Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 22 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Hari-hari berlalu. Setelah apa yang telah diperbuat Alexa pada Airin, Alexa tidak lagi mengganggu Airin. Gadis itu seperti kehilangan keberanian untuk membuli Airin.


Namun, setiap kali Alexa berpapasan atau hanya sekedar bertemu pandang dengan Airin dia pasti selalu melemparkan tatapan sinis pada Airin. Dan Airin pasti hanya mampu menunduk tak berani menatap Alexa.


Seperti saat ini Allena, Airin dan juga Zee sedang menuju ke ruang aula untuk melakukan latihan cheerleader. Kebetulan kelas 10 IPA 1 dan IPA 2 bersebelahan. Maka dari itu mereka pasti akan melewati kelas yang ditempati oleh Alexa itu.


Saat sedang berjalan, mereka ber-3 berpapasan dengan Alexa, Chika dan juga Hera yang saat itu mereka sedang berdiri di depan pintu masuk kelas mereka. Alexa yang melihat kedatangan mereka segera memandangi Airin dari kejauhan dengan tatapan sinis.


"Apa lo lihat-lihat kek gitu? Minta gua colok mata lo ha?". Teriak Zee pada Alexa.


Begitulah reaksi Zee ketika berpapasan dengan Alexa. Gadis itu tau bahwa Alexa selalu memberikan tatapan sinis pada Airin, dan Airin pasti hanya akan menunduk ketakutan. Jadi Zee berinisiatif dia yang akan membalas jika Alexa memberikan tatapan sinis pada Airin.


"Hee.. Lo nggak usah ikut campur. Dasar cewe bar-bar". Teriak Hera yang membalas perkataan Zee.


"Apa lo dasar cewe kecentilan". Balas Zee.


"Udah Hera! Ngapain sih lo ngeladenin tu cewe?". Ucap Chika melerai.


Mereka pun tetap melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang aula. Namun Zee tetap menatap mereka dengan tatapan sengit sambil berjalan.


"Eh tapi.. Kira-kira mereka bakalan kemana ya?". Tanya Alexa tiba-tiba.


"Emang lo nggak tau Lex? Mereka tu bakalan latihan cheerleader. Kan sebentar lagi bakalan ada perlombaan basket di sekolah ini". Ucap Chika menjelaskan.


Alexa yang mendengar itu segera berlari menuju ruang aula. Chika dan Hera yang melihat Alexa pergi segera menyusul Alexa.


Setibanya mereka disana, ternyata anak-anak para siswa laki-laki sedang bermain bola basket. Dan terlihat anak-anak siswi yang mengikuti cheerleader juga sedang latihan.


Suasana di aula tersebut kelihatan begitu ramai dengan anak-anak siswa-siswi yang menonton dan juga suara yang memenuhi aula.


Terlihat Aziel, Setya dan juga Brayen berada dalam satu tim. Disana juga terdapat Gamma, Manaf dan juga Alvian yang berada dalam satu tim dan sedang melawan tim Aziel.


Disaat mereka sedang bermain, tak sengaja Manaf menabrak Aziel hingga terjatuh dengan keras. Hal itu membuat Aziel emosi.


"Aduh Kak! Maaf saya nggak sengaja". Ucap Manaf meminta maaf.


"Kalo lu nggak bisa main. Nggak usah main dong". Teriak Aziel berdiri dan mendorong Manaf keras hingga terjatuh.


Kejadian itu berhasil memberhentikan latihan pertandingan dan juga latihan cheerleader para siswi.


"Kan saya udah minta maaf Kak. Lagipula saya nggak sengaja". Ucap Manaf dengan tetap santai tanpa emosi. Laki-laki itu kemudian berdiri.


"Lu bisa main nggak sih? Sampe sengaja nabrak gua segala. Lu sengaja biar tim gua kalah ha?". Ucap Aziel emosi.


"Maaf Kak saya nggak sengaja". Ucap Manaf sekali lagi meminta maaf dihadapan Aziel.


Airin yang melihat kejadian itu segera menghampiri Manaf dan ingin melerai pertengkaran itu. Dia kemudian berlari berdiri di tengah-tengah kedua lelaki tersebut.


"Jangan Kak. Lagi pula Manaf kan udah bilang nggak sengaja". Ucap Airin membelakangi Manaf dan menghadap Aziel.


Aziel yang melihat itu semakin kesal dan terpancing emosinya. Dia tidak suka ada yang menghalanginya disaat dia sedang emosi seperti ini.


"Lu ngapain sih disini? Minggir nggak". Bentak Aziel sambil mendorong Airin keras hingga gadis tersebut jatuh tersungkur.


Melihat hal itu Manaf yang tadinya masih bisa menahan emosinya mulai naik pitam akibat perlakuan Aziel yang mendorong Airin hingga terjatuh. Manaf kemudian menatap tajam Aziel dan segera menghampiri Aziel lalu mendorongnya.


"Lo apa-apaan dorong Airin sampe kek gitu?". Teriak Manaf yang mulai emosi.


"Jadi lu mau apa ha? Junior aja belagu lu". Teriak Aziel kembali mendorong Manaf.

__ADS_1


Manaf dan Aziel pun bertengkar. Mereka saling menarik baju masing-masing dan saling dorong-mendorong. Melihat semua hal itu anak-anak lain segera mencoba melerai mereka sebelum makin panas. Guru pelatih yang ada disanapun bingung bagaimana cara melerai pertengkaran itu.


"Stop stop! Berhenti! Berhenti nggak! Berhenti gua bilang!". Teriak Allena tiba-tiba dengan menerobos masuk ke tengah-tengah mereka dan menarik baju Aziel.


"Gua bilang berhenti!!!". Teriak Allena kembali dengan tetap menarik baju Aziel. Dan memberikan tatapan datar namun mencekam pada Aziel.


Melihat hal itu, Aziel yang melihat wajah Allena seketika berhenti memberikan perlawanan pada Manaf dan melepaskan genggamannya dibaju Manaf. Manaf yang merasa Aziel telah berhenti lelaki itu juga kemudian melepaskan genggamannya dibaju Aziel.


Mereka berdua kemudian saling berhenti memberikan perlawanan. Merasa pertengkaran telah selesai dan aman, Allena juga kemudian melepaskan genggamannya dari baju Aziel. Gadis itu kemudian menghela nafas panjang.


"Kalian berdua ini apa-apaan sih ha? Sebentar lagi ada pertandingan, dan kalian berdua malah bertengkar. Mau jadi jagoan kalian?". Ucap Allena sambil memandangi Aziel dan Manaf bergantian.


"Kalo kalian mau berkelahi bukan disini tempatnya tapi di ring tinju sana. Malu-maluin aja kalian berdua. Kalau sampe sekolah kita kalah dipertandingan nanti, kalian berdua yang harus bertanggung jawab. Ngerti kalian". Sambung Allena kembali.


"Bapak setuju sama Allena. Kalian berdua ini malah bertengkar. Gimana sih kalian ini? Bapak aja ampe pusing gimana cara ngeleraiin kalian berdua". Ucap Pak Trisno Guru Olahraga.


"Iya Paaak.. Maaf". Ucap Manaf dengan nada bersalah.


Sementara Aziel hanya diam melihat Manaf tajam, dan beralih ke Allena. Lelaki itu kemudian menatap Allena sebentar dan berlalu pergi begitu saja.


"Aziel mau kemana kamu? Kita harus masih latihan. Haduhh... Anak itu susah sekali dikasi tau". Ucap Pak Trisno pasrah.


"Udah Pak nggak apa-apa. Nanti lain kali aja kita lanjutin latihannya. Kalo nggak ada Aziel juga nggak bagus". Ucap Brayen kemudian sambil memandangi Allena sebentar kemudian berlalu pergi dari tempat itu.


Sementara Aziel yang saat ini tengah menuju kamar mandi segera masuk ke dalam kamar mandi sekolah itu dan menuju wastafel. Lelaki itu kemudian memandangi bayangan dirinya dari pantulan kaca besar yang tertempel ditembok besar kamar mandi. Beberapa saat kemudian Aziel menyalakan kran air dan mencuci mukanya.


"Huff...". Aziel menarik nafas panjang dan berbalik membelakangi kaca besar dengan menopang pada sisi kanan dan kiri watafel.


"Allena...! Aagghhh!!". Ucap Aziel frustasi.


"Nggak nggak! Nggak mungkin. Pokoknya nggak mungkin. Sadar Aziel". Ucap Aziel mencoba menenangkan pikirannya.


"Manaf! Lo ngapain sih sampe bertengkar segala sama Kak Aziel?". Ucap Airin sambil memberikan minuman pada Manaf.


Saat ini Manaf dan Airin masih berada di ruang aula.


"Habisnya dia udah dorong lo ampe lo jatuh kek gitu. Masa ke cewe dia kasar kaya gitu sih". Ucap Manaf.


"Iya tapikan nggak harus bertengkar segala kan. Lo harus ingat pertandingan udah nggak lama lagi. Jadi kalian nggak boleh lakuin kesalahan. Biar nggak malu-maluin kata Allena". Ucap Airin.


"Iyaaa! Iya Airiiiin..!". Ucap Manaf.


Sementara Gamma saat ini tengah mencari-cari Manaf. Saat sedang mengelilingi matanya, tanpa sengaja dia menginjak tangan Chika yang sedang duduk ditangga aula.


"Aduhh! Woy tol*l! Kalau jalan liat-liat dong. Tangan gue ke injek nih. Buka tu mata lebar-lebar. Jangan kaya orang buta. Gimana sih?". Celoteh Chika pada Gamma.


"Yaudah sih! Bawel banget. Orang nggak sengaja juga. Sori kalo gitu". Ucap Gamma tanpa merasa bersalah.


"Nggak sengaja nggak sengaja! Otak lo tu stengah-stengah. Kalo tangan gue patah gimana. Lo mau tanggung jawab emang? Lo mau gantiin pake tangan lo yang jelek itu?". Celoteh Chika dihadapan Gamma.


"Yakan gue udah minta maaf. Ngomel-ngomel mulu. Lagian tangan lo juga nggak kenapa-napakan. Lo nya aja yang ribet". Balas Gamma.


"Makanya kalo jalan tu lihat-lihat. Jangan kaya orang dongo. Nih mata jelas-jelas ada dua. Masih berfungsikan? Lo jalan kaya orang yang nggak punya mata". Ucap Chika tetap dengan celotehnya.


"Udah marah-marahnya? Udah selesaikan? Kalo gitu gue pergi sekarang. Cape gue dengar lo ngomel-ngemel. Bisa sakit kuping gue". Ucap Gamma berlalu pergi begitu saja meninggalkan Chika.


"Woy lo mau kemana? Awas lo ya". Teriak Chika pada Gamma.


Gamma kemudian pergi tanpa mempedulikan teriakan Chika yang sangat keras kepadanya. Dia berlalu begitu saja.

__ADS_1


Ditempat lain, Allena yang saat ini sedang menuju kelasnya berpapasan dengan Brayen yang akan menuju ruang ganti. Saat mendapati Allena dihadapannya Brayen berlalu begitu saja melewati Allena tanpa menegur atau membuka obrolan dengan Allena seperti biasa.


Allena yang merasa sedikit aneh dengan sikap Brayen seketika menghentikan langkahnya. Allena kelihatan seperti tengah berpikir kelihatan dari alisnya yang sedikit mengkerut.


Tidak berapa lama kemudian Allena kembali melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan sikap Brayen yang menurutnya sedikit aneh. Tanpa disadarinya Aziel terus memperhatikannya tidak jauh dari tempat saat ini dia berdiri.


Setelah cukup yakin, Aziel segera berlari menghampiri Allena. Saat telah dekat dengan Allena lelaki itu kemudian menggenggam pergelangan tangan Allena dan menarik perempuan tersebut menuju ujung koridor yang ada di sekolah itu.


Allena yang menyadari dirinya ditarik paksa dengan sekuat tenaga memberontak. Apa lagi dia mengetahui bahwa yang menariknya adalah Aziel. Sekuat tenaga dia mencoba melepaskan genggaman Aziel, namun gadis tersebut tidak bisa. Cengkraman Aziel di pergelangan tangannya sungguh begitu kuat.


Setelah tiba di ujung koridor Aziel kemudian mendorong Allena ketembok lalu segera mengunci Allena dibawah kungkungannya dengan kedua tangannya dan tubuh tinggi tegapnya.


"Lu apaan sih? Lu gila ya!". Berontak Allena dengan mencoba mendorong tubuh Aziel, namun tak bisa. Kungkungan lelaki itu terlalu kuat.


"Lu kenapa sih? Minggir nggak. Gua mau pergiiiiiiii...". Paksa Allena ingin keluar dari kungkungan Aziel, namun Aziel semakin menekan tubuhnya.


Allena kemudian berhenti memberontak. Percuma saja jika dia berontak. Allena kemudian mendongakkan kepalanya keatas, dan mendapati Aziel yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang tak dapat dibaca.


"Apa sih ha? Jangan kek gini. Nanti kita dilihat orang. Lu kenapa sih? Setres ya?". Tanya Allena khawatir sambil memandangi Aziel. Dia takut nanti ada yang melihat mereka berdua.


"Nggak bakal ada yang ngelihat kita. Lu tenang aja. Disini tempat yang paling sepi". Ucap Aziel dengan menatap Allena.


"Terus maksud lu apaan sih kek gini? Nggak ngerti gua tau nggak". Ucap Allena sambil mencoba kembali mendorong Aziel, namun tetap tak bisa. Setiap kali Allena memaksa ingin keluar dari kungkungan Aziel, lelaki itu akan semakin menekan tubuhnya.


Aziel tidak menjawab dia hanya menurunkan satu tangannya dan menangkup pipi kanan Allena. Lelaki itu kemudian menurunkan badannya sedikit dan mensejajarkan kepalanya dihadapan Allena.


Aziel kemudian menatap Allena intens dengan tetap menangkup pipi kanan Allena. Aziel kemudian menurunkan sedikit tangannya ke tengkuk leher Allena dengan jari jempolnya tetap dipipi Allena.


"Gua mau nanya satu hal sama lu". Ucap Aziel dengan tetap menatap Allena intens.


Allena yang ditatap seperti itu hanya diam tak begerak sedikitpun. Dia mulai takut akan Aziel yang seperti itu.


"Apa bener lo pacaran sama Brayen?". Tanya Aziel datar.


"Aziel lu kenapa sih? Gua nggak... Mm..". Ucap Allena terhenti dengan mata yang membulat kaget.


Aziel tanpa sadar menarik tengkuk Allena dan mencium bibir ranum Allena. Dia tidak mengerti kenapa bisa dia melakukan hal itu kepada Allena. Namun dia tidak sanggup untuk menahan diri ketika melihat bibir manis Allena.


"Mm.. Mm.. Mm...!!!". Gumam Allena ketika Aziel tiba-tiba melu*mat pelan bibir Allena.


Gadis itu mencoba mendorong Aziel. Namun Aziel semakin menekan tengkuk leher Allena dan menahan pergerakan Allena dengan kungkungannya. Dia terus melu*mat bibir ranum Allena pelan.


"Mm.. Mm...!!!". Allena memukul-mukul dada bidang Aziel.


Beberapa saat kemudian Aziel melepaskan ciumannya dan memandangi Allena tanpa sadar dengan apa yang dilakukannya.


Allena yang dicium seperti itu, dia kemudian menutup bibirnya sambil memandang Aziel dengan tatapan tajam.


"Uugghh.. Ha.. Ha.. Ha.....!!!". Allena menarik nafas panjang akibat ulah Aziel.


"Lu gila tau nggak". Ucap Allena tiba-tiba membuyarkan kesadaran Aziel.


Aziel tiba-tiba tersadar. Dipandanginya Allena santai seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa hmm?". Tanya Aziel sambil memandang Allena intens.


"Gua benci banget ama lu". Ucap Allena dengan ekspresi marah dan berlalu meninggalkan Aziel.


Aziel tak bergeming, lelaki itu hanya memandang Allena yang mulai bergerak jauh. Aziel kemudian beranjak dari tempatnya ketika bel masuk berbunyi.

__ADS_1


Sementara Allena saat ini tengah berlari menuju kelasnya. Setelah tiba didepan kelasnya dia mencoba untuk menetralkan perasaan dan juga pikirannya. Setelah merasa tenang dia kemudian masuk ke dalam kelas dengan memasang tampang datar seperti biasanya.


__ADS_2