
"Bisa nggak sih lu bawa mobilnya biasa aja? Nggak usah ugal-ugalan kaya tadi". Ucap Aziel saat sudah berhadapan dengan Allena.
"Urusannya ama lu apa?". Sahut Allena datar.
"Astaga Allen, bener-bener nggak habis pikir gua ama lu. Selalu aja tanggepan lu kaya gini, selalu aja ngenggep semuanya itu hal biasa. Coba itu sekali-kali lu dengerin kalau orang ngomong, kalau orang nasihatin lu. Itu semua juga demi kebaikan lu Allena". Ucap Aziel yang mulai gemas akan sifat Allena yang keras kepala itu. Setiap dikasih tau pasti nggak pernah mau denger.
"Terus lu pikir gua peduli?". Aziel hampir gila menghadapi Allena yang seperti ini. Lama-lama dia bisa jedotin kepalanya ke aspal saking gemasnya pada Allena.
"Lu ngerti nggak sih Allen? Gua itu khawatir ama lu Allena. Gua takut lu kenapa-napa kalau lu ngendarain mobil lu itu kaya tadi. Coba lu pikir Allena, pikir uhhgg bisa stres gua lama-lama ngomong ama lu". Desis Aziel frustasi.
"Kalau gitu nggak usah ngomong ama gua". Sahut Allena masih dengan tanpa ekspresi.
Aziel langsung menjambak rambutnya frustasi. Capek kalau ngomong sama Allena yang datar plus batu seperti ini. Nggak bakal didengerin.
"Gua harus gimana lagi sih Allen biar lu bisa maafin gua? Gua nggak mau kita kaya gini terus". Cicit Aziel frustasi. Dia benar-benar lelah jika harus seperti ini terus keadaan hubungannya dengan Allena.
"Nggak usah-". Ucapan Allena seketika berhenti, 'Shi*t! Kenapa harus dalam keadaan kaya gini sih?'. Umpat Allena membantin.
Tiba-tiba saja Allena berbalik dan langsung pergi dari hadapan Aziel.
Aziel yang melihat Allena pergi begitu saja seketika mengerutkan alisnya bingung, "Ah, Allen lu mau kemana? Kita belum selesai ngomong". Kemudian bergegas menyusul Allena, "Bentar dulu Allena, kita ngomong dulu!
"ALLENA BENTAR DULU!". Aziel meraih lengan Allena.
Namun Allena dengan kasar menepis tangan Aziel". Lepas!". Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu dulu Allen!". Aziel tidak menyerah dan kembali meraih lengan Allena.
"LEPASIN GUA BILANG!". Dengan kasar Allena menarik lengannya dan langsung mendorong Aziel menjauh.
Gadis itu mulai terlihat memegangi dada kirinya dan nafasnya yang mulai memburu.
Aziel yang melihat Allena seperti itu mulai khawatir. Allena terlihat kesakitan dengan terus memegangi dada sebelah kirinya.
Dengan segera Aziel mendekati Allena, "Lu kenapa Allen?". Tanya Aziel khawatir, "Apa yang sakit? Bilang ama gua!
Allena tidak menjawab. Gadis itu mulai sempoyongan. Untung saja Aziel sigap menangkap tubuh Allena hingga tidak jadi jatuh ke jalanan.
"Lu kenapa Allen? Bilang ama gua! Jangan buat gua khawatir kaya gini. Lu kenapa sih ha?". Tanyanya khawatir dengan memegangi Allena.
Allena diam tidak menjawab. Gadis itu dengan nafas yang terus memburu perlahan menjauhkan dirinya bergantian memegangi kedua lengan Aziel mencengkram lengan jaket yang dikenakan pria itu. Kepalanya mendongak, menatap tajam pria yang terlihat sangat khawatir padanya.
"PERGI LU!". Bentak Allena seraya mendorong dada Aziel dengan kasar, "GUA NGGAK BUTUH BANTUAN DARI LU". Sambungnya berjongkok dengan kedua tangan bertumpu di lututnya. Nafasnya bahkan masih naik turun. Mukanya sangat pucat dan keringat mulai bercucuran di dahinya.
Aziel menggeleng. Dia tak akan meninggalkan Allena begitu saja. Apa lagi dalam keadaan seperti orang yang kesakitan.
"Nggak, gua nggak akan ninggalin lu Allen. Apa lagi dengan kondisi lu yang kaya gini, mana mungkin gua bisa ninggalin lu. Lu kenapa sih?". Ucapnya seraya kembali mendekati Allena.
"GUA BILANG PERGI! LU DENGER NGGAK SIH? GUA NGGAK KENAPA-NAPA". Bentak Allena yang juga kembali mendorong Aziel.
"Nggak kenapa-napa gimana? Lu kesakitan kaya gini dan lu masih bilang nggak kenapa-napa? Lu mikirnya gimana? Gua itu khawatir ama lu Allena. Gua takut lu kenapa-napa kalau lu kaya gini". Aziel sangat khawatir bercampur frustasi melihat Allena. Allena begitu keras kepala meskipun keadaannya kaya orang menahan sakit. Apa lagi Allena terus memegangi dada kirinya dan kadang meremasnya dengan nafas yang terus memburu. Benar-benar membuat Aziel sangat khawatir sekaligus takut dengan keadaan Allena saat ini.
"Sekarang lu pergi! PERGI GUA BILANG! LU DENGER NGGAK SIH? GUA NGGAK MAU LU ADA DISINI. DAN GUA ITU NGGAK KENAPA-NAPA. GUA NGGAK BUTUH LU ADA DISINI". Bentak Allena mulai menegakan badannya, meskipun tangannya masih memegangi dada kirinya. Gadis itu kembali menatap tajam Aziel yang ada di hadapannya.
"Allen...
"PERGI GUA BILANG! PERGI! PERGI! PERGIII!". Sentak Allena cepat.
Aziel seketika diam. Menatap mata hazel yang begitu tajam menatap padanya. Allena benar-benar sangat tidak ingin ada dirinya disana. Padahal dia ingin bersama gadis itu.
"Allen!". Aziel berjalan mendekati Allena.
Namun dengan cepat Allena berjalan mundur, "Lu mau ngapain lagi ha?". Ucap Allena mendelik tajam.
"Gua kangen banget ama lu Allen. Gua pengen meluk lu. Sebentar aja nggak papa. Gua pengen banget meluk lu lagi kaya dulu". Ucap Aziel sendu. Dia benar-benar sangat merindukan kebersamaannya dengan Allena. Dia ingin sekali memeluk gadis itu.
"Gua nggak mau. Mending sekarang lu pergi dari sini". Ucap Allena dingin. Sementara tangannya mulai meremas dada kirinya.
"Allen, gua mohon. Gua bener-bener kangen ama lu. Gua pengen meluk lu. Gua mohon Allen". Aziel kembali melangkah.
"Berhenti disitu!". Ucap Allena cepat. "Mending lu pergi sekarang!
"Allen gua...
"Stop! Kenapa lu masih nggak ngerti juga?
"Jangan ngomong kaya gitu Allen. Hati gua bener-bener sakit lu ngomong kaya gitu". Desis Aziel.
"Yaudah sekarang lu pilih! Gua yang pergi dari sini atau lu yang pergi dari sini". Ucap Allena datar.
__ADS_1
Aziel menggeleng, "Allen jangan kaya gini, gua...
"Oke kalau gitu gua yang pergi". Segera Allena berbalik melangkah menuju mobilnya.
"ALLENA JANGAN PERGI!". Aziel segera berlari menyusul Allena dan langsung menarik lengannya.
Allena berbalik dan memberikan tatapan begitu menohok pada Aziel, "Kenapa lu nggak pergi aja sama Regina dan lakuin yang pernah lu lakuin ama cewek itu". Desis Allena tajam. Dan langsung menarik lengannya dari genggaman Aziel.
"I hate you dan gua nggak mau lihat lu lagi. Jauhin gua! Karna gua nggak akan pernah mau sama pembohong kaya lu!
DEG!
Aziel seketika membeku mendengar perkataan Allena.
Sementara Allena mulai berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"KENAPA LU MASIH NGGAK PEECAYA AMA GUA ALLENA! LU SALAH PAHAM. GUA NGGAK ADA APA-APA SAMA CEWEK ITU ALLENA. TAPI KENAPA LU MASIH BERPIKIRAN KAYA GITU!". Teriak Aziel yang melihat mobil Allena mulai pergi.
"ALLENA LU SALAH PAHAM LU SALAH PAHAM ALLENA. GUA CUMAN SAYANGNYA AMA LU. TAPI KENAPA LU MASIH NGGAK PERCAYA JUGA.
"AGGHH SIAL SIAL SIAL!
...******...
Keesokan harinya di SMAN Nasional, jam sudah menunjukan waktu istirahat. Dan kalian harus mengetahui dari jam pertama hingga jam ketiga pelajaran Allena tidak masuk untuk belajar. Gadis itu memilih untuk bolos menghabiskan waktunya di ruang UKS.
Meski begitu tak ada sekali pun guru yang memprotes. Soalnya Allena ini walau sering bolos tugas yang diberikan pasti selalu dia selesaikan. Setiap guru meminta tugas yang diberikan pasti Allena langsung menyetornya tanpa banyak drama-drama dulu. Dan setiap jawabannya pasti selalu benar dan tidak mengecewakan. Maklum budak pandai🤙🤙🤙
Saat sudah di lantai dua, netra matanya menangkap suatu yang janggal. Banyak murid-murid terlihat mengerumuni kelas 11 IPA 2, kelas yang bersebelahan dengan kelasnya.
Tiba-tiba Allena baru menyadari sesuatu. Langsung saja Allena berlari ke kelas itu dan menerobos masuk ke dalam.
"BERHENTI!". Dengan cepat Allena berlari ke arah Alexa yang terlihat terduduk di lantai dengan keadaan berantakan. Dua sahabatnya Alexa pun terlihat membantu gadis itu untuk berdiri.
Sementara itu ada Tessa yang sedang dipegangi oleh beberapa murid karena terus memberontak minta dilepaskan.
"Lepasin gue, gue mau kasih pelajaran sama Mak Lampir itu". Sentak Tessa yang memberontak.
Di belakang sana juga ada Airin yang sedang menenangkan Zee. Juga ada Gamma dan Alvian yang sedang memegangi Tessa.
"Udah gue kasih tau bukan Alexa pelakunya. Kenapa lo masih aja nuduh dia?". Sentak Chika menatap garang Tessa.
Tessa berdecak sinis, "Huh, maling mana ada mau ngaku. Kalau tuh si Mak Lampir ngaku penjara penuh, tau lo". Balas Tessa.
"Tapi bukan Alexa pelakunya. Lo dikasih tau ngeyel ya suka banget nuduh Alexa". Sahut Chika tak terima karena Tessa selalu saja menuduh Alexa dengan apa yang tidak dilakukan oleh Alexa.
Sementara Allena sedang menangani Alexa yang terlihat menangis. Pipih sebelah kanan gadis itu bahkan terlihat memerah seperti habis ditampar.
"Mana yang sakit?". Tanya Allena tenang pada Alexa.
"Hiks hiks bukan gue Allena, bukan gue pelakunya". Desis Alexa sembari menangis tersedu. Dia bahkan masih merasakan pedih di pipinya akibat tamparan yang dilayangkan Tessa padanya.
"Iya gua percaya ama lu". Balas Allena, "Udah jangan nangis lagi! Lemah lu ternyata.
Alexa langsung mendelik kesal menatap Allena, "Lo pikir nggak sakit apa ditampar gini?
Allena hanya berdengus santai, "Iya iya gua tau. Yaudah jangan nangis lagi.
Sementara itu Chika terus saja berdebat dengan Tessa.
"Kalau bukan sahabat lo itu terus siapa lagi? Zee bilang sendiri si Mak Lampir itu yang udah ngedorong dia. Masih mau ngelak juga". Imbuh Tessa yang masih terlihat marah.
"Lo...
"PUNYA BUKTI APA LU SAMPAI NUDUH ALEXA?". Seru Allena akhirnya.
Pandangan semua orang langsung tertuju ke arah Allena yang terlihat membantu Alexa yang sedang menangis. Pemandangan yang sangat langkah.
Dulu Allena dan Alexa adalah murid yang terkenal karena tidak keakraban mereka. Mereka bahkan sering dibilang rival karena terus saling bersaing dalam hal apapun di sekolah elit itu.
Tapi sekarang keduanya bahkan terlihat sangat akrab dan dekat. Entah ini adalah mukjizat apa yang diberikan oleh yang Maha Kuasa dengan melihat dua murid perempuan yang menjadi bunga di sekolah itu.
Tessa seketika menatap tajam Allena, "Lo Allena? Jadi lo belain si Mak Lampir itu ha?". Sentaknya marah.
Sahabat Allena yang lainnya bahkan sampai tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
"Gua tanya, punya bukti apa lu sampai nuduh Alexa kaya gitu? Emang apa yang udah dilakuin sama Alexa?". Tanya Allena menatap datar semua sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Eh, Allena gue kasih tau ya! Orang yang lo belain itu udah berbuat jahat sama Zee, sahabat lo sendiri. Kenapa lo malah belain dia? Mulai sinting lo sekarang?". Maki Tessa.
"Oh ya? Emang perbuatan jahat apa yang udah diperbuat Alexa sama Ziva? Coba lu jelasin ama gua". Tantang Allena.
"Lo...
"Udah Sa, nggak perlu lo jelasin sama dia?". Ucap Alvian seketika, "Mau lo jelasin kaya gimana pun dia bakal nggak percaya. Dia itu bukan lagi Allena yang kaya kita kenal. Dia udah berubah.
"Lo kenapa sih Len? Kok lo kaya gini, nggak care lagi sama kita. Padahal kita semua sahabat lo. Kenapa lo malah belain orang yang jelas-jelas udah jahat sama Zee, sahabat kita". Imbuh Gamma juga.
Chika seketika menatap tajam Gamma, "Eh Gam, maksud lo apa ngomong kaya gitu? Nuduh sahabat gue juga lo?
"Kenapa? Emang kaya gitu kan kenyataannya. Nggak usah lo belain sahabat lo itu". Sahut Gamma yang juga menatap tajam Chika.
"Udah gue bilang bukan Alexa pelakunya. Kenapa lo malah ikut-ikutan nuduh Alexa? Kalau lo nggak tau apa-apa nggak usah asal ngomong. Nih sahabat-sahabat lo juga nih kasih tau nggak usah asal ngomong nggak usah asal nuduh". Ucap Chika mendelik tajam kearah kelima orang itu.
"UDAH STOP!". Sentak Allena seketika membuat mereka yang berdebat berhenti berdebat.
Murid-murid yang melihat pertengkaran para sahabat itu dengan serius menyaksikan drama persahabatan diantara ke-9 orang itu. Benar-benar seru dan mendebarkan sekali ya para pembaca yang budiman😅😅
"Kalian kalau nggak ada bukti nggak usah nuduh sembarangan". Ucap Allena lagi.
"Kita nggak nuduh itu emang ke...
"Emang lu punya bukti?". Tanya Allena cepat memotong perkataan Tessa, "Kalau lu emang punya bukti tunjukin sekarang". Tantangnya.
Seketika Tessa diam mendengar ucapan Allena. Dia memang tidak mempunyai bukti atas tuduhannya pada Alexa. Gamma dan Alvian pun ikut terdiam karena juga tak memiliki bukti apa pun.
"Kenapa diem? Tunjukin buktinya sekarang! Kenapa malah pada diem. Tadi enteng banget koar-koar nuduh-nuduh Alexa. Kok sekarang malah pada diem, bisu kaya batu". Seru Hera yang ikut berbicara. Dia juga sangat kesal, karena sedari tadi mereka selalu menuduh Alexa sahabatnya. Apa lagi Tessa dengan tidak berperasaan menampar Alexa begitu saja.
"Eh, Zee emang Alexa yang udah ngedorong lo tadi? Emang lo lihat Alexa yang ngedorong lo? Jelas-jelas Alexa tadi bareng kita terus nggak kemana-mana. Kenapa lo bisa nuduh Alexa gitu aja?". Ucap Hera beralih ke arah Zee yang sedari tadi hanya diam.
Zee menghembuskan nafasnya perlahan.
"Bukan seperti itu. Tadi saya sudah jelaskan. Tadi saya ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah saya keluar saya merasa ada yang mendorong saya dari belakang sampai saya jatuh ke lantai. Dan tiba-tiba saja ada yang melemparkan air bekas pel ke arah saya. Ketika saya berbalik sudah tidak ada orang disana. Saya hanya melihat ponsel ini tergeletak di lantai". Jelas Zee panjang lebar sambil menunjukan sebuah ponsel di tangannya.
Tessa kemudian segera mengambil ponsel itu di tangan Zee.
"Dan lo pada pasti taukan ini ponsel siapa?". Ucapnya mendelik tajam, "Ini ponsel Alexa. Dan berarti udah pasti ada dia di tempat kejadian itu. Masih mau ngelak juga?
"Itu emang bener ponsel gue, tapi bukan gue yang ngelakuin itu. Gue emang kehilangan ponsel gue dari waktu gue ke ruang lab". Ucap Alexa membela diri. Bagaimana pun memang bukan dia pelakunya.
"Masih mau ngelak juga ya lo. Udah jelas-jelas lo ada sangkut pautnya sama kejadian itu tapi masih aja ngelak. Zee ini lupa ingatan tapi lo masih aja berbuat jahat ke dia. Lo punya hati nggak sih Lex?". Cetus Tessa masih tidak percaya dengan pembelaan Alexa.
"Bukan gue pelakunya". Bela Alexa yang tak mau dituduh terus, "Bukan gue pelakunya Len, kenapa mereka selalu aja nuduh gue". Kemudian beralih pada Allena dengan mengusap air matanya.
"Hmm". Gumam Allena mengangguk perlahan. Kemudian kembali menatap datar sahabat-sahabatnya.
"Bukan berarti karena ponsel Alexa yang ada di lokasi kejadian kalian bisa nuduh Alexa sembarangan kan?". Cetus Allena.
"Masih terus lo belain Mak Lampir itu Len? Yang sahabat lo itu kita semua apa mereka sih? Kenapa lo malah berpihak sama mereka bertiga". Seru Tessa.
"Karna Allena tau mana yang benar dan mana yang salah. Bukan kaya lo lo semua pada. Nuduh orang tanpa bukti yang kongrit. Pake acara kekerasan fisik segala lagi". Sahut Hera mencibir.
"Diem lo Cewek Kecentilan! Banyak omong aja lo". Balas Tessa.
"Harusnya lo yang diem! Sebelum nuduh orang itu cari bukti yang pasti-pasti dulu. Baru datang marah-marah. Kalau gini kan Alexa yang dirugiin". Imbuh Chika, lalu beralih menatap tajam Gamma yang juga menatapnya.
Kemudian berbalik menghampiri Alexa sahabatnya yang tengah ditenangkan.
"Wahh emang cocok ternyata lo berempat ya. Cocok jadi sahabat abadi. Sahabat yang suka cari keributan". Cibir Tessa.
Allena yang awalnya ingin membalas, langsung dicegah sama Alexa.
"Jangan Len! Gue nggak mau persahabatan lo sama mereka jadi kacau hanya karna gara-gara lo bantuin gue". Cicit Alexa menggeleng.
Allena hanya menghembuskan nafasnya tenang, "Nggak papa. Emang udah jadi tugas gua". Ucapnya tenang.
Alexa mengerutkan alisnya, "Hah? Maksudnya?
"Udah nggak usah banyak nanya! Mending kita ke UKS sekarang obatin pipi lu". Ucap Allena.
"Kalian berdua juga ikut!". Ucap Allena beralih ke arah Chika dan Hera.
"Iya!". Sahut Chika.
"Oky doky!". Sahut Hera juga.
Keempat orang itu kemudian berjalan keluar kelas tanpa mempedulikan tatapan murid-murid yang melihat mereka jalan bersama.
__ADS_1