
...Hubungan...
Jam pelajaran Bu Preti telah selesai. Saat ini anak-anak tengah berberes sambil mendengarkan arahan dan informasi dari Bu Preti.
"Baik anak-anak! Hari ini pelajarannya sampai disini saja dulu. Ibu hanya ingin kembali mengingatkan bahwa tugas laporannya harus sudah selesai dan dikumpulkan minggu depan". Ucap Bu Preti mengingatkan.
"Mungkin itu saja yang Ibu sampaikan. Kalau begitu kalian silahkan kembali ke kelas jika sudah selesai semua. Ibu akan keluar duluan". Ucap Bu Preti melanjutkan perkataannya.
Bu Preti kemudian segera keluar meninggalkan ruang laboratorium. Tidak lama kemudian datang seorang bapak-bapak tua. Beliau adalah petugas SMA Nasional tersebut.
"Gimana anak-anak? Apa sudah selesai semua?". Tanya Pak Tarim petugas tersebut.
"Ohh sedikit lagi Pak. Sebentar ya Pak!". Seru Alvian pada Pak Tarim.
"Oh yasudah kalo gitu saya tunggu diluar ya!". Ujar Pak Tarim.
"Oke Pak". Seru Alvian pada Pak Tarim. Beliau kemudian keluar dan menunggu.
Semua kembali melanjutkan berbenahnya. Beberapa menit kemudian mereka telah selesai dan keluar dari dalam ruangan. Pak Tarim yang sempat menunggu kemudian kembali dan mengunci ruangan tersebut.
"Makasih ya Pak". Teriak Zee pada Pak Tarim.
"Iya sama-sama Neng! Kalau gitu Bapak duluan ya!". Ucap Pak Tarim. Kemudian beliau berlalu pergi.
Mereka ber-6 berjalan berdampingan sambil mendiskusikan tugas kelompok mereka.
"Ehh gimana nih, kita kerjain dimana tugas laporannya?". Tanya Manaf pada mereka semua.
"Di sekolah ini aja gimana? Sepulang sekolah gitu". Ucap Gamma memberi saran.
"Aduhh.. gue nggak bisa. Gue ada bisnis sepulang sekolah". Cetus Zee cepat.
"Ealahh pake gayaan bisnis segala. Yaudah kita kerjainnya dimana kalo gitu?". Tanya Gamma kembali.
"Di rumah lo aja Airin kalo gitu. Bisa kan?". Tanya Zee sambil menunjuk Airin.
"Ha rumah gue?". Ucap Airin yang tiba-tiba saja dilanda kegugupan.
__ADS_1
"Iya ditempat lo aja. Kenapa emangnya, nggak boleh ya?". Tanya Zee dengan alis yang terangkat.
"B-bu-bukan gitu maksudnya. Gimana ya ngejelasinnya?". Ucap Airin yang tergagap karena saking gugupnya.
"Kalo emang di rumah lo nggak bisa, dirumah Allena aja gimana? Bisakan Len?". Imbuh Alvian ke arah Allena.
"Nggak, nggak bisa. Gua nggak mau". Jawab Allena dengan datarnya.
"Yaampun gimana sih ini? Udah dirumah lo ajalah Rin. Masa nggak bisa sih?". Ucap Zee memaksa.
"Bisa sih! Tapi gimana ya? Nanti kal-
"Udah yang penting bisakan. Di rumah lo aja lah, nggak usah pake tapi tapi. Di rumah lo titik. Bulat itu". Cetus Zee memaksakan.
"Umm.. yaudah deh. Jadi kapan kita mulainya?". Tanya Airin menyetujui.
"Nanti hari minggu ajalah ya. Biar lebih leluasa. Gimana sama kalian setuju nggak?". Tanya Zee memberi saran sembari memandangi mereka bergantian.
"Gue sih oke oke aja". Kata Gamma setuju.
"Oke lah gue ngikut". Kata Manaf menimpali.
"Terus Allena. Lo gimana?". Tanya Zee pada Allena yang sejak tadi hanya diam.
"Umm!". Gumam Allena, lalu sedetik kemudian meninggalkan mereka.
"Aelahh tu cewe kenapa gitu amat dah? Heran gua". Seru Gamma geleng-geleng melihat sikap Allena itu.
Mereka kemudian kembali melanjutkan langkah menuju kelas mereka.
"Gue heran deh sama si Allena itu. Kenapa ya sikap dia kek gitu banget?". Cetus Zee.
"Emang kenapa dianya?. Perasaan Allena nggak kenapa kenapa". Imbuh Manaf menimpali.
"Lo nggak sadar? Selama ini dia tu kelihatan nggak pernah jalan sama teman atau sekedar ngobrol sama orang gitu. Sendiri mulu. Apa nggak bosan dianya? Apa nggak ngerasain kesunyian gitu?". Ucap Zee panjang lebar.
"Udahlah Zee! Lagian ngapain juga lo harus ngurusin dia? Nggak usah. Dia keknya emang begitu orangnya". Imbuh Alvian pada Zee.
__ADS_1
"Iya sih. Tapi kasihan tau, sendiri mulu". Ucap Zee.
"Buat apa juga lo kasihanin? Allena tu orang kaya. Dia bisa buat apa aja yang dia mau". Ucap Gamma menimpali.
Sementara Airin yang bersama mereka segera berlalu pergi meninggalkan mereka. Dia malu jika bergabung dengan mereka yang notabennya anak-anak dari kalangan orang kaya.
"Gue kalo dibandingkan ama mereka tu kaya berlian dan kerikil. Nggak pantes banget gabung sama mereka". Gumam Airin sambil berjalan menuju kelas.
...******...
Jam menunjukkan waktu istirahat. Saat ini para siswa SMA Nasional tengah melakukan aktivitasnya masing-masing. Seperti Allena yang saat ini tengah berjalan sendirian menuju kantin.
Saat Allena tengah berjalan santai, tak sengaja dia melihat Aziel dan juga Alexa terlihat seperti sedang mengobrol berdua di taman samping sekolah. Keduanya duduk disalah satu kursi panjang yang ada di taman itu di bawah pohon besar.
Tanpa sengaja Aziel mengalihkan pandangannya dan langsung bertemu pandang dengan Allena. Detik berikutnya Allena memutuskan pandangan mereka berdua dan melanjutkan jalannya menuju kantin.
Aziel yang melihat Allena ingin menyusul cewek itu, namun Alexa langsung menarik lengan Aziel agar tak beranjak dari tempatnya.
"Kenapa EL? Lo mau pergi? Lo mau ninggalin gue sendiri disini?". Tanya Alexa.
"Apaan sih? Lepasin tangan gua! Lu jangan berani-beraninya ya sentuh-sentuh gua". Cetus Aziel dengan menepis kasar tangan Alexa.
"Tapi kan EL-
"Tapi apa? Lu ya yang udah maksa-maksa gua kesini dan gua nggak mau, tapi lu tetap maksa. Lu nggak punya rasa malu?". Maki Aziel pada Alexa.
"Udah, gua mau pergi. Males gua ngeladenin cewe kek lu. Nggak punya malu tau nggak!". Cibir Aziel dan segera berlalu pergi meninggalkan cewek itu.
Sedang Alexa hanya bisa terperangah melihat Aziel yang meninggalkannya. Dia kaget dengan Aziel yang mencacinya dan mengatai dirinya tidak punya malu.
Alexa sangat kesal dengan perkataan Aziel. Cewek itu hanya bisa menatap dengan perasaan kesal pada Aziel yang mulai bergerak perlahan menjauh.
"Ishh.. Kesel gue sama Aziel. Gitu banget dia ngomong sama gue". Kesal Alexa dengan tangan yang terkepal dan juga perasaan dongkol.
"Lihat aja nanti, gue bakalan buat lo Aziel bertekuk lutut sama gue". Gumam Alexa dengan penuh keseriusan di wajahnya.
__ADS_1
Alexa kemudian ikut pergi dari taman tersebut sambil menghentakan kakinya karena kesal.