin yang mendengarnya langsung saja memegang dadanya dan terlihat wajahnya yang sangat syok dengan apa yang dikatakan Airin.


"Ada apa ini Nduk? Kok tiba-tiba ada yang berbuat seperti ini kepada kita". Ucap Ibu Airin dengan ekspresi khawatir.


"Airin juga nggak tau Bu. Emangnya Ibu sama Bapak pernah ada minjam ke rentenir atau semacamnya gitu Buk?". Tanya Airin.


"Nggak pernah Nduk. Ibu nggak pernah ada minjam ke rentenir apa lagi Bapak. Kamu tau kan Bapak bagaimana orangnya? Bapak nggak pernah ingin punya masalah dengan para rentenir". Ucap Ibu Airin.


"Iya Bu.. Airin tahu. Terus kita harus gimana sekarang? Apa Airin telfon Bapak aja dulu?". Ucap Airin.


"Jangan Nduk. Bapakmu pasti masih kerja sekarang. Kalau kamu bilang ke Bapak takutnya Bapak syok dan bisa-bisa terjadi apa-apa sama Bapak kamu. Kita tunggu saja nanti Bapak pulang ya Nduk". Ucap Ibu Airin.


"Yaudah kalau gitu Airin ke kios dulu ya Buk. Airin mau lihat keadaan kios sebentar". Ucap Airin.


"Iya Nduk". Jawab Ibu Airin.


Airin kemudian melepas pelukannya pada Rendi. Gadis itu kemudian berjalan ke arah kios. Manaf yang melihat Airin segera menghampiri gadis itu.


"Lo mau kemana Rin?". Tanya Manaf berjalan disamping Airin.


"Gue mau lihat keadaan kios sebentar. Lo belum mau balik?". Tanya Airin.


"Nggak dulu. Gue mau ikut bantuin warga ngeberesin semuanya". Ucap Manaf.


"Makasih ya Manaf. Hari ini lo udah baik banget mau bantuin keluarga gue". Ucap Airin.


"Iya sama-sama". Ucap Manaf sambil tersenyum.


Kerusakan kios milik keluarga Airin cukup parah. Ada beberapa bagian dinding yang terbuat dari kayu telah terbuka dan sengaja dirusak.


Rencananya Airin akan merenovasi kembali kios tersebut. Akan tetapi Airin terlebih dahulu membutuhkan persetujuan dari Ayahnya.


Hingga waktu hampir maghrib mereka semua telah selesai. Semua para warga yang juga ikut membantu tadi mereka semua telah pulang ke rumah mereka masing-masing.


Berbeda dengan Manaf. Laki-kaki itu masih tetap berada disana. Saat ini Manaf, Airin, Ibu Airin, dan juga Rendi mereka semua tengah berkumpul di teras rumah.


"Nak Manaf. Terima kasih ya Nak Manaf sudah ikut membantu". Ucap Ibu Airin pada Manaf.


"Iya Tante sama-sama". Ucap Manaf sopan.


Tidak berapa lama terlihat Ayah Airin yang muncul dengan mengendarai motor lamanya. Beliau kemudian memarkirkan motornya di halaman rumah lalu turun dari atas motor dan berjalan ke arah mereka semua.


"Wahh.. Ada apa kalian semua berkumpul disini? Ada Nak Manaf juga ternyata. Nak Manaf apa kabar?". Ucap Ayah Airin ramah.


"Kabar Manaf baik Om". Jawab Manaf dengan sopan.


Ibu Airin kemudian dengan segera berdiri menghampiri suaminya dan menyalaminya. Disusul Airin dan juga Rendi.


"Ada apa toh kalian berkumpul disini? Kenapa tidak masuk ke dalam?". Tanya Ayah Airin sambil duduk disalah satu kursi.


"Kami semua sedang menunggumu Pak. Ada yang ingin ta omongin ke Bapak. Seng penting ini loh Pak". Ucap Ibu Airin dengan logatnya.


"Ada apa Bu? Kelihatannya serius sekali dari wajah Ibu". Ucap Ayah Airin.

__ADS_1


Ibu Airin kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini. Mulai dari kekacauan yang terjadi di pasar siang tadi hingga kejadian yang terjadi disana. Ibu Airin menceritakan semuanya dengan sesekali Airin ikut menimbrung untuk menjelaskan sedetailnya kejadian di pasar.


Setelah mendengar semuanya, Ayah Airin langsung saja terdiam. Nampak wajah beliau berkerut seperti tengah memikirkan sesuatu. Tidak ada suara yang keluar dari bibir beliau. Tidak berapa lama Ayah Airin berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kios.


Mereka semua yang melihat Ayah Airin segera menyusul beliau dan mengikuti beliau. Setibanya disana Ayah Airin melihat keadaan kios. Wajah tua namun masih terlihat tampan itu tengah berdiri dalam keadaan diam memperhatikan seluruh keadaan kios.


Sementara di tempat lain Ayah Manaf sedang berada di ruang kerjanya sambil duduk dengan santai di kursi kebesarannya. Nampak wajah angkuh yang dia pancarkan.


"Bagaimana? Apa kalian sudah mengerjakan semua yang saya perintahkan?". Tanya Ayah Manaf kepada beberapa anak buah suruhannya.


"Sudah Tuan. Kami semua sudah mengerjakan sesuai dengan yang Tuan perintahkan". Ucap salah satu anak buahnya.


"Kami sudah merusak dan menghancurkan dagangan milik keluarga gadis itu dan juga menghancurkan kios kecil milik mereka". Lanjut anak buah itu lagi.


"Bagus. Itu yang ingin saya dengarkan. Dan ini untuk kalian". Ucap Ayah Manaf sambil menyodorkan check kepada anak buah suruhannya itu.


Salah satu anak buah mengambil chek tersebut dan melihat jumlah uang yang tertera disana. 500 juta rupiah. Harga yang fantastis untuk sekali kerja. Apa lagi hanya dengan bekerja seperti itu. Merusak dan menghancurkan orang-orang kecil.


"Terima kasih Tuan. Apa ada lagi yang ingin Tuan kami kerjakan?". Tanya anak buah itu lagi.


"Sudah cukup untuk hari ini. Tapi lain kali saya akan membutuhkan tenaga dan kerja kalian. Jangan kecewakan saya". Ucap Ayah Manaf sombong.


"Baik Tuan. Terima kasih". Ucap anak buah itu.


Mereka semua pun meninggalkan tempat tersebut dalam keadaan senang. Apa lagi ketika mereka melihat jumlah uang yang seperti itu. Mereka akan bersenang-senang dengan uang itu malam ini.


Sedang Ayah Manaf, pria itu langsung menyandarkan kepalanya dikursi kebesarannya. Nampak wajah angkuh yang terpancar dari muka pria itu.


Ayah Manaf ingin memberikan sedikit pelajaran terhadap putra satu-satunya itu. Dan ingin memberikan pelajaran terhadap keluarga gadis miskin itu. Ayah Manaf ingin menyadarkan keluarga itu bahwa anak gadis mereka sangat tidak pantas bersanding dengan putra satu-satunya itu.


...* * * *...


"Kalau begitu Manaf pulang dulu ya Om, Tante! Nanti besok Manaf datang kesini lagi bantuin renovasi ulang kiosnya". Ucap Manaf.


Saat ini mereka semua sudah berada di ruang tamu keluarga Mahendra. Ayah Airin sudah memutuskan untuk merenovasi ulang kios mereka tersebut.


"Iya Nak Manaf. Terima kasih Nak Manaf sudah mau bantuin. Terima kasih juga Nak Manaf sudah bantuin anak gadis saya ini". Ucap Ayah Airin.


"Iya Om sama-ama. Kalau gitu saya pamit dulu ya Om, Tante!". Ucap Manaf seraya berdiri dari duduknya dan bersalaman dengan kedua orang tua Airin.


"Iya Nak. Hati-hati ya". Ucap Ibu Airin sambil tersenyum.


Airin kemudian menghantar Manaf menuju pintu keluar.


"Sekali lagi makasih ya Manaf untuk hari ini". Ucap Airin tiba-tiba.


Manaf kemudian menoleh ke arah Airin dan mendapati gadis itu tersenyum manis kepadanya dengan lesung pipi yang terdapat disana menambah kesan cantik dan manis diwajah Airin.


Lagi-lagi hati Manaf berdetak kencang melihat Airin tersenyum seperti itu. Manaf kemudian mencoba menetralkan dirinya dan juga hatinya.


"Iya Airin sama-sama. Makasih mulu dari tadi lo ngomong. Udah ngapa". Ucap Manaf mencoba menenangkan dirinya.


"Hihi!!". Kekeh Airin sambil tambah tersenyum dan menunjukan giginya yang rapih.


"Yaampun nih cewek malah tambah senyum lagi. Gue jadi nggak bisa tahankan lihat senyumnya yang manis itu". Batin Manaf tak tahan.


Manaf lalu menarik nafasnya mencoba menetralkan dirinya dan pikirannya. Dipandanginya Airin sebentar.


"Yaudah kalau gitu gue pulang ya. Bye Airin!". Ucap Manaf mengalihkan pandangannya dan melangkahkan kakinya.


"Iya Manaf. Hati-hati ya!". Seru Airin.

__ADS_1


Manaf hanya tersenyum dengan tetap sambil berjalan kearah mobilnya. Sementara Airin, gadis itu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Manaf kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobilnya. Raut wajah laki-laki itu seketika berubah menjadi serius dan sangat dingin. Dia segera melajukan mobilnya ingin menemui Ayahnya malam ini juga.


__ADS_2