
"Gua tanya sekali lagi ke lu, lu kan yang udah ngerjain Ziva di kamar mandi tadi? Iya kan? Jawab!". Allena benar-benar terlihat menyeramkan saat ini.
Murid-murid yang ingin melerai bahkan tak berani mendekat. Sekali Allena membentak membuat mereka langsung terlonjak kaget.
"Gue bener-bener nggak ngerti maksud lo. Gue dari tadi nggak kemana-mana cuman disini aja". Hera terus mengelak tak mau mengaku membuat Allena semakin emosi.
"Cih, Bajingan! Lu buat gua makin emosi tau nggak". Allena melepas cengkramannya di kerah baju Hera namun tatapan tajamnya tak lepas dari cewek itu.
Tanpa disangka-sangka...
PLAK!!
"Masih nggak ngaku juga lu?!". Allena langsung memberikan tamparan keras di pipi sebelah kiri Hera. Yang disana langsung kaget sekaligus histeris melihat tindakan Allena.
"Omo omo sakit banget tuh!
"Oh Mai Bebeb Allena nyeremin banget woyy!
"Aduh itu kasihan banget, tapi nggak berani bantuin tuh.
"Yaiyalah orang itu Allena. Malah kita yang ikut kena lagi, nggak mau gue tuh.
Begitulah samar-samar suara murid-murid yang melihat kejadian dihadapan mereka saat ini.
Sementara itu..
PLAKK!!
Allena lalu beralih menampar pipi sebelah kanan Hera lebih keras lagi. Sedang Hera terlihat memegang kedua pipinya yang memerah dan terasa sangat perih.
"Gue nggak...
"Diam! Nggak ada yang nyuruh lu ngomong bang*sat!". Allena menarik keras kedua tangan Hera agar telepas dari pipinya lalu kembali menampar gadis itu tak berhenti.
"Ini balasannya karena lu udah berani-beraninya ganggu sahabat gua". Allena terus menampar keras Hera hingga cewek itu jatuh tersungkur ke lantai.
Hera mulai menangis karena merasakan sakit yang teramat sangat di kedua pipi putihnya itu, dan terlihat darah mulai keluar di sudut bibirnya. Kedua sahabat Hera bahkan sudah berusaha menahan Allena namun Allena terus menampar Hera dengan brutal tak memberi ampun.
"Udah Len, berhenti lo nampar Hera!". Chika berusaha menahan Allena yang ingin kembali mendekati Hera. Sedang Alexa mencoba untuk membantu Hera.
"Lepasin gua, gua harus kasih pelajaran ke cewek sialan itu. Dia udah dengan beraninya ganggu sahabat gua Ziva". Allena berusaha memberontak dengan mendorong kuat Chika sehingga terlepas membuat Chika ikut jatuh tersungkur. Lalu dengan cepat mendekat ke arah Hera dan Alexa.
"Minggir lu sialan! Udah gua bilang nggak usah ikut campur". Allena menendang bahu Alexa yang masih duduk di lantai membuat gadis itu meringis dan terjengkang ke belakang.
Allena kemudian langsung kembali meraih kerah baju Hera membuat wajah memerah gadis itu langsung mengarah ke arahnya dan dengan segera Allena mengambil ancang-ancang untuk kembali menampar Hera. Tangan kirinya mulai terangkat keatas.
Namun tiba-tiba tangannya langsung ditarik oleh seseorang dari belakang dan badannya ikut tertarik ke belakang menghadap seseorang yang menariknya tadi.
"Udah, berhenti!". Itu Aziel. Pria itu yang menahan Allena.
Allena diam ditempat sambil menatap Aziel yang ada di hadapannya, namun nafasnya masih terlihat memburu menahan amarah yang bergemuruh di dadanya.
Allena kemudian menarik tangannya, "Lepasin gua!". Sentak Allena.
"Gimana? Udah puas?". Ucap Aziel kemudian sambil menatap mata hazel cantik yang terlihat emosi itu.
"Bukan urusan lu". Allena kemudian berbalik dan ingin kembali menghampiri Hera.
"Udah Allena! Lu kenapa sih?". Aziel kembali meraih lengan Allena menahan gadis itu.
"Lepasin!". Allena menepis tangan Aziel, "Lu nggak usah ikut campur. Ini nggak ada urusannya ama lu.
"Emang ini nggak ada urusannya ama gua. Tapi lu udah kelewatan Allena. Lu udah terlalu berlebihan marah-marah kaya gitu.
"Kalau gua udah berlebihan terus lu apa? Lu nggak ingat lu pernah ngehajar Louis sampai dia hampir mati. Terus lu mau ngatain gua? Lu harusnya sadar diri". Bentak Allena.
"Lu kenapa sih Len? Kenapa lu jadi kaya gini?
"Gua emang dari dulu kaya gini? Jadi lu mau apa ha?
Dari arah lain sahabat-sahabatnya Allena muncul dan langsung mengahampiri mereka mencoba untuk melerai keadaan. Disana juga ada Louis yang langsung mengambil tempat disamping Allena mencoba menenangkannya.
"Len, udah. Gue juga nggak kenapa-napa kok. Lu nggak usah marah ampe segininya juga Len". Zee berusaha menenangkan sahabatnya itu. Gadis itu sudah membersihkan diri dan mengganti seragam baru. Rambutnya pun masih sedikit terlihat basah.
Allena langsung beralih kearah Zee, "Gimana gua nggak marah? Tuh cewek sialan udah berbuat jahat sama lu Ziva, sahabat gua. Dia pikir dia siapa bisa berbuat jahat sama sahabat gua.
"Iya Len, gue tau. Makasih lo udah belain gue. Tapi udah ya, kita pergi aja dari sini sekarang.
Allena kemudian diam dan mengepal kuat kedua tangannya. Gadis itu kemudian beralih menoleh kearah Hera yang masih terlihat menangis dan sedang ditenangkan oleh kedua sahabatnya, lalu beralih menatap bengis Aziel. Dalam seperkian detik Allena menghembuskan nafas kasar dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Minggir kalian!". Bentak Allena kepada murid-murid yang menghalangi jalan kemudian setelah itu tetap melanjutkan langkahnya.
...******...
Saat ini Allena sudah berada di ruang Kepala Sekolah SMAN Nasional. Disana juga ada Zee.
Tadi setelah Allena melabrak Hera dan kembali ke kelas, tidak lama Allena dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah.
Ternyata tadi Hera sempat melapor langsung ke Kepala Sekolah dengan ditemani Alexa juga Chika. Tentu saja itu kerana Alexa yang menyuruh Hera untuk melapor.
Alhasil Allena langsung di beri nasihat-nasihat dan di ceramahi selama ber jam-jam oleh Kepala Sekolah karena tindakannya kepada Hera.
Hera juga tetap tidak mengakui kesalahannya meskipun Zee memberikan kesaksian karena tidak memiliki bukti jika Hera yang melakukannya.
Meskipun mereka yang tadi terlibat ikut dimarahi dan dinasihati namun hanya Allena yang diberi peringatan. Karena Allena adalah anggota OSIS maka dirinya sementara waktu tidak diizinkan untuk aktif dalam organisasi tersebut dan diberi skors selama 3 hari.
Apa lagi Alexa juga ikut mengompor-ngompori dengan mengaku bahwa Allena juga sudah menendang dirinya tadi saat ribut-ribut tadi.
__ADS_1
Allena juga tidak membantah saat dirinya diberikan hukuman. Gadis itu tetap dengan sikap seperti biasanya cuek dan tidak peduli. Kan emang benar Allena melakukan itu pada Hera juga Alexa.
Tapi Allena sama sekali tak mempedulikan itu dan tidak membela diri. Biarkan saja. Toh emang benar. Jadi mau bagaimana lagi. Hukuman ya hukuman. Terserah.
Saat keluar dari ruangan Kepala Sekolah pun Allena terlihat biasa saja seperti tak terjadi apa-apa.
"Duhh kasihan banget sih sama yang diskors. Makanya kalau jadi orang tuh jangan suka nuduh sembarangan". Alexa sengaja menyinggung Allena saat mereka sudah keluar dari ruangan.
Alexa berjalan dengan kedua sahabatnya Hera dan Chika, sedang Allena bersama Zee.
"Dan buat lo Hera, lo tenang aja. Nggak bakal ada yang berani nuduh lo lagi kaya orang yang disana itu". Sambung Alexa lagi yang berhasil membuat Allena menghentikan langkahnya dan langsung berbalik kearah mereka.
Sementara Hera terlihat tak membalas ucapan Alexa, dia malah menunduk tak berani melihat tatapan Allena. Menurutnya Allena yang seperti itu jauh lebih menyeramkan.
"Lex, udah sih. Masalahnya udah selesai juga". Chika lama-lama kesal sendiri sama Alexa yang terus sengaja memancing keributan.
"Kenapa? Emang bener kan yang gue omongin". Alexa tetap tak mau mengalah.
"Eh anji*ng!". Umpat Allena seketika, "Lu bisa diem nggak? Mau gua robek mulut lu sekarang juga ha". Bentak Allena yang terlihat menyeramkan saat ini. Gadis itu dengan tatapan yang sangat tajam menatap Alexa.
"Heh lo pikir gue takut sama cewek yang sok kaya lo". Tantang Alexa.
"Bang*sat nih orang, dibilangin juga". Allena ingin menghampiri Alexa namun Zee segera mencegat gadis itu.
"Jangan Len! Nanti lo kena marah lagi sama Kepala Sekolah. Lo mau hukuman lo ditambah?". Ucap Zee menasihati.
Allena kemudian berhenti dan hanya bisa menatap tajam kearah Alexa yang terlihat begitu menantang dirinya sekaligus membuatnya naik pitam.
Allena mencoba meredam emosinya dengan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dalam seperkian detik Allena berbalik dan melanjutkan langkahnya pergi dari sana.
Tanpa basa-basi Allena langsung berjalan menuju kelasnya untuk mengambil tasnya kemudian keluar lagi tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sahabat-sahabatnya.
Saat Allena baru keluar dari pintu kelas, Allena berpapasan dengan Aziel yang kebetulan memang ingin menemui Allena.
"Mau kemana?". Aziel langsung mencegat Allena yang ingin kembali melangkahkan kakinya.
"Bukan urusan lu". Allena menepis tangan Aziel yang mencengkram lengan atasnya.
"Mau kemana?". Tanya Aziel sekali lagi sambil menatap mata hazel cantik itu.
"Udah gua bilang bukan urusan lu!". Balas Allena.
"Gua tanya sekali lagi. Mau kemana Allena?". Aziel mencoba menekan kata-katanya seakan pertanyaannya itu harus dijawab oleh gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Allena langsung menatap dingin Aziel, "Kenapa lu nggak ngurusin cewek lu aja!?". Desis Allena tajam dan langsung pergi dari sana.
Aziel terlihat menautkan alisnya bingung mendengar perkataan Allena. Apa maksud Allena dengan pertanyaan tadi?
Sementara Allena kini sudah berada diluar sekolah dan sedang menunggu taksi.
"Udah mau balik?". Itu suara seorang pria.
"Kalau lo mau balik, kita balik bareng aja". Sambungnya lagi.
"Nggak usah". Balas Allena tanpa ekspresi.
"Kenapa?
"Lu mau bolos gitu? Nggak usah". Ucap Allena kekeh.
Louis tak membalas dan hanya langsung menarik lengan Allena membawa gadis itu masuk kembali ke dalam sekolah, tetapi bukan untuk kembali ke kelas melainkan menuju parkiran.
Louis membuka pintu mobil dan langsung menyuruh Allena masuk ke dalam mobil. Lalu dia ikut masuk kedalam lewat sebelah kursi pengemudi.
"Beneran mau bolos?". Tanya Allena sembari menoleh kearah Louis yang duduk di kursi pengemudi.
"Hmm". Louis bergumam lalu segera menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan sekolah bersama Allena.
Sedang Aziel yang melihat Allena dengan Louis, hanya memandang kepergian kedua orang itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tadi sebenarnya Aziel sempat menyusul Allena namun karena dia melihat Allena bersama Louis, dia jadi hanya melihat interaksi keduanya dari kejauhan sampai benar-benar Allena dan Louis meninggalkan sekolah dengan naik mobil bersama.
Hingga sekitar 20 menit kini Allena dan Louis sudah berada disalah satu cafe yang lagi hits saat ini. Banyak sekali pengunjung yang datang ke cafe tersebut.
Mereka berdua masuk dan langsung mengabil tempat didekat pintu masuk.
Louis tau jika Allena diskors. Jadi Louis membawa Allena ke cafe. Karena Louis yakin mood Allena adalah makan dan makanan. Kita semua tahu itu(lebih tepatnya para pembaca yang budiman🤭😅).
"Kalau gitu lo makan. Terserah lo mau pesan apa aja, nanti gue yang bayar". Ucap Louis kemudian.
"Gua nggak mau". Jawab Allena yang membuat Louis sontak melototkan matanya. Kok bisa?
"Loh kok.. Kenapa Len?
"Gua nggak mau.
Louis semakin menatap tak percaya pada Allena. Biasanya Allena akan membaik moodnya jika sudah berhubungan dengan makan dan makanan. Tapi kali ini kok berbeda. Allena nggak mau woyy.
"Yaudah, terus lo mau apa? Bilang sama gue". Ucap Louis kemudian.
"Gua cuman mau balik sekarang". Jawab Allena.
"Jadi lo nggak mau makan dulu nih?
"Nggak, gua mau balik. Sekarang Louis!". Allena menegaskan kata-katanya. Dia ingin pulang saja sekarang.
"Hedehh yaudah kalau gitu, tunggu bentar ya". Louis beranjak dari kursinya lalu menuju meja resepsionis yang ada di cafe tersebut. Terlihat Louis berbincang-bincang dengan si resepsionis.
Beberapa menit kemudian Louis kembali menghampiri Allena.
__ADS_1
"Ayo kita balik sekarang!". Seru Louis kemudian pada Allena.
Allena langsung berdiri dari kursinya dan berjalan terlebih dahulu membiarkan Louis hanya bisa menggeleng melihat sikapnya itu.
Hingga didalam mobil Allena dan Louis tak saling berbicara sedikit pun. Allena hanya memandang keluar dari kaca jendela mobil dengan ekspresi datarnya.
Sedangkan Louis sesekali melirik Allena yang duduk di belakang dari balik kaca spion dalam mobil.
Sebenarnya ada sedikit perasaan bersalah di diri Louis. Semenjak dirinya sudah bertunangan dengan Allena dia merasa ada perubahan yang terjadi pada Allena.
Allena menjadi sedikit sensitif dan emosian. Gadis itu jadi lebih sering suka marah-marah dan suka sekali membentak orang. Apa lagi Allena sekarang tak segan-segan memakai fisik dan juga berkata kasar.
Bukan seperti Allena yang dulu yang biasanya hanya akan diam atau memberikan tatapan datarnya kepada orang yang mencari masalah dengannya.
Dan setelah itu Allena pasti langsung akan pergi tanpa menggubris sekaligus tidak akan peduli.
Tapi sekarang gadis itu benar-benar berubah, dan Louis benar-benar merasa tak nyaman dengan perubahan yang terjadi pada Allena sekarang ini.
Sampai mobil berhenti di parkiran, Allena langsung membuka pintu dan keluar dari dalam mobil dan segera berlari masuk ke dalam mansion.
Sedang Louis sekali lagi hanya bisa menghela nafas melihat Allena.
Louis pun bergegas ikut masuk ke dalam mansion besar nan megah itu.
"Bi... Bibi...!". Louis memanggil Bi Ratih dari ruang tengah, "Bi Ratih.. Bi..!!
Bi Ratih muncul dari arah lain dan bergegas menghampiri Louis.
"Iya Den, ada apa?". Bi Ratih tiba di dekat Louis, "Aden baru pulang sekolah? Kok cepat sekali?
"Iya Bi". Jawab Louis, "Oh iya, Bibi bisa buatin Louis minuman nggak? Yang seperti biasa aja Bi". Kemudian Louis meletakkan jas almamater sekolahnya di sofa.
"Ya bisa atuh Den". Sahut Bi Ratih.
"Kalau gitu buatin sekarang ya Bi, Louis lagi pengen minum minuman buatan Bibi yang paling enak sedunia tak ada tandingannya itu". Louis sengaja memuji Bi Ratih.
"Duh Den Louis bisa aja, jadi malu Bibi. Yaudah atuh Bibi ke dapur dulu buatin minum sesuai pesanan Aden". Bi Ratih berbalik dan mulai melangkahkan kakinya.
"Om sama Tante belum pulang Bi?". Seru Louis.
"Iya Den Louis. Sepertinya nanti sore baru pulang". Jawab Bi Ratih saat sudah kembali berbalik kearah Louis.
"Oh iya, yaudah Bi lanjut". Balas Louis. Sementara Bi Ratih kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Louis kemudian membaringkan tubuhnya di sofa sambil menuggu pesanannya dari Bi Ratih.
Sementara itu Allena yang sudah berada dalam kamarnya terlihat tengah berbaring diatas ranjangnya sambil memejamkan matanya.
Gadis itu sepertinya sudah tertidur.
Lagi dan lagi. Allena selalu seperti itu. Tertidur tanpa membuka seragam sekolahnya terlebih dahulu.
...******...
TOK!
TOK!
TOK!
Pintu kamar Allena diketuk dari luar.
Allena yang memang sudah bangun bergegas menuju pintu dan membukanya.
Ini sudah pukul 5 sore saat dia tidur sepulang dari sekolah tadi.
"Apa?". Tanya Allena saat Louis yang ada di hadapannya saat ini.
"Makan dulu. Gue udah beliin ini tadi". Louis memberikan sekantong kresek berisi makanan yang dipesannya saat di cafe tadi. Ternyata saat dia berbicara dengan resepsionis itu adalah untuk memesan makanan dan dihantarkan langsung ke mansion.
Allena melirik kantong kresek yang disodorkan Louis dihadapannya.
"Hmm". Allena meraih kantong kresek berisi makanan itu.
"Len, gue mau...
"Gua nggak mau ngomong". Segera Allena memotong ucapan Louis.
BLAM!!
Dan dengan cepat Allena menutup pintu kamarnya dengan keras membuat Louis terlonjak kaget.
Pria itu mengelus-elus dadanya akibat tindakan Allena tadi dan hanya bisa menggeleng pasrah.
"Astaga Len, Len! Lo kenapa sih?". Louis kemudian pergi dari sana sambil terus mengelus-elus dadanya.
...******...
Malam harinya, sekitar pukul 8 malam terlihat Allena yang sedang melangkahkan kakinya di ruang keluarga.
"Mau kemana kamu Allena malam-malam begini?". Suara Papah Robert menghentikan langkah Allena.
Saat ini kedua orang tua Allena sedang berada di ruang keluarga. Terlihat Papah Robert dan Mommy Tiara sedang beristirahat sambil menonton siaran televisi kesukaan mereka.
Allena menoleh kearah Papah Robert, "Allena ada yang mau dibeli Pah, buat tugas sekolah besok". Jawab Allena. Gadis itu berbohong. Padahal dia sedang di skors selama 3 hari dan Allena sama sekali tak memberi tahu kedua orang tuanya jika dia sedang di skors.
"Yasudah, kalau begitu kamu jangan kemalaman pulangnya". Ucap Papah Robert.
"Iya Pa". Allena kemudian kembali melanjutkan langkahnya bergegas keluar rumah lalu ke parkiran mengambil motor sportnya dan pergi dari sana.
__ADS_1