Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 107 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Allena turun dari mobilnya. Matanya menyipit ketika dia melihat ada beberapa mobil yang terpakir, mungkin sekitar 5 mobil. Matanya tertuju kearah 1 mobil yang dikenalinya.


Seketika Allena tersentak dan langsung berlari kedalam rumah.


Allena mengedarkan pandangannya keseliling penjuru rumah.


"Allena, anak Mommy, kamu sudah pulang sayang!". Itu suara Mommy Tiara.


Allena langsung saja melihat kearah tangga dan mendapati Mommy Tiara berjalan menuruni tangga.


Disana Mommy tidak sendiri, ada Papah Robert dan juga... Kak Renold!


Allena terus memandangi ketiga orang itu bergantian. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.


"Allena, kemari Nak! Ada yang ingin Papah bicarakan sama kamu". Seru Papah Robert yang saat ini sudah duduk disofa ruang keluarga.


Allena memandangi Papahnya dengan tatapan datar. Gadis itu kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju salah satu sofa yang berada disebrang tak jauh dari Papah Robert dan duduk disana.


"Sebelum Papah lanjutkan pembicaraan, apa kamu tidak mau menyambut kedatangan kita Allena". Ucap Papah Robert basa-basi.


"Sebenarnya apa yang mau Papah omongin sama Allena. Jangan buang-buang waktu". Allena mulai berbicara.


Sementara Papah Robert hanya bisa menghela nafas melihat reaksi putrinya itu.


Sampai kapan hubungan mereka seperti ini terus. Papah Robert merasa antara dirinya dan Allena putrinya sudah sangat jauh. Allena seakan memberikan jarak antara mereka. Padahal Papah Robert adalah orang tuanya.


"Yasudah kalau begitu Nak. Papah hanya ingin kasih tau ke kamu, kalau besok itu kamu dan Louis akan bertunangan. Nantinya pertunangan kalian akan diadakan disalah satu hotel milik Papah". Papah Robert menunggu reaksi Allena. Gadis itu hanya diam ditempatnya tak berbicara apapun.


"Kamu maukan Nak, bertunangan sama Louis. Orang tua Louis sampai bela-belain datang kesini untuk pertunangan kalian". Sambung Papah Robert lagi.


Allena tetap diam tanpa ekspresi. Tak ada yang tau apa yang sedang dipikirnya. Gadis itu hanya memandang ketiga orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Bagaimana Allena? Kenapa kamu diam saja dari tadi? Kamu tenang saja pertunangan ini hanya sebagai formalitas saja, teman-teman kamu tidak akan ada yang mengetahuinya, karena ini hanya diantara keluarga kita dan keluarga Louis. Pertunangan kalian juga hanya akan dihadiri beberapa kerabat kerja Papah dan Papahnya Louis. Juga untuk masalah sekolah kamu, kamu tidak usah memikirkan hal itu, Papah sendiri yang akan me....


"Yasudah Pah, Allena mau". Jawab Allena cepat memotong pembicaraan Papah Robert.


Mereka spontan tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Allena. Allena mau?? Mau bertunangan dengan Louis??


Biasanya Allena akan melawan atau beradu argumen dengan Papah Robert jika menyangkut masalah hubungan antara dirinya dan Louis.


Tapi gadis itu dengan cepat menerima dan tak ada penolakan sama sekali.


Tentu saja Papah Robert sangat senang dengan keputusan Allena kali ini. Anaknya tidak melawan dirinya.


"Baiklah kalau begitu Nak, Papah akan memberi tau orang tua Louis terlebih dahulu. Kamu bersiap-siap saja sekarang karena orang tua Louis akan datang kesini sebentar". Papah Robert kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar rumah. Sekilas Allena melihat Papahnya seperti tengah menelpon. Mungkin menelpon orang tua Louis.


Allena kemudian beranjak dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.


"Tumben nggak lawan Papah!!". Spontan Allena berbalik kearah Renold, kakaknya yang berbicara tadi.


Allena hanya menatap tanpa ekspresi pada Kakaknya itu. Sedetik kemudian Allena membuang muka tak menggubris dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya yang berada dilantai dua rumah besar itu.


Renold hanya memandangi adiknya itu. Sebenarnya ada rasa bersalah yang dirasakannya. Renold merasa sudah menjadi Kakak yang gagal bagi adik kesayangannya itu.


Dulu waktu kecil dia sangat dekat dengan adiknya itu. Mereka berdua selalu bermain bersama dan Renold akan selalu menjaga Allena. Tidak membiarkan siapapun mengganggu adik kesayangannya itu.


Tapi semenjak dirinya harus keluar negri untuk melanjutkan studinya dan jarang sekali berkabar dengan Allena, mereka berdua jadi tak ada waktu lagi dan Allena mulai tak akrab dengan dirinya.


Renold memang tak tau apa yang terjadi pada Allena selama dia di Amerika. Renold juga sangat jarang untuk pulang meskipun Renold ada libur sekalipun.


Karena Papah Robert juga selalu meminta dirinya untuk belajar tentang bisnis dan urusan usaha keluarganya.


Sebenarnya Renold juga sangat lelah dengan semuanya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia adalah anak pertama dan harus melanjutkan usaha keluarganya itu.


Semenjak itu pula Renold menjadi sangat jarang sekali bertemu dengan Allena, bahkan mungkin bisa terhitung jari selama dia pulang dan menjadi tak dekat lagi dengan Allena.


Tapi satu hal yang pasti kalian harus tau, Renold sangat menyayangi adiknya itu.


Sementara saat ini Allena terlihat sedang berbaring diatas ranjang empuknya sambil menatap langit-langit kamarnya yang tinggi itu. Dia masih memakai seragam sekolahnya.


Entah apa yang dipikirnya saat ini. Tapi yang jelas yang dia tau adalah besok adalah hari pertunangannya dengan Louis sepupunya. Ya sepupu, sepupu yang akan menjadi calon tunangannya.


Entah dosa apa yang telah dibuatnya sehingga dia harus menerima semua ini.


Hedehhh!!😔😔


Saat Allena sedang memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar.


Terdengar suara knop dan pintu terbuka.


"Allena sayang, Mommy masuk ya!?". Itu suara Mommy Tiara.


Merasa Allena tidak menjawab, Mommy Tiara langsung berjalan masuk kedalam kamar anaknya itu dan mendapati Allena yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Sayang, boleh Mommy bicara sama kamu Nak?". Mommy Tiara sudah duduk disamping Allena yang masih berbaring.


Allena hanya melirik Mommynya tak berbicara.


"Allena, Mommy tau kamu nggak maukan tunangan sama Louis?". Mommy Tiara tentu saja tau itu. Allena adalah anaknya, dan selama ini juga Allena terlihat secara terang-terangan menolak keberadaan Louis dihidupnya.


Tapi mendapati Allena tadi, yang langsung setuju dan menerima pertunangan tersebut membuat Mommy Tiara merasa ada yang disembunyikan oleh anaknya itu.


Allena bangun dan menatap Mommynya tanpa ekspresi.


"Allena sudah setuju dan ikuti kemauan kalian para orang tua. Kenapa masih bertanya lagi?". Sentak Allena dengan ketusnya.


Allena kemudian mulai melangkahkan kakinya ingin ke kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, kalau kamu mau biar Mommy bantu ngomong sama Papah untuk membatalkan per...


"Mamah mending keluar deh dari kamar Allena. Mamah ngapain sih disini!?". Sentak Allena keras memotong pembicaraan Mommy Tiara.


Mendapati Allena seperti itu membuat Mommy Tiara langsung terdiam.


Apa dirinya dan anaknya sudah semakin jauh hubungan mereka hingga menjadikan Allena seperti itu padanya? Mommy Tiara tak menyangka Allena akan bereaksi seperti itu.


Allena kemudian langsung saja berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam kamar mandi dengan membanting pintu sangat keras membuat Mommy Tiara tersentak kaget.


Mommy Tiara kemudian hanya mampu memandangi pintu kamar mandi. Sesaat kemudian Mommy Tiara beranjak dan keluar dari dalam kamar anaknya itu.


...*****...


Saat ini Allena tengah bersiap-siap. Gadis itu memandangi dirinya dari pantulan kaca besar lemari miliknya.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Allena kemudian bergegas menuju kearah pintu lalu membukanya dan mendapati Bi Ratih disana.


"Maaf Non, Bibi cuma mau kasih tau, Non Lena sudah ditunggu dibawah, dan Bibi diperintahkan untuk memberi tau Non Lena untuk segera ke bawah". Ucap Bi Ratih sedikit takut-takut.


Bagaimana tidak? Aura Allena saat ini terlihat sedikit menyeramkan dengan tatapan dinginnya.


"Hmm". Gumam Allena. Gadis itu kemudian kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas punggung yang biasa dipakainya.


Allena kemudian keluar dan mengunci pintu kamarnya lalu bergegas turun kebawah dengan Bi Ratih yang mengekornya dari belakang.


Allena tiba dibawah yang langsung ke ruang keluarga. Disana sudah ada kedua orang tuanya, dan Kakaknya Renold, juga kedua orang tua Louis dan yang pastinya juga ada Louis.


Meskipun masih sedikit lebam dimuka dan luka lecetnya sudah mendingan tapi Louis tetap masih terlihat tampan kok, khas Amerika. Karena Louis memang asli keturunan Amerika.


"Allena, sayang calon menantu Tante. Udah lama kita nggak ketemu ya Nak, makin cantik aja kamu". Itu Mamahnya Louis. Tante Miranda. Memeluk dan cipika-cipiki ala orang baru bertemu sekian lama.


Allena hanya diam dan menerima pelukan kasih sayang dari Tante Miranda.


"Gimana anak Tante nggak suka sama kamu sayang, kamu cantik banget kaya gini". Puji Tante Miranda.


"Mam... Apaan sih?". Itu Louis. Mamahnya ini malah menggoda dirinya.


"Ya benarkan apa yang Mamah omongin. Allena ini emang cantik makanya kamu suka". Sekali lagi Mamah Miranda membuat Louis salti sendiri.


"Udah-udah Miranda, kamu ini selalu saja menggoda Louis. Lihat tuh pipi Louis udah merah kaya gitu". Kok Mommy Tiara malah ikut-ikutan sih kan Louis jadi akhward sendiri.


Sementara itu Allena hanya diam tanpa berbicara sepata katapun. Dia malas meladeni. Mending diam dan ikuti saja alurnya.


"Yasudah kalau gitu kalian berangkat sekarang saja. Biar besok tinggal pertunangannya yang diadakan". Ucap Papah Robert kemudian.


"Nanti kalian berdua berangkat dengan Renold. Karena kita para orang tua akan ke hotel untuk mengurus tempat berlangsungnya pertunangan kalian besok". Sambung Papah Robert lagi.


"Iya baiknya begitu". Itu Papahnya Louis. Antonhy.


Mungkin hari ini adalah hari yang sibuk untuk dua keluarga besar itu.


...*****...


Kini ketiga orang itu sudah berada disalah satu butik pemilik kenalan Mommy Tiara.


Ketiga orang itu kemudian turun lalu masuk kedalam dan mereka langsung disambut oleh pemilik butik tersebut.


"Selamat datang Mas, Mbak! Apa ada yang bisa kami bantu?". Tanya pemilik butik tersebut.


"Ini adik saya dan yang disebelahnya adalah calon tunangan adik saya. Mereka akan bertunangan besok. Jadi saya minta tolong carikan pakaian yang cocok untuk mereka berdua". Ucap Kak Renold menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu mari ikut saya kesini. Sepertinya saya mempunyai satu set yang cocok untuk kalian berdua". Pemilik butik tersebut kemudian menuntun mereka untuk mengikutinya kesalah satu ruangan.


Tau kliennya saat ini adalah orang paling berpengaruh dan terpandang. Pemilik butik tersebut tak ingin mengecewakan mereka. Apalagi Mommy Tiara adalah teman sekaligus langganannya.


Di ruangan itu dipenuhi dengan gaun-gaun mewah nan elegan yang disusun dengan rapi, juga ada susunan stelan jas yang begitu rapi yang tentu saja berasal dari branded ternama.


"Tolong ambilkan yang itu!". Pinta Renold menunjuk kesalah satu lemari kaca besar yang berisi gaun dan juga satu stelan jas yang terpasang dipatung khusus pakaian.


"Oh iya, mohon tunggu sebentar ya". Segera pemilik butik tersebut mengambil barang yang diperintahkan oleh Renold dibantu dengan beberapa para karyawan yang bekerja disana.


"Ini dia. Bagaimana?". Pemilik butik itu menunjukan satu set gaun dan juga satu set stelan jas dihadapan ketiga orang itu.


"Bagaimana Louis? Menurut kamu bagaimana dengan gaun dan juga jas ini?". Renold bertanya pada Louis.


"Terserah Kak Renold saja. Aku ikut yang mana baiknya saja. Menurutku semuanya bagus, tapi nggak tau sama Allena. Mungkin dia mau yang lain". Louis menoleh kearah Allena yang sedari tadi hanya memandang dua barang yang ada dihadapannya itu.


"Bagaimana Allena? Kita ambil yang ini atau kamu mau ganti yang lain?". Tanya Renold pada Allena.


"Terserah, gua juga nggak peduli". Jawab Allena sambil beranjak menuju kesalah satu kursi yang ada di ruangan itu dan duduk disana dengan ekspresi datarnya.


Melihat reaksi Allena yang seperti itu membuat mereka yang ada disana hanya memandang Allena kikuk.


Apalagi pemilik butik dan juga para karyawan. Apa mereka telah membut kesalahan hingga reaksi Allena seperti itu. Apa gadis itu marah.


Sementara Renold hanya bisa menggeleng melihat sikap adiknya itu.


"Yasudah kalau begitu yang ini saja Mbak". Ucap Renold kemudian.


"Tidak dicoba dulu Mas? Takutnya kebesaran atau kekecilan.


"Tidak usah Mbak. Kami ambil yang ini saja.


"Baiklah kalau begitu. Masnya mohon tunggu sebentar ya! Silahkan ke kasir. Kami akan mengemasi barangnya terlebih dahulu". Ucap pemilik butik.


"Iya Mbak, terima kasih.

__ADS_1


"Sama-sama! Terima kasih kembali karena sudah berbelanja ditempat kami". Balas pemilik butik.


Mereka kemudian keluar dari ruangan itu dan bergegas menuju kasir untuk membayar.


Setelah dirasa semua beres, ketiga orang itu kemudian keluar dari butik kenalan Mommy Tiara itu lalu pergi dari sana dengan mobil yang mereka pakai tadi.


...*****...


Saat ini Allena, Renold dan juga Louis sudah berada di hotel tempat yang akan diadakannya pertunangan antara Allena dan Louis esok hari.


Tadi saat selesai dari butik, mereka memang langsung menuju ke hotel milik Papah Robert tersebut.


"Kenapa lo nerima pertunangan ini Len?". Saat ini Allena dan Louis berada disudut ruangan hotel.


Sementara para orang tua berada tak jauh dari tempat mereka berdua. Terlihat mereka sedang berbincang-bincang. Mungkin sedang membahas tentang pertunangan anak-anak.


Dan Renold juga berada disudut lain ruangan yang terlihat sibuk dengan tablet ditangannya. Mungkin mengurus masalah pekerjaan.


"Kenapa Len? Kenapa lo mau tunangan sama gue?". Tanya Louis sekali lagi.


"Perlu gua jawab pertanyaan lu?


"Jawab aja Allena.


Allena tak menggubris. Gadis itu beranjak dari kursi dan mulai melangkahkan kakinya.


"Gue tau sebenarnya lo nggak mau tunangan sama gue". Seru Louis membuat Allena menghentikan langkahnya lalu kembali berbalik kearah Louis.


"Jadi lu mau apa? Ngebatalin pertunangan ini? Emang bisa? Gua nolak sekalipun, pertunangan ini akan tetap terjadi. Lu nggak usah muna, lu sendiri sukakan dengan pertunangan ini!?". Meskipun berbicara seperti itu, Allena masih bisa memasang tampang datarnya seperti tak mengkhawatirkan apa-apa.


"Sorry Len! Gue emang berharap banget sama pertunangan kita ini". Ucap Louis gamblang.


"Itu lu akuin sendiri. Jadi lu nggak usah sok minta maaf". Setelah berbicara seperti itu Allena langsung kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana para orang tua berada.


"Pah, udah selesai belum? Allena mau pulang sekarang!". Ucap Allena ke Papah Robert.


"Loh pulang bagaimana maksud kamu Allena? Kita semua tidak akan pulang, kita semua akan menginap disini malam ini". Ucap Papah Robert memberi tahu.


Allena sedikit menautkan alisnya mendengar perkataan Papahnya. Sedetik kemudian Allena kembali memasang muka datarnya.


"Kalau gitu dimana kamar Allena? Allena lelah, mau istirahat". Ucap Allena kemudian.


"Sebentar Papah telfon asisten Papah dulu". Papah Robert kemudian menelpon asisten pribadinya.


Tidak sampai dua menit asisten pribadi Papah Robert datang.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?". Tanya asisten pribadi itu.


"Tolong kamu antar Allena anak saya ke kamarnya. Sudah selesai semua kan?". Ucap Papah Robert memerintah.


"Iya Tuan. Semua sudah saya kerjakan sesuai perintah dari Tuan". Jawab asisten pribadi itu dengan lugasnya.


"Bagus! Kalau begitu kamu antar anak saya ke kamarnya sekarang!


"Baik Tuan!". Ucap asiten pribadi itu sambil menunduk dihadapan Papah Robert.


Asisten pribadi tersebut kemudian beralih kearah Allena, "Mari Nona Muda saya antarkan ke kamar Nona Muda!". Asisten pribadi tersebut kemudian berjalan terlebih dahulu sembari menengadahkan tangannya keatas sebatas pinggang. Ala-ala seperti asisten kerajaan gitu.


Allena kemudian berjalan mengikuti asisten pribadi Papahnya itu.


Selama diperjalanan menuju kamarnya, banyak sekali para pekerja yang menunduk padanya setiap kali Allena lewat.


Allena tak menyangka ternyata seberpengaruh itukah Papahnya itu. Sampai orang-orang saja semua tunduk pada kekuasaan yang dimiliki oleh Papahnya.


Allena terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang pekerja itu.


Hingga kini Allena sudah sampai didepan pintu kamar bernuansa coklat akrilik bernomor itu.


Asisten pribadi itu mengeluarkan kartu tanda pengenal yang kemudian dia gunakan untuk membuka pintu kamar itu.


TIIT!!


Pintu terbuka otomatis.


"Silahkan masuk Nona Muda! Ini kartu kamar milik Nona Muda". Ucap asisten pribadi itu sembari memberikan kartu tadi kepada Allena.


Allena menerimanya dan langsung masuk kedalam kamarnya tanpa berbicara apapun lalu menutup pintu begitu saja.


Sementara asisten pribadi tadi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Nona Mudanya itu.


Allena kini sudah berbaring diatas ranjang kamar hotel itu.


Tangannya kemudian meraih ponselnya yang dia letakkan disamping lalu memeriksanya.


Matanya tertuju kearah foto yang dijadikannya wallpaper ponselnya.


Gadis itu memandanginya sesaat lalu menghela nafas.


Allena kemudian memeriksa panggilan dan juga pesan yang masuk diponselnya yang ternyata dari grub whatsapp dan juga panggilan tersebut dari Zee.


Tau sendirilah ya Zee rempongnya seperti apa. Sampai 57 panggilan loh dia telfon Allena.


Akan tetapi Allena tak berniat sekalipun membalas pesan atau menelfon balik. Gadis itu kemudian mematikan ponselnya dan mulai memejamkan matanya.


Tidak membutuhkan waktu lama Allena sudah berada di alam mimpinya. Gadis itu tertidur.


__ADS_1


__ADS_2