Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 134 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Satu bulan berlalu, setelah kejadian di UKS sekolah waktu itu, Allena dan Aziel tidak lagi bertemu satu sama lain.


Mereka bahkan tidak saling berpapasan di sekolah sekali pun. Padahal mereka satu sekolah dan kelas mereka sama-sama berada di lantai dua. Tapi itu tak membuat mereka saling bertemu walau hanya sekedar melihat muka.


Saat ini lebih tepatnya di kelas 11 IPA 1, terlihat Bu Preti selaku Wali Kelas di kelas itu sedang berdiri di depan kelas ingin memberikan informasi kepada murid-muridnya.


"Selamat pagi anak-anak!". Sapa Bu Preti terlebih dahulu.


"Pagi Bu Guru!". Sahut semua murid-murid(Yaa meskipun tidak semuanya ya ikut menyahut. Seperti Allena contohnya😂😂)


"Pagi hari ini Bu Guru ada berita penting untuk kalian". Ucap Bu Preti sambil tersenyum ke arah murid-muridnya.


"Wahh berita penting apa ni Bu? Kalau berita pentingnya soal Allena yang dikeluarin dari OSIS sih kita-kita semua udah pada tau Bu". Celetuk Adrian di ujung sana.


"Iya Bu Guru! Soal itu sih kita udah pada tau semua". Timpal Gerald(Biasa Duo Pembuat Onar. Bareng-bereng mulu😅). "Padahal kan kalau Allena masih jadi Ketua OSIS nggak ada yang berani tuh buat ngelanggar aturan". Sambungnya dengan bersemangat.


"Gimana mau berani ngelanggar? Orang Bu Ketuanya aja galak ngalahin Kak Ros di kartun Upin & Ipin. Iya nggak temen-temen?". Sahut yang lainnya lagi diikuti gelak tawa mereka kemudian.


Sementara Allena, cewek itu hanya diam tak mempedulikan gurauan mereka itu. Matanya malah fokus memandang ke arah luar lewat pintu kelas.


Memang benar, satu minggu yang lalu Kepala Sekolah sudah mengumumkan di depan murid-murid SMAN Nasional saat apel pagi, bahwa Allena telah resmi di keluarkan dari OSIS dan jabatannya sebagai Ketua OSIS dicabut.


Sehingga bukan hanya teman-teman sekelas Allena yang mengetahui soal Allena yang keluar dari OSIS tapi hampir seluruh murid-murid SMAN Nasional yang mengetahui hal itu.


"Sorry Bob, udah nggak jadi Bu Ketua lagi sekarang". Ralat Adrian seketika.


"Eh iya ya! Kan udah dikeluarin ya?". Sahut murid yang bernama Boby itu dengan cengirannya.


BAM


BAM


BAM


"Sudah sudah! Berhenti kalian!". Tegur Bu Preti dengan memukul papan tulis yang ditempelkan di tembok menggunakan spidol di tangannya, "Kalian ini malah ribut sendiri! Siapa yang menyuruh kalian untuk berbicara?


"Maaf Bu reflek aja tadi, eh". Adrian dengan cepat membekap mulutnya sendiri.


Bu Preti langsung melotot galak ke arah Adrian. Kewalahan memang mengurusi murid yang satu itu.


"Adrian kamu ini! Kalau kamu tidak berhenti berbicara, Ibu akan keluarkan kamu dari kelas ini. Mau kamu?". Ancam Bu Preti.


Adrian seketika menggeleng dengan masih membekap mulutnya.


"Kalau begitu berhenti bicara ya kamu. Kalian berdua juga!". Ucap Bu Preti ke arah Gerald dan Boby yang ikut-ikutan tadi. "Kalau kalain berbicara terus, Ibu akan langsung keluarkan kalian bertiga.


Ketiga orang itu setelah mendapat ancaman dari Bu Preti langsung berhenti berbicara dan duduk diam di kursi mereka masing-masing. Meskipun mereka masih saling melirik satu sama lain dan saling melempar tawa bersama.


"Yasudah kalau begitu kita lanjut". Ucap Bu Preti kemudian.


"Hari ini Ibu ingin menyampaikan satu hal kepada kalian semua. Hari ini salah satu teman kalian sudah kembali bersekolah disini lagi. Dan hari ini dia sudah mulai masuk dan akan belajar bersama-sama dengan kalian lagi". Terang Bu Preti.


Mereka yang ada di kelas itu seketika saling melirik satu sama lain merasa penasaran dengan apa yang disampaikan Bu Preti.


Sementara Allena, gadis itu terlihat masih sibuk dengan pikirannya tak mempedulikan apa yang tengah dikatakan Bu Preti di depan sana.


Sampai seorang cewek berjalan masuk ke dalam kelas setelah Bu Preti menyuruh cewek yang sejak tadi menunggu di luar kelas itu masuk, barulah Allena tersadar dari pikirannya.


Di depan sana nampak seorang cewek dengan rambut sebahu, berseragam sekolah yang sama dengan murid-murid di kelas itu, berdiri dengan tanpa ekspresi di hadapan mereka semua.


"ZEE!!". Teriak Airin dan Tessa seketika dan bersamaan.


Ya benar, itu Zee. Gadis itu sudah kembali bersekolah setelah satu bulan lebih lamanya absen karena kecelakaan yang menimpanya waktu itu.


Airin dan Tessa langsung saja berlari menghampiri Zee dan memeluk sahabat mereka itu dengan perasaan senang sekaligus haru.


"Zee, kita seneng banget lo udah bisa sekolah lagi. Iyakan Rin?". Ucap Tessa disetujui Airin.


"Iya Zee, kita seneng banget banget banget lo udah sekolah lagi. Tapi lo udah ngerasa bisa masuk sekolah emang?". Tanya Airin sambil memandangi Zee di pelukannya.


Zee hanya tersenyum canggung dipeluk oleh kedua sahabatnya itu. Meskipun Zee tidak mengingat siapa mereka, Zee masih mau jika dirinya dipeluk Airin dan Tessa.


"I-i-iya iya bisa kok". Jawab Zee canggung.


Saat ketiga sahabat itu masih berpelukan, berbeda dengan Allena yang hanya memandangi mereka bertiga dari kursinya. Seperti ada yang tengah dipikirkan oleh Allena. Tapi entah apa itu? Hanya dia sendiri yang tahu.


"Oh iya sebelum itu ada yang ingin Ibu sampaikan ke kalian semua. Kalian semua pasti memang sudah taukan tentang kecelakaan yang dialami Zee?". Tanya Bu Preti seketika.


Semua murid-murid yang ada di kelas itu mengangguk mengiyakan pertanyaan Bu Preti. Mereka semua memang sudah mengetahui tentang musibah yang dialami Zee.


"Nah mungkin berita ini yang paling penting untuk Ibu beri tahu ke kalian semua selaku kalian teman-teman sekelasnya. Ibu ingin menyampaikan bahwa setelah insiden kecelakaan yang dialami Zee, untuk saat ini Zee memang sedang mengalami yang namanya hilang ingatan". Jelas Bu Preti yang membuat mereka seketika terkejut sekaligus mencengang tak percaya. Bisa-bisanya ya Zee mengalami hal seperti itu. Hilang ingatan woyy!!


"Jadi Ibu Guru meminta kepada kalian semua untuk memaklumi jika nanti kalian akan merasakan suasana yang berbeda jika berbicara dengan Zee. Kalian semua pasti sudah paham kan apa maksud Ibu?". Lanjut Bu Preti lagi.

__ADS_1


Semua murid-murid yang mendengar penjelasan Bu Preti langsung bersorak paham dengan apa yang dikatakan Wali Kelas mereka.


"Yasudah kalau kalian semua sudah paham". Kemudian Bu Preti beralih ke arah ketiga cewek yang masih berpelukan itu, "Ibu minta tolong untuk kalian berdua menghantarkan Zee ke kursinya ya anak-anak". Sambungnya menatap Airin dan Tessa bergantian.


"Siap Bu Guru!". Sahut Tessa dengan menghormat. Kemudian beralih ke arah Zee, "Yuk Zee, gue tunjukin tempat duduk lo dimana.


Airin dan Tessa kemudian mengantar Zee ke tempat duduknya yang pernah ditempatinya dulu. Sedang Zee hanya mengikuti kedua cewek itu.


Setelah merasa semua sudah beres dan selesai, Bu Preti kemudian memulai pelajarannya hari itu.



...******...


Jam istirahat sudah dimulai, terlihat Allena berdiri dari kursinya setelah membereskan barang-barangnya di atas meja.


Allena kemudian berjalan melewati kelima sahabatnya yang sedang berkumpul satu tempat. Lebih tepatnya berkumpul di meja Zee. Berjalan untuk menyimpan tasnya di lemari loker belakang sana.


"Nggak ikut ngumpul dulu lo Len, ama kita-kita? Ini ada Zee loh". Seru Gamma pada Allena membuat cewek itu berbalik ke arah mereka berlima.


"Lah Gam, ngapain lo ajak dia? Dia kayanya nggak peduli juga tuh mau ada Zee disini sekali pun". Sahut Tessa sinis.


"Sa, nggak boleh ngomong gitu!". Tegur Airin.


"Kenapa? Emang bener kan yang gue omongin? Dia tuh nggak bakalan peduli sedikit pun. Dia kan orangnya egois". Cibir Tessa melirik sinis Allena.


Sementara Allena hanya memandang dingin Tessa yang mengatainya, lalu mulai melangkahkan kakinya keluar dari kelas.


"Lo kenapa sih Sa, sama Allena?Diakan nggak ada masalah sama lo. Kok lo sensi banget ama dia?". Tanya Gamma tak habis pikir dengan Tessa. Emang kesalahan apa yang udah dilakukan Allena sama Tessa sampai Tessa bersikap tak bersahabat dengan Allena.


"Nggak ada masalah apa-apa? Gue cuman nggak suka aja sama sifat egois dan keras kepalanya Allena". Jawab Tessa, "Kita sebagai sahabat harus ubah sifat dia yang kaya gitu. Sifat yang kaya gitu-gitu tuh merugikan diri dia sendiri. Nggak mau mengalah, nggak pernah mau denger nasihat orang.


"Hedehh Sa, Sa kaya lo nggak gitu aja. Sama aja kali lo sama Allena. Ngomongin Allena tapi nggak intropeksi diri". Cibir Gamma.


"Gue nggak gitu ya Gam. Kata siapa gue kaya gitu?". Sentak Tessa tak terima.


"Terserah lo dah terserah terserah! Males gue debat ama sepupu kaya lo". Cetus Gamma yang malas berdebat.


Sementara Allena mulai melangkahkan kakinya ke kantin sekolah.


Seperti biasa, setelah memesan makanan Allena beranjak duduk di kursi kosong dan mulai menyantap makanannya sendiri tanpa ada yang mengganggu.


Saat sedang tenang-tenangnya menyantap mie sotonya, tiba-tiba datang Alexa bersama kedua sahabatnya Chika dan Hera.


Namun Allena tak peduli dan tetap melanjutkan memakan mie sotonya dengan santai.


Merasa tak dipedulikan Alexa sedikit geram.


"Harusnya sih lo sadar ya kalau lo itu orangnya nggak mampu. Harusnya lo nggak usah sok-sokan ngecalonin diri waktu itu". Ejek Alexa lagi. Cewek itu tentu saja tak ingin menyerah untuk mengejek Allena.


Akan tetapi Allena tetap diam tak melakukan respon apapun dan tetap melanjutkan aktivitasnya.


Alexa yang awalnya hanya geram mulai kesal dan sedikit terpancing emosi. Cewek itu mulai mendekati meja tempat Allena makan.


BRAKK


"Heh, gue ngomong sama lo! Lo tuli apa bisu? Atau lo tuli sama bisu. Iya? Songong banget sih lo!". Bentak Alexa yang sudah menggebrak meja, membuat murid-murid yang ada disana langsung menoleh ke arah mereka.


Kedua sahabat Alexa yang melihat itu bahkan ikut terkejut dan mulai khawatir. Keduanya mulai mendekati Alexa dan menahannya agar tak melakukan hal berlebih yang bisa membuat memancing keributan.


"Udahlah Lex, nggak usah nyari ribut bisa?". Tegur Chika menarik satu lengan Alexa.


"Iya Lex, nggak usah ribut dulu napa. Masih ada yang harus lo urus dan lebih penting dari ini". Timpal Hera yang ikut-ikutan menarik lengan Alexa yang satunya lagi.


"Lepasin!". Sentak Alexa memberontak menarik kedua lengannya, "Lo berdua nggak usah ikut campur kalau gitu". Sambungnya menatap tajam Chika dan Hera bergantian membuat keduanya memilih mundur dan tidak ikut campur.


Memang kalau ngomong sama Alexa tuh susah nggak bakal di dengerin. Dikasih tau nggak mau denger. Sama aja tuh kaya Allena.


Alexa kemudian kembali beralih ke arah Allena


"Eh lo...


BRAK


PRANG


"Aww shh gila lo ya!". Bentak Alexa ke arah Allena sambil membersihkan tumpahan soto di seragam yang dikenakannya karena Allena yang melempar ke arahnya tadi.


Mangkuk kaca yang pecah tadi pun sempat mengenai badan Alexa hingga membuatnya meringis kesakitan. Murid-murid disana sampai terkejut melihat tindakan Allena tadi.


Allena yang sudah beranjak dari kursinya mulai mendekati Alexa berdiri di hadapan gadis itu dengan tatapan dinginnya.


"Gua lagi makan... DAN LU GANGGUIN GUA! NYARI MATI LU HA?". Bentak Allena membuat Alexa sontak terkejut mendapati tatapan Allena yang awalnya dingin langsung menatap tajam dirinya. Ditambah lagi dengan bentakan Allena yang begitu keras membuat seisi kantin ikut terkejut.

__ADS_1


"SIALAN LU!". Sentak Allena lagi kemudian mulai berjalan melewati Alexa pergi dari kantin itu.


Sementara Alexa hanya memandangi Allena yang mulai menghilang di ambang pintu kantin.


"Tuh kan Lex, gue bilang juga apa. Kan gue udah bilang jangan nyari ribut, malah Allena lo pancing-pancing". Tegur Chika, "Yaudah yok kita pergi aja dari sini. Ngapain sih lo ngajakin Allena ribut dulu!". Sambungnya lagi sambil menepuk bahu Alexa.


Alexa menoleh ke arah Chika, "Cih!". Kemudian berdecak sambil menepis tangan Chika di bahunya, lalu mulai melangkahkan kakinya dari tempatnya.


Chika dan Hera yang melihat itu hanya saling melirik satu sama lain sembari menggeleng heran melihat tingkah sahabatnya itu. Kemudian bergegas menyusul Alexa.


Sementara itu Allena saat ini tengah berjalan di koridor sekolah. Saat ini memang sedikit sepi, mungkin karena masih jam istirahat. Semua murid-murid tengah menghabiskan waktu di kantin atau tidak di lapangan, kalau nggak di taman.


Allena berhenti sebentar, memandang datar sekeliling koridor yang sepi itu. Allena seketika berbalik, tak jadi kembali menuju kelasnya.


Allena mulai berjalan sampai akhirnya dia tiba di aula sekolah. Menerawang suasana aula yang sepi itu. Kemudian Allena kembali berjalan sampai di depan ruang kesenian, dan masuk ke dalam ruangan itu.


Sama. Sepi dan... tenang.


Mata hazelnya dengan pandangan datar itu mengedar keseluruh penjuru ruangan. Seketika terdengar hembusan nafas yang berat keluar dari mulut Allena.


Allena lalu mulai kembali melangkahkan kakinya.


GREEKK


Suara seperti meja digeser berhasil membuat Allena menghentikan langkahnya. Menoleh ke sumber suara di sudut ruangan itu.


"NGAPAIN LU DISINI?". Suara berat cowok. Menatap dingin Allena yang masih berdiri di tempatnya.


"Sorry ganggu". Sahut Allena berbalik berencana ingin keluar dari ruang kesenian itu.


"Mau kemana lu?". Seketika Allena berhenti.


Cowok itu terlihat berjalan menghampiri Allena yang membelakangi dirinya. Kemudian berhenti saat sudah sekitar 1 meter jaraknya dengan Allena.


Allena yang awalnya diam membelakangi mulai kembali melangkahkan kakinya.


"BERHENTI DISITU!". Sentak cowok itu. Dan anehnya Allena malah berhenti.


Allena mengepalkan kedua tangannya, kemudian berbalik menghadap cowok itu.


Netra hazelnya menatap datar cowo yang sudah satu bulan ini tak dilihatnya. Kini cowok itu sudah berada di hadapannya.


Tapi ada sesuatu yang membuat Allena fokus memandangi wajah cowok itu. Ada sedikit keanehan. Ada lebam di pipi dekat mata cowok itu. Plester yang tertempel di pelipisnya. Dan juga ada sedikit darah yang mengering di sudut bibir cowok itu. Ah satu lagi, perban yang terlihat menggulung dijari, telapak tangan kanannya.


"Ngapain lu disini gua tanya?". Sentak cowok itu seketika yang berhasil membuat Allena sadar.


Allena menetralkan diri, "Bukan urusan lu!". Sahutnya datar.


Aziel. Ya Aziel. Pria itu berdecih mendengar balasan Allena. Kemudian membalas tatapan Allena tak kalah datarnya.


Lalu mulai melangkahkan kakinya perlahan mendekati Allena sampai di hadapannya. Sementara Allena hanya diam berdiri di tempatnya. Mendongakan kepalanya menatap wajah Aziel. Kali ini wajah cowok itu terlihat jelas.


Tangan kanan Aziel perlahan terangkat ingin menyentuh pipi Allena. Namun sebelum itu terjadi, Allena langsung menepis tangan Aziel ke samping. Membuat Aziel menatap tangannya yang diperban itu.


"Jangan sentuh gua!". Desis Allena datar.


Aziel seketika menatap Allena. Senyum miring tercetak di bibir cowok itu.


"Kenapa?". Tanya Aziel.


"Pertanyaan bodoh!". Semprot Allena, lalu berbalik ingin pergi dari sana.


Namun baru satu langkah, Aziel sudah menarik lengan Allena dengan kuat hingga kembali berbalik menghadapnya.


"Mau kemana lu? Nggak ada yang nyuruh lu pergi". Desis Aziel dingin.


Allena menatap tangan Aziel yang mencengkram lengannya.


"Lepasin!". Berontak Allena, namun tak bisa.


"Aww shh sakit bodoh!". Maki Allena saat Aziel semakin mengeratkan cengkramannya. "Lepasin!


"Gua nggak akan lepasin lu!". Ucap Aziel.


"Lu mau apa lagi sih? Gua nggak mau berhubungan lagi ama lu. Lepasin tangan gua! Gua mau keluar!". Cicit Allena tetap berusaha memberontak, tapi Aziel juga tetap menarik lengan Allena bahkan semakin mencengkramnya dengan kuat. "Aww sakit! Lepasin!


"Dan lu pikir gua mau nurutin permintaan lu untuk nggak berhubungan lagi ama gua. Nggak akan gua biarin! Lu itu punya gua, dan cuman gua yang berhak milikin lu". Tekan Aziel.


"Nggak, gua nggak mau berhubungan ama lu. Gua bukan barang yang bisa lu milikin kaya gitu aja. Gua udah punya tunangan. Gua udah tunangan sama Louis. Dan lu bukan apa-apa bagi gua". Balas Allena tajam.


Aziel seketika menatap tajam Allena karena mendengar perkataan cewek itu yang membuatnya naik pitam. Allena terlalu memancing emosinya karena perkataannya itu. Selalu saja Louis.


Lama-lama bisa saja Aziel menghilangkan Louis dari muka bumi ini karena selalu membawa pertunangannya dengan Louis agar tak mau berhubungan lagi dengannya.

__ADS_1



__ADS_2