Allena And Friend'S

Allena And Friend'S
PART 141 ~ Allena and Friend's


__ADS_3

Flashback On


"Gue sama Aziel lagi ada urusan sekarang. Jadi lo duluan aja baliknya!". Ucap Alexa dengan sinisnya berbicara dengan Allena.


"Tapi Lex, gua mau...


"Aziel lo apaan sih? Lo kan udah janji sama gue, jadi lo harus tepatin dong". Cicit Alexa bersungut kesal pada Aziel.


"Iya Lex, gua tau. Tapi gua masih harus...


"Nggak ada tapi-tapian Pokoknya lo udah janji sama gue, dan gue mau lo ikut gue sekarang juga!". Ucap Alexa kekeh.


Allena yang melihat dua orang di hadapannya itu hanya memasang tampang datarnya tanpa ekspresi memandangi Aziel dan Alexa.


Tadi mereka sempat bertemu di Bandara saat ingin menghantar Brayen yang ingin ke luar negeri.


Awalnya dipikir hanya ada Allena yang menghantar Brayen. Namun tidak lama kemudian Aziel datang bersama anak-anak geng Alcandor, juga ternyata ada Alexa yang ikut. Entah bagaimana Alexa juga ada disana dan datang bersama Aziel bersama anak geng motor Alcandor.


Setelah salam-salam perpisahan dan pesawat sudah berangkat, geng Alcandor mulai meninggalkan Bandara bersamaan dan menyisakan Allena, Aziel dan Alexa di Bandara itu.


Tapi akhirnya Allena juga ikut pergi dari Bandara, meninggalkan Aziel dan Alexa disana dengan entah apa yang akan mereka lakukan nanti.


Flashback Off


Mengingat itu Allena hanya bisa menghebuskan nafasnya kasar. Saat ini cewek itu tengah berada di taman sekolah bagian samping. Tidak ada orang disana, begitu sepi. Mungkin karena saat ini sedang jam istirahat.


Sudah satu minggu ini dirinya tak saling tatap muka dengan Aziel. Dan hal seperti ini kembali terjadi lagi entah sudah keberapa kalinya.


Tapi Allena mencoba untuk tidak mempedulikan hal itu lagi. Cewek itu hanya ingin fokus dengan tujuannya saat ini.


Allena menyingkapkan rambut panjangnya yang terurai itu, diam sebentar lalu kembali menghebuskan nafasnya. Tidak berselang lama Allena mulai beranjak dari taman itu.


Saat sedang berjalan di koridor sekolah, tak sengaja Allena melihat sekumpulan siswi berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Allena mencoba menajamkan penglihatannya meneliti wajah-wajah dari beberapa siswi itu. Ada lima siswi disana, satu orang diantaranya ada Alexa yang sendiri, berhadapan dengan Regina yang bersama ketiga temannya. Terlihat mereka sedang berbicara, eh tidak ralat, terlihat seperti sedang berdebat. Allena tak mengetahui apa yang sedang mereka perdebatkan karena jarak dirinya dan kelima siswi itu cukup jauh.


Tiba-tiba Allena mengingat sesuatu. Tidak berselang lama cewek itu menghembuskan nafasnya kasar, dan tanpa berlama-lama lagi Allena langsung berjalan menghampiri kelima siswi itu.


Saat sudah didekat mereka, Allena dengan sengaja menubrukan bahunya kesalah satu teman Regina yang berdiri di ujung sebelah kanan sampai membuat siswi itu meringis.


"Aww bang*ke! Siapa sih yang udah berani nub...


Siswi itu langsung tak berani melanjutkan ucapannya saat dirinya sudah melihat tatapan menohok Allena padanya. Siswi itu bahkan langsung menunduk dengan perasaan takut.


"Eh eh, kalau jalan lihat-lihat dong temen gue nih! Buta mata lo ha?". Sentak Regina seketika melototkan matanya pada Allena.


Allena langsung menatap datar Regina lalu berkata, "Ini jalanan, buat lewat! Ngapain lu lu pada berdiri di tengah jalan?". Setelah berbicara seperti itu Allena kembali melanjutkan langkahnya.


"Dih, songong banget sih lo! Lo pikir lo siapa ha?". Teriak Regina yang kesal pada Allena.


Allena sontak berhenti dan berbalik, "MENDING LU SEMUA PADA BUBAR! KALAU NGGAK, GUA BAKAL NGELAPORIN KALIAN SEMUA KE GURU BK SEKARANG JUGA!". Sahut Allena mengancam dengan menatap dingin mereka semua.


Regina seketika mendelik, "Dasar tukang ngadu! Beraninya ngadu doang lo!". Cibir Regina.


"YAUDAH BUBAR SANA! NGAPAIN LU PADA MASIH DISITU? MAU GUA LAPORIN SEKARANG JUGA EMANG?". Ancam Allena lagi.


"Ck, berisik banget sih lo!". Balas Regina.


Gadis itu kemudian kembali beralih pada Alexa.


"Gue peringatin sekali lagi ke lo, jangan pernah lo deketin Aziel! Awas aja kalau sampai lo deketin Aziel lagi, lo bakal berurusan sama gue. Ingat itu!". Ucap Regina semi mengancam sambil menunjuk wajah Alexa.


Cewek itu kemudian mundur ke belakang dan menjauhkan telunjuknya dari wajah Alexa, "Guys cabut!". Ucap Regina lagi, lalu beranjak pergi dari sana bersama ketiga temannya.


"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue ha? Lo pikir gue takut sama ancaman cewek bermuka dua kaya lo itu? Nggak ya!". Teriak Alexa dengan berani.


Sementara Regina hanya menatap tajam dirinya dengan tetap melanjutkan langkahnya pergi bersama teman-temannya itu.

__ADS_1


"Gila aja tuh cewek bermuka dua berani ngancem-ngancem gue. Dikiranya gue takut kali ya? Nggak sama sekali yalau". Cicit Alexa sinis. Cewek itu kemudian berbalik, namun anehnya Allena sudah tidak ada ditempatnya tadi.


"Lah, pergi kemana tuh si cewek sok kecantikan?". Gumam Alexa sembari mengedarkan pandangannya keseliling.


Alexa seketika mendelikan kedua bahunya, "Udah ah, nggak penting juga. Mending gue pergi aja dari sini. Ngapain juga gue nyariin cewek sok kecantikan itu?". Gumam Alexa lagi, lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.



...******...


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi. Semua murid-murid mulai meninggalkan sekolah.


Hari ini memang murid-murid SMAN Nasional diharuskan pulang cepat, karena semua guru-guru akan mengadakan rapat. Jadi hari ini mereka semua pulang lebih awal dari biasanya.


Dan saat ini Allena sudah terlihat berada dalam mobil sport miliknya. Saat mulai ingin menyalakan mesin, tiba-tiba ponsel yang dia letakan di dashbord mobilnya berdering menandakan ada pesan masuk.


Dengan malas Allena mengambil ponselnya lalu melihat apa isi pesan tersebut. Alisnya seketika berkerut membaca isi pesan tersebut, mencoba meneliti apa saja poin penting yang ada di pesan itu.


Setelah selesai membaca Allena mendongak memfokuskan pandangannya ke depan dengan alis yang terus berkerut seolah memikirkan sesuatu.


Setelah memahami apa saja dari isi pesan tersebut, tanpa berlama-lama Allena langsung tancap gas meninggalkan sekolah elit tersebut. Hanya satu tujuannya, kembali ke mansion dengan secepat mungkin.


Hingga sekitar 20 menit Allena sudah sampai di mansion besar nan megah itu. Dengan cepat Allena keluar dari dalam mobil setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan langsung berlari masuk ke dalam mansion.


"Bi! Bi Ratih! Bibi!". Teriak Allena memanggil-manggil Bi Ratih dari ruang tengah. Matanya terus menelisik ke seluruh penjuru mansion itu.


"Bi Ratih! Bibi!". Teriak Allena lagi.


Tidak lama muncul Bi Ratih yang habis dari dapur dan langsung berjalan cepat menghampiri Nona Mudanya.


"Iya Non ada apa?". Tanya Bi Ratih kemudian.


"Dimana Louis?". Sentak Allena seketika.


"Sepertinya di kamarnya Non? Memangnya ada apa Non?


Tanpa menghiraukan pertanyaan Bi Ratih lagi, Allena langsung beranjak berjalan menuju kamar Louis yang ada di lantai bawah itu.


"Louis buka pintunya! Gue tau lo di dalam. Bukain pintunya Louis!". Teriak Allena yang menggedor-gedor pintu kamar Louis dengan keras.


"Louis bukain pintunya sialan! Buka pintu kamar lo!". Allena terus menggedor-gedor pintu kamar Louis dengan tak sabaran.


Allena tentu saja tau Louis berada dalam kamarnya, karena hari ini cowok itu nggak datang ke sekolah. Entah karena apa alasannya. Dan dengan tanpa berhenti Allena terus menggedor pintu kamar tunangannya itu.


CEKLEK!


Terdengar pintu kamar dibuka dari dalam.


"Loh, Allena ternyata lo? Kirain siapa tadi?". Ucap Louis mengerutkan alisnya mendapati Allena berdiri di depan pintu kamarnya, "Ada apa?


Allena tidak menjawab, cewek itu malah tiba-tiba langsung mendorong Louis hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar.


"Len, lo kenapa?". Tanya Louis bingung akan tindakan Allena barusan.


"Diem lu!". Bentak Allena seketika.


"Sekarang lu jawab!". Allena kemudian menunjukan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya pada Louis, "Apa foto ini ada sangkut pautnya sama lu?". Tanya Allena menatap tajam Louis.


Sedang Louis mulai memperhatikan layar ponsel Allena. Awalnya Louis terkejut, namun sedetik kemudian menggeleng, "Nggak, gue nggak tau apa pun soal foto itu". Jawabnya kemudian.


"Lu pikir gua bodoh ha?". Sentak Allena sambil menjauhkan ponselnya, "Jadi selama ini lu udah kerja sama, sama Regina? Iya?


Mendengar pertanyaan Allena itu, Louis hanya bisa diam tak tau harus menjawab apa. Louis tak menyangka Allena bisa sampai tau kalau dia sudah bekerja sama dengan Regina.


"Jawab Louis!". Bentak Allena seketika membuat Louis sontak terlonjak kaget.


Louis kemudian menatap Allena. Cewek itu terlihat begitu marah padanya. Matanya begitu tajam menatap Louis.

__ADS_1


"Allena, gue...


"Jadi bener selama ini lu udah kerja sama, sama Regina untuk misahin gua sama Aziel?". Nafas Allena mulai memburu. Cewek itu tak bisa menahan emosinya terhadap cowok yang ada di hadapannya saat ini, "Bener kaya gitu ha?


"Dengerin penjelasan gue dulu Len. Semuanya itu nggak kaya yang lo pikirin". Ucap Louis masih mencoba menenangkan Allena.


"Terus yang bener kaya gimana ha?". Sentak Allena marah, "Ah iya pertunangan ini, pertunangan kita berdua ini atas kehendak lu kan. Lu kan yang minta pertunangan kita berdua dipercepat biar lu bisa ngikat gua dengan status kita berdua ini. Tapi sayangnya gua nggak bodoh kaya lu.


"Dengerin penjelasan gue dulu Len, biar gue jelesin dulu sama lo". Ucap Louis.


"Lu mau jelasin apa? Lu mau jelasin yang kalau lu nggak ada sangkut pautnya dengan hal ini? Sementara gua ada bukti, gua punya bukti semua tentang rencana lu sama Regina si cewek sialan itu". Cetus Allena emosi.


Louis yang mendengar perkataan Allena tak bisa berbohong lagi. Bagaimana pun Allena sendiri telah mempunyai bukti tentang rencana dan dirinya yang telah bekerja sama dengan Regina untuk memisahkannya dengan Aziel.


Ingat pertunangan Allena sama Louis waktu itu? Pertunangan itu adalah atas kehendak Louis yang meminta segera untuk bertunangan dengan Allena. Cowok itu memaksa kedua orang tuanya untuk berbicara dengan kedua orang tua Allena untuk mempercepat waktu pertunangan mereka, yang awalnya nanti Allena lulus SMA malah dipercepat. Dan itu semua karena Louis sendiri yang meminta dipercepat.


Dan juga tentang foto Aziel dan Regina yang seolah-olah telah melakukan hubungan badan, ternyata itu semua adalah settingan semata.


Louis dan Regina bekerja sama saat di hari pertunangan itu. Kedua orang itu yang telah merencanakan semuanya. Regina dengan sengaja membawa Aziel ke apartemen Aziel sendiri saat cowok itu mabuk berat setelah minum-minum di club malam waktu itu.


Regina dan Aziel memang benar-benar tidak melakukan hubungan badan sama sekali. Semua itu hanyalah akal-akalan Regina saja. Memang saat malam hari Regina tidur seranjang dengan Aziel, tapi keduanya masih dalam keadaan pakaian yang utuh.


Hanya saja pada pagi harinya, Regina mulai melancarkan aksinya dengan berpura-pura seolah mereka telah melakukan hubungan badan. Dan Regina juga sengaja memotret dirinya dan Aziel untuk dia kirim pada Allena saat dia sudah di usir dari apartemen sama Aziel sendiri waktu itu.


Namun jangan kalian pikir Allena itu bodoh. Hingga akhirnya Allena mengetahui semua tentang hal itu.


"Kenapa lu ampe segitunya Louis, kenapa lu harus kerja sama, sama cewek sialan itu? Kenapa Louis? Kenapa?". Sentak Allena yang hampir tak habis pikir.


"Karna gue sayang sama lo Allena! Gue cinta sama lo. Gue nggak mau kehilangan lo". Sahut Louis seketika, "Oke gue ngaku gue sama Regina emang udah kerja sama untuk ngejauhin lo sama Aziel. Tapi lo harus tau gue ngelakuin itu karena gue bener-bener nggak mau kehilangan lo. Kenapa lo nggak ngerti juga sama perasaan gue ke lo sih Len?


"Lo tau sendiri gimana perasaan gue Louis. Gue emang bener-bener nggak ada rasa ama lu, dan lu tau itu dari awal. Tapi lu tetep maksa juga". Balas Allena.


"Segitunya Len? Segitunya lo suka sama dia sampai lo nggak ngenganggep gue sama sekali. Lo nggak lihat sedikit pun gimana perasaan gue ke lo. Gimana sayang dan cintanya gue sama lo, ampe gue rela kerja sama dengan Regina cuman untuk misahin lo sama dia. Tapi lo nggak lihat sedikit pun gimana perjuangan gue biar bisa dapetin lo". Cetus Louis frustrasi.


"Perjuangan? Perjuangan lu bilang? Itu yang lu sebut dengan perjuangan Louis? Lu ngebuat gua harus kehilangan orang yang paling bener-bener gua cintai. Gua kehilangan dia Louis, gua sampai harus kehilangan dia. Padahal lu tau sendiri gua ama dia saling sayang. Tapi lu tega ngebuat gua sama dia harus pisah. Lu nggak tau rasanya kaya gimana. Rasanya sakit, sakit banget Louis. Dan lu ciptain rasa sakit itu diantara gua ama dia". Balas Allena.


"Terus gimana dengan gue Len? Gue juga sakit. Gue harus ngeliat orang yang gue cintai lebih milih orang lain dibanding gue. Itu rasanya jauh lebih sakit Allena". Cicit Louis.


"Kenapa lu masih nggak ngerti juga Louis? Gua ama dia saling sayang satu sama lain. Kita berdua saling membutuhkan. Sementara gua ama lu? Gua sama sekali nggak ada rasa apapun ama lu. Gua nggak punya perasaan apa-apa ama lu. Itu yang harusnya lu pikirin. Gimana jadinya kalau kita sampai sama-sama sementara salah satu diantara kita nggak ada rasa cinta itu sama sekali. Hal itu bakal ngebuat gua ama lu sakit sendiri. Kita berdua bakalan sama-sama rasain sakit yang berbeda Louis. Lu harusnya paham akan hal itu". Ucap Allena.


"Hal itu yang ngebuat gua benci Len. Kenapa lo nggak cintanya sama gue aja, kenapa harus dia? Kenapa lo nggak bisa cinta sama gue Allena? Padahal gue udah cinta dan sayang sama lo dari dulu". Louis mulai mendekati Allena, namun dengan cepat Allena mundur ke belakang.


"Jangan deketin gua Louis! Gua kecewa ama lu". Ucap Allena seketika, membuat Louis menghentikan langkahnya untuk mendekatinya, "Gua bener-bener kecewa ama lu Louis, lu tega ngelakuin ini ke gua. Gua nggak mau lagi ngomong ama lu.


"Len, gue minta maaf, gue tau gue salah. Tapi lo harusnya ngerti kenapa gua ngelakuin ini semua. Gue cuman nggak mau kehilangan lo. Gue takut kehilangan lo Len". Cicit Louis yang mulai sendu.


"Dan justru karena itu lu ngebuat gua jauh lebih sakit Louis. Gua udah kehilangan orang yang paling gua sayangin". Sahut Allena.


"Gua minta maaf Len, gue ben...


"Udah cukup Louis. Gua nggak mau lagi ngomong ama lu. Gua udah terlanjur kecewa. Gua benci ama lu!


DEG


Louis langsung saja terkesiap mendengar perkataan bahwa Allena membenci dirinya. Tidak, bukan ini yang diinginkan oleh Louis. Dia tidak ingin dibenci oleh cewek itu.


"Jangan ngomong kaya gitu Len, gue nggak mau lo benci gue. Gue minta...


"Stop! Udah cukup! Udah sampai sini saja kita bicaranya. Gua udah bener-bener kecewa ama lu". Potong Allena cepat. Dengan segera Allena berbalik dan langsung berlari keluar dari dalam kamar Louis.


"Non! Non Lena mau kemana Non?". Seru Bi Ratih ketika melihat Allena berlari melewatinya.


Namun Allena tidak menjawab dan tetap berlari sampai keluar dari dalam mansion. Allena kemudian menuju motornya dan kembali pergi lagi dari mansion tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu.


Memang tadi Allena pulang ke mansion hanya untuk menemui Louis meminta kejelasan kepada pria itu. Dan akhirnya Allena mengetahui semuanya dari mulut cowok itu sendiri.


Sementara Louis, cowok itu hanya bisa melihat Allena yang pergi dengan tatapan frustasinya. Louis tidak tau harus melakukan apa saat ini. Dia benar-benar bingung harus menghadapi Allena seperti apa.

__ADS_1



__ADS_2