Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 50 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Rumah Kediaman Keluarga Nugroho


Saat ini Manaf sudah berada di ruang tamu Keluarga Nugroho. Terpancar aurah kemarahan diwajahnya. Manaf ingin meminta penjelasan kepada Ayahnya.


"Ayah.. Dimana Ayah? Ayah.. keluar sekarang juga". Teriak Manaf keseluruh penjuru rumah yang membuat suaranya menggema.


"Ayah...!". Teriak Manaf sekali lagi.


Tiba-tiba dari arah lain muncul seorang pria menghampiri Manaf.


"Tuan Muda. Anda sudah datang. Mohon Tuan Muda tidak berteriak seperti tadi". Ucap pria tersebut yang ternyata adalah asisten pribadi Ayah Manaf.


"Dimana Tuan kalian? Aku ingin menemui pria itu sekarang juga". Ucap Manaf sambil menatap tajam asisten pribadi Ayah Manaf.


"Mohon bersabar Tuan Muda. Ayah Tuan Muda sebentar lagi akan datang kemari". Ucap asisten pribadi tersebut.


"Aku ingin menemui Tuan kalian sekarang juga". Bentak Manaf sambil berjalan ingin menuju tangga.


"Mohon tunggu sebentar Tuan Muda. Ayah Tuan Muda sebentar lagi akan datang. Tetaplah disini sampai Tuan Besar datang". Ucap asisten pribadi tersebut dengan mencegat Manaf.


"Apa yang salah dengan ini? Aku ingin menemui Ayahku. Mengapa harus sesulit ini hanya untuk menemui pria tua bangka itu". Bentak Manaf dengan tetap ingin menerobos.


"Mohon bersabar Tuan Muda. Jangan buat saya melakukan sesuatu terhadap Tuan Muda karena tidak mau mendengarkan perkataan saya". Ancam asisten pribadi tersebut.


"Siapa kau berani mengancamku seperti itu? Kau hanya seorang pembantu si tua bangka itu. Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku. Dasar asisten tidak tau diri". Cibir Manaf tak terima atas perlakuan asisten pribadi Ayahnya.


Ayah Manaf yang saat ini sedang berada diatas melihat perseteruan Manaf dan asisten pribadinya segera berjalan menuruni tangga rumahnya.


"Manaf berhenti sekarang juga". Teriak Ayah Manaf dengan suara baritonnya.


Manaf yang mendengar itu langsung saja berhenti dan segera menoleh ke arah Ayahnya. Lelaki itu kemudian berjalan mendekati Ayahnya.


"Ayah apa yang Ayah udah lakuin kepada keluarga Airin?". Tanya Manaf to the point.


Ayah Manaf tidak menjawab. Ayah Manaf kemudian hanya berjalan ke arah kursi sofa yang ada disana dan duduk dengan santainya sambil menatap Manaf angkuh.


"Manaf tanya sekali lagi sama Ayah. Apa yang Ayah udah lakuin ke keluarga Airin?". Tanya Manaf sekali lagi dengan ekspresi menahan marah.


"Kau datang kemari hanya untuk bertanya tentang itu. Apa pentingnya bagimu gadis miskin itu?". Ucap Ayah Manaf membuka suara.


"Namanya Airin, Ayah. Berhenti memanggil nama Airin dengan julukan seperti itu". Ucap Manaf dengan mengepal kedua tangannya.


"Tetap saja. Perempuan itu memang berasal dari keluarga tak berada. Jadi tidak salah jika Ayah memberi julukan seperti itu kepada perempuan tersebut". Ucap Ayah Manaf dengan sombongnya.


"Berhenti Manaf bilang. Berhenti memberi julukan seperti itu pada Airin". Ucap Manaf tak terima.


"Manaf tanya sama Ayah. Apa benar Ayah yang sudah melakukan semua kekacauan yang terjadi hari ini kepada keluarga Airin?". Sambung Manaf.


Ayah Manaf tak bergeming. Pria itu diam dengan menampakan aura keangkuhannya sambil menatap Manaf


"Jawab Ayah". Bentak Manaf yang tidak mendapat jawaban dari Ayahnya.


"Kamu benar. Ayah yang sudah melakukan semua itu terhadap keluarga gadis miskin itu. Memangnya kenapa? Apa kamu ada masalah dengan semua perbuatan yang Ayah lakukan?". Jawab Ayah Manaf dengan santai.


Manaf seketika murka setelah mendengar jawaban Ayahnya. Manaf tak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh Ayahnya. Ayahnya benar-benar sangat keterlaluan.


"Kenapa Ayah lakukan hal itu kepada keluarga Airin? Apa yang mereka sudah lakukan sehingga Ayah berbuat jahat seperti itu pada mereka?". Cicit Manaf tak habis pikir dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Ayahnya.


"Kamu bertanya pada Ayah? Ayah sudah katakan jauhi gadis miskin itu. Tapi kamu tidak mendengar perkataan Ayah. Maka jangan salahkan Ayah jika Ayah berbuat seperti itu kepada gadis miskin itu dan juga keluarganya". Ucap Ayah Manaf dengan angkuhnya.


"Apa yang salah dengan Airin? Kenapa Manaf tidak boleh dekat dengan Airin?". Tanya Manaf.


"Ayah sudah katakan, jika kamu tetap berhubungan dengan gadis miskin itu dan tidak mau membantu Ayah dalam meneruskan bisnis dan usaha Ayah, maka jangan salahkan Ayah jika Ayah berbuat sesuatu yang lebih dari kejadian hari ini". Ancam Ayah Manaf.


"Kamu pahamkan maksud Ayah apa Manaf?". Sambung Ayah Manaf.


"Manaf udah bilang sama Ayah kalau Manaf itu nggak mau nerusin bisnis Ayah. Ayah sama Mamah pisah karena pekerjaan. Kenapa kalian lebih mentingin pekerjaan dari pada Manaf?". Ucap Manaf.


"Ini semua juga demi kamu Manaf. Demi kebahagiaan dan masa depan kamu. Agar masa depan kamu lebih baik nantinya". Jelas Ayah Manaf.


"Pokoknya Manaf nggak mau. Manaf nggak mau nerusin pekerjaan yang buat Papah sama Mamah cerai. Manaf tetap nolak keinginan Ayah". Ucap Manaf menolak.

__ADS_1


"Baiklah jika itu mau kamu Manaf. Tapi jangan salahkan Ayah jika Ayah berbuat sesuatu yang lebih dari hari ini kepada gadis miskin itu dan juga keluarganya". Ancam Ayah Manaf.


"Manaf tidak takut dengan ancaman Ayah. Jika Ayah berbuat lagi sesuatu terhadap Airin maupun keluarganya Manaf akan benar-benar melawan pada Ayah kali ini. Manaf sendiri yang akan menghadapi Ayah untuk melindungi Airin dan juga keluarganya". Ucap Manaf tegas.


Manaf kemudian langsung saja berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu tersebut.


"Manaf mau kemana kamu? Ayah belum selesai berbicara". Teriak Ayah Manaf murka.


"Manaf.. Ayah tidak main-main dengan ancaman Ayah. Kembali sekarang juga!!". Teriak Ayah Manaf lagi.


Namun Manaf tidak peduli. Laki-laki itu tetap melanjutkan langkahnya pergi dari sana tanpa mempedulikan teriakan Ayahnya yang sudah marah.


Manaf kemudian menuju kearah mobilnya dan menyalakannya lalu pergi dari tempat tersebut dengan perasaan yang campur aduk.


Ditempat lain, saat ini Brayen dan Alvian tengah berada di restoran milik Brayen. Mereka terlihat tengah berbincang-bincang.


"Ada apa nih Kak? Tumben Kak Brayen nyuruh gue buat datang kesini". Tanya Alvian yang saat ini duduk berhadapan dengan Brayen.


"Gue cuman mau nanyain satu hal ke lo". Jawab Brayen.


"Nanya apa nih? Kayaknya serius banget". Ucap Alvian yang tak sabar.


"Gue mau nanyain soal Allena". Jawab Brayen.


Alvian yang mendengar perkataan Brayen seketika menatap Brayen dengan serius. Dia ingin tau apa yang ingin ditanyakan oleh Kakak kelasnya itu.


"Allena? Emang Kak Brayen mau nanyain apa?". Tanya Alvian serius.


"Lo tau Allena ada dimana sekarang?". Tanya Brayen tiba-tiba.


Alvian yang mendengar pertanyaan Brayen seketika bingung harus menjawab apa. Pasalnya Alvian sudah berjanji pada Allena untuk tidak memberitahukan keberadaan Allena dimana sekarang.


"Allena? Dirumahnya mungkin". Jawab Alvian ragu-ragu.


"Gue udah ke rumahnya dan dia lagi nggak ada disana. Dan kata penjaga disana Allena lagi ke luar negri". Jelas Brayen.


"Lo taukan Allena sekarang ada dimana? Allena kan teman sekelas lo dan kalian sering sama-sama kalau lagi ngumpul sama teman-teman lo juga yang lainnya". Ucap Brayen dengan tatapan mengintimidasi.


"Emang kenapa Kak? Kok Kak Brayen kayanya pengen tau banget keberadaan Allena?". Tanya Alvian memandang Brayen serius.


Brayen seketika menghembuskan nafasnya gusar. Dia sebenarnya sangat rindu pada Allena.


"Gue suka sama Allena". Jawab Brayen tiba-tiba.


Alvian yang mendengar itu seketika kaget mendengar pengakuan kakak kelasnya itu. Brayen menyukai Allena


Alvian tak menyangka Brayen menyukai Allena. Memang Alvian juga tak bisa pungkiri bahwa Allena adalah gadis yang sangat cantik meski dengan tampang yang terkesan datar dan dingin. Namun semua tak menapik bahwa Allena tetap terlihat cantik. Maka dari itu banyak pria yang ingin mendekati Allena termasuk Brayen.


"Kak Brayen suka sama Allena. Sejak kapan?". Tanya Alvian.


"Kalau boleh jujur gue tuh suka sama Allena sejak pertama kali gue lihat dia waktu hari pertama MOS". Jujur Brayen.


"Cinta pada pandangan pertamalah istilahnya". Lanjut Brayen dengan tertawa.


"Ooh.. gitu". Ucap Alvian manggut-manggut.


"Iya. Makanya gue lagi kangen banget nih sama Allena". Ucap Brayen dengan tampang memelas.


"Waduhh.. Susah juga ya kalau udah bucin". Ucap Alvian.


"Tapi gimana ya Kak?". Sambung Alvian bingung.


"Gimana apanya?". Tanya Brayen sambil menatap Alvian serius.


"Gue sebenarnya tau Allena keluar negri mana. Cuman Allena mintanya buat nggak kasih tau siapa-siapa. Yang tau juga cuman gue sama teman-teman gue yang lain". Jawab Alvian.


"Loh kenapa gitu?". Tanya Brayen serius.


"Nggak tau juga sih. Tapi kata Allena mungkin dia nggak bakal balik lagi ke sini". Jawab Alvian.


"Hah? Maksudnya?". Tanya Brayen kaget.

__ADS_1


"Iya. Allena mungkin nggak bakal balik lagi ke sini ke Indonesia. Tapi itu juga masih kemungkinan sih Kak. Allena bilang gitu ke gue sama temen-temen yang lain juga". Ucap Alvian menjelaskan.


Brayen yang mendengar itu hanya diam tak bergeming. Ada rasa kaget dan juga sedih dari raut wajahnya yang terpancar. Perasaannya campur aduk ketika mengetahui Allena tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Meskipun masih kemungkinan, tapi Brayen tetap kepikiran dengan hal itu.


"Kak Brayen kenapa nggak jujur aja kalau Kak Brayen suka sama Allena". Ucap Alvian menyadarkan lamunan Brayen.


"Gue masih belum berani buat ngungkapin perasaan gue sama Allena". Jawab Brayen.


"Kenapa? Takut Kak Brayen ditolak". Ucap Alvian sambil menaik-turunkan alisnya.


"Hmm.. salah satunya itu sih. Tapi gue juga masih belum berani. Takutnya Allena malah ngejauhin gue. Gue nggak mau itu terjadi". Ucap Brayen memelas.


"Tapi setidaknya Kak Brayen jujur. Coba ngungkapin perasaan Kak Brayen ke Allena. Kalau Kak Brayen nggak ngomong pasti Kak Brayen berat hati sendirikan pendam perasaan Kak Brayen ke Allena". Nasihat Alvian.


"Yang lo omongin bener sih. Gue udah berusaha banget mendam perasaan gue ke Allena. Pengen banget gue ungkapin ke Allena. Rasanya sesek sendiri hati ini". Ucap Brayen dengan tampang memelas.


"Nah.. kan, gue bilang juga apa. Pasti Kak Brayen cape sendiri buat nahan perasaan Kak Brayen ke Allena". Ucap Alvian.


"Terus gue harus apa dong? Gue aja nggak tau keberadaan Allena ada dimana sekarang". Ucap Brayen frustasi.


"Maaf Kak. Gue juga nggak bisa kasih tau keberadaan Allena sekarang dimana. Soalnya gue juga udah janji sama Allena". Ucap Alvian tak enak hati.


"Iya nggak apa-apa. Gue paham kok". Ucap Brayen memaklumi.


Mereka kemudian lanjut mengobrol hingga sampai waktu menunjukan pukul 23.00 WIB.


Alvian lalu beranjak pergi dari restoran Brayen menggunakan motor sportnya.


Sementara Brayen, pria itu kemudian juga keluar dari restorannya, menggunakan mobilnya dan pergi menuju kearah Taman Kota.


Setibanya disana Brayen langsung beranjak dan duduk dikursi yang ada disana. Suasananya terlihat ramai dengan para anak muda yang berkeliaran. Ada yang bersama pasangan, ada yang sendiri, dan ada juga yang sekedar berkumpul bersama teman-teman.


Brayen yang sendiri merasa hampa saat ini. Dia tiba-tiba mengingat perkataan Alvian tentang Allena. Gadis itu kemungkinan tidak akan kembali lagi ke Indonesia.


Brayen menyesal karena tidak pernah mencoba mengungkapkan perasaannya pada Allena. Dan saat ini dia tidak mengetahui keberadaan Allena sekarang ada dimana.


Ingin menanyakan pada teman-teman Allena yang lainnya pasti jawaban mereka sama seperti Alvian karena sudah berjanji pada Allena untuk tidak memberi tahu siapapun.


Brayen kebingungan saat ini. Apa yang akan dilakukannya untuk mengetahui keberadaan Allena.


Saat sedang merasa galau, tiba-tiba Brayen dikagetkan dengan tepukan dari pundak kanannya.


"Woyy cowo mesum!! Ngapain lo disini? Sendirian aja lo". Seru orang tersebut yang ternyata adalah Alexa.


Brayen yang tentu saja sudah mengetahui siapa orang tersebut hanya melirik sekilas Alexa dan kembali menghadap kedepan tidak mempedulikan gadis itu.


"Dih.. Kenapa lo? Jelek amat tuh muka ditekuk kaya gitu". Ejek Alexa sambil beranjak duduk disamping Brayen.


Brayen tidak menjawab. Pria itu tetap diam dengan tampang memelasnya. Brayen lagi nggak mood untuk berdebat dengan Alexa.


"Oyy.. Brayen! Lo kenapa sih diem aja dari tadi? Ngomong napa". Seru Alexa lagi.


Brayen kemudian menoleh ke arah Alexa dengan tampang bad moodnya. Alexa yang melihat itu seketika merasa lucu dengan tampang lelaki itu.


"Buahaha.. Kenapa gitu banget sih ekspresi lo. Lucu tau nggak. Ngakak gua yaampun. Haha". Tawa Alexa pecah.


"Ngapain lo disini? Pergi sana. Ngetawain gue lagi lo". Celoteh Brayen.


"Yee.. Gitu aja ngambek. Tampang lo tu jelek amat. Gimana gue nggak ketawa. Kontrol tuh muka lo". Ucap Alexa menahan tawanya.


"Diem napa. Orang lagi sedih juga. Tambah nggak mood gue lo ada disini". Celoteh Brayen.


"Bisa sedih juga lo. Biasanya balas ngerocos juga lo kalau debat ama gue". Ucap Alexa.


"Mending lo pergi dah. Sakit kuping gue dengar lo ngomong mulu". Usir Brayen.


"Kalau gue nggak mau kenapa emang? Inikan tempat umum. Suka-suka gue dong mau dimana aja". Ucap Alexa tak mau kalah.


"Terserah lo dah. Males gue ngeladenin cewe gesrek kaya lo". Ucap Brayen lelah jika dia terus-terusan adu monyong dengan Alexa.


Alexa yang merasa Brayen sepertinya benar-benar tidak ingin diganggu seketika berhenti berbicara.

__ADS_1


Alexa kemudian tengah terlihat memikirkan sesuatu.


__ADS_2