Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 71 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Kalau gitu Papah sama Mamah pulang duluan ya El. Papah sama Mamah juga lagi ada urusan soalnya. Nanti Papah suruh anak buah Papah kesini untuk jagain Azela". Ucap Papah Rian yang sudah berada didekat kedua anaknya.


"Azela, nggak papa kan Papah sama Mamah tinggalin Azela dulu". Ucap Papah Rian sambil mengusap kepala anaknya dengan lembut.


"Iya Pah, nggak papa kok". Ucap Azela dengan tersenyum.


"Mamah sama Papah duluan ya Nak". Ucap Mamah Rani sambil mencium puncak kepala Azela lembut.


Papah Rian beralih menatap Aziel, "Kamu sebentar masih jagain Adik kamu kan El?". Tanya Papah Rian.


"Hmm.. iya". Jawab Aziel seadanya.


"Kalau gitu Papah sama Mamah duluan". Papah Rian menepuk-nepuk pundak Aziel lalu beralih mencium lembut puncak kepala Azela.


Mamah Rani beralih kearah Allena, "Allena, anak cantik. Om sama Tante duluan ya. Om sama Tante lagi ada urusan soalnya". Ucap Mamah Rani tersenyum.


Allena segera menghampiri kedua orang tua Aziel, "Oh iya, Tante Om. Semoga urusannya cepat selesai dengan baik". Ucap Allena mencium punggung tangan kedua orang tua Aziel.


"Iya anak cantik. Makasih ya". Balas Mamah Rani.


Setelah selesai, kedua orang tua Aziel kemudian keluar dan pergi dari ruangan tersebut. Ruangan itu seketika menjadi hening. Allena bahkan tidak tahu harus berbuat apa.


Tiba-tiba Aziel melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada diruangan tersebut dan masuk kedalam tanpa berkata sekatahpun. Nampak wajah Aziel yang terlihat sedang menahan kesal, dan Allena dapat merasakan itu. Sepertinya mereka berdua saling mempunyai hubungan telepati satu sama lain.🤭🤭😅


Beberapa menit kemudian Aziel keluar dari dalam kamar mandi dan langsung mendapati pemandangan yang membuat dirinya senang yang awalnya tadi masih kesal kepada kedua orang tuanya.


Terlihat Azela adiknya dan Allena sedang berbincang-bincang, dan itu membuat hatinya tentram. Pria itu kemudian mendekati kedua wanita itu.


Azela melihat kakaknya Aziel, "Oh iya, ada yang pengen Azela tanyain ke Kak El sama Kak Allena". Ucap Azela seketika sambil melirik Aziel dan Allena secara bergantian.


"Apa itu?". Ucap Aziel menautkan alisnya.


"Kak El sama Kak Allena ini pacaran yaaa". Tanya Azela dengan tatapan curiga kepada dua orang itu.


Allena menggeleng, "Nggak kok, Kak Allena nggak pacaran sama Kakak kamu. Mana mungkin Kak Allena pacaran sama cowok modelan kaya kakak kamu ini". Elak Allena.


"Loh kenapa? Padahal kalau dilihat-lihat Kak El sama Kak Allena cocok loh". Goda Azela.


"Kakak itu nggak mungkin pacaran sama Kakak kamu yang gayanya sok ini. Kamu tau Azela, Kakak kamu ini selalu maksa Kak Allena untuk mengikuti semua kemauannya dia. Kakak kamu ini kasar tau sama Kak Allena". Adu Allena memprovokasi.


"Iya Dek, sampai-sampai bibir Kak Allena ini habis sama bibir Kak El". Ucap Aziel membalas yang langsung saja mendapat pelototan dari Allena karena perkataan Aziel yang terdengar fulgar.


"Hah, maksudnya? Azela nggak ngerti". Ucap Azela yang kelihatan bingung.


Allena langsung saja memukul perut Aziel yang ada didekatnya dengan keras.


"Lu ngomong apa sih, gila lu ya". Desis Allena masih dengan pelototan matanya pada Aziel.


"Lah emang benerkan yang gua omongin, kalau bibir lu itu udah habis sam...". Ucap Aziel terhenti terganti dengan suara ringisan.


BUKH..!!


"Berhenti nggak lu ngomong, gua hajar juga lu disini sekarang. Ada-ada aja lu ngomongnya". Ucap Allena yang terlihat kesal.


Azela yang melihat itu hanya tertawa. Menurutnya Kakaknya itu sangat bersemangat jika bersama dengan Allena. Berbeda jika Aziel berhadapan dengan kedua orang tuanya. Akan selalu bersikap datar dan dingin. Azela berharap Kakaknya itu bisa selalu seperti itu jika harus bersama Allena.


Menurutnya Allena juga sangat cantik. Mempunyai mata hazel yang indah, sehingga membuat orang yang menatapnya merasa tentram. Azela juga sangat ingin jika nanti Allena bisa bersama-sama dengan Kakaknya yang tampan itu.


...*****...


Waktu sudah menunjukan pukul 22.30 malam, dan gadis itu masih berada di rumah sakit. Terbilang lama untuk berada di rumah sakit hanya untuk menemani seseorang. Itu semua juga karena paksaan Aziel. Untung pria itu membelikan pakaian Allena untuk mandi dan berganti disana.


Tapi yang membuat dirinya malu adalah ketika Aziel harus membelikan pakaian dalam untuk Allena. Pria itu harus meminta bantuan kepada penjaga tokoh untuk memilih pakaian dalam sesuai dengan ukuran Allena, dan membuat harinya ini adalah hari yang memalukan baginya.


Tapi mau bagaimana lagi, Aziel harus melakukan itu karena dia memang sudah mulai menyukai Allena. Ya benar, pria itu memang sudah menyukai Allena, bahkan sejak kapan, tapi Aziel tak peduli sejak kapan dia menyukai Allena. Tapi yang jelas Aziel akan melakukan apa saja untuk Allena. Untuk gadis yang sudah disayanginya itu.


"Kalau gitu gua pulang dulu, udah malam juga soalnya". Ucap Allena tiba-tiba sambil beranjak dari tempatnya.

__ADS_1


"Iya, Kak Allena hati-hati ya. Makasih juga buat hari ini udah nemenin Azela disini". Ucap Azela seraya tersenyum kearah Allena.


"Sama-sama". Balas Allena dengan tersenyum pada Azela.


Allena beralih menoleh kearah Aziel yang juga sedang memandanginya, "Gua balik duluan". Ucap Allena.


"Hmm". Hanya deheman yang keluar dari bibir Aziel membuat Allena bingung.


"Umm yaudah gua balik". Ucap Allena lagi seraya berbalik menuju pintu membukanya dan keluar dari ruangan tersebut.


Allena berdiri diam sebentar didepan pintu ruangan itu, lalu memandangi lorong rumah sakit yang mulai sepi. Allena seketika menunduk dan terdengar isakan tangis yang keluar dari bibir wanita itu. Allena memperkecil suara isakannya yang membuat dadanya sesak.


"Apa yang lu harapin Allena?". Allena kemudian berjalan dengan cepat dilorong rumah sakit itu masih dengan isakan tangisnya.


Mungkin Allena sudah salah jika dia berharap Aziel akan menghantarnya walau sampai didepan pintu ruangan Azela. Tapi Allena tau Aziel tidak mungkin akan melakukan hal itu.


Allena terus berjalan cepat sampai di parkiran rumah sakit itu, dan masih terdengar suara tangisan yang keluar dari bibir Allena. Gadis itu berdiri membelakangi depan rumah sakit dan terus menangis. Allena tidak mengerti apa yang telah terjadi padanya. Kenapa dia harus bereaksi seperti itu. Tetapi Allena merasa dirinya telah dipatahkan.


"ALLENA..!!


Tiba-tiba dari belakang ada yang meneriaki namanya. Sontak membuat Allena berbalik kebelakang masih dengan tangisnya, lalu mendapati Aziel yang sedang berlari kearahnya dengan cepat dan langsung merengkuh tubuh Allena memeluknya dengan erat.


"Allena, maaf". Desis Aziel disela-sela dia memeluk Allena.


Allena tak menjawab. Gadis itu hanya menangis membalas pelukan Aziel dengan erat. Merasakan hangatnya tubuh Aziel yang tinggi sedang mendekapnya.


Mereka tak memperdulikan orang-orang yang berlalu lalang disana, yang jelas mereka berdua ingin saling berpelukan dengan nyaman.


Aziel melepaskan pelukannya, dan memandangi wajah Allena, "Hey kenapa nangis?". Ucap Aziel mengelap air mata Allena.


Allena menggeleng. Aziel kemudian kembali memeluk Allena dengan nyaman. Sementara Allena kembali membalas pelukan Aziel dan menyembunyikan wajahnya kedalam dekapan Aziel sambil menutup matanya, mencari kehangatan dan kenyamanan disana.


"Gua antarin lu ya sampe rumah". Ucap Aziel seketika sambil tetap memeluk Allena.


Allena hanya mengangguk, "Terus Azela gimana?". Tanya Allena masih dalam dekapan Aziel.


Aziel melepaskan pelukannya dan memandangi Allena, "Tenang aja. Bentar lagi anak buah Papah gua datang". Jawab Aziel.


"Terus kenapa tiba-tiba?". Tanya Allena dihadapan Aziel.


"Hah, maksudnya?". Aziel balik bertanya, tidak paham maksud Allena.


"Ya itu, kenapa tiba-tiba lu datang kesini buat ngantarin gua pulang? Padahal tadi kan gua lihat kayanya lu nggak ada niatan buat antar gua pulang". Jelas Allena.


"Ohh itu. Nggak ada, gua cuman pengen antar lu pulang aja. Soalnya kan udah malam, takutnya lu kenapa-napa dijalan". Elak Aziel.


Padahal mah tadi nggak rela banget nih Allena pulang. Mau nawarin pulang tapi kepikiran Azela, nggak mungkin kan dia tinggal sendirian. Untung Azela pengertian nyuruh Kakaknya antarin calon masa depannya(mungkin🤭🤭😅)


Nggak peka emang ini Aziel. Katanya sayang sama Allena, tapi masa hal kecil yang seperti itu harus Azela adiknya turun tangan biar sadar. Kalau gitu mah harus belajar dulu.


"Umm gitu ya". Ucap Allena manggut-manggut.


"Kenapa? Lu ngarepnya yang lebih ya". Goda Aziel sambil mencolek dagu Allena.


"Dihh apaan sih? Nggak ya". Elak Allena.


"Terus, kenapa nangis tadi? Sedih AA Aziel nggak ngantarin pulang". Aziel tak berhenti menggoda Allena.


"Ihh lu tu ya rese banget jadi orang. Mulai sekarang gua panggil lu cowok rese. Cowok rese sedunia. Humm". Ketus Allena mengalihkan pandangannya.


Sementara Aziel hanya tertawa melihat tingkah Allena.


"Lu tu ternyata punya beberapa sifat lain yang belum gua tahu ya. Ada pemarah, ada manja juga, ngambekan, sama... oh iya rakus banyak makan". Ejek Aziel.


"Biarin. Gua kan banyak duit, jadi suka-suka gua dong kalau gua belanjain semua duit gua buat makan". Ucap Allena santai.


"Idihh.. sombongnya cewek rakus ini". Ucap Aziel sambil menyentil dahi Allena. "Kalau gitu gua sebut lu si cewek rakus aja biar sama". Sambung Aziel.

__ADS_1


"Hah, nggak mau gua. Jelek amat cewek rakus. Nggak enak banget gua dengarnya". Allena tak terima dengan julukan yang diberikan oleh Aziel.


"Ya suka-suka gua dong. Hak-hak gua". Ucap Aziel tak peduli.


Allena terlihat kesal dengan julukan yang diberikan oleh Aziel. Dia tak terima jika dikatai cewek rakus, ya meskipun memang rakus sih, bayak makannya si Allena itu🤭😂😂


Tidak lama datang anak buah suruhan Papah Rian.


Ketika mereka melihat Tuan Muda mereka, segera para anak buah itu yang ada sekitar 5 orang menghampiri Aziel yang sedang bersama Allena di parkiran.


"Selamat malam Tuan Muda". Ucap salah satu anak buah memberi hormat.


Aziel seketika memberikan tatapan tajam kepada para anak buah itu, "Selamat malam. Lama sekali kalian datangnya. Cepat masuk kedalam dan jaga Adik saya dengan baik.


"Saya keluar sebentar ada urusan". Sambung Aziel.


"Baik Tuan Muda. Mohon maaf atas keterlambatan kami". Ucap anak buah tadi.


"Hmm.. Sekarang cepat kalian masuk. Tidak usah banyak bicara". Ucap Aziel lagi dengan kerasnya.


Para anak buah itu pun pergi dari sana dan bergegas masuk kedalam rumah sakit menuju ruangan Azela.


Allena yang sedari tadi disana hanya menatap Aziel dengan tatapan mencibir, "Bohh.. Tuan Muda nih yee.. sombong amat gua lihat gayanya". Ucap Allena dengan tampang mencibir.


"Ya harus dong. Penerus Rajasa nih bos". Balas Aziel sombong yang langsung mendapat tatapan mendelik dari Allena.


"Udah ah, keburu larut banget nih. Entar telat kita ke sekolah besok. Kan malu Aziel si Ketua OSIS telat". Ucap Aziel menarik lengan Allena dan memasukannya kedalam mobil.


"Terus lu pulangnya naik apa entar". Ucap Allena yang baru sadar.


"Udah lu nggak usah mikirin itu. Yang penting gua antar lu kerumah sampai dengan selamat". Balas Aziel yang sudah berada dikursi pengemudi.


Aziel kemudian menjalankan mobil Allena dan pergi dari sana bersama Allena.


...*****...


Sekitar pukul 05.45 pagi Allena terbangun karena merasa ada yang menepuk-nepuk wajahnya pelan. Allena membuka matanya dan mendapati Louis dihadapannya sedang menatapnya.


"Kenapa tidur disini?". Tanya Louis pada Allena.


Allena semalam ternyata tidur disofa ruang tamu karena sudah sangat mengantuk dan malas jika harus naik tangga menuju kamarnya.


Allena tak menjawab, "Semalam lu nggak balik. Kemana?". Allena malah bertanya balik. Gadis itu tau bahwa orang yang dijodohkan dengannya itu tidak pulang semalam sebab ia tak melihat mobil Louis di garasi rumah.


"Semalam gue ke rumah temen. Biasa, ada urusan sekolah". Jawab Louis.


"Hmm.. yaudah, gua siap-siap dulu. Kita berangkat bareng kan ke sekolah bentar?". Tanya Allena memastikan.


"Iya, gue siap-siap juga kalau gitu". Jawab Louis berlalu menuju kamarnya yang ada dilantai bahwa.


Louis memang masih sadar dan mengetahui batasan akan dirinya dan Allena. Meskipun satu rumah dia sebisa mungkin masih memberi jarak antara dirinya dan Allena. Apa lagi mereka masih dijodohkan belum menikah. Jadi Louis harus bisa menghargai Allena tidak boleh berbuat seenaknya.


Saat ini Allena dan Louis sudah berada dimeja makan untuk sarapan.


"Len, ambilin gue roti tawar dua dong". Ucap Louis memerintah Allena.


Allena seketika memberikan tatapan tak suka pada Louis, tapi masih diambilkan juga dan memberikannya pada Louis.


"Nih". Ucap Allena ketus.


"Diolesin dong sleinya, masa cuman dikasiin roti tawarnya doang". Ucap Louis santai.


Allena kemudian kembali memberikan tatapan kesal pada Louis, tapi kembali menarik roti tawar yang masih dipegangnya untuk mengolesi sleinya. Allena kemudian berniat membuka stoples slei coklat.


"Eh jangan yang itu Len, gue maunya slei nanas aja". Ucap Louis tiba-tiba.


Allena sudah kesal, "Banyak maunya lu ya, oles sendiri aja kalau gitu, nggak usah nyuruh-nyuruh gua. Emang lu kira gua pembantu lu apa". Ucap Allena ketus.

__ADS_1


Louis hanya menahan tawanya. Dia berhasil mengganggu Allena, "Yaelah Len, namanya juga belajar jadi istri yang baik". Ucap Louis merasa lucu akan ekspresi Allena saat ini.


"Diem lu". Kesal Allena tapi masih mengoleskan slei nanas diroti untuk Louis.


__ADS_2