
"Allena, kamu nggak ke sekolah Nak?". Tanya Tante Yuna yang berjalan mengambil tasnya di atas meja di sudut ruangan.
Allena menggeleng sembari tersenyum tipis, "Nggak Tante". Jawabnya.
"Kamu bolos yaaa...
Allena tidak menjawab dan tetap tersenyum.
"Yasudah, kalau gitu Tante keluar cari makan dulu ya. Kamu masih mau disinikan?". Tanya Tante Yuna kemudian.
"Iya Tante. Allena mau jagain Ziva". Jawab Allena.
"Oke kalau gitu. Kamu tunggu disini, nanti Tante beliin kamu makanan. Pasti kamu juga lapar kan?
"Tante tau aja". Sahut Allena.
"Tau dong. Kalau gitu Tante duluan. Maaf ngerepotin kamu sayang.
"Nggak papa Tante. Allenanya juga mau kok jagain Ziva.
Tante Yuna tersenyum kemudian bergegas berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.
Allena yang menatap pintu sudah tertutup kemudian beralih menatap Zee yang masih berbaring disana.
Allena kemudian meraih tangan lemah sahabatnya itu. Ditatapnya wajah Zee.
Allena seketika mengarahkan lengan Zee ke wajahnya.
"Gua minta maaf Va, gua minta maaf nggak bisa jagain lu. Gua emang sahabat yang nggak berguna. Ini semua salah gua". Allena mulai menangis dengan terus menggenggam tangan Zee.
"Hiks hiks gua bener-bener minta maaf. Gua yang salah hiks hiks gua yang salah!". Untuk kesekian kalinya Allena menangis.
Baginya, Zee adalah salah satu orang yang berarti dalam hidupnya. Zee adalah sahabat yang paling berharga.
Melihat kondisi sahabatnya itu benar-benar membuat Allena merasa bersalah. Allena merasa yang kini terjadi pada Zee adalah karena dirinya.
Allena terus menatap wajah sahabatnya itu dengan air mata yang terus keluar karena perasaan bersalah.
Sesaat kemudian Allena mulai mengusap air matanya dengan perlahan. Meletakan kembali tangan Zee di samping badannya. Lalu diam sambil memandangi Zee keseluruhan dengan masih terdengar sesenggukan yang keluar dari mulutnya.
Beberapa saat mengamati, Allena mulai memperbaiki posisi duduknya lalu membaringkan kepalanya di samping Zee yang tertidur di atas brankar. Kemudian mulai memejamkan matanya perlahan.
...******...
Entah berapa lama Allena tertidur? Allena tidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala yang masih dia letakan di atas brankar. Gadis itu terbangun karena merasa ada yang mengelus belakangnya.
"Maaf Tante bangunin kamu sayang!". Ternyata itu Tante Yuna. Beliau sudah kembali setelah keluar membeli makanan untuknya dan juga Allena.
"Oh nggak papa Tante". Sahut Allena.
"Yasudah kalau gitu kamu cuci muka dulu terus makan bareng Tante. Tante udah beliin kamu makanan". Ucap Tante Yuna.
"Iya Tante". Allena kemudian beranjak dari kursi lalu bergegas menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Sekitar 5 menit Allena keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Tante Yuna tengah menyiapkan makanan.
"Sudah Allena?". Seru Tante Yuna mendongak ke arah Allena yang terlihat berjalan ke arahnya.
"Sudah Tante". Jawab Allena.
"Kalau gitu kita makan sekarang ya. Tante juga udah laper". Cicit Tante Yuna dengan sedikit candaan agar tak terlalu canggung.
Sementara Allena hanya mengangguk. Padahal mah Allena biasa aja kali. Kalau udah lihat makanan mah Allena nggak peduli kali sama keadaan sekitar. Yang penting tuh makan, makan dan makan😅😅
Tante Yuna dan Allena kemudian mulai makan bersama dengan diiringi saling mengobrol bersama.
"Allena ke kamar mandi bentar ya Tan!". Seru Allena setelah beberapa menit yang lalu mereka sudah selesai makan bersama.
"Iya sayang". Sahut Tante Yuna.
Allena terlebih dahulu mengambil tasnya yang dia letakan di sofa tadi lalu berjalan menuju kamar mandi.
Seperti biasa Allena masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan aktifitas yang selalu dia lakukan. Mengambil beberapa barang yang selalu dia simpan dalam stoples kecil lalu meneguknya kembali bersama air.
"Kamu nggak balik sayang?". Tanya Tante Yuna saat Allena sudah keluar dari dalam kamar mandi.
"Bentar lagi Tan!". Sahut Allena.
"Oh iya Tante". Seru Allena seketika, "Eumm.. boleh nggak Allena datang jagain Ziva disini?
"Kamu nggak ke sekolah emang? Kalau kamu jagain anak Tante gimana sekolah kamu Nak?
"Maksud Allena nanti tiap Allena pulang sekolah gitu Tante. Boleh kan?
Tante Yuna seketika tersenyum mendengar perkataan Allena.
"Kamu baik sekali Nak. Kamu nggak seharusnya bantu jagain anak Tante. Papahnya bakalan datang hari ini". Sahut Tante Yuna.
"Nggak papa kok Tan. Allenanya yang mau jagain Ziva.
"Sepertinya hubungan kalian memang sangat dekat Sayang.
__ADS_1
"Ziva sahabatnya Allena, Tante.
Tante Yuna hanya tetap tersenyum mendengar perkataan Allena. Tentu saja Tante Yuna sangat paham akan maksud Allena.
"Yasudah kalau begitu, Tante izinin kok". Balas Tante Yuna.
"Makasih Tante!
...******...
Sementara itu di tempat lain terlihat Louis tengah bersama seorang cewek.
"Jawab pertanyaan gue! Jadi lo dalang dibalik kejadian waktu itu?". Sentak Louis ke arah cewek itu yang ternyata adalah Regina.
"Dalang? Dalang apa maksud lo?". Regina malah balik bertanya. Memang dia belum ngerti sama maksud Louis.
"Jangan pura-pura nggak tau lo! Lo kan yang udah berniat ngenyelakain Allena waktu itu?
"Ngenyelakain? Maksud lo apa sih gue nggak ngerti? Tadi dalang sekarang ngenyelakain. Maksud lo apa? Pake bawa-bawa Allena lagi. Emang apa hubungannya sama tuh cewek?
"Masih nggak ngerti juga lo? Lo kan yang udah niat jahatin Allena waktu acara pensi sekolah dulu? Iya kan?". Sentak Louis menatap tajam Regina.
Regina yang mendengar itu awalnya terkejut. Tapi beberapa detik kemudian kembali bersikap seperti semula.
"Kirain apaan aelahh. Itu lagi itu lagi! Ngapain sih bahas itu mulu? Orang udah lama juga". Cetus Regina tak peduli.
"Enteng banget lo ngomong kaya gitu". Sentak Louis seketika, "Lo tau kan Allena itu tunangan gue?!
"Iya iya gue tau! Santai aja kali lebay amat. Lagian tuh cewek juga sampai sekarang nggak kenapa-napa kan?
"Nggak kenapa-napa lo bilang? Eh Allena waktu itu hampir kena lampu yang jatuh itu, untung aja yang kena Aziel.
"Eh eh maksud lo apa ngomong kaya gitu?". Regina mendekati Louis sembari menunjuk wajah cowok itu, "Maksud lo, lo seneng gitu yang kena malah Aziel bukan cewek sok itu?
"Ya iyalah. Lagian lo sendirikan yang lakuin itu? Jadi gimana perasaan lo waktu itu yang kena malah Aziel bukannya Allena?". Ucap Louis mencebik.
"Lo...
"Apa?"Potong Louis cepat, "Makanya kalau lo mau ngelakuin sesuatu itu mikir dulu pake otak. Jangan langsung gerak tanpa mikir kedepannya bakal kaya apa.
"Iihh yaudah sih, lagian udah lama juga kan. Nggak usah bahas itu mulu kali". Ucap Regina mendelik tak suka.
"Gue cuman kasih tau. Biar kalau nanti lo berbuat sesuatu nggak usah lo ngelibatin Allena ke dalam bahaya. Nggak mau gue kalau sampai Allena kenapa-napa. Ngerti nggak lo!?". Sentak Louis menatap galak pada Regina.
"Iya ih bawel banget sih. Segitunya banget sama cewek sok itu". Cibir Regina.
"Lah, lo segitunya banget sama Aziel sampai nekat kaya gitu. Ngatain gue lagi lo". Balas Louis.
Louis kemudian terlihat menghembuskan nafasnya gusar.
"Kalau gitu gimana sekarang rencana lo?". Tanya Louis kemudian.
"Untuk sekarang gue masih belum ada rencana". Jawab Regina.
Louis langsung memberikan tatapan mengancam untuk Regina, "Gue ingetin sama lo! Kalau lo ada rencana lagi, jangan sampai lo ngelibatin Allena ke dalam bahaya. Kalau sampe lo ngelakuin itu gue nggak akan tinggal diem. Ngerti lo!
"Dih, iya iya!". Sahut Regina mendelik.
...******...
Tiga hari berlalu. Selama itu pula Zee belum sadar sampai saat ini. Gadis itu terlihat masih enggan untuk bangun dari masa komanya.
Selama tiga hari pula Allena selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk sekaligus menjaga Zee.
Allena juga jadi sering bolos sekolah karena ingin menjenguk Zee di rumah sakit. Tak lupa juga keempat sahabat lainnya Airin, Tessa, Gamma, juga Alvian. Selama beberapa hari ini mereka juga selalu datang ke rumah sakit menjenguk Zee.
Hubungan keempat orang itu dengan Allena pun terlihat tak berjalan dengan baik. Allena tidak menegur sekaligus berbicara dengan mereka. Berkumpul pun sudah tidak sama sekali.
Begitu juga dengan Aziel. Hubungan antara keduanya pun menjadi renggang semula dan terkesan memburuk. Allena selalu menjauh dari Aziel, meskipun pria itu berusaha membujuk Allena dan selalu meminta maaf. Meskipun yang terjadi juga bukan sepenuhnya karena kesalahan Aziel.
Allena ke rumah sakit pun pasti selalu ditemani dengan Louis. Karena dari Papah Robert sendiri pun jika Allena ingin menjenguk Zee, dia harus pergi dan pulang bersama dengan Louis. Dan Allena pun tak mempermasalahkannya. Sementara Louis ya dia senang-senang saja jika harus seperti itu. Setidaknya dia akan selalu dekat dan bersama dengan Allena sekarang ini.
Karena yang kita tau selama di mansion pun, meski tinggal bersama, Allena selalu bersikap cuek dan tidak peduli akan keberadaan Louis dan seperti tidak menganggap keberadaannya.
Sementara Setya, asal kalian tau selama tiga hari ini pria itu tanpa sepengetahuan Allena juga yang lainnya ternyata diam-diam selalu datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Zee disana.
Yang mengetahui hal itu hanya Tante Yuna juga dua bodigoard yang ditugaskan untuk menjaga Zee selama masih di rawat di rumah sakit.
Setya sudah menceritakan semua yang terjadi kepada Tante Yuna tentang mengapa Zee bisa sampai kecelakaan waktu itu.
Awalnya Tante Yuna sempat menyalahkan Setya apa yang dialami oleh Zee anaknya. Tapi melihat kesungguhan Setya dengan meminta maaf secara langsung padanya membuat Tante Yuna memaafkan Setya.
Tante Yuna juga tak sepenuhnya menyalahkan Setya. Semua yang terjadi juga karena kecerobohan Zee yang main asal nyebrang aja waktu di jalan tanpa berhati-hati, lihat kiri-kanan(padahal masih belum sadar udah main marahin aja Tante Yuna🤣)
Semua yang terjadi juga karena sudah menjadi kehendak dari Yang Maha Kuasa. Musibah juga kita semua tidak tau kapan datangnya.
Tante Yuna tentu saja sudah memaafkan Setya, tapi belum tentu dengan Papahnya Zee juga kakak laki-laki yang dimiliki oleh Zee.
Kedua orang itu belum tau kejadian sebenarnya juga belum bertemu dengan Setya karena sibuk dengan pekerjaan. Keduanya juga sempat datang untuk melihat Zee. Tapi keesokan harinya Papah juga kakak laki-laki Zee sudah harus kembali lagi ke Jepang karena tuntutan pekerjaan. Walau begitu setidaknya masih ada Mamah Yuna yang masih bisa untuk menjaga Zee di rumah sakit.
Dan saat ini Setya sudah berada di rumah sakit tempat dimana Zee dirawat. Pria itu terlihat duduk di kursi samping brankar yang ditempati oleh Zee.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Setya datang untuk menjenguk Zee terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke sekolah.
Tante Yuna sendiri pun belum datang karena semalam Tante Yuna harus bergadang untuk mengurusi masalah pekerjaan yang tertunda.
Dan dua bodigoard yang ditugasi Tante Yuna untuk menjaga Zee sedang menunggu di luar ruangan.
Setya memandangi wajah Zee yang terlihat tenang itu dari tempat duduknya. Ada perasaan bersalah yang terpendam direlung hatinya. Perasaan bersalah karena merasa apa yang terjadi pada Zee saat ini semua karena dirinya.
Setya seketika menghembuskan nafas berat, lalu berdiri dari duduknya. Kemudian beranjak duduk di atas brankar samping Zee yang masih berbaring dengan selang infus yang terpasang di hidung juga beberapa di bagian tubuh cewek itu.
Perlahan Setya meraih lengan Zee, meletakannya di pangkuannya. Mengelus lembut tangan putih mulus milik Zee dengan memandanginya.
Terdengar helaan nafas bersalah yang keluar dari mulut Setya.
"Gue minta maaf Zee, gue minta maaf! Gue tau gue salah. Gue nggak seharusnya biarin lo waktu itu. Gue yang seharusnya nysul lo bukan lo yang nyusulin gue. Dan lo nggak bakal kaya gini sekarang". Desis Setya menggenggam tangan lemah Zee.
"Gue minta maaf, gue benar-benar minta maaf!". Cicitnya kemudian menatap lekat wajah Zee yang masih terus setia memejamkan matanya.
Setya diam sebentar sambil terus memandangi wajah Zee. Kemudian Setya mulai beranjak untuk mengambil jas almamater yang dia letakan di kursi yang didudukinya tadi kemudian memakainya. Lalu kembali mendekati Zee. Berjongkok di hadapan gadis itu yang berbaring.
"Gue berangkat ke sekolah dulu. Gue bakalan balik lagi kesini buat jengukin lo terus. Semoga lo cepat sadar ya Zee!". Desis Setya kemudian mencium kening Zee dengan lembut. Hingga beberapa saat Setya mulai melepaskan ciumannya, beralih menempelkan dahinya dengan dahi Zee sembari memejamkan matanya.
Tangan kanannya mulai terangkat, "Bangun ya! Gue mohon lo cepat bangun! Biar gue bisa lihat senyum lo lagi. Dan juga gue bisa minta maaf langsung sama lo". Cicit Setya lagi sambil mengelus pipi Zee.
Setya kemudian menjauhkan dirinya dari Zee sambil terus memandanginya. Lalu kembali menghembuskan nafasnya.
Sedetik kemudian Setya mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu. Tangannya terangkat meraih ganggang pintu lalu berbalik sebentar untuk memandangi Zee sebentar lagi.
Sesaat kemudian Setya benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Jaga Nona kalian!". Seru Setya sambil memandang serius ke arah dua bodigoard yang berjaga di luar ruangan.
Setelah berbicara seperti itu Setya mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Sementara itu Zee yang masih berbaring dengan memejamkan matanya mulai terlihat menggerakan jari-jarinya sedikit demi sedikit.
Kelopak matanya yang terpejam mulai bergerak dengan hati-hati. Pelan tapi pasti Zee terlihat membuka matanya dengan perlahan. Hingga beberapa saat cewek itu benar-benar membuka matanya dengan pasti. Menatap langit-langit atap yang menurut asing baginya.
"Nona!". Seru salah satu bodigoard.
Kedua bodigoard yang menjaga di luar tadi sempat masuk ke dalam ruangan saat Setya sudah pergi.
"Nona sudah sadar?". Salah satu bodigoard bergegas menelpon Mamah Yuna ketika menyadari Nona Mudanya sudah sadar.
Sementara satu bodigoard lagi bergegas keluar dari ruangan untuk memanggil Dokter.
Hingga tidak berselang lama bodigoard yang tadi kembali datang bersama dengan Dokter.
Dokter tadi pun bergegas memeriksa keadaan Zee.
Di mansion, Mamah Yuna yang tengah bersiap-siap setelah mendapat telepon dari bodigoard yang ditugaskannya untuk menjaga Zee anaknya bergegas meninggalkan mansion mengetahui anaknya sudah sadar.
Dengan perasaan campur aduk Mamah Yuna menyuruh sopir pribadinya untuk berkendara secepat mungkin agar cepat sampai ke rumah sakit.
Hingga sekitar 20 menit mobil tiba dan berhenti tepat di parkiran rumah sakit.
Dengan tergopoh-gopoh Mamah Yuna segera keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan anaknya yang ditangani.
BRAK!!
Pintu ruangan terdengar terbuka dengan lumayan keras memperlihatkan seorang wanita paruh bayah berjalan masuk dengan ekspresi bahagia sekaligus sedih.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok? Anak saya tidak kenapa-napa kan?". Mamah Yuna dengan harap-harap cemas sembari memandangi Zee anaknya yang terlihat berbaring dan sudah sadarkan diri.
Zee dengan tatapan tanpa ekspresi memandangi Mamah Yuna yang terlihat begitu khawatir.
"Tenang Bu! Anak Ibu sudah baik-baik saja sekarang. Anak Ibu sudah melewati masa komanya". Terang Dokter yang menangani Zee.
"Ah benarkah Dok". Mamah Yuna menangis bahagia mendengar apa yang dikatakan Dokter tersebut.
Segera Mamah Yuna menghampiri Zee anaknya, "Gimana perasaan kamu sekarang Sayang? Kamu sudah rasa baik-baik saja kan Nak? Mamah seneng banget kamu sudah sadar". Mamah Yuna menangis sambil memeluk anak gadisnya itu.
Sedang Zee terlihat diam saja ketika dipeluk oleh Mamah Yuna. Gadis itu tak memberikan reaksi apapun.
Merasakan anaknya diam saja, Mamah Yuna melepaskan pelukannya lalu memandangi Zee.
"Kenapa Nak? Kok kamu diam saja. Kamu nggak suka dengan kedatangan Mamah disini?". Tanya Mamah Yuna sembari menangkup kedua pipi Zee.
Sedang Zee terus diam saja tak mengeluarkan kata-kata apapun. Gadis itu bahkan terlihat menautkan alisnya bingung, seperti orang ling-lung.
"Zeze!". Zeze adalah nama panggilan kesayangan Mamah Yuna untuk Zee.
"Zeze! Kenapa kamu diam saja Nak?". Tanya Mamah Yuna kemudian sembari menatap serius anaknya yang terlihat semakin menampakan ekspresi kebingungannya.
Zee menatap Mamah Yuna.
"Ma-maaf Ibu siapa ya?
DEG!!
__ADS_1