
Pagi hari di SMAN Nasional terlihat murid-murid berbaris di lapangan.
Disana lebih tepatnya diatas mimbar yang biasa digunakan sebagai tempat berpidato berdiri seorang Allena dihadapan mereka semua dengan ekspresi datarnya seperti biasa memandangi mereka. Susana menjadi sangat hening tak ada yang berani berbicara. Bahkan mereka mau bernafas sekalipun takut-takut. Tatapan Allena begitu menohok bak seperti elang yang ingin memakan mangsanya.
"Bagi yang merasa dirinya anggota jurnalis dan suka mengurusi mading, sepulang sekolah langsung ke ruang OSIS. Gua tunggu disana". Allena mengatakan dengan lantangnya dengan menggunakan mic membuat suaranya menggema di lapangan itu.
"Dan lu". Allena menunjuk Zoya disalah satu barisan kelas 10.
"Saya Kak?". Seru Zoya sembari menaikan tangannya keatas.
"Iya lu. Maju ke depan!". Sentak Allena seketika membuat murid-murid yang ada di lapangan saling menoleh satu sama lain saling bertanya-tanya.
Zoya kemudian maju dengan ekspresi yang ikut kebingungan. Kok disuruh maju. Emang ada apa?
"Sekarang lu ke ruang guru dan bersihin tuh ruangan". Ucap Allena dengan nada tegasnya.
"Loh Kak, emangnya saya...
"Gua paling nggak suka ada yang ikutan bicara disaat gua lagi seriusnya nerangin sesuatu". Allena dengan nada dinginnya membuat suasana disana menjadi menegang.
Nggak biasanya Allena mempermasalahkan hal sekecil itu. Apalagi Allena ini terkenal akan sikap cueknya dan tidak peduli terhadap sesuatu yang dianggapnya tidak penting selagi itu tidak menyangkut hak fisik atau ketenangannya.
Ya emang sih tadi Zoya sempat mengobrol dengan temannya saat dibarisan. Tapikan nggak kedengaran juga karena Zoya dan temannya tadi saling berbisik.
Masa hukumannya harus ngebersihin ruang guru yang gedenya kaya apa. Kan capek Allena, nggak tanggung-tanggung lo kasih hukuman ke orang.
"Maaf Kak, saya teman ceritanya tadi". Seru seorang wanita yang menjadi teman cerita Zoya tadi.
"Yaudah sana kalian bersihin ruang guru sekarang! Kalau perlu kalian pel lantainya juga". Sentak Allena.
"Iya Kak". Zoya dan temannya itu kemudian mulai berjalan, namun suara bariton dari seorang pria membuat langkah keduanya berhenti.
"TUNGGU!". Itu Aziel. Pria itu dengan gaya coolnya dengan kedua tangan yang dimasukan kesaku celananya berjalan mendekat dan berhenti tepat disamping Zoya.
"Cewek ini nggak akan kerjain hukuman yang lu kasih". Aziel dengan lengan kekarnya merangkul bahu Zoya membuat gadis itu sontak membulatkan matanya dan jantung yang langsung berdegup kencang.
'Kyaaa... Aziel ngerangkul gue? Mimpi apa gue semalam bisa dirangkul Aziel kaya gini'. Zoya membantin kegirangan.
Sementara murid-murid yang ada disana hanya melihat kejadian bak seperti di drama-drama Korea saja.
Tapi ada juga sebagian murid-murid yang sudah meninggalkan lapangan. Itu murid-murid bandel sekaligus murid-murid yang tidak peduli akan keributan. Mereka hanya ingin segera pergi dari sana.
"Urusannya ama lu apa!?". Sentak Allena kemudian.
Aziel sedikit menarik sudut bibirnya, "Karena cewe ini udah jadi gebetan gua". Ucap Aziel yang langsung membuat Allena terdiam sekaligus murid-murid yang ada disana mendengar itu langsung menganga tak percaya.
Zoya? Gebetan Aziel? Zoya? Sejak kapan woyy...
Allena mendengus mendengar perkataan Aziel, "Huh, terus gua peduli? Nggak sama sekali. Gua udah kasih hukuman ke gebetan lu itu dan dia harus kerjain. Itu udah jadi konsekuensinya". Balas Allena enteng.
"Konsekuensi dari apa? Konsekuensi karena dia ngomong dibarisan yang bahkan nggak bikin rusuh sama sekali disaat lu juga lagi ngomong gitu?". Tantang Aziel.
"Iya! Emang kenapa? Jadi lu mau apa ha!?". Ini Allena kenapa jadi emosional banget sih, ngegas banget lagi ngomongnya. Nggak kaya biasanya.
Murid-murid yang ada disana bahkan sampai terkaget-kaget melihat Allena yang seperti itu. Nyeremin woyy!
"Yaudah ngapain lu pada masih disini!? Sana kerjain hukumannya! Mau gua tambahin emang!?". Sentak Allena lebih keras yang lagi-lagi membuat mereka terkaget untuk yang kesekian kalinya.
Segera Zoya dan temannya tadi berlari menjauh keluar lapangan.
Fiks dah, ini Allena lagi darah tinggi kayanya. Nggak biasanya woyy langsung ngebentak orang kaya gitu. Biasanya juga cuman kasih tatapan datar sama dingin doang terus pergi udah, kalau nggak ya nggak ngegubris sama sekali, nggak peduli sama sekali.
Tapi tadi Allena benar-benar bikin kaget loh. Apalagi ternyata Allena ini kalau udah ngebentak suaranya gede banget, bogar kaya cowok sampai penuh tuh lapangan menggema suaranya. Gimana kalau dia ngebentak pakai alat pengeras suara tadi? Wadidaww!!
Sementara Aziel mengkerutkan alisnya memandangi Allena, "Lu kenapa sih?". Tanya Aziel kemudian.
"Bukan urusan lu!". Sentak Allena. Setelah berbicara seperti itu Allena langsung pergi dari sana.
Sedang Aziel hanya memandangi Allena yang mulai bergerak jauh dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.
...*****...
BRAKK!!
Gamma berjengit kaget mendengar suara gebrakan pintu yang terbuka paksa.
Jam istirahat sudah berlalu sekitar 10 menit yang lalu. Gamma tak berniat sedikitpun untuk mengikuti pelajaran saat ini. Pelajaran kimia membuat otaknya pening menghafal rumus-rumus istilah-istilah lain dalam pelajaran itu.
Akhirnya dia memutuskan untuk bolos di gudang belakang sekolah. Rebahan di antara tumpukan kursi-kursi lama dan juga meja-meja yang sangat pas untuk membuat dirinya tidak terlihat.
__ADS_1
Emang sih semenjak Manaf nggak ada dan Alvian juga sangat sibuk dengan urusan kegiatan OSIS yang diikutinya saat ini, Gamma jadi merasa sangat kesepian dan kurang bersemangat. Mengingat dia jadi lebih sering dengan kedua sahabatnya yang lainnya, yang bisa dibilang kadang nggak saling sreg satu sama lain. Apa lagi sepupunya tuh Tessa yang selalu buat dia pusing tujuh keliling harus menjaga sepupunya itu yang notabennya tomboy pake banget terus kalau dikasih tau ngebantah mulu. Kan capek ngurusinnya.
"Cepetan tutup pintunya nanti ketahuan bisa bahaya lagi". Gamma mengenali suara itu. Segera dia bangun dari rebahannya terus mengintai dari celah kursi dan meja.
"Sabaran yaelah". Itu suara pria. Ada dua orang disana ternyata. Eh salah 3, kan ada Gamma.
"Yaudah mana sini rokoknya! Gue juga mau kali". Pria tadi kembali bersuara.
"Bentaran dikit napa, ini gue juga lagi ngambil kali, nggak sabaran banget lo". Sentak wanita tadi namun dengan volume suara yang kecil.
Gamma sontak berdiri dan berjalan mendekat kearah kedua orang berlainan jenis itu sembari berdeham.
"Ehem ehem". Sontak kedua orang tadi menoleh kearah Gamma dengan ekspresi yang terlihat kaget.
"Lo!?". Ternyata itu Chika. Disampingnya ada seorang pria bertubuh tinggi, mungkin kurang dikit dari tinggi Gamma.
"Iya gue". Balas Gamma sambil terus berjalan mendekat lalu berdiri disamping Chika membuat gadis itu berada di tengah-tengah kedua pria itu.
"Lo kok bisa ada disini?". Chika mendongak dihadapan Gamma.
"Nih cowok, siapanya lo?". Gamma malah balik bertanya sambil menatap datar pria yang ada disamping Chika.
"Oh ini, dia teman sekelas gue, namanya...
"Keluar lo!". Sentak Gamma memotong pembicaraan Chika. Bukan Chika yang dia suruh keluar. Melainkan pria tadi.
Pria itu mengkerutkan alisnya bingung lalu beralih menatap Chika yang seakan memberikannya kode untuk segera keluar dari sana.
Mengerti akan maksud Chika, pria tadi kemudian berbalik dan langsung keluar dari gudang.
"Kok lo malah usir dia?
"Ngapain lo berdua sama cowo itu?". Gamma malah balik bertanya.
"Oh itu, tadi ceritanya kita mau bolos kesini sambil ngerokok gitu. Dan lo, kok bisa ada disini? Bolos juga?". Gadis itu berjalan menuju meja panjang yang terlihat buluk lalu menyenderkan kedua tangan untuk menopang badannya.
"Kenapa lo nggak ajak gue aja? Kenapa harus cowok tadi?". Gamma mendekati Chika lalu berdiri dihadapan gadis itu.
"Lah, terus kenapa kalau gue ajak si Jerry, emang salah ya?". Ini Gamma kenapa sih? Aneh banget perasaan.
"Dan lo bahkan sebut nama cowo itu dihadapan gue". Gamma maju dua langkah sehingga semakin dekat pada Chika.
Chika dapat melihat mata pekat itu bagai menyiratkan sesuatu.
Kejadiannya begitu cepat, lengan kekar Gamma bahkan sudah melingkar dipinggang Chika dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher gadis itu. Satu tangannya bergerak membuka kancing bawah seragam Chika.
"Gam, lo kenapa sih? Nghhh". Chika sontak melenguh saat Gamma menciumi lehernya dan membelai lembut perutnya. Sementara Gamma tersenyum disana mendengar lenguhan yang keluar dibibir sensual gadis itu.
Tangan Gamma semakin naik ke atas mencari sesuatu, "Gamhhh". Chika kembali melenguh saat tangan Gamma tak berhenti bergerak disana.
"Meskipun lo kaya laki, ternyata punya lo gede ya". Desis Gamma sambil *******-***** bukit kembar dari balik bra yang menggantung didada Chika.
"Gam, udahhh". Lenguh Chika sambil meremas seragam Gamma.
Gamma mengangkat kepalanya dan mendapati Chika yang menatapnya dengan wajah sayu.
Pria itu kemudian mengangkat tubuh Chika dan mendudukannya diatas meja.
Gamma melirik bibir sensual itu. Dan tanpa mengucapkan apa-apa, Gamma langsung melahap bibir Chika, memberikan luma*tan luma*tan dalam dibibir gadis itu.
Chika kembali melenguh dalam pagutan saat Gamma meremas bukit kembarnya dengan terus menyesap bibirnya.
"Lo udah ngerokok?". Tanya Gamma kemudian disaat dia sudah melepaskan pagutannya dan menjauhkan wajahnya memandang intens Chika.
Gadis itu terlihat menghembuskan nafasnya naik-turun menghirup udara.
"Kalau gue udah ngerokok emang kenapa?". Sentak Chika.
"Pantas, manis dikit bibir lo". Ucap Gamma membuat Chika melototkan matanya.
"Lo kenapa sih sebenarnya?". Chika langsung mendorong dada bidang pria dihadapannya saat ini.
"Kenapa lo tiba-tiba nyium gue? Kesambet setan apaan lo? Bisa-bisanya kaya gitu ke gue". Gertak Chika. Berani banget Gamma lakuin hal mesum seperti itu pada Chika.
"Kenapa? Lo mau lagi?". Gamma tersenyum miring menatap wajah Chika yang terlihat kesal.
Pria itu kemudian kembali mendekati Chika yang langsung membuat gadis itu memandang was-was. Takut-takut Gamma melakukan hal yang sama seperti tadi.
"Lo dengerin kata-kata gue! Gue bakal lakuin yang lebih dari ini, kalau sampai gue lihat lo sama cowo yang tadi lagi". Setelah berbicara seperti itu, Gamma kembali mencium bibir Chika sekilas lalu berbalik berjalan keluar dari gudang.
__ADS_1
Sementara Chika hanya memandang punggung pria itu yang menjauh sambil mengepalkan tangannya.
Sial!
Dia kecolongan!
...*****...
BLAM!!
Suasana di ruang OSIS menjadi begitu menegangkan sekaligus menakutkan ketika Allena meluapkan emosinya dengan memukul meja dihadapannya.
"Kalian ini gimana sih? Masa cuman kerjain hal sekecil itu aja nggak bisa. Harus gua sendiri lagi gitu yang turun tangan. Terus gunanya kalian apa kalau gitu!?". Allena dengan amarah yang membuncah membentak orang-orang dihadapannya yang kini diam menunduk takut.
Orang-orang itu adalah anggota OSIS bagian dari jurnalis yang juga bertugas mengurusi mading sekolah agar tidak kosong dan meng-update berita apa saja yang harus diberitakan dan disampaikan.
Tapi sampai 3 hari ini mereka tak ada persiapan apapun. Bahkan mading yang harusnya berisi tentang berita lomba karya ilmiah yang diadakan minggu depan tak ada pemberitaannya sama sekali.
Apalagi Allena sudah meminta mereka untuk mewancarai siapa saja yang akan mengikuti lomba karya ilmiah itu untuk dijadikan dokumentasi serta untuk mempermudah dalam proses pengajuan penerbitan cerita yang dianggap mempuni dan layak untuk diterbitkan.
Tapi sampai rapat untuk yang kedua kalinya mengenai hal itu Allena sama sekali tak mendapatkan sesuai apa yang telah diperintahkannya. Hingga gadis itu sangat marah sekarang.
"Kalian semua keluar aja kalau gitu, nggak usah sok ikutan dalam organisasi ini. Kalian pikir kalian disini cuman berleha-leha gitu, santai-santai, iya? Kalian nggak punya otak apa gimana? Kita semua jugakan udah rapatin ini semua. Kenapa malah kaya gini". Bentak Allena sekali lagi.
Membuat mereka yang lainnya ada di ruangan itu juga ikut menunduk takut. Padahal mereka nggak termasuk, karena beberapa diantaranya sudah mengerjakan tugas sesuai yang diperintahkan oleh Allena.
Tapi Allena saat ini nyeremin pake banget woyy. Benar-benar kaga bisa terkontrol emosinya.
"Udah Len, tenang! Jangan marah-marah kaya gitu. Jantungan lo entar". Alvian berusaha menenangkan sahabatnya itu. Baru kali ini dia melihat Allena semarah itu. Biasanya juga nggak sampai ngebentak-bentak keras kaya gitu. Ini Allena lagi kesambet setan kuburan mana sih.
"Gimana gua nggak marah Vian? Ini acaranya tinggal beberapa hari lagi dan mereka ini dengan santainya nggak berbuat apapun. Dikata yang lainnya nggak kerja kali ya". Sentak Allena.
"Lu pada kira kalau sampai acaranya rusak karena gara-gara kalian, lu lu pada yang dimarahin? Gua yang dimarahin bego, bukan kalian. Gimana sih gob*lok banget jadi orang". Allena terus tak berhenti mengumpat. Dia benar-benar kesel banget asal kalian tau.
"Udah Len, tenang astaga! Lu kenapa sih dari tadi marah-marah mulu perasaan. Kalem woy kalem". Alvian sampai mengelus dada melihat Allena sekarang. Nggak ketulung woy marahnya.
"Kalian juga, kenapa malah nggak diselesaiin sih tugasnya? Kalau udah kaya gini gimana jadinya". Alvian seberusaha mungkin untuk membuat suasana kendur normal seperti biasa.
Salah satu diantara mereka ber-4 berani mengangkat kepala meskipun masih takut-takut memandang tatapan Allena yang begitu tajam saat ini. Kaya mau makan orang heh.
"Kita minta maaf. Kita kira karena acaranya diadakan minggu depan kami masih ada waktu untuk nyelesaiin nantinya". Memang untuk anggota jurnalis itu terdiri dari beberapa siswa yang ikut masuk dalam keanggotaan. Karena mereka akan membagi-bagi tugas setiap ada kegiatan atau acara yang dibuat.
"Kalian bisa ngomong kaya gitu karena selama ini gua biarin kalian aja kan. Kalian pikir selama ini gua nggak merhatiin kinerja kalian. Kalian maunya gua sendiri terus yang kerja. Terus gunanya kalian apa kalau gitu!?". Bentak Allena melototkan matanya dihadapan murid tadi dan langsung membuatnya kembali menunduk. Itu dia lihat iblis apa gimana. Kok cewe secantik Allena bisa marah kaya gitu.
"Hedehh udah udah, udah. Nggak usah ribut ribut lagi. Nggak usah diperpanjang. Dan lo Len, tenang ya. Lo dari tadi marah-marah terus loh. Bisa-bisa runtuh nih bangunan karena suara lo". Alvian harus sebisa mungkin menenangkan Allena. Sahabatnya itu bisa lepas kendali.
"Suka suka gua!!". Balas Allena yang juga melototkan matanya pada Alvian.
Alvian sontak terlonjak kaget, 'Wishh astaga baru kali ini gue lihat sisi lain dari seorang Allena. Bisa bahaya buat hidup gue'. Alvian membantin mengusap-usap dadanya sambil menggelengkan kepalanya.
"Yaudah kalau gitu buat kalian, kalian kerjain tugas kalian. Paling lambat lusa harus sudah selesai. Karena kita udah nggak ada waktu lagi. Kalau kalian butuh sesuatu dan harus keluarin uang, minta ke bendahara langsung. Jangan ditunda-tunda lagi kaya gini. Kalian udah paham kan". Ucap Alvian akhirnya.
"Iya, sekali lagi kita minta maaf". Balas murid yang tadi.
"Terus ngapain kalian diam disini aja? Yaudah sana balik terus kerjain tugas kalian". Sentak Allena kemudian.
Segera ke-4 orang tadi membereskan barang-barang mereka diatas meja dan langsung bergegas keluar dari ruangan yang bahkan lebih seperti ruangan interogasi itu.
Melihat wajah Allena saja.. ihh bikin bulu kuduk merinding, keringat dingin karena takut.
"Kalian juga keluar sana! Rapat hari ini selesai sampai disini dulu". Allena kemudian berbicara kepada anggota OSIS lainnya yang ada disana.
Bergegas mereka berberes lalu keluar juga dari ruangan OSIS itu.
Alvian yang masih ada disana kemudian menghampiri Allena.
"Lo kenapa sih Len? Marah-marah mulu hari ini". Pria itu memijit-mijit kedua pundak Allena mencoba merelaksasikan sahabatnya itu biar anteng nggak marah-marah mulu kaya tadi.
"Sebelah sini! Disini, sini-sini!". Allena menunjukan dimana harusnya Alvian memijitnya.
Alvian kemudian hanya menggeleng namun tetap mengikuti perintah Allena memijit punggung gadis itu.
Sementara itu Chika yang ingin berjalan menuju parkiran langsung menghentikan langkahnya ketika dia melihat Gamma dan Tessa yang sudah berada di parkiran disamping sebuah mobil.
Chika terus memperhatikan dari jauh sampai Gamma dan Tessa masuk dalam mobil itu lalu perlahan mobil keluar dari gerbang meninggalkan sekolah.
"Cih, play boy kelas kakap ternyata". Gumam Chika mengumpat lalu kembali melanjutkan langkahnya.
__ADS_1