
Liburan sekolah telah dimulai. Saat ini Allena sedang berada dalam pesawat menuju negara Amerika tempat dia dilahirkan. Allena berangkat dari bandara pukul sepuluh pagi bersama Ibunya.
Setelah menempuh perjalanan yang membutuhkan waktu cukup lama dan melelahkan Allena dan Mommy Tiara telah sampai di negara yang sering dijuluki dengan Negeri Paman Sam tersebut.
Setibanya di bandara, Allena dan Mommy Tiara langsung turun dari pesawat dan menuju ke mobil yang telah menunggu dan memang telah disiapkan sebelumnya.
Allena dan Mommy Tiara lalu masuk kedalam mobil dan beranjak meninggalkan bandara tersebut.
Sekitar 20 menit Allena dan Mommy Tiara telah tiba di mansion mewah milik mereka. Mereka berdua lalu keluar dari dalam mobil dan langsung masuk kedalam mansion.
Saat mereka masuk mereka berdua langsung disambut oleh para penjaga mansion dan juga para pembantu dan para pelayan yang bekerja di mansion besar tersebut.
"Bibi.. Tuan Besar dimana? Apa dia sudah pulang?". Tanya Mommy Tiara kepada salah satu pembantu yang menyambut mereka.
"Maaf Nyonya! Tuan Besar belum pulang. Katanya masih ada urusan. Nanti malam Tuan Besar baru akan pulang bersama dengan Tuan Muda Renold". Jelas pembantu bertubuh gempal pendek tersebut.
"Umm.. Baiklah! Kalau begitu saya ke kamar dulu. Kalau Tuan Besar sudah pulang segera beri tau saya". Ucap Mommy Tiara.
"Baik Nyonya". Balas pembantu tersebut.
Sementara Allena, gadis itu langsung saja naik ke atas lantai 2 menuju kamarnya dengan membawa sendiri barang-barang yang dibawanya.
Allena kemudian masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu kamarnya. Gadis itu kemudian lalu meletakan barang bawaannya. Setelah itu Allena langsung saja menuju ke ranjangnya dan berbaring disana. Tidak membutuhkan waktu lama, Allena sudah berada dialam mimpinya. Gadis itu tertidur.
Indonesia pukul 21.45 WIB
Sementara ditempat lain yaitu di Indonesia saat ini Aziel sedang bersama Brayen. Mereka berdua tengah berada di restoran milik Brayen.
"El.. Ada apa nih? Lo kok tiba-tiba minta ketemuan. Biasanya juga nanti gue yang datang ama lo kalau ada urusan". Tanya Brayen membuka obrolan.
"Ada sesuatu yang pengen gua tanyain ama lu". Ucap Aziel datar.
"Soal apa emangnya? Kelihatannya penting amat ampe lo datang sendiri kesini". Ucap Brayen.
"Gua mau nanya, ada hubungan apa lu sama Allena? Kelihatannya kalian berdua dekat banget dari dulu". Tanya Aziel tetap dengan tampang datarnya.
"Jiahh.. Ngapain lo nanya-nanya kek gituan. Kirain lo bakalan nanyain tentang apa? Ternyata tentang Allena. Ampe segitunya lo datang kesini cuman buat nanyain ada hubungan apa gue ama Allena?". Tanya Brayen tak percaya.
"Lu tinggal jawab. Iya atau nggak?". Ucap Aziel sambil menatap datar Brayen.
"Kalau gue nggak mau kasih tau gimana?". Ucap Brayen dengan smirknya sambil menaikan kedua alisnya.
Aziel seketika memandang Brayen tanpa ekspresi ketika mendengar perkataan Brayen.
"Kalau lu nggak mau jawab yaudah. Tapi gua mau nanyain satu hal lagi ama lu dan lu harus jawab. Kalau lu nggak jawab lu tau kan akibatnya apa?". Ancam Aziel.
"Yaelahh.. El! Pake ancam gue segala lo. Nggak asik banget sih lo jadi orang". Ucap Brayen begitu heran dengan sifat kaku Aziel apalagi disaat Aziel sedang serius.
"Yaudah lo mau tanya apa?". Tanya Brayen.
"Lu suka sama Allena?". Tanya Aziel sambil memandang Brayen intens namun mencekam.
"Allena lagi? Lo kenapa sih sama Allena?". Tanya Brayen heran dengan Aziel.
"Ngapain lu nanya balik? Gua nanya ama lu. Lu tinggal jawab. Lu suka ama Allena nggak?". Tanya Aziel tak sabar.
"Oke oke gue jawab. Kalau boleh jujur sih gue tuh emang suka ama si Allena. Dari dulu malahan pas awal dia masuk sekolah. Tapi ya gitu gue nggak berani buat ungkapin perasaan gue ke dia". Jelas Brayen.
"Kenapa lu nggak ngomong aja?". Tanya Aziel.
"Tetap kok. Tetap gue bakal ungkapin. Tapi gue harus mantapin diri gue dulu. Biar kalau jawaban Allena nggak sesuai keinginan gue, gue nggak terlalu sakit hati". Jelas Brayen.
"Eh.. Tapi tunggu tunggu! Lo kok malah nanyain hal itu sama gue. Ada apa nih?". Tanya Brayen was-was.
"Nggak ada. Gua cuman pengen nanya aja". Ucap Aziel santai.
"Oh gitu. Terus itu aja yang pengen lo tanyain, atau ada lagi?". Tanya Brayen.
"Nggak ada. Udah itu aja". Jawab Aziel.
__ADS_1
"Udah itu aja. Nggak jelas banget lo El datang kesini cuman buat nanyain gue suka ama Allena atau nggak". Ucap Brayen heran.
"Hmm..! Yaudah kalau gitu gua pergi sekarang". Ucap Aziel sambil beranjak berdiri dari duduknya.
"Lah.. Lo udah mau balik aja? Lo cuman nanyain hal gitu doang". Ucap Brayen tak habis pikir dengan sifat Aziel.
"Umm..!". Jawab Aziel dengan gumaman.
Aziel kemudian berjalan keluar dari restoran milik Brayen. Lelaki itu segera ke parkiran menuju mobilnya dan masuk ke dalam. Aziel kemudian menyalakan mobilnya dan pergi dari tempat tersebut.
Selama diperjalanan Aziel hanya tersenyum miring setelah mendengar perkataan Brayen. Ternyata Brayen dan Allena tak memiliki hubungan apapun seperti apa yang dipikirnya selama ini.
New York, Amerika Serikat 19.30
Tok.. Tok..!!
"Nona Muda bangun! Tuan Besar sudah tiba dan menyuruh saya untuk memangil Nona Muda". Seru pelayan sambil mengetuk pintu kamar Allena.
"Nona! Nona Muda bangun!". Seru pelayan tersebut dengan sedikit mengeraskan suaranya agar Allena mendengar.
Allena yang mendengar seruan dari pelayan tadi pun segera bangun dan duduk mencoba mengumpulkan nyawanya. Sebenarnya Allena sudah bangun sedari tadi, tetapi Allena masih ingin berbaring sebentar.
Allena lalu menuju pintu kamarnya lalu membuka pintu tersebut dan mendapati seorang pelayan yang tengah berdiri.
"Apa?". Tanya Allena datar.
"Maaf Nona Muda! Saya disuruh memanggil Nona Muda untuk turun kebawah, karena Tuan Besar sudah pulang dan sedang menunggu Nona Muda dibawah". Ucap pelayan tersebut sambil menunduk.
"Iya". Ucap Allena.
Allena kemudian langsung menutup pintu kamarnya dan menuju lemari untuk mengambil handuk. Allena lalu segera berjalan kearah kamar mandi dan melakukan ritual mandinya.
Sekitar 15 menit Allena selesai dari mandinya dan menuju ke arah lemari pakaian. Allena lalu memakai pakain santainya. Setelah selesai Allena kemudian langsung turun kebawah.
Setibanya dibawah Allena lalu menuju ke arah ruang makan. Disana sudah ada Papa Robert, Mommy Tiara, dan juga Kak Renold yang sedang menunggu Allena.
Allena kemudian lalu langsung menarik kursi dan duduk disana.
Allena tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap datar Ayahnya. Allena tidak berniat untuk menegur Ayahnya.
"Allena..! Papa ngomong sama kamu sayang. Kok gitu reaksinya?". Timpal Mommy Tiara lembut.
"Iya". Jawab Allena beralih memandang datar Mommy Tiara.
Allena hanya bereaksi seadanya. Gadis itu langsung beralih ingin menyendok makanan untuk dirinya. Saat Allena mencoba menyendok nasi, tangannya langsung ditahan oleh kakaknya Renold.
"Allena.. Kamu ini kenapa? Orang tua lagi bicara kamu malah bereaksi seperti itu. Hargai Papa sama Mommy. Mereka orang tua kita". Ucap Renold mulai berbicara.
Allena langsung saja menepis tangan Renold. Gadis itu kemudian kembali melanjutkan kegiatannya tanpa mempedulikan Renold kakaknya.
"Allena kamu...". Ucap Renold terputus.
"Sudah sudah. Tidak usah diperpanjang. Kita mulai makan saja dulu". Ucap Papa Robert melerai.
"Allena sini. Biar Mommy yang bantu ambilin". Ucap Mommy Tiara ingin membantu Allena.
"Nggak usah". Tolak Allena menghindar.
Allena kemudian menyiapkan sendiri makanannya tanpa ingin dibantu Mommy Tiara. Allena lalu selesai dan mulai makan dengan tenang dan hikmat tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Semua mulai makan dalam keadaan tenang.
Sekitar 20 menit mereka selesai. Allena lalu berdiri ingin pergi dari sana.
"Allena mau kemana kamu? Ke ruang keluarga sekarang. Ada yang ingin Papa mau bicarakan sama kamu". Ucap Papa Robert tiba-tiba.
"Kenapa nggak ngomong disini aja sekarang? Allena malas kalau harus ke ruang keluarga". Ucap Allena datar seraya berbalik dan menghadap ke arah Papanya.
"ALLENA!!". Bentak Papa Robert tak suka akan reaksi Allena yang terkesan membantah.
"Ishh..!!". Desis Allena tak suka seraya pergi menuju ke arah ruang keluarga.
__ADS_1
Allena langsung saja duduk dikursi sofa yang ada di ruangan tersebut sambil melipat kedua tangannya dan memasang wajah masamnya.
Tidak berapa lama kedua orang tua Allena menghampiri Allena bersama dengan Kak Renold. Mereka semua kemudian duduk saling berhadap-hadapan dengan Allena.
"Allena... Sayang! Papa ada yang mau diomongin sama kamu". Ucap Papa Robert mulai membuka obrolan.
"Apa?". Tanya Allena tetap dengan posisinya.
"Begini Allena. Papa ada kenalan dari salah satu rekan bisnis kerja Papa. Dan kenalan Papa itu mempunyai anak laki-laki yang umurnya satu tahun di atas kamu". Ucap Papa Robert.
"Terus?". Tanya Allena datar.
"Begini sayang! Untuk membuat kita lebih dekat dengan rekan kerja bisnis Papa itu Papa berencana untuk menjodohkan kamu dengan anak laki-laki nya itu". Lanjut Papa Robert.
Allena yang mendengar perkataan Papa Robert seketika kaget. Allena tidak mau. Dia tidak ingin dijodohkan. Apa lagi dengan laki-laki yang tidak diketahuinya.
"Apa? Papa mau jodohin Allena? Nggak Pa! Allena nggak mau dijodohin". Bantah Allena.
"Kenapa sih Papa nggak mau kerja aja? Emang harus ya pake acara dijodohin segala. Allena tuh nggak mau". Ucap Allena lagi.
"Allena... Papa kan bilang tadi. Papa mau jodohin kamu supaya biar kerja sama Papa sama rekan bisnis Papa itu bisa berjalan lancar sekaligus kita bisa lebih dekat lagi dengan mereka". Jelas Papa Robert.
"Terus kalau Papa kerja sama lagi dengan keluarga lain Papa mau jodohin lagi Allena dengan keluarga lain? Gitu? Papa itu gimana sih?". Ucap Allena yang mulai emosi.
"Bukan begitu Allena. Kan ini hanya untuk antara kita dan keluarga rekan bisnis Papa itu". Ucap Papa Robert.
"Yaudah kalau gitu kerja ya kerja aja Pa. Nggak usah pake main jodoh-jodohin segala". Bantah Allena.
"Allena! Kamu ini. Papa masih bicara kamu terus saja membantah. Kamu tidak usah berteriak seperti itu kepada Papa. Tidak sopan!". Ucap Kak Renold tiba-tiba pada Allena.
"Kak Renold nggak usah ikut campur. Ini urusan aku sama Papa". Bantah Allena.
"Kak Renold jangan samain aku sama kaya Kak Renold. Kak Renold itu cuman bisanya jadi mesin pekerja untuk Papa". Ucap Allena pada Kak Renold.
"ALLENA!!". Teriak Papa Robert yang mulai emosi dengan sikap Allena.
"Allena! Kamu harusnya merasa bersyukur. Karena kerja keras Papa kamu bisa merasakan semua ini. Mendapatkan semua yang kamu mau. Kamu harus tau masih banyak anak-anak diluar sana yang tidak bisa seperti kamu. Kamu harusnya menghargai usaha Papa". Bentak Papa Robert.
"Allena nggak pernah merasa bersyukur Pa. Allena nggak pernah merasa bersyukur setelah apa yang Papa lakuin sama Allena. Semua impian Allena hancur karena Papa. Keinginan Allena untuk menjadi dokter nggak tersampaikan hanya karena larangan Papa". Ucap Allena.
"Papa taukan keinginan Allena untuk menjadi dokter itu cita-cita Allena. Dan Papa hancurin impian Allena itu". Teriak Allena.
"Dan yang paling membuat Allena membenci keluarga ini Allena harus relain melepaskan orang yang Allena suka". Ucap Allena.
"Papa harus tau! Allena sayang sama seseorang Pa. Allena suka sama seseorang. Allena benar-benar sayang sama orang itu. Dan Allena harus relain karena pantangan dari keluarga yang nggak jelas ini". Lanjut Allena.
"Papa ngelarang Allena buat nggak menjalin hubungan sama orang Indonesia. Pantangan macam apa seperti itu Pa? Memangnya ada apa dengan orang Indonesia?". Tanya Allena.
Papa Robert yang mendengar penjelasan Allena seketika terdiam. Ditatapnya anak kesayangannya itu.
"Allena! Kamu tau kan larangan Papa itu. Dan kamu harus tetap jalanin peraturan Papa. Kamu nggak boleh berhubungan dengan orang yang asalnya dari Indonesia. Dan Papa akan tetap menjodohkan kamu dengan laki-laki pilihan Papa itu". Ucap Papa Robert menatap Allena tanpa ekspresi.
"Jika kamu tidak menerima atau menentang peraturan Papa itu, silahkan kamu keluar dari rumah ini". Lanjut Papa Robert.
"Papa..! Apa harus seperti itu juga. Kasihan Allena". Ucap Mommy Tiara menghampiri suaminya.
"Itu sudah menjadi keputusan bulat Papa. Dan Allena harus menerimanya. Allena tidak boleh menjadi dokter dan Allena tidak boleh berhubungan dengan orang Indonesia". Jelas Papa Robert.
"Kalau begitu Papa ke kamar dulu. Dan Allena kamu lebih baik merenungkan semua ini". Ucap Papa Robert lagi.
Papa Robert kemudian beranjak dari duduknya dan pergi dari sana menuju kamar.
Sementara Allena gadis itu hanya diam ditempatnya sambil memandangi Papa Robert.
"Allena! Sudahlah Nak. Kamu dengar perkataan Papa kamu. Kamu jangan buat Papa marah lagi". Ucap Mommy Tiara menghampiri Allena.
"Bersikap baiklah pada Papa Allena. Sebelum kamu benar-benar diusir oleh Papa". Ucap Kak Renold sambil memandangi Allena.
Allena yang mendengar itu seketika merasa marah. Dipandanginya Mommy Tiara dan Kak Renold secara bergantian.
__ADS_1
"Kalian semua sama saja". Ucap Allena tiba-tiba sambil berdiri dari duduknya.
Allena kemudian melangkah pergi dari sana menuju kamarnya dalam keadaan marah.