
Minggu pagi terlihat Tessa sedang berjalan menuju ruang gym yang ada di rumah Allena.
Saat masuk kedalam ruangan itu, Tessa berhenti dan langsung diam berdiri ditempatnya dengan pandangannya tertuju kesalah satu arah.
Bagaimana tidak? Saat ini dia melihat Louis hanya memakai celana training warna hitam tanpa atasan, menampilkan otot kekarnya juga perut sixpaknya.
Ditambah lagi pria itu sedang mengangkat barbel semakin membuat ototnya terlihat.
"Udah puas lihatnya?". Tiba-tiba Louis bersuara meletakan barbel kemudian berbalik kearah Tessa.
Pria itu lalu berjalan mendekat kearah Tessa berdiri dihadapan gadis itu.
Sementara Tessa mulai meneguk salivanya ketika melihat keringat Louis yang mengalir dari dadanya turun keperutnya.
Louis semakin mendekat kearah Tessa dengan senyum smirknya.
"Ngapain lo liatin gue kaya gitu?
Louis tidak menjawab, justru pria itu semakin mendekat kearah Tessa. Sementara Tessa mulai mencondongkan badannya kebelakang saat Louis mendekat kearahnya.
Dengan cepat tangan Louis mengambil botol mineral yang dipegang oleh Tessa, "Dapat". Ucap Louis kemudian menjauhkan dirinya dari Tessa.
"Eh punya gue itu, siniin nggak.
"Nggak mau". Louis menghindari Tessa kesana kemari menjauhkan minuman itu agar Tessa tak dapat meraihnya.
"Siniin minuman gue. Gue tonjok lo ya". Tessa mengancam Louis dengan mengepalkan tangannya kedepan wajahnya.
"Nggak mau. Makanya jangan lamban jadi cewe". Ejek Louis.
"Iihh lo itu emang cowo nyebelin ya". Tessa menghentakan kakinya kelantai dengan kesal, "Lo emang benar-benar minta gue tonjok. Awas lo ya". Tessa bersiap-siap mengambil ancang-ancang untuk menghajar Louis.
Tiba-tiba suara cempreng Zee menghentikan aktifitas keduanya.
"Ngapain lo bedua?". Kedua orang yang bertengkar itu segera menoleh kearah pintu masuk. Disana sudah ada Zee dan juga yang lainnya.
"Ini nih si Cowo Nyebelin, gangguin gue mulu". Tessa dengan muka kesalnya menoleh kearah Louis.
"Lo nya aja yang pelit. Ketimbang minuman gini doang lo pelitin, kan tinggal ambil yang baru". Ucap Louis tak mau kalah.
"Ya gue nggak mau, kenapa emang". Tessa melototkan matanya pada Louis, "Orang itu punya gue, lo yang ambil. Nggak punya tangan ama kaki lo buat ambil sendiri". Balas Tessa dengan galaknya.
"Hedehh.. lo berdua ini bertengkar terus kerjaannya". Airin berjalan menghampiri Tessa dan Louis.
"Udah Sa, jangan bertengkar terus. Emang lo berdua nggak cape apa tiap ketemu adu monyong terus. Kita aja yang lihatnya cape sendiri". Airin kemudian menarik lengan Tessa menjauh dari Louis.
"Kita disini untuk olahraga, bukan untuk saling bertengkar. Paham kalian". Allena mulai bersuara.
"Louis, jangan suka gangguin Tessa". Allena berbicara sembari berjalan melewati Louis.
"Oke-oke gue yang salah". Louis pasrah jika Allena yang sudah berbicara. Takut dia dimarahi lagi seperti tadi malam.
Setelah selesai berolahraga dan istirahat, mereka semua kemudian mandi dan bersiap-siap.
Ingat ya! Mandi sendiri-sendiri bukan sama-sama. Kan banyak kamar mandi di rumah Allena yang terbilang luas ituš¤£
Hari ini mereka menghabiskan waktu weekend mereka dengan berjalan-jalan.
Mulai dari makan di rumah makan milik Zee. Berbelanja di pusat perbelanjaan sekaligus bermain disalah satu pusat permainan terbesar di Kota X.
Mereka juga pergi ke tempat karaoke bersama, dan yang terakhir mereka juga mengunjungi salah satu pantai yang terkenal di Kota X tersebut.
Hari ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama dengan Louis yang juga ternyata ikut serta.
Jangan ditanya bagaimana keadaanya. Louis dan Tessa selalu saja berdebat adu bacot. Diantara keduanya tak mau mengalah. Untung saja ada Allena yang pasti selalu membuat mereka langsung kicep diam jika sudah berlebihan berdebatnya.
Alvian yang melihat Zee segera mengambil foto gadis itu dari belakang dengan kamera yang dibawanya.
Hasil jepretannya sangat bagus dan estetik karena pemandangan dan juga sunset yang melengkapi.
Alvian memandangi foto yang didapatkannya, 'Entah sampai kapan gue nyimpen perasaan ini sendiri. Tapi yang jelas perasaan suka gue ke lo semakin bertambah Zee', Batin Alvian sembari menghela nafas dan terus memandangi foto Zee dari kameranya.
...*****...
"LOUIS!!". Teriakan yang begitu mencekam langsung membuat yang empunya nama menghentikan langkahnya.
"Shi*t!! Mampus gue". Louis mengepalkan kedua tangannya kedepan. Pria itu tentu saja tau siapa yang meneriakinya dengan nada mencekam seperti itu.
"Mau kemana lu?". Teriak orang itu sekali lagi.
Louis membalikan badannya dan mendapati seorang gadis yang tengah berdiri dengan tatapan yang begitu dingin kearahnya.
"Eh Allena". Louis dengan tampang kicepnya cengar-cengir tak karuan mendapati Allena yang memandanginya seperti itu.
__ADS_1
"Sini lu". Seru gadis itu.
Saat ini mereka berdua berada di koridor kelas yang ada diujung. Memang beberapa kelas disitu sudah tak terpakai lagi karena mengalami beberapa kerusakan.
Dengan segera Louis menghampiri Allena yang berdiri tak jauh darinya.
"Baru beberapa hari sekolah disini udah terlambat aja lu". Ucap Allena saat Louis sudah berdiri dihadapannya.
"Ya sorry Len, gue kesiangan. Lagian lo juga sih, ngapa nggak bangunin gue gitu. Tinggal satu rumah juga, satu sekolah juga". Celetuk Louis sekenanya.
"Nyalahin gua, lu?". Allena melototkan matanya kearah Louis. Bisa-bisanya pria itu menyalahkannya karena keterlambatannya sendiri.
"Eh nggak gitu, bercanda doang Len. Maksud gue tuh biar lo ada inisiatif gitu buat bangunin gue kalau misalkan gue telat bangun pagi". Ucap Louis sebisa mungkin menyusun kata-kata yang baik.
"Diem lu". Sentak Allena seketika, "Udah telat banyak alasan lagi, pake acara nyalahin orang segala. Mau gua pukul lu". Gertaknya lagi.
"Hah, Oh Mai galaknya Allena. Santai aja kali Len, nggak usah galak-galak kaya gitu". Ucap Louis.
"Diem gua bilang". Gertak Allena lagi. "Sekarang mending lu ikut gua, nggak usah banyak omong". Sambungnya. Allena kemudian berjalan terlebih dahulu.
"Emang kita mau kemana Len?". Louis berjalan menyusul Allena.
"Nggak usah banyak nanya, ikut aja". Allena tetap melanjutkan langkahnya.
Dan kini mereka berdua sudah berada di perpustakaan sekolah.
"Sekarang lu bersihin nih perpustakaan ampe bersih. Gua nggak mau tau pokoknya nih tempat harus udah bersih sebelum gua datang ngecek. Lantainya harus lu sapu-sapuin ampe bersih. Ngerti lu". Ucap Allena dengan tegasnya.
"Lah, lo tega amat Len, ama calon suami sendiri. Masa lo nyuruh gue bersihin perpustakaan yang gedenya seperti ini". Louis keberatan dengan hukuman yang diberikan oleh Allena.
"Siapa suruh lu telat? Di sekolah ini ada aturannya, bukan kaya sekolah lu yang dulu. Bebas". Balas Allena tak peduli.
"Ya kasih kek hukuman yang ringan dikit Len. Tega amat.
"Yaudah lu tinggal pilih, mau lu bersihin nih perpustakaan atau gua nyuruh lu buat bersihin toilet satu sekolah. Pilih yang mana?". Tanya Allena.
"Ya astaga... lo emang bener-bener tega Len, bener-bener tega sama calon suami sendiri". Louis tak habis pikir dengan Allena yang memberinya hukuman tak cuma-cuma. "Yaudah kalau gitu gue bersihin aja perpustakaan". Louis memutuskan.
"Umm bagus. Yaudah bersihin sana, banyak nawarnya lu". Allena kemudian berbalik melangkahkan kakinya meninggalkan Louis sendirian disana.
"Huu... untung sayang.
Sementara Allena mulai berjalan menuju kelasnya dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan Aziel.
"Baby!". Sapa Aziel.
Allena seketika memutar bola matanya jengah, "Ngapain sih lu manggil-manggil gua terus dengan sebutan kek gitu? Baby Baby, enek gua tau nggak dengarnya". Celoteh Allena dihadapan Aziel.
"Dih norak". Cibir Allena.
"Ya nggak apa-apa kalau noraknya ama lu". Ucap Aziel santai.
"Mau lu tuh apa sih sebenarnya ama gua? Perasaan deketin gua mulu. Suka lu ama gua?". Tanya Allena dengan berani.
Namun sebelum Aziel menjawab, tiba-tiba Regina datang menghampiri mereka dengan membawa sekotak bekal makanan.
"Hai Aziel!". Sapa Regina dengan tersenyum manis kearah Aziel.
Gadis itu seperti tak menganggap Allena yang juga ada disana. Lebih fokus pada Aziel.
Sementara Allena mulai menaikan sebelah alisnya sambil memandang Regina yang terlihat berbeda hari ini. Mungkin karena baju seragam Regina yang terlihat minim ketat, sehingga membuat dua tonjolan didada gadis itu tercetak.
Apa karena gadis itu sudah tidak mempunyai jabatan di sekolah sehingga berani berpenampilan seperti itu?
Secara yang kita ketahui sendiri bahwa saat menjadi anggota OSIS kita harus berpenampilan baik sesuai aturan karena untuk menjadi contoh bagi murid-murid lainnya.
"Oh iya, gue bawain ini nih buat lo, dimakan ya". Regina menyodorkan kotak bekal tersebut kearah Aziel.
Sementara Allena mulai berbalik meninggalkan kedua orang itu.
Aziel yang melihat Allena pergi segera meraih kotak bekal tersebut dari tangan Regina, "Yaudah makasih ya". Ucap Aziel. Pria itu kemudian segera menyusul Allena dan meninggalkan Regina.
Regina kemudian hanya memandang Aziel yang mulai bergerak jauh. Ada sedikit tarikan dari sudut bibir gadis itu. Sedetik kemudian Regina berbalik dan pergi dari sana dengan perasaan senang.
"Baby tunggu!". Aziel terus mengejar Allena yang juga terus berjalan.
"Baby.. Allena tunggu!". Aziel segera meraih lengan Allena dan menahan gadis itu agar berhenti berjalan.
Allena berbalik lalu memandang Aziel dengan tatapan datarnya, "Apa?". Ucap Allena kemudian.
"Kok lu tiba-tiba main pergi gitu aja?". Tanya Aziel membalas tatapan gadis itu.
Allena tidak menjawab, mata gadis itu beralih memandang kotak bekal ditangan Aziel.
"Lu bakalan makan itu nggak?". Tanya Allena seketika.
"Hm? Ini? Kenapa? Lu mau makan ini juga?". Aziel malah balik bertanya.
__ADS_1
Tiba-tiba dengan cepat tangan Allena terulur mengambil kotak bekal ditangan Aziel.
Allena kemudian membuang kotak bekal makanan tersebut di tempat sampah yang ada di sudut.
"Nggak usah makan yang itu, gua bisa bikin makanan yang lebih enak dari itu kalau lu mau". Ucap Allena kemudian.
Aziel yang melihat perbuatan Allena seketika memandang gadis itu dengan mengkerutkan alisnya.
"Kok malah lu buang makanannya?". Tanya Aziel bingung.
"Ya nggak usah lu makan. Karena gua tau itu makanan pasti nggak ada enak-enaknya". Ucap Allena sedikit menaikan suaranya.
"Hah?". Aziel semakin mengkerutkan alisnya. "Oke-oke yaudah! Tapi santai aja dong, woles Baby woles. Gitu banget reaksinya. Cemburu?". Aziel menaikan kedua alisnya keatas sembari memandang Allena serius.
Allena tidak menjawab. Gadis itu hanya malah menghela nafasnya sambil memberikan tatapan datar kearah Aziel.
Allena kemudian berbalik dan langsung melangkahkan kakinya menuju kelasnya meninggalkan Aziel.
"Eh Allena". Seru Aziel.
Aziel yang ingin menyusul Allena langsung mengurungkan niatnya karena ada Pak Hamzah yang datang dan langsung menegurnya.
"Mau kemana kamu Aziel? Kenapa tidak masuk ke kelas kamu?". Tanya Pak Hamzah.
"O-oh ini saya mau ke kelas kok Pak". Ucap Aziel terbata.
"Terus kenapa kamu ada disini? Kelas kamu bukan dibagian sinikan". Tanya Pak Hamzah lagi.
"I-i-iya Pak". Jawab Aziel gugup.
"Yasudah ke kelas kamu sana!". Perintah Pak Hamzah dengan suara tegasnya, "Kamu ini baru saja melepas jabatan sudah mulai bolos. Mau jadi apa kamu?
"I-i-iy-iya Pak saya ke kelas kok. Jangan galak-galak atuh Pak". Segera Aziel pergi dari sana sebelum Pak Hamzah menceramahinya.
...*****...
Bel istirahat telah berbunyi sedari tadi. Kini Allena dan ke-5 sahabatnya sudah berada dalam kantin.
Aziel kemudian tiba-tiba datang dan langsung mengambil tempat disamping Allena.
Ke-5 orang itu langsung menatap kedua sejoli itu secara bergantian.
"Ehem ehem". Zee sengaja berdehem sambil terus melirik Allena dan Aziel bergantian.
"Ehem ehem...ehem. Uhuk uhuk uhuk..". Zee terus saja sengaja.
"Eh makanya kalau makan tuh yang bener, pelan-pelan aja. Jangan kaya orang yang baru dikasih makan setahun". Ucap Setya yang juga ada disana.
"Oh iya Kak, sorry". Ucap Zee cengengesan.
Tidak lama datang Louis yang juga ikut mengambil tempat disamping Allena, "Ini Len, nasgornya". Louis memberikan sepiring nasi goreng dihadapan Allena.
"Kerupuknya mana?". Tanya Allena.
"Ini Len, kalau lu mau?". Aziel tiba-tiba menyodorkan sebungkus kerupuk yang dibawanya.
"Nggak usah Len, yang ini aja". Louis juga menyodorkan sebungkus kerupuk yang dibawanya.
"Nggak usah yang ini aja, ini lebih enak". Ucap Aziel tak mau kalah.
"Nggak usah Len, ini yang lebih enak dari pada punya si bocah disebelah lo itu". Louis juga tak mau kalah.
"Eh maksud lu apa? Kerupuk ini yang lebih enak dari pada kerupuk yang lu bawa". Ucap Aziel berkeras.
"Mana ada? Kerupuk lu nggak ada enak-enaknya sama sekali. Justru kerupuk gue yang lebih enak buat Allena". Louis melototkan matanya kearah Aziel.
"Kerupuk gua yang lebih enak untuk Allena. Kerupuk lu mah nggak ada apa-apanya, nggak cocok untuk Allena". Balas Aziel.
"Kerupuk lu yang nggak cocok. Bawa pergi sana". Ucap Louis.
"Lu aja yang pergi sono. Bawa sama kerupuk-kerupuk nggak enak lu itu juga". Balas Aziel.
"BERHENTI KALIAN BERDUA!!". Allena langsung saja memukul meja dengan kuat membuat orang-orang yang ada dalam kantin menoleh ketempat mereka.
"Lu berdua bisa berhenti nggak, bisa diem nggak?". Ucap Allena dengan keras.
"Ini cuman masalahkerupuk lu lu pada permasalahin, kaya bocah tau nggak. Ngapain kalian bertengkarin soal masalah kerupuk doang". Celoteh Allena.
Gadis itu kemudian mengambil dua bungkus kerupuk dari kedua pria yang berseteru tadi.
"Bawa sini tuh dua-duanya, biar gua makan sekalian. Nggak usah kalian perdebatin lagi, yang nggak penting kalian bertengkarin. Gila lu pada". Celoteh Allena lagi.
Gadis itu kemudian mulai makan dengan dua bungkus kerupuk sekaligus dari kedua pria itu.
Sedang Aziel dan Louis terus saling melemparkan tatapan sengit satu sama lain membuat suasana di tempat mereka menjadi tegang karena kedua pria itu.
"Kalian berdua kalau nggak mau makan, mending pergi sana!". Allena kemudian mulai bersuara kembali membuat kedua pria itu berhenti saling memberikan tatapa sengit.
__ADS_1
Mereka semua kemudian mulai makan dan melanjutkan makan mereka meskipun suasananya terlihat begitu tegang karena perseteruan kedua pria itu.