
"Udah? Udah lo bilang? Parah lo Len". Ucap Louis heran pada Allena.
"Lo nggak tau betapa khawatirnya gue. Betapa khawatirnya Tante Tiara saat tau lo udah nggak sama gue. Kalau sampe lo kenapa-napa gimana? Kalo lo diculik gimana? Kalau sampe juga Om Robert sama Kak Renold tau lo ilangnya ama gue gimana? Bisa habis gue Len. Lo kok malah gitu sih tanggapinnya? Nggak habis pik...". Ucap Louis terhenti.
"Lu bisa diam nggak sih? Berisik tau nggak". Ucap Allena tiba-tiba.
"Lu udah lihatkan gua nggak kenapa-napa? Gua juga masih ada disini". Ucap Allena lagi.
"Iya sih Len. Tapikan gue...". Ucap Louis terhenti lagi.
"Udah! Mending lu balik dah. Lu udah lihatkan gua nggak kenapa-napa. Sekarang lu pergi sana". Usir Allena.
"Astaga Len. Tega lu ama gue. Gue udah bela-belain datang kesini juga". Ucap Louis dengan nada belas kasihan.
"Yang suruh lu datang kesini siapa? Nggak adakan. Mending lu balik sekarang. Berisik tau nggak". Ketus Allena.
"Iya iya gue balik sekarang. Galak amat sih". Ucap Louis berdiri dari duduknya.
"Sana balik". Ucap Allena.
"Antarin kek sampe ke pintu gerbang". Ucap Louis.
"Huff... Yaudah jalan sana". Ucap Allena beranjak dari duduknya dan menghampiri Louis.
"Nahh! Gitu dong". Ucap Louis senang.
Mereka berdua pun segera berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Mereka lalu keluar dari gerbang sekolah. Louis kemudian segera berjalan menuju mobilnya yang terparkir didepan gerbang sekolah tersebut. Louis lalu masuk ke dalam mobilnya.
"Udah balik sono". Ucap Allena.
"Iya gue balik. Sabar napa. Belum juga dinyalain mobilnya". Ucap Louis dari dalam mobil. Louis kemudian menyalakan mesin mobilnya.
"Gue duluan ya Len. Dahh!! Lo jangan rindu ya ama gue". Ucap Louis menjalankan mobilnya.
"Dihh..". Gumam Allena.
Louis pun pergi dari sekolah tersebut dengan menaiki mobilnya. Tidak lama kemudian Allena pun juga segera masuk kembali ke dalam sekolah.
Aziel yang sedari tadi memperhatikan segera menghampiri gadis tersebut saat Allena sedang berjalan sendirian.
"Allena". Cegat Aziel dihadapan Allena.
Allena yang tiba-tiba dicegat seketika menghentikan langkahnya. Allena kemudian melihat siapa yang telah menahannya.
Mengetahui Aziel yang ada dihadapannya membuat Allena mengingat kejadian itu. Kejadian dimana Aziel dan juga Alexa membicarakan dirinya.
Mengingat itu membuat Allena marah. Gadis itu kemudian memandang sinis Aziel. Tidak berapa lama Allena langsung beranjak pergi meniggalkan Aziel.
Mendapati reaksi Allena yang seperti itu membuat Aziel kebingungan. Aziel lalu segera menyusul Allena dan kembali mencegat langkah Allena.
"Allena tunggu! Ada yang pengen gua omongin ama lu". Ucap Aziel dihadapan Allena.
Allena tak menggubris. Gadis itu hanya memandang datar Aziel. Beberapa detik Allena kembali melangkahkan kakinya. Aziel kemudian dengan cepat meraih lengan Allena.
"Lu kenapa sih Len? Kenapa lu jadi gini lagi ama gua?". Tanya Aziel bingung dengan sikap Allena.
"Lu mending jauh-jauh ama gua. Benci tau nggak gua ama lu". Umpat Allena menepis tangan Aziel sambil memandang Aziel emosi.
Allena kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Aziel tanpa mempedulikan Aziel yang kebingungan dengan sikap Allena padanya.
Aziel yang mendengar itu hanya mampu berdiri melihat Allena yang mulai bergerak jauh. Ada rasa sedikit sakit dihatinya yang dirasakan oleh Aziel saat mendengar perkataan Allena bahwa Allena membenci dirinya.
Tidak berapa lama Aziel lalu segera melangkahkan kakinya beranjak pergi dari tempat tersebut dalam keadaan bingung dengan apa yang dirasakannya.
Kring.. Kring.. Kring..
Jam istirahat berbunyi. Zee saat ini sedang berjalan sendiri menuju kantin. Tanpa sengaja Zee berpapasan dengan Setya dan juga Hera yang juga kebetulan ingin ke kantin.
"Lo mau ke kantin ya?". Tanya Setya tiba-tiba pada Zee.
__ADS_1
"Iya Kak. Kalau gitu saya duluan ya Kak". Ucap Zee kembali melanjutkan jalannya.
"Eh tunggu". Seru Setya pada Zee. Namun Zee tak mendengar dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Lepasin nggak tangan gue. Lo apaan sih dekat-dekat mulu ama gue? Pacar juga bukan. Nempel mulu lo". Celoteh Setya tiba-tiba pada Hera sambil menepis tangan Hera yang sedari tadi menggandengnya.
"Loh.. Kak Setya mau kemana? Jangan bilang Kak Setya mau nyusul si cewek bar-bar itu?". Tanya Hera.
"Apa urusannya ama lo? Suka-suka gue lah mau ngapain. Minggir sana!". Ucap Setya sambil berlari meninggalkan Hera.
"Aaa... Kak Setya!! Kok gitu sih sama Hera. Jangan ninggalin Hera dong". Teriak Hera dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Iiishh Kak Setya. Jahat banget sih sama gue. Ngapain sih dia pake nyusulin si cewek bar-bar itu". Umpat Hera kesal.
"Hah..!! Jangan-jangan Kak Setya suka lagi ama si cewek bar-bar itu". Ucap Hera dengan nada kaget sambil membulatkan matanya.
"Nggak! Nggak bisa! Ini nggak bisa gue biarin. Kak Setya nggak boleh suka sama si cewek bar-bar itu. Kak Setya itu cuman bolehnya sama gue". Ucap Hera.
"Kalo sampe si cewek bar-bar itu ngerebut Kak Setya dari gue. Awas aja tu cewek bar-bar". Celoteh Hera lagi.
Hera kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut dengan wajah masamnya.
Sementara Setya, lelaki itu berhasil menyusul Zee dan segara berjalan berdampingan dengan Zee.
"Eh. Kak Setya ngapain disini? Cewek kecentilan itu mana? Tadi lagi sama-sama Kak Setya kan?". Tanya Zee pada Setya sambil celingak celinguk.
"Hera maksud lo. Udah gue tinggalin tadi pas masih disana". Jawab Setya santai.
"Loh.. Kok Kak Setya malah ninggalin dia. Kenapa?". Tanya Zee kebingungan.
"Udah.. Nggak usah urusin tu cewek. Ngomong-ngomong lo mau ke kantin kan?". Tanya Setya.
"Iya. Kenapa emangnya?". Tanya Zee.
"Kalo gitu kita sama-sama aja ke kantinnya". Ucap Setya sambil tersenyum.
"Umm... Ngomong-ngomong gue kan belum tau nama lo nih. Sedangkan lo udah tau nama gue". Ucap Setya.
Saat ini mereka mengobrol sambil tetap terus berjalan menuju kantin.
"Nama saya Zee Kak". Jawab Zee.
"Ooh.. Oke oke. Salam kenal ya Zee". Ucap Setya.
"Iya. Salam kenal juga". Balas Zee.
Zee yang sedari tadi merasakan debaran dihatinya dengan sangat berusaha mencoba menetralkan dan menenangkan dirinya. Zee tak menyangka bisa sedekat ini dengan pria yang disukainya.
Namun dia sedari tadi mencoba untuk bersikap sok cool dan tenang. Dia tidak ingin Setya sampai ilfil kepadanya.
Mereka berdua kemudian lanjut mengobrol sambil jalan. Tanpa sadar mereka telah sampai di kantin sekolah. Mereka berdua lalu masuk ke dalam kantin tersebut.
...*****...
Jam telah menunjukkan waktu usai sekolah. Anak-anak SMAN Nasional mulai berhamburan keluar kelas. Nampak Allena keluar paling akhir dari dalam kelasnya setelah yang lain telah pergi.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik lengan Allena. Sontak Allena menengok ke belakang, dan Allena mendapati Aziel yang kini tengah berdiri dibelakangnya sambil menggenggam pergelangan tangannya.
"Allena! Gua mau ngomong sesuatu ama lu. Penting!". Ucap Aziel sambil memandang Allena.
"Apaan sih? Lepasin tangan gua. Gua nggak mau". Ketus Allena sambil menepis tangan Aziel.
"Gua mau ngomong Allena. Penting! Lu bisa nggak dengerin dulu apa yang pengen gua omongin. Lu tu kenapa sih batu banget jadi cewek?". Celoteh Aziel.
"Ya gua nggak mau. Lu ngerti nggak. Gua tu nggak mau ngomong ama lu. Maksa mulu dah". Ucap Allena sensi.
"Lu tu batu banget ya. Jangan salahin gua ya Allena kalo sampai gua pake cara kekerasan buat bawa lu. Lu bisa kan nurut?". Ucap Aziel yang mulai terpancing emosinya.
"Dih.. Lu siapa maksa-maksa gua? Sok sokan pake acara kekerasan segala". Sinis Allena.
__ADS_1
"Lu tu ya. Ikut gua sekarang!". Ucap Aziel sambil menarik lengan Allena kuat.
"Gua nggak mau. Lepasin nggak tangan gua. Lu tu gila ya". Umpat Allena sambil berusaha memberontak dan melepaskan cengkraman Aziel, tapi Allena tak bisa. Aziel begitu kuat menggenggam Allena.
Aziel lalu menarik kuat Allena dan kembali membawa Allena masuk ke dalam kelas Allena. Lelaki itu menghepas Allena ke dalam dan dengan cepat bergegas mengunci pintu.
"Woy.. Ngapain lu kunci pintu. Gua mau keluar. Buka nggak!". Ucap Allena sambil mendorong Aziel.
Allena kemudian dengan segera menuju pintu dan mencoba membuka handel pintu. Namun tiba-tiba lengan Allena ditarik ke belakang oleh Aziel. Lelaki itu kemudian mendorong Allena ke belakang.
Aziel lalu kembali mengunci pintu ditambah dengan beberapa grendel pada bagian sisi lain dari pintu tersebut.
"Lu buka nggak pintunya. Kalo lu nggak mau buka-juga. Gua bakal teriak". Ancam Allena.
"Silahkan. Lu teriak aja. Coba lu pikir!! Kalo lu sampe teriak dan suara lu kedengaran sama orang-orang diluar. Terus mereka ke sini dan bakalan lihat kita berdua didalam sini. Apa yang bakal orang-orang itu pikirin? Pasti mereka mikirnya kita udah ngelakuin hal yang nggak-nggak". Ucap Aziel sambil tersenyum miring.
"Lu nggak mau kan orang-orang kesini dan lihat kita cuman berdua di dalam sini? Jadi mending lu nurut aja ama gua". Ucap Aziel lagi sambil memandangi Allena.
"Gua nggak peduli. Intinya gua cuman mau keluar dari dalam sini". Tangkas Allena.
"Tolong tolong!! Tol.... Mm.. Mm...". Teriak Allena tiba-tiba terhenti dengan Aziel yang segera berlari menghampiri Allena lalu merengkuh tubuh Allena dan menutup mulut Allena dengan telapak tangannya.
"Lu gila ya Allena. Ngapain lu pake teriak beneran sih? Lu mau ada orang lain tau kita cuman berdua di dalam sini?". Celoteh Aziel kaget dengan apa yang dilakukan oleh Allena.
Gadis itu benar-benar akan membuat masalah jika berani berteriak seperti itu lagi pikir Aziel. Lelaki itu kemudian melepaskan tangannya dari bibir Allena. Aziel kemudian memandangi wajah Allena.
"Gua nggak peduli. Gua pengen keluar dari dalam sini. Gua nggak mau lama-lama sama lu di ruangan ini. Lepasin nggak". Teriak Allena sambil berusaha melepaskan rengkuhan Aziel dipinggangnya.
"Lu bisa diem nggak sih? Nurut aja bisa kan. Batu banget lu dibilangin". Ucap Aziel sambil kembali menutup mulut Allena.
"Kalo lu nggak diam gua bisa-bisa nggak nahan untuk cium lu lagi". Ucap Aziel lagi sambil memandang Allena.
Mendengar hal itu Allena tiba-tiba menatap kaget Aziel. Gadis itu langsung diam dan tidak memberontak lagi.
Merasa Allena sudah tidak memberontak dan tenang, Aziel lalu melepaskan pelukannya dan juga tangannya dari mulut Allena. Aziel lalu memberikan sedikit jarak antara dirinyaa dan Allena.
"Gitu kek dari tadi. Biar cepat kelar urusannya. Lu make ngelawan mulu gua segala". Celoteh Aziel pada Allena.
"Ck.. Yaudah lu mau ngomong apaan sih? Ngomong sekarang cepetan". Ketus Allena.
"Gua mau nanya! Cowo yang tadi sama lu itu siapa? Kayaknya tu cowok bukan dari sekolahan sini". Tanya Aziel.
"Apa urusannya ama lu? Emang lu harus tau cowok itu siapanya gua?". Ucap Allena jutek.
Aziel tak membalas pernyataan Allena. Lelaki itu hanya memandang Allena dengan penuh tanda tanya. Allena tak menjawab pertanyaan Aziel, malah Allena balik bertanya. Dan itu membuat Aziel semakin penasaran dengan laki-laki yang tadi bersama Allena. Ada hubungan apa Allena dengan Louis??.
"Dihh.. Itu aja yang mo lu tanyain? Nggak penting amat". Ucap Allena beranjak dari tempatnya dan berlalu pergi menuju pintu.
"Allena tunggu!!". Seru Aziel tiba-tiba.
Allena yang mendengar Aziel memanggilnya hanya memutar bolah matanya jengah. Aziel benar-benar ingin membuatnya marah. Allena kemudian menarik nafas panjang.
"Huff... Apa lagi sih?". Ucap Allena jengah sambil membalikan badannya ke belakang.
Saat Allena berbalik ke belakang, tiba-tiba Aziel sudah berada dihadapan Allena. Lelaki itu langsung menarik lengan dan juga tengkuk Allena lalu mencium bibir Allena dengan lembut.
Allena yang kaget hanya mampu membulatkan matanya. Allena seketika sadar dan berusaha mendorong Aziel.
"Umhh...". Cicit Allena sambil mencoba mendorong Aziel.
Namun Aziel segera menahan pergerakan Allena dengan meraih pinggang Allena dan memeluk erat Allena serta menahan tengkuk Allena dengan tangan yang satunya. Aziel lalu menarik tengkuk Allena dengan sedikit berjongkok memperdalam ciumannya pada gadis tersebut.
Allena sebisa mungkin melepaskan dirinya dari Aziel. Namun setiap Allena mencoba memberontak Aziel akan semakin menekan Allena kearah tubuh tegaknya dan memeluknya erat.
"Ummhh.. Um.. Le..ppphh..aashh..". Ucap Allena terbata mengambil nafas sambil mencoba menjauhkan wajahnya.
Namun Aziel kembali menarik tengkuk Allena dan mencium paksa Allena kembali. Di jila*tinya Aziel bibir Allena. Lalu mengulum bibir Allena dengan lembut. Aziel tampak menikmati permainan bibirnya pada bibir Allena.
Sementara Allena, gadis itu tak bisa bergerak dengan Aziel yang memeluknya sangat erat. Allena hampir kehabisan nafas akibat Aziel yang tak kunjung melepaskan pagutannya dibibir manis Allena.
__ADS_1
Setelah merasa cukup, Aziel kemudian melepaskan ciumannya dibibir Allena. Dipandanginya wajah Allena tanpa melepaskan pelukannya pada Allena. Nampak Allena mencoba menarik nafas panjang menghirup udara.
"Hah.. hah... hah.. Lu gila ya. Lu mau buat gua mati sekarang". Umpat Allena sambil memukul dada bidang Aziel. Gadis itu mencoba menarik nafas panjang kembali.