
Hari-hari berlalu. Hari pertandingan telah dimulai. Dimana SMA Negeri Nasional menjadi tuan rumah diadakannya pertandingan antar SMA tersebut.
Diadakannya pertandingan tersebut untuk memperingati hari kemerdakaan Indonesia pada setiap tanggal 17 Agustus. Maka dengan itu SMAN Nasional mengadakan pertandingan untuk ikut menyambut hari penting tersebut.
Suasana riuh tengah memenuhi ruang aula SMAN Nasional. Saat ini ruang aula tengah penuh dengan para siswa-siswi dari berbagai kalangan SMA. Para siswa-siswi tersebut menjadi penonton sekaligus menjadi pendukung dari SMA nya masing-masing.
Pertandingan telah dimulai. Terlihat tim basket SMA Negeri Nasional tengah bertanding melawan tim basket dari SMA Negeri Putra Bangsa.
Terdengar suara gemuruh memenuhi ruang aula dari para pendukung setiap SMA.
Terlihat di lapangan Aziel mendominasi pertandingan dengan teknik permainannya yang bisa dibilang sangat bagus.
Brayen yang juga tak kalah hebatnya bermain dengan sangat baik. Disana juga terdapat Setya, Manaf, Gamma dan juga Alvian berada dalam satu tim dengan Aziel dan juga Brayen. Mereka semua bermain dengan sangat baik.
Akan tetapi dari tim lawan juga tak kalah hebatnya. Mereka juga bermain dengan sangat baik. Terlihat dari salah satu tim lawan juga mendominasi pertandingan.
"Widihh..! Seru banget. Hebat juga mereka mainnya". Ucap Tessa memuji.
"Ayo Gammaaaaa...!! Masukin bolanya". Teriak Tessa bersemangat.
Sementara Allena yang saat ini bersama Tessa hanya duduk diam menonton pertandingan.
"Wuuu.. Maju maju! Jangan diam aja. Masukin bolanya. Gimana sih?". Teriak Tessa lagi.
"Ha? Iya Gamma. Maju maju terus Gamma. Masukin bolanya. Yaaa.....". Teriak Tessa deg-degan.
"Yeee Berhasil. Bagus Gamma wuuuu...!!". Teriak Tessa bersemangat sambil betepuk tangan ketika Gamma berhasil memasukan bola ke dalam ring lawan.
Sementara Chika terus memperhatikan Tessa yang meneriaki nama Gamma dari kejauhan. Dia bertanya-tanya ada hubungan apa Gamma dengan Tessa. Kenapa gadis itu selalu meneriaki nama Gamma.
Pertandingan terus berlanjut. Terlihat SMAN Putra Bangsa tertinggal beberapa poin dari SMAN Nasional. SMAN Putra Bangsa akhirnya mengalami kekalahan. Pertandingan pun selesai. Mereka semua kemudian beristirahat.
Tim basket SMAN Nasional dan tim cheerleaders mereka semua kemudian berkumpul sambil beristirahat bersama-sama.
"Haduhh...! Cape juga ya". Ucap Gamma kelelahan.
"Nih. Gue udah bukain. Baik banget kan gue". Ucap Tessa menghampiri Gamma dan memberikan sebotol mineral pada Gamma.
"Tumben. Makasih!". Ucap Gamma sambil meraih botol mineral tersebut.
"Allena mana?". Tanya Zee seketika pada Tessa.
"Tuh disana". Tunjuk Tessa pada tempat dimana Allena berada.
Terlihat Allena sedang duduk sendiri, bersama seorang laki-laki berdiri dihadapan Allena dan tengah berbicara dengan Allena.
"Siapa tu cowok? Kayanya akrab banget sama Allena". Ucap Zee sambil memperhatikan Allena dan laki-laki misterius tersebut.
Aziel yang mendengar itu dan juga sedang bersama mereka segera mengalihkan pandangannya ke arah Allena. Diperhatikannya terus Allena dan laki-laki misterius tersebut.
Setelah beberapa saat memperhatikan, Aziel yang merasa hatinya tidak menentu, dan seperti tidak suka dengan kedekatan Allena dan laki-laki itu, segera berdiri dan beranjak pergi dari tempat tersebut.
Alexa yang melihat Aziel pergi, segera menyusul lelaki tersebut.
"Aziel tunggu". Teriak Alexa menyusul Aziel.
Di tempat lain
"Allena! Gue cari-cari teryata lo disini". Ucap seorang pria yang saat ini tengah berdiri dihadapan Allena.
Allena yang melihat kedatangan pria tersebut tidak menggubris. Allena hanya memandang datar pria misterius itu.
"Kaki lo kenapa?". Tanya pria itu ketika melihat kaki Allena diperban.
"Lo kecelakaan?". Sambungnya lagi sambil mendekati kaki Allena dan ingin memegangnya.
Allena dengan cepat menjauhkan kakinya dari pria misterius tersebut.
"Ngapain lu disini?". Ketus Allena. Lelaki itu kemudian memandangi Allena.
"Ck. Ternyata lo masih sama ya kaya dulu. Jutek banget tau nggak". Ucap pria itu sambil tersenyum miring.
"Gua tanya. Ngapain lu disini?". Tanya Allena lagi tetap dengan tampang datarnya.
"Lah.. Lo nggak lihat gue ngapain tadi?". Jawab pria tersebut.
"Tante Tiara gimana kabarnya?". Tanya pria itu basa basi.
__ADS_1
Allena tidak menjawab. Gadis itu tetap dengan tampang datarnya menatap pria misterius tersebut.
Pria yang melihat reaksi Allena itu hanya tertawa.
"Haaa...!! Allena Allena!". Ucap pria tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki itu benar-benar tak habis pikir dengan sifat Allena.
"Yaudah kalo gitu gue duluan. Yang penting gue udah nemuin lo dan tau lo sekolah dimana. Gue pergi dulu. Sampai jumpa dilain waktu". Sambung pria itu lagi sambil beranjak dari tempatnya. Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Allena.
Zee kemudian segera menghampiri Allena ketika pria msterius tadi telah pergi.
"Allena! Cowok tadi siapa?". Tanya Zee duduk disamping Allena.
"Bukan siapa-siapa". Jawab Allena malas.
Zee yang merasa Allena tidak ingin menjawab, gadis itu kemudian berhenti bertanya lebih jauh. Dia paham akan sifat Allena.
"Yaudah kalo gitu kita balik ke kelas sekarang?". Tanya Zee.
"Iya". Jawab Allena.
Mereka berdua kemudian berdiri dan beranjak pergi dari tempat tersebut.
"Aziel lo kenapa?". Tanya Alexa yang saat ini sedang bersama Aziel.
Sementara Aziel, lelaki itu hanya diam tak menjawab. Dia tengah seperti memikirkan sesuatu.
"Aziel! Helloo..! Aziel gue tanya lo kenapa?". Ucap Alexa dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Aziel yang tadinya melamun seketika sadar akibat suara Alexa.
"Lu ngapain disini? Dan juga ngapain lu dekat-dekat ama gua. Jauh-jauh sana". Celoteh Aziel pada Alexa.
"Kenapa? Lo marah lihat kedekatan Allena sama cowo yang tadi itu?". Sarkas Alexa.
"Marah? Maksud lu apaan? Ngapain juga gua marah hanya karena Allena?". Elak Aziel.
"Lo jujur aja Aziel. Lo beneran suka kan sama Allena?". Tanya Alexa.
"Suka? Sama Allena? Maksud lu apaan dah? Lu ngomong apaan sih? Ngaco tau nggak". Ucap Aziel.
"Gue peringatin lo ya Aziel. Lo nggak boleh terlalu dekat sama Allena. Kalo nggak, gue bakalan sebarin video itu. Dan lo bakalan lihat apa yang akan terjadi". Ancam Alexa.
Pasalnya Aziel merasa terganggu dengan Alexa yang terus mengancamnya.
"Lo udah tau kan kalo gue tu suka sama lo. Dan gue mau lo jadi pacar gue". Ucap Alexa dengan nada sedikit memaksa.
"Lex! Gua udah bilang kalo gua tuh nggak suka ama lu. Gua juga udah nolak lu buat jadi pacar gua. Lu ngerti kan". Tolak Aziel.
"Oke! Tapi kalau sampe lo dekat apalagi berhubungan sama Allena. Gue nggak akan segan-segan nyebarin video itu". Ancam Alexa sambil berlalu pergi meninggalkan Aziel.
Aziel yang mendengar ancaman Alexa seketika bingung dengan perasaannya. Lelaki itu beranggapan bahwa sebenarnya tak apa jika sampai Alexa menyebar video itu. Toh dia merasa tidak punya perasaan apa-apa terhadap Allena. Dia juga tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya pada Allena.
Akan tetapi ada yang menjanggal dipikirannya. Dia tidak ingin Allena sampai tahu bahwa Alexa mempunyai video rekaman tentang apa yang telah dirinya dan Allena lakukan.
Selain itu Aziel juga merasa bingung dengan perkataan Alexa yang dimana Alexa mengatakan bahwa apakah dia menyukai Allena atau tidak. Aziel masi tidak yakin dengan perasaannya terhadap Allena.
Disaat Aziel masih bergumul dengan pikirannya. Tiba-tiba dia melihat Allena sedang berjalan bersama Zee. Lelaki itu kemudian beranjak menghampiri mereka.
"Allena! Kaki lu gimana? Udah baikan?". Tanya Aziel tiba-tiba dihadapan Allena.
Allena yang mendapati Aziel dihadapannya hanya memandang lelaki tersebut. Gadis itu kemudian kembali melanjutkan jalannya tanpa mempedulikan Aziel.
Mendapati Allena yang bereaksi seperti itu cukup menguras emosi Aziel. Gadis itu selalu saja seperti itu terhadapnya. Dan itu membuat Aziel emosi.
Aziel kemudian kembali menyusul Allena. Dipegangnya pergelangan tangan Allena lalu menariknya pergi dari sana dan meninggalkan Zee dalam keadaan kaget dan juga bingung.
"Eh.. Kak El mau bawa Allena kemana?". Teriak Zee. Namun Aziel terus menarik Allena tanpa mempedulikan teriakannya.
"Kak El". Teriak Zee lagi. Sementara Aziel dan Allena mulai bergerak menjauh.
"Aduhh.. Kak Aziel kenapa sih? Kasihan Allena". Ucap Zee bingung harus berbuat apa.
Sementara Aziel saat ini terus berjalan dengan membawa Allena paksa. Mereka saat ini menuju ruang kelas tak berpenghuni.
"Lepasin! Sakit tau nggak tangan gua". Berontak Allena.
"Lepasin gua bilang. Duuhh..!!". Ringis Allena.
__ADS_1
Aziel tidak peduli dengan ringisan Allena. Lelaki itu tetap mencengkram kuat pergelangan tangan Allena tanpa berniat melepaskannya.
"Lepasin bego! Sakit tau nggak tangan gua". Celoteh Allena denagn terus memberontak minta dilepaskan.
Setibanya di depan ruang kelas tersebut, Aziel langsung menendang pintu kelas tersebut. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam bersama Allena. Gadis itu terus memberontak, namun cengkraman Aziel semakin erat.
Aziel kemudian menghepaskan Allena ke dalam dan langsung beranjak menutup pintu ruang kelas tersebut dengan cepat.
"Aww..!! Tangan gua sakit banget". Ringis Allena sambil memperhatikan pergelangan tangannya yang memerah.
"Lu gila ya ampe tangan gua merah kek gini". Marah Allena dengan menatap tajam Aziel.
"Coba sini". Ucap Aziel tiba-tiba sambil kembali menarik pergelangan tangan Allena.
"Pelan-pelan bego sakit tau nggak. Kaki gua juga tambah sakit gara-gara lu nyeret-nyeret gua. Lu mau ngebunuh gua ya?". Celoteh Allena.
Aziel tak peduli dengan celotehan Allena. Lelaki itu kemudian menuju ke arah meja panjang yang ada di ruang tersebut sambil membawa Allena.
Aziel lalu mengangkat tubuh Allena dan mendudukannya di atas meja panjang tersebut.
"Aduuhh.. ini apaan sih". Ringis Allena memberontak ingin turun dari meja.
"Diem nggak! Diem! Kalo lu nggak diem gua bakal cium lu lagi". Ancam Aziel sambil menahan tubuh Allena.
Allena yang mendengar itu seketika kaget dan langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Matanya membulat. Apalagi saat ini dia dan juga Aziel dalam jarak yang begitu dekat. Allena bahkan bisa mencium aroma tubuh Aziel.
"Lu apa-apaan sih?". Ucap Allena dari balik tangan kanannya sambil memukul bahu Aziel.
"Makanya diem! Susah banget buat nurut". Ucap Aziel sambil memandang Allena.
"Lahh.. Siapa elu nyuruh-nyuruh gua nurut?". Ucap Allena sambil melepaskan tangannya dari bibirnya sambil melototkan matanya pada Aziel.
Aziel yang melihat bibir Allena segera menahan dirinya. Lelaki itu mencoba untuk menetralkan pikirannya dan juga dirinya.
Aziel kemudian beralih ke arah kaki Allena. Aziel kemudian perlahan menurunkan badannya ingin melihat kaki gadis tersebut.
"Lu mau ngapain?". Tanya Allena was-was ketika Aziel berjongkok secara perlahan.
"Udah diem ah! Mau lu gua cium lagi". Sarkas Aziel sambil melihat kaki Allena.
"Kayaknya kaki lu udah sembuh?". Ucap Aziel sambil memegang pergelangan kaki Allena.
"Ya emang udah sembuh". Ketus Allena.
Aziel kemudian melepaskan genggamannya. Lelaki itu kemudian kembali menaikan badannya dan menghadap Allena.
"Lu kenapa sih gitu banget ama gua? Kaya lu nggak suka banget gitu". Tanya Aziel sambil memandang wajah Allena.
"Ya emang gua nggak suka ama lu. Nggak suka banget. Benci pokoknya gua ama lu". Ucap Allena santai.
"Ohh! Ok!". Ucap Aziel tiba-tiba dan langsung memasang ekspresi datar pada Allena.
Allena yang tiba-tiba mendapatkan ekspresi datar dari Aziel seketika diam. Gadis itu bingung akan sikap Aziel yang kadang dapat berubah-ubah.
Aziel kemudian mendekati Allena. Lelaki itu lalu memegang baju seragam Allena.
"Eh lu mo ngapain?". Tanya Allena sambil menatap Aziel dengan membulatkan matanya.
Aziel kemudian memberikan tatapan datar pada Allena namun begitu mencekam. Allena yang melihat tatapan Aziel kemudian hanya mampu terdiam.
Aziel lalu melanjutkan kegiatannya. Didekatkannya dirinya dihadapan Allena, kemudian berjongkok perlahan ke arah pinggang Allena.
Lelaki itu kemudian membuka perlahan baju Allena pada bagian bawa. Diangkatnya sedikit baju Allena. Lelaki itu kemudian memeriksa pada bagian pinggang Allena yang cedera.
Setelah melihat perban dipinggang Allena, Aziel lalu menyentuhnya secara perlahan.
"Uhmm". Gumam Allena sambil meremas pundak Aziel.
Saat ini posisi Aziel tengah berjongkok dihadapan Allena dengan menyentuh pinggang Allena yang diperban.
Reflek Allena meremas bahu Aziel ketika Aziel menyentuh pinggannya secara perlahan. Meskipun memakai perban, Allena dapat merasakan sentuhan Aziel dipingganya yang membuatnya merasakan sesuatu.
Aziel yang mendengar Allena bergumam seketika menghentikan kegiatanmya. Lelaki itu kemudian menurunkan kembali baju Allena secara perlahan.
Aziel lalu segera mengangkat kembali badannya dan berhadapan dengan Allena.
"Kita keluar sekarang". Ucap Aziel dengan menarik lengan Allena.
__ADS_1
Allena yang melihat ekspresi Aziel seketika bingung dengan laki-laki itu. Allena lalu hanya mengikuti Aziel. Mereka kemudian keluar dari ruangan tersebut.