
Saat ini Allena tengah bersama Alexa di perpustakaan sekolah. Mereka sedang mengerjakan hukuman yang diberikan oleh Aziel.
Allena terlihat sedang membersihkan buku-buku yang terdapat pada rak buku menggunakan kemoceng. Terlihat juga Alexa sedang menyapu lantai.
"Duhh ini banyak banget sih debunya uhuk..uhuk". Celoteh Alexa terbatuk. Padahal gadis itu sudah memakai masker segede gaban.
"Eh cewe sok kecantikan, ngapain sih lo cuman bersihin itu aja. Bantuin nyapu napa. Dari tadi itu aja yang lo lakuin nggak kelar-kelar". Celoteh Alexa beralih pada Allena yang berdiri tak jauh darinya.
Allena yang sedang membersihkan buku-buku dari debu seketika menoleh kearah Alexa yang sedang menatapnya sinis.
"Apa?". Tanya Allena dari balik masker yang dia gunakan. Tatapan matanya yang datar terlihat sangat jelas sekarang menatap Alexa.
"Lo nggak denger. Bantuin gue nyapu, jangan cuman itu aja yang lo urusin dari tadi". Ucap Alexa seraya membalas tatapan Allena padanya.
Allena yang mendengar perkataan Alexa seketika membuka maskernya sambil berjalan mendekati Alexa dan berdiri dihadapan gadis itu.
"Kalau gua nggak mau, lu mau apa? Hmm?". Ucap Allena seraya menatap Alexa tanpa ekspresi.
Alexa yang mendapatkan tatapan seperti itu pada Allena seketika menelan salivanya. Ada rasa sedikit takut akibat tatapan Allena padanya. Tetapi Alexa mencoba kembali menetralkan dirinya dan menepis rasa takutnya lalu membalas menatap Allena dengan galak.
"Kalau lo nggak mau, gue bakal kasih tau Aziel". Ancam Alexa.
Allena semakin menatap Alexa datar setelah mendengar ancaman Alexa padanya. Allena seketika menarik sedikit sudut bibirnya dihadapan Alexa.
"Lapor aja. Gua nggak takut". Ucap Allena tenang dengan smirknya menatap Alexa. Gadis itu maju dua langkah kembali mendekati Alexa.
"Gua bukan lu, yang cuman bisanya cari perhatian sama cowok, yang bahkan nggak nganggap lu ada sama sekali, dan itu bagus julukan buat lu, CEWEK CAPER!!". Sambung Allena menekan dua kata diakhirnya sambil menatap Alexa datar, dan kembali mundur dua langkah menjauh dari Alexa.
Alexa yang mendengar perkataan gadis didepannya seketika naik pitam. Berani sekali Allena mengatainya seperti itu.
"Lo..". Ucap Alexa terhenti dengan jari telunjuknya menunjuk Allena.
"Apa?". Ucap Allena memotong pembicaraan Alexa yang menatapnya tajam.
"Gue kasih tau sama lo, gue nggak bakal biarin Aziel deket-deket lagi sama lo. Gue bakal ngebuat Aziel ngejauh sama lo bahkan benci sama lo". Ucap Alexa menunjuk Allena.
"Oh ya. Memangnya kenapa? Disini kita nggak ada ngomongin cowo itu". Ucap Allena datar.
"Lo...". Ucap Alexa kembali terhenti akibat suara berat pria yang menegur mereka berdua.
"Apa yang kalian berdua lakukan?". Seru pria tersebut yang ternyata adalah Aziel.
Kedua gadis itu kemudian menoleh bersamaan, dan mendapati Aziel yang sedang berjalan kearah mereka dengan tatapan dinginnya.
"Ada apa ini?". Tanya Aziel saat sudah dihadapan mereka menatap mereka secara bergantian.
"Ini El, cewe sok kecantikan ini nggak mau bantuin gue buat bersihin perpus. Dari tadi gue nyapu lantai terus, sementara nih cewe kerjanya cuman bersihin buku-buku yang ada dilemari itu". Adu Alexa sambil menunjuk rak buku yang dibersihkan oleh Allena.
"Kan debunya jadi berjatuhan terus. Nggak kelar-kelarkan gue nyapunya". Sambung Alexa dengan ekspresi memelas yang dibuat-buat.
Aziel yang mendengar aduan Alexa langsung mengalihkan pandangannya kearah Allena dan menatap gadis itu dengan lekat.
"Apa?". Ucap Allena seraya membalas tatapan Aziel padanya.
Aziel hanya menghembuskan nafasnya.
"Allena kamu baru kemarin kembali ke sekolah ini dan sudah membuat kehebohan satu sekolah, dan hari ini kamu telah melanggar aturan dengan terlambat". Ucap Aziel pada Allena.
"Terus kenapa?". Ucap Allena datar.
"Saya harap kamu tidak melanggar aturan di sekolah ini lagi Allena". Nasihat Aziel.
Allena tidak menjawab, gadis itu hanya mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kalau begitu kalian berdua kembali ke kelas. Hukuman kalian saya anggap sudah selesai". Ucap Aziel.
"Itu aja". Ucap Allena seketika mengalihkan pandangannya pada Aziel.
"Cih.. nggak penting". Sambung Allena seraya melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Alexa yang melihat sikap Allena seperti itu langsung mencibik gadis itu. Alexa tak suka akan sikap Allena yang sangat sok baginya.
"Dih sok kecantikan banget sih lo, lo kira lo siapa. Dasar cewe nggak tau diri". Teriak Alexa mencibir Allena, namun gadis itu tak menggubris dan tetap melangkahkan kakinya keluar dari sana.
__ADS_1
"Lu jangan teriak-teriak Alexa, ini perpustakaan". Ucap Aziel memperingati Alexa.
"Tapi tuh cewe belagu banget gayanya. Nggak suka gue". Ucap Alexa mencibir.
"Kaya lu nggak aja Lex". Balas Aziel seraya melangkahkan kakinya.
Alexa yang melihat Aziel ingin pergi segera menyusul pria itu dan berjalan disampingnya.
"El, entar malam kita jalan yuk". Ajak Alexa dengan wajah berbinar.
"Gua nggak bisa". Jawab Aziel dengan tetap melangkahkan kakinya.
"Loh kenapa? Mau ya El". Ucap Alexa sedikit memaksa.
"Gua bilang gua nggak bisa. Gua sibuk". Ucap Aziel lagi.
"Tapi El...". Ucap Alexa terhenti.
"Gua bilang nggak bisa ya nggak bisa, gua sibuk. Lu ngerti bahasa Indonesia nggak sih? Maksa banget". Bentak Aziel seketika berhenti dihadapan Alexa membuat gadis itu kaget dan langsung diam ditempatnya.
"Lu mending jauh-jauh dari gua dah Lex. Risih tau nggak lu gangguin gua terus. Nggak ada berhenti-berhentinya. Eneg gua lama-lama lihat lu kaya gini terus ke gua". Ucap Aziel emosi.
Aziel benar-benar merasa terganggu dengan Alexa yang terus saja tak berhenti mengejarnya. Aziel kemudian meninggalkan Alexa tanpa mempedulikan wanita itu akan sikapnya. Dia benar-benar risih dan merasa terganggu.
Sementara Alexa, gadis itu hanya menatap kepergian Aziel dengan aurah yang tak dapat dimengerti. Ada pancaran wajah yang seakan mengisyaratkan sesuatu.
Ditempat lain, Allena sedang melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Jam pelajaran pertama telah usai beberapa menit yang lalu.
Allena kemudian masuk kedalam kelas dan mendapatkan sambutan teriakan heboh dari temannya Zee seraya menghampirinya.
"Allenaaa... Yaampun. Lo dari mana aja, kenapa baru datang? Lo telat?". Tanya Zee histeris sambil mengelilingi Allena berputar-putar.
"Ya astaga Zee, bisa nggak lo nggak teriak-teriak kek gitu. Heboh bener dah". Ucap Manaf pada Zee.
"Yee.. biarin. Suka-suka gue dong, sewot aja lo". Balas Zee.
Manaf yang mendengar itu hanya memutar bola matanya jengah. Temannya itu benar-benar sangat heboh akan sesuatu hal.
Zee segera menarik Allena dan menundukan gadis itu dikursinya. Sementara Allena hanya mengkerutkan alisnya bingung melihat ekspresi Zee yang begitu heboh seperti mendapatkan uang sekarung.
"Ada apa?". Ucap Allena seraya memperhatikan ke-6 temannya bergantian.
"Allena lo harus lihat ini sekarang juga yaampun astaga Allenaa...". Ucap Zee yang heboh.
"Udah napa Zee, heboh banget lu dari tadi. Airin tunjukin ke Allena sekarang". Seru Gamma yang langsung diangguki oleh Airin.
"Allena lo coba lihat ini deh". Ucap Airin seraya mendekati Allena dan menunjukan layar ponselnya.
Allena kemudian meraih ponsel Airin dan melihat apa yang terpampang dilayar ponsel tersebut. Selang beberapa saat memperhatikan, terlihat Allena menautkan alisnya. Dipandanginya terus tampilan pada layar ponsel tersebut.
Ternyata disana Allena melihat berita yang begitu viral diakun instagram dan juga twitter milik sekolah SMA Negeri Nasional.
Terlihat begitu banyak berita tentang kejadian kemarin antara Brayen dan juga Allena. Akun tersebut mengunggah foto Allena dan Brayen yang sedang berpelukan. Unggahan foto tersebut terlihat diambil dari berbagai sisi memperlihatkan kemesraan dua orang yang saling berpelukan itu.
Unggahan tersebut langsung diserbu puluhan ribu like dan komentar. Bahkan dari sekolah lainpun ikut menimbrung akun tersebut dan ikut mengomentari serta membagikan unggahan tersebut sehingga tersebar luas.
Allena yang melihat itu seketika menarik nafas panjang. Allena tidak tahu jika kejadian tersebut akan menjadi seperti ini dan tersebar luas bahkan sampai ke sekolah-sekolah lain.
"OMG OMG Allena, lo lihat itu kan Allena. Beritanya udah sampai tersebar luas. Astaga...". Ucap Zee seketika dengan hebohnya.
"Ayang Zee mau juga kaya gitu. Sama Babang Alvian aja kalau gitu". Ucap Alvian sambil menaik-turunkan alisnya memandangi Zee.
"Iih.. Alvian, lo apaan sih? Geli gue tau nggak". Ucap Zee geli.
"Kenapa? Kita bisa kok yang lebih mesra lagi. Iya nggak". Goda Alvian mendekati Zee dan meraih pinggang gadis tersebut.
"Alviaaann...!!". Cicit Zee risih akan Alvian.
"Apa sayang?". Ucap Alvian santai sambil menatap Zee lekat.
"Alvian lepas ihh.. malu tau dilihatin banyak orang. Lo apa-apaan sih?". Desis Zee seraya melepas lengan kekar Alvian dipinggangnya dan menjauh.
"Gue tonjok lo ya kalau kaya gitu lagi". Ancam Zee dengan mengancukan kepalan tangannya dihadapan Alvian.
__ADS_1
"Bercanda aelahh.. galak amat Ayang Zee gue". Kekeh Alvian menahan tawanya karena berhasil menggoda Zee.
"Bercandaannya nggak lucu". Ketus Zee.
"Iya iya, Sorry sorry". Kekeh Alvian.
Sementara ke-5 orang tadi hanya melihat heran tingkah Alvian yang selalu saja menggoda Zee. Sementara Zee hanya memasang wajah masamnya pada Alvian yang terus menggodanya.
"Yahh.. Allena udah ama Kak Brayen ternyata? Padahalkan gue lagi mau berjuang banget nih buat Ayang Lena gue". Teriak Adrian dari pojok kelas.
"Iya uyy sama. Aa Gerald pengennya Neng Lena sama Aa Gerald aja". Timpal Gerald disamping Adrian.
Dua pria itu tak henti-hentinya menggoda Allena.
Sementara murid-murid yang ada di kelas itu hanya tertawa mendengar godaan dua pria tersebut pada Allena.
Allena tak menjawab, gadis itu tetap fokus memperhatikan berita yang lagi hangat-hangatnya diperbincangkan di sekolah itu.
"Wooy Duo Pembuat Onar. Bisa diem nggak lo pada. Orang lagi pusing nih, malah banyak omong. Gue sumpel pake sepatu juga mulut kalian berdua". Teriak Tessa kepada Duo Pembuat Onar tersebut.
"Oyy laki, ikut campur aja lo. Kita itu nggak ada urusannya ama lo". Balas Adrian.
"Sumpel sini kalau berani. Dasar cewe jadi-jadian". Balas Gerald.
Tessa yang tak terima langsung naik pitam. Gadis itu segera menghampiri kedua orang tersebut dengan amarahnya. Gamma yang melihat itu hanya membiarkan saja. Gamma lelah jika menghadapi sepupunya itu yang memang susah jika dikasih tau.
Dengan segera Tessa menghampiri kedua orang tadi dan mengajak ribut. Murid-murid yang ada disana langsung menahan Tessa yang sudah menarik rambut kedua pria tadi dengan tangannya. Murid-murid disana kewalahan dengan Tessa yang terus memberontak.
"Aduhh.. Tessa sakit rambut gue lo tarik kaya gini. Lepasin laki". Ringis Adrian yang tak kuasa menahan sakit akibat rambutnya yang ditarik oleh Tessa.
"Woyy Gamma bantuin napa? Ini sepupu lo brutal banget narik rambut kita. Adohh.. Tessa lepasin rambut gue sakit tau nggak". Ringis Gerald disela-sela tarikan Tessa yang semakin kencang.
Gamma yang melihat itu hanya tertawa tak berniat menolong Duo Pembuat Onar itu. Akhirnya Tessa semakin brutal menarik rambut mereka meskipun murid-murid yang lain mencoba melerai mereka ber-3.
Tessa yang ditahan semakin brutal dan sesekali menaikan kakinya untuk menendang dua pria tersebut. Tessa sesekali mencakar muka mereka.
Dua pria tersebut terus meringis kesakitan dan mencoba melepas tarikan Tessa dirambut mereka yang terlihat sedikit panjang.
Suasana kelas menjadi heboh karena pertengkaran ketiga orang tersebut yang terkesan lucu. Murid-murid ada yang mencoba menolong dan ada yang hanya tertawa melihat pertengkaran lucu itu.
"Tessa lepasin. Iya iya kita minta maaf, kita nggak gangguin lo lagi kok. Aduhh...". Ringis Adrian tak tahan lagi.
"Kyaaa... rasakan ini untuk kalian berdua". Teriak Tessa semakin brutal.
"Waa... Sakit Tessa lepasin. Iya kita minta maaf". Ringis Gerald.
Tessa semakin tidak ingin melepaskan. Hingga suara guru masih tak memberhentikan kegiatan Tessa.
"Berhenti kalian. Ada apa ini?". Tegur Pak Trisno tiba-tiba datang.
"Tessa, berhenti kamu". Ucap Pak Trisno lagi yang sukses membuat Tessa berhenti.
Tessa berhenti dan berbalik kearah Pak Trisno. Dua Pembuat Onar tadi seketika bernafas lega dengan muka dan rambut yang sudah urak-urakan dan seragam berantakan. Anak-anak yang melerai juga terlihat kelelahan.
"Mereka yang duluan Pak". Ucap Tessa tiba-tiba dengan menunjuk Duo Pembuat Onar.
"Tidak Pak, Tessa bohong. Dia menghajar kami berdua". Ucap Adrian membela diri.
"Iya Pak benar. Tessa brutal Pak ngehajar kami. Lihat penampilan kami berdua sekarang". Timpal Gerald.
"Lo berdua ya..". Ucap Tessa terhenti.
"Sudah, diam kalian bertiga". Teriak Pak Trisno.
"Kalian bertiga ke lapangan sekarang. Hormat bendera sampai jam mata pelajaran Bapak selesai". Sambung Pak Trisno.
"Tapi Pak". Ucap mereka bersamaan.
"Cepat ke lapangan sekarang atau Bapak tambahin hukuman kalian". Ancam Pak Trisno.
Mereka ber-3 kemudian pasrah dan berjalan keluar menuju lapangan dan melaksanakan hukuman yang diberikan.
Sementara Pak Trisno memulai pelajaran setelah semua kembali tenang dan murid-murid sudah kembali ke tempat mereka masing-masing.
__ADS_1