
Keesokan harinya karena hari ini adalah hari senin maka akan dilaksanakan yang namanya upacara bendera.
Sementara Allena, gadis itu tidak mengikuti upacara bendera dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di UKS, berbaring santai di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
BRAKK!
Pintu UKS terbuka dan seorang cowok terlihat berjalan mendekati Allena yang tengah berbaring santai di atas ranjang.
"Kenapa? Lo sakit?". Tanya cowok itu pada Allena.
"Nggak, gua sehat-sehat aja dari tadi". Jawab Allena sambil tetap fokus dengan ponselnya.
Cowok itu menghela nafas lega, "Hahh.. kirain lo sakit Len, bagus deh kalau lo nggak kenapa-napa". Ucap cowok yang ternyata tunangan Allena itu, Louis, "Terus kenapa nggak ikut upacara?". Tanyanya lagi.
"Nggak mau. Males?". Jawab Allena tetap fokus dengan ponselnya tak berniat mengalihkan pandangannya.
"Oohh gitu". Louis manggut-manggut, "Yaudah deh kalau gitu gue juga nggak mau ikut upacara.
"Kenapa?". Tanya Allena yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah Louis.
"Males!". Jawab Louis dengan terkekeh.
Allena mendelik sinis, "Dih, sok banget sih lu". Sinisnya.
"Suka suka gue dong! Emang lo aja yang boleh". Cetus Louis masih terkekeh.
"Terserah!". Balas Allena malas berdebat. Kemudian kembali fokus dengan ponselnya.
Sementara Louis hanya tersenyum melihat reaksi Allena.
Tiba-tiba...
"ALLENA!". Seru seorang pria yang muncul dari balik pintu dan langsung memandangi Allena dan Louis bergantian dengan tampang datarnya.
Aziel! Cowok itu kemudian berjalan menghampiri mereka berdua. Eh ralat, maksudnya hanya ingin menghampiri Allena yang tengah berada di atas ranjang.
"Kenapa Allen? Lu sakit?". Tanya Aziel sembari memandangi Allena.
"Allena nggak sakit. Kalaupun Allena sakit, gue yang bakal ngerawat dia sampai sembuh". Bukan Allena yang menjawab melainkan Louis dengan nada sedikit ketus.
Aziel mendelik, "Gua nggak nanya ama lu". Sahut Aziel yang juga ikutan ketus.
Louis berdecak, "Ck, lagian ngapain sih lo disini?". Ketusnya.
Louis tentu saja tak senang karena adanya Aziel disana. Menurutnya Aziel terlalu mengganggu waktu berduaannya dengan Allena.
"Kenapa? Lu ada masalah ama gua?". Sahut Aziel mencebik.
"Yaiyalah, lo jelas pengganggu disini. Ganggu waktu gue berduaan sama Allena tau nggak". Cetus Louis sinis.
"Songong banget lu! Lu pikir lu siapa ha? Belagu banget". Umpat Aziel.
"Kamu nanya aku siapa?". Ejek Louis mencebikan bibirnya, "Eh, lo dengerin ya! Gue disini sebagai tunangannya Allena, jadi gue yang lebih berhak sama Allena. Bukan lo!
"Emang belagu lu ya, baru juga tunangan belum nikah. Lagian lu tunangan sama Allena karna terpaksa kan? Iyakan?". Tantang Aziel.
"Tapi udah kebuktikan siapa yang lebih berhak atas Allena. Gue tunangannya, sementara lo apa? Nggak ada hubungan apapun sama sekali dengan Allena. Lagian Allena sendiri juga udah minta lo untuk jauhin dia kan, kenapa masih juga lo deketin Allena? Nggak punya malu lo?". Cibir Louis.
Aziel berdengus lucu mendengar perkataan Louis, "Huh jauhin gua? Jelas lu yang nyuruh-nyuruh Allena untuk nggak berhubungan lagi ama gua. Nggak usah munafik lu!". Balas Aziel tak mau kalah.
Louis tersenyum meremehkan, "Tapi udah jelas, disini gue yang jadi tunangan Allena, sementara lo bukan apa-apa. Mending lo pergi dari sini! Dasar pengganggu!
Aziel mulai emosi dengan perkataan Louis. Kedua tangannya mengepal kuat. Tidak berselang lama Aziel langsung menarik kerah seragam Louis.
"Banyak bacot lu! Nantangin gua lu? Nyari ribut ama gua ha?". Sentak Aziel yang sudah memberikan tatapan tajam ke arah Louis.
"Sini gue jabanin dah! Lo kira gue takut sama lo". Sahut Louis berani.
Allena yang sedari tadi menonton perdebatan kedua cowok itu mulai jengah. Selalu saja berdebat.
"STOP STOP! BERHENTI KALIAN BERDUA!". Allena beranjak lalu melerai kedua cowok itu, "LU BERDUA KENAPA SIH DEBAT TERUS? CAPE GUA DENGERINNYA TAU NGGAK.
Allena kemudian menoleh pada Aziel, "Sekarang lu lepasin Louis, atau lu nggak bakal lihat gua lagi di dunia ini". Ucap Allena semi mengancam.
Aziel yang mendengar itu langsung melirik Allena, dan segera melepaskan cengkramannya di kerah seragam Louis.
"Kenapa lu ngomong kaya gitu Allena? Maksud lu apa?". Sentak Aziel menatap tajam Allena.
"Maksud gua kalian jangan berantem terus, bisa? Gua cape lihat kalian bertengkar terus". Ucap Allena yang kesal.
__ADS_1
Allena kemudian beralih pada Aziel, "Kalau nggak lu pergi aja deh dari sini". Ucap Allena bermaksud mengusir Aziel.
"Noh pergi noh, mending lo pergi aja emang dari sini". Imbuh Louis yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Aziel.
"Lu juga Louis". Sentak Allena beralih pada Louis, "Kalau lu juga nggak berhenti ngomong terus, lu juga pergi dari sini kalau gitu.
Louis langsung berhenti berbicara. Dari pada kena usirkan.
Sedang Aziel terlihat mengepalkan kedua tangannya, "Nggak!". Sahut Aziel, "Gua nggak akan pergi dari sini. Ini UKS, dan siapa pun berhak ada disini". Tekannya.
Aziel kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang yang lainnya dan berbaring disana dengan memunggungi Allena dan Louis. Dia tidak akan pergi dari ruangan itu, apa lagi meniggalkan Allena berduaan bersama Louis.
Sedang Allena yang melihat Aziel, hanya memandangi punggung cowok itu dengan tampang datarnya.
Allena juga kemudian beranjak kembali ke ranjang yang ditempatinya tadi, lalu berbaring juga dengan memunggungi Aziel.
Sedang Louis yang melihat Allena berbaring, mulai beranjak untuk mengambil kursi di sudut dekat lemari, lalu membawanya dan meletakannya di samping ranjang yang ditempati Allena, kemudian duduk di kursi itu dengan menghadap Allena.
"Ngapain lu lihatin gua kaya gitu?". Ucap Allena pada Louis yang duduk di samping ranjang yang ditempatinya.
"Kenapa? Emang salah kalau gue lihatin tunangan sendiri". Sahut Louis.
Allena hanya berdecak mendengar perkataan Louis, lalu bergerak beranjak tidur telentang tak menghadap Louis lagi, lalu memakai selimutnya dan mulai memejamkan matanya.
Sedang Louis yang melihat Allena seperti itu hanya berdengus lucu. Louis kemudian terlihat merogoh saku almamaternya untuk mengambil ponselnya, lalu menggunakannya untuk bermain game disana.
Sedang Aziel masih setia dengan posisinya sambil terlihat memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Hingga akhirnya ketiga orang itu berakhir dalam satu ruangan bersama.
...******...
Sudah sekitar 10 menit yang lalu upacara bendera selesai, dan saat ini ketiga orang itu tengah berjalan bersama untuk menuju kelas masing-masing.
"Ngapain sih lu ikutin gue sama Allena dari tadi?". Sentak Louis ke arah Aziel.
"He to*lol jelas-jelas kelas kita bertiga itu satu arah, sama-sama di lantai dua. Ya nggak salah dong kalau kita bertiga jalannya itu barengan". Sahut Aziel.
"Alahh alasan aja lo. Bilang aja lo mau gangguin gue sama Allena. Iya kan?". Cetus Louis menatap sinis Aziel.
"Emang beneran to*lol nih bocah!". Semprot Aziel, " Lagian gua kasih tau ke lu ya, kalaupun gua ngikutin, ya gua ngikutin Allena lah bukan lu. Ngapain gua ngikutin orang songong kaya lu? Udah songong belagu lagi. Ujung-ujungnya kalau adu jotos ama gua tetep lu juga yang kalah". Cibir Aziel tak mau kalah.
Dengan perasaan yang geram Allena mulai mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, lalu memejamkan matanya sambil menghela nafasnya dalam.
"AAKKHH LU BERDUA BISA DIEM NGGAK SIH! SAKIT KUPING GUA PARA BANG*SAT GILA!". Maki Allena yang langsung menghentikan langkahnya membuat kedua cowok itu juga ikut menghentikan langkah.
"LU BERDUA KALAU NGGAK BERHENTI NGOMONG JUGA, BAKAL GUA LAKBAN SEKARANG MULUT LU BEDUA!". Sambungnya lagi sambil menatap garang kedua cowok itu secara bergantian.
Tanpa berlama-lama lagi Allena langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan kedua cowok itu, "Aghhh bisa gila gua lama-lama!". Umpatnya kesal.
Sementara Aziel dan Louis yang melihat Allena pergi malah kembali melanjutkan perdebatan mereka.
"Gara-gara lu sih, Allena jadi pergi kan". Sentak Aziel mendorong Louis.
"Kok gue, ya lo lah. Siapa suruh lo jadi pengganggu diantara gue sama Allena". Balas Louis juga mendorong balik Aziel.
"Jelas-jelas yang jadi pengganggu disini itu lu". Sahut Aziel sembari menunjuk wajah Louis.
"Nggak usah lo nunjuk-nunjuk gue". Cetus Louis menepis jari Aziel di depan wajahnya, "Biar gue perjelas lagi ya sama lo, Allena itu tunangan gue dan gue tunangannya Allena. Jadi yang lebih berhak atas Allena disini itu gue bukan lo pengganggu.
Sedang kedua cowok itu masih saja berdebat, Allena yang tengah berjalan menuju kelasnya tiba-tiba saja dihadang sama Regina yang entah dari mana datangnya.
"He, gue tanya sama lo, mana Aziel?". Sentak Regina dengan tatapan garangnya.
Allena menatap datar Regina, "Nggak tau". Jawabnya cuek, lalu ingin kembali melanjutkan langkahnya.
Namun dengan cepat Regina mencegat Allena dengan mendorong Allena hingga termundur ke belakang.
"Gue tanya! Mana Aziel?". Sentak Regina lagi.
"Ya gua nggak tau! Ngapain lu nanya gua?". Sahut Allena ketus.
"Nggak tau lo bilang. Jelas-jelas tadi Aziel nggak ikut upacara karena nyamperin lo ke UKS. Lo kan yang udah ngehasut Aziel biar dia nggak ikut upacara?". Tuduh Regina pada Allena.
Allena seketika mengerutkan alisnya, "Lu ngomong apa? Lu nuduh gua?
"Iya! Kenapa? Emang benerkan yang gue omongin. Lo itu terkenal dengan suka bolos. Pasti lo udah ngehasut Aziel kan biar dia jadi suka bolos kaya lo". Cibir Regina tak tanggung-tanggung.
__ADS_1
Mendengar perkataan Regina yang seolah memojokannya, membuat Allena seketika langsung meradang. Bisa-bisanya Regina sembarangan mengatai dirinya. Kalau bolos iya, emang bener Allena suka bolos. Tapi kalau untuk menghasut orang lain, mana pernah Allena melakukan itu.
Dengan tangan yang terkepal dan tatapan yang begitu menohok, Allena perlahan mendekati Regina.
"Lu...
Belum sempat Allena melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Aziel dan Louis datang dari arah belakang dengan berlarian menghampiri.
Setibanya di dekat Allena, kedua cowok itu langsung berjongkok bertumpu dengan kedua tangan di lutut ngos-ngosan.
Penampilan keduanya bahkan terlihat berantakan dengan rambut yang sudah acak-acakan bahkan almamater keduanya juga sudah kusut dan seragam yang sudah keluar dari dalam celana mereka. Sepertinya kedua pria itu sudah selesai dari habis baku hantam.
Meskipun begitu keduanya masih terlihat tampan. Bahkan bertambah lebih tampan lagi woyy kaya bad boy-bad boy gitu. Aaakhh!!๐ฑ๐ฑ๐ฑ
Apalagi Aziel yaampun nggak bisa didefinisikan lagi deh. Author juga bingung gimana cara ngedefinisiin laki-laki satu ini. Nggak bisa berword-word lagi pokonya dah ah(Tapi sayang kalau sama Allena suka nafsuan๐๐)
"AZIEL!". Pekik Regina tiba-tiba yang langsung menghampiri Aziel dan memeluk lengan cowok itu dengan manja. "Aziel, gue nyariin lo dari tadi juga. Lo kemana sih?
"Ck, ini apaan sih? Lepasin!". Cetus Aziel berdecak geli melihat tingkah Regina padanya.
"Aaaa.. nggak mau Aziel!". Cicit Regina semakin bermanja-manja.
Namun bagi yang melihatnya pasti akan merasa sangat geli sekaligus jijik dengan tingkah Regina saat ini.
Allena yang mmelihatnya hanya memandangi kedua orang itu dengan tampang datarnya. Tidak berselang lama Allena mulai melangkahkan kakinya dari sana.
"ALLENA TUNGGU!
...******...
Jam istirahat sudah berlangsung 10 menit yang lalu. Saat ini Zee tengah berjalan menuju perpustakaan.
Cewek itu ingin menyelesaikan semua tugasnya yang tertinggal selama waktu dulu dia tidak masuk sekolah dulu.
Meskipun Zee tidak mengingat semuanya. Cewek itu tetap bertanya pada guru pelajaran apa saja yang pernah dia tertinggal dulu. Dan guru-guru dengan senang hati ikut membantu Zee untuk menyelesaikan tugas-tugasnya itu.
Zee juga merasa dia hanya ingin menjadi murid seperti pada umumnya yang bersekolah dengan benar dan baik dan mengikuti semua pelajaran dengan sebaik mungkin.
Mungkin Zee tidak mengingat apapun tentang hidupnya selama ini. Tapi bagaimanapun akalnya masih berjalan dan masih berpikir untuk mengikuti semuanya seperti air mengalir. Selama itu membuat dirinya tidak merasa terganggu dan tidak terbebani dengan semuanya.
Saat sedang berjalan sendirian di lorong sekolah itu, Zee tiba-tiba saja berpapasan dengan Setya yang kebetulan jalan berlawanan arah dengannya.
Zee dengan tampang ekspersi datarnya tak menghiraukan Setya dan tetap melanjutkan langkahnya sampai melewati cowok itu.
"Mau kemana?". Tiba-tiba saja seruan Setya itu berhasil membuat Zee menghentikan langkahnya dan langsung berbalik.
"Kamu ngomong sama saya?". Tanya Zee saat Setya sudah berbalik padanya.
"Iya". Sahut Setya dengan tersenyum manis.
"Ada apa?
Setya kemudian terlihat berjalan menghampiri Zee membuat cewek itu sedikit mengerutkan alisnya.
"Lo mau kemana? Biar gue temenin!". Ucap Setya kemudian.
Zee menggeleng cepat, "Tidak usah". Jawabnya.
"Kenapa? Apa gue sebegitu menyeramkan sampai lo nggak mau gue temenin?". Ucap Setya terkekeh.
"Tidak.
"Terus kenapa?
"Saya hanya tidak merasa nyaman saja. Kamu terlalu begitu dekat dengan saya. Tapi saya merasa tidak kenal dengan kamu". Jawab Zee kemudian.
Setya hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Zee, namun tangan kanannya terlihat terkepal.
"Gue temen lo". Ucap Setya.
"Teman?". Zee mengerutkan alisnya, "Kamu selalu mengatakan bahwa kamu dan saya itu berteman, tapi kenapa saya merasa malah sebaliknya. Saya malah merasa kamu dan saya itu benar-benar tidak berteman dan tidak pernah dekat sama sekali". Ucapnya.
Zee kemudian melirik ke belakang Setya seperti ada yang menghampiri.
"Ah iya, lebih baik saya pergi sekarang. Sepertinya ada yang mencarimu". Setelah berbicara seperti itu, Zee kemudian berbalik dan langsung melenggang pergi dari sana.
Sementara Setya hanya bisa memandangi Zee yang mulai berjalan pergi dari sana dengan tangan kanan yang sedari tadi terus mengepal.
'Gue nggak nyangka kita bisa sampai kaya gini'.
__ADS_1
"MY BABY SETYAAAA!!!