Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 78 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

"Sialan tuh cewe". Alexa terlihat tengah berjalan menuju parkiran. Dia berencana akan pulang saat ini.


Dipandanginya terus amplop yang dibawanya, 'Kalau sampai Papi lihat surat ini gimana?'. Alexa terihat bingung sekarang. Bagaimana dia harus menjelaskan kepada Papinya tentang surat skors yang tengah digenggamannya saat ini.


Saat sedang bingung-bingungnya Alexa melihat Brayen yang tengah berjalan berdampingan bersama murid perempuan. Mereka terlihat tengah tertawa bahagia.


Sekilas Brayen dan Alexa saling bertemu pandang, namun sesaat kemudian Brayen mengalihkan pandangannya tak peduli pada Alexa.


Alexa yang melihat itu hanya menghela nafas perlahan. Gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya sampai tiba di parkiran dan masuk kedalam mobilnya lalu pergi meninggalkan sekolah dalam keadaan kacau.


...*****...


Malam harinya Alexa tengah terlihat makan malam bersama Papinya. Gadis itu makan dalam diam sambil terus memikirkan bagaimana dia harus menjelaskan tentang dirinya yang diskors dari sekolah.


Setelah selesai makan malam Alexa meminta waktu dengan Papinya untuk berbicara di ruang keluarga.


"Ada apa Alexa? Apa yang ada ingin kamu bicarakan dengan Papi?". Tanya Papi memandang anaknya yang saat ini tengah diam ditempatnya.


Alexa kemudian menghela nafas untuk menetralkan rasa ketakutannya kepada Papinya itu. Gadis itu kemudian memberikan surat skors kepada Papinya dengan gugup. Dia takut apa yang akan terjadi setelah dia memberikan surat itu kepada Papinya.


"Apa ini?". Tanya Papi sambil menatap Alexa.


"Papi baca aja sendiri Pi". Ucap Alexa takut sekarang.


Terlihat Papi membuka surat tersebut dan membacanya dengan serius.


"Apa ini Alexa? Kenapa kamu diskors? Apa yang kamu perbuat di sekolah sehingga kamu diskors seperti itu?". Papi terlihat marah sekarang. Anaknya itu selalu saja membuat masalah.


"Maaf Pi". Hanya itu yang bisa Alexa katakan. Alexa tak berani mengatakan jika dia diskors karena telah melukai orang.


"Kamu ini selalu saja membuat masalah. Selalu saja bermasalah di sekolah. Tidak bisakah kamu berhenti berbuat masalah bagi Papimu ini". Papi sangat marah pada Alexa. Anaknya itu memang selalu membuat masalah sejak duduk dibangku SMP.


"Iya Pi, sekali lagi Alexa minta maaf sama Papi. Alexa tau Alexa salah". Alexa kini menunduk tak berani menatap Papinya.


"Sudah Papi katakan, berhenti membuat masalah bagi keluarga kita. Belajarlah yang benar di sekolah agar nilai kamu bagus.


"Bagaimana jika nilai kamu jelek nanti karena masalah yang kamu perbuat. Jangan kamu bikin malu Papi Alexa. Kamu itu satu-satunya anak Papi sekarang. Kakak kamu sudah meninggal setahun lamanya. Kamu yang sekarang jadi penerus Papi.


"Jika kamu selalu begini terus, bagaimana kamu jadi penerus Papi nantinya". Papi terus memarahi Alexa. Beliau benar-benar tak habis pikir dengan anaknya itu. Selalu saja membuat masalah.


Alexa tak menjawab. Gadis itu hanya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Papinya itu selalu saja ingin dirinya menjadi yang diinginkannya.


Papi ingin Alexa terus belajar dan belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus. Jika sampai nilainya turun atau anjlok, pasti Papi akan memarahinya habis-habisan dan menghukumnya.


Pernah suatu hari Alexa mendapatkan nilai dibawah 90. Papinya itu memarahinya sampai-sampai Alexa tak berhenti menangis dan lupa makan karena harus belajar. Hal itu membuat Alexa hampir depresi dan sakit demam selama dua minggu lamanya.


Tapi itu tak membuat Papi berhenti untuk menyuruh Alexa tetap terus belajar dan belajar. Apa lagi setelah kematian Kevin kakak Alexa. Papinya itu semakin keras padanya dan memaksa Alexa untuk menjadi penerus usaha Papinya.


"Kamu harus tau Alexa, Papi ini sudah mulai tua. Hanya kamu yang Papi bisa andalkan sekarang.


"Kamu jangan jadi kaya Mami kamu itu. Jadi model, sampai lupa waktu untuk kamu dan Papi. Entah apa yang dilakukan Mami kamu sekarang sampai belum pulang juga hingga malam ini". Sambung Papi terlihat marah memandang Alexa yang masih terus menunduk.


"Maafin Alexa Pi". Jawab Alexa yang terus menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya. Gadis itu tidak berani melawan dengan Papi yang terlihat sangat marah.


"Papi ingatkan ke kamu Alexa, jika kamu berbuat masalah lagi dan menyusahkan Papi lagi, Papi tidak akan segan-segan mengirim kamu ke desa dan tinggal disana". Ancam Papi.


Alexa yang mendengar itu langsung saja mendongak keatas menatap Papi dengan kaget, "Tapi Pi...". Ucap Alexa terhenti.


"Tidak ada tapi-tapian, itu sudah jadi keputusan Papi dan kamu tidak bisa membantahnya". Keputusan Papi sudah bulat memberikan ancaman untuk Alexa.


"Lebih baik sekarang kamu ke kamar dan belajarlah yang rajin. Berhentilah membuat masalah untuk Papi dan juga membuat malu Papi". Peringat Papi, kemudian Papi melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Alexa sendirian yang masih duduk disofa dengan mengepalkan kedua tangannya menahan kesal.


'Semu gara-gara cewek sok kecantikan itu'. Alexa membantin sambil mengingat dan menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya karena Allena.



'Awas aja tu cewek'. Alexa kemudian beranjak dan pergi dari sana dengan perasaan kesal.


...*****...

__ADS_1


Hari hari berlalu, dan hari ini adalah hari dimana SMAN Nasional mengadakan UAS untuk semua kelas.


Punggung Allena juga sudah mulai membaik. Dia sudah bisa memakai seragam seperti biasanya.


Alexa juga pasti tentu saja sudah datang ke sekolah setelah diskors satu minggu lamanya.


Biasanya gadis itu datang ke sekolah dengan menggunakan mobilnya. Tapi hari ini berbeda karena dia datang diantar oleh supir yang dicetuskan oleh Papinya sekaligus untuk mengawasi Alexa.


Saat tiba di parkiran, geng Allena berpapasan dengan Alexa yang kebetulan ingin lewat.


"Eh, ada orang yang mulai datang ke sekolah nih setelah diskors! nggak malu apa ya". Zee tiba-tiba bersuara menyinggung Alexa.


"Kalau gue sih bakalan malu ya karena udah buat orang celaka. Untung gue bukan orang itu, ya karena gue orangnya bukan orang jahat, upss!!". Timpal Tessa ikut-ikutan sambil melirik Alexa yang mulai berhenti dengan mengepalkan kedua tangannya.


Dengan perasaan kesal Alexa berbalik dan menatap tajam Tessa dan Zee.


"Lo berdua ngomong apa tadi? Lo berdua ngomongin gue kan?". Alexa berbicara sambil berjalan mendekat kearah mereka.


"Kenapa? Lo ngerasa, Iya? Bagus deh kalau lo sadar. Biar tau diri". Zee berkata dengan sinis kearah Alexa.


"Lo jangan cari-cari masalah sama gue. Jangan sampai gue...". Ucapan Alexa terhenti.


"Apa? Lo mo apa emang? Lo kira gue takut sama Mak Lampir kaya lo? nggak ya!". Potong Zee semakin sinis.


"Lo...". Alexa mulai mendekat kearah Zee ingin menjambak rambut Zee.


"Apa? Maju sini lo, gue nggak takut". Zee juga akan maju.


Tapi dengan cepat Alvian dan Gamma yang juga ada disana menahan kedua gadis itu. Apa lagi Tessa juga ikut-ikutan maju.


Brayen yang baru datang dengan cepat turun dari motornya dan menahan Alexa.


Mereka menahan ketiga gadis itu agar tak terjadi perkelahian. Apa lagi hari ini adalah hari pertama UAS.


"Lex, bisa nggak sih lo berhenti buat masalah, nyari ribut kaya gini. Lo mau lo nggak ikut UAS". Brayen berkata sambil menatap ketus pada Alexa.


Alexa menoleh kearah Brayen, "Mereka yang duluan, bukan gue". Alexa tak terima jika harus disalahkan.


"Lo kenapa sih Brayen nyalahin gue terus? Seolah-olah gue yang paling salah disini, paling jahat". Sambung Alexa.


"Ya karena lo emang jahat, nggak usah muna lo Mak Lampir". Cerca Zee berteriak pada Alexa.


Alexa langsung saja berbalik dan menatap kesal kearah Zee, "Lo nggak usah ikut campur, banyak omong lo". Balas Alexa.


Alexa kemudian beralih menatap sinis Allena yang sedang menatapnya dengan datar dan kembali menoleh kearah Brayen.


Sedetik kemudian Alexa berlalu pergi dari sana dengan mengepalkan kedua tangannya menahan kesal.


"Dih sok banget sih tuh si Mak Lampir". Zee berkata dengan sinisnya.


"Gua udah bilangkan ke kalian, nggak usah bahas hal ini lagi. Masalahnya udah kelar". Ucap Allena tiba-tiba sambil menatap Tessa dan Zee tanpa ekspresi.


"Tapi mulut gue gatal Len, lihat Alexa. Pengen gue ngatain terus tuh si Mak Lampir. Nggak suka gue setelah apa yang dia perbuat ke lo". Zee berkata dengan kesal setiap mengingat Alexa.


"Iya Len, gue juga sama. Rasanya gue pengen kasih pelajaran ke dia". Timpal Tessa yang ikut-ikutan kesal.


"Udah nggak usah bahas itu lagi. Lebih baik kita fokus aja sama UAS sekarang. Itu yang lebih penting". Ucap Allena. Gadis itu kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana meninggalkan mereka semua.


"Eh, tungguin Len!". Zee berteriak sambil berlari menyusul Allena.


Mereka semua kemudian ikut pergi dari sana menuju kelas mereka untuk mengikuti UAS yang dimulai hari ini.


...*****...


UAS hari ini telah berjalan dengan lancar. Manaf juga terlihat datang ke sekolah mengikuti UAS hari ini setelah beberapa kali tak datang ke sekolah.


"Manaf, lo ikut nggak? Kita-kita mau ke restoran Zee nih". Ajak Alvian pada Manaf.


"Iya, Naf. Udah lama nih lo nggak ikut kumpul-kumpul sama kita". Timpal Gamma disebelah Alvian.

__ADS_1


Manaf mengambil tasnya diatas meja, "Sorry, gue nggak bisa. Gue lagi ada urusan". Ucap Manaf sambil melirik Airin ditempatnya kemudian berjalan melewati Alvian dan Gamma. Pria itu berjalan keluar dari dalam kelas dan pergi dari sana.


"Itu Manaf kenapa ya?". Tanya Alvian pada Gamma.


Sementara Gamma hanya menjawab dengan menaikan kedua bahunya sebagai jawaban.


"Yoo.. kita ke restoran sekarang. Gue udah laper banget nih, mau makan". Gamma beralih berbicara kearah sahabat-sahabatnya yang lain.


Mereka semua kemudian bergegas dan keluar bersama-sama dalam kelas.


Saat mereka berjalan menuju parkiran mereka berpapasan dengan Aziel dan juga Setya.


Zee yang melihat Setya tak ingin kehilangan kesempatan. Gadis itu berencana akan mengajak Aziel dan juga Setya untuk ikut bersama ke restoran khas Jepang miliknya. Siapa tau Setya terkagum-kagum padanya🤭😅


"Hai Kak El! Hai Kak Setya!". Sapa Zee.


"Kak El sama Kak Setya mau nggak ikut kita-kita ke restoran". Ucap Zee dengan senyum yang merekah.


Aziel yang mendengar itu menoleh kearah Allena, "Boleh". Jawab Aziel. Pria itu kemudian mendekat kearah Allena, "Gimana? Udah baikan?". Tanya Aziel sambil mengeluarkan tangannya yang dimasukan kekantong celananya lalu mengangkat tangannya memegang puncak kepala Allena dengan lembut.


Lagi, dan lagi. Pria itu selalu saja bersikap manis kepada Allena. Membuat gadis itu selalu gugup dan berdebar, 'Duhh.. lama-lama gua jantungan karena nih cowo. Kenapa sih El, lu tuh selalu kaya gini ama gua'. Batin Allena sambil merasakan debaran jantungnya yang berpacu dengan cepat.


"Hmm". Allena seberusaha mungkin untuk tetap tenang.


Aziel tersenyum kearah Allena, "Kalau gitu kita pergi sekarang. Lu pasti udah laparkan". Ucap Aziel kearah Allena seperti menggoda gadis itu.


"Gue nggak ikut El. Gue mau balik". Teriak Setya tiba-tiba.


Zee langsung saja menoleh kearah Setya dengan tampang sedih seperti anak kecil, "Loh, kenapa? Kok Kak Setya nggak ikut, kan ada Zee". Ucap Zee.


"Ck, ya karena ada lo lah gue nggak mau ikut. Cewe aneh kaya lo bikin mood gue rusak tau nggak". Ucap Setya sinis.


Alvian mendekati Zee, "Udalah Ayang Zee, nggak usah ngajak dia. Nggak penting juga kan kalau ada dia". Alvian meraih lengan Zee untuk pergi dari sana.


Zee langsung menepis tangan Alvian, "Nggak mau. Gue maunya Kak Setya ikut". Zee kemudian menoleh kembali kearah Setya, "Kak Setya ikut ya. Mau ya". Ucap Zee memohon sambil meraih lengan Setya.


"Apa sih ini". Setya menepis tangan Zee dari lengannya. "Gue bilang nggak mau, ya nggak mau. Nggak usah maksa". Ucap Setya yang semakin ketus.


"Tuh kan Ayang Zee, nih cowok nggak mau. Ayang Zee sama Babang Alvian aja lah. Kita berdua kan cocok". Ucap Alvian.


"Nggak mau Alvian. Gue maunya Kak Setya ikut". Zee bersikukuh ingin Setya ikut bersama mereka.


"Ayolah Kak, mau ya". Paksa Zee lagi sambil menatap Setya dengan wajah berbinar.


Allena yang melihat sahabatnya begitu menginginkan Setya harus ada, berbalik kearah Aziel, "El!!". Panggil Allena pada Aziel kemudian melirik kearah ketiga orang tadi.


Aziel yang mengerti maksud Allena segera menoleh kearah Gamma dan Tessa, "Kalian berdua". Panggil Aziel.


"Kita?". Ucap Tessa sambil menunjuk dirinya dan Gamma.


"Hmm". Aziel bergumam.


"Kalian berdua seret Setya ke mobil". Ucap Aziel memerintah.


"Hah?". Tessa terlihat masih ngeblank dengan apa yang diperintahkan oleh Aziel.


"Cepat, seret Setya ke mobi!!". Ucap Aziel sekali lagi.


Tessa dan Gamma kemudian saling melirik.


"Oh, iya iya". Ucap kedua orang itu bersamaan lalu menjalankan tugas sesuai perintah Aziel.


Mereka berdua mendekat kearah Setya dan menyeret Setya dari dua sisi kiri dan kanan lalu membawa paksa pria itu kedalam mobil.


"Maaf Kak, disuruh sama Kak El". Ucap Gamma yang mengambil sisi kanan Setya.


"Iya Kak, disuruh sama Pak Ketua". Timpal Tessa disisi kiri.


Kedua orang itu terus membawa paksa Setya dan menahan pergerakan pria itu, sebab Setya berusaha memberontak minta dilepaskan meskipun tak berhasil.

__ADS_1


Mereka semua kemudian bergegas pergi dari sana dengan kendaraan masing-masing.


__ADS_2