Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 39 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Setelah menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi, Zee kemudian menunjukan kotak bekalnya pada Alvian.


"Nih lihat! Tumpahkan. Kak Setya jahat banget dah ama gue". Ucap Zee memelas.


"Coba gue lihat". Ucap Alvian meraih kotak bekal yang dipegang Zee dan memperhatikannya.


Alvian kemudian mengepalkan tangannya. Alvian tak terima dengan apa yang dilakukan Setya pada Zee. Dia menganggap Setya sudah sangat tidak menghargai usaha Zee yang telah membuatkan makanan untuk Setya.


Lebih-lebih lagi Alvian tak menyangka ternyata sesuka itu Zee pada Setya. Padahal Alvian sangat menyukai Zee. Tetapi rasa sukanya itu hanya bertepuk sebelah tangan.


Alvian kemudian keluar dari dalam kelas dan langsung menuju ke kelas Setya dengan keadaan marah.


"Eh.. Alvian lo mau kemana?". Teriak Zee pada Alvian yang keluar dari dalam kelas.


"Iii.. Alvian kenapa sih? Orang lagi curhat juga malah ninggalin. Nyebelin banget sih". Umpat Zee cemberut.


Sementara Alvian, lelaki itu segera masuk dan menghampiri Setya yang tengah masih berkumpul bersama teman kelasnya.


"Setya.. Maksud lo apaan numpahin makanan yang dikasih Zee buat lo?". Teriak Alvian sambil mendorong Setya.


"Lah.. Lo ngapa pake ngedorong gue segala? Urusannya ama lo apa coba?. Berani banget lo dorong-dorong gue. Nyari ribut lo ama gue". Ucap Setya sambil mendorong balik Alvian.


"Kalau lo nggak mau nerima makanan yang dibuatin Zee buat lo, setidaknya lo nggak tumpahin juga dong. Harusnya lo ngehargain Zee yang udah susah payah bawain lo makanan". Celoteh Alvian.


"Urusannya ama lo apa emang? Kenapa tiba-tiba lo yang marah? Oh gue tau. Tu cewek pacar lo ya?". Tanya Setya ketus.


"Nih ya gue kasih tau. Jagain tu cewek lo. Jangan keganjenan ama cowok lain. Entar disangkanya murahan lagi". Cibir Setya.


"Anji*ng lo!". Umpat Alvian sambil memberikan pukulan diwajah Setya hingga lelaki tersebut jatuh tersungkur.


"Maksud lo apa ngomongin Zee kaya gitu haa?". Teriak Alvian lagi penuh emosi sambil menunjuk Setya.


Setya yang ditonjok langsung memegangi wajahnya sambil menatap tajam Alvian dihadapannya. Setya kemudian berdiri.


"Bang*sat! Nyari ribut lo ama gue?". Teriak Setya membalas pukulan Alvian diwajahnya.


Orang-orang yang berada dalam kelas melihat Setya dan Alvian berkelahi seketika histeris dan mencoba melerai mereka berdua.


"Maju lo sini anji*ng!". Teriak Setya mencoba melepas murid-murid lain yang menahannya.


Keadaan mulai memanas. Murid-murid yang ada dalam kelas tetap berusaha melerai kedua laki-laki yang sedang berkelahi itu.


Anak-anak yang sedang berada diluar segera mencoba melihat apa yang sedang terjadi dalam kelas tersebut.


"Alvian!". Seru Zee yang tiba-tiba muncul dari arah lain dan segera berlari menghampiri kedua orang yang sedang berkelahi itu.


"Udah woyy berhenti! Ngapain malah pada berantem sih?". Lerai Zee.


"Alvian udah. Jangan berantem!". Seru Zee melerai.


Sementara Setya dan Alvian masih tengah saling dorong mendorong satu sama lain.


"Udah woyy. Jangan berantem. Kak Setya udah". Seru Zee sambil menahan badan Setya.


Disaat Zee sedang menahan Setya, tak sengaja Setya menyenggol wajah Zee dengan sikutnya.


"Auwww.. Sshh.. Sakit banget". Ringis Zee kesakitan sambil memegang wajahnya.


"Auww.. Uhh..". Ringis Zee yang benar-benar merasakan sakit diwajahnya.


Alvian yang melihat itu seketika segera berhenti bertengkar dan menghampiri Zee.


"Zee lo nggak apa-apa? Apa yang sakit? Mana coba gue lihat". Ucap Alvian khawatir sambil memegang wajah Zee.


"Aduhh.. Sakit banget". Ringis Zee.


Setya yang sadar langsung berhenti dan memperhatikan Zee yang tengah meringis kesakitan sambil memegang wajahnya.


"Sori sori sori gue nggak sengaja". Ucap Setya sambil mendekati Zee.


"Lo gimana sih ampe kena Zee segala?Kesakitan kan dia jadinya". Celoteh Alvian mendorong Setya menjauh.


"Gua kan udah bilang nggak sengaja. Lagian salah dia sendiri lah. Ngapain pake acara nahan segala? Kena sikut kan". Ucap Setya.


"Apa lo bilang? Lo tu...". Ucap Alvian terhenti sambil mencoba mendekati Setya.


"Udah Alvian. Nggak usah berantem lagi! Kita pergi aja dari sini. Nanti ada guru yang lihat". Ucap Zee menahan Alvian.


"Tapi Ayang Zee dia tu...". Ucap Alvian terputus.

__ADS_1


"Udah nggak usah. Nggak apa-apa. Mending kita pergi aja dari sini sekarang. Ayo!". Ucap Zee sambil menarik Alvian pergi dari sana.


Alvian dan Zee pun langsung keluar dari kelas tersebut. Sementara Setya, laki-laki itu hanya memandangi mereka mulai keluar dari kelasnya dan hilang dari pandangannya.


Alvian dan Zee mereka berdua kemudian berjalan menuju ruang UKS. Setibanya disana mereka berdua masuk dan duduk dikursi yang ada diruang itu.


"Tunggu disini. Biar gue obatin tu benjolan". Ucap Zee pada Alvian sambil beranjak mengambil kotak P3K dari dalam lemari.


Zee kemudian mendekati Alvian dan berdiri dihadapan Alvian. Dibukanya kotak P3K lalu Zee mengobati luka diwajah Alvian akibat pukulan Setya tadi.


"Alvian lo kenapa sih berantem sama Kak Setya? Bikin masalah tau nggak. Kalau ada guru yang lihat gimana? Bisa dibawa ke ruang BK dah lo sekarang". Celoteh Zee tetap sambil mengobati Alvian.


"Gue nggak suka Zee dia ngatain lo murahan. Gue tadi cuman mau nyamperin Setya buat nanyain tentang makanan yang dia udah tumpahin itu. Ehh.. dia malah ngata-ngatain lo. Gimana gue nggak marah. Nggak ada ngehargain orang banget tu anak". Celoteh Alvian.


"Tapi nggak harus berantem juga kan. Lagian gue nggak apa-apa. Kenapa harus lo yang marah? Ini kan nggak ada hubungannya ama lo Alvian". Ucap Zee sambil mengoleskan salep diluka Alvian.


"Tapi tetap aja Zee. Dia nggak boleh ngatain Ayang Zee gue". Ucap Alvian.


Zee tidak membalas. Gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Zee selesai mengobati Alvian. Gadis itu kemudian berjalan menjauh mengembalikan kotak P3K kedalam lemari.


"Zee gue boleh nanya sesuatu ama lo nggak?". Tanya Alvian sambil memperhatikan Zee.


"Nanya apa?". Ucap Zee sambil berbalik pada Alvian. Gadis itu berdiri tak jauh dari Alvian.


"Emang lo suka ama Kak Setya?". Tanya Alvian memandangi Zee.


"Iya. Kenapa emang?". Tanya Zee santai.


"Gue cuman heran. Kenapa bisa lo suka sama orang yang bahkan nggak ngehargain lo?". Tanya Alvian.


"Ya nggak apa-apa. Soalnya bagi gue Setya itu tetap jadi cowok yang gue sukain. Dan gue harap dia tau kalau gue tu udah suka sama dia dari dulu. Meskipun dia kek gitu sama gue juga nggak apa-apa". Ucap Zee.


Alvian yang mendengar itu seketika merasa terkuak hatinya ketika mengetahui bahwa Zee telah menyukai Setya sejak lama. Dia merasa harapannya telah pupus akan rasa sukanya pada Zee.


"Kalau misalnya gue emang suka ama lo gimana?". Tanya Alvian tiba-tiba.


"Apa? Lo suka ama gue? Ya nggak mungkinlah. Lo ngomong apaan dah tiba-tiba kek gitu?". Ucap Zee tertawa.


"Kenapa? Emang salah ya?". Ucap Alvian sambil memandang Zee.


"Ya nggak mungkinlah lo suka ama gue. Ada-ada aja lo". Ucap Zee tetap dengan tawanya.


Namun baru selangkah Alvian yang memang tak jauh dari tempat Zee segera berdiri dari duduknya lalu menghampiri Zee dengan cepat dan langsung memeluk gadis tersebut.


"Eh? Alvian? Lo kenapa?". Ucap Zee kaget dan kebingungan.


Zee kemudian mencoba melepaskan pelukan Alvian. Namun Alvian mempererat pelukannya dan tidak membiarkan Zee melepaskan pelukannya.


"Gue mohon biarin kita kaya gini dulu. Sebentar aja". Ucap Alvian memohon dan makin mempererat pelukannya.


"O..o..oke! Ta..tap..tapi...". Ucap Zee gugup.


"Gue mohon Zee". Ucap Alvian dengan tetap memeluk Zee.


"O..oke. Iya! Tapi jangan lama-lama. Takut ada yang datang". Ucap Zee canggung.


Alvian tidak menjawab. Lelaki itu hanya tetap memeluk Zee. Lelaki itu berharap agar dia bisa mencoba mengikhlaskan perasaanya pada Zee. Dia akan mencoba tetap menyimpan rasa yang sudah dia pendam selama ini dan tidak akan mengungkapkannya pada Zee.


Cukup Alvian dan Zee menjadi teman saja. Yang terpenting bagi Alvian dia bisa tetap dekat dengan Zee walau hanya sebatas teman. Alvian tidak ingin membuat Zee dilema antara dirinya dan Setya. Meskipun pada akhirnya Zee akan memilih Setya. Tapi Alvian tidak ingin mendengarkan langsung karena dia tidak ingin merasakan sakit yang lebih dalam lagi.


...*****...


Jam pelajaran telah selesai. Waktu telah menunjukan pulang sekolah. Allena saat ini tengah berjalan menuju parkiran. Tak sengaja dia melihat Aziel dan juga Alexa sedang mengobrol diparkiran dekat mobil Aziel tak jauh dari tempat Allena memarkirkan mobilnya. Dipandanginya Allena mereka berdua dengan tatapan datar.


Tidak berapa lama ponsel Allena berdering tanda ada yang menelfon. Allena kemudian melihat layar ponselnya, dan terpampanglah nama penelpon tersebut "Louis". Allena lalu mengangkatnya.


"Halo! Kenapa?". Ucap Allena pada Louis disebrang telpon sana.


"......"


"Huff... Yaudah tunggu disitu". Ucap Allena lalu mengakhiri pembicaraannya.


Allena lalu mematikan ponselnya dan beranjak dari tempatnya berjalan menuju gerbang sekolah. Allena kemudian keluar dan mendapati Louis sudah ada disana sambil bersandar disamping mobilnya.


"Ngapain lu disini?". Tanya Allena datar menghampiri Louis.


"Nyariin lo". Jawab Louis.


"Nyariin gue? Kenapa emang?". Tanya Allena.

__ADS_1


"Nggak ada. Gue cuman mau datang pengen lihat lo aja". Ucap Louis.


"Hmm.. Kalau nggak ada yang penting mending lu balik dah". Ucap Allena.


Tidak lama Aziel keluar lewat pintu gerbang sekolah dengan menaiki mobilnya. Aziel kemudian melirik Allena dari dalam mobilnya. Mereka berdua lalu saling bertemu pandang dan Allena menyadari ternyata Aziel saat itu bersama Alexa yang duduk disebelah Aziel.


Aziel yang melihat Allena sedang bersama Louis seketika mengalihkan pandangannya kembali kedepan, dan melanjutkan perjalanannya pergi dari sana bersama Alexa.


Allena yang melihat itu hanya memasang tampang datarnya melihat mobil Aziel yang mulai perlahan menjauh dan hilang dari pandangannya.


"Allena!". Seru Louis menyadarkan Allena.


Allena yang mendengar panggilan Louis langsung berbalik ke arah Louis dan menatap datar Louis sambil menaikan kedua alisnya.


"Lo kenapa? Cemburu lo lihat cowok yang tadi sama cewek lain?". Tanya Louis.


"Nggak usah cemburu. Kan ada gue. Masa lo lupa kalau masih ada gue". Sarkas Louis dengan wajah tengilnya.


"Dihh.. Cemburu? Apaan cemburu? Terus kalau ada lo kenapa? Mending lu balik sana. Ngapain sih disini?". Celoteh Allena.


"Gue mau ajak lo makan bareng. Mau ya?". Ajak Louis pada Allena.


"Nggak mau". Jawab Allena datar.


"Ayolah Len! Jangan gitu lah. Mau ya? Entar gue yang traktir dah kalau gitu". Ucap Louis memohon.


"Gue nggak mau". Ucap Allena lagi.


"Maulah Allena. Lo diajak gitu amat reaksinya. Harusnya kan eksaitit gitu. Lagian kan gue traktir. Ayolah mau! Mau ya ya yah". Ucap Louis memaksa.


"Huff... Yaudah". Ucap Allena terpaksa.


"Nahh.. Gitu dong! Dari tadi kek". Girang Louis.


"Gua ambil mobil dulu". Ucap Allena beranjak dari tempatnya.


"Oke deh.. Mantap!". Ucap Louis girang lalu kembali masuk kedalam mobilnya.


Allena kemudian berjalan menuju parkiran dan mengambil mobilnya. Allena lalu masuk dan keluar dari sekolah tersebut.


"Lu ikut gua aja". Ucap Allena pada Louis dari dalam mobil.


"Kemana?". Tanya Louis bingung.


"Nggak usah banyak tanya. Lu mau makan kan? Lu tinggal ikutin gua". Ucap Allena lagi.


Allena kemudian berjalan terlebih dahulu dengan Louis mengikutinya dari belakang.


Sekitar 20 menit menempuh perjalanan mereka kini telah sampai disalah satu restoran elit. Saat ini mereka sedang berada di restoran milik Brayen.


Mereka lalu memarkirkan mobil mereka dan masuk kedalam restoran itu. Mereka berdua kemudian menuju kesalah satu meja yang ada disana.


"Lu tunggu disini!". Ucap Allena tiba-tiba sambil beranjak dari tempat duduknya.


Allena kemudian berjalan menuju ke arah resepsionis restoran yang ada di restoran itu.


"Selamat datang Kak! Ada yang bisa kami bantu?". Tanya resepsionis wanita tersebut dengan sopan.


"Iya. Saya mau tanya. Pemilik restoran ini dimana ya?". Tanya Allena.


"Mohon maaf! Kalau boleh tau Kakak ini siapanya Tuan Muda?". Tanya resepsionis itu lagi.


"Saya teman sekolahnya. Apa bisa saya bertemu dengan Tuan Muda kalian?". Ucap Allena.


"Kalau begitu tunggu sebentar ya Kak. Kami akan menghubungi terlebih dahulu. Mohon ditunggu". Ucap resepsionis tersebut.


"Iya". Balas Allena.


Resepsionis itu pun seperti tengah mencoba menelpon seseorang dan berbicara dengan seseorang dari sebrang telepon yang digunakannya. Tidak lama resepsionis itu selesai.


"Mohon maaf Kak! Begini. Tuan Muda sekarang sedang dalam perjalanan menuju kemari. Beberapa menit lagi Tuan Muda akan sampai. Apa Kakak ini akan menunggu disini sebentar?". Ucap resepsionis itu memberitahu.


"Umm.. Yasudah kalau begitu saya tunggu saja dulu. Tidak lama lagi Tuan Muda kalian akan sampai kesini kan?". Tanya Allena.


"Iya Kak". Jawab resepsionis wanita itu.


"Kalau begitu saya tunggu saja. Terima kasih". Ucap Allena.


"Sama-sama Kak". Balas resepsionis wanita itu sambil menempelkan kedua tangannya sopan.

__ADS_1


Allena kemudian beranjak kembali ketempatnya dimana ada Louis disana.


__ADS_2