
Semenjak kejadian dimana Zee sudah mengetahui siapa dalang hilangnya file karya ilmiah yang telah dia buat, Zee memutuskan untuk tidak jadi mendaftarkan cerita karya ilmiah tersebut.
Dan waktu penyetoran cerita sudah selesai dua hari yang lalu. Dan Zee memutuskan untuk tidak jadi mendaftarkan cerita karya ilmiah buatannya.
Entah apa yang membuat Zee memutuskan untuk tidak jadi ikut berpartisipasi dalam acara kegiatan tersebut.
Sudahlah, hanya Zee yang tau tentang hal itu.
Dan hari ini semua murid-murid SMAN Nasional tengah berbaris di lapangan sekolah yang luas itu.
Terlihat Kepala Sekolah yang tengah berdiri di atas mimbar depan murid-murid semuanya sembari memberikan pidato-pidato kecil untuk mereka.
Sampai satu kalimat yang keluar dari mulut Kepala Sekolah langsung membuat murid-murid yang ada di lapangan itu fokus memandang ke depan sana.
"Baiklah! Mari kita sambut salah satu siswa lulusan dari sekolah ini yang menjadi perwakilan orang tuanya untuk menjadi salah satu donatur di sekolah kita tercinta ini". Sambut Kepala Sekolah dengan menggunakan pengeras suara yang membuat menggema di lapangan sekolah itu.
Hingga seorang cowok bertubuh tinggi dengan wajah tampan khasnya terlihat memasuki lapangan sekolah dan naik ke atas mimbar dengan gaya wibawanya yang mulai terpancar.
Murid-murid yang ada disana seketika terkesima memandang ke depan ke arah cowok itu dengan saling berbisik-bisik satu sama lain. Mereka tentu saja tau cowo lulusan yang pernah menjadi salah satu idola di sekolah bergengsi itu.
Sementara Alexa yang kini berada di barisan dengan tatapan matanya tertuju ke depan menatap tanpa ekspresi ke arah pria yang juga tanpa sadar menatapnya dari atas mimbar dengan smirk khas cowok itu. Keduanya saling menatap beberapa saat, sampai Alexa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Cih!". Alexa berdecih tak suka.
Kalian mau tau siapa pria itu. Ya benar, dia adalah Brayen si kakak kelas( Eh, nggak lagi! Udah lulus kan ya😅). Hingga cowok itu mulai berbicara dengan lantangnya dari atas mimbar sana dengan sesekali mencuri pandang ke arah Alexa yang terlihat selalu membuang muka seakan tak ingin beradu pandang dengannya.
Sampai Brayen selesai berpidato, Kepala Sekolah kembali naik ke atas mimbar setelah Brayen turun dari sana. Lalu Kepala Sekolah kembali berbicara sedikit, kemudian membubarkan semua murid-murid yang ada disana.
...******...
Jam istirahat telah berbunyi sedari tadi. Saat ini Allena tengah terlihat memasuki kantin sekolah yang penuh itu.
Allena terlebih dahulu memesan makanan, lalu dengan tampang datarnya Allena mengelilingi matanya ke seluruh penjuru kantin mencari tempat yang tersisa untuknya.
Segera Allena berjalan ke tempat meja kosong yang berada di tengah-tengah dan duduk disana tanpa mempedulikan keadaan sekitar.
Baru mau memasukan mie pangsit ke dalam mulutnya, tangannya terhenti karena ada yang memanggilnya.
"Hai Allena!". Sapa orang itu yang sudah berdiri di hadapan Allena.
Allena mendongak dan mendapati Brayen tersenyum ke arahnya. Cowok itu memang terlihat sedikit berbeda. Mungkin karena Allena baru melihatnya lagi setelah beberapa lamanya.
Baru mau menyapa lagi, tiba-tiba Aziel datang bersama Setya.
"Eh Bro! Udah lama nggak ketemu kita". Seru Setya sambil bertos ria dengan Brayen, "Makin sombong aja lo sekarang. Ke markas aja udah nggak pernah datang lagi". Sambungnya dengan menepuk pundak Brayen.
"Gue nggak sombong btw! Gue cuman lagi sibuk aja". Sahut Brayen.
"Jiahh.. yang udah jadi Tuan Muda nih yee! Sibuk banget.
"Yaiyalah! Emang lo..
"Lah kok gue? Emang gue kenapa?
Brayen tidak menjawab hanya berdengus lucu sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian menoleh ke arah Aziel yang sedari tadi hanya diam memandanginya tanpa ekspresi.
"Ngomong-ngomong tuh makhluk satu napa diem aja dari tadi? Merasa tersaingi dia lihat ketampanan gue?". Ucap Brayen cekikikan, "Tenang aja kali EL, gue nggak bakalan rebut Allena dari lo kok dengan kegantengan gue ini". Celetuk Brayen bercanda.
Membuat yang empunya nama langsung menatap dingin Brayen.
"Nah kan, lihat aja tuh muka dua orangnya. Sama-sama kan!?". Ucapnya lagi dengan tawa cekikikan bermaksud menyinggung Allena dan Aziel.
Sedang Allena mulai terlihat menghela nafasnya.
"Lu kesini mau makan apa mau ngebacot?". Sahut Allena kemudian dengan tatapan datarnya menatap Brayen.
"Eh, Allena udah bisa ngomong panjang lo!?". Celetuk Brayen lagi. "Bercanda kali Len, woles woles". Sambungnya lagi dengan terkekeh. Melihat ekspresi Allena saat ini membuat Brayen menahan tawanya. Menurutnya, Allena sampai sekarang ternyata masih belum ada perubahan. Masih sama seperti yang dulu. Selalu bersikap datar tanpa ekspresi. Tapi kadang-kadang bisa galak juga sih😅
"Ehem!". Aziel tiba-tiba berdehem.
Kemudian memandangi Brayen dari atas sampai bawah dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Lo lihatinnya gitu banget EL! Emang ada yang salah ya ama penampilan gue? Orang ganteng gini kok". Ucap Brayen dengan terkekeh.
Sedang Aziel semakin memasang tampang datarnya memandang Brayen tanpa mengeluarkan satu katapun.
__ADS_1
"Loh kenapa sih EL?". Brayen mulai tak enak melihat cara Aziel menatap dirinya. Emang ada yang salah ya pikirnya.
Sedang Aziel mulai berjalan mendekati Brayen dengan tampang yang mulai serius membuat Brayen menautkan alisnya bingung.
Aziel berdiri tepat di hadapan Brayen dengan wajah penuh arti, membuat Brayen mulai meneguk salivanya yang kering.
"Lo...
Tiba-tiba Aziel langsung merangkul Brayen menahan kepala pria itu di bawah keteknya.
"Mulai songong lu ya nggak pernah datang ke markas. Sombong lu sombong! Mentang-mentang udah lulus, lupa lu sama kawan lama". Celoteh Aziel sambil terus memberikan gundiran-gundiran kepalan tangannya di kepala Brayen.
Sedang Brayen berusaha melepaskan rangkulan Aziel yang menahan pergerakannya, "Lepasin EL, lepasin woyy!". Desis Brayen yang berjongkok karena Aziel menahan kepalanya dibawa keteknya.
Sedang Setya, "Terus EL, terus! Emang songong tuh anak. Belagu, mentang-mentang udah nggak sekolah disini lagi. Lupa dia ama kita!". Terus menyemangati Aziel.
Sementara itu murid-murid yang ada di kantin terus melihat interaksi ketiga cowok yang selalu menjadi primadona di sekolah itu.
Meskipun Brayen sudah lulus, namun cerita dia yang pernah bersekolah disana selalu menjadi kenangan yang terus teringat di kalangan anak-anak. Brayen memang dikenal sebagai kakak kelas yang jago dalam hal olahraga apapun, sehingga membuatnya menjadi idola sewaktu semasa SMA dulu. Bukan hanya ketampanan yang dimilikinya namun juga keahliannya itu.
Kini yang masih menjadi penerus adalah Aziel dan juga Setya. Meskipun kedua cowok itu dikenal lebih berwatak tak suka banyak bicara dari pada Brayen yang hambel juga lebih sering berkomunikasi dengan orang, namun mereka tetap disukai dan dijadikan idola bagi murid-murid di sekolah itu. Hanya saja Aziel lebih ada terkesan tegas juga galak terhadap orang lain, juga tidak suka berbasa-basi.
Namun asal kalian tahu, bukan hanya mereka itu yang termasuk dijadikan idola apalagi idola para ciwi-ciwi. Louis juga termasuk jajaran murid yang di idolakan. Dengan wajah khas tampan Amerikanya itu mampu membuat siapa saja terpikat olehnya. Apalagi dia pernah berlawan tanding basket dengan SMAN Nasional sewaktu Louis masih di sekolahnya dulu. Teknik bermain basketnya yang juga tidak bisa diremehkan langsung menambah banyak pemuja dirinya.
Dan tiba-tiba saja dia pindah untuk bersekolah di SMAN Nasional dengan memegang rumor sebagai teman dekat Allena yang juga dikenal sebagai siswa yang cantik dan berprestasi juga menjadi bunga di sekolah bergengsi itu. Membuatnya semakin menjadi pria yang populer. Bukan hanya di SMA barunya, namun di sekolah-sekolahan lain Louis juga sangat terkenal.
Oke kembali ke laptop. Cukup sudah penjelasannya😅
Sementara itu Alexa yang sedari tadi berada ditempatnya tak jauh dari tempat mereka berempat terus memperhatikan mereka. Saat ini Alexa juga sedang bersama dua sahabatnya, Chika dan Hera.
"Udah kali Lex, lo merhatiin Brayen terus". Celetuk Chika seketika.
"Maksud lo?". Tanya Alexa tajam.
"Ya dari tadi lo merhatiin kesana terus. Lihatin Brayen yah lo?". Goda Chika.
"Dih apaan sih lo Chik? Siapa juga yang merhatiin cowok mesum itu? Nggak ada faedahnya banget deh iyuu". Ucap Alexa mencebik tak suka.
"Cie cie Alexa malu-malu nih yee". Timpal Hera menggoda Alexa.
"Ikut-ikutan lo Ra?". Semprot Alexa melototkan matanya, "Mau gue sambelin mulut lo berdua". Ancam Alexa dengan mengambil botol sambal yang ada di atas meja.
Kedua gadis itu malah semakin tak berhenti menggoda Alexa sampai membuat Alexa kesal setengah mati.
Alexa mulai berdiri dari duduknya, "Awas lo ya berdua, gue...
"Ehem ehem". Tiba-tiba terdengar suara deheman seseorang dari belakang Alexa.
Sontak Alexa langsung membalikan badannya kebelakang, "Lo? Ngapain lo disini?". Sentak Alexa melototkan matanya ke arah seorang cowok yang berdiri di hadapannya dengan menatapnya penuh arti.
Murid-murid yang ada di kantin kini mulai teralihkan saat mendengar suara sentakan yang berasal dari Alexa. Mereka semua memandangi kedua sejoli itu.
"Emang kalau orang datang kesini ngapain aja selain makan?". Tanya balik Brayen.
"Y-ya-ya ngapain kek? Siapa taukan lo...
"Lo apa?
Alexa diam sebentar, lalu kembali memasang tampang jengkelnya, "Siapa taukan lo datang nyari cewek lo tuh si Allena. Mungkin kan?". Gertak Alexa.
Brayen seketika berdengus lucu mendengar perkataan Alexa, "Lo tuh ya masih aja.
"Apa? Emang salah yang gue omongin. Lo kan...
"Emang salah". Potong Brayen cepat, "Lo itu cemburu ya ama gue?". Ucap Brayen terkekeh.
"Iyyuhh apaan sih lo? Ngapain juga gue cemburu sama cowok mesum gila kaya lo itu. Nggak sudi gue huh!". Semprot Alexa dengan galaknya, "Awas sana!". Alexa mendorong bahu Brayen dan segera Alexa melangkahkan kakinya pergi dari sana dengan perasaan dongkol.
Sementara Brayen dengan segera ikut pergi dari sana untuk menyusul Alexa.
Sedang di tempat Allena...
"Udah makan?". Tanya Aziel sambil mengelus lembut puncak kepala Allena.
"Gimana mau makan orang dari tadi kalian pada ribut disini". Sahut Allena jengkel.
__ADS_1
"Mau gua suapin nggak?". Tanya Aziel masih mengelus lembut puncak kepala gadis itu.
Sedang Setya mulai memutar bola matanya jengah melihat kebucinan Aziel yang notaben sepupunya itu.
"Udah EL, gue pergi aja dari sini. Males gue lihat lo". Dengan segera Setya mulai melangkahkan kakinya.
Namun baru berbalik dan baru dua langkah, tiba-tiba ada yang menubruk Setya dan orang itu tetap melanjutkan langkahnya tak peduli.
"Widihh!". Desis Setya sembari berusaha menyeimbangkan tubuhnya. "Siapa tuh?". Setya melirik ke arah seorang cowok yang terlihat menghampiri Allena dan Aziel.
Tiba-tiba...
"Singkirin tangan lo!". Sentak Louis yang datang dan langsung menyingkirkan tangan Aziel yang mengelus lembut kepala Allena.
"Jangan berani-beraninya ya lo nyentuh-nyentuh Allena. Dia itu...
"Apa?". Balas Aziel membentak, "Urusannya ama lu apa kalau gua nyentuh Allena? Lu mau ribut? Ayo gua ladenin". Tantang Aziel kemudian.
"Udah berapa kali gue bilang jangan pernah lo deketin Allena. Masih aja lo". Sahut Louis tajam sambil mendorong Aziel.
"Berani lu ama gua? Mau lu gua hajar lagi? Kalau perlu sampai lu berakhir ke liang kubur sana". Balas Aziel dengan mendorong balik Louis.
Suasana di kantin itu tiba-tiba menjadi menegangkan karena Aziel dan Louis. Sepertinya kedua pria itu akan bertengkar lagi.
Sedang Louis mulai terlihat menarik kerah baju Aziel, "Gue bilang jauhin Allena! Lo budek? Lo masih belum nyadar juga kalau Allena itu udah jadi...
"LOUIS!". Sentak Allena tiba-tiba, "LU APA-APAAN SIH AH? LU BISA DIEM AJA NGGAK! NGGAK USAH SUKA NYARI RIBUT! DAN UDAH BERAPA KALI GUA BILANG NGGAK USAH SUKA IKUT CAMPUR AMA URUSAN GUA!". Bentak Allena lagi lalu mendorong Louis.
Allena kemudian berbalik ke arah Aziel dan langsung menarik lengannya untuk ikut bersamanya pergi dari kantin tersebut.
"Allena tunggu!". Louis melangkah ingin menyusul Allena.
"DIEM LU DISITU! NGGAK USAH LU NGIKUTIN GUA!". Bentak Allena berbalik.
Kemudian kembali menarik lengan Aziel dan keduanya segera pergi dari sana.
Sementara Louis hanya bisa diam berdiri ditempatnya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, memandang Allena dan Aziel yang mulai menghilang di ambang pintu kantin.
"Kok gue lama-lama jadi kasihan ya lihat Louis". Itu Tessa.
Mereka berlima memang sedari tadi sudah berada di kantin dan melihat semua kejadian itu.
"Ngapain lo kasihanin dia? Lo kan tau sendiri Allena itu emang nggak suka sama Louis". Timpal Zee.
"Ya iya sih, tapikan mau gimanapun Louis sama Allena tuh udah tunangan. Harusnya Allena bisa jaga jarak sama Kak Aziel". Sahut Tessa.
"Kalau itu sih udah jadi resikonya Si Louis". Timpal Gamma, "Tapi sebenarnya gue juga ikutan bingung sama Allena. Dia itu sebenarnya suka juga nggak sih sama Aziel. Kalau Aziel sih udah pasti ya. Secara Aziel itu selalu terang-terangan berusaha banget buat deketin Allena". Sambungnya lagi.
"Itu juga yang gue pikirin". Timpal Alvian. "Tapi gue lihat-lihat kayanya Allena juga suka sama Aziel. Iya nggak?
"Ya gimana kita nggak kepikiran kaya gitu. Selama ini Allena sendiri terima aja tuh perlakuan-perlakuan Aziel ke dia". Sahut Tessa cepat.
"Udah sih nggak usah bahas. Lagian itu tuh udah jadi urusan pribadinya Allena". Timpal Airin. "Kita nggak usah ikut campur masalah kaya gituan. Entar Allena marah lagi sama kita. Terus hubungan kita sama Allena makin riweh.
"Iya sih, tapi gimana ya? Gue cuman...
"Yaelah Sa, Sa. Lo kenapa sih? Peduli banget lo sama Louis". Ucap Gamma cepat, "Jangan-jangan lo...
"Apa?". Sahut Tessa langsung menatap tajam Gamma, "Lo jangan ngomong yang nggak-nggak ya Gam. Awas aja lo!". Gertaknya.
"Cih, apa sih? Orang gue belum ngomong apa-apa kok udah main marah aja. Santai kali Sa!". Sahut Gamma mendelik.
"Ya tadi lo mau ngomong apa? Jangan sembarangan lo kalau ngomong". Sentak Tessa.
"Udah kalian diem napa sih?". Gertak Zee seketika. "Kalian itu sepupuan masih aja suka berantem. Pusing gue dengernya.
"Gamma tuh! Dia duluan". Sentak Tessa menatap galak Gamma.
"Kok gue? Lo lah! Sukanya marah-marah mulu". Balas Gamma.
"Ya lo mancing-mancing! Gimana gue nggak marah?
"Lo nya aja yang cepat emosian". Ucap Gamma tak mau kalah.
"Astagaaa.... udah napa udah! Kalian berdua itu ya, udah diem ah!". Zee hampir stres melihat kedua persepupuan yang terus saja tak mau kalah berdebat itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua membiarkan dua orang itu terus saling berdebat. Cape juga kalau harus mengurusi dua sepupu yang dua-duanya tak ada yang mau mengalah.