Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 82 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Hari-hari berlalu kini Ujian telah dilewati dan telah selesai. Selama itu pula Allena dan para sahabat-sahabatnya menghabiskan waktu mereka latihan untuk diacara kegiatan sekolah yang akan digelar dalam satu minggu lagi.


Mereka juga menghabiskan liburan mereka untuk menemani Airin yang menjaga Ayahnya. Beliau saat ini memang sudah sadar dan juga sudah keluar dari rumah sakit.


Akan tetapi Ayah Airin saat ini harus memakai kursi roda karena kakinya yang patah dan harus diamputasi sehingga Ayah Airin dioperasi menyebabkan beliau sudah tidak bisa berjalan lagi.


Berbeda dengan mereka, Manaf bahkan tak pernah kelihatan sedikit pun. Pria itu bahkan tak pernah ikut latihan apapun selama selesai ulangan hingga saat ini. Manaf bahkan sudah tak pernah lagi ikut berkumpul bersama sahabat-sahabatnya.



Bahkan Manaf sendiri yang meminta agar sahabat-sahabatnya itu tak usah mencarinya atau menanyakan kabar tentangnya sekaligus itupun Gamma sendiri yang sudah menjadi sahabatnya sejak duduk dibangku SMP.


Manaf seperti menjauh, hilang kabar setelah apa yang telah diperbuat oleh Ayahnya sendiri ke keluarga Airin. Tidak ada yang tau apa sebenarnya ingin diperbuat oleh pria itu.


Akhirnya para sahabatnya itu juga tak pernah berbuat sesuatu kepada Manaf. Mereka ingin menghargai keputusan Manaf. Jika sudah seperti itu apa boleh buat.


Sementara untuk hari ini terlihat di SMAN Nasional tengah dalam persiapan untuk pembuatan panggung pementasan seni nanti.


Banyak murid-murid yang sibuk dengan kerja mereka masing-masing. Bahkan Allena terlihat ikut sibuk membantu para murid-murid yang bertugas sebagai penata panggung.


"Nih, buat lo". Ucap seorang pria yang menyodorkan sebotol mineral kearah Allena. Gadis itu terlihat sedang duduk sendirian disisi panggung.


Allena mendongak dan mendapati Brayen yang sedang berdiri dihadapannya sambil menyodorkan sebotol mineral kearahnya.


Sudah lama Allena tak bertemu dengan Brayen bahkan berbicara sekalipun dengan pria itu. Ini untuk kesekian kalinya lagi mereka berbicara setelah Allena meminta Brayen untuk menjauhinya.


Brayen memang datang hari itu selaku anggota OSIS. Apalagi kan ujian juga sudah selesai. Jadi dia tidak ada kesibukan lagi untuk belajar atau semacamnya.


"Minum dulu. Emang lo nggak haus?". Ucap Brayen lagi masih dengan posisinya.


Allena kemudian mengambil botol mineral tersebut dari tangan Brayen tanpa berbicara, membuka tutupnya lalu meminumnya.


Brayen yang melihat itu langsung mengambil tempat disamping Allena dan duduk disana.


Sementara tak jauh dari tempat Allena dan Brayen saat ini, terlihat Aziel yang sedang memperhatikan kedua orang itu dari tempatnya. Aziel saat ini sedang bersama Setya.


"Jiahh.. ada yang panas nih kayaknya. Ehem ehem.. adem bor adem". Ejek Setya kepada sepupunya itu.


Aziel yang mendengar itu langsung memberikan tatapan sinis kearah Setya.


"Wuishh.. santai dong El, santai. Gitu amat ngelihatnya. Situ panas bor". Ejek Setya lagi dengan menahan tawanya.


Aziel berdecih, "Ck, berisik lu". Aziel kesal karena Setya mengejeknya. Ditambah lagi dengan pemandangan yang membuatnya emosi.


Dengan segera Aziel beranjak pergi dari sana.


"Udah lama ya Len, kita nggak saling ngomong kaya gini lagi setelah lo minta gue buat nggak deket-deket lagi sama lo". Ucap Brayen membuka obrolan pada Allena.


Saat ini mereka masih berada disisi panggung.


"Gue ngehargain keputusan lo buat minta gue jauhin lo. Oke gue ngehargain itu dan gue juga ngelakuin apa yang lo minta.

__ADS_1


"Tapi Len, apa lo nggak ada niatan buat kasih tau gue alasannya apa. Gue benar-benar bingung sendiri Len, disaat lo minta gue untuk ngejauhin lo. Tolong lo kasih tau ke gue apa alasannya. Apa gue ada salah sama lo? Kalau emang ada, tolong lo kasih tau ke gue". Ucap Brayen menoleh kearah Allena dan menatap gadis itu.


Brayen memang sangat ingin mengetahui apa alasan Allena meminta dirinya untuk menjauhinya bahkan tak dekat-dekat lagi dengan Allena. Itu sungguh membuat Brayen frustasi sendiri.


Bagaimanapun Brayen memang masih sangat menyukai Allena. Pria itu ingin seperti dulu lagi dengan Allena, bisa dekat dan berbicara lebih akrab lagi dengan Allena. Bukan seperti dua orang asing yang bahkan tak memiliki hubungan apapun baik itu hanya pertemanan.


Seandainya Allena tau perasaan Brayen padanya. Akankah Allena mau menerima Brayen. Pria itu memang belum bisa melupakan Allena. Jauh didalam lubuk hati Brayen, dia masih menyimpan rasa untuk gadis cantik blasteran itu.


Sementara Allena, mendengar perkataan Brayen, gadis itu menoleh kearah Brayen, "Emang ha...". Ucap Allena terhenti.


Aziel tiba-tiba saja muncul dari arah lain dan langsung menarik lengan Allena, "Ikut gua sekarang". Ucap Aziel. Sorot matanya begitu mengintimidasi menatap Allena.


Brayen yang melihat, pria itu langsung saja menarik lengan Allena yang satunya, "Apaan lo El? Gue masih mau ngomong sama Allena". Ucap Brayen. Pria itu tak suka dengan cara Aziel yang mengganggu dirinya yang ingin berbicara dengan Allena.


Aziel melirik lengan Allena yang dipegang oleh Brayen, "Lepasin tangan lu dari Allena". Ucap Aziel menatap tajam Brayen.


"Gue nggak mau. Kenapa nggak lo aja yang lepasin tangan Allena? Gue ama dia disini dari tadi. Lo datang-datang tiba-tiba langsung tarik tangan Allena mau bawa dia pergi. Hak lo apa mau bawa Allena pergi". Brayen mulai kesal akan sikap Aziel yang seperti semena-mena kepadanya.


Aziel yang melihat Brayen yang berani kepadanya langsung mendekat dan melepas genggaman Brayen dari lengan Allena dengan paksa.


"Gua udah bilang, lepasin tangan Allena. Berani lu ama gua ha". Gertak Aziel sambil mendorong keras Brayen.


Aziel kemudian kembali menarik lengan Allena ingin membawa gadis itu pergi dari sana, namun degan cepat Brayen melangkah dan kembali menarik lengan Allena menahan Aziel yang akan membawa Allena.


"Gue ada urusan sama Allena, lo nggak ada hak apapun bawa Allena pergi". Balas Brayen sambil menatap sengit Aziel.


Aziel mulai emosi, "Berani lu ama gua ha? Mau gua hajar lu sekarang". Bentak Aziel ingin maju kearah Brayen.


Allena yang melihat perseteruan kedua pria itu sedari tadi, mulai kesal, "Lu berdua apaan sih ah". Teriak Allena tiba-tiba sambil menarik tangannya melepas genggaman kedua pria itu dilengannya dengan kuat.


"Lu berdua mau matahin tangan gua? Dari tadi kalian berdua narik-narik gua terus. Lu berdua pada gila apa gimana". Ucap Allena ketus. Gadis itu merasakan sakit dipergelangan tangannya akibat Aziel dan Brayen yang begitu kuat menariknya.


Aziel beralih menoleh kearah Allena. Pria itu kemudian langsung menarik lengan Allena dengan kuat, sehingga gadis itu bertubrukan dengan badan tegap Aziel.


Aziel langsung menatap sengit Brayen, "Lu mau tau apa hak gua sama Allena?". Ucap Aziel sambil menoleh kearah Allena.


Aziel lalu kembali menatap Brayen dengan wajah bengisnya, "Allena cuman milik gua, dan lu nggak ada hak apapun untuk ngerebut Allena dari gua. Ingat itu". Ucap Aziel menekan kata-katanya disetiap kalimat yang diucapkannya. Seakan itu adalah penegasan bagi Brayen yang tengah berdiri menatapnya tak percaya.


Sementara Allena yang mendengar itu langsung mendongakan kepalanya menatap Aziel dengan wajah yang serius, membiarkan Aziel yang merangkul pinggangnya dengan posesif.


Aziel lalu melepaskan rangkulannya dipinggang Allena dan meraih lengan Allena, dengan cepat Aziel menarik gadis itu pergi dari sana bersama dengannya.


Sementara Brayen hanya diam berdiri menatap kepergian kedua orang itu dengan tampang kebingungan.


Brayen bisa menangkap sesuatu. Brayen mengetahui bahwa ternyata Aziel menyukai Allena. Dari kata-katanya saja Brayen bisa mengetahui itu.


Tak jauh dari tempat ketiga orang tadi, Alexa yang menyaksikan itu saat ini berdiri sambil mengepal kuat kedua tangannya menahan kesal.


"Tenang Lex, kita tau perasaan lo ke Kak El kaya gimana. Tapi lo nggak mungkin maksain perasaan lo sama Kak El.


"Lo lihat sendirikan gimana perlakuan Kak El sama Allena seperti apa. Kak El juga dari dulu nggak pernah nganggap lo. Bahkan nggak ngehargain perjuangan lo untuk dia". Ucap Chika yang saat ini sedang bersama Alexa. Disitu juga ada Hera yang hanya bisa menatap iba kearah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Iya Lex, lebih baik lo lupain perasaan lo sama Kak El. Kita juga sebagai sahabat lo kasihan kalau lihat lo kaya gini terus". Timpal Hera.


Sedari dulu Chika dan Hera tau bahwa Alexa sangat menyukai Aziel. Sahabat mereka itu selalu berusaha agar Aziel mau menerima ungkapan perasaannya. Alexa selalu berusaha agar Aziel menganggapnya ada sebagai wanita yang sangat menyukai dirinya.


Tapi mau bagaimana lagi. Aziel memang tidak ada perasaan sedikit pun terhadap Alexa. Pria itu bahkan selalu berusaha menjauh dari Alexa.


Alexa yang mendengar itu hanya menatap Hera dan Chika bergantian. Sesaat kemudian Alexa pergi dari sana dengan perasaan yang campur aduk, antara kesal, sedih, dan marah menjadi satu yang saat ini dirasakan oleh Alexa.


Sementara saat ini, terlihat Aziel yang sedang menarik lengan Allena berjalan dikoridor sekolah.


"Lepasin!! Sakit tau tangan gua lu tarik-tarik kaya gini". Ringis Allena yang berusaha memberontak. Cekalan Aziel dilengannya sungguh begitu kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.


Aziel tak peduli, pria itu tetap menarik lengan Allena dengan kuat melewati lorong-lorong kelas yang terlihat sepi itu.


"Duhh.. lepasin bang*ke! Sakit ini". Ringis Allena lagi. Aziel benar-benar terlalu kuat mencengkramnya.


Aziel tetap tak berhenti. Pria itu bahkan menyeret Allena dengan kasar seperti orang yang kerasukan.


Allena mulai emosi dengan Aziel yang memperlakukannya seperti itu. Menurutnya Aziel terlalu bertindak berlebihan jika pria itu marah padanya.


Dengan sekuat tenaga Allena menarik tangannya dari cengkraman Aziel.


"Aziel!!". Bentak Allena yang berhasil terlepas, dan langsung berhenti ditempatnya. "Lu kenapa sih narik gua ampe kaya gini. Sakit tangan guaaa...akkhh...". Gerutu Allena marah sambil memegang lengannya yang sakit.


Sementara Aziel terlihat memperhatikan pergelangan tangan Allena yang terlihat memerah akibat ulahnya.


"Duhh.. sakit banget". Ringis Allena pelan sambil meniup-niup lengannya yang memerah bahkan ada bekas cengkraman Aziel tadi.


Aziel langsung mendekat kearah Allena dan meraih lengan Allena itu, "Sorry gua nggak sengaja. Kekerasan ya gua nariknya tadi? Maaf". Ucap Aziel merasa bersalah.


Allena yang melihat itu langsung menepis tangan Aziel, "Lu kenapa sih ah? Aneh tau nggak. Tiba-tiba narik tangan gua ampe kaya gini. Lu kira nggak sakit apa". Celoteh Allena yang terlihat kesal atas perlakuan Aziel padanya.


"Sorry Len, gua benar-benar nggak sengaja tadi. Gua minta maaf ya". Ucap Aziel dengan tatapan bersalahnya.


"Ck, malas gua ngomong ama lu kalau kaya gini". Ucap Allena masih terlihat kesal. Allena kemudian melangkahkan kakinya kesamping Aziel ingin pergi dari sana.


Namun dengan cepat Aziel mencegat Allena menahan gadis itu, "Len Len Len Len!! Tunggu tunggu tunggu... gua minta maaf. Gua minta maaf ya". Desis Aziel merasa bersalah.


"Lu jangan nggak mau ngomong ama gua. Jangan jauhin gua ya. Gua minta maaf, beneran dah". Ucap Aziel terlihat seperti orang yang sedang memohon.


Allena menautkan alisnya sambil menatap bingung akan sikap Aziel padanya saat ini, "Lu kenapa sih? Aneh tau nggak". Ucap Allena yang merasa aneh akan perubahan sikap Aziel. Tadi kasar, tiba-tiba lembut, sekarang kaya orang ketakutan gitu. Nih bocah kenapa pikir Allena.


Aziel tak menjawab. Pria itu tiba-tiba langsung merengkuh tubuh Allena membawa gadis itu kedalam pelukannya. Membuat Allena semakin dibuat bingung oleh Aziel.


"Gua bener-bener minta maaf sama lu Allena. Maaf tadi kalau gua kasar. Tapi lu jangan nggak mau ngomong ama gua. Jangan jauhin gua. Sorry...!!". Ucap Aziel yang merasa bersalah. Pria itu semakin mempererat pelukannya pada Allena. Diraihnya pinggang ramping Allena dan memeluknya erat.


"Lu kenapa sih ha? Jangan buat gua bingung". Tanya Allena disela-sela Aziel yang mendekapnya.


Aziel tak menjawab, pria itu hanya menggeleng sambil kembali mempererat pelukannya pada Allena, menghirup aroma tubuh gadis itu, yang membuatnya merasakan kenyamanan bila berlama-lama didekat Allena.


Sementara Allena hanya membiarkan Aziel memeluknya dan ikut merasakan kenyamanan didekap pria tinggi tegap itu. Meskipun Allena masih merasa aneh sih dengan sikap Aziel tadi. Benar-benar aneh menurutnya.

__ADS_1


'Maaf Len, gua nggak suka lo dekat-dekat sama Brayen. Gua lihat itu rasanya hati gua sakit banget, nggak tau kenapa?'.



__ADS_2