
Tiga hari berlalu. Setelah kejadian malam itu, Allena lebih memilih mengurung diri di kamarnya. Seperti pada saat ini Allena tengah sedang menikmati waktu paginya di balkon kamarnya. Gadis itu tengah duduk dikursi sambil memakan roti slei kacang dengan segelas susu yang dibawakan oleh pembantu di mansion tersebut.
Saat Allena sedang menikmati sarapannya, ponsel Allena berdering. Menyadari ponselnya berdering, Allena langsung saja meraih ponselnya yang dia letakan diatas meja. Allena lalu melihat siapa yang menelfonnya. Dan ternyata itu adalah Zee. Allena kemudian langsung mengangkat panggilan dari Zee.
"Halo! Ada apa?". Ucap Allena menjawab panggilan Zee.
"......"
"Umm.. Yasudah! Kalau gitu telfon sekarang, nanti lu yang sambungin". Ucap Allena lagi.
Allena lalu memutus panggilannya dan membuka aplikasi WhatsApp diponselnya. Tidak lama ponsel Allena kembali berdering yang berasal dari panggilan grub WhatsApp miliknya.
Ternyata Allena akan memulai panggilan grub bersama teman-temannya. Nampak terlihat dari layar ponselnya wajah teman-temannya. Disana ada Zee, Airin, Tessa, dan juga Gamma, Manaf, serta Alvian.
"Hai para besti bestiku tercinta! Kalian lagi pada ngapain nih woy? Gue kangen banget nih sama kalian". Seru Zee dari sebrang sana.
"Yaelahh Zee! Baru juga beberapa hari nggak ketemu lo udah kangen aja". Balas Tessa.
"Namanya juga kangen Sa. Emang lo nggak kangen apa sama gue?". Ucap Zee.
"Gue mah nggak pernah kangen ama lo Zee. Ngapain juga kangen ama lo?". Canda Tessa.
"Jahat banget lo Sa ama gue. Gitu lo ya ama temen sendiri". Ucap Zee dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.
"Eh tapi tapi. Tunggu deh! Loh kok Allena terang ya sementara kita gelap?. Kenapa gitu? Woyy Allena!". Tanya Zee dengan polosnya.
"Zee..! Allena kan sekarang ada di Amerika. Makanya di Allena masih pagi. Masa lo nggak tau". Timpal Airin.
"Oh iya ya! Gue lupa. Allena kan sekarang di Amerika ya. Hehe! Sori-sori gue lupa". Ucap Zee merasa malu.
"Alahh.. Bilang aja lo nggak tau Zee. Nggak usah sok pura-pura lupa gitu". Timpal Manaf.
"Yee.. Orang gue emang lupa kok. Gue tau ya gue cuman lupa aja". Balas Zee tak terima.
"Oyy.. Manaf! Lo lagi dimana itu? Lo lagi sama Airin ya?". Tanya Alvian tiba-tiba sambil memperhatikan Manaf dari layar ponselnya.
"Hehehe! Iya nih gue lagi di rumah Airin. Nih Airin". Ucap Manaf sambil mengalihkan kamera ponselnya ke arah Airin.
"Dih.. Nggak usah pake ponsel masing-masing segala kali. Kan kalian bisa pake ponsel diantara kalian berdua. Orang kita juga tau kalian lagi sama-sama". Ucap Alvian lagi.
"Tunggu-tunggu! Woy Manaf lo lagi sama Airin ya? Ciee.. kalian lagi ngapain itu? Pacaran ya?". Timpal Gamma tiba-tiba.
"Lahh.. Lo jangan salah paham. Gue datang kesini cuman mau bantuin Airin buat kue kali. Lo jangan berpikiran yang macam-macam. Iya nggak Airin?". Ucap Manaf sambil beralih ke arah Airin.
Airin kemudian mematikan ponselnya dan ikut bergambung bersama Manaf untuk saling terhubung bersama mereka semua.
"Nahh.. gitu dong! Kan enak dilihatnya". Sarkas Gamma menggoda Airin dan Manaf.
Mereka semua kemudian melanjutkan obrolan mereka lewat Video Call Grub WhatsApp mereka. Terdengar suara tawa mereka dari sebrang ponsel Allena. Sesekali gadis itu tersenyum dan tertawa kecil mendengar perkataan dan candaan teman-temannya. Meskipun sesekali Allena ikut menimbrung obrolan mereka.
Saat Allena masih melakukan panggilan, terdengar suara seperti ada yang membuka pintu kamar Allena. Ternyata itu adalah Mommy Tiara.
Seketika Allena berdiri dari tempatnya dan menoleh ke arah Mommy Tiara. Melihat Allena sedang berada di balkon, Mommy Tiara langsung menghampiri Allena.
__ADS_1
"Allena! Kamu lagi apa sayang?". Tanya Mommy Tiara dengan lembut pada Allena.
"Nggak lihat Allena lagi ngapain?". Ucap Allena seraya memutuskan panggilan video grub WhatsAppnya.
"Allena... Nak! Kamu masih marah sama Papa?". Tanya Mommy Tiara.
"Mama mau tau. Allena bukan hanya marah sama Papa, tapi sama Mama juga. Kenapa sih Mama nggak pernah ngebelain Allena? Mama selalu saja ikutin apa yang Papa mau. Nggak ada sekalipun mau dukung keputusan Allena". Ucap Allena mulai menyampaikan uneg-unegnya.
"Mama taukan keinginan Allena itu seperti apa? Semua itu hancur Ma hancur. Hanya karena semuanya harus atas kehendak Papa. Dan Mama nggak ada sekalipun ngebela Allena. Kenapa Ma kenapa? Mama takut sama Papa?". Ucap Allena lagi.
"Allena.. Sayang! Dengar perkataan Mommy. Apa yang dilakukan Papa semua itu demi kebaikan kamu. Papa berbuat sesuai kehendaknya semua untuk kebaikan kamu, untuk kita semua sayang. Kamu nggak boleh seperti itu sama Papa". Ucap Mommy Tiara mencoba memberi pengertian pada Allena.
"Demi kebaikan Allena Ma? Kebaikan apa? Papa malah ngehancurin impian Allena. Papa berbuat sesuka hatinya. Nggak pernah mau pikirin gimana perasaan Allena. Dan Mama sama aja kaya Papa. Ngerusak keinginan Allena". Ucap Allena marah.
"Allena.. Jangan seperti ini Nak! Kamu...". Ucap Mommy Tiara terputus.
"Aaghh.. Udalah! Cape tau nggak ngomong sama Mama. Mama nggak akan ngerti". Bantah Allena seraya pergi dari hadapan Mommy Tiara.
Allena kemudian mengambil kunci mobilnya dari atas nakas dan bergegas keluar dari kamarnya. Allena kemudian menuruni tangga dan menuju pintu keluar lalu berlari ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil. Allena kemudian langsung menghidupkan mobilnya dan pergi dari mansion mewah itu dengan menaiki mobilnya.
Sementara Mommy Tiara yang melihat anaknya pergi, beliau hanya bisa menarik nafasnya. Mommy Tiara benar-benar merasa sedih akan sifat Allena yang seperti itu.
Sebenarnya dulu Allena anaknya seperti remaja pada umumnya. Allena memang mempunyai sifat yang cuek dan terkesan tak peduli dengan urusan yang tidak berhubungan dengannya.
Akan tetapi tidak seperti sekarang ini. Dulu dia masih bisa berteman dan anaknya aktif. Setelah kejadian itu, kejadian dimana Ayah Allena melarang Allena untuk menjadi dokter, Allena langsung berubah drastis. Sifatnya bertambah parah. Reaksinya terhadap orang lain terkesan bertambah ketus dan arogant.
Dan Mommy Tiara sangat sedih akan perubahan sikap Allena jika berbicara atau bereaksi seperti itu. Mommy Tiara tidak bisa berbuat apa-apa.Sebab suaminya Robert juga sangat susah untuk diberi pengertian. 11/12 dengan sifat Allena.
Sudah sering kali Mommy Tiara memberi penjelasan pada Papa Robert untuk tidak terlalu keras dan memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Tapi Papa Robert tetap dengan pendiriannya. Beliaulah yang harus mengatur anak-anaknya sesuai kehendaknya. Dan itu yang membuuat Mommy Tiara mengalah kepada suami tercintanya itu. Mommy Tiara sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan Papa Robert.
"Kalau gitu gue pulang dulu ya Rin". Ucap Manaf pada Airin.
Airin tidak menjawab. Gadis itu masih tengah seperti memikirkan sesuatu. Saat ini posisi Airin tengah berdiri diambang pintu dan Manaf sudah berada diluar dengan menghadap Airin.
"Airin.. Airin! Hellow Airin". Seru Manaf sambil mengayunkan tangannya dihadapan muka Airin.
Airin seketika tersadar.
"Eh.. iya iya! Sori-sori! Lo bilang apa tadi?". Ucap Airin sadar dari lamunannya.
"Lo kenapa melamun? Entar kesambet loh. Lo lagi mikirin apa? Ampe nggak dengar gue ngomong". Tanya Manaf.
"Oh ini. Gue cuman mikirin kejadian tadi. Allena kenapa tiba-tiba mutusin panggilan ya? Padahalkan tadi kita masih ngobrol, tapi Allena udah mutusin panggilannya aja. Apa dia nggak mau ngomong sama kita ya?". Ucap Airin kebingungan.
"Udah nggak usah neting kek gitu. Allena kan teman kita. Mungkin tadi dia tiba-tiba ada urusan mendadak atau apa gitu. Lo jangan berpkir ya nggak-nggak". Ucap Manaf.
"Umm.. Iya kali ya". Ucap Airin.
"Udah.. Lo nggak usah mikirin itu lagi. Tenang aja". Ucap Manaf.
"Kalau gitu gue balik dulu ya. Nanti gue kesini lagi besok bantuin lo lagi". Sambung Manaf sambil tersenyum.
"Lo mau bantuin gue lagi? Mending nggak usah deh Manaf. Emang lo nggak cape bantuin gue seharian ini?". Ucap Airin merasa tak enak pada Manaf.
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Orang gue yang pengen bantuin lo kok. Lagian bosan gue di rumah sendirian. Suntuk tau nggak". Ucap Manaf.
"Nggak usah nolak, nggak usah ngelarang. Pokoknya gue besok bakalan datang kesini lagi". Ucap Manaf lagi dengan sedikit memaksa.
"Udah gue pulang sekarang. Lo masuk sono! Entar masuk angin lagi lo nya". Sambung Manaf lagi seraya melangkahkan kakinya menuju mobilnya.
Manaf kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Airin. Sementara Airin, gadis itu langsung menutup pintu dan masuk ke dalam rumah.
Sekitar 30 menit Manaf tiba di rumah miliknya sendiri. Laki-laki itu memang memilih tinggal sendiri setelah kedua orang tuanya bercerai. Manaf tidak ingin memilih diantara kedua orang tuanya.
Saat memasuki rumahnya, Manaf tiba-tiba kaget ketika mengenali seorang pria yang tengah berdiri sambil membelakanginya. Ternyata pria itu adalah Ayah Manaf.
"Kamu dari mana saja Manaf. Kenapa baru pulang?". Tanya Ayah Manaf seraya berbalik ke arah Manaf.
"Ayah? Ayah kok bisa ada disini? Ayah tau dari mana Manaf tinggal disini? Terus gimana caranya Ayah bisa masuk? Padahalkan Manaf udah kunci rumah ini". Tanya Manaf bingung.
"Kamu tidak perlu tau tentang itu. Yang hanya ingin Ayah tanyakan dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang?". Tanya Ayah Manaf lagi.
"Apa urusannya sama Ayah kalau Manaf pergi? Ayah urus saja pekerjaan Ayah itu". Ketus Manaf.
"Manaf! Ayah ini Ayah kamu. Tidak sopan kamu bebicara seperti itu pada Ayah". Bentak Ayah Manaf.
"Ayah ngapain sih datang kesini? Ayah mau apa sama Manaf?". Tanya Manaf.
"Bagus kalau kamu bertanya seperti itu. Kedatangan Ayah kesini untuk menjemput kamu agar kamu mulai mengambil semua usaha Ayah. Ayah ingin kamu melanjutkan semua bisnis Ayah". Jelas Ayah Manaf.
"Apa? Manaf nggak mau. Manaf nggak mau ngelanjutin bisnis Ayah. Ayah harusnya sadar karena pekerjaan Ayah ini Ayah sama Mamah jadi cerai. Dan Manaf yang jadi korbannya". Bantah Manaf.
"Korban apa Manaf? Toh kamu juga masih bisa menikmati hasil kerja Ayah. Kamu masih bisa mendapatkan semua apa yang kamu inginkan. Kamu tidak merasakan kekurangan sedikit pun". Ucap Ayah Manaf.
"Ayah datang kesini untuk memberikan semua hasil dari jerih payah Ayah ke kamu. Ayah hanya mau kamu melanjutkan semua bisnis Ayah ini. Dan kamu tidak boleh menolaknya. Karena hanya kamu satu-satunya harapan Ayah. Kamu anak satu-satunya yang Ayah punya". Ucap Ayah Manaf lagi.
"Pokoknya Manaf nggak mau. Manaf nggak akan pernah mau melanjutkan bisnis Ayah". Tolak Manaf.
"Baiklah. Kalau kamu menolak permintaan Ayah, kamu jangan salahkan Ayah dengan apa yang akan Ayah lakukan pada gadis itu". Ancam Ayah Manaf.
Manaf yang mendengar perkataan Ayahnya seketika kaget. Manaf tau kemana arah pembicaraan Ayahnya.
"Maksud Ayah apa? Apa yang akan Ayah lakukan?". Tanya Manaf kaget mendengar perkataan Ayahnya.
"Jangan kamu fikir Ayah tidak tau kamu sekarang sedang dekat dengan seorang gadis. Ayah tau semua tentang gadis miskin itu". Ucap Ayah Manaf.
"Ayah jangan pernah berani-berani menyentuh Airin, atau melakukan sesuatu ke Airin. Kalau sampai Ayah melakukan sesuatu kepada Airin atau keluarganya, Manaf sendiri yang akan melawan Ayah". Ancam Manaf dengan tatapan tajam yang ditujukan pada Ayahnya.
Manaf tidak ingin Ayahnya berbuat sesuatu yang bisa menyusahkan Airin apa lagi keluarga Airin. Manaf berjanji jika Ayahnya berani melakukan itu maka dia sendiri yang akan melawan Ayahnya.
"Dengar Manaf! Kamu adalah satu-satunya harapan Ayah. Jika kamu menolak permintaan Ayah kamu akan lihat apa yang akan Ayah lakukan kepada gadis miskin itu terutama keluarganya". Ancam Ayah Manaf.
"Satu lagi. Kamu tidak boleh terlalu dekat atau berhubungan dengan gadis miskin itu. Kalau sampai Ayah tau kamu berhubungan dengan gadis itu, maka kamu akan tau akibatnya". Sambung Ayah Manaf.
Setelah berbicara seperti itu Ayah Manaf kemudian berjalan melewati Manaf dan keluar dari rumah Manaf.
Sementara Manaf, lelaki itu hanya memandangi Ayahnya yang berjalan keluar dari rumahnya. Ada perasaan khawatir yang dirasakan oleh Manaf setelah mendengar ancaman Ayahnya. Manaf mulai khawatir dengan Airin. Gadis yang disayangi olehnya.
__ADS_1
Manaf akan melakukan apapun jika Ayahnya berbuat sesuatu yang menyusahkan Airin atau keluarga Airin. Sebab Manaf sudah sangat mencintai gadis itu.