
"Makan dulu Allen, gua udah pesanin!". Seru Aziel. Cowok itu berjalan ke arah Allena setelah menerima pesanan makanan yang dibawakan oleh petugas yang bekerja di apartemen itu.
Allena dan Aziel saat ini sudah berada di ruang depan. Dan Aziel juga sudah memakai atasan kaos oblong berwarna hitam polos.
"Hmm". Balas Allena.
Sedang Aziel mulai berjalan menuju dapur untuk mengambil piring dan sendok untuk mereka berdua, kemudian kembali berjalan menuju ruang depan.
"Makan yang banyak!". Aziel mulai menyiapkan makanan yang dipesannya tadi dan meletakannya di atas meja di hadapan mereka.
"Iya iya bawel.
Aziel hanya berdengus lucu akan reaksi Allena, lalu mengambil remote TV di bawah laci meja kemudian menghidupkan TV.
Kedua orang itu kemudian mulai makan bersama sambil menonton siaran disalah satu stasiun televisi. Posisinya mereka duduk berdampingan.
"Kayanya makanan lu enak! Tukaran, gua mau yang itu". Ucap Allena tiba-tiba dengan mulut masih mengunyah makanan, tapi matanya tertuju ke arah makanan yang disantap Aziel.
"Boleh. Bentar ya". Aziel kemudian menggeser makanannya untuk Allena, lalu dia mengambil makanan Allena untuk dirinya.
"Oke, makasih!". Kemudian langsung menyantap makanan yang ditukar dengan Aziel.
"Bihhh tumben.
"Kenapa?". Tanya Allena menoleh ke arah Aziel dengan mulut penuh makanan.
"Biasanya nggak pernah denger tuh gua, lu ucapin makasih.
"Makan aja, nggak usah bawel". Semprot Allena melototkan matanya pada Aziel.
Aziel hanya berdengus lucu, lalu menggeleng pelan, "Iya iya, gua makan nih". Kemudian segera menyantap makanannya sebelum Allena berubah menjadi singa galak.
Keduanya kemudian kembali menyantap makanan mereka tanpa bersuara. Hanya terdengar suara TV di ruangan itu yang menemani mereka.
Setelah mereka berdua selesai makan, Allena langsung beranjak berdiri lalu berjalan menuju dapur sambil membawa piring bekas yang mereka berdua gunakan tadi. Allena meletakannya ke dalam wastafel, lalu mulai mencuci tangannya.
Allena seketika sontak terkaget saat ada lengan kekar yang melingkar dipinggangnya. Tentu saja Allena mengetahui siapa itu.
"Gua kaget bodoh!". Umpat Allena sambil mencipratkan air di wajah Aziel yang berdiri di belakangnya. Aziel yang bersunggut di bahu Allena langsung menutup matanya.
Allena mulai berbalik menghadap Aziel, menatap wajah tegas di hadapannya saat ini.
"Kenapa?". Tanya Aziel merasakan tatapan Allena seperti menyiratkan sesuatu.
"Gua boleh nanya sesuatu ke lu?". Tatapan Allena terlihat datar namun terkesan serius.
"Nanya soal apa?". Aziel kembali melingkarkan lengannya dipinggang ramping Allena sembari memandangi wajah cantik gadis blasteran itu.
Allena malah terdiam sambil terus menatap dalam Aziel.
"Kok malah diem! Emangnya lu mau nanya apa sih?". Desis Aziel lembut sambil mengangkat tangan kanannya lalu menyelipkan rambut Allena ke belakang telinganya.
Allena seketika menggeleng, "Nggak, nggak jadi". Allena menepis tangan Aziel lalu berjalan meninggalkan Aziel.
Sedang Aziel terlihat menautkan alisnya, dan segera berbalik menyusul Allena.
"Kok nggak jadi Len? Emangnya lu mau nanya soal apa? Tanya aja, gua bakalan jawab.
"Udah, nggak jadi. Lupain aja! Nggak penting juga". Ucap Allena yang mulai memakai almamater sekolahnya.
"Lu marah ama gua? Kok tiba-tiba". Tanya Aziel memandangi Allena.
"Gua nggak marah. Nggak ada yang marah disini. Gua cuman mau balik aja sekarang. Entar kemalaman guanya disini. Nggak mau gua kalau sampai nginap disini lagi". Ucap Allena menjelaskan.
"Papah mertua marah ya waktu lu nginap disini?". Celetuk Aziel.
Allena langsung menatap Aziel dengan menautkan alisnya.
"Kenapa? Gua pernah kan waktu itu ketemu sama Papah mertua". Celetuknya lagi sekenanya.
"Dih!". Allena berdelik jijik, "Udah ah gua mau balik sekarang.
"Gua antar ya!?". Tawar Aziel.
"Terserah!". Balas Allena.
Aziel langsung bergegas menuju kamarnya untuk mengambil kunci lalu kembali menghampiri Allena.
"Yaudah ayo!". Aziel langsung menarik lengan Allena, lalu mereka berdua berjalan bersama keluar dari apartemen.
Setelah memastikan semuanya aman. Kedua orang itu berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah lalu bergegas ke basement tempat parkiran. Selama perjalanan, Aziel terus saja menggandeng Allena tak berniat melepaskan Allena.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, mereka kemudian segera pergi dari sana.
Selama didalam mobil, Aziel terus saja menggoda Allena. Dan Allena pasti akan selalu membalas dengan memukul bahu Aziel, meskipun untuk Aziel pukulan Allena itu tak begitu sakit. Aziel malah terus tertawa melihat reaksi apalagi ekspresi Allena yang begitu lucu baginya.
Apalagi Aziel ini kalau bersama Allena sangat terlihat kecerewetannya. Berbeda jika Aziel terhadap orang lain, Aziel pasti akan selalu terkesan dingin dan galak. Siapapun yang melihat tingkah Aziel saat ini pasti akan berpikiran seperti demikian. Begitupun sebaliknya, Allena juga pasti akan terlihat lebih berekspresi jika berdua bersama Aziel.
Hingga mobil Aziel kini sudah berhenti tepat di depan gerbang mansion besar nan megah milik keluarga Albern itu.
__ADS_1
Allena yang ingin keluar tiba-tiba lengannya ditahan Aziel membuat Allena berbalik ke arah Aziel.
Allena menaikan sebelah alisnya pertanda apa.
"Cium dulu". Ujar Aziel sembari memonyongkan bibirnya didepan Allena.
"Hah? Lu gila ya". Allena mendelik.
"Why? Lagian kita juga sering ngelakuin itu kan.
"Iyaa tapi kan...
"Bentar doang kok Allen, sekilas aja.
Allena langsung menghembuskan nafas kasar, "Yaudah! Sekilas doang kan?
Aziel mengangguk.
Allena kemudian langsung mencium bibir Aziel. Namun belum sempat Allena melepaskan ciumannya, Aziel langsung menahan tengkuk Allena dan kembali mencium Allena lalu memagutnya dengan intens hingga beberapa saat setelah itu melepaskan pagutannya.
"Katanya sekilas doang". Desis Allena kesal.
"Tanggung Allen, kalau gitu mah". Balas Aziel cengengesan.
"Emang mesum lu". Allena langsung mendorong dada bidang Aziel menjauh di hadapannya.
"Tapi lu suka juga kan". Goda Aziel sambil mencolek dagu Allena.
"Ihh apaan sih!?". Allena menepis tangan Aziel dengan kesal.
"Udah ah, mending gua keluar dari pada gua lama-lama ama cowok nyebelin kaya lu". Allena langsung membuka pintu mobil dan bergegas keluar dari sana.
Sementara Aziel hanya terkekeh lucu melihat gadisnya itu.
"Gua nggak ditawarin masuk nih?". Seru Aziel dari dalam mobil.
"Nggak usah! Pulang udah sono sono!". Balas Allena yang sudah ingin menutup pintu gerbang.
"Yaudah nggak papa, nanti lain kali aja. Kalau gitu bye Baby! Sampai jumpa esok hari". Seru Aziel sembari melambaikan tangannya.
Sedang Allena hanya berdelik, dan langsung menutup pintu gerbang rumahnya.
Aziel yang melihat itu hanya terkekeh lucu, lalu mulai menyalakan mobilnya dan pergi dari sana dengan perasaan gembira.
Sedang Allena sudah berada dalam rumah dan melihat Bi Ratih sedang membersihkan meja ruang keluarga.
Memang setiap harinya Papah Robert dan Mommy Tiara akan berangkat kerja dipagi hari dan akan pulang disore hari atau malam harinya.
Bi Ratih mendongak lalu tersenyum ke arah Nona Mudanya, "Belum Non". Jawab Bi Ratih, "Non Lena ada yang mau Bibi bantu?". Tanyanya.
"Nggak ada. Bibi lanjutin aja!". Setelah berbicara seperti itu Allena kembali melanjutkan langkahnya menuju tangga.
Dan kini Allena sudah berada dalam kamarnya. Gadis itu sudah mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santainya.
Allena kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang empuknya sambil terlihat memainkan ponselnya. Matanya tertuju pada foto dua orang yang terpampang di layar ponselnya.
"Gua emang seneng sih hari ini, seneng banget malah. Tapi....
Allena tak melanjutkan ucapannya, malah menghembuskan nafasnya perlahan dengan terus memandang foto di layar ponselnya.
Tangan kanannya mulai mengarah ke dada sebelah kirinya lalu meremasnya sedikit disana sambil memejamkan matanya.
Lalu tangan kirinya yang memegang ponsel mulai Allena hempaskan ke sebelah kirinya dengan tangan kanannya terus berada diposisinya sambil terus memejamkan matanya.
Allena kemudian menghela dan menghembuskan nafasnya hingga beberapa kali dengan masih posisi yang sama.
Allena lalu membuka matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi itu. Matanya berkaca-kaca seperti ingin mengeluarkan sesuatu disana, tetapi sebisa mungkin Allena menahannya. Allena tak akan pernah membiarkan itu terjadi, karena dia tahu bahwa dia adalah gadis yang paling kuat, dalam hal apapun itu.
...******...
"Ngapain lu disini?". Aziel tentu saja tidak bisa tidak kaget ketika dia melihat gadis yang dikenalinya berada di basement parkiran gedung apartemen berlantai 25 itu.
"Aziel!". Segera gadis itu menghampiri Aziel, "Akhirnya lo datang juga. Gue udah dari tadi nungguin lo". Kalian mau tau itu siapa? Ya itu benar. Dia Regina.
"Gua tanya, ngapain lu disini? Dari mana lu bisa tau gua tinggal disini?". Desis Aziel tajam.
"Lo nggak perlu mikirin dari mana gue bisa tau. Yang jelas sekarang gue udah tau apartemen lo yang baru". Balas Regina.
"Terus ngapain lu disini? Ada urusan apa lu ha?". Sentak Aziel.
"Ya mau apa lagi selain gue mau nemuin lo.
"Heh, gua nggak ada waktu ngeladenin cewe gila kaya lo. Minggir, gua mau lewat!". Segera Aziel melangkahkan kakinya meninggalkan Regina.
Melihat Aziel pergi, segera Regina menyusul Aziel.
"Tunggu EL!". Regina mencegat Aziel, "Gue mau ngomong sama lo.
Aziel langsung menepis tangan Regina yang menggenggamnya, "Gua nggak ada urusan ama lu". Aziel menunjuk Regina, "Mending lu pergi dari sini sebelum gua pakai cara kekerasan buat ngusir lu. Gua nggak peduli lu cewek sekalipun.
__ADS_1
"Gue mau lo tanggung jawab". Ucap Regina langsung.
"Hah? Maksud lu apa?". Sentak Aziel keras.
"Ya gue mau lo tanggung jawab. Lo nggak ingat kejadian waktu di apartemen lama lo itu. Lo nggak usah sok pura-pura lupa deh.
Aziel seketika terkekeh mendengar ucapan Regina. Pria itu langsung memancarkan senyum devilnya.
"Emang lu hamil?". Tanya Aziel dengan santainya.
"M-ma-maksud lo apa ngomong kaya gitu?". Regina seketika tergagap mendengar pertanyaan Aziel itu.
"Ya gua tanya, lu hamil nggak?
Regina seketika terdiam membeku ditempatnya. Udah fiks lah ini, rencananya pasti gagal. Rencana untuk membuat Aziel menjadi miliknya akan gagal. Aziel memang tidak mudah untuk dia kelabui.
"Kenapa diem? Lu pikir gua bodoh? Lu hamil emang, lu minta tanggung jawab ama gua?". Tatapan Aziel begitu mencekam bagi Regina saat ini.
Ya iyalah! Gimana mau hamil? Orang mereka berdua nggak ngelakuin hubungan badan beneran kok. Itu cuman akal-akalannya Regina saja. Cara supaya dia bisa memiliki Aziel.
"Heh lu denger ya, kalaupun emang benar waktu itu kita berhubungan se*x, gua nggak akan pernah tanggung jawab sekali pun lu hamil. Itupun kalau emang benar. Karena gua yakin kita nggak pernah berhubungan se*x sekalipun. Itu cuman akal-akalan lu ajakan biar gua bisa ama lu?". Ucap Aziel dengan ekspresi dingin.
"Nggak usah ngimpi lu bisa ama gua. Najis tau nggak!". Maki Aziel. Kemudian mendorong Regina menjauh lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Regina segera mengejar Aziel, "Tapi gue cinta sama lo EL, gue sayang sama lo". Desis Regina yang sudah memeluk Aziel dari belakang, "Gue udah suka sama lo dari dulu. Dari kita masih kelas 10 EL". Sambungnya lagi.
Aziel langsung menggenggam kedua lengan Regina yang memeluknya lalu melepaskannya. Kemudian berbalik menghadap Regina dengan masih mencengkram lengan Regina.
Seketika Aziel semakin keras mencengkram kedua lengan Regina membuat gadis itu meringis. Tatapan Aziel juga begitu tajam menatap Regina.
"Berani-beraninya lu nyentuh gua. Dasar cewek murahan!". Langsung saja Aziel menghempaskan Regina dengan keras sampai membuat Regina tersungkur ke bawah.
"Lu kira gua peduli lu suka ama gua ha!!". Bentak Aziel dengan kerasnya, "Mending sekarang lu pergi dari sini, sebelum kesabaran gua habis. Gua udah bilangkan tadi, gua nggak peduli lu cewek sekalipun. Pergi sana lu! Sialan!". Setelah berbicara seperti itu Aziel langsung berbalik, melangkahkan kakinya meninggalkan Regina disana. Aziel benar-benar tidak peduli sedikit pun pada Regina.
Sedang Regina dengan perasaan kesalnya berdiri sembari memandangi Aziel yang bergerak jauh meninggalkannya.
"Shi*t! Aziel bener-bener ninggalin gue disini". Umpat Regina kesal sambil mencoba merapikan pakaiannya, "Tapi nggak papa, setidaknya gue udah tau Aziel tinggal dimana sekarang. Dan gue nggak akan pernah lepasin lo Aziel, huh!". Regina kemudian bergegas pergi dari sana dengan menggunakan mobil yang dibawanya tadi.
Hari ini Regina benar-benar kesal sekaligus marah karena Aziel secara terang-terangan menolak dirinya.
...******...
Esok harinya di SMAN Nasional, terlihat Airin sedang duduk di bangku panjang taman sekolah sendirian sembari memainkan ponselnya.
"Oyy Rin! Lo disini ternyata. Gue cariin dari tadi juga". Dari arah lain muncul Zee dan langsung mengambil tempat di samping Airin. Sempat Zee melihat ponsel Airin.
"Eh Zee, kenapa?". Airin langsung menengadahkan ponselnya ketika Zee sudah duduk di sampingnya.
"Cailehh pake disembunyiin segala. Santai aja kali Rin, sama sahabat sendiri mah.
"Eh apa sih? Nggak kok, gue nggak ada sembunyiin apa-apa". Elak Airin.
"Alahh!". Cibir Zee dengan muka sewotnya.
Sedang Airin terlihat gugup, Zee seketika menghembuskan nafas tenang.
"Hah.. udah lama juga ya. Udah mau hampir setahun Manaf pergi dan udah hampir setahun juga dia nggak ada kabar sampai sekarang. Di grub pun Manaf sama sekali nggak pernah nongol". Ucap Zee, kemudian menoleh kearah Airin, "Apa Manaf udah ganti nomor kali ya. Lo nggak ada kabar apapun gitu tentang Manaf, Rin?". Tanya Zee seketika membuat Airin terlihat seperti kelagapan sendiri.
"O-oh k-ka-kalau itu sih gue juga nggak tau. Mungkin iya Manaf ganti nomor". Ucap Airin berusaha tidak gugup.
Sedang Zee tertawa dalam hati melihat ekspersi kegugupan Airin. Dikata Zee nggak tau apa.
"Oh iya Rin, lo nggak lupakan sama ulang tahun Allena". Ucap Zee mengalihkan pembicaraan.
"Eh, iya ya ulang tahunnya Allena. Hampir lupa gue, untung lo ingetin Zee". Desis Airin memukul jidatnya. Kan nggak lama lagi Allena bakalan ulang tahun.
"Lo sih mikirin Manaf mulu". Goda Zee.
"M-ma-mana ada! Gue nggak mikirin Manaf ya. Ngaco aja lo ngomongnya". Airin kembali dilanda kegugupan.
"Yakin nih!
"Yakin lah". Elak Airin, "Udah ah, mending lanjut ngobrol tentang ultahnya Allena aja.
"Cih". Cibir Zee. "Yaudah-yaudah kembali ketopik utama. Gini gini, meskipun sekarang emang kita lagi nggak akrab-akrabnya sama Allena, diakan tetap sahabat kita. Siapa taukan setelah kita kasih kejutan ultah ke Allena, kitanya jadi akrab lagi sama Allena, dekat lagi sama Allena. Iyakan? Gimana? Setuju nggak sama saran gue". Ucap Zee menjelaskan.
"Umm oke juga sih. Kita tinggal obrolin lagi aja sama yang lainnya". Airin tentu saja setuju dengan saran Zee.
Emang bener sih, sudah lama juga mereka tak saling berbicara dengan Allena. Apalagi Allena sendiri yang memberi jarak dengan mereka.
Meskipun begitu mereka tetap akan menganggap Allena sebagai orang terdekat mereka. Tidak akan pernah merasa sedukit pun memutuskan hubungan dengan Allena.
Apalagi yang perlu kalian ketahui, sampai sekarang Allena masih terus menanggung perawatan sekaligus pengobatan Ayahnya Airin. Tak sedukitpun Allena melewatkan hal itu.
Airin sampai benar-benar sangat merasa utang budi pada Allena.
Allena masih terus saja membantu keluarganya meskipun hubungan mereka tidak sedekat seperti dulu.
__ADS_1