
Saat Alexa melihat Brayen tertawa, gadis itu langsung tersadar ternyata Brayen sedang mengerjai dirinya.
"Lo ngerjain gue ya? Iiihh...! Jahat banget sih lo jadi cowok. Kaget tau gue". Celoteh Alexa sambil memukul dada Brayen.
"Duh sakit tau Lex, lo mukul gue kek gitu. Udah ditolongin juga". Ucap Brayen disela-sela dia menggendong Alexa.
"Siapa suruh lo ngerjain gue? Gue kan kaget. Dasar cowok mesum! Turunin gue sekarang". Celoteh Alexa.
Brayen yang mendengar permintaan Alexa langsung saja menghempaskan Alexa dari gendongannya, sehingga membuat Alexa terjatuh kebawah.
"Aww..! Kok lo jatuhin gue sih? Sakit tau nggak. Aduh...!". Desis Alexa kesakitan.
"Lah.. Lo sendiri yang minta gue turunin kan. Yaudah gua turunin". Ucap Brayen merasa tak bersalah.
"Iya tapi nggak gitu juga kali. Jadi encok kan badan gue. Lo ikhlas nggak sih nolongin gue?". Ketus Alexa.
"Nggak usah lebay, nggak usah lebay. Gitu aja dilebay-lebay in". Ucap Brayen.
"Yee.. Lebay-lebay! Beneran sakit nih. Aduhh.. Sakit banget bokong gue". Desis Alexa kesakitan.
"Lo mau nolongin nggak sih? Nggak ada rasa empatinya banget jadi orang". Celoteh Alexa.
Brayen yang merasa kasihan pada Alexa lalu mencoba mengangkat Alexa.
"Iya iya gue bantuin. Sini! Bisa berdiri nggak lo?". Tanya Brayen sambil meraih lengan Alexa dan mengangkatnya.
"Bisa. Tapi pelan-pelan juga kali. Sakit nih". Celoteh Alexa sambil berdiri.
"Iya.. Alexaaa...! Bawel banget jadi cewek. Udah sini". Ucap Brayen sambil menarik lengan Alexa berjalan kearah motornya.
"Eh.. Tunggu-tunggu! Mobil gue gimana?". Ucap Alexa menunjuk mobilnya.
"Udah lo tenang aja. Entar gue suru orang bawain ke bengkel. Terus kalau udah selesai entar gue kasih tau lo. Oke Alexaaa..!". Ucap Brayen merasa gemas akan Alexa.
"Mmm... Yaudah kalau gitu antarin gue sekarang. Cepetan!". Ucap Alexa.
"Dih.. Nih cewek. Gue tinggal beneran lo. Udah naik. Keburu larut nih kita disini". Ucap Brayen.
Alexa kemudian naik keatas motor Brayen. Lelaki itu lalu menyalakan motornya dan pergi dari tempat tersebut bersama Alexa.
Ditempat lain, yaitu di apartemen Aziel, lelaki itu sedang tengah mondar-mandir terlihat seperti memikirkan sesuatu.
Aziel sedang bingung memikirkan dimana keberadaan Allena. Gadis itu pergi kemana? Itulah yang dipikirkan oleh Aziel. Dari pagi Aziel tidak juga berhenti memikirkan Allena. Laki-laki itu benar-benar kebingungan sekarang.
Aziel tiba-tiba kepikiran sesuatu. Dia tau harus berbuat apa. Lelaki itu langsung saja mengambil ponselnya diatas ranjangnya. Aziel kemudian mencoba menelfon Gamma. Karena dia tau Gamma adalah salah satu teman Allena. Lelaki itupun menelfon Gamma.
Terlihat Aziel sedang mengobrol dengan Gamma dari sebrang sana. Wajahnya serius seperti tengah menyimak pembicaraan. Sesekali dia kelihatan seperti tengah bertanya.
Selang beberapa menit Aziel selesai dan langsung mematikan ponselnya. Aziel telah selesai berbicara dengan Gamma.
Aziel lalu melempar ponselnya kesembarang arah. Laki-laki itu kemudian beranjak duduk diranjangnya sambil memijit-mijit pelipisnya.
Ternyata Aziel tak mendapatkan informasi apapun dari Gamma tentang keberadaan Allena. Lelaki itu semakin bingung.
Gamma tidak memberi tahu Aziel tentang keberadaan Allena karena Allena sendiri yang meminta untuk tidak memberi tahu siapapun. Pasalnya Gamma juga sudah berjanji pada Allena. Terpaksa Gamma berbohong pada Aziel dengan mengatakan bahwa Allena tidak memberitahukan keberadaannya dan nomornya juga tidak bisa dihubungi.
Aziel yang merasa tidak mendapatkan informasi apa-apa dari Gamma membuat lelaki itu marah dan kebingungan. Bagaimana caranya agar dia tau keberadaan Allena dimana?. Apa yang harus dia lakukan?.
Saat sedang kebingungan, Aziel tiba-tiba mengingat kejadian waktu itu. Kejadian dimana Setya berbicara padanya tentang Allena yang akan pergi.
Mengingat kejadian itu membuat Aziel makin frustasi. Benar saja saat ini Aziel tidak tau keberadaan Allena ada dimana. Aziel benar-benar ingin bertemu dengan Allena. Tetapi Aziel tidak mengetahui keberadaan gadis itu.
__ADS_1
New York, Amerika Serikat
Pagi ini Allena sedang sarapan bersama keluarganya. Papah Robert memang sengaja untuk tidak bekerja hari ini karena ada yang ingin dibicarakan bersama dengan Allena.
"Allena.. Papah hari ini tidak masuk kerja karena ada yang ingin Papah bicarakan sama kamu. Ini mengenai tentang perjodohan kamu. Sebentar malam Papah mengundang keluarga rekan bisnis Papah itu untuk...". Ucap Papah Robert terhenti.
BRAKK!!!
"Berapa kali sih Allena bilang sama Papah? Allena itu nggak mau dijodohin Pah. Tolong Papah jangan paksa Allena. Allena nggak mau". Bantah Allena.
"Allena.. Sudah berapa kali Kak Renold bilang. Jangan berteriak seperti itu jika kamu sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Apa lagi ini Papah. Kamu ini benar-benar sudah mulai kurang ajar ternyata". Tegur Kak Renold pada Allena adiknya.
"Kenapa? Emang Allena salah? Allena dari dulu sudah memang beginikan. Semenjak Papah ngehancurin impian Allena. Dan sekarang Papah main jodohin Allena aja. Papah selalu saja berbuat sesuai kehendaknya. Nggak pernah mau pikirin gimana perasaan Allena". Bentak Allena sambil berdiri dari duduknya.
Gadis itu langsung saja melangkahkan kakinya ingin pergi dari sana.
"Allena..! Kalau kamu selalu bersikap seperti itu, Papah akan benar-benar membuat kamu tidak pergi lagi ke Indonesia". Ancam Papah Robert.
Allena yang mendengar itu langsung mengehentikan langkahnya dan berbalik ke arah Papah Robert.
"Papah.. Jangan seperti itu pada Allena. Bukankah itu terlalu berlebihan? Bagaimana dengan sekolah Allena jika Papah berbuat seperti itu pada Allena". Ucap Mommy Tiara mencoba menenangkan suaminya.
"Allena bisa saja Papah pindahkan untuk bersekolah disini. Mamah tidak usah memikirkan tentang itu". Jelas Papah Robert.
Allena yang mendengar itu langsung menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Mamah nggak usah sok belain Allena seperti itu. Karena sampai kapanpun Mamah nggak akan pernah bisa mengubah semua keputusan Papah. Mamah akan selalu mengikuti kehendak Papah dan nggak akan pernah ngerti gimana perasaan Allena". Ucap Allena.
"Karena apa? Karena Papah sama Mamah sama aja. Kalian semua sama aja". Ucap Allena lagi sambil memberikan tatapan datar kepada mereka.
Allena lalu berbalik dan kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan ruang makan itu tanpa mempedulikan teriakan Papah Robert yang mulai marah.
Malam Hari Pukul 20.00
Saat Allena tengah memikirkan cara, tiba-tiba suara ketukan dari pintu kamarnya berhasil menyadarkan dirinya. Allena kemudian berjalan menuju kearah pintu kamarnya dan membukanya. Nampak Mommy Tiara berdiri dihadapan Allena.
"Sayang...! Kok kamu nggak siap-siap Nak? Tamunya udah datang loh". Ucap Mommy Tiara.
"Allena nggak mau ke bawah". Jawab Allena datar.
"Allena.. Sayang! Nggak boleh gitu. Tamunya udah nunggu dibawah". Ucap Mommy Tiara lembut.
"Allena bilang nggak mau ya nggak mau. Kenapa sih maksa banget jadi orang tua?". Ucap Allena ketus.
"ALLENA!!". Bentak Papah Robert yang muncul tiba-tiba.
Papah Robert langsung saja melangkahkan kakinya ke arah Mommy Tiara dan Allena. Dipandanginya Allena Papah Robert dengan ekspresi marah.
"Allena! Apa-apaan kamu ini? Berani sekali kamu berbicara seperti itu pada Mamah". Bentak Papah Robert.
"Dihh.. Siapa suru maksa-maksa Allena? Orang Allena nggak mau kebawah ko malah maksa". Celoteh Allena berani.
"Benar-benar yah kamu ini. Cepat kamu kebawah sekarang. Tamunya udah nunggu dari tadi". Ucap Papah Robert memerintah.
"Allena nggak mau. Suruh aja tamunya pulang. Ngapain sih pake datang kesini?". Ketus Allena.
"Allena.. Tidak baik kamu berbicara seperti itu. Cepat turun kebawah sekarang. Hargai tamu kita". Bentak Papah Robert yang emosi akan sikap Allena.
Allena yang mendengar bentakan Papahnya seketika terdiam. Gadis itu hanya memandang datar Papah Robert.
Allena kemudian berjalan melewati kedua orang tuanya menuju lantai bawah dengan dalam keadaan pasrah. Allena akan mengikuti perintah Papah Robert. Allena tidak tau lagi harus berbuat apa. Papah Robert sudah tidak bisa dibantah jika mulai serius. Maka dengan hati yang terpaksa Allena mengikuti keinginan Papah Robert.
__ADS_1
Saat Allena sudah dibawah tepatnya di ruang makan, Allena seketika kaget dan merasa heran dengan apa yang dilihatnya. Dilangkahkannya kakinya Allena untuk melihat lebih dekat dan juga memastikan para tamu yang ada dihadapannya saat ini.
"Hai Allena! Udah lama nih kita nggak ketemu. Apa kabar? Makin cantik aja lo sekarang". Seru tamu tersebut ketika menyadari kehadiran Allena.
"Allena.. Keponakannya Tante! Kamu sudah besar ya sekarang. Kamu juga tambah cantik". Timpal seorang perempuan yang ternyata adalah Tante Allena, Ibu dari laki-laki yang akan dijodohkan dengan Allena.
Perempuan tersebut menghampiri Allena dan mengelus rambut Allena sambil memperhatikan Allena dengan senyuman yang merekah.
Akan tetapi Allena tidak menggubris. Allena masih bingung dengan semua suasana yang dilihatnya saat ini.
"Ngapain lu disini? Terus semua ini apa? Jangan bilang lu yang dijodohin Papah buat gua. Nggak mungkin kan?". Tanya Allena tiba-tiba dengan ekspresi kebingungan.
"Ya nggak tau. Tanya aja sama Papah Robert". Ucap tamu tersebut berpura-pura tidak tau.
Tidak berapa lama kedua orang tua Allena datang. Allena yang melihat Papahnya langsung saja ingin meminta penjelasan pada Papah Robert.
"Pah.. Maksud Papah apa? Jangan bilang Papah ngejodohin Allena sama orang ini". Tanya Allena tiba-tiba pada Papah Robert sambil menunjuk laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.
"Kita duduk dulu Allena. Nanti Papah jelasin". Ucap Papah Robert seraya melangkahkan kakinya bersama Mommy Tiara menuju kursi masing-masing dan duduk disana.
"Sayang! Ayo duduk". Ucap Mommy Tiara pada Allena.
"Allena nggak mau. Sekarang Papah jelasin. Papah nggak ngejodohin Allena sama Louis kan?". Tanya Allena.
Benar saja, dihadapan Allena sekarang ada Louis dan kedua orang tua Louis. Ternyata orang yang dijodohkan dengan Allena adalah orang terdekat Allena.
"Yang benar aja Pah. Papah mau ngejodohin Allena sama Louis? Sepupu Allena sendiri? Papah kok tega banget sama Allena. Louis sama Allena kan sepupuan. Kok malah kita dijodohin. Allena nggak mau Pah. Pokoknya Allena nggak mau". Ucap Allena menolak.
Memang benar Allena dan Louis sepupu. Karena Kakek Allena dan juga Nenek Louis mereka berdua saling bersaudara. Akan tetapi, meskipun demikian Allena tetap tidak ingin dijodohkan dengan Louis. Apa lagi Allena tidak memiliki rasa sedikit pun kepada Louis.
"Allena.. Papah ngelakuin semua ini juga karena ada alasannya. Selain membuat hubungan dua keluarga semakin erat, perjodohan kalian berdua juga ini bisa menguntungkan bagi berjalannya bisnis usaha kita ini. Kamu mengerti kan apa maksud Papah Allena?". Jelas Papah Robert.
"Pekerjaan lagi Pah? Kenapa sih Papah lebih mentingin kerjaan Papah dari pada Allena. Papah tau nggak perasaan Allena kaya gimana? Papah udah ngehancurin impian Allena, Papah udah ngelarang Allena untuk tidak berhubungan dengan orang yang Allena suka, Papah ngelarang Allena untuk nggak pergi lagi ke Indonesia, dan Papah sekarang ngejodohin Allena sama sepupu Allena sendiri, yang bahkan Allena nggak miliki perasaan apapun sama Louis Pah. Papa kenapa sih seperti ini sama Allena?". Bantah Allena.
"Berhenti berbicara Allena! Berani sekali kamu berbicara seperti itu disaat waktu seperti ini. Sekarang bukan waktunya untuk saling berdebat. Sekarang kamu diam dan duduk ditempat kamu. Hargai tamu kita". Ucap Papah Robert tiba-tiba.
Allena kemudian berhenti berbicara dan hanya menatap datar semua yang ada disana. Allena tetap berdiri tidak berniat untuk ikut bergabung bersama mereka.
"Ayo Allena duduk! Tunggu apa lagi? Acara makan malamnya sudah mau dimulai". Ucap Papah Robert lagi.
"Allena nggak mau. Allena bakalan tetap menolak perjodohan sepihak ini". Ucap Allena seraya melangkahkan kakinya beranjak pergi dari sana.
"Allena tunggu! Mau kemana kamu. Papah akan...". Ucap Papah Robert terhenti.
"Udah Om biar Louis yang nyusul Allena. Om tenang aja. Nanti Louis coba ngomong sama Allena". Ucap Louis pada Papah Robert.
"Kalau gitu Louis susul Allena dulu. Papah sama Mamah juga tunggu disini sebentar". Ucap Louis beralih pada Papah dan Mamahnya.
Louis kemudian segera beranjak dari kursinya dan pergi menyusul Allena.
Saat ini Allena, gadis itu tengah duduk dikursi panjang yang ada di taman belakang rumahnya. Allena sedang melamun memikirkan semua yang terjadi dalam hidupnya.
Tidak berapa lama datang Louis dan ikut duduk bersama Allena. Louis sedikit memberikan jarak, karena Louis tau Allena akan menjadi singa jika Louis terlalu dekat dengan Allena apa lagi dalam situasi seperti ini.
"Ngapain lu disini?". Tanya Allena tiba-tiba dengan nada ketus.
"Mau jagain jodoh gue". Jawab Louis santai.
"Cih.. Mimpi lu. Nggak bakal pernah mau gua dijodohin ama lu". Ucap Allena.
Louis yang mendengar perkataan Allena hanya mampu tersenyum pahit. Kalau boleh jujur Louis memang sudah menyukai Allena sedari dulu. Tetapi Louis tidak ingin memaksa Allena untuk membalas menyukainya juga. Apa lagi Louis juga sudah mengetahui bahwa Allena tidak memiliki perasaan padanya.
__ADS_1
Sebenarnya sangat sakit bagi Louis mengetahui itu. Tapi dia tidak bisa juga memaksakan kehendaknya. Apa lagi Louis juga tahu bahwa sebenarnya orang yang disukai oleh Allena adalah Aziel. Karena Louis bisa merasakan hal itu dari Allena saat gadis itu menatap Aziel.