Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 88 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Pukul 11 siang Aziel yang sedang berada dalam apartemennya terlihat masih tengah berbaring diatas ranjangnya dalam posisi miring.


Pria itu menunggu Setya untuk datang membantu mengobati luka dipunggungnya, akibat insiden yang terjadi dua hari yang lalu.


Bel apartemen Aziel berbunyi, dengan segera Aziel beranjak dari ranjangnya menuju pintu lalu membukanya dengan malas.


"Lama banget sih lu Ya. Gua tungguin dari tadi juga". Celoteh Aziel dengan menggaruk-garuk kepalanya khas orang baru bangun tidur.


Sesaat pria itu langsung tersadar menatap kaget kearah seseorang yang berdiri dibelakang Setya sambil memiringkan badannya untuk melihat dirinya.


"Allena?". Ucap Aziel seketika melihat wanita itu yang juga menatapnya kaget.


"Kok..". Aziel tak melanjutkan kalimatnya. Pria itu baru tersadar dengan tampilannya yang saat ini hanya memakai celana boxer memperlihatkan dada bidang dan perut sispaknya juga rambut yang acak-acakan.


Seketika Aziel berjalan mundur dan langsung menutup pintu dengan membukanya sedikit memperlihatkan sebagian wajahnya.


"Allena kok bisa ada disini Ya?". Tanya Aziel menatap tajam Setya dari balik pintu.


"Entar gue jelasin, bukain dulu pintunya. Biarin kita masuk kedalam dulu". Jawab Setya.


Aziel kemudian beralih menatap Allena, "Bentar, gua pakai celana dulu". Ucap Aziel dengan sedikit berteriak dan langsung menutup pintu.


Sementara Setya dan Allena hanya saling melirik dengan kikuk didepan pintu yang sudah tertutup.


Beberapa saat kemudian Aziel datang dan kembali membuka pintu. Kali ini dia sudah memakai celana training panjangnya tanpa atasan memperlihatkan otot-otot sispaknya.


Pria itu kemudian mempersilahkan Allena dan Setya masuk kedalam.


Allena melihat luka dipunggung Aziel saat membelakangi dirinya. Luka garis yang cukup panjang dan masih basah sedikit berdarah juga beberapa luka kecil yang lecet dibagian sisi lain panggung pria itu.


"Sekarang jelasin, kenapa Allena bisa datang kesini sama lu?". Tanya Aziel langsung sambil memandang Allena dan Setya bergantian.


Saat ini meraka berada di ruang tamu apartemen tersebut.


"Jadi gini El, tadi pagi si cewek datar ini nelfon gue. Dia minta buat ikut gue kesini jengukin lo, yaudah gue turutin". Jawab Setya jujur.


"Mmm....". Aziel manggut-manggut. Sesaat kemudian dia memandang Allena serius, "Kenapa? Lu khawatir yaa ama gua". Goda Aziel.


Allena berdecih, "Cih, nggak ya. Gua datang jengukin lu cuman sebagai rasa terima kasih gua, karena lu udah nolongin gua waktu diacara pensi sekolah". Elak Allena.


"Yaelah tinggal bilang khawatir aja susah amat". Balas Aziel.


"Lu nya aja yang terlalu kepedean. Ngapain juga gua khawatir ama lu". Allena mendelik karena perkataan Aziel.


"Yakin?". Goda Aziel.


"Ya yakin lah. Sorry too say ya, lu nggak usah kepedean. Pengen banget gua khawatirin perasaan". Jawab Allena dengan juteknya.


Setya yang melihat perdebatan kedua insan itu mulai stres sendiri.


"Kalian berdua itu kenapa malah debat terus dah? Udah bagus-bagusnya kalian akur dulu sekarang mulai lagi, berhenti napa". Ucap Setya tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan tajam dari Allena dan Aziel.


"LU YANG DIEM!!". Bentak kedua orang itu bersamaan kearah Setya.


Setya yang mendapat serangan seperti itu sontak saja kaget membulatkan matanya melihat Allena dan Aziel bergantian.


"Kaget gue anying". Ucap Setya sambil mengusap-usap dadanya, "Lo berdua pada galak-galak amat sih. Ampe buat jantung gue mau copot tau nggak". Sambung Setya.


"Udah-udah, sini El gue obatin luka lo. Dari pada kalian debat terus. Lihat tuh luka lo udah mulai keluar lagi kan darahnya. Makanya jangan banyak gerak lo nya. Belum sembuh juga". Celoteh Setya sambil beranjak ingin mengambil air untuk Aziel.


Namun suara Aziel berhasil membuat dirinya berhenti, "Nggak usah Ya, biar Allena aja yang bantu obatin". Ucap Aziel seketika.


"Kok jadi gua? Nggak mau gua. Lu kira gua pembantu lu nyuruh-nyuruh gua". Allena keberatan dengan apa yang diucapkan oleh Aziel. Bisa-bisanya Aziel memerintah dirinya seenaknya seperti itu.


"Kenapa? Gua kaya gini juga karena lu kan. Harusnya lu mau kalau gua minta tolongin". Balas Aziel.


Allena mendelik, "Jadi lu nggak ikhlas nolongin gua? Terus ngapain kalau lu nggak ikhlas. Gua juga nggak minta kan buat lo tolongin gua waktu itu". Celoteh Allena.


"Bukan gitu, tapi setidaknya kan lu mau bantu obatin luka gua. Ya itung-itung sebagai ucapan terima kasih lo ke gua. Iya kan? Gua nggak salah kan?". Ucap Aziel sambil menaikan alisnya keatas.


"Pokoknya gua nggak mau. Lagian kan ada Setya, kenapa harus gua". Allena bersikukuh tak mau membantu Aziel.

__ADS_1


"Setya bakalan gua suruh kebawah buat beli makanan. Jadi mumpung lu ada disini, lu aja yang bantu obatin luka gua". Ucap Aziel santai.


Aziel kemudian menoleh kearah Setya, "Setya, lu beliin gua makanan kebawah. Gua udah laper banget nih dari tadi belum makan". Ucap Aziel kemudian, "Lu beliin gua yang seperti biasa". Sambung Aziel lagi sambil menatap Setya serius.


"Hmm". Gumam Setya malas. Pria itu kemudian beranjak dari tempatnya menuju pintu. Sebenarnya Setya sangat malas dengan Aziel yang memerintahnya, lagi pula dia tau maksud Aziel dengan dia menyuruhnya membeli makanan. Aziel pasti ingin berduaan dengan Allena di apartemen itu.


Selama Setya pergi, kedua orang itu saling berdiam diri hingga beberapa detik.


"Yaudah lu ambil air hangat sana, terus lu bersihin punggung gua dulu sebelum lu pakein obatnya". Perintah Aziel seketika memecahkan keheningan.


Allena menatap tajam kearah Aziel, "Nyuruh-nyuruh gua lagi lu. Dasar!". Celoteh Allena, tapi masih mau mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Aziel.


Allena beranjak dari duduknya berjalan menuju dapur untuk mengambil air.


"Ini handuk kecilnya mana?". Teriak Allena dari balik pintu dapur yang langsung menuju kearah ruang tengah Aziel berada.


"Entar gua aja yang ambilin, lu kesini sekarang". Aziel membalas dengan sedikit berteriak. Pria itu kemudian berjalan kearah lemari yang berada disisi ruangan lainnya.


Allena kemudian datang sambil membawa baskom kecil berisi air hangat yang diletakkannya diatas meja. Aziel berjalan kearah Allena dan memberikan sebuah handuk kecil kearah gadis itu.


Allena meraih handuk itu dan langsung menyelupkannya kedalam air hangat yang ada dibaskom.


"Mana coba punggung lu". Ucap Allena yang duduk disofa.


Aziel kemudian duduk membelakangi Allena memperlihatkan punggungnya yang terdapat luka lecetan dibeberapa bagian dan juga satu luka yang cukup panjang dibagian punggung bawah yang terlihat berdarah dan... agak sedikit dalam.


Allena cukup ngeri melihat luka yang satu itu. Sepertinya itu luka yang parah, tetapi tak ada jahitan disana. Apa Aziel tak ingin lukanya dijahit? Apakah karena dirinya takut?


Allena kemudian mengelap perlahan dan hati-hati punggung Aziel dengan menggunakan handuk kecil tadi, tapi dia belum berani menyentuh luka yang parah itu.


Dipandanginya terus luka itu. Allena mulai penasaran, entah apa yang ada dipikirannya. Tapi dia mulai mengangkat tangannya dan menyentuh luka itu dengan lembut. Digerakannya jari telunjuknya kebawah secara perlahan pada luka itu.


"Uhmm". Aziel merasakan jari Allena yang menyentuh lukanya. Sontak itu membuatnya kaget dan membuat badannya reflek maju kedepan.


Allena merasakan pergerakan Aziel, "Eh sorry, sakit ya. Maaf gua nggak sengaja, gua cuman penasaran aja". Ucap Allena jujur.


Aziel menautkan alisnya, "Hah? Penasaran kok sama luka, aneh lu". Ucap Aziel membalikan kepalanya kesamping berbicara pada Allena.


"Yaudah obatin. Malah penasaran ama luka, aneh aja lu". Balas Aziel.


"Dih.. Yaudah kotak P3K lu mana?". Tanya Allena sensi.


"Ambil di lemari sana!". Ucap Aziel sambil menunjuk lemari besar yang berada disudut ruangan. "Ambil yang besarannya ya, gua mau lu perbanin luka gua". Sambungnya lagi.


"Ck, banyak maunya lu". Allena berdecih sambil berjalan kearah lemari yang ditunjuk oleh Aziel lalu mengambil kotak P3K yang ada didalam lemari itu.


Cukup besar kotak itu, sehingga pada saat Allena membuka kotak tersebut, disana lengkap sekali. Sepertinya Aziel memang sengaja membelinya untuk berjaga-jaga pastinya. Apalagi dia sangat membutuhkannya seperti saat ini.


Allena lalu mengambil obat pemberisih luka terlebih dahulu dan kapas untuk membersihkan luka Aziel. Dibersihkannya luka yang parah tersebut.


"Tahan ya". Ucap Allena yang mulai membersihkan luka tersebut secara perlahan.


Aziel mengepal kuat kedua tangannya menahan perih yang luar biasa saat Allena membersihkan luka dipunggungnya itu. Sangat perih, ingin sekali dia berteriak. Tapi gengsi dong, masa dia berteriak saat ada Allena. Kalau Setya mungkin bisa saja, tapi ini Allena. Nanti dia dikatain banci lagi atau lemah. Tapi perih banget woy.


"Sakit ya El". Allena berkata lembut mendongakan kepalanya kearah leher Aziel.


"Ya lumayan. Tapi masih bisa gua tahan kok". Jawab Aziel seadanya.


"Kenapa nggak lu jahit lukanya?". Tanya Allena disela-sela dia mulai memberikan obat diluka Aziel lalu memperbannya dengan telaten.


"Gua nggak mau". Jawab Aziel.


"Kenapa? Lu takut?". Allena berbicara saat dia sudah dihadapan Aziel untuk memutar perban dibadan Aziel. Gadis itu mendongakan kepalanya memandang wajah Aziel dengan memegang perban didepan perut Aziel.


"Nggak. Gua cuman nggak mau aja". Aziel menunduk membalas tatapan Allena. Manik mata mereka bertemu.


"Ohh". Allena segera menundukan kepalanya mengalihkan pandangannya dari Aziel.


"Umm". Balas Aziel. "Len!". Panggil Aziel kemudian.


"Ya". Allena kembali mendongakan kepalanya kearah Aziel.

__ADS_1


Aziel langsung saja mencium dahi Allena sekilas. Lalu kembali menjauhkan wajahnya menatap Allena yang juga menatapnya.


Allena hanya menarik nafasnya lalu kembali bergerak kebelakang Aziel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya atas tindakan Aziel barusan. Allena merapikan perban tersebut dan selesai.


"Dah, selesai". Ucap Allena yang telah selesai.


Allena kemudian merapikan kotak P3K dan meletakannya terlebih dahulu diatas meja. Sementara Aziel hanya melihat apa yang dilakukan oleh Allena. Gadis itu lalu meraih baskom kecil tadi kemudian membawanya pergi bersamanya menuju dapur.


Saat Allena mencuci tangannya diwastafel. Gadis itu dikagetkan dengan uluran tangan dari belakang yang langsung memeluk pinggangnya.


Allena semakin kaget dengan Aziel yang sudah ada dibelakangnya dan menjatuhkan kepalanya dibahunya. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya dipinggang ramping Allena.


"Uhgg". Allena melenguh kegelian saat Aziel menghembuskan nafas diceruk lehernya.


Allena berbalik menghadap Aziel dengan tatapan kesalnya, "Udah berapa kali gua bilang, jangan suka dileher. Guanya kegelian". Ucap Allena sambil terus menatap kesal kearah Aziel.


Aziel tidak menjawab, pria itu membiarkan Allena memarahinya. Aziel hanya terus memandangi wajah Allena yang dia sukai. Gadis itu memang sangat-sangat cantik, apalagi mata hazelnya yang begitu indah bila dipandang.


Aziel menggeleng pelan, lalu kembali merengkuh tubuh Allena kedalam dekapannya. Aziel memang sangat menyukai wangi tubuh Allena. Sehingga saat dia memeluknya, Aziel tak berniat melepaskan Allena dari dekapannya. Entah apa yang membuat Aziel begitu candu terhadap apa yang ada pada diri Allena.


"Lu masih ingatkan taruhan kita waktu itu?". Tanya Aziel tiba-tiba tanpa melepaskan pelukannya.


"Taruhan? Taruhan apa?". Tanya Allena bingung.


"Hemm... masa lu lupa?". Aziel mengangkat tangannya dari pinggang Allena lalu memeluk bagian leher gadis itu dengan nyaman sambil memejamkan matanya.


Allena berusaha mendorong Aziel, "Yaudah lepasin dulu pelukannya, biar kita bisa ngomong". Namun Aziel tak berniat melepaskan Allena, pria itu malah semakin mempererat pelukannya.


"Nggak mau". Aziel menggeleng, "Biarin kaya gini dulu, sebentar aja. Gua mohon". Sambung Aziel memohon.


Allena hanya terdiam, membiarkan Aziel yang begitu erat memeluknya dengan nyaman. Gadis itu dapat menghirup aroma tubuh Aziel dan juga bercampur dengan bau obat. Pria itu masih tak memakai atasan, memperlihatkan badannya yang diperban diarea otot sispaknya.


Tangan Allena kemudian terangkat membalas pelukan Aziel, menyembunyikan wajahnya disela-sela dada bidang Aziel yang tanpa memakai baju itu.


Hingga beberapa saat Aziel melepaskan pelukannya lalu memandang intens wajah Allena yang begitu dekat dengannya. Manik mata mereka bertemu, saling pandang dalam diam.


Aziel kemudian menurunkan pandangannya kearah bibir ranum merah muda Allena. Dipandanginya terus bibir yang selalu menjadi godaannya itu. 'SHI*T!'. Umpat Aziel membantin dalam hati.


Dengan segera kedua tangan Aziel terangkat, menangkup wajah Allena, mengarahkan


kearahnya, dan langsung mencium bibir Allena. Dilu*matnya bibir Allena beberapa detik, Aziel kemudian melepaskan ciumannya dan menjaukan wajahnya.


Allena terlihat hanya diam membalas memandangi Aziel yang juga memandanginya. Hingga beberapa saat kemudian Aziel kembali meraih wajah Allena dan kembali meraub bibir Allena, melu*matnya kembali dengan intens.


Allena terlihat membalas ciuman Aziel yang kedua itu. Dikalungkannya kedua tangannya dileher Aziel dan terus saling membalas luma*tan bibir satu sama lain sambil memejamkan mata mencari kenikmatan disana.


Aziel menurunkan tangannya meraih pinggang Allena dan memeluknya dengan posesif, sambil terus melahap bibir Allena.


Sementara Allena menyandarkan dirinya kearah wastafel yang ada dibelakangnya dan terus membalas luma*tan-luma*tan Aziel dibibirnya hingga wajah mereka saling miring kekiri dan kekanan.


Ruangan itu bahkan dipenuhi dengan suara kecupan dari bibir mereka masing-masing.


Setelah merasa puas, Aziel melepaskan pagutannya dibibir Allena tanpa melepaskan pelukannya sambil terus memandangi wajah Allena.


Terlihat Allena menarik dan menghembuskan nafasnya akibat ciuman Aziel yang begitu hot dibibirnya.


"Udah El.. hh.. ha.. ha..". Lenguh Allena dengan wajah sayunya. Bibir gadis itu sedikit terbuka menghirup oksigen yang dia butuhkan saat ini. Aziel benar-benar tak membiarkan dirinya untuk mencari cela sedikitpun tadi. Pria itu sangat bernafsu pada bibirnya.


Aziel menggeleng. Pria itu ingin kembali merasakan bibir Allena. Oh My Gosh dia hampir gila saat ini karena Allena.


Saat pria itu sudah kembali menangkup wajah Allena dan mendekatkan wajahnya, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi.


"SHI*T!". Umpat Aziel kesal.


"Udah El..". Ucap Allena seketika sambil menatap wajah Aziel.


Aziel kemudian beralih menatap wajah Allena. Ditempelkan dahinya dengan dahi Allena sebentar, "Bersikap biasa aja. Okey". Aziel kemudian mencium bibir Allena sekilas, lalu mengelus wajah gadis itu dengan lembut sambil tersenyum kearah Allena.


Setelah itu Aziel berjalan terlebih dahulu meninggalkan Allena menuju ruang tamu.


Bel apartemen terus berbunyi, dan Aziel sudah tentu tau siapa pelakunya.

__ADS_1



__ADS_2