Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 52 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Dua minggu berlalu. Liburan akhir semester telah usai. Saat ini murid-murid dari seluruh penjuru sekolah sudah mulai masuk sekolah kembali, dan mengikuti proses belajar mengajar seperti semula.


Sama seperti dengan SMA Negeri Nasional. Sekolah itu terlihat dipenuhi dengan para siswa-siswi yang sudah mulai bersekolah kembali.


Saat ini lebih tepatnya di kelas 10 IPA 1 telah berkumpul yang terdiri dari Manaf, Gamma, Alvian, Airin dan juga Tessa. Terlihat mereka tengah berbincang-bincang sesuatu.


"Hah.. Males gue nggak ada Allena sama Zee disini. Mereka kok nggak datang ya hari ini? Berasa ada yang kurang didiri gue kalau nggak ada mereka berdua". Cicit Tessa tiba-tiba dengan wajah memelasnya.


"Kalau Ayang Zee gue sih katanya bakalan datang besok atau lusa. Kalau Allena nggak tau bakalan datang kapan. Nggak ada kabar tu anak soalnya". Timpal Alvian.


"Kalian ada kabar nggak soal Allena?". Sambung Alvian lagi pada teman-temannya.


"Itu yang jadi masalahnya. Tuh anak nggak bisa dihubungin. Gimana kita mau tau kabar tentang Allena. Tiba-tiba ilang kontak dia. Terakhir waktu kita vidcall grub WA itu kan sama Allena". Timpal Gamma kali ini.


"Iya yah. Allena kenapa ya kira-kira? Kok tiba-tiba dia nggak ada kabar kaya gini". Ucap Manaf ikut menimpali.


"Huff.. Makanya gue males banget nih sekarang nggak ada dua tuh bocah". Ucap Tessa sambil menidurkan kepalanya diatas meja. Terlihat wajah murung yang dipancarkannya.


Sementara Airin, gadis itu hanya diam saja. Dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Airin.. kok lo diem aja sih dari tadi. Lo mikirin apa? Lo ada masalah? Bilang aja ke kita. Kita siap bantu ko kalau emang kita bisa bantu". Seru Alvian tiba-tiba membuyarkan kesadaran Airin.


Airin yang sedari tadi terdiam tiba-tiba tersadar dan langsung memandangi teman-temannya yang juga saat ini sedang memandanginya.


"Oh nggak. Gue cuman ini.. apa-ini-itu-apa ck.. gue cuman ini mikirin perkataan Allena waktu itu". Ucap Airin gugup karena tersadar dari lamunannya.


"Perkataan Allena waktu itu? Perkataan apa emang? Emang Allena ada ngomong apa sama lo?". Tanya Tessa yang kini menengadahkan kepalanya menatap Airin.


"Ini.. perkataan Allena yang waktu itu. Yang waktu kita sama-sama di restoran Kak Brayen. Yang Allena bilang dia mungkin nggak bakal balik lagi ke sini ke Indonesia. Yang dia bilang bakal menetap di Amerika". Jawab Airin sambil memandangi teman-temannya satu-persatu.


"Oh iya ya. Allena kan pernah bilang ke kita-kita waktu itu ya. Apa jangan-jangan Allena udah mutusin menetap di Amrik, makanya dia nggak ada kabar". Ucap Tessa.


"Kalau bener kaya gitu, jadi kita bakalan susah dong buat ketemu sama Allena. Huwaa... padahalkan gue belum lama ini bisa deket sama temenan sama Allena. Dia udah pergi jauh aja". Sambung Tessa dengan ekspresi sedihnya.


"Yaelah Sa.. lo kan orang kaya. Keluarga Jaya kan salah satu usaha importar terbesar di bidang barang-barang branded terkenal. Masa ke Amerika aja nggak bisa". Timpal Manaf dengan gaya tengilnya.


"Yee.. lo pikir gampang apa? Nggak gampang kali buat gue yang apa-apa dibatasin sama Bokap gue". Ucap Tessa jutek.


"Eh Manaf asal lo tau ya. Nih sepupu laknat gue yang satu ini, dia itu apa-apa dibatasin ama Bokapnya. Di ATM nya aja nggak nyampe 20 juta kayaknya. Ke sekolah aja sering pake motor bututnya itu. Kasihankan haha..!!". Timpal Gamma mengejek Tessa.


"Yee apa-apaan lo Gam? Lo gitu ya cara mainnya. Buka kartu lo ya. Emang lo dasar sepupu nggak ada akhlak emang. Awas aja lo". Ketus Tessa tak terima dengan perkataan Gamma sepupunya.


"Lah.. emang benerkan apa yang gue omongin. Lihat aja tuh tampang dan penampilan lo. Berandalan. Gimana Om nggak ngebatasin lo? Lo aja kaya laki padahalkan lo cewe". Cibir Gamma tak mau berhenti.


Alvian dan Manaf yang mendengar itu hanya tertawa dengan perkataan Gamma. Lelaki itu suka sekali mengejek Tessa yang notabennya adalah sepupunya.


Sementara Airin, gadis itu hanya tersenyum kecut. Dia saja tak pernah memegang uang tak sampai 1 juta. Berbeda dengan teman-temannya yang semuanya berasal dari kalangan atas. Berbeda dengan dirinya yang hanya di bawah mereka. Apakah Airin akan bertahan dengan lingkaran pertemanannya yang seperti ini.


Saat Airin sedang berdebat dengan hati dan juga pikirannya, tiba-tiba dari pintu masuk muncul Brayen si kakak kelas dan langsung berlari menuju ke arah mereka semua.


"Allena mana? Dia nggak datang?". Tanya Brayen dengan nafas memburu.


"Kak Brayen nyariin Allena? Allenanya nggak ada Kak. Dia nggak datang". Jawab Alvian pada Brayen.


"Allena nggak datang?. Huff..!". Ucap Brayen memelas. Pria itu kemudian mengusap rambutnya frustasi dan duduk di salah satu kursi dengan wajah memelasnya.


Mereka ber-5 yang melihat itu seketika melirik satu sama lain. Mereka bertanya-tanya ada apa dengan Kakak kelasnya yang terkenal jago main basket itu.

__ADS_1


"Eh Kak Brayen kenapa tuh? Kok gitu amat reaksinya waktu tau Allena nggak datang hari ini". Ucap Tessa berbisik kepada ke-4 temannya sambil melirik ke arah Brayen yang tengah melamun dengan tampang memelas.


"Lo pada mau gue kasih tau satu rahasia nggak". Timpal Alvian tiba-tiba sambil melirik kepada teman-temannya.


"Apaan tuh? Apaan tuh? Kasih tau sekarang ke kita-kita". Ucap Manaf heboh.


"Gue mau kasih tau kalau Kak Brayen itu ternyata suka sama teman kita Allena". Jawab Brayen.


Mereka ber-5 yang mendengar itu seketika kaget dan membulatkan mata mereka tak menyangka.


"Hah yang bener lo? Tau dari mana lo?". Tanya Tessa antusias.


"Apa gue bilang? Udah gue duga kalau Kak Brayen suka sama Allena. Dari dia natap Allena aja udah kebaca". Ucap Manaf yakin.


Sementara Brayen, laki-laki itu masih diam ditempatnya seperti memikirkan sesuatu. Pria itu masih dengan tampang memelasnya.


Tessa yang melihat itu segera menghampiri Brayen dan duduk dikursi dekat Brayen.


"Ciee.. Kak Brayen suka ya sama Allena. Makanya datang kesini cuman buat nyariin Allena tapi Allenanya nggak ada. Sabar ya Kak". Goda Tessa sambil menaik-turunkan alisnya.


"Jadi bener ya Allena nggak bakal balik ke sini lagi?". Ucap Brayen tiba-tiba dengan tatapan kosong.


"Jadi Kak Brayen tau Allena kemungkinan nggak bakal balik lagi?". Kali ini Airin yang berbicara.


"Iya dari Alvian". Jawab Brayen sambil memperhatikan mereka secara bergantian.


Mereka ber-4 segera menoleh ke arah Alvian setelah mendengar perkataan Brayen.


"Maaf. Hehe!!". Ucap Alvian dengan cengirnya.


"Tapi Alvian nggak kasih tau kok Allena keluar negrinya dimana. Karna kata Alvian kalian udah janji sama Allena buat nggak kasih tau siapapun. Gue juga taunya Allena keluar negri itu sama Satpam penjaga rumah Allena". Ucap Brayen menjelaskan.


"Iya. Gue pernah antarin Allena ke rumahnya waktu gue nemuin dia dalam keadaan mobil dia mogok". Jawab Brayen.


"Parah si Allena. Kita aja nggak pernah diajakin dia buat main ke rumahnya". Ucap Tessa.


Brayen yang mendengar itu hanya tersenyum. Laki-laki itu kemudian berdiri dari duduknya dan ingin beranjak pergi dari kelas tersebut.


"Kalau gitu gue balik dulu sekarang. Thank's buat kalian juga". Ucap Brayen sambil tersenyum dan beranjak dari duduknya lalu keluar dari kelas tersebut.


"Wahh.. nggak nyangka gue. Ternyata Kak Brayen suka ya sama Allena. Kenapa dia nggak ngomong aja dari dulu". Ucap Manaf seketika.


"Emang lo yakin kalau Kak Brayen bakal diterima. Lo lihat aja tu sifat Allena kaya gimana. Kaku banget jadi orang. Orang kaya Allena mau pacaran? Nggak yakin gue". Timpal Gamma.


"Udah nggak usah bahas itu lagi. Mending kita ke kantin aja dah sekarang. Laper nih gue. Gurunya juga nggak masuk-masuk dari tadi". Ucap Alvian.


"Gamau gue ah. Nggak ada Allena sama Zee berasa kurang. Nggak seru. Kalian aja dah ke kantin. Gue mau disini aja". Ucap Tessa malas.


"Udah sini ikut. Nggak usah kebanyakan gaya lo nggak mau-nggak mau. Entar lo mag gimana? Gue juga yang dimarahin sama Om dan Tante. Udah kita ke kantin sekarang". Ucap Gamma sambil memaksa Tessa untuk ikut bersamanya.


"Gue nggak mau Gammaaaa... gue males". Tolak Tessa.


"Udah kita ke kantin ayoo..!!". Ucap Gamma menarik lengan Tessa.


Akhirnya yang lainnya membantu Gamma untuk membawa paksa Tessa dengan menarik dan mendorong gadis itu supaya mau berjalan.


Mereka kemudian menuju ke arah kantin dengan tetap membawa paksa Tessa.

__ADS_1


...*****...


Saat ini Aziel dan juga Setya sedang berada dalam kantin. Mereka sedang makan sambil membicarakan sesuatu.


"Gimana El? Entar malam jadi nggak lo? Anak-anak yang lain pada nanyain lo nih". Tanya Setya sambil memakan bakso campurnya.


"Lagi males gua. Lu aja lah ya tanding. Kalo nggak, lu suruh aja tuh Brayen". Jawab Aziel.


"Nggak bakal mau dia. Lo taukan Brayen itu anaknya kaya gimana? Males dia yang kaya begitu-begituan.". Ucap Setya.


"Yaudah kalau gitu lu aja". Ucap Aziel santai.


"Oke kalau gitu. Tapi lo juga harus ikut datang. Anak-anak pengennya ketemu sama lo. Lo kan udah lama nggak ikut ngumpul". Ucap Setya.


"Umm.. Iya". Balas Aziel.


Saat Aziel tengah melanjutkan makannya, gerombolan Gamma tadi yang telah tiba di kantin segera masuk ke dalam kantin sambil membawa Tessa dan mereka semua duduk disalah satu tempat yang kosong tak jauh dari tempat Aziel dan Setya saat ini.


Seperti biasa mereka semua akan menjadi pusat perhatian yang ada disana, tetapi seperti biasa juga mereka akan bersikap cuek.


Sama halnya dengan sekarang ini. Aziel sedari tadi memperhatikan mereka dari awal mereka datang hingga mereka mulai memesan makan. Lelaki itu sepertinya tengah mencari sesuatu yang tak kunjung dilihatnya. Benar saja, Aziel memang mencari keberadaan Allena saat ini. Biasanya gadis itu akan bersama gerombolannya saat ini, pikir Aziel bingung.


Dicarinya sosok Allena, namun tak kunjung Aziel lihat sosok gadis yang dicarinya itu.


"Ada apa El?". Seru Setya membuyarkan pencarian Aziel. Lelaki itu kemudian menoleh ke arah Setya.


"Lo kenapa? Dari tadi lo ngeliatin mereka terus". Sambung Setya dengan menunjuk gerombolan Gamma dengan dagunya.


"Nggak ada". Jawab Aziel datar.


Setya yang mendengar jawaban dari sepupunya itu hanya memandang Aziel dengan mengkerutkan dahinya dan menatapnya serius.


"Kenapa?". Tanya Aziel.


"Aaa.. gue tau. Pasti lo lagi nyariin si cewe datar itu kan? Allena?". Ucap Setya seketika.


"Kata siapa? Nggak ada kok gua nyariin tu cewe". Elak Aziel.


"Alahh.. nggak usah ngelak. Gue tau kok". Cibir Setya,


"Gua bilang nggak ya. Orang gua nggak nyariin juga". Ucap Aziel kekeh.


"El.. El. Mau sampai kapan sih lo nggak akuin kalau lo itu emang suka ama si cewek datar itu. Jujur aja kali. Gengsi amat jadi orang". Ejek Setya.


"Lu ngomong sekali lagi kaya gitu, gua sumpal mulut lu pake cabe. Mau lu". Ancam Aziel.


"Idih.. galak amat Pak Ketua. Santai aja kali". Ucap Setya menahan tawanya.


"Diem lu. Gua sumpal beneran mulut lu sekarang". Ketus Aziel.


"Iya iya gue diam yaelahh". Ucap Setya langsung melanjutkan makannya. Takut dia akan benar-benar disumpal cabe bibirnya oleh Aziel.


Sementara Aziel, pria itu kemudian kembali melirik gerombolan Alvian dengan ke-4 temannya tanpa Zee dan Allena. Pria itu sedang mencari keberadaan Allena yang tak kunjung dilihatnya sedari tadi.


"Aziel Aziel.. Gue tau lo suka sama Allena. Sok gengsi lo jadi orang. Kalau terlambat, baru tau rasa lo". Cibir Setya dalam hati sambil melihat Aziel yang sedari terus memandangi tempat Alvian dan ke-4 temannya.


Aziel terus melihat kesana. Setya yang melihat tingkah sepupunya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya

__ADS_1


"Dasar Ketos gengsi!!". Sambung Setya berkata dalam hatinya.


__ADS_2