
Satu minggu berlalu. Kini dimana adalah hari pertandingan basket antara SMAN Nasional melawan SMKN Putra Bangsa.
Terlihat para penonton yang memenuhi aula SMAN Nasional besar itu. Teriakan dari berbagai suporter mendukung jagoan mereka yang bertanding hari ini.
Banyak sekali pendukung yang meneriaki nama Aziel. Pria itu memang sangat keren hari ini dengan ikat kepala yang dikenakannya dan juga wajah tampannya membuat para ciwi-ciwi histeris seperti orang gila saja.
Brayen yang tak kalah gagahnya tak lepas juga dari sorakan suporter disana. Kakak kelas kita itu memang menjadi kakak kelas pengikut terbanyak dari berbagai kalangan ciwi-ciwi. Kelihaiannya dalam berbagai bidang olahraga membuat dirinya menjadi idola besar dari berbagai kalangan remaja.
Setya yang tak kalah tampan tak lepas dari sorotan disana. Wajahnya yang datar 11/12 sama Aziel sepupunya juga itu menjadi idola besar dikalangan para remaja bahkan dari sekolahan lain.
Ditambah lagi Alvian dan Gamma yang menambah kesan perfectnya klub basket itu. Meskipun dua orang pria itu terbilang baru, mereka tak kalah hebatnya dalam teknik permainan basket mereka.
Dua orang itu juga mempunyai banyak pengikut dari berbagai kalangan remaja. Apa lagi mereka itu juga termasuk anak-anak dari orang terpandang membuat mereka cepat terkenal.
Namun tak bisa dipungkiri lawan main mereka juga sangat baik dalam bermain basket. Apa lagi disana juga ada Louis yang ikut pertandingan basket hari ini.
Pria itu langsung jadi pusat perhatian siswa-siswi disana. Wajahnya yang tak kalah tampan dengan ciri khasnya yang blasteran menambah hebohnya ruangan aula disana.
Pertandingan telah dimulai skor sementara SMKN Putra Bangsa unggul dari SMAN Nasional dengan skor 19 - 16.
Terdengar suara teriakan dari seluruh suporter sekolah. Bahkan ada beberapa dari sekolah lain yang datang melihat jalannya pertandingan yang seru itu.
"Woo... Gammaaaaa... ayo masukin bolanya. Kalahin sicowok nyebelin itu. Ayoo..". Teriak Tessa yang begitu histeris menonton pertandingan itu.
Disampingnya hanya ada Allena. Sementara Airin dan juga Zee sebagai anggota cheerleaders harus melaksanakan tanggung jawab mereka.
Terlihat Allena duduk dengan santai memandang datar kearah lapangan sedang berlangsungnya pertandingan yang membuat ruang aula menjadi bergemuruh itu.
Pertandingan babak pertama dimenangkan oleh SMKN Putra Bangsa. Kini mereka semua sedang beristirahat untuk memulai babak kedua nanti.
"Len, kita kesana yuk". Ajak Tessa menarik lengan Allena untuk ketempat para pemain basket yang saat ini sedang beristirahat.
Setibanya disana Tessa langsung kearah Gamma untuk membantunya.
Sementara Allena hanya berdiri sambil memandang keadaan.
Tiba-tiba dari arah lain muncul Alexa sambil membawa handuk kecil lalu memberikannya kepada Aziel.
"Gue bantu lapin ya El, keringat lo". Alexa dengan gaya centilnya mengelap keringat Aziel didahi dan wajah Aziel.
Sementara Aziel yang kaget akan tindakan Alexa langsung menoleh kearah Allena yang sedang memandangi mereka berdua dengan tatapan datar.
Allena seketika membuang pandangan kearah lain memandang kearah tempat Louis yang kini berada disisi lain yang juga sedang beristirahat bersama tim basketnya.
Allena tanpa berbicara apapun langsung melangkahkan kakinya melewati Aziel tanpa menoleh kearah pria itu, berjalan ketempat Louis saat ini berada.
Setibanya disana Louis yang melihat kedatangan Allena langsung berdiri dari tempatnya mendekat kearah Allena.
"Loh, ngapain disini?". Louis kaget karena ada Allena yang tiba-tiba datang ketempatnya. Secara kan mereka beda sekolah, harusnya kan Allena berada ditempat suporter pendukung sekolahnya.
"Widihh.. siapa tuh? Syutt, Louis kenalin ke kita-kita dong. Siapa taukan bisa...". Ucap salah satu tim basket Louis.
"Eh eh eh, jangan macam-macam lo pada". Louis berkata sambil melototkan matanya kearah teman-teman tim basketnya.
Louis kemudian mengangkat tangannya mengelus belakang kepala Allena dengan lembut, "Kenalin, Allena!! Calon bini gue". Ucap Louis dengan sombongnya.
Teman-teman Louis yang mendengar itu langsung menatap kaget tak percaya dengan perkataan pria itu.
"Bahh yang benar kau Louis. Mau kawin kau rupanya?". Ucap salah satu teman Louis dengan logatnya.
Louis hanya cengengesan, "Hehe nggak sih, belum. Tapi baru dijodohin doang". Jawab Louis jujur.
"Ohh.. tak kirain kau udah mau menikah, Lu". Ucap salah satunya dengan manggut-manggut.
Sementara Allena, gadis itu hanya diam membiarkan Louis berbicara apa adanya. Toh kenyataannya memang begitu kan sekarang. Dia dan Louis sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka.
Disisi lain, Aziel yang melihat kedekatan Louis dengan Allena, apalagi Louis yang merangkul Allena langsung mengepalkan sebelah tangannya dengan kuat menahan kesal. Aziel tak suka akan kedekatan Louis dengan Allena.
Aziel kemudian berdiri dari duduknya, "Kita harus menangin pertandingan ini. Jangan sampai kalah!!". Ucap Aziel kepada tim basketnya, kemudian pria itu langsung berjalan kearah lapangan karena pertandingan babak kedua sudah akan dimulai.
__ADS_1
Mereka yang mendengar itu langsung mengangguk dan saling melirik satu sama lain. Sepertinya Aziel sangat serius untuk menang hari ini.
Setya yang bahkan tau maksud Aziel hanya menggelengkan kepalanya. Aziel sepertinya memang sangat menyukai Allena pikirnya. Melihat Allena yang dekat dengan pria lain apalagi orang itu adalah lawannya dalam pertandingan membuat Aziel ingin mengalahkan mereka.
Pertandinganpun dimulai. Terlihat Aziel dengan cekatan merebut bola dari tim lawan. Pria itu sepertinya sangat serius ingin mengalahkan lawannya. Berkali-kali dia merebut bola dan memasukan bola ke ring lawan.
Hingga pertandingan selesai dengan kemenangan yang diraih oleh SMAN Nasional dengan skor total 3 - 1.
Suasana aula semakin heboh dengan kemenangan yang diraih oleh tim basket tersebut.
"Gua ke toilet dulu". Ucap Allena yang saat ini sedang bersama ketiga sahabat wanitanya.
Mereka akan segera pulang sekarang. Sebab pertandingan telah selesai.
"Mau kita-kita temenin nggak?". Tanya Zee.
"Nggak usah. Kalian duluan aja ke parkiran, tunggu gua disana". Jawab Allena.
"Oh yaudah, kalau gitu kita tunggu lo di parkiran ya Len". Timpal Tessa.
"Kita duluan". Ucap Tessa lagi sambil berjalan bersama Airin dan Zee meninggalkan Allena.
Sementara Allena bergegas menuju kamar mandi yang ada di dalam aula itu. Terlihat masih ada beberapa orang disana.
Allena kemudian masuk kedalam kamar mandi dan menuntaskan masalahnya.
Setelah selesai Allena kemudian keluar dan melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.
Namun saat baru beberapa langkah tiba-tiba ada yang menariknya dari belakang. Gadis itu kemudian menoleh dan mendapati Aziel yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Cowo yang tadi siapanya lu, Len?". Tanya Aziel tiba-tiba.
Allena yang mendengar itu langsung mengerutkan alisnya bingung, " Hah, maksud lu cowo siapa?". Tanya Allena balik.
"Nggak usah pura-pura nggak tau. Cowo yang tadi siapanya lu, gua tanya?". Tanya Aziel lagi.
Allena mulai mengerti sekarang. Pasti yang dimaksud Aziel adalah Louis.
Allena menepis tangan Aziel yang mencengkram lengannya, "Lu tuh kenapa sih ha? Kalau gua nggak mau jawab? Emang urusannya ama lu apa kalau gua dekat sama cowok tadi?". Tantang Allena.
Aziel kembali meraih lengan Allena dan menggengggamnya dengan kuat sehingga membuat gadis itu meringis.
"Lu dengar baik-baik ya, Len. Lu itu cuman milik gua, dan lu nggak boleh deket-deket ama siapapun itu selain gua". Ucap Aziel menegaskan kata-katanya sambil meremas kuat pergelangan tangan Allena.
Allena menatap Aziel bingung, "Hah? Lu gila apa gimana? Lu itu nggak berhak ngelarang-larang gua buat dekat sama siapapun itu.
"Jangan cuman karena kita udah beberapa kali ciuman lu jadiin itu patokan buat lu nganggap gua milik lu. Nggak ada ya buat gua kaya gitu". Balas Allena tegas.
Aziel yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam kepada Allena, "Lu..". Ucap Aziel terhenti.
"Apa?". Allena langsung menyela, "Emang benarkan yang gua omongin?". Allena membalas menatap tajam Aziel.
"Zaman sekarang itu cowo sama cewek saling berciuman tanpa hubungan apapun sudah menjadi hal yang biasa. Iya kan? Begitupun juga lu ama gua. Meskipun lu ama gua udah beberapa kali berciuman itu juga tak menapik kalau kita berdua emang nggak ada hubungan, apapun itu". Sambung Allena dengan menekan kata-katanya disetiap kalimat yang diucapkannya.
Aziel semakin menatap tajam Allena, "Jadi selama ini lu nganggepnya kaya gitu? Iya?". Tanya Aziel menatap Allena serius. Dia ingin mengetahui jawaban wanita itu yang selanjutnya.
"Ya emang gitu kan kenyataannya. Lu juga pasti nganggepnya kaya gitu. Selama ini kita ngelakuin itu juga hanya karena nafsu nggak lebih, dan lu juga sendiri tau itu kan". Jawab Allena ringan seperti tak ada beban dengan apa yang dikatakannya.
"Udah, selesai. Itu jawaban gua. Jadi lu nggak usah berharap lebih dengan apa yang udah kita lakuin selama ini". Lanjut Allena menepis lengan Aziel dan melangkahkan kakinya.
Namun baru beberapa langkah Aziel kembali menarik lengan Allena mencegat gadis itu.
"Lu mau kemana? Gua belum izinin lu pergi". Ucap Aziel mencengkram kuat pergelangan tangan Allena.
"Lepasin!!". Ucap Allena berusaha melepas genggaman Aziel dilengannya.
"Nggak. Gua nggak akan lepasin lu". Balas Aziel tegas.
Allena menatap bengis kearah Aziel, "Lepasin gua bilang!! Mau lu apa sih sebenarnya ama gua?". Allena terus berusaha melepas genggaman Aziel, tapi dia tak bisa. Aziel terlalu menggenggamnya dengan kuat.
__ADS_1
"Ikut gua sekarang". Ucap Aziel kemudian langsung menarik lengan Allena membawa gadis itu pergi.
Selama diperjalanan Allena terus berusaha memberontak meminta dilepaskan oleh Aziel. Akan tetapi Aziel seperti tak berniat melepaskan Allena. Pria itu terus menyeret Allena untuk keluar aula.
"Lepasin Allena!!". Teriak seorang pria yang berlari kearah Allena dan Aziel.
Pria itu langsung melepaskan cengkraman Aziel ditangan Allena, lalu menarik Allena menjauh dari Aziel.
"Lo apa-apaan beraninya nyeret-nyeret Allena kaya tadi. Berani-beraninya lo kasar sama Allena". Ucap pria itu menatap tajam kearah Aziel. Pria itu ternyata adalah Louis.
Louis tadi sempat melihat Aziel menyeret Allena saat sedang berjalan ingin keluar dari aula.
"Nggak usah ikut campur lu. Ini urusan gua ama Allena". Balas Aziel tak kalah tajam.
"Ini udah jadi urusan gue karena lo udah dengan beraninya berbuat kasar sama calon bi...". Ucap Louis terhenti.
"Louis udah. Kita pergi sekarang dari sini". Ucap Allena yang langsung memotong perkataan Louis.
Allena kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana tanpa mempedulikan Aziel yang menatapnya dengan tajam.
Louis yang melihat Allena pergi segera menyusul Allena. Namun sebelum itu dia terlebih dahulu menubrukan bahunya ke bahu Aziel sambil menatap sinis pria itu dan segera berlari menyusul Allena.
Sementara Aziel hanya memandang kepergian Allena sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan marah.
'Gua nggak akan pernah biarin siapapun ngerebut lu dari gua'. Batin Aziel dalam hati.
...*****...
Saat ini Allena sudah memarkirkan mobilnya digarasi rumahnya. Keempat gadis itu keluar dari dalam mobil disusul oleh Louis yang turun dari motor sportnya.
Airin sebenarnya sudah mulai tinggal kembali di rumahnya. Kios beserta rumah keluarga Airin sudah diperbaiki serta direnovasi dengan bantuan dari para sahabatnya. Gadis itu tentu saja sangat bersyukur dengan adanya bantuan dari para sahabatnya yang sangat baik padanya dan selalu membantu dirinya sekaligus keluarganya.
Hari ini dia datang ke rumah Allena untuk mengambil beberapa barangnya yang masih ada disana.
Mereka berjalan masuk kedalam rumah. Saat tiba di ruang keluarga mereka duduk disofa yang ada disana ingin beristirahat sebentar.
"Kalian bakalan datang jugakan kepertandingan gue entar malem?". Tanya Tessa seketika.
Louis yang yang juga ada disana langsung mendelik ketika mendengar perkataan Tessa.
"Ikut pertandingan apaan lo? Palingan juga bakal kalah". Ucap Louis meremehkan.
Tessa langsung saja memandang Louis, "Yee.. bisa-bisanya lo ngeremehin gue. Tessa nih bor.. jagoan bola takraw". Ucap Tessa dengan sombongnya.
"Hah..hah haha.. ikutan lomba itu lo?". Louis mendelik lucu, "Palingan bakalan patah tuh kaki lo". Sambungnya lagi dengan ekspresi mengejek.
Tessa yang mendengar itu langsung menatap kesal kearah Louis, "Hii.. lo itu nyebelin banget sih jadi cowo". Ucap Tessa kesal.
Seketika Tessa mengingat sesuatu, wajahnya langsung memandang Louis dengan ekspresi mengejek.
"Sok sokan lo ngatain gue. Lo sama tim lo aja kalahkan tadi ama tim sekolah gue, nggak malu apa.
"Gimana rasanya kalah? Enak? Makanya jadi orang nggak usah sok ngatain orang. Kalahkan lo. Bikin malu sekolah aja". Cibir Tessa.
Louis yang mendengar itu langsung berdiri dari duduknya menunjuk Tessa, "Lo..". Ucap Louis terhenti.
"Apa?". Tessa menyela. "Emang kenyataannya kaya gitu kok. Lo sama tim buluk lo itu kalah. Apa yang mau dibanggain. Cih.. nggak guna tau nggak". Sambung Tessa dengan tampang mengejek membuat Louis yang mendengar itu sangat kesal.
Louis kemudian ingin mendekati Tessa, "Awas lo ya". Ucap Louis melangkahkan kakinya.
"Sini maju lo. Lo kira gue takut sama lo?". Tessa juga berdiri dari duduknya menantang Louis.
Sementara ketiga wanita yang sedari tadi menyaksikan perseteruan kedua orang itu hanya pasrah tak mau ikut campur. Kedua orang itu memang tidak ada yang mau mengalah, suka sekali bertengkar.
Tiba-tiba dari arah lain...
"Kalian sudah pulang ternyata!!".
__ADS_1
Kelima orang itu langsung menoleh kesumber suara.