Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 111 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Semenjak kejadian di ruang OSIS itu, Allena menjadi orang yang lebih keras dan gampang sekali marah ngebentak orang.


Dia bahkan menjauhi sahabat-sahabatnya termasuk Alvian yang notabennya sahabat sekaligus partner dalam OSIS.


Mereka jarang berkomunikasi seperti dulu. Sahabat-sahabatnya pun sampai bingung kenapa Allena seperti itu.


Bahkan dia tak segan memarahi atau membentak sahabat-sahabatnya itu.


Pernah sekali dimana Airin terus bertanya dan tak berhenti menanyai kenapa Allena menjauhi mereka. Allena malah ngebentak Airin dengan begitu kerasnya.


"Lu bodoh apa to*lol sih? Gua nggak mau diajak bicara. Masih kurang paham juga lu? Lu dipelajaran pinter tapi kaya gitu aja nggak ngerti musti dijelasin. Bodoh lu!!


Itu kata terakhir makian Allena untuk Airin sebelum dia benar-benar keluar dalam kelas.


Semenjak itulah Airin tak berani menegur Allena lagi bahkan yang lainnya ikut tak menegur Allena. Dan Allena bahkan terlihat tidak peduli dengan itu.


Bahkan hubungannya dengan Aziel pun terlihat tak ada perkembangan.


Jika mereka saling berpapasan atau tak sengaja saling betemu pandang. Salah satu diantara mereka pasti akan langsung saling membuang muka tak peduli atau melanjutkan langkah pergi begitu saja tak saling menggubris satu sama lain.


Allena bahkan kadang melihat Aziel lebih sering bersama Zoya. Entah itu di kantin, di parkiran, di taman sekolah, atau kadang mereka berangkat dan pulang bersama ke sekolah.


Bahkan di sekolah beredar berita bahwa Aziel dan Zoya berpacaran. Tapi ada juga berita yang mengatakan bahwa mereka tak memiliki hubungan apapun dan hanya sekedar dekat saja. Nggak ada yang tau sih.


Semenjak itu pula hubungan Aziel dan Allena semakin menjauh.


"Eh, denger-denger Kak Aziel sama Zoya itu pacaran ya. Tapi dulu Kak Aziel sempat deket sama Alexa. Terus Regina juga yang terang-terangan bilang suka sama Kak Aziel. Wihh diembat semua tuh sama Kak El.


Sekumpulan anak cheerleaders duduk melingkar sedang bergosip di aula sekolah. Tanpa menyadari seorang gadis membelakangi mereka dan mendengar mereka bergosip. Itu Allena.


"Tapi dulu sempat yang bikin heboh itu Kak Aziel sama Allena. Kaya couple goals banget dah, mesranya nggak tanggung-tanggung". Timpal salah satu anggota.


"Iya sih itu yang paling buat heboh. Tapi sayangnya ehh Kak Aziel malah jadiannya sama sih Zoya Zoya adik kelas itu. Allena malah nggak ada kabar tuh". Sambung satunya lagi ikut-ikutan.


Allena yang sedari tadi mendengar itu langsung berdiri dari duduknya.


"Kalian disini mau latihan apa mau bergosip!?". Bentak Allena membuat sekumpulan anak cheerleaders itu langsung menoleh kaget mengetahui yang digosipin ternyata ada disana.


Mereka semua kemudian langsung berdiri dan langsung menuduk takut-takut mendapati tatapan tajam menghunus milik Allena.


"Kalian kalau mau bergosip jangan disini, gabung sana sama ibu-ibu komplek cerewet". Bentak Allena lagi.


"Dan lu, maju sini!". Allena menatap tajam salah satunya yang menggosipkan dirinya tadi.


"G-g-gue?". Cewek itu terbata-bata karena ketakutan.


"Iya elu. Siapa lagi? Maju sini!


Gadis tadi maju perlahan kearah Allena dengan perasaan takut stengah mati. Dia mau diapain woyy sama Allena. Allena loh ini. Kaya mau ketemu sama malaikat pencabut nyawa.


"Lu tadi yang omongin gua? Iya?". Bentak Allena saat gadis itu sudah berdiri dihadapanya dengan ekspresi takut.


Sementara dibelakang sana hanya bisa melihat teman mereka dibentak. Tak berani menolong apa lagi melawan.


"G-gu-gue...


"Emang cewe mulut cerewet kaya kalian-kalian itu harus gua kasih pelajaran. Bajingan!".


PLAK!!


Tamparan yang keras mendarat dipipi cewek tadi. Allena yang melakukannya.


Semua yang ada disana seketika kaget dengan apa yang dilakukan oleh Allena.


"Gua belum selesai". Allena ingin kembali menampar. Tapi lengannya tiba-tiba berhenti di udara. Ada yang menahan gerakan Allena.


Allena menoleh dan mendapati seorang pria yang mencengkram lengannya.

__ADS_1


"Apa yang lu lakuin?". Itu Aziel. Pria bertubuh tinggi tegap itu menatap Allena dengan mata nyalang.


Allena langsung menghempas tangan Aziel yang menggenggam lengannya, "Bukan urusan lu". Balas Allena tak kalah nyalang.


"Lu kenapa sih? Lu kenapa tiba-tiba jadi kaya gini. Lu bukan kaya Allena yang gua kenal. Lu berubah. Drastis". Aziel tak habis pikir dengan perubahan yang terjadi pada Allena. Gadis itu sangat terkesan kasar dan tak tanggung-tanggung menampar orang.


"Lu tau apa soal gua? Apa yang lu tau tentang gua? Lu nggak usah sok merasa paling tau tentang gua. Nggak usah sok akrab, nggak usah sotoi". Tantang Allena menghadapi cowo berjakung dihadapannya saat ini.


"Semua! Gua tau semua tentang lu, apapun itu". Balas Aziel menatap mata hazel itu, "Gua cuman nggak habis pikir lu yang tiba-tiba kaya gini. Lu terkesan arrogant tau nggak, lu terlalu kasar jadi orang". Sambungnya lagi.


Sedang orang-orang yang ada disana hanya menonton perdebatan dua sejoli itu. Mereka sama sekali tak berani untuk ikut campur ataupun bersuara.


Rasanya ruangan itu menjadi ruangan yang paling menegangkan karena Allena dan Louis.


"****! Banyak omong lu". Allena mengacungkan jari tengahnya sambil menatap sinis Aziel kemudian berlalu pergi dari sana.


Sementara itu di kelas 11 IPA 2.


"O Mai Gosh yaampun". Suara lengkingan Zee mampu memekakan telinga. Hampir pecah tuh gendang telinga satu kelas karena suara Zee yang hampir 8 oktaf kerasnya.


"Kok jadi gini sih laptop gue? Siapa yang udah berani-beraninya nyentuh laptop gue ihh..". Dengan perasaan kesal bercampur marah gadis itu menatap layar laptop yang ada dihadapannya saat ini.


"Lu kenapa sih Zee? Pecah nih telinga gue denger suara lo yang kaya toa korslet itu". Tessa dari sebrang sana tempat duduknya protes karena suara Zee yang kencengnya hampir merusak gendang telinganya.


"Ihh nyebelin banget sih". Dengan kesal Zee menghentak-hentakan kakinya, "Ini Sa, cerita gue yang buat karya ilmiah tiba-tiba nggak ada, ngilang. Siapa sih yang udah jahat ngilangin cerita gue. Padahalkan gue buatnya udah susah-susah tau". Omel Zee sembari mengutak-atik laptopnya berharab ada keajaiban yang membuat cerita yang telah dibuatnya kembali lagi.


"Ha? Yang bener lo? Mana coba sini gue lihat". Tessa langsung menghampiri Zee.


"Ini nih, nih lihat, tuh nggak ada kan. Padahal gue udah cape-cape ngarangnya tau, malah udah ngilang nggak ada, ihh kesel banget gue. Siapa sih yang udah tega kaya gini ke gue". Celoteh Zee.


"Lo lupa save kali". Ucap Tessa kemudian.


"Mana ada gue lupa save. Tiap beberapa detik tuh gue pasti langsung save kali buat jaga-jaga. Pasti ada yang ngapusin nih, gue yakin. Soalnya tadi nih laptop gue simpan aja di bawah laci". Langsung saja Tessa menoyor kepala Zee.


"Yaelahh itu mah lo nya yang to*lol. Ngapain leptop lo simpan sembarangan. Untung nggak dicuri. Kalau dicuri, gimana nanti?". Tessa tak habis pikir dengan jalan pikiran Zee yang kadang-kadang bisa lemot nggak berpikir panjang dulu.


"Terus lo nggak ada ngekopi gitu cerita yang lo udah buat?". Tanya Tessa kemudian.


"Nggak ada, gue nggak sempet copy pas lagi". Jawab Zee memelas meratapi nasibnya.


"Astaga Zee.. lo emang gob*lok ya.


"Ya kan gue nggak sempet mikir sampai kesananya. Kirain kan gue nggak bakal terjadi kaya gini. Lo kok malah ngatain gue gob*lok sih, bukainnya bantuin kek, tenangin kek, apa kek ihh nyebelin banget sih lo". Zee kesal pada sahabatnya yang satu itu. Tessa malah ngatain dia aja dari tadi, bukannya berbuat sesuatu gitu biar bikin Zee senang walau dikit aja.


"Ya lo nya dongo nggak kepikiran sampe kesana. Terus gue harus ngapain kalau gitu.


"Nggak usah ngomong deh lo ah, bikin gue tambah pusing tau nggak. Sahabat nggak ada gunanya lo, malah bikin gue makin drop aja. Udah sana-sana!". Zee langsung saja mengusir sahabat tak bergunanya itu. Dari pada tambah puyeng kan.


"Iye yaudah-yaudah gue bantuin. Bantuin apa nih.


"Nggak usah, gue coba buat ulang cerita gue aja. Meskipun nggak bakal sama kaya yang pertama, tapi setidaknya gue udah berusaha.


"Umm gitu". Tessa manggut-manggut, "Kalau gitu gimana gue bantuin aja cari siapa dalang dibalik ini semua. Gimana?". Tawar Tessa.


"Terserah lo dah. Gue cuman mau lagi pikirin ini nih. Duhh.. pusing banget dah gue". Zee hampir menangis meratapi nasibnya yang malang ini. Udah cape-cape buat karya ehh malah hilang dalam sekejap. Emang sih karena keteledorannya, ya mau gimana lagi. Nasib nasib!


"Yaudah lo tenang aja. Setelah gue dapet pelakunya siapa, gue bakal langsung kasih tau lo. Terus kita langsung kasih pelajaran biar kapok tuh orang. Oke". Ucap Tessa mantap sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Iya iya". Hanya itu jawaban Zee, karena dia mulai kembali mengutak-atik laptopnya segera ingin memulai tugasnya. Apa lagi waktunya tinggal beberapa hari lagi dan Zee harus segera menyelesaikan cerita karya ilmiahnya itu.


Duhh kasihan banget ya kamu Zee. Sabar ya.


Sementara itu...


"Hahh.. akhirnya selesai juga, seneng banget gue sekarang". Itu Hera. Saat ini gadis itu sedang berada di ruang ganti, karena kelas mereka tadi habis jam pelajaran olahraga.


"Gimana ya sekarang keadaan si cewek bar-bar itu? Pasti dia lagi pusing mikirin kenapa tiba-tiba karya ilmiahnya ngilang gitu aja haha padahalkan gue yang lakuin". Hera tertawa senang karena rencananya telah berhasil.

__ADS_1


Tadi Hera memang sempat masuk ke kelas 11 IPA 1 saat kelas itu sepi. Mengetahui Zee ikut andil dalam lomba karya ilmiah yang diadakan di sekolahnya, Hera ingin mengerjai Zee dengan menghilangkan file cerita karya ilmiah yang dibuat oleh Zee itu.


"Makanya sok caper sih lo sama Setya. Setya itu cuman milik gue, nggak boleh ada siapapun yang rebut Setya dari gue. Apa lagi cewe bar-bar kaya lo, idihh najis tau nggak huh". Umpat Hera berkata pada dirinya sendiri.


Gadis itu memang tak menyukai Zee yang terus saja mendekati Setya dan mengganggu Setya. Padahal Hera sendiri juga sangat menyukai Setya. Tidak boleh ada yang merebut Setya darinya. Siapapun itu.


Hera akan melakukan apa saja untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya untuk memiliki Setya. Termasuk Zee sekalipun.


"Apa lo lihat-lihat gue kaya gitu? Mau gue cabutin mata lo?!". Hera berkata pada seorang siswi yang masuk kedalam ruangan ganti itu.


"Dih biasa aja kali. Lagian ngapain lo senyam-senyum sendiri kaya gitu. Kerasukan setan lo". Balas siswi itu.


"Diem lo! Gue cabut beneran mata lo baru tau rasa. Udah minggir sana, gue mau lewat! Ganggu kebahagiaan gue aja lo". Hera berkata dengan ketusnya sambil menubrukan bahunya disamping siswi tadi lalu kemudian berjalan keluar dari sana.


...*****...


Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi.


Saat ini Allena sedang berada di parkiran menuggu Louis untuk pulang bersama.


Memang beberapa hari ini Allena berangkat sekaligus pulang sekolah bersama Louis. Mengingat itu adalah perintah dari Papah Robert.


Saat sedang asyik menunggu sambil memainkan ponselnya, dari arah lain muncul Zoya si adik kelas. Zoya dengan tampang seriusnya terus memperhatikan Allena sambil memikirkan sesuatu.


Menyadari kedatangan Zoya, sontak Allena mendongak dan mendapati Zoya yang terus memandangi dirinya.


"Ngapain lu liatin gua kaya gitu? Ada masalah lu ama gua!?". Sentak Allena dengan keras kearah Zoya.


Zoya langsung saja mengalihkan pandangannya setelah mendapatkan bentakan dari Allena. Sungguh tatapan Allena bisa membuat nyalinya menciut.


Tapi satu hal yang kalian ketahui. Zoya ternyata memang sudah mengetahui hubungan yang pernah terjadi antara Aziel dan Allena dulu.


Beritanya memang sangat gempar dan heboh di kalangan para murid-murid SMAN Nasional.


Tapi untuk sekarang memang hubungan antara Allena dan Aziel terlihat renggang. Entah apa yang membuat kedua orang itu menjadi tidak sedekat dulu.


Bahkan Allena yang dikenal cuek dan datar sekarang sudah menjadi Allena yang dikenal arrogant dan sangat galak. Gadis itu bahkan tak tanggung-tanggung membentak orang yang merasa ada masalah dengannya. Sekecil apapun masalah itu.


Tidak lama kemudian Louis muncul bersama rombongan kakak kelas lainnya. Disana ada Aziel juga yang pasti dengan Setya.


"Udah lama nunggunya?". Tanya Louis sembari menghampiri Allena.


"Menurut lu?". Allena malah balik bertanya dengan nada yang terkesan ketus. Sedang Louis hanya bisa menghela nafas pasrah melihat sikap Allena itu.


"Yaudah kita balik sekarang kalau gitu". Ucap Louis lagi.


"Yaudah cepetan. Lama banget gua tunggu". Allena kemudian bergegas masuk kedalam mobil.


Tadi dia sempat melihat Aziel menghampiri Zoya yang ternyata menunggunya untuk pulang bersama.


Mereka juga sempat bertemu pandang, tapi Allena langsung membuang muka seakan tak peduli.


Mobil kemudian bergegas keluar gerbang lalu meninggalkan sekolah.


Sementara itu di halte sekolah seperti biasanya Alexa akan menunggu jemputan.


Kalau kalian tanya kenapa dia nggak pulang aja sama kedua sahabatnya. Nggak bisa ya, karena tempat tinggal mereka berbeda arah.


Alexa juga tidak membawa kendaraan karena itu adalah hukuman dari sang Papi karena Alexa tidak bisa mempertahankan nilainya. Semuanya di kurangi.


Hedehh pokonya gitu deh nasib Alexa. Hidup bagaikan orang yang berkecukupan. Padahal dia biasanya hidup berfoya-foya karena Papi yang tidak membatasi. Sekarang dia tidak mendapati itu. Entah sampai kapan.


Masi asyiknya menunggu. Mobil yang dikenalinya berhenti tepat dihadapannya. Seorang pria tampan turun dari mobil dan menghampiri dirinya.


Alexa sontak memutar bola matanya malas.


"Hedehh dia lagi, dia lagi. Sampai kapan sih gue harus berurusan sama nih cowo gila satu....

__ADS_1



__ADS_2