
Saat Aziel yakin bahwa didepannya itu adalah Allena, lelaki itu segera menghampiri gadis tersebut. Sementara Alexa tak menyadari kepergian Aziel sebab Alexa sedang serius bermain capitan boneka yang ada di pasar malam itu.
Setelah tiba didekat Allena, Aziel langsung menarik lengan gadis tersebut dan membawa pergi Allena menjauh dari Louis yang sedang fokus bermain game lempar kaleng tersebut hingga tak menyadari Aziel membawa pergi Allena.
"Aduhh..!!". Rintih Allena saat Aziel menarik lengannya.
"Ha? Lu? Lu apa-apaan sih? Lepasin tangan gua". Kaget Allena ketika mengetahui siapa yang menarik lengannya.
Sedangkan Aziel terus menarik lengan Allena tanpa mempedulikan ringisan dan juga gadis tersebut yang terus memberontak minta dilepaskan.
"Anji*ng!! Lepasin nggak tangan gua. Sakit bego". Umpat Allena pada Aziel. Sedang Aziel terus tak melepaskan cengkramannya.
Setelah tiba disuatu tempat, Aziel lalu melepaskan cengkramannya dilengan Allena.
"Wahh..!! Lu gila ya. Berani-beraninya lu narik-narik gua kek gitu. Udah berapa kali lu kaya gitu kek gua? Minta dihajar lu emang". Celoteh Allena sambil menghampiri Aziel dan memukul lelaki tersebut secara brutal.
"Udah udah! Udah woy! Udah mukulnya! Sakit tau nggak". Ringis Aziel ketika Allena memukul-mukul dirinya.
"Makanya jangan kurang ajar lu ama gua". Ucap Allena dengan tetap terus memukul Aziel.
"Kalo lu nggak berhenti gua bakal cium lu lagi". Sarkas Aziel disela-sela pukulan Allena.
"Sini lu lakuin kalo lu berani. Awas aja lu". Umpat Allena terus memukul-mukul Aziel.
Saat Allena terus memukul Aziel, lelaki tersebut langsung meraih kedua lengan Allena dan menggengggamnya dengan kuat. Aziel lalu menarik kedua tangan Allena ke depan dengan kuat sehingga membuat Allena tepat berhadapan dengan Aziel dengan posisi wajah mereka berdua begitu sangat dekat.
Allena yang menyadari posisinya sangat dekat dengan Aziel seketika membulatkan matanya kaget.
"Mau lu gua cium lagi?". Ucap Aziel dihadapan wajah Allena sambil tersenyum miring.
"Dih..! Apa-apaan sih lu ah? Jauh-jauh sono". Teriak Allena sambil mendorong jauh Aziel keras.
"Udah sini! Lu ikut gua aja". Ucap Aziel menghampiri Allena dan menggenggam lengan Allena.
"Emang kita mau kemana sih? Nggak mau gua". Ketus Allena.
"Udah ikut aja. Nggak usah banyak tanya. Mau gua cium lagi?". Sarkas Aziel sambil tersenyum.
"Udah sih. Itu mulu yang lu omongin. Emosi gua lama-lama". Celoteh Allena.
"Yaudah. Kalo gitu ada hal yang gua mau tanyain". Ucap Aziel.
"Apa?". Ketus Allena.
Saat ini mereka berhenti dan saling berhadap-hadapan satu sama lain.
"Cowo tadi siapanya lu?". Tanya Aziel tiba-tiba.
"Kepo banget lu tiba-tiba. Kenapa emang?". Jawab Allena.
"Ck.. Gua cuman nanya. Kalo lu nggak mau jawab juga nggak apa-apa". Decak Aziel.
"Yaudah". Ketus Allena.
"Kalo gitu lu ikut gua sekarang". Ucap Aziel menarik lengan Allena.
"Pelan-pelan napa. Sakit tangan gua". Ucap Allena mengikuti Aziel.
Mereka kemudian kembali berjalan dan berhenti di salah satu permaian rumah hantu yang ada di pasar malam itu.
"Kita ngapain disini?". Tanya Allena sambil menjajakan matanya melihat sekeliling.
"Ya kita masuk lah. Kita mainin nih game rumah hantu". Ucap Aziel.
"Kenapa? Lu takut ya?". Tanya Aziel sambil memandang Allena remeh.
"Yakali gua takut. Yaudah ayo masuk". Ucap Allena sambil beranjak masuk ke dalam rumah hantu tersebut.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah hantu tersebut. Mereka berjalan berdampingan sambil berhati-hati dan mengelilingi mata waspada.
Terlihat Allena dengan beraninya melangkahkan kakinya didalam ruangan yang minim cahaya tersebut. Aziel juga yang terus berjalan namun tak henti-hentinya sesekali melirik Allena dan tanpa sadar mengukir senyum dibibirnya.
Di lain tempat Louis yang telah selesai bermain sedang kebingungan mencari-cari Allena.
Louis yang saat itu telah selesai bermain sangat kaget ketika mendapati Allena yang sudah tidak ada di dekatnya. Louis kemudian mencoba mencari Allena di pasar malam besar tersebut.
Alexa juga yang saat ini menyadari Aziel sudah tidak ada didekatnya. Gadis itu mencoba menelfon Aziel namun tak kunjung diangkat oleh Aziel.
"Duh..! Ini Aziel kemana sih? Masa dia ninggalin gue". Ketus Alexa sambil mencoba menelfon Aziel.
"Isshh.. Pake nggak diangkat lagi". Ucap Alexa dengan terus tetap mencoba menelfon Aziel.
"Aagghh.. Awas aja tu anak". Celoteh Alexa berhenti menelfon Aziel dan mematikan ponselnya dengan wajah masamnya.
Alexa kemudian beranjak dari tempatnya dan mencoba mencari Aziel.
Sementara saat ini Allena dan juga Aziel masi berada di dalam rumah hantu tersebut. Mereka berdua sedang berjalan berdampingan di dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Waaaaaa....!!". Teriak Allena tiba-tiba ketika terdengar barang jatuh dan saat dia merasakan ada yang memegang betisnya dari bawah meja tak jauh dari tempat dia berdiri.
Tanpa sadar Allena mendekat dan memeluk erat Aziel. Sedang Aziel saat ini dia tengah tersenyum sambil memandangi Allena yang memeluknya erat.
"Katanya nggak takut. Tapi kok malah meluk-meluk gua ampe kek gini. Entar nyaman loohh". Ucap Aziel tiba-tiba.
Allena yang mendengar perkataan Aziel seketika sadar dan langsung mendorong Aziel menjauh darinya.
Dihh.. Apaan sih? Gua tu nggak takut. Gua tu cuman kaget aja". Ketus Allena.
"Tapi kok ampe meluk-meluk kek gitu". Ucap Aziel dengan nada mengejek.
"Yaa.. Gua.. gu.. gua cuman reflek aja tadi. Lu juga nggak usah ke-pd-an". Ucap Allena yang tiba-tiba gagu.
"Yakin?". Tanya Aziel.
"Ya yakinlah. Lu apaan dah?". Jawab Allena ketus.
"Yaudah lanjut sono. Ngapain pake lama-lama disini". Ucap Allena lagi sambil melanjutkan jalannya.
"Yee.. Santai aja kali. Nggak usah pake marah-marah juga. Ngomel-ngomel mulu lu dari tadi". Ucap Aziel menyusul Allena dari belakang.
Mereka berdua pun segera melanjutkan jalan mereka. Beberapa menit kemudian Aziel dan juga Allena keluar dari rumah hantu tersebut. Tampak Allena mukanya memerah dan sedikit berkeringat.
"Katanya nggak takut. Tapi kok mukanya ampe merah kek gitu". Ejek Aziel pada Allena.
"Kalau takut bilang aja kali. Nggak usah sok-sok diberaniin". Ejek Aziel lagi.
"Kan gua udah bilang. Kalo gua tu nggak takut, cuman kaget aja". Balas Allena ketus.
"Ellehh!". Tukas Aziel dengan ekspresi mengejek pada Allena.
"Ck.. Apaan sih". Ucap Allena beranjak dari tempatnya.
"Ee eh! Lu mau kemana?". Cegat Aziel menarik lengan Allena.
"Duh.. Apa lagi sih? Gua tu mau pulang". Ucap Allena sambil menepis tangan Aziel.
"Yailehh.. Gitu aja ngambek". Ucap Aziel.
"Udah lu ikut gua aja". Ucap Aziel lagi sambil meraih lengan Allena dan menarik gadis tersebut untuk berjalan mengikuti Aziel.
"Kita mau kemana lagi sih? Gua tu mau pulang". Ucap Allena mencoba melepaskan genggaman Aziel, namun tak bisa.
"Udah sini. Ikut aja". Ucap Aziel dengan tetap menarik Allena dan menggenggam kuat lengan Allena.
"Makanya nurut". Ucap Aziel tetap menggenggam kuat lengan Allena.
Aziel lalu membawa Allena ke salah satu penjual minuman yang ada di pasar malam tersebut.
"Pak! Beli minumannya ya dua. Sama minta pipetnya satu". Ucap Aziel kepada bapak-bapak penjual minuman.
"Oh iya Mas. Ini minumannya". Ucap bapak penjual tersebut sambil memberikan dua botol mineral dan satu pipet pada Aziel.
"Jadi 12 rebu Mas". Ucap penjual itu lagi.
"Oh iya. Sebentar ya Pak". Ucap Aziel sambil mengeluarkan dompetnya dan memberikan 1 lembar uang seratus ribu kepada bapak penjual tersebut.
"Ini Pak. Ambil aja semuanya. Nggak usah dikembaliin". Ucap Aziel.
"Waduh.. Beneran Mas? Makasih banyak ya Mas. Semoga rezekinya tambah banyak". Ucap bapak penjual tersebut.
"Juga semoga langgeng sama Mbak yang dibelakang itu". Ucap bapak penjual itu lagi sambil melirik Allena yang tengah duduk dibangku kayu panjang.
Aziel yang mendengar itu hanya tersenyum kepada bapak penjual itu. Aziel kemudian melirik setumpuk kotak tisu diatas meja bapak penjual tersebut.
"Kalo gitu saya ambil sama tisu ini ya Pak?". Ucap Aziel mengambil satu kotak tisu.
"Oh iya Mas. Ambil aja". Ucap bapak penjual tersebut.
"Makasih ya Pak. Saya duluan". Ucap Aziel beranjak dari tempatnya.
"Iya Mas sama-sama. Makasih juga ya Mas". Seru bapak penjual tersebut pada Aziel.
Aziel kemudian beranjak pergi dan menuju Allena.
"Ini buat lo. Minum dulu". Ucap Aziel sambil memberikan sebotol minuman pada Allena dan juga pipet yang dimintanya tadi.
Allena kemudian menerima dan minum menggunakan pipet yang diberikan oleh Aziel.
"Nih tisu. Lap dulu tu keringat". Ucap Aziel lagi sambil memberikan kotak tisu pada Allena.
Gadis itu kemudian mengambil kotak tisu itu pada Aziel dan membukanya. Allena kemudian mengelap keringat di wajahnya.
Selama Allena mengelap wajahnya, Aziel terus memperhatikan Allena. Sementara Allena tak peduli dengan Aziel yang terus memandangi dirinya. Beberapa menit kemudian Allena selesai.
"Udah?". Tanya Aziel pada Allena.
__ADS_1
"Umm". Jawab Allena dengan gumaman.
"Kalo gitu lu ikut gua lagi". Ucap Aziel.
"Ck.. Kita mau kemana lagi sih? Ini tu udah mau larut". Celoteh Allena.
"Yaelahh.. Baru juga jam berapa?". Ucap Aziel sambil melihat jam tangan yang dipakainya.
"Baru juga jam stengah sebelas. Ikut aja udah". Paksa Aziel.
"Nggak mau. Gua mau pulang". Ucap Allena.
"Udah sini". Ucap Aziel menarik lengan Allena dan beranjak pergi.
Aziel lalu mengajak Allena ke salah satu wahana yang paling banyak diminati orang-orang yang terdapat di pasar malam tersebut. Aziel mengajak Allena untuk menaiki wahana bianglala.
"Kita ngapain ke sini?". Tanya Allena dengan wajah malasnya.
"Ya kita naik ini lah. Emang ngapain coba?". Jawab Aziel.
"Nggak mau gua. Udah ah.. Gua mau pulang". Ucap Allena.
"Udah ayo". Ucap Aziel menarik lengan Allena.
Mereka berdua pun naik ke atas bianglala tersebut.
"Allena gua mau nanya sesuatu sama lu". Ucap Aziel ketika gondala wahana bianglala mulai bergerak perlahan naik ke atas.
"Apaan?". Tanya Allena malas.
"Lu kenapa sih gitu banget ama gua?". Tanya Aziel.
"Gitu gimana? Nggak jelas banget sih". Ketus Allena.
"Ya gitu. Ketus banget kalo lu ngomong ama gua. Marah-marah mulu. Juga kalo gua tanya bukannya jawab malah lu pasang tampang ekspersi datar lu itu. Nggak ngejawab lagi". Ucap Aziel panjang lebar.
"Lu mau tau alasannya?". Tanya Allena.
"Karena gua nggak suka ama lu. Gua nggak suka ama gaya lu yang sok berkuasa itu. Sok keren, sok cool. Semuanya lah. Dan juga gua nggak bakal lupain yang dimana lu berani-beraninya nyium gua. Gua ingat itu pengen banget gua cekek lu ampe kehabisan nafas. Kalo nggak ampe meninggal aja sekalian". Ucap Allena panjang lebar dengan ekspresi murkanya
."Orang gua nggak sengaja juga kok kalau gua nyium lu". Jawab Aziel santai.
"Ya tetap aja gua marah. Apa lagi itu kan first kiss gua. Ciuman pertama yang harusnya gua kasiin ke orang yang gua suka. Ini malah ke orang yang nggak gua suka. Apa lagi itu lu". Celoteh Allena.
"Ohh jadi itu ciuman pertama lu. Pantas si". Ucap Aziel.
"Pantas? Pantas apa maksud lu?". Tanya Allena.
"Pantas waktu gua cium, lu nya kaya kaku. Pertama ciuman ternyata". Ucap Aziel dengan nada meremehkan.
"Kaku? Emang kalo kaku kenapa ha?". Tanya Allena dengan ekspresi ingin marah.
"Ya nggak apa-apa. Tapi kalo lu mau, gua bisa ajarin lu cara berciuman yang baik". Ucap Aziel sambil tersenyum miring memandangi Allena.
"Dih.. Najis. Ogah! Jauh-jauh sono". Umpat Allena.
Tidak berapa lama ponsel yang dibawa Allena berdering. Gadis itu kemudian meraih ponselnya yang telah dia kalungkan. Allena kemudian melihat nama pemanggil tersebut lalu mengangkatnya.
"Halo". Jawab Allena.
"Iya". Ucap Allena lagi.
"Oh". Ucap Allena.
"Iya". Ucap Allena.
"Iya". Ucap Allena. Gadis itu kemudian mematikan ponselnya.
"Siapa?". Tanya Aziel tiba-tiba.
"Lu nggak perlu tau. Yang penting selesai ini gua mau langsung pulang". Jawab Allena.
Mereka berdua kemudian duduk dalam keheningan. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
Sekitar 15 menit bianglala berhenti. Aziel dan juga Allena telah sampai ke bawah. Mereka kemudian turun dari gondola bianglala tersebut. Allena kemudian segera berjalan.
"Eh tunggu Allena! Lu mau kemana?". Seru Aziel menahan Allena.
"Ya gua mau pulanglah. Awas sana. Minggir!". Ucap Allena kembali melanjutkan langkahnya.
"Gua antar aja kalo gitu". Tawar Aziel.
"Nggak usah". Ucap Allena dengan juteknya.
"Udah gua antar aja. Uda malam banget ini. Mau lu ketemu ama orang jahat. Terus dilecehin. Terus di bunuh. Gimana? Mau lu kek gitu". Ucap Aziel sambil menarik lengan Allena.
"Yaudah pelan-pelan. Lu nariknya kekencangan mulu dah. Sakit tau bego". Umpat Allena mengikuti langkah Aziel.
__ADS_1
Aziel kemudian membawa Allena menuju mobilnya yang terparkir di area luar pasar malam. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka meninggalkan pasar malam tersebut.