
Hari ini adalah hari dimana Aziel kembali bersekolah, setelah 1 minggu lamanya dia menerima surat skors karena kejadian dimana dia beradu jotos dengan Louis.
Pria itu mulai berjalan ingin menuju ke kelasnya, "Wehee.. El, udah balik lo. Selamat datang dan kembali bersekolah Bos". Itu Setya. Pria itu berlari dan langsung merangkul sepupunya itu dengan sangat berlebihan.
"Mampus lama-lama lu rangkul gua kaya gini. Udah sana-sana!". Aziel mendorong Setya menjauh darinya.
"Ya namanya juga kangen El. Emang lu nggak kangen ama sepupu lu ini.
"Ngapain? Tiap hari ketemu juga. Ampe belo mata gua lihat muka lu terus.
"Yaelah becanda doang El.
Kedua orang itu mengobrol sambil berjalan menuju kelas.
"Eh iya, ngomong-ngomong kemarin si Cewek Datar itu nggak datang ke sekolah". Ucap Setya kemudian.
"Ya terus kenapa? Emang urusannya ama gua apa?". Aziel tak peduli.
"Jadi lo beneran udah nggak deket sama si Cewek Datar itu?
"Nggak usah bahas tentang tuh cewek! Nggak penting.
"Yakin? Jadi lo beneran nggak mau dekat sama si Cewek Datar itu lagi nih.
"Hmm". Hanya itu yang keluar dari mulut Aziel. Malas dia kalau ngomongin Allena untuk sekarang ini.
"Umm yaudah kalau gitu". Setya manggut-manggut. Tapi dia masih belum puas dengan jawaban Aziel.
"Tapi kemarin Louis juga nggak datang ke sekolah". Ucap Setya lagi.
"Terus gua harus apa?
"Yaa gimana ya? Coba lo pikir! Louis sama si Cewek Datar itu nggak datang sekolahnya barengan. Jangan-jangan ada sesuatu hal lagi yang buat mereka nggak datang. Bersamaan pula". Setya sengaja memancing-mancing Aziel. Dia ingin tau seperti apa reaksi sepupunya itu. Apa benar Aziel tak peduli lagi dengan Allena. Mengingat Aziel dulu pernah sangat dekat dengan Allena. Bahkan seperti orang yang sudah memiliki hubungan.
"Gua nggak peduli". Ucap Aziel kemudian. Terlihat sangat serius.
Saat ini mereka sudah sampai didepan pintu kelas.
"Um yaudah sih El. Guekan cuman kasih tau. Siapa taukan lo masih dekat sama si Cewek Datar itu. Tapi kayanya lo emang nggak ada hubungan apa-apa sama tuh cewek. Yaudah kalau gitu". Ucap Setya kemudian.
Dia tidak ingin melanjutkan membahas soal Allena. Takutnya Aziel murka dan malah memberikan bogeman mentah dimulutnya karena tak berhenti membicarakan Allena.
Sementara itu Allena yang juga baru sampai dan muncul dibalik pintu kelas langsung mendapatkan suara lengkingan dari sahabatnya Zee.
"Allena oh mai bestie ku, kemana aja sih lo kemarin!? Gue telfon-telfonin lo nggak diangkat-angkat, gue kirimin pesan nggak lo balas-balasin. Gue kira lo hilang tau". Ini Zee nggak sadar apa suaranya hampir mirip kaya toa korslet. Mengganggu pendengaran tau.
Allena tak menggubris sama sekali, gadis itu malah melangkah melewati Zee dan berjalan menuju loker yang ada dibelakang sana.
"Iih Allena gue ajakin ngomong juga kok lo nggak jawab sih". Zee menyusul Allena dan berdiri dibelakangnya.
Allena sontak membanting pintu loker dengan keras, "LU BISA DIEM NGGAK SIH?!". Lalu berbalik membentak Zee dihadapannya membuat yang lainnya yang ada di kelas itu ikutan kaget dan memandangi mereka.
Ke-4 sahabat mereka bahkan sampai ikutan kaget memandangi kedua wanita itu.
"Len, lo...
Suara Zee terhenti karena bel berbunyi dan terdengar suara yang memerintahkan murid-murid untuk segera berkumpul di lapangan.
"Minggir!!". Allena menabrakan bahunya disamping Zee lalu berjalan keluar kelas dan membiarkan Zee mengerjab-ngerjab kebingungan.
Sementara ke-4 orang tadi hanya memandangi Allena yang keluar kelas lalu setelahnya mereka menghampiri Zee.
"K-kok Allena...". Zee tak melanjutkan kalimatnya dia masih memikirkan kejadian dimana tadi Allena membentaknya begitu keras.
"Udah Zee, nggak usah dipikirin. Mungkin Allena lagi ada masalah mangkanya singanya bangun". Gamma mencoba mencairkan suasana, meskipun itu mungkin nggak berhasil.
"Yaudah kita ke lapangan sekarang ya...
Mereka semua kemudian juga keluar kelas dan bergegas ke lapangan.
...*****...
Ternyata hasil yang didapat dari berkumpulnya murid-murid di lapangan tadi adalah tentang lomba karya ilmiah yang akan diadakan dalam seminggu ini, dan hasil karya yang terbaik akan coba diterbitkan.
Jadi hari ini Allena dan anggota OSIS lainnya akan sibuk dengan tugas baru mereka kali ini.
Jam istirahat sudah dari 10 menit yang tadi. Terlihat Allena berjalan sendirian ingin menuju kantin.
Saat melewati tangga bawah yang biasa kakak kelas gunakan, tak sengaja dirinya berpapasan dengan Regina yang bersama teman-temannya.
"Hai Allena! Eh Allena kan ya, nggak salah dong gue". Regina dengan gaya sok akrabnya menyapa Allena.
Allena hanya menatap datar dan ingin melanjutkan langkahnya namun Regina langsung menghalangi jalan Allena.
__ADS_1
"Oh iya gue cuman mau nanya satu hal sama lo. Udah lihat foto yang gue kirimin ke elo?". Dengan senyum miringnya Regina membalas menatap Allena.
Allena sontak melirik dingin kearah Regina, "Jadi lu yang kirim foto itu?". Desis Allena tajam.
Regina hanya berdengus meremehkan, "Karena lo udah lihat foto itu, jadi pasti lo udah tau kan hubungan gue sama Aziel itu kaya apa". Regina sedikit menekan kata nama Aziel.
"Nggak penting buat gua". Setelah berbicara seperti itu Allena kembali melanjutkan langkahnya pergi dari sana.
Sedang Regina hanya memandang punggung Allena yang mulai menjauh dengan senyuman devil yang tercetak dibibirnya, 'Munafik!'. Regina membatin.
Allena kini sudah tiba di kantin yang terlihat ramai itu. Matanya mengedar keseluruh penjuru kantin dan berhenti kesalah satu tempat yang terdapat Aziel dan Setya disana.
Pandangannya semakin datar ketika dia mendapati bukan hanya Aziel dan Setya yang ada disana. Ternyata ada Zoya dan juga kedua temannya.
Allena langsung membuang muka dan bergegas memesan makanan. Lalu menuju kesalah satu tempat yang ada dipojok dan menyantap makanannya sendirian disana.
Saat sedang enak-enaknya makan, Allena tiba-tiba diganggui dengan suara ribut-ribut yang ternyata berasal dari tempat Aziel tadi.
Terlihat Regina dengan Zoya beradu mulut sampai-sampai suara lengkingan mereka memenuhi kantin.
Ditambah lagi teman-teman Zoya sekaligus teman-teman Regina malah mendukung dan tambah memanas-manasi keadaan yang membuat suasana kantin semakin gaduh.
Kedua orang itu bahkan hampir saling menjambak jika bukan karena di lerai oleh anggota OSIS lainnya yang juga ada disana.
Allena membanting sendoknya dipiring lalu mulai beranjak untuk membayar makanannya, "Cih, ganggu gua makan aja". Desis Allena. Gadis itu kemudian bergegas keluar dari kantin yang masih terlihat gaduh itu.
Sementara Aziel sempat melihat Allena yang berjalan meninggalkan kantin.
"Ya, kita pergi dari sini". Ucap Aziel kemudian berbalik pergi dari kantin dan diikuti oleh Setya.
Sementara kantin masih terlihat gaduh dengan dua orang wanita yang memperebutkan Aziel itu.
...*****...
"Jangan lupa tugasnya dikumpulkan minggu depan!!
"Baik Pak". Jawab murid-murid kelas 12 IPA 1.
Bel pulang sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu.
Terlihat Louis mulai beranjak dari kursinya. Sempat dirinya dan Aziel saling melirik sinis sampai dia benar-benar keluar dari kelas itu dan bergegas menemui Allena.
Hari ini Renold kakak Allena akan kembali ke Amerika. Hanya Renold sendiri. Papah Robert dan Mommy Tiara akan menetap di Indonesia dan akan menjalankan bisnis yang ada di Indonesia, dan Renold akan mengambil alih bisnis yang ada di Amerika. Jadi hari ini Renold akan kembali lebih cepat.
Kedua orang tua Louis juga akan ikut kembali ke Amerika bersama Renold. Jadi Louis akan tetap tinggal di rumah Allena.
Allena menoleh dan mendapati Louis yang memanggilnya. Netra matanya juga menangkap sosok yang berjalan dibelakang tak jauh dari Louis.
Allena kemudian berjalan beriringan dengan Louis menuju parkiran tanpa mempedulikan seseorang dibelakang sedang menatap mereka dengan tatapan tajamnya bak elang pemangsa.
"Oi El, katanya nggak peduli. Tapi tuh mata kaya udah hampir mau keluar dari tempatnya". Sontak Aziel menoleh kearah Setya menatap tajam Setya. "Wishh kalem dong kalem, gitu amat ngelihatinnya". Setya hampir tertawa melihat Aziel saat ini. Katanya nggak penting, katanya nggak peduli. Tapi kok lihat Allena dekat dikit sama cowo kaya udah mau makan orang.
Terakhir Aziel melihat Allena masuk kedalam mobil yang dikendarai Louis dan mulai meninggalkan parkiran sekolah itu.
Kini Allena sudah berada dalam mobil bersama Louis. Kedua orang itu hanya saling diam tak berbicara sekata patapun.
Allena bahkan sampai duduk kebelakang bukan di depan bersama si pengemudi.
Hingga sekitar setengah jam Allena dan Louis sudah tiba di bandara.
1 jam lagi pesawat akan berangkat dan mereka harus selesai berbenah dari 30 menit sebelum pesawat akan benar-benar berangkat.
Setelah memberikan wejangan-wejangan dan nasihat-nasihat pada Louis untuk Allena begitupun Allena untuk Louis dari Mamah Miranda, ketiga orang itu bergegas menuju pesawat.
Kalau kalian mau tau, sebenarnya Allena sangat-sangat tidak peduli dengan ucapan Mamah Miranda tadi. Bahkan mungkin tak masuk di telinganya apa lagi ingatannya.
"Kalau gitu kita balik sekarang ya, atau kalian berdua masih ada urusan!?". Tanya Mommy Tiara. Saat ini mereka sedang berjalan menuju mobil yang mereka bawa tadi.
"Nggak ada, Allena mau pulang sekarang". Allena berjalan cepat kearah mobil dan masuk kedalam.
...*****...
Malam harinya terlihat Mommy Tiara mengetuk pintu kamar Allena.
"Allena sayang, makan malam dulu Nak". Seru Mommy Tiara dari luar.
"Allena, sayang.
"Nak, ayo makan malam dulu". Mommy Tiara terus mengetuk pintu kamar Allena namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Mommy Tiara mulai khawatir. Beliau terus mengetuk pintu kamar Allena dengan semakin keras.
Tapi nihil. Tak ada jawaban sekalipun dari Allena.
__ADS_1
Segera Mommy Tiara turun kebawah dan memberi tahu Papah Robert dan juga Louis yang saat itu sudah berada di ruang makan.
"Kenapa Mah? Kok kaya ketakutan gitu Mamah". Ucap Papah Robert ketika melihat istrinya itu datang dengan tergesa-tergesa dengan ekspresi ketakutan.
"Pah, Allena Pah, Allena...". Mommy Tiara tak sanggup melanjutkan ucapannya karena saking takutnya.
"Iya Mah, ada apa? Kenapa sama Allena?
"Mamah dari tadi udah ketuk-ketuk pintu kamarnya Allena, tapi Allena nggak bukain pintunya juga dari tadi. Mamah jadi khawatir banget Pah". Mommy Tiara sudah sangat takut sekarang.
"Astaga, kenapa lagi sama anak itu". Langsung saja Papah Robert bergegas diikuti oleh Mommy Tiara dan juga Louis.
Setibanya didepan pintu kamar Allena, Papah Robert langsung menggedor kuat pintu kamar tersebut.
"Allena buka pintunya! Ngapain kamu didalam sampai nggak mau bukain pintunya!
"Allena! Buka pintunya Allena". Papah Robert terus menggedor kuat pintu kamar Allena.
"Allena!!
"Biar Louis yang coba dobrak pintunya Om, nggak papakan kalau nanti pintunya rusak". Louis menawarkan diri.
"Udah nggak papa, kamu dobrak saja pintunya. Om juga mulai khawatir sama anak Papah itu.
"Oke Om, sebentar". Louis mulai mundur kebelakang untuk mengambil ancang-ancang.
Saat Louis sudah mendekati pintu, tiba-tiba terdengar suara knop pintu seperti diputar lalu pintu terbuka sedikit, menampakan wajah Allena khas seperti orang baru bangun tidur.
"Ada apa?". Tanya Allena datar. Suaranya pun parau.
"Ngapain saja kamu didalam Allena? Dari tadi Papah gedor-gedor pintu kamar kamu, nggak dibukain juga dari tadi. Bikin khawatir orang tua saja kamu ini. Bikin Khawatir Mamah kamu tau". Ingin sekali Papah Robert memarahinya, tapi melihat kondisi Allena tidak mungkin dia memarahi anaknya itu.
"Allena tidur tadi makanya nggak dengar". Jawab Allena spontan.
"Hmm yasudah, kamu mandi terus ke bawah makan malam". Ucap Papah Robert kemudian.
"Iya". Allena kemudian langsung menutup pintu.
Sementara ketiga orang tadi akhirnya bisa menghela nafas ketika melihat ternyata tidak terjadi apa-apa terhadap Allena.
"Sudah Mah, lihatkan Allena tidak kenapa-napa.
"Iya Pah, tapi tadi Mamah sempat khawatir. Allena tadi lama sekali bukain pintunya. Mamah kira terjadi sesuatu sama Allena didalam.
"Tapi Mamah sudah lihatkan tadi Allena, dia tidur makanya nggak dengar". Ucap Papah Robert menenangkan istri tercintanya itu. Memang jiwa keibuan, selalu saja merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada anak mereka. "Sudah-sudah, Mamah nggak usah berpikir yang tidak-tidak". Sambung Papah Robert lagi.
Sementara itu, terlihat Allena yang sedang membuka seragam sekolahnya. Memang Allena tadi tidur tanpa membuka seragam sekolahnya.
Gadis itu kemudian mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Sementara itu disebuah supermarket terlihat Zee berdiri memandangi rak lemari berjejerkan snack dan makanan ringan lainnya.
Zee kemudian mulai berjalan perlahan sambil terus memandangi sekumpulan snack yang ingin dibelinya.
BRUKK!!
"Aduhh!". Zee sampai mundur dua langkah saat tubuh mungilnya bertubrukan dengan seorang pria berpostur tinggi tegap.
Kepalanya mendongak ingin melihat, "Kak Setya!?". Desis Zee ketika mengetahui dengan siapa dirinya bertabrakan. Itu Setya.
Pria itu hanya memberikan tampang cueknya setelah benar-benar berjalan melewati Zee tak peduli akan adanya gadis itu disana.
Segera Zee menyusul Setya yang berjalan kearah jejeran lemari lainnya di supermarket itu.
"Kak Setya kok bisa ada disini?". Zee mensejajarkan langkahnya mengikuti Setya.
Setya sontak berhenti dihadapan Zee, "Perlu lo tanya itu? Emang lo pikir apa yang dilakuin orang kalau ada di tempat kaya gini?". Dengan ekspresi datarnya pria itu menatap Zee.
"Eh, iya ya. Kok gue malah nanya kaya gitu ke lo, ihh..". Zee menepuk jidatnya karena perkataan dongkolnya.
Setya hanya berdecih melihat tingkah gadis yang ada dihadapannya itu. Setya kemudian mengambil sebotol minuman dingin yang ada di lemari pendingin dekat lemari lalu berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Lagi-lagi Zee mengikuti Setya mengekori pria itu.
Setelah membayar Setya kemudian keluar dari supermarket itu.
"Lo ngapain sih ikutin gue terus dari tadi?". Sentak Setya berbalik pada Zee yang sedari tadi mengikutinya.
"Eh, g-gue cuma, gue...
"Apa?". Setya kembali menyentak lebih keras. Kali ini dia terlihat sudah sangat kesal.
Pria itu kemudian meminum minumannya yang tinggal setengah itu sampai habis.
"Pergi lo jauh-jauh dari gue! Itupun kalau lo masih punya malu". Setya berkata seperti itu sambil melempar botol bekas minumannya tadi sampai mengenai kepala Zee.
__ADS_1
"Dasar pengganggu!". Setelah berkata seperti itu Setya kemudian berjalan kearah motornya dan bergegas pergi dari sana tanpa mempedulikan Zee yang berdiam diri ditempatnya.